Kalau mau berhaji itu “taruhannya” memang nyawa, tapi insya Allah balasannya sebanding.

Jadi ingat novelnya Buya Hamka rahimahulloh “di bawah lindungan ka’bah”.

Yang mana dulu ketika orang masih berhaji naik kapal, terkatung-katung di laut selama sekitar 6 bulan perjalanan. Para calon haji itu diantarkan oleh keluarga sambil diiringi isak tangis seperti hendak mengantarkan mayat.

Para calon haji sebelum berangkat juga biasanya sudah membuat surat wasiat. Ingin haji memang mentalnya “harus siap untuk menjemput maut”.

Itulah ujian keimanan menjalankan rukun Islam yang terakhir, yakni mengerjakan haji jika mampu.

Adapun zaman sekarang, cukup terharu juga kita melihat di berita ada seorang yang tua yang penghasilannya tak seberapa, rela bersabar selama 30 atau 40 tahun menyisihkan sebagian penghasilannya agar bisa untuk biaya naik haji…..

Semoga menjadi haji mabrur, yang tiada balasan bagi haji mabrur kecuali Jannah (surga). Dan semoga yang meninggal ketika menunggu proses haji, khusnul khotimah. Aamiiin

Advertisements