Rahasia Qana’ah-nya “Orang Kaya”

Leave a comment

Kaya itu berarti dia tidak membutuhkan apa-apa, tidak merasa butuh terhadap apa yang orang lain miliki. dan merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya.

Bahkan dia tidak berberat hati untuk berbagi dan memberikan sebagian yang dia miliki.

Sedangkan orang yang fakir itu berarti dia selalu merasa kekurangan, dan membutuhkan apa-apa yang ada pada orang lain.

Imam Syafi’i rohimahulloh memberikan kunci untuk memahami rahasia ini dengan perkataan beliau,

إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ … فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ

“Jika anda memiliki hati yang qana’ah… maka sesungguhnya anda dan raja adalah sama.”

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta benda. Akan tetapi kaya yang sesungguhnya (sejati) adalah kayanya jiwa.”

(HR. Bukhāri no. 6446 dan Muslim no. 1051, dari shahābat Abū Hurairah)

Tetangga Masa Gitu

Leave a comment

Alkisah ada keluarga yg hidupnya kacau, berantakan, dan anak istrinya terdzolimi oleh ketidak becusan kepala keluarganya.

Tetangganya yang fanatik kepada kepala keluarga yang berhasil menikahi istrinya dengan “cara curang”, yang fanatik karena suka dikasih “janji janji surga” yang “meroket”, berusaha menasehati anak istri keluarga itu dengan berkata :

– Kekacauan rumah tangganya itu juga dialami oleh rumah tangga lain, jadi ini bukan salah dari pengaturan sang kepala keluarganya.

– Selalu membenarkan semua keputusan kepala keluarga, dan selalu “ngeles” untuk mencitrakan bahwa kondisi keluarganya baik2 saja.

– Menyindir sang istri bahwa jika yang menjadi suaminya itu adalah saingan suaminya yang dulu, belum tentu juga keadaan akan lebih baik. Slogannya selalu “cie cie, move on donk”…

– Menyalahkan mantan suami dari istrinya yang telah meninggal dulu, kebetulan beliau janda, dan mengatakan bahwa semua kekacauan dan keributan ini adalah warisan dari suaminya yang terdahulu. Bukan salah dari suaminya yang sekarang.

– Ngutang kepada tetangga itu hal yang biasa, walaupun dulu sebelum nikah bilangnya hartanya cukup dan nggak perlu cari utangan kesana sini.

*****
Sikap tetangga ini sebenarnya aneh….

Kalau misal hanya menasehatkan untuk sabar dan “bertahan” karena kasihan anak-anak, maka itu tidak mengapa.

Tetap harus dihormati karena walau bagaimanapun dia adalah kepala rumah tangga, maka ini nasehat yg bagus.

Tetap selalu berikan support dan kritik konstruktif kepada sang suami agar moga2 mau berubah dan memperbaiki diri, maka inilah sikap yang terbaik.

Dah itu saja.

Loper Koran

Leave a comment

Semoga kita berhati hati dengan model “dakwah loper koran”.

Orang orang seperti ini biasanya nggak punya ilmu apa apa kecuali sedikit, dan biasanya hanya mainin opini saja bisanya.

Keliatan kok ketika nanti diajak diskusi berdasarkan ilmu biasanya “mlempem”, mengalihkan topik kesana sini dan nggak fokus, bisa nya cuman kasih link link aja untuk membangun opini, dan logical fallacy nya kuat sekali.

Kalau bahasa hadits, mungkin orang orang seperti ini boleh untuk disebut sebagai ruwaibidhoh.

Semoga kita bisa terhindar dari “loper koran” dan dakwah dakwah nya yang tidak bertanggung jawab

Salah Satu Ciri Dakwah Ahlus Sunnah

Leave a comment

Dakwah Ahlus Sunnah terhadap jamaah jamaah yang menyimpang itu hanya bertujuan untuk meng-install ulang manhaj dan pemahamannya.

Demikian juga dakwah Ahlus Sunnah terhadap masyarakat Islam secara umum.

Bukan untuk mempersuasi dengan pemahaman hizbiyyah yang sempit, agar gali lubang tutup lubang pindah pindah jamaah atau pindah ustadz.

Dakwah Ahlus Sunnah itu independent, terbuka, mengedepankan “kemurnian” Islam, dan universal. Hanya mendakwahkan ilmu, manhaj Salaf, dan pemahaman yang benar dalam memahami Islam.

Dakwah Ahlus Sunnah itu tidak tergantung pada suatu jamaah tertentu, pengajian tertentu, ormas Islam tertentu, tokoh tertentu, atau komunitas tertentu.

Andaikata jamaah tertentu, pengajian tertentu, ormas Islam tentu, tokoh tertentu, atau komunitas tertentu yang mengaku mengatasnamakan Ahlus Sunnah itu ternyata menyimpang dari Sunnah, maka kita bebas mengkritiknya dengan berdasarkan sunnah.

Dakwah Ahlus Sunnah itu tidak tergantung kepada “seragam” tertentu atau penseragaman fiqh tertentu. Maka dari itu tidak heran jika kita melihat fiqh warna warni yang lumrah di kalangan ahlus sunnah.

Warna warni ya, bukan corat coret tidak beraturan seenaknya saja yang tidak sesuai kaidah.

Idul Adha

Leave a comment

Hikmah dan Manfaat Idul Adha :

1. Mentauladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam masalah keikhlasan, pengorbanan, dan ketaqwaan.

2. Mensyukuri nikmat yang Allah berikan dengan cara :
– membeli atau mengorbankan hewan kurban yang kita punya,
– menyembelihnya,
– memakan sedikit bagian dari dagingnya (hukumnya sunnah, bukan wajib) dan membagikan sisanya kepada fakir miskin. Sehingga seakan akan kita makan bersama sama dengan orang fakir miskin.

3. Mendekatkan diri kepada Allah dengan cara beribadah sesuai dengan ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita ini.

Catatan :

Adha itu artinya menyembelih atau sembelihan. Sehingga idul Adha itu adalah hari raya menyembelih hewan kurban, dan hari raya dimana kita berbagi kebahagiaan bersenang senang makan bersama sama dengan fakir miskin

Dahsyatnya Perjuangan Untuk Berhaji Tempoe Doeloe

Leave a comment

Mana Pengorbananmu!?

[Kisah Motivatif, Ditulis dengan Tinta Air Mata]

Adalah Syaikh Utsman Dabu –semoga Allah merahmati beliau- berasal dari Republik Gambia, ujung Barat Afrika. Beliau tinggal di rumah sederhana pada suatu desa kecil dekat ibukota Banjul.

Syaikh Utsman menceritakan perjalanannya bersama empat kawannya lima puluh tahun yang lalu ketika menuju Baitullah dengan berjalan kaki dari Banjul menuju Makkah. Mereka berlima meretas benua Afrika dari Barat hingga Timur tanpa berkendaraan, kecuali pada waktu-waktu singkat yang mereka mengendarai hewan hingga mereka tiba di Laut Merah guna menyeberang menuju Jeddah.

Suatu perjalanan penuh keajaiban yang berlangsung selama dua tahun. Kadang mereka singgah di sebagian kota untuk istirahat, bekerja, dan berbekal, kemudian melanjutkan perjalanan.

Beliau ditanya, “Bukankah haji ke Baitullah diwajibkan atas orang yang mampu, sedangkan Kalian dalam keadaan tidak memiliki kemampuan?”
Beliau menjawab, “Benar. Namun, pada suatu hari, Kami saling berbicara tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm ketika beliau berangkat membawa keluarganya ke lembah yang tidak bertanaman di sisi Baitullah yang terhormat. Salah seorang di antara Kami berkata, ‘Kita sekarang adalah para pemuda yang kuat lagi sehat. Oleh karena itu, apakah udzur Kami di sisi Allah jika Kami kurang dalam menempuh perjalanan ke Baitullah. Apalagi Kami merasa bahwa hari-hari yang bergulir hanya menambah kelemahan. Maka, untuk apa diakhirkan?’ Kawan itu pun memicu dan memotivasi Kami untuk menempuh perjalanan dengan mengharapkan pertolongan dari Allah.”

Keluarlah mereka berlima meninggalkan rumah-rumah mereka dengan perbekalan yang tidak mencukupi lebih dari satu pekan. Di perjalanan mereka, ada berbagai kesulitan, kesempitan, dan kesesakan yang hanya diketahui oleh Allah. Betapa banyak malam yang mereka lalui dengan lapar yang hampir membinasakan mereka. Tak terbilang malam yang mereka harus meninggalkan kenikmatan tidur lantaran kejaran binatang buas. Sering berulang malam yang berliput ketakutan akan para penyamun yang menghadang di berbagai lembah.

رُبَّ لَيْلٍ بَكَيْتُ مِنْهُ فَمَا
صِرْتُ فِي غَيْرِهِ بَكَيْتُ عَلَيْهِ

Betapa banyak malam yang telah kutangisi
Tatkala Kupindah ke malam (lain), kembali aku menangisinya

Syaikh Utsman berkata,
“Suatu malam, Saya tersengat oleh (binatang berbisa) di tengah perjalanan. Maka, Saya pun ditimpa oleh panas hebat dan rasa pedih dahsyat yang membuatku terduduk dan tidak bisa tidur. Saya telah mecium bau kematian berjalan di urat-uratku,

وَإِنِّي لَأَرْعَى النَّجْمَ حَتَّى كَأَنَّنِيْ
عَلَى كُلِّ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ رَقِيبُ

Sungguh Saya terus mencermati bintang-bintang itu, hingga seakan …
Saya adalah pengawas setiap bintang di langit

Kawan-kawanku pergi bekerja, sementara saya hanya berteduh di bawah pohon hingga mereka kembali di penghujung siang. Syaithan terus memberi was-was ke dalam hatiku, “Bukankah seharusnya Engkau tetap tinggal di negerimu? Mengapa Engkau membebani dirimu dengan hal yang Engkau tak mampu saja?”

Jiwaku menjadi berat dan hampir Saya melemah hingga kawan-kawanku datang. Salah seorang di antara mereka melihat ke wajahku dan bertanya akan keadaanku. Saya pun menoleh kepadanya dan mengusap setetes air mata yang telah mengalahkanku. Seakan, dia merasakan penderitaanku. Dia berkata, “Bangunlah. Berwudhulah, kemudian shalatlah. Engkau takkan mendapatkan, kecuali kebaikan –dengan izin Allah-.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” [Al-Baqarah: 45]

Dadaku pun menjadi lapang, dan Allah menghilangkan kesedihan dariku, Alhamdulillah.

Kerinduan mereka pada dua tanah Haram terus berdendang mengiringi mereka pada segala keadaan. Pedih perjalanan serta bahaya dan prahara laluan telah menjadi ringan.

Tiga orang di antara mereka telah meninggal. Yang terakhir wafat berada di hamparan lautan. Hal menakjubkan dari orang ketiga yang wafat adalah, dia berpesan kepada kedua kawannya,
“Jika kalian berdua mencapai Masjidil Haram, beritahukanlah kepada Allah akan kerinduanku berjumpa dengan-Nya. Mintalah kalian berdua kepada-Nya agar mengumpulkan Saya dan Ibuku bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”

Syaikh Utsman bertutur,
“Tatkala kawan Kami meninggal, Saya tertimpa gundah gulana hebat dan kesedihan dahsyat. Itulah hal terberat yang Saya jumpai pada perjalananku. (Kawanku) itu adalah orang yang paling sabar dan kuat di antara Kami. Saya telah khawatir meninggal sebelum mendapat nikmat mencapai Masjidil Haram. Saya telah menganggap hari-hari dan saat-saat itu lebih panas daripada bara api.

إِذَا بَرَقْتَ نَحْوَ الْحِجَازِ سِحَابَةٌ
دَعَا الشَّوْقُ مِنِّي بَرْقَهَا الْمُتَطَامِنُ

Jika awan bergelegar di arah Hijaz
Kerinduan yang damai memanggil petirnya

Begitu Kami tiba di Jeddah, Saya sakit luar biasa. Saya pun khawatir meninggal sebelum sempat mencapai Makkah. Saya berwasiat kepada kawanku, ‘Jika Saya meninggal, kafanilah Saya dalam ihramku dan dekatkanlah Saya sesuai kemampuan ke kota Makkah. Barangkali Allah melipatgandakan pahala untukku dan menerimaku sebagai orang-orang shalih.’
Kami pun tinggal di Jeddah beberapa hari, kemudian melanjutkan perjalanan kami ke Makkah. Nafasku berhembus cepat dan kegembiraan memenuhi wajah. Rasa rindu terus menggoyang dan mendorongku hingga kami tiba di Masjidil Haram.”

Syaikh Utsman terdiam sesaat. Beliau menyeka linangan-linangan air matanya yang berderai kemudian bersumpah dengan nama Allah bahwa dia belum pernah melihat kelezatan dalam hidupnya sebagaimana kelezatan yang memenuhi seluruh lapisan hatinya tatkala beliau melihat Ka’bah yang mulia.

Beliau berkisah,
“Tatkala melihat Ka’bah, Saya bersujud syukur kepada Allah. Saya terus menangis, seperti anak-anak kecil yang menangis, karena dahsyatnya keagungan dan kharisma (Ka’bah). Betapa mulianya Baitullah itu dan sungguh penuh keagungan.
Kemudian, Saya mengingat kawan-kawanku yang belum dimudahkan untuk sampai ke Masjidil Haram. Saya pun memuji Allah Ta’âlâ atas nikmat dan keutamaan-Nya kepadaku. Selanjutnya, Saya memohon kepada Allah Subhânahu untuk mencatat (kebaikan) langkah-langkah mereka dan tidak mengharamkan pahala untuk mereka serta mengumpulkan Kita semua pada kedudukan jujur di sisi Allah Yang Berkuasa Lagi Maha Mampu.”

[Disadur dengan sedikit meringkas dari Ar-Rafîq Fî Rihlatil Hajj hal. 107-109]

Sumber : http://dzulqarnain.net/mana-pengorbananmu.html

Bahaya Faham Pengkafiran dan Fanatisme Golongan Jama’ah Akibat Salah Memahami Hadits Masalah Bai’at – Bag. 3

Leave a comment

Setelah 4 point pokok pada tulisan bagian ke 2 yang terdahulu sudah bisa difahami dengan benar, maka selanjutnya bagaimanakah sebenarnya pemahaman yang benar, penjelasan para ulama, dan aplikasi yang nyata dari para shahabat rasulullah mengenai hadits-hadits yang berkaitan dengan “bai’at” dan “mati jahiliyyah” itu?

Para ulama’ menjelaskan arti kata miitatan jahiliyyah (مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ) yang tersebut dalam hadits-hadits itu dengan penjelasan sebagai berikut,

Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh dalam Fathul Baari Syarh Shohih Bukhori berkata,

والمراد بالميتة الجاهلية وهي بكسر الميم حالة الموت كموت أهل الجاهلية على ضلال وليس له إمام مطاع لأنهم كانوا لا يعرفون ذلك وليس المراد أنه يموت كافرا بل يموت عاصيا ويحتمل أن يكون التشبيه على ظاهره ومعناه أنه يموت مثل موت الجاهلي وإن لم يكن هو جاهليا

Yang dimaksud dengan ‘mati Jahilyyah’ dengan bacaan mim kasrah adalah keadaan matinya seperti kematian di zaman Jahiliyyah dalam keadaan sesat tiada imam yang ditaati karena mereka tidak mengetahui hal itu. Dan bukan yang dimaksud itu ialah mati kafir tetapi mati dalam keadaan durhaka. Dan kemungkinan itu adalah perumpamaan atas zahirnya, dimana maksudnya mati seperti orang-orang yang mati di masa jahiliyah meski dia bukan termasuk orang jahil . [Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, jilid 13 hal. 7 ]

Imam An-Nawawi rohimahulloh dalam Syarh Shohih Muslim berkata,

ميتة جاهلية : هي بكسر الميم أي على صفة موتهم من حيث هم فوضى لا إمام لهم

Mitatan jahiliyah dengan kasrah pada mim maksudnya matinya itu seperti sifat matinya orang-orang jahiliyah yang tidak punya imam. [Al-Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid hal. 12 hal. 238 ]

Imam Asy-Syaukani rohimahulloh dalam Nailul Author berkata,

وَالْمُرَادُ بِالْمِيتَةِ الْجَاهِلِيَّةِ وَهِيَ بِكَسْرِ الْمِيمِ أَنْ يَكُونَ حَالُهُ فِي الْمَوْتِ كَمَوْتِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى ضَلَالٍ وَلَيْسَ لَهُ إمَامٌ مُطَاعٌ لِأَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَعْرِفُونَ ذَلِكَ ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنْ يَمُوتَ كَافِرًا بَلْ يَمُوتَ عَاصِيًا .

“Dan yang dimaksud dengan miitatan jahiliyah dengan huruf ‘mim’ yang dikasrahkan adalah dia mati dalam keadaan seperti matinya ahli jahiliyah yang tersesat di mana dia tidak memiliki imam yang ditaati karena mereka tidak mengenal hal itu, dan bukanlah yang dimaksud matinya kafir tetapi mati sebagai orang yang bermaksiat.” (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 7/171. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Inti dari semua perkataan para Imam tersebut adalah Mati Jahiliyyah yang dimaksud dalam hadits itu bukanlah mati dalam kekafiran, sehingga merupakan kesalahan fatal orang yang mengkafir-kafirkan orang lain yang tidak berbaiat kepada jama’ahnya dengan berdasarkan hadits itu.

Akan tetapi yang dimaksud adalah mati dalam kemaksiatan, karena melepaskan ketaatan dan keluar dari pemerintah (ulil amri) yang sah, baik itu yang dipilih dengan cara bai’at yang sesuai syariat ataupun yang terpilih secara cara yang dzolim dan tidak sesuai syariat.

Sekarang kenapa dikatakan bahwa kematiannya dimisalkan seperti matinya orang jahiliyyah? Hal ini karena orang Arab jahiliyyah zaman dahulu itu tidak pernah memiliki satupun pemerintahan yang menguasai seluruh kabilah. Kehidupan pada zaman jahiliyyah pada waktu itu lebih kepada kehidupan kesukuan (baca : tribalistik) yang bergantung kepada garis kabilah kesukuannya. Bukan pemerintahan yang berbaiat kepada satu pemimpin yang semua kabilah berada di bawah kekuasaannya.

Maka dari itulah setelah Rasulullah diutus dan diberikan kekuasaan pemerintahan, corak pemerintahan yang ada di wilayah Arab di bawah naungan Islam tidak lagi berbentuk tribalistik kesukuan seperti pada zaman jahiliyyah dulu. Oleh karena itu rasulullah mengatakan, bahwa orang yang melepaskan bai’at itu dia matinya seperti matinya orang jahiyyah zaman dulu yang berpecah-pecah dan tidak mempunyai pemimpin yang mengayomi semua kabilah itu.

Inilah sebenarnya maksud daripada hadits itu.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Dan secara praktek pemahaman para shahabat dalam memahami masalah bai’at pun, juga tidak pernah difahami bahwa mati jahiliyyah itu adalah mati kafir. Hal ini terbukti ada beberapa orang shahabat yang tidak mau untuk berbaiat terhadap pemimpin shahabat yang terpilih.

Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Ali Radhiallah ‘Anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu: “Berbai’atlah Engkau!”

Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.”

Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”

Lalu Ali menemui Ibnu Umar dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.”

Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” (Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103)

Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali Radhiallahu ‘Anhu yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid Radhiallahu ‘Anhum. (Tarikh Ar Rusul, 4/429)

Sikap shahabat yang tidak berbai’at itu tidak boleh diartikan dengan melepas ketaatan, dan boleh untuk memberontak kepada pemerintahan Islam yang sah. Hal ini karena mereka juga tidak pernah memberontak ataupun pernah mengatakan bahwa pemerintahan Ali tidak sah.

Mereka “menunda” untuk berbaiat kepada Ali karena adanya udzur dan fitnah yang terjadi. Hal ini tidak lain karena Ali “dipaksa” untuk mau dibai’at sebagai kholifah pengganti Utsman oleh para pemberontak dan pembunuh Utsman karena kebingungan mereka. Sedangkan Ali pada saat itu mau untuk menjadi kholifah pada “saat kritis” itu karena melihat pertimbangan mashlahat dan madhorot, walaupun mekanisme nya sangat dzolim dan sangat menyalahi syariat.

Adapun untuk sikap kita sebagai rakyat di zaman modern ini, yang mana mekanisme bai’at tidak lazim dilakukan untuk proses pengangkatan pemimpin. Yang ada hanyalah pemilihan lewat proses demokrasi dan proses pengambilan sumpah atas nama Allah untuk pengangkatan kepala pemerintahan.

Maka itulah yang teranggap sebagai pengganti bai’at, dan kita wajib untuk tidak melepaskan ketaatan kita kepada pemerintahan islam dalam hal yang ma’ruf, bersabar dan mengingkari berbagai macam kedzolimannya tanpa melepaskan ketaatan, tidak boleh memberontak kepadanya yang menyebabkan darah akan lebih banyak lagi tertumpah, dan menasehati pemerintah Islam sebagai bentuk pengamalan dari ajaran Islam.

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

****
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.
Baarokalloohu fiik

Older Entries