Benarkah Islam itu harus dipandang dengan kacamata Khilafah?

Leave a comment

Abu Bakar Ash shiddiq, sahabat rasulullah yang paling utama sekaligus khalifah pertama sepeninggal rasulullah, mendapatkan gelar “Ash Shiddiq” karena keimanannya membenarkan peristiwa isra’ nya nabi Muhammad ke Masjidil Aqsha di Palestina, dan mi’raj nya ke langit ketujuh.

Kira kira apa keuntungan politik, kejayaan kekuasaan Islam, dan peletakan kebangkitan kekhilafahan Islam yang bisa didapatkan oleh Abu Bakar dengan mengimani dan membenarkan peristiwa Isra mi’raj itu, hingga dia sampai mendapatkan gelar Ash Shiddiq?

Bukankah perintah yang rasulullah dapatkah ketika mi’raj hanya perintah masalah sholat lima waktu?

Rasulullah tidak mendapatkan perintah yang berhubungan langsung dengan keuntungan politik, untuk kejayaan kekuasaan Islam, dan peletakan kebangkitan kekhilafahan Islam

Demikian juga penyebab Umar bin Khoththob khalifah kedua setelah Abu Bakar masuk Islam.

Bukankah Umar bin Khoththob masuk Islam juga BUKAN karena iming iming keuntungan politik, tertarik dengan prospek kejayaan kekuasaan Islam, dan ingin mendapat “jatah” dari kebangkitan kekhilafahan Islam?

Tidak percaya? Coba lihat ayat ayat 1-14 di QS Thoha yang menyebabkan Umar dapat hidayah dan masuk Islam.

Apakah disitu terdapat iming iming keuntungan politik, prospek kejayaan kekuasaan Islam, dan peletakan kebangkitan kekhilafahan Islam? Al Jawab, tidak.

Kalau begitu, bagaimanakah sebenarnya para Shahabat memahami Islam sebagaimana yang diajarkan rasulullah itu ?

Apakah para shahabat memahami Islam dengan paradigma keuntungan politik, untuk kejayaan kekuasaan Islam, dan peletakan kebangkitan kekhilafahan Islam, sebagai pondasi manhaj nya dalam melihat Islam?

Ataukah para shahabat “pure” memahami Islam dengan paradigma pondasi keimanan dan Aqidah?

Dalam artian kekuasaan dan kekhilafahan itu bukanlah manhaj mereka yang utama dalam memahami Islam, dan bukan juga tujuan utama dari perjuangan dan jihad mereka?

******
Lho, kalau keuntungan politik, untuk kejayaan kekuasaan Islam, dan peletakan kebangkitan kekhilafahan itu bukan manhaj utama para shahabat dalam memahami agama, maka bagaimanakah kedudukan politik kekuasaan dan kekhilafahan itu di mata para shahabat?

Bukankah Islam juga mengajarkan syariat berkenaan dengan masalah kekuasaan?

Bagaimana?…. Bagaimana…..?

(Dan dikeluarkanlah berbagai macam syubhat dan rasa keberatan yang beraneka macam)

******
Sabar sabar….
Kita coba back to basic dengan kembali ke Al Quran, untuk menjawab “root cause” dari semua pertanyaan itu ya. Setuju?

Allah berfirman,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam).

Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur : 55)

Jadi berdasarkan ayat itu, syarat dan faktor utama dalam mensikapi kekuasaan itu, adalah dengan berdasarkan paradigma pondasi manhaj keimanan dan aqidah yang kokoh dalam memahami Islam. Bukan semata karena dorongan politik kekuasaan dan kekhilafahan, yang dijadikan dasar manhaj utama dalam memandang Islam.

Masih belum faham?

Keimanan dan aqidah itu adalah ushul atau pokok cara kita dalam memahami agama. Sedangkan politik kekuasaan dan kekhilafahan itu hanyalah furu atau cabang saja dalam memahami Islam .

