Afwan, apakah ada dalil nash/hukum yg mendasari pernyataan: “ortu suami ‘lebih wajib’ dilayani di banding ortu sendiri dari istri” ?

Atau itu adalah kesimpulan para ulama (siapa saja ulama yg mengatakan demikian?).

Mohon pencerahan. Syukron.

Jawab :

Untuk dalilnya adalah dalil dalil kewajiban istri untuk taat kepada suami.

Memang tidak ada dalil yang tegas, yang langsung menerangkan secara tekstual untuk berbakti kepada mertua alias kepada orang tua suami.

Berikut adalah dalil kewajiban istri untuk taat kepada suami :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا ».

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya” (HR Tirmidzi no 1159, dinilai oleh al Albani sebagai hadits hasan shahih).

Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)

Dari dalil dalil itu maka syaikhul islam ibnu taimiyah rohimahulloh berpendapat bahwa, berbakti dan taat kepada suami itu lebih wajib ditaati dibandingkan terhadap orang tua istri itu sendiri.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Seorang perempuan jika telah menikah maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua” (Majmu Fatawa 32/261).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260)

Perkataan bahwa seorang istri berbakti kepada orang tua suami itu lebih utama dibandingkan orang tua sang istri adalah pendapat turunan, atau pendapat konsekuensi, dari pendapat bahwa taat kepada suami itu lebih utama daripada taat kepada orang tua sang istri sendiri, setelah dia menikah.

Karena ini hanyalah “pendapat turunan” dan memang tidak ada dalil yang “tegas” masalah berbakti kepada mertua yang merupakan orang tua dari suami, maka ini adalah masalah yang “longgar” dan tidak mengapa berbeda pendapat dalam hal ini.

Jika berbakti kepada mertua itu dianggap bagian dari kewajiban berbakti kepada suami, apalagi itu disuruh oleh suami, maka ya itu jadinya wajib.

Jika berbakti kepada mertua dianggap bukan dari bagian taat kepada suami, maka hukumnya ya tidak wajib.

Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa itu Tidak wajib, namun mustahab (sunnah) dan itu bagian dari ihsan (berbuat baik).

Demikianlah keterangan yang bisa saya sampaikan.

Wallaahu A’lam

Advertisements