Tempat Diskusi : Di kolom comment dari status FB Ustadz Abdul Hakim, mulai dari 6 Agustus 2015 sampai 10 Agustus 2015.

Disini akan saya “copy-paste” comment-comment yang relevan dengan diskusi ini. Comment-comment yang bersifat menghujat ataupun menjelek-jelekkan selama proses diskusi, tidak saya “copy-paste” dalam proses dokumentasi ini.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/abdulhakimmuhammadmukhlish/posts/795756667212348?comment_id=796870823767599&ref=notif&notif_t=like_tagged

*****

Abu Nuralif ikut memberikan komentar dan pertanyaan di diskusi itu (8 Agustus 2015) :

Akhi Kautsar Amru.. afwan mau tanya.. saya pernah membaca sebagian tulisan akhuna mahrus ali.. jadi saya mencoba masuk pemikiran beliau dulu..

Dalil umum yang antum sebutkan .. ujung nya adalah bagaimana pelaksanaannya oleh Rasulullah shalallahu wa’alaihi wassalam.. riwayat-riwayat hadits dalam HAL SHOLAT WAJIAB.. belum ada riwayat Rasulullah melakukan sholat SELAIN DIATAS TANAH.. adapun riwayat hadits yang menjalaskan Rasulullah shalat diatas selain diatas tanah hanya sholat sunnah saja.. seperti contoh yang antum sebutkan Rasulullah sholat witir diatas unta..

Bagaimana tanggapan antum.. ana tunggu faedah ilmunya..

#Tulisaninibukanberartisayahijrahkepemahamanmahrusali

 

*****

Saya (Kautsar Amru) memberikan tanggapan terhadap komentar dan pertanyaan al-akh Abu Nuralif (8 Agustus 2015) :

@Abu Nuralif : Secara umum “hukum sarana prasarana” ibadah itu hukumnya beda dengan hukum masalah “syarat ibadah”.

Itu saja yang membedakan pemahaman nya. Perbedaan pemahaman antara yang memahami secara “dzohir” dan yang memahami secara “qorinah istimbath” juga pernah terjadi di kalangan shahabat dalam memahami perkataan rasul “janganlah kamu sholat ashar di bani quraidhoh”.

Bahkan perbedaan pendapat di kalangan sahabat itu lebih jelas dalam masalah memahami perkataan rasulullah ini dibandingkan masalah sholat di atas tanah.

Kenapa saya katakan lebih jelas?

Ini karena kalimat larangan “janganlah sholat ashar sebelum sampai di bani quraidhoh” itu disebutkan secara jelas dan nyata oleh rasulullah. Sedangkan kalimat larangan “janganlah kamu sholat melainkan di atas tanah” tidak pernah diucapkan sekalipun oleh rasulullah.

Kalimat pelarangan yang jelas disebutkan oleh rasulullah saja, ada shahabat yang memahami lain dengan berdasarkan qorinah-qorinah dalil yang ada. Maka dari itu mentarjihkan dan menguatkan pendapat bahwa “sholat itu tidak boleh melainkan di atas tanah” yang tidak pernah rasulullah sebutkan larangan nya, menempati kedudukan yang lebih rendah dibandingkan masalah memahami perkataan rasulullah “janganlah kamu sholat ashar hingga di bani Quraidhoh”

Bukankah hadits rasulullah yang menyebutkan masalah janganlah kamu sholat hingga sampai di bani quraidhoh itu hadits masalah sholat? Dan sholat di atas tanah itu juga masalah sholat?

Cukup” Apple to Apple “dalam memahami hal ini kan?

Singkat kata hukum masalah” sarana prasarana “ibadah itu beda dengan hukum masalah” syarat “ibadah, sepanjang ada dalil yang memberikan kita qorinah untuk beristimbath di dalamnya.

Dan sebagai penguat, rasulullah sendiri sebenarnya pernah sholat tidak di atas tanah. Melainkan di atas kayu mimbar.

أَرْسَلَ رَسُولُ اللهِ n إِلَى فُلاَنَةَ -امْرَأَةٍ قَدْ سَمَّاهَا سَهْلٌ- مُرِي غُلاَمَكِ النَّجَّارَ أَنْ يَعْمَلَ لِي أَعْوَادًا أَجْلِسُ عَلَيْهِنَّ إِذَا كَلَّمْتُ النَّاسَ. فَأَمَرَتْهُ فَعَمِلَهَا مِنْ طَرْفَاءِ الْغَابَةِ ثُمَّ جَاءَ بِهَا، فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ n فَأَمَرَ بِهَا فَوُضِعَتْ هَاهُنَا، ثُمَّ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ n صَلَّى عَلَيْهَا، وَكَبَّرَ وَهُوَ عَلَيْهَا، ثُمَّ رَكَعَ وَهُوَ عَلَيْهَا، ثُمَّ نَزَلَ الْقَهْقَرَى فَسَجَدَ فِى أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ، فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا وَلِتَعَلَّمُوا صَلاَتِي
Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam mengutus (seseorang) kepada Fulanah—seorang wanita yang telah disebut namanya oleh Sahl (bin Sa’d) —, “Perintahlah budakmu yang tukang kayu untuk membuatkan bangunan kayu untuk aku duduk di atasnya ketika aku berceramah di hadapan manusia.” Kemudian wanita itu memerintahkannya sehingga ia membuatnya dari tharfa’ (sejenis pohon cemara) di daerah al-Ghabah lalu dia bawa. Wanita itu mengutus seseorang untuk membawanya kepada Rasulullah.

Rasulullah alu memerintahkan agar mimbar tersebut diletakkan di sini