Furu itu tidak akan menjadi ushul. Dan merupakan kedzoliman jika menjadikan furu sebagai Ushul, apalagi dalam masalah memahami Islam. Kenapa? Karena hal ini akan memiliki implikasi penyimpangan yang besar dalam memahami dan menjalankan Islam.

Manhaj sunnah akan menjadi diabaikan, dan manhaj bikinan yang dibuat buat akan dianggap lebih utama.

*****
Pada prakteknya pemahaman rasulullah dan para sahabat ketika berinteraksi dengan para penguasa pada waktu itu, adalah hanya dalam rangka dakwah keimanan dan aqidah. Tidak ada motivasi karena haus kekuasaan dan motif politik.

Jika mereka menerima Islam, maka para raja itu tetap dibiarkan berkuasa. Jika sang raja belum mau masuk Islam, namun menyambut dakwah Islam di wilayah kekuasaan, serta tidak menghalangi nya, maka dilakukan hubungan bilateral untuk kepentingan dakwah tanpa ada motif untuk ekspansi kekuasaan.

Adapun jika penguasa tersebut menolak, menentang, menolak membayar jizyah, dan menghalangi dakwah Islam, maka barulah strategi ekspansi kekuasaan Islam dengan cara diperangi dan berjihad baru dilakukan.

******
Mengkritik orang, jama’ah, ataupun organisasi yang menjadikan politik kekuasaan dan kekhilafahan sebagai manhaj utama mereka dalam memahami agama itu diperlukan. Yakni yang menjadikan hal itu sebagai doktrin “dengan ghuluw”, dianggap sebagai pondasi utama dalam memahami Islam, dan tidak meletakkannya secara proporsional.

Kritik ini dilakukan agar diperingatkan, “Hei! Bukan itu manhaj yang diajarkan oleh rasulullah dan para shahabat nya dalam memahami agama”.

********
Side effect dari kritik ini tentu saja,
Hei, anda “menggembosi” dakwah untuk kejayaan Islam! Ok lah, ini bukan manhaj yang difahami dan diajarkan rasulullah dan para sahabatnya, tapi ini kan baik dan untuk kejayaan Islam.

Biar saja kami melakukan dakwah hizbiyyah demi keperluan mencetak kader yang loyal kepada jamaah, kan yang penting amal jama’i hizbiyyah ini untuk kejayaan Islam.

Biar saja kami demo, merencanakan bughot, dan sangat menentang para penguasa Islam yang ngakunya aja Islam, tapi faktanya Liberal Sekuler. Ngakunya aja Muslim, tapi ogah menegakkan syariat Islam.

Belum lagi mereka juga banyak melakukan kedzoliman, memeras rakyat, menetapkan pajak, hukum yang dijalankan hanya “tajam ke bawah tumpul ke atas” .

Berfokus kepada manhaj mengajarkan Keimanan dan Akhlak itu hanyalah manhaj kuno yang cocok pada zaman nabi saja. Kurang cocok untuk diterapkan pada zaman modern ini.

Umat Islam didzolimi dimana mana oleh orang kufar, baik itu di Palestina, Suriah, Rohingnya, dan lain lain. Adapun para penguasa Islam itu bisanya cuman diam saja….

Bikin emosi saja memang pemerintahan macam itu!!

*****
Sabar wahai akhi, “logical fallacy” anda kemana mana. “Baper” (bawa perasaan) anda terlalu dieksploitasi hingga “atas nama perasaan” anda membenarkan untuk tidak mengikuti sunnah.

Akhi Kariim,
apakah rasulullah tidak pernah mengkhabarkan kepada kita akan hal hal yang menimpa kita ini?

Bukankah Rasulullah sudah mengabarkan akan adanya mulkan jabariyyah (pemerintahan yang semena-mena dan dzolim) sebagaimana yang ada pada zaman kita ini, dan apakah rasulullah tidak memberikan panduan “solusi dan kebijaksanaan” beliau dalam menghadapi hal ini?

Al Jawab, tentu saja rasulullah sudah memberikan hal itu dalam masalah sunnah muamalah terhadap waliyul amri.

