Sebenarnya manhaj yang bagaimanakah yang “diwasiatkan” kepada kita oleh rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, dalam memahami dan menjalani agama ini?

Apakah benar Rasulullah membiarkan kita begitu saja untuk berkata dan memahami Islam, dengan cara dan metoda apa saja yang kita kehendaki?

Apakah benar seperti itu? Demikianlah pertanyaan utamanya

******
Secara “global” jawabannya adalah rasulullah tidak membiarkan kita begitu saja, untuk boleh seenaknya saja memahami agama ini sekehendak kita.

Rasulullah juga telah mewasiatkan kepada kita untuk berpegang kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yakni apa-apa yang rasulullah dan para shahabatnya berdiri di atasnya dalam memahami dan menjalankan agama ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ مَا أَنَا عَلَيْهِ اليَوْمَ وَ أَصْحَابِي

Ketahuilah, sesungguhnya Ahli Kitab sebelum kalian telah terpecah-belah menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya umat ini juga akan terpecah menjadi 73 golongan. Tujuh 72 di antaranya masuk neraka, dan satu golongan di dalam surga, yakni golongan yang mengikuti pedoman yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.[ HR Abu Dawud dan lainnya dari banyak jalur dari sejumlah sahabat nabi, dan dishahîhkan oleh al-Albâni.]

******
Adapun untuk jawaban secara “khusus”, maka jawabannya adalah “madzhab tajdid”.

Yakni madzhab pembaharuan yang bertujuan untuk “menjaga” dan “meremajakan kembali” pemahaman dan aqidah ummat agar menjadi baru lagi, sama seperti yang dulu difahami dan dijalankan oleh Rasulullah, Para Shahabat, dan para Salaful Ummah (pendahulu ummat ini).

Tidak dipungkiri lagi, pemahaman ummat terhadap Islam sekarang ini semakin kacau, semakin rusak, semakin absurd, semakin tidak jelas, dan semakin jauh dari apa-apa yang difahami oleh Rasulullah dan para shahabatnya.

Maka dari itu, “madzhab tajdid” ini diwasiatkan oleh rasulullah kepada kita, dengan tujuan untuk menjaga keotentikan, kemurnian, dan keshohihan pemahaman ummat Islam ini terhadap Islam itu sendiri.

Dalil untuk ini adalah,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِى مِنْ سُنَّتِى ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”.

Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah ?

“Orang-orang yang selalu memperbaiki (melakukan ishlah) di saat manusia merusak sunnah-sunnahku”, jawab Rasulullah. (HR. At Tirmidzi, dinyatakan Hasan Shahih oleh Imam At Tirmidzi)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»
Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang memperbaharui untuk umat agama mereka (HR Abu Dawud no. 4291, Dishahihkan oleh as-Sakhawi di al-Maqâshid al-Hasanah (149) dan al-Albani di as-Silsilah ash-Shahîhah no. 599)

Tidak dipungkiri, standard pemahaman ummat dalam memahami Islam ini telah banyak bergeser dari standard awal yang benar, yang ditetapkan dan dicontohkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.

Bahkan kadang-kadang ada juga fenomena, seseorang tidak mempunyai standard apa-apa sama sekali dalam memahami agama ini. Sehingga dia bebas untuk berkata dan memahami Islam, dengan cara dan metoda apa saja yang dia kehendaki.

Adapun standard pemahaman Islam, yang menjadi tujuan dari pembaharuan dan pemurnian ini, merujuk kepada standard pemahaman yang telah mendapatkan “rekomendasi” dan pujian dari rasululloh.

Standard pemahaman ummat yang telah mendapatkan “rekomendasi” dan pujian rasululloh, adalah sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits berikut ini, dan inilah juga tujuan dari madzhab tajdid itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

Sebaik-baik manusia ialah pada zamanku (zaman Rasulullah dan para shahabat), kemudian zaman berikutnya (zaman para tabi’in murid pengikut shahabat), dan kemudian zaman berikutnya (zaman para tabiut tabi’in murid pengikut para tabi’in).

Lalu akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpah, dan sumpahnya mendahului persaksian.[ HR al-Bukhâri, 3651, dan Muslim, 2533.]

