Nasehat Kepada Ulil Amri

Leave a comment

Para ulil Amri itu harus diberikan nasehat dan pemahaman, bahwa toleransi itu beda dengan sinkretisme.

Harus difahamkan juga bahwa bid’ah hasanah, yang mendukung sinkretisme itu, merupakan pemahaman dan aplikasi yang salah dalam memahami agama

Advertisements

Ngisis Lagi

Leave a comment

“Mereka itu semua ‘bintang Film’!!! ”

kata ustadz Abu Sa’ad di taklim blok M, 3 Januari 2016, ketika mensifati ISIS dan kehidupan disana yang mengaku khilafah ‘Alaa minhajin nubuwwah.

Ngisis

Leave a comment

“ISIS itu bukan bentukan Amerika, tapi kepentingan Amerika”

kata ustadz Abdurrahman Ayyub dalam kajian di blok M, 3 Januari 2016.

Memahami Penyimpangan Aqidah dan Manhaj Bid’ah yang menyelisihi Sunnah hingga menjadi 72 golongan

Leave a comment

Bid’ah itu ada yang termasuk Bid’ah mukaffiroh dan ghoiru mukaffiroh. Yakni ada yang menyebabkan seseorang menjadi kafir dan ada juga yang tidak menjadikan seseorang kafir.

Demikian juga walaupun itu merupakan Bid’ah mukaffiroh, namun untuk menvonis secara ta’yin orang per orang yang terjebak dalam pemikiran itu harus terpenuhi dulu syarat syarat nya, sebab sebab nya, dan tidak ada penghalang nya.

Ini seperti hukum mencuri itu harom, namun untuk menjatuhkan konsekuensi potong tangan kepada si fulan maka harus terpenuhi dulu syarat nya, sebab nya, dan tidak ada penghalang nya.

Seperti jika ternyata nishob
Nilai barang yang dicuri nya untuk batasan dijatuhi hukum potong tangan belum memenuhi, maka dia tidak divonis hukum potong tangan walaupun dia mencuri.

Hal ini sama juga dengan aqidah aqidah Bid’ah yang berkonsekuensi terhadap kekafiran. Tidak semena mena mentang mentang pluralis liberal itu pemikiran yang jelas jelas kafir, kita bisa langsung mengkafirkan orang yang terjebak ke dalam pluralis liberal.

Ada kitab khusus yang membahas perincian siapakah 72 golongan itu, ada ulama juga mengatakan 72 golongan itu semua menginduk ke empat golongan Bid’ah yang paling utama, dan yang kemudian terbagi bagi lagi menjadi 72 golongan atau golongan yang mengadopsi aqidah nya dengan baju lagi.

4 golongan utama yang merupakan induk Bid’ah yang menyimpang dari ahlus sunnah itu adalah :
1. Qodariyyah
2. Khowarij
3. Syi’ah
4. Murji’ah

Kitab yang khusus membahas masalah firqoh yang 72 golongan itu seperti kitab al milal wan nihal tulisan Asy Syahtistani, Al Fashl fil milal wan Nihal tulisan ibnu Hazm, dan lain lain.

Demikian juga firoq yang terus berkembang dan yang memakai nama serta baju lain, yang mempunyai modifikasi disana sini , yang diteliti oleh para ulama hingga zaman modern ini.

Adapun untuk 72 golongan itu, secara umum mereka adalah golongan islam yang menyimpang. Yakni masih termasuk ummat Islam, walau diancam dengan neraka karena kebid’ahannya.

Mereka bukan “kafir asli”, namun orang islam yang memiliki aqidah yang bisa berkonsekuensi kepada kekafiran.

Maka dari 72 golongan yang masuk neraka itu rasulullah dari hadits itu berkata “ummatii” (ummatku), sedangkan orang orang kafir itu bukanlah termasuk dari ummat rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Liat juga penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh akan hal ini.