Sabar dan tetap taat kepada waliyul Amri yang muslim namun dzolim dalam hal yang ma’ruf, itulah kebijakan yang rasulullah berikan sesuai sunnah nya.

Ini lebih baik dibandingkan madhorot yang lebih besar jika kita memberontak, menentang nya, atau bahkan mengkafir kafirkannya tanpa haq.

Ini juga bukan sama sekali berarti, kita mendukung dan membela kedzoliman ulil amri itu ya. Jangan pake “baper” ya.

Kita menasehati ulil amri sesuai dengan yang diperintahkan oleh rasulullah, dan juga mendoakan agar ulil amri menjadi ulil amri yang baik.

Sembari itu tetap lakukan dakwah kepada umat Islam, atas dasar Ilmu dan manhaj rasulullah beserta shahabat nya dalam memahami Islam. Perbaiki aqidah dan keimanan yang bobrok yang ada di masyarakat Islam.

Tegakkan Tauhid dan berantas kesyirikan yang meraja lela di tengah masyarakat. Fahamkan sunnah dan berantas kebidahan.

Kenapa?
Karena ulil amri yang baik itu berasal dan dipilih dari masyarakat Islam yang baik juga. Percuma juga ingin menegakkan aturan syariat Islam, jika masyarakat Islam nya sendiri yang nanti menentangnya.

Dah gitu aja. Sunnah itu memang simple dan nggak ribet.

Advertisements

Agar Sekeluarga Berkumpul di Surga

Leave a comment

Ini adalah salah satu ilmu yang penting untuk kita ketahui 🙂 🙂

Pelajarilah Aqidah dengan benar, jauhkan sejauh jauhnya syirik dari keluarga kita, agar kita dan keluarga kita bisa berkumpul lagi di Syurga. Insya Allah 🙂

Lihat : http://muslimah.or.id/3409-apakahkah-suami-istri-kembali-bersatu-di-surga-kelak.html

Istri Sholihah

Leave a comment

Istri Sholihah

Hakikat Dakwah

Leave a comment

Inilah hakikat dakwah itu

Hakikat Dakwah

Pemahaman dan Niat

Leave a comment

Type dan sikap seorang Muslim terhadap Islam di zaman modern ini, secara umum dibagi menjadi empat golongan :

1. Golongan Muslim yang memiliki pemahaman yang baik mengenai Islam, dan niat yang baik terhadap Islam.

Orang seperti ini adalah teman dan shahabat kita. Bertemanlah dengannya, dan ambillah faedah serta ilmu darinya

2. Golongan Muslim yang memiliki pemahaman yang buruk mengenai Islam, sukanya hanya ikut-ikutan saja, namun memiliki niat yang baik terhadap Islam.

Orang seperti ini kadang seperti pasien yang harus kita sayangi, dan shahabat yang harus kita selamatkan. Shahabat yang harus kita fahamkan dan jelaskan ilmu, akan hal2 yang dia salah memahaminya.

Namun terkadang juga harus kita cegah kemungkaran yang dia timbulkan dari pemahamannya yang buruk, walaupun dia niatnya baik.

3. Golongan Muslim yang memiliki pemahaman yang baik, orang yang memiliki Ilmu, namun dia memiliki niat yang buruk terhadap Islam. Akhlak dan adabnya kurang terpuji, serta menganggap remeh maksiat

Orang seperti ini kadang harus kita sikapi dengan nasehat, kadang juga harus “ditegasi”, dan kadang juga harus dimusuhi.

Yang terpenting adalah harus berusaha untuk disembuhkan “penyakit” yang ada di hatinya.

4. Muslim yang memiliki pemahaman yang buruk, dan sekaligus niat yang buruk terhadap Islam.

Inilah golongan orang yang hanya mendatangkan “bencana”. Adakah orang seperti ini? Jawabnya tentu saja ada. Bukankah orang munafik itu diakui keberadaannya dalam Islam? Hanya saja sekarang di dunia modern ini orang seperti ini bertransformasi dengan banyak istilah dan kamuflase.

