Ketika rasulullah sedang berdiskusi dan mendakwahi para pembesar Quraisy yang mempunyai pengaruh dan kekuasaan politik di kaumnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Ummi Maktum.

Seorang yang tua, buta, dan tidak memiliki pengaruh politik apa apa di tengah masyarakat.

Beliau datang karena ingin bertanya mengenai Islam dan siap untuk menyambut Islam di dalam hatinya.

Rasulullah agak sedikit bermuka masam akan hal itu, namun karena prioritas yang salah itu Allah menurunkan firman-Nya di dalam surat ‘Abasa untuk menegur rasulullah.

Di hadapan Allah, orang yang punya kekuatan politik dengan orang yang tidak punya kekuatan politik itu tidak ada bedanya.

Dan Islam itu tidak diturunkan hanya untuk keperluan kepentingan politik dan kekuasaan.

****
Barangsiapa yang memahami Islam hanya dengan bersumber kepada pemahaman :
– untuk menegakkan Khilafah,
– untuk menguasai dunia,
– untuk berjihad “melawan” pemerintah yang ada (baca : pemberontakan),

dan lain lain yang semisal dengan beralasan “untuk menegakkan syariat” Islam, maka dia memahami Islam dengan cara yang salah.

Itu semua wasilah (sarana), bukan ghoyah (tujuan).

Apakah jika kita mengingatkan ghoyah untuk memahami Islam yang benar, ini berarti kita menihilkan wasilah?

Ah, mungkin kita kurang piknik…

Advertisements