Sunnah itu tidak mesti selalu berkonotasi ke hukum fiqh yang lima. Yakni hukum fiqh yang lima yang menerangkan ini hukumnya wajib, ini hukumnya haram, sunnah, makruh, atau mubah.

Kadang ulama juga memakai istilah “sunnah” untuk masalah Aqidah dan Manhaj. Sehingga tergantung konteksnya.

Seperti misal kitab “Ushulus Sunnah” tulisan imam Ahmad bin Hanbal, itu kitab masalah Aqidah dan manhaj. Dipaparkan disitu manhaj salaf ahlus sunnah wal jamaah.

Hal yang sama juga seperti kitab Syarhus Sunnah, tulisan imam Al Barbahari rahimahulloh.

Dan banyak lagi kitab para ulama lainnya.
****
Saya beri contoh lagi istilah “sunnah” yang tidak mengacu kepada makna “sunnah” dalam fiqh, melainkan berarti “manhaj” dalam menjalankan dan memahami agama. Dan ini rasulullah sendiri yang berkata.

Misal, rasulullah berkata “man roghiba ‘an sunnatii, falaisa minnii” (barangsiapa yang membenci sunnah ku, maka dia bukan dari golongan ku) hr. Bukhari muslim.

Atau misal lain, perkataan rasulullah yang lain “‘ alaikum bissunatii, wa sunnatil khulafaurrasyidiin mahdiyyiin min ba’di” (Wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnah ku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelah ku). Hadits shohih.

Dan banyak lagi contoh contoh perkataan yang menggunakan istilah “sunnah” yang mengacu kepada manhaj dan aqidah. Baik itu yang berasal dari perkataan rasulullah, perkataan sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan para imam yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Berdasarkan ini juga maka para ulama mutaqaddimin (yang terdahulu) menuliskan kitab kitab yang menerangkan mengenai sunnah yang berarti manhaj dan aqidah, dengan melalui hujjah dan dalil Sanad mereka yang terjaga yang kembali kepada perkataan rasulullah dan para salafush sholeh (Yakni, sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan para imam yang mengikuti mereka).

Baik itu kitab yang ditulis dengan menggunakan metode pemaparan, mengenai bagaimana manhaj Salaf dalam memahami dan menjalankan agama sesuai sunnah.

Ataupun kitab yang merupakan bantahan terhadap manhaj Ahlul bid’ah yang menyimpang dari manhaj salaf dalam memahami dan menjalankan agama.

Ini seperti misal,
——
Kitab dengan Metode Pemaparan, yang menjelaskan bagaimana salaf memahami dan menjalankan agama sesuai sunnah

1. As-Sunnah, karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 241 H).
2. As-Sunnah, karya Imam Abu Bakar bin al-Atsram rahimahullah (wafat th. 272 H).
3. As-Sunnah, karya Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 290 H).
4. As-Sunnah, karya Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi rahimahullah (wafat th. 294 H).
5. As-Sunnah, karya Imam Ahmad bin Muhammad bin Harun al-Khallal rahimahullah (wafat th. 311 H).
6. At-Tauhiid, karya Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat th. 311 H
7. Asy-Syarii’ah, karya Imam Abu Bakar al-Aajurri rahimahullah (wafat th. 360 H).
8. Al-Ibaanah, karya Imam Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah rahimahullah (wafat th. 387 H).
9. At-Tauhiid, karya Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah rahimahullah (wafat th. 395 H).
10. Syarhus Sunnah, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin Abi Zamanain rahimahullah (wafat th. 399 H).
11. Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Imam Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan al-Laalika-i rahimahullah (wafat th. 418 H).

Dan masih banyak lagi kitab lainnya.
——-
Kitab dengan Metode Bantahan terhadap manhaj ahlul bid’ah yang menyimpang dari manhaj salaf dalam memahami dan menjalankan agama.

1. Kitaabul Iimaan, karya Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam rahimahullah (wafat th. 244 H).
2. Ar-Radd ‘alaa Jahmiyyah, karya Abdullah bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 241 H)
3. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, karya Imam Abu Abdillah bin Muhammad bin Abdullah al-Ju’fi rahimahullah (wafat th. 229 H).
4. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, karya Imam Abu Abdillah bin Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah (wafat th. 256 H).
5. Al-Ikhtilaaf fil Lafzhi war Radd ‘alal Jaqhmiyyah wal Musyabihah, karya Imam Abdullah bin Muslim bin Qutaibah rahimahullah (wafat th. 276 H).
6. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, karya Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah (wafat th. 280 H).
7. Ar-Radd ‘alaa Bisyr al-Marisiy, karya Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah (wafat th. 280 H).

——–
Kitab-kitab ini, baik yang menggunakan metode pemaparan ataupun metode bantahan terhadap manhaj yang menyimpang, menetapkan satu permasalahan penting yaitu “Mengembalikan umat kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengikuti Salafush Shalih dalam memahami keduanya, dan menjauhi pendapat-pendapat baru yang diada-adakan serta manhaj ahlul bid’ah yang mungkar dalam memahami dan menjalankan agama ”

Kitab kitab itu umumnya ditulis pada masa 300 an tahun hijriyyah, yang mana ini berdekatan dengan masa para ulama salaf. Dan kitab ini umumnya menisbatkan kepada para salaf dengan berdasarkan Sanad Sanad yang dimiliki oleh para imam penulis kitab itu, yang menginduk kembali kepada salaf (shahabat, tabiin, dan tabiut tabiin).

Bahkan ada juga kitab yang berjudul “Aqidah Salaf, ashhaabul hadits” yang ditulis oleh syaikhul islam imam Abu Ismail Ash Shobuni (wafat 449 H).

Kitab kitab inilah warisan para ulama mutaqaddimin yang menjelaskan mengenai manhaj salaf.

Kitab kitab ini otentik, terjaga, memiliki Sanad, dan terpelihara hingga sampai kepada zaman kita Ini.

Inilah beberapa kitab turots yang merupakan kitab acuan “dakwah salafiyyah” dalam menerangkan “manhaj salaf”.

Sehingga memverifikasi keshohihan dakwah salafiyyah yang dikembalikan kepada para salaf itu sebenarnya hal yang gampang.

Inilah dakwah ilmu dan penjelasan, mengenai bagaimana kita memahami dan menjalankan agama ini sesuai yang difahami dan dijalankan oleh para ulama salaf.

Inilah dakwah ilmu dan penjelasan mengenai bagaimana para ulama salaf itu (terutama para shahabat, tabiin, dan tabiut tabiin) dalam memahami Al Quran dan Al Hadits, sebagai acuan dalam memahami dan menjalankan agama.

Sehingga kalau dikatakan “back to Quran and sunnah”, maka menurut pemahaman siapa?

Maka dijawab “back to Quran and Sunnah” menurut pemahaman Salaf.

Kemudian kalau ditanyakan lagi “Bagaimana cara kita bisa mengetahui dan merujuk kepada manhaj salaf?” Maka mengacu kepada kitab kitab yang telah ditulis para ulama dengan Sanad Sanad mereka yang kembali kepada para salaf, yang menerangkan mengenai manhaj salaf.

Dan ini sebenarnya adalah hal yang mudah untuk dipahami, karena ini adalah dakwah ilmu, bukan dakwah hizbiyyah yang bertujuan untuk mencari simpatisan, kader, dan anggota.

Advertisements