Orang seperti ini harus disikapi dengan sikap yang paling dapat memberikan mashalahat, dan yang paling dapat memberantas madhorot. Harus didoakan dan diberikan nasehat juga agar mendapatkan hidayah.

Menasehati Manhaj Retorika

Leave a comment

Sebenarnya manhaj yang bagaimanakah yang “diwasiatkan” kepada kita oleh rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, dalam memahami dan menjalani agama ini?

Apakah benar Rasulullah membiarkan kita begitu saja untuk berkata dan memahami Islam, dengan cara dan metoda apa saja yang kita kehendaki?

Apakah benar seperti itu? Demikianlah pertanyaan utamanya

******
Secara “global” jawabannya adalah rasulullah tidak membiarkan kita begitu saja, untuk boleh seenaknya saja memahami agama ini sekehendak kita.

Rasulullah juga telah mewasiatkan kepada kita untuk berpegang kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yakni apa-apa yang rasulullah dan para shahabatnya berdiri di atasnya dalam memahami dan menjalankan agama ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ مَا أَنَا عَلَيْهِ اليَوْمَ وَ أَصْحَابِي

Ketahuilah, sesungguhnya Ahli Kitab sebelum kalian telah terpecah-belah menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya umat ini juga akan terpecah menjadi 73 golongan. Tujuh 72 di antaranya masuk neraka, dan satu golongan di dalam surga, yakni golongan yang mengikuti pedoman yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.[ HR Abu Dawud dan lainnya dari banyak jalur dari sejumlah sahabat nabi, dan dishahîhkan oleh al-Albâni.]

******
Adapun untuk jawaban secara “khusus”, maka jawabannya adalah “madzhab tajdid”.

Yakni madzhab pembaharuan yang bertujuan untuk “menjaga” dan “meremajakan kembali” pemahaman dan aqidah ummat agar menjadi baru lagi, sama seperti yang dulu difahami dan dijalankan oleh Rasulullah, Para Shahabat, dan para Salaful Ummah (pendahulu ummat ini).

Tidak dipungkiri lagi, pemahaman ummat terhadap Islam sekarang ini semakin kacau, semakin rusak, semakin absurd, semakin tidak jelas, dan semakin jauh dari apa-apa yang difahami oleh Rasulullah dan para shahabatnya.

Maka dari itu, “madzhab tajdid” ini diwasiatkan oleh rasulullah kepada kita, dengan tujuan untuk menjaga keotentikan, kemurnian, dan keshohihan pemahaman ummat Islam ini terhadap Islam itu sendiri.

Dalil untuk ini adalah,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِى مِنْ سُنَّتِى ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”.

Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah ?

“Orang-orang yang selalu memperbaiki (melakukan ishlah) di saat manusia merusak sunnah-sunnahku”, jawab Rasulullah. (HR. At Tirmidzi, dinyatakan Hasan Shahih oleh Imam At Tirmidzi)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»
Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang memperbaharui untuk umat agama mereka (HR Abu Dawud no. 4291, Dishahihkan oleh as-Sakhawi di al-Maqâshid al-Hasanah (149) dan al-Albani di as-Silsilah ash-Shahîhah no. 599)

Tidak dipungkiri, standard pemahaman ummat dalam memahami Islam ini telah banyak bergeser dari standard awal yang benar, yang ditetapkan dan dicontohkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.

Bahkan kadang-kadang ada juga fenomena, seseorang tidak mempunyai standard apa-apa sama sekali dalam memahami agama ini. Sehingga dia bebas untuk berkata dan memahami Islam, dengan cara dan metoda apa saja yang dia kehendaki.

Adapun standard pemahaman Islam, yang menjadi tujuan dari pembaharuan dan pemurnian ini, merujuk kepada standard pemahaman yang telah mendapatkan “rekomendasi” dan pujian dari rasululloh.

