Tidak semua perbedaan pendapat itu diakui sebagai perselisihan dalam masalah fiqh.

Buktinya ada shahabat yang luka kepala nya (bocor kepala, berdarah), lalu dia istirahat dan mimpi basah. Maka setelah junub, dia bertanya kepada shahabat yang lain apakah ada keringanan baginya untuk tidak mandi junub, karena dia harus sholat sedangkan dia junub dan kepalanya luka.

Shahabat yang ditanya berpendapat bahwa dia tidak mendapatkan udzur untuk itu karena dia masih bisa mandi walau kepalanya luka. Maka setelah mengetahui hal itu, mandilah dia dan kemudian dia meninggal karena itu.

Setelah dilaporkan hal itu murkalah rasulullah, dibatalkanlah pendapat shahabat itu dan tidak dianggap sebagai pendapat, apalagi perbedaan pendapat !

Rasulullah malah berkata “KALIAN TELAH MEMBUNUHNYA, DAN SEMOGA ALLAH MEMBUNUH KALIAN” saking marahnya….

****

Jadi teman teman, sekali lagi tidak semua perbedaan pendapat itu diakui sebagai perselisihan dalam masalah fiqh.

Jika sekelas shahabat aja rasulullah bisa mengatakan bahwa itu bukan perbedaan pendapat dan tidak diakui sebagai perselisihan dalam masalah fiqh, maka apalagi orang orang yang kelasnya di bawah shahabat.

Apalagi orang orang semacam kita!!

****

Di Indonesia ini ironis….

Kita terlalu permisif, sehingga apa apa dianggap sebagai perbedaan pendapat yang diakui.

Di celah inilah tipu daya setan masuk! Sehingga semua :
– Pendapat nyleneh
– Pendapat yang memberatkan dan diada-adakan.
– Yang menghalalkan yang Harom, dan mengharomkan yang halal.
– Yang tidak berdasarkan qaidah ushul fiqh dan qaidah fiqh.
– Pendapat yang membolehkan berbagai macam kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan.

Semua harus dianggap sebagai pendapat yang diakui dan harus ditolerir, walaupun itu nyata nyata bertentangan dengan dalil dan tidak dilandasi qaidah ushul fiqh dan qaidah fiqh.

****

Masih ngeyel?

Baik, saya berikan bukti yang lain bahwa tidak semua pendapat itu harus diakui sebagai perbedaan pendapat.

Iblis berpendapat bahwa tidak usah sujud kepada nabi Adam sesuai dengan perintah Allah, karena dia menganggap dirinya lebih mulia dibandingkan nabi Adam. Jadi untuk apa harus sujud kepada nabi Adam?

Maka bukankan Allah langsung membatilkan perkataan Iblis itu, dan tidak mengakui nya sebagai perbedaan pendapat?

Jadi akhi,
Tidak mungkin jika seseorang berkata itu syirik sedang yang lain berkata itu tidak mengapa, dianggap sebagai perbedaan pendapat.

Pasti yang satu haq, dan yang satu batil!

Janganlah kita berlindung dan menipu ummat dengan berkedok perbedaan pendapat. Berkedok dengan perkataan ulama ataupun imam mazhab yang direkayasa demi kepentingan hawa nafsu. Dan lain lain yang para ulama dan iman madzhab berlepas diri dari hal itu.

Semoga bermanfaat. Baarokalloohu fiik

Advertisements