Tempat Diskusi : Di kolom comment dari status FB Ustadz Abdul Hakim, mulai dari 6 Agustus 2015 sampai 10 Agustus 2015.

Disini akan saya “copy-paste” comment-comment yang relevan dengan diskusi ini. Comment-comment yang bersifat menghujat ataupun menjelek-jelekkan selama proses diskusi, tidak saya “copy-paste” dalam proses dokumentasi ini.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/abdulhakimmuhammadmukhlish/posts/795756667212348?comment_id=796870823767599&ref=notif&notif_t=like_tagged

*****

Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah memberikan pertanyaannya terhadap saya (9 Agustus 2015) :

akan sy tunjukkan kekeliruan anda Kautsar amru bila sy punya kesempatan waktu. Sekarang sy bertanya yg mudah sj. Tunjukkan hadis dimana Rasul pernah menjalankan salat wajib atau berjamaah dengan sahabatnya di atas tikar , kain atau sajadah ( khumrah ) Pd hal saat itu tikar, kain dan khumrah itu ada.

*****

Saya (Kautsar Amru) memberi jawaban (9 Agustus 2015) :

Kalau rasulullah tdk ada kecuali sholat di atas mimbar kayu, yang mana telah berlalu haditsnya.

Adapun shohabat ada yg melakukan dg bajunya ketika sholat wajib berjamaah bersama rasulullh, dan tidak di atas tikar, kain, atau sajadah tepat seperti permintaan Kyai Mahrus Ali

Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata :

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ جَبْهَتَهُ مِنَ الأْرْضِ يَبْسُطُ ثَوْبَهُ فَيَسْجُدُ عَلَيْهِ

Kami dahulu shalat bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu sangat panas. Jika seseorang dari kami tidak mampu meletakkan dahinya ke tanah, dia menghamparkan bajunya lalu bersujud di atasnya. [ HR. Bukhari, no. 385; dan Muslim, no. 620 ]

*****

Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah memberikan komentarnya terhadap saya (9 Agustus 2015) :

Ini jawaban sy yg lalu :
Keadaan tanah yang sangat panas, bukan dingin seperti di masjid yang berkarpet. Panasnya adalah panas padang pasir bukan panasnya kota Malang Jawa timur. Para sahabat dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tetap menjalankan salat berjamaah di tanah yang sangat panas itu tanpa tikar, hanya salah seorang di antara mereka yang menggelar pakaiannya untuk bersujud karena tidak tahan. Sebab, biasanya dia menjalankan salat seperti sahabat yang lain tanpa kain yang dihamparkan dimukanya.

Perbuatan satu orang yang menghamparkan bajunya untuk sujud ini karena tanahnya sangat panas tidak bisa di buat landasan untuk memperbolehkan menggelar karpet di masjid yang udaranya sederhana , kadang dingin, kadang sangat dingin.
Entah Rasulullah Shallallaihi wa sallam tahu atau tidak. Buktinya tidak ada keterangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengetahuinya.
Bila kita berpegangan hadis itu untuk memperbolehkan karpet di masjid maka sangat keliru. Keadaan di masjid dengan padang pasir yang sangat panas itu berbeda.
Dalam keadaan yang udaranya tidak terlalu panas, tiada satupun sahabat yang berjamaah dengan beliau menggunakan kain untuk sajadah, sedang kita tiap hari menggunakan karpet untuk shalat.
Bacalah hadis ini untuk renungan lagi:
Khobbab bin Al arat berkata :
شَكَوْنَا إلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شِدَّةَ حَرِّ الرَّمْضَاءِ فِي جِبَاهِنَا . وَأَكُفَّنَا فَلَمْ يَشْكُنَا
Kami mengadu kepada Rasulullah S.A.W. panas yang sangat di dahi dan tapak tangan kami ,lalu beliau diam saja Muslim 619

*****

Saya (Kautsar Amru) memberi tanggapan terhadap komentar Kyai Mahrus Ali (9 Agustus 2015) :

Itu masih bisa diperdebatkan kyai Mahrus Ali (baca : debat-able).

Rasulullah itu bukan manusia biasa, beliau mempunyai mu’jizat tahu apa yg terjadi di belakang beliau.

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَا هُنَا وَاللَّهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ وَلَا خُشُوعُكُمْ وَإِنِّي لأَرَاكُمْ وَرَاءَ ظَهْرِي

Telah menceritakan kepada kami Isma’il, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Abu al-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah RA bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “kalian lihatkah arahku? Demi Allah sekalipun kalian ada di belakangku, tidak ada yang kelihatan. Rukuk kalian kulihat, khusyu’ kalian pun kulihat. Karena aku dapat melihat apa yang ada di belakangku.” (Hadis ini di riwayatkan juga oleh Muslim, hadis no. 643: Ahmad, hadis no. 6901, 7031, 7681, 7907, 8416, 8522, 8571, 9420 dan 10161: Malik, hadis no. 361.)

Rasulullah tau apa yg terjadi di belakang dan beliau mendiamkannya. Sehingga inisiatif para shahabat itu dibolehkan setelah sebelumnya mengadu seperti hadits yg kyai sebut.