Standard pemahaman ummat yang telah mendapatkan “rekomendasi” dan pujian rasululloh, adalah sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits berikut ini, dan inilah juga tujuan dari madzhab tajdid itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

Sebaik-baik manusia ialah pada zamanku (zaman Rasulullah dan para shahabat), kemudian zaman berikutnya (zaman para tabi’in murid pengikut shahabat), dan kemudian zaman berikutnya (zaman para tabiut tabi’in murid pengikut para tabi’in).

Lalu akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpah, dan sumpahnya mendahului persaksian.[ HR al-Bukhâri, 3651, dan Muslim, 2533.]

Madzhab tajdid ini memang bertujuan untuk mengembalikan standard pemahaman ummat dalam memahami Islam, agar kembali lagi ke standard pemahaman yang dulu telah dicanangkan oleh rasulullah dan para shahabatnya.

******

Dengan madzhab tajdid ini maka pada abad modern ini ditempuhlah pentahqiqan (penelitian dan analisa) manuskrip dan kitab2 yang mempunyai sanad kembali kepada para Salaf, baik itu kitab tafsir, kitab sejarah, dan lain lain.

Ditahqiq juga berbagai macam kitab-kitab hadits. Dan kemudian “disortir” dan dipisah-pisahkanlah mana yang shohih, hasan, dhoif, dan maudhu (palsu), sesuai dengan standard ilmu mustholahul hadits dalam meneliti sanad dan matan yang ditetapkan para ulama salaf (terutama ahlul hadits).

Dari “sumber-sumber data” yang telah ditahqiq itu, maka digunakanlah sumber data itu untuk mentarjih (memilih mana yang paling valid) dari berbagai macam topik aqidah, pemahaman, fiqh, akhlak, dan yang semisal.

Dibukalah lagi pintu ijtihad untuk mereview kembali perkataan para ulama sebelumnya, dengan menggunakan sumber data yang populasinya lebih banyak, lebih valid, dan telah melalui proses verifikasi data.

Dari hal itu, kemudian disampaikanlah hasil tahqiq dan tarjih kepada ummat, dengan mengkedepankan sikap ilmiah dan tidak mencukupkan diri dengan taqlid.

Dimurnikan kembali berbagai macam pemahaman, berbagai macam Aqidah, cara-cara dan jenis ibadah, dan data-data rujukan agama yang “tidak valid”, yang banyak berkembang di tengah masyarakat. Dididik kembalilah masyarakat dengan berdasarkan mata air yang murni dan jernih ini.

Sehingga dari madzhab tajdid ini, terbaharukan dan teremajakanlah lagi aqidah dan pemahaman ummat ini dalam memahami Islam, sehingga menjadi baru kembali seperti apa yang Rasulullah dan para salaf ajarkan.

Inilah usaha untuk memenuhi “pesan wasiat” yang disampaikan oleh rasulullah kepada kita, dalam memahami dan menjalankan agama ini.
*******

Dibalik usaha yang dilakukan oleh “agent of change” dengan madzhab tajdid-nya itu, terdapat juga “pro status quo” yang tidak mau direformasi dan “lebih merasa nyaman” dengan kondisi apa adanya. Yakni kondisi semakin jauhnya pemahaman masyarakat dari ajaran Rasulullah dan para shahabat.

Uniknya, mereka melakukan perlawanan pro status quo ini hanya dengan “Manhaj retorika”. Ya, sekali lagi hanya dengan “Manhaj retorika”. Mereka tidak melandasinya dengan wasiat yang diberikan rasulullah ataupun dalil.

Dengan manhaj retorika itu, maka dilakukanlah usaha “nabok nyilih tangan” dengan mengatasnamakan mencukupkan diri taqlid secara mutlaq kepada 4 madzhab fiqh yang masyhur.

Ber-retorika untuk menutup pintu ijtihad yang mereview kembali dalil2 dan berbagai macam perkataan ulama.

Menuduh bahwa madzhab tajdid yang diwasiatkan oleh rasulullah ini tidak menghargai pro status quo, ingin membuat madzhab kelima disamping 4 madzhab yang telah ada, atau bahkan memberikan julukan “AlLaa madzhabiyyah”” (Pemahaman tanpa madzhab).

