Alkisah ada keluarga yg hidupnya kacau, berantakan, dan anak istrinya terdzolimi oleh ketidak becusan kepala keluarganya.

Tetangganya yang fanatik kepada kepala keluarga yang berhasil menikahi istrinya dengan “cara curang”, yang fanatik karena suka dikasih “janji janji surga” yang “meroket”, berusaha menasehati anak istri keluarga itu dengan berkata :

– Kekacauan rumah tangganya itu juga dialami oleh rumah tangga lain, jadi ini bukan salah dari pengaturan sang kepala keluarganya.

– Selalu membenarkan semua keputusan kepala keluarga, dan selalu “ngeles” untuk mencitrakan bahwa kondisi keluarganya baik2 saja.

– Menyindir sang istri bahwa jika yang menjadi suaminya itu adalah saingan suaminya yang dulu, belum tentu juga keadaan akan lebih baik. Slogannya selalu “cie cie, move on donk”…

– Menyalahkan mantan suami dari istrinya yang telah meninggal dulu, kebetulan beliau janda, dan mengatakan bahwa semua kekacauan dan keributan ini adalah warisan dari suaminya yang terdahulu. Bukan salah dari suaminya yang sekarang.

– Ngutang kepada tetangga itu hal yang biasa, walaupun dulu sebelum nikah bilangnya hartanya cukup dan nggak perlu cari utangan kesana sini.

*****
Sikap tetangga ini sebenarnya aneh….

Kalau misal hanya menasehatkan untuk sabar dan “bertahan” karena kasihan anak-anak, maka itu tidak mengapa.

Tetap harus dihormati karena walau bagaimanapun dia adalah kepala rumah tangga, maka ini nasehat yg bagus.

Tetap selalu berikan support dan kritik konstruktif kepada sang suami agar moga2 mau berubah dan memperbaiki diri, maka inilah sikap yang terbaik.

Dah itu saja.

Advertisements