Di sebagian jama’ah Islam terdapat “pemahaman eksklusif” akibat salah memahami hadits masalah bai’at.

Bagi mereka, orang-orang Islam yang bukan dari golongan jama’ah mereka dan belum berbai’at terhadap pemimpin jama’ah mereka, mereka itu dianggap :
1. Orang sesat dan terancam masuk neraka.

2. Versi yang lebih ekstrim : dianggap sebagai orang kafir, karena jika mati akan dianggap seperti matinya orang jahiliyyah.

Pemahaman ekskklusif yang salah ini memiliki level aplikasi yang berbeda-beda, tergantung dari jama’ahnya. Mulai dari level yang paling ekstrim hingga level yang lebih rendah.

Ada jama’ah yang bersikap “lebih lunak”, dan ada juga yang “ketat”. Berikut akan kita coba sebutkan seluruh jenis “sikap eksklusif” yang kita ketahui, tanpa memperinci nama jama’ahnya :

1. Merasa lebih tinggi dan lebih mulia daripada orang yang tidak satu jama’ah dengannya. Orang yang tidak satu jamaah dengan mereka dianggap remeh dan dipandang rendah.

2. Bersikap “sektarian” dalam memandang kaum muslimin yang lain, dan bersikap wala’ (loyal, cinta) dan baro’ (berlepas diri, membenci) terhadap ummat Islam yang lain hanya berdasarkan tingkat afiliasi-nya terhadap jama’ah.

Bukan wala’ terhadap seseorang muslim karena parameter ketaatannya, aqidahnya, keilmuannya, iltizamnya terhadap sunnah, dan kesholehannya;

dan juga bukan baro’ terhadap seseorang muslim karena kemaksiatannya, kebid’ahannya, kesyirikannya, kemunafikannya, dan ke-fajirannya

3. Mengkotak-kotakkan dan membagi-bagi golongan dan komunitas ummat Islam dengan berdasarkan “kacamata jama’ah”. Dan inilah yang dijadikan sebagai dasar dalam sikapnya berinteraksi terhadap masyarakat Islam.

Bukan berdasarkan parameter umum yang berkaitan dengan masalah manhaj, aqidah, ke-iltizamannya terhadap sunnah, keilmuan, dan kesholehannya.

4. Menganggap hukum asal dari setiap Muslim itu adalah salah, bodoh, dan sesat; hingga mau untuk bergabung kepada jama’ah mereka. Bahkan sebagian ada yang sampai mengatakan kafir dan halal darahnya. Hanya jam’ah merekalah “kapal keselamatan”, yang ikut naik ke kapal akan selamat, sedangkan tidak naik akan celaka.

Adapun secara ajaran sunnah rasulullah yang benar hukum asal dari setiap muslim itu adalah “selamat”. Haram darahnya dan kehormatannya.

5. Tidak sah atau “merasa haram” menikah dengan orang yang tidak satu jama’ah dengannya, kecuali jika ada motif agar bisa diajak untuk bergabung dengan jama’ahnya.

6. Tidak sah jika sholat di belakang orang yang tidak satu jama’ah dengannya. Sehingga jikapun terpaksa harus sholat berjamaah dengan bermakmum kepada orang lain, maka nanti mereka akan mengulangi lagi sholatnya. Berbeda jika mereka yang menjadi imam Sholat.

7. Sebagian ada yang sampai bersikap bahwa orang-orang di luar jamaah mereka itu najis badannya, sehingga jika masuk masjid jama’ah mereka lantainya harus dipel setelahnya.

8. Memiliki jaringan-jaringan sendiri di berbagai wilayah, dan harus lapor atau berkoordinasi jika pindah wilayah tempat tinggal.

9. Memiliki petinggi di berbagai level tingkat kepemimpinan yang harus ditaati, dan memiliki kewajiban untuk memberikan semacam setoran zakat wajib kepada jama’ah dengan nominal tertentu yang sudah diatur.

10. Sebagian jama’ah yang ekstrim ada yang membolehkan untuk menipu dan mencuri harta orang-orang yang bukan jama’ahnya untuk kepentingan setoran wajib kepada jama’ah, karena dianggap mereka adalah orang kafir yang boleh untuk diperangi dan halal hartanya.

11. Menganggap boleh membunuh orang yang keluar dari jama’ahnya, karena dianggap “murtad”.

12. Sebagian jamaah ada yang mempunyai sikap sektarian seperti itu karena “kesalahan manhaj” yang bertujuan untuk “perjuangan membangun Negara Islam”, “Menegakkan syariat Islam”, dan “membangkitkan kekhilafahan”. Tujuannya benar dan mulia, akan tetapi manhaj cara dan pemahamannya salah.

Umumnya kesalahan cara dan manhaj pada point nomer 12 ini, terdapat pada sebagian jama’ah yang menisbatkan diri sebagai organisasi pergerakan Islam atau harokah. Namun tidak semua harokah memiliki kesalahan fatal sikap sectarian seperti ini.

*****
Melihat list di atas, maka mungkin kita akan bergidik dan geleng-geleng kepala. Namun pemahaman sektarian seperti itu bukan mengada-ada, dan ini semua terjadi karena “sesat fikir” dan salah dalam memahami hadits.

Hadits yang salah difahami tersebut adalah hadits-hadits berikut ini :

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
Orang yang melihat penguasanya/pemimpinnya sesuatu yang tidak disukainya maka dia wajib bersabar. Sebab siapa yang meninggalkan Al-Jamaah sejengkal saja lalu dia mati, maka matinya mati jahiliyah. (HR. Bukhari)

من خرج من الطاعة وفارق الجماعة فمات مات ميتة جاهلية
Siapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan Al-Jamaah lalu meninggal dunia, maka matinya mati jahiliyah. (HR. Muslim)

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)

Setelah membaca hadits-hadits itu, maka bagaimanakah sebenarnya pemahaman yang benar, penjelasan para ulama, dan aplikasi yang nyata dari para shahabat rasulullah mengenai hadits-hadits yang berkaitan dengan “bai’at” dan “mati jahiliyyah” itu?

-bersambung-

Advertisements