Dan banyak lagi retorika yang lain, yang hanya lebih mengkedepankan “logical fallacy”, yang lebih ke masalah “baper” (bawa perasaan), hanya merupakan usaha untuk membuat opini dan menghasut masyarakat, dan yang tidak berangkat dari wasiat rasulullah dalam memahami Islam.

Inilah manhaj retorika yang tidak berangkat dari dalil dan pesan wasiat rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Dah gitu aja

Bedanya “Hukumnya Sunnah” Dengan “Nyunnah”

Leave a comment

Sunnah itu tidak mesti selalu berkonotasi ke hukum fiqh yang lima. Yakni hukum fiqh yang lima yang menerangkan ini hukumnya wajib, ini hukumnya haram, sunnah, makruh, atau mubah.

Kadang ulama juga memakai istilah “sunnah” untuk masalah Aqidah dan Manhaj. Sehingga tergantung konteksnya.

Seperti misal kitab “Ushulus Sunnah” tulisan imam Ahmad bin Hanbal, itu kitab masalah Aqidah dan manhaj. Dipaparkan disitu manhaj salaf ahlus sunnah wal jamaah.

Hal yang sama juga seperti kitab Syarhus Sunnah, tulisan imam Al Barbahari rahimahulloh.

Dan banyak lagi kitab para ulama lainnya.
****
Saya beri contoh lagi istilah “sunnah” yang tidak mengacu kepada makna “sunnah” dalam fiqh, melainkan berarti “manhaj” dalam menjalankan dan memahami agama. Dan ini rasulullah sendiri yang berkata.

Misal, rasulullah berkata “man roghiba ‘an sunnatii, falaisa minnii” (barangsiapa yang membenci sunnah ku, maka dia bukan dari golongan ku) hr. Bukhari muslim.

Atau misal lain, perkataan rasulullah yang lain “‘ alaikum bissunatii, wa sunnatil khulafaurrasyidiin mahdiyyiin min ba’di” (Wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnah ku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelah ku). Hadits shohih.

Dan banyak lagi contoh contoh perkataan yang menggunakan istilah “sunnah” yang mengacu kepada manhaj dan aqidah. Baik itu yang berasal dari perkataan rasulullah, perkataan sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan para imam yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Berdasarkan ini juga maka para ulama mutaqaddimin (yang terdahulu) menuliskan kitab kitab yang menerangkan mengenai sunnah yang berarti manhaj dan aqidah, dengan melalui hujjah dan dalil Sanad mereka yang terjaga yang kembali kepada perkataan rasulullah dan para salafush sholeh (Yakni, sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan para imam yang mengikuti mereka).

Baik itu kitab yang ditulis dengan menggunakan metode pemaparan, mengenai bagaimana manhaj Salaf dalam memahami dan menjalankan agama sesuai sunnah.

Ataupun kitab yang merupakan bantahan terhadap manhaj Ahlul bid’ah yang menyimpang dari manhaj salaf dalam memahami dan menjalankan agama.

Ini seperti misal,
——
Kitab dengan Metode Pemaparan, yang menjelaskan bagaimana salaf memahami dan menjalankan agama sesuai sunnah

1. As-Sunnah, karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 241 H).
2. As-Sunnah, karya Imam Abu Bakar bin al-Atsram rahimahullah (wafat th. 272 H).
3. As-Sunnah, karya Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 290 H).
4. As-Sunnah, karya Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi rahimahullah (wafat th. 294 H).
5. As-Sunnah, karya Imam Ahmad bin Muhammad bin Harun al-Khallal rahimahullah (wafat th. 311 H).
6. At-Tauhiid, karya Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat th. 311 H
7. Asy-Syarii’ah, karya Imam Abu Bakar al-Aajurri rahimahullah (wafat th. 360 H).
8. Al-Ibaanah, karya Imam Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah rahimahullah (wafat th. 387 H).
9. At-Tauhiid, karya Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah rahimahullah (wafat th. 395 H).
10. Syarhus Sunnah, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin Abi Zamanain rahimahullah (wafat th. 399 H).
11. Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Imam Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan al-Laalika-i rahimahullah (wafat th. 418 H).

Dan masih banyak lagi kitab lainnya.
——-
Kitab dengan Metode Bantahan terhadap manhaj ahlul bid’ah yang menyimpang dari manhaj salaf dalam memahami dan menjalankan agama.

1. Kitaabul Iimaan, karya Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam rahimahullah (wafat th. 244 H).
2. Ar-Radd ‘alaa Jahmiyyah, karya Abdullah bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 241 H)
3. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, karya Imam Abu Abdillah bin Muhammad bin Abdullah al-Ju’fi rahimahullah (wafat th. 229 H).
4. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, karya Imam Abu Abdillah bin Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah (wafat th. 256 H).
5. Al-Ikhtilaaf fil Lafzhi war Radd ‘alal Jaqhmiyyah wal Musyabihah, karya Imam Abdullah bin Muslim bin Qutaibah rahimahullah (wafat th. 276 H).
6. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, karya Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah (wafat th. 280 H).
7. Ar-Radd ‘alaa Bisyr al-Marisiy, karya Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah (wafat th. 280 H).

——–
Kitab-kitab ini, baik yang menggunakan metode pemaparan ataupun metode bantahan terhadap manhaj yang menyimpang, menetapkan satu permasalahan penting yaitu “Mengembalikan umat kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengikuti Salafush Shalih dalam memahami keduanya, dan menjauhi pendapat-pendapat baru yang diada-adakan serta manhaj ahlul bid’ah yang mungkar dalam memahami dan menjalankan agama ”

Kitab kitab itu umumnya ditulis pada masa 300 an tahun hijriyyah, yang mana ini berdekatan dengan masa para ulama salaf. Dan kitab ini umumnya menisbatkan kepada para salaf dengan berdasarkan Sanad Sanad yang dimiliki oleh para imam penulis kitab itu, yang menginduk kembali kepada salaf (shahabat, tabiin, dan tabiut tabiin).

Bahkan ada juga kitab yang berjudul “Aqidah Salaf, ashhaabul hadits” yang ditulis oleh syaikhul islam imam Abu Ismail Ash Shobuni (wafat 449 H).

Kitab kitab inilah warisan para ulama mutaqaddimin yang menjelaskan mengenai manhaj salaf.

Kitab kitab ini otentik, terjaga, memiliki Sanad, dan terpelihara hingga sampai kepada zaman kita Ini.

Inilah beberapa kitab turots yang merupakan kitab acuan “dakwah salafiyyah” dalam menerangkan “manhaj salaf”.

Sehingga memverifikasi keshohihan dakwah salafiyyah yang dikembalikan kepada para salaf itu sebenarnya hal yang gampang.

Inilah dakwah ilmu dan penjelasan, mengenai bagaimana kita memahami dan menjalankan agama ini sesuai yang difahami dan dijalankan oleh para ulama salaf.

Inilah dakwah ilmu dan penjelasan mengenai bagaimana para ulama salaf itu (terutama para shahabat, tabiin, dan tabiut tabiin) dalam memahami Al Quran dan Al Hadits, sebagai acuan dalam memahami dan menjalankan agama.

Sehingga kalau dikatakan “back to Quran and sunnah”, maka menurut pemahaman siapa?

Maka dijawab “back to Quran and Sunnah” menurut pemahaman Salaf.

Kemudian kalau ditanyakan lagi “Bagaimana cara kita bisa mengetahui dan merujuk kepada manhaj salaf?” Maka mengacu kepada kitab kitab yang telah ditulis para ulama dengan Sanad Sanad mereka yang kembali kepada para salaf, yang menerangkan mengenai manhaj salaf.

Dan ini sebenarnya adalah hal yang mudah untuk dipahami, karena ini adalah dakwah ilmu, bukan dakwah hizbiyyah yang bertujuan untuk mencari simpatisan, kader, dan anggota.

Older Entries