Walloohu A’lam

Mengcounter Kombinasi Jurus Tasyabbuh dan Bid’ah Hasanah

Leave a comment

Akhi Fulan dan Akhi Allan :
Bantahan dari artikel itu ada dua tahap,
1. Bantahan terhadap metode “cherry picking” (metode asal comot) dengan tujuan agar mengesankan bahwa hadits man tasyabbaha bi qoumin fahuwa minhum itu dhoif, untuk menipu para pembaca artikel itu.

Bantahan terperinci pembahasan hadits itu berikut dengan semua thuruq (jalan jalan) sanad nya, dan juga keadaan perowi perowi hadits yang dituduh oleh penulis artikel itu, sudah dibahas secara tuntas oleh ustadz Abul Jauzaa’ (Dony Arif Wibawa) dalam tulisan ilmiah beliau yang bermanfaat di blog beliau.

Lihat : http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/…/takhrij-hadits-barangsi…

2. Bantahan pemahaman yang mengglobalkan masalah hadits tasyabbuh ke berbagai hal, dan membenturkan nya ke hadits masalah larangan mengikuti ahlul kitab (yakni Yahudi dan Nasrani).

Yang mana ini bertujuan untuk menciptakan “kebingungan pemahaman”, dan untuk menciptakan celah agar membolehkan bid’ah hasanah atas nama tradisi dan budaya.

Jawaban ringkasnya adalah para ulama menjelaskan bahwa hanya tasyabbuh yang merupakan ciri ciri khusus orang kafir lah yang tercela, adapun hal yang lain maka itu tidak tercela untuk menirunya selama

A. Ada manfaat yang bisa kita ambil

B. Itu sudah merupakan hal yang umum, dan sudah bukan merupakan ciri khas orang kafir. Sehingga secara otomatis hukumnya berubah.

C. Itu merupakan adat atau kebiasaan penduduk tertentu, budaya suku tertentu, yang tidak bertentangan dengan syariat.

Qaidah fiqh pun juga menetapkan keabsahan akan hal ini dengan perkataan yang berbunyi “Al ‘aadah muhakkamah” (Apa apa yang sudah menjadi kebiasaan atau adat itu dijadikan sebagai hukum)

Dalil untuk Bantahan yang kedua ini adalah :

– Rasulullah dalam perang khondaq meniru strategi parit dari persia yang majusi kafir atas saran dari Salman, dan rasulullah menerima nya dan menerapkan nya.

– Rasulullah memakai cincin yang digunakan untuk stempel surat resmi kenegaraan, yang mana kebiasaan inilah yang umumnya dipakai dan diterima oleh para raja kafir. Rasulullah diberi masukan akan hal ini, dan beliau pun menerimanya.

– Diyat adalah salah satu adat Arab jahiliyyah ketika ada masalah dalam pembunuhan, dan yang kemudian dibenarkan serta ditetapkan oleh syariat.

– Pemegang kunci ka’bah pada zaman jahiliyyah adalah suatu suku tertentu (saya lupa nama sukunya), sesuai dengan adat Arab musyrikin.

Setelah Fathul Makkah, dan semua suku kabilah Arab berbondong bodong masuk Islam, rasulullah pun meneruskan tradisi itu dengan menyerahkan kunci ka’bah ke kabilah pemegang kunci ka’bah yang juga telah masuk Islam.

– Rasulullah memakai pakaian, mendirikan bangunan, dan makan makanan khas tradisi Arab jahiliyyah; yang mana ini hanya masalah budaya dan kebiasaan serta tidak ada hubungan nya dengan agama atau kepercayaan tertentu.

Dan rasulullah tidak ada masalah dengan hal ini, demikian juga para sahabat radhiyallohu ‘anhum.

——-
Namun perlu diingat, tidak semua adat dan kebudayaan Arab jahiliyyah yang diterima dan dihalalkan oleh Islam.

Banyak juga adat dan kebudayaan Arab jahiliyyah yang ditentang dan diharamkan oleh islam. Seperti misal, kebiasaan minum khamr, menasabkan garis keturunan anak angkat ke bapak angkat, ketabuan menikahi wanita bekas istri anak angkat setelah diceraikan, dan masih banyak lagi.

Sehingga yang jadi parameter itu adalah syariat, bukan hanya semata mata karena adat maka otomatis langsung dibolehkan, sebagaimana ini yang diinginkan oleh para pendukung bid’ah hasanah.

Jadi yang benar ada perincian dalam hal ini. Bukan “gebyak uyah” dan menodongkan “tuduhan ketidak konsistenan” sebagaimana yang diinginkan oleh penulis artikel itu, guna melegalkan bid’ah hasanah dengan berbagai macam dalih tipuannya.

Baik itu dalih budaya, manipulasi pemahaman hadits, dll.

Walloohu A’lam

Diskusi Masalah Sayyid Quthb

Leave a comment

Dari tulisan saya “Peringatan Syaikh Prof Ibrahim Ar Ruhaili terhadap Buku Buku Takfiri Sayyid Quthb” di FB, terjadi sedikit comment untuk bertanya lebih lanjut mengenai Sayyid Quthb

—————

Fulan :

Mungkin akh Kautsar dkk. bisa membantu saya yg awam ini menganalisa & mengambil benang merah dari diskusi pada link yg saya sertakan ini. Apakah benar pembelaan para masyayikh seperti itu kepada pengkritik SQ ? Atau sebenarnya bgmn. ? Jazakallaahu khair.
https://www.facebook.com/fairuz.ahmad.frz/posts/10207603668596537

Jawab :

Akhi Fulan, sebenarnya diskusi di link itu terlalu umum dan tidak spesifik ke masalah ideologi takfiri nya Sayyid Quthb, sebagaimana yang saya fokuskan di status ini.

Sehingga kita bisa bantah secara umum bahwa diskusi di link itu tidak berlaku untuk pembahasan ini.

Adapun bermain-main dengan tazkiyyah dan ta’dil secara umum (rekomendasi dan pujian) sebagian masyaikh kepada Sayyid Quthb, dan menutup mata terhadap jarh dan naqd masyaikh (celaan dan kritikan) masyaikh yang lain kepada Sayyid Quthb, berikut juga menutup mata terhadap perincian sanggahan masyaikh kepada Sayyid Quthb yang membatalkan tazkiyyah dan ta’dil sebagian “kecil” masyaikh yang lain, maka itu adalah permainan “teknik framing” untuk memainkan opini yang biasa dilakukan oleh Quthby sejak versi 1.0 hingga versi 3.0 yang terakhir.

Itu bukan metode yang ilmiah. Demikianlah untuk jawaban secara umumnya

Adapun jika ingin spesifik, khusus mengenai ideologi takfiri nya Sayyid Quthb, maka kita jawab saja bahwa penarikan dan penyegelan buku buku Haroki yang dilakukan di Saudi sekarang ini terkait setelah terjadinya berbagai macam aksi takfir dan terorisme pengeboman serta pembunuhan di Saudi sekarang ini, yang termasuk di dalamnya adalah buku buku nya Sayyid Quthb adalah bukti akan hal ini.

Dan mufti Saudi saat pemberedelan dan pelarangan beredar nya buku bukunya Sayyid Quthb sekarang ini, juga adalah Syaikh Abdul Azis Alu Syaikh hafidzahulloh sendiri.

Kemudian mengenai pujian secara umum Syaikh Abdul Azis Alu syaikh khusus kepada buku Sayyid Quthb fii dzilaalil Qur’an, maka itu hanya khusus berlaku untuk kitab itu. Tidak bisa dilakukan “pemframingan” untuk dijadikan logika umum terhadap seluruh buku bukunya Sayyid Quthb. Yakni tidak bisa pembahasan fii dzilaalil Qur’an digunakan untuk pembahasan kitab Al ‘adaalah Al ijtimaiyyah, misalnya.

Adapun pada hakikatnya mengenai kitab fii dzilaalil Qur’an, maka masyaikh juga tidak mengatakan semuanya salah kok. Hanya yang salah salah dan menyimpang saja yang dikritik dan diperingatkan akan kesesatan nya. Ini juga sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Azis Alu Syaikh itu sendiri, beliau berkata kitab fii dzilaalil Qur’an itu juga tidak lepas dari kesalahan. Silakan cermati lagi perkataan beliau secara terperinci, dan hilangkan pengopinian dengan teknik framing yang dilakukan oleh Quthby.

Jika sudah memahami itu,
Sekarang untuk secara mendetail, point point apakah yang dikritik dan diperingatkan akan kesalahan Sayyid Quthb dalam bukunya fii dzilaalil Qur’an?

Berikut akan sertakan foto point point itu dari kitabnya Syaikh Abdullah bin Muhammad Ad Duwais “Al Mauridudz Zhallal fittanbihi ‘Ala Akhthooildz Zhilaal” yang diterjemahkan menjadi “Koreksi Tafsir Fii Dzilaalil Qur’an” oleh Darul Qolam.

Dan Syaikh Abdul Azis Alu Syaikh tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa buku koreksi Syaikh Abdullah Ad Duwais itu salah sekalipun, atau bahwa menyuruh untuk membredelnya sehingga menjadi kitab yang terlarang beredar di Saudi, sebagaimana yang terjadi dengan bukunya Sayyid Quthb, termasuk buku fii dzilaalil Qur’an nya, setelah terjadi gelombang takfiri dan terorisme di Saudi belakangan ini.

Ini penting untuk dipahami! Agar jangan sampai ada orang yang “nabok nyilih tangan” dengan mengatasnamakan Syaikh Abdul Azis Alu Syaikh hafidzahulloh dengan teknik framing mereka

 

Koreksi Fii Dzilaal - 1Koreksi Fii Dzilaal - 2Koreksi Fii Dzilaal - 3Koreksi Fii Dzilaal - 4Koreksi Fii Dzilaal - 5Koreksi Fii Dzilaal - 6Koreksi Fii Dzilaal - 7Koreksi Fii Dzilaal - 8Koreksi Fii Dzilaal - 9Koreksi Fii Dzilaal - 10Koreksi Fii Dzilaal - 11Koreksi Fii Dzilaal - 12Koreksi Fii Dzilaal - 13Koreksi Fii Dzilaal - 14

Adapun untuk “teknik framing” dari para Quthby, mereka memang biasanya menggunakan perkataan tazkiyyah dari :
– Syaikh ibnu Jibrin
– Syaikh Bakr Abu Zaid
– dan Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh yang sebenarnya hanya khusus untuk kitab fii dzilaalil Qur’an, bukan untuk kitab Sayyid Quthb lainnya, sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya.

Biasanya para Quthby melakukan teknik framing dengan perkataan Syaikh Ibnu Jibrin dan Syaikh Bakr Abu Zaid untuk “menghantam” Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholi yang juga khusus telah menulis buku untuk membantah pemikiran pemikiran Sayyid Quthb yang menyimpang. Dan pemikiran Sayyid Quthb yang menyimpang dari manhaj itu banyak, dan tidak hanya terbatas pada masalah Takfiri dan terorisme saja.

Quthby versi 3.0 yang ada sekarang ini umumnya mengakui secara tidak langsung terhadap kesalahan itu, maka dari itu mereka umumnya hanya mengambil manhaj Takfiri Sayyid Quthb saja dan “memaklumi” kesalahan Sayyid Quthb yang lain dalam masalah pentakwilan sifat-sifat Allah, pencelaan terhadap para sahabat nabi, dan lain-lain.

Bantahan terhadap teknik framing dengan mengatasnamakan Syaikh ibnu Jibrin dan Syaikh Bakr Abu Zaid ini sebenarnya sudah dibalas dengan balasan dan nasehat Syaikh Ahmad an najmi dan juga Syaikh Muhammad Al Madkholi kepada Syaikh Ibnu Jibrin, dan juga rujuknya Syaikh Bakr Abu Zaid sendiri dengan menulis buku yang berjudul “Hukmul Intima'”.

Spesialis bantahan akan teknik Framing kepada dua masyaikh itu (yakni Syaikh Ibnu Jibrin dan Syaikh Bakr Abu Zaid) itu sebenarnya adalah Prof Ustadz Andy Bangkit dengan kitab beliau

Itu beliau saya tag disini agar siapa tau beliau berkenan untuk mau menambahkan faedahnya di sini. (Afwan ya Prof, saya main comot dan nge tag antum tanpa izin….)

Berikut akan saya sertakan foto bantahan akan teknik framing yang mengatasnamakan dua Syaikh itu, yang ditulis oleh ustadz Andy

Bantahan Syubhat IM - 1Bantahan Syubhat IM - 2Bantahan Syubhat IM - 3Bantahan Syubhat IM - 4Bantahan Syubhat IM - 5Bantahan Syubhat IM - 6Bantahan Syubhat IM - 7Bantahan Syubhat IM - 8Bantahan Syubhat IM - 9Bantahan Syubhat IM - 10Bantahan Syubhat IM - 11Bantahan Syubhat IM - 12Bantahan Syubhat IM - 13

Fulan :

Sangat mencerahkan-dan melegakan-penjelasan yg anda paparkan ya akhi. Terimakasih tak terhingga atas effort-nya sampai rela capture2 buku segala. Syukran wa jazakallaahu khairan katsiran. Selanjutnya kalau boleh tahu, di mana saya bisa dapatkan buku pak prof. tsb. ya ?

Jawab :

Itu buku cetakan agak lama akh, wallaahu A’lam apakah sekarang masih naik cetak lagi atau tidak.

Mungkin penulis aslinya Prof Ustadz Andy Bangkit yang lebih bisa menjelaskan akan hal ini. Silahkan coba kontak beliau, siapa tau beliau masih punya stok yang tersisa… grin emoticon

Prof. Ustadz Andy Bangkit :

stok sudah habis sejak 1 bulan stlh penerbitan krn lgs habis.

Fulan :

Qadarallaah, assalaamu’alaikum prof., sudi kiranya nge-add saya jadi friend, soalnya saya udah nggak bisa ngelamar jadi friend-nya prof.Andy, udah kepenuhan.

Peringatan Syaikh Prof Ibrahim Ar Ruhaili terhadap Buku Buku Takfiri Sayyid Quthb

Leave a comment

Pada zaman ini ideologi Takfiri (pengkafiran secara serampangan), yang membadani maraknya gerakan terorisme akhir akhir ini, umumnya bersumber dari pemikiran Sayyid Quthb dan Buku Buku peninggalannya.

Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili hafidzahulloh telah memperingatkan akan bahaya ini, sekaligus membenarkan kesalahan dalam memahami masalah ini dengan kitabnya “At Takfiir wa dhowaabithuhu”, yang diterjemahkan menjadi berjudul “Penjatuhan Vonis Kafir Dan Aturannya” yang diterbitkan oleh Darus Sunnah dengan sepengetahuan dan izin dari Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili sendiri

Pada aplikasi nyatanya, para pemuda yang terjatuh kepada fitnah takfiri ini, umumnya mudah untuk menjatuhkan Vonis kafir kepada pemerintah Islam yang dzolim, dan semangat untuk melakukan “jihad” dengan tanpa memahami kaidahnya, ilmunya, dan fiqh nya.

Semoga Allah melindungi kita dari itu semua.

Jangan sampai kita hanya waspada terhadap syi’ah dan liberal, namun lengah terhadap fitnah takfiri dan terorisme.

Hati-hati, para pendukung fitnah takfiri dan terorisme itu juga menentang syi’ah dan liberal juga. Jangan hanya karena sama sama mempunyai “common enemy”, pendukung takfiri dan terorisme juga ikut kita dukung dan jadikan sahabat karib.

Baarokalloohu fiik

Bahaya Takfir SQ -9Bahaya Takfir SQ -1Bahaya Takfir SQ -2Bahaya Takfir SQ -3Bahaya Takfir SQ -4Bahaya Takfir SQ -5Bahaya Takfir SQ -6Bahaya Takfir SQ -7Bahaya Takfir SQ -8

Older Entries