Madzhab tajdid ini memang bertujuan untuk mengembalikan standard pemahaman ummat dalam memahami Islam, agar kembali lagi ke standard pemahaman yang dulu telah dicanangkan oleh rasulullah dan para shahabatnya.

******

Dengan madzhab tajdid ini maka pada abad modern ini ditempuhlah pentahqiqan (penelitian dan analisa) manuskrip dan kitab2 yang mempunyai sanad kembali kepada para Salaf, baik itu kitab tafsir, kitab sejarah, dan lain lain.

Ditahqiq juga berbagai macam kitab-kitab hadits. Dan kemudian “disortir” dan dipisah-pisahkanlah mana yang shohih, hasan, dhoif, dan maudhu (palsu), sesuai dengan standard ilmu mustholahul hadits dalam meneliti sanad dan matan yang ditetapkan para ulama salaf (terutama ahlul hadits).

Dari “sumber-sumber data” yang telah ditahqiq itu, maka digunakanlah sumber data itu untuk mentarjih (memilih mana yang paling valid) dari berbagai macam topik aqidah, pemahaman, fiqh, akhlak, dan yang semisal.

Dibukalah lagi pintu ijtihad untuk mereview kembali perkataan para ulama sebelumnya, dengan menggunakan sumber data yang populasinya lebih banyak, lebih valid, dan telah melalui proses verifikasi data.

Dari hal itu, kemudian disampaikanlah hasil tahqiq dan tarjih kepada ummat, dengan mengkedepankan sikap ilmiah dan tidak mencukupkan diri dengan taqlid.

Dimurnikan kembali berbagai macam pemahaman, berbagai macam Aqidah, cara-cara dan jenis ibadah, dan data-data rujukan agama yang “tidak valid”, yang banyak berkembang di tengah masyarakat. Dididik kembalilah masyarakat dengan berdasarkan mata air yang murni dan jernih ini.

Sehingga dari madzhab tajdid ini, terbaharukan dan teremajakanlah lagi aqidah dan pemahaman ummat ini dalam memahami Islam, sehingga menjadi baru kembali seperti apa yang Rasulullah dan para salaf ajarkan.

Inilah usaha untuk memenuhi “pesan wasiat” yang disampaikan oleh rasulullah kepada kita, dalam memahami dan menjalankan agama ini.
*******

Dibalik usaha yang dilakukan oleh “agent of change” dengan madzhab tajdid-nya itu, terdapat juga “pro status quo” yang tidak mau direformasi dan “lebih merasa nyaman” dengan kondisi apa adanya. Yakni kondisi semakin jauhnya pemahaman masyarakat dari ajaran Rasulullah dan para shahabat.

Uniknya, mereka melakukan perlawanan pro status quo ini hanya dengan “Manhaj retorika”. Ya, sekali lagi hanya dengan “Manhaj retorika”. Mereka tidak melandasinya dengan wasiat yang diberikan rasulullah ataupun dalil.

Dengan manhaj retorika itu, maka dilakukanlah usaha “nabok nyilih tangan” dengan mengatasnamakan mencukupkan diri taqlid secara mutlaq kepada 4 madzhab fiqh yang masyhur.

Ber-retorika untuk menutup pintu ijtihad yang mereview kembali dalil2 dan berbagai macam perkataan ulama.

Menuduh bahwa madzhab tajdid yang diwasiatkan oleh rasulullah ini tidak menghargai pro status quo, ingin membuat madzhab kelima disamping 4 madzhab yang telah ada, atau bahkan memberikan julukan “AlLaa madzhabiyyah”” (Pemahaman tanpa madzhab).

Dan banyak lagi retorika yang lain, yang hanya lebih mengkedepankan “logical fallacy”, yang lebih ke masalah “baper” (bawa perasaan), hanya merupakan usaha untuk membuat opini dan menghasut masyarakat, dan yang tidak berangkat dari wasiat rasulullah dalam memahami Islam.

Inilah manhaj retorika yang tidak berangkat dari dalil dan pesan wasiat rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Dah gitu aja

Advertisements