Berlaku juga kaidah ushul fiqh di sini “menunda penjelasan ketika diperlukan itu tidak diperbolehkan”.

Nah saya sudah jawab pertanyaan kyai kan ? Sekarang giliran saya donk.

Minta tolong 7 point tanggapan saya sebelumnya itu dibahas dengan detail dan “mencerahkan”. Kalau mau dirambah dengan “6 point catatan” saya juga gpp. Namun jika tdk juga gpp. Saya hanya nagih “hutang” saya kok kyai…

Mari kita bahas satu2 dulu, dimulai dari “hutang penjelasan” itu saja ya Kyai…

*****

Ustadz Abdul Hakim hafidzahulloh, sang empunya status ikut memberikan komentar dengan mengutip tulisan dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzohullah (10 Agustus 2015) :

Hukum Shalat Di Atas Sajadah
Feb 11, 2014Muhammad Abduh Tuasikal, MScShalat0 Komentar

Bagaimana hukum shalat di atas sajadah? Sebagian mengatakan hal itu termasuk bid’ah, apa benar?
Dalil Bolehnya Shalat di Atas Sajadah

Dalam kitab Al Muntaqo karya Abul Barokat ‘Abdus Salam Ibnu Taimiyah Al Harroni -kakek Ibnu Taimiyah- disebutkan dalam kitab Shalat, yaitu Bab “Shalat di Atas Bulu, Karpet dan Alas Lainnya.”
Berikut beberapa dalil yang dibawakan oleh Abul Barokat.
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى بِسَاطٍ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas permadani.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Dari Al Mughiroh bin Syu’bah, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْحَصِيرِ عَلَى الْحَصِيرِ وَالْفَرْوَةِ الْمَدْبُوغَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat di atas tikar dan kulit yang disamak.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Dari Abu Sa’id, ia berkata bahwa beliau pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau katakan,
دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي عَلَى حَصِيرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di atas tikar, beliau sujud di atasnya.” (HR. Muslim).
Dari Maimunah, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas tikar kecil.” (Diriwayatkan oleh Al Jama’ah kecuali Tirmidzi. Namun Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas).
Dari Abu Ad Darda’, ia berkata,
مَا أُبَالِي لَوْ صَلَّيْت عَلَى خَمْسِ طَنَافِسَ .
“Aku tidak memperhatikan seandainya aku shalat di atas permadani yang berlapis lima.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Tarikhnya).
Asy Syaukani rahimahullah ketika menjelaskan hadits-hadits di atas berkata, “Hadits yang telah disebutkan menunjukkan bahwa tidak mengapa shalat di atas sajadah baik sajadah tersebut ada yang sobek, terbuat dari daun kurma atau selain itu, begitu pula sajadah tersebut berukuran kecil (seperti khumroh) atau berukuran besar (seperti hashir dan bisath) karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat menggunakan alas semacam itu.” (Nailul Author, terbitan Dar Ibnul Qayyim, cetakan kedua, 1429 H, 2: 511)
Asy Syaukani juga mengatakan, “Jumhur atau mayoritas ulama berpendapat tidak mengapa shalat dengan menggunakan alas tikar. Kata Tirmidzi, demikian pendapat sebagian ulama.” (Idem)
Insya Allah bahasan di atas masih berlanjut pada bahasan apakah shalat di atas sajadah itu bid’ah. Akan pula dibahas perkataan Ibnu Taimiyah mengenai hal ini. Semoga Allah mudahkan.

Selesai disusun setelah ‘Ashar, 11 Rabi’uts Tsani 1435 di Pesantren Darush Sholihin
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com

*****

Saya (Kautsar Amru) mencoba memberikan komentar terhadap kutipan tulisan Ustadz Muhammad Abdul Tuasikal yang diberikan oleh Ustadz Abdul Hakim hafidzohulloh itu ( 10 Agustus 2015) :

Ustadz Abdul Hakim : kalau saya mencoba menyelami pola pemikiran kyai Mahrus Ali, maka hadits hadits yang ustadz sebut itu akan dipahami hanya berlaku untuk sholat sunnah saja. Dan tidak berlaku untuk sholat wajib.

Adapun untuk sholat wajib, khusus untuk hujjah bagi kyai harus kita berikan dengan hadits :
1. Rasulullah sholat wajib di atas mimbar kayu.
2. Para shahabat yang kepanasan ketika sholat berjamaah hingga melepaskan bajunya untuk alas sholat.
3. Shahabat Ka’ab bin Malik yang melakukan sholat wajib sendirian di atas loteng rumah, karena dia sedang di hajr (diboikot) oleh rasulullah dan para shahabat karena tidak ikut perang tabuk tanpa udzur.

*****

Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah memberikan komentarnya (10 Agustus 2015) :

Insya Allah semua kekeliruan anda akan sy jawab di states sy atau disini , tunggu ya – sy masih ada kerjaan . cc Kautsar Amru dan Abdul Hakim

Advertisements