Karakter fisik itu umumnya lebih diwariskan dari jalur ayah, sedangkan sifat dan akhlak itu umumnya lebih diwariskan dari jalur ibu.

Ini seperti Umar bin Abdul Aziz yang mewarisi karakter sifat dan akhlaknya dari neneknya.

Neneknya adalah cucu penjual susu yang sangat jujur dan enggan berbuat curang, yakni tidak mau untuk mencampurkan susu dengan air pada tengah malam. Kejadian ini diketahui oleh Umar bin Khoththob ketika inspeksi pada malam hari.

Syahdan suatu malam, Umar bin Khoththob sedang menyamar dan inspeksi di rakyatnya pada malam hari. Di balik dinding rumah seorang rakyat jelata, umar mendengar pembicaraan keluarga penjual susu.

Sang nenek di dalam rumah itu berkata bahwa pesanan susu sedang melimpah, maka mari kita campur saja susu dengan air agar untung banyak.

Cucu wanita sang nenek menolak dan berkata “Jangan nenek, nanti kalau sampai diketahui oleh khalifah umar, maka nanti kita dihukum”.

Sang nenek menyanggah “umar tidak akan tau. Apalagi ini tengah malam”. Padahal umar mendengar dengan jelas di balik tembok.

Mendengar sanggahan sang nenek, maka sang cucu wanita itu malah menangis sejadi jadinya. Sang nenek heran dan bertanya “ada apa denganmu?”

Sang cucu wanita menjawab “wahai nenek, umar mungkin tidak tau. Tapi bagaimana dengan Tuhan nya Umar?”

Maka demi mendengar ini, umar langsung menandai rumah itu dan pulang ke rumah. Di tengah malam itu juga dibangunkan seluruh anak laki laki umar lalu langsung ditanya “siapakah diantara kalian yang mau aku nikahkan dengan cucu wanita seorang penjual susu?”

Mendengar itu maka seluruh anak laki laki umar diam dan tidak menjawab. Ditanya lagi oleh umar namun mereka tetap diam.

Hingga setelah tiga kali ditanya mereka tetap diam, maka umar pun berkata “siapakah di antara kalian yang mau saya nikahkan dengan cucu wanita penjual susu itu? Jika tidak ada yang mau, maka akan saya nikahi sendiri dia”.

Mendengar itu maka salah seorang anak Umar yang bernama Ashim berkata “Saya mau untuk menikah dengannya wahai ayahku, untuk baktiku padamu”.

Dari jalur pernikahan dengan Ashim bin Umar bin Khoththob itu, maka keluarlah anak wanita yang bernama Laila (atau yang lebih dikenal dengan nama Ummu Ashim).

Ummu Ashim ini lalu menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, dan darinya keluarlah Umar bin Abdul Aziz khalifah yang sangat masyhur itu.
******
Adapun argumen bahwa karakter fisik umumnya lebih diwariskan dari jalur ayah, adalah berdasarkan kisah dari hadits ini.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – جَاءَهُ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ امْرَأَتِى وَلَدَتْ غُلاَمًا أَسْوَدَ . فَقَالَ « هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « مَا أَلْوَانُهَا » . قَالَ حُمْرٌ . قَالَ « فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « فَأَنَّى كَانَ ذَلِكَ » . قَالَ أُرَاهُ عِرْقٌ نَزَعَهُ . قَالَ « فَلَعَلَّ ابْنَكَ هَذَا نَزَعَهُ عِرْقٌ » . متفق عليه

Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu mengisahkan, “Ada seorang arab baduwi yang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak berkulit hitam (sedangkan aku berkulit putih).”

Mendengar keluhan sahabatnya ini, Rasûlullâh balik bertanya, “Apakah engkau memiliki onta ?” Penanya menjawab, “Ya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa warna kulit onta-ontamu ?” Sahabat itu menjawab, “Putih kemerah-merahan.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanyalagi, “Apakah ada dari ontamu yang berkulit hitam keabu-abuan ?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi melanjutkan pertanyaannya, “Darimanakah datangnya warna kulit onta itu ?” Penanya berusaha menjelaskan dengan berkata, “Menurutku dahulu ada dari induknya yang berwarna demikian.”

Mendengar penjelasan itu, Nabi balik berkata, “Mungkin juga anakmu menuruni warna kulit salah seorang nenek moyangnya.” [Riwayat Bukhâri, no.6455 dan Muslim, no. 1500]

[Salah Satu Faedah yang kami dapat dari kajian Ustadz Dr. Khalid Basalamah hafidzahullah]

Advertisements