Kalau sesuatu itu berharga bagi kita, maka kita akan merawatnya, menjaganya, memperbaikinya, dan memperhatikannya.

Orang yang penggemar mobil misalnya. Maka dia akan sangat merawatnya dan memperhatikan detail performance nya. Bisa jadi mungkin yang punya itu pagi pagi belum mandi, tapi mobilnya sudah dilap dibersihkan dan dipanasin.

Wanita yang sangat memperhatikan kecantikan wajah misal yang lain. Maka berjibun perawatan yang dia jadwalkan dan kosmetik yang dia punya. Dirawat terus wajahnya tiap hari. Dan misal jika ada satu flek kecil atau jerawat di wajahnya, maka dia benar benar akan serius berusaha untuk menghilangkan nya.

Pernah lihat orang penggemar mobil dan wanita pemerhati kecantikan melakukan hal itu nggak?….

Para istri yang ingin tau, apakah para suami kalian menganggap diri kalian itu berharga atau tidak. Coba lihat, perhatian nggak suami kalian terhadap diri kalian? Sering digembirakan nggak kalian sama suami kalian?

Dan seterusnya

***

Maka dari itu para mualaf yang mendapatkan hidayah dengan cara yang susah dan dengan melewati banyak pengorbanan, seringkali keislaman mereka jauh lebih baik dan lebih tinggi kualitas keislamannya dibandingkan diri kita.

Kualitas mereka yang mendapatkan hidayah islam dengan cara yang susah dan banyak pengorbanan itu, kadang jauh lebih baik dibandingkan kita yang mendapatkan islam dengan cara yang mudah tanpa harus ada pengorbanan…

Sering para mualaf itu ketika mempertahankan hidayah keislaman mereka, mereka harus menghadapi :
– pengusiran dari rumah
– pemutusan hubungan keluarga
– intimidasi dan pembunuhan
– harta bendanya semua dirampas dan tidak punya apa apa kecuali baju yang melekat.

Dan lain lain.

Mereka tau betapa berharganya hidayah islam itu, maka mereka rela untuk berkorban segala galanya demi memperjuangkan nya….

Walau begitu tidak diingkari juga ada penipu yang berkedok Mualaf, yang sebenarnya bukan mualaf dengan tujuan :
– untuk minta sumbangan
– untuk menikahi wanita muslimah, dan lalu setelah dinikahi dan punya anak, dimurtadkan.

Namun katakanlah oknum itu jumlahnya sedikit, dan bukan itu fokus kita.

****

Fokus kita adalah jika sesuatu itu berharga bagi kita maka kita akan merawatnya, menjaganya, memperbaikinya, dan memperhatikannya.

Apakah benar walau kita yang islam sejak lahir, dan juga pake “nama yang Islami”, secara otomatis akan menganggap Islam itu adalah sesuatu yang berharga bagi kita?

Sholat aja kadang bolong bolong…..

Bahasa inggris, bahasa jerman, bahasa China mahir dan menguasai semua. Tapi bahasa arab yang merupakan bahasa Al Quran nggak pernah berusaha dipelajari.

Pantas aja bisanya baca Al Quran doang tapi nggak mudeng apa yang dibaca.

Bisanya sholat doang, tapi nggak mudeng apa yang dia doakan dan pinta kepada Allah.

Taunya jilbaban itu nutupin kepala doank, tapi tetap pake baju seksi dan mbentuk-mbentuk….

Ngakunya islam, tapi sama orang tua sering kurang ajar. Nggak suka mbantuin kalau lagi kesusahan dan perhitungan.

Sama saudara dan kerabat juga suka nya diem dieman dan tidak berusaha untuk menghubungkan tali silaturahim.

Dan lain lain…

****

Maka dari itu, marilah kita mulai bersyukur terhadap nikmat islam itu dengan cara meningkatkan kualitas keislaman kita.

Baik itu dengan cara mempelajari nya, meningkatkan pemahaman nya, merawat dan menjaga kualitas keislaman kita, dan memperbaiki dari apa apa yang kurang dan salah dari keislaman kita…

Ingat, nikmat yang mudah untuk didapatkan itu cenderung untuk diremehkan dan dianggap biasa saja. Maka dari itu jadi kurang untuk dihargai….

Semoga kita yang islam sejak lahir ini, bisa terlepas dari sifat dan sikap yang seperti itu…

(tulisan ini berasal dari faedah dan inspirasi dari taklim seorang ustadz yang kami ikuti ba’da dhuhur kemarin)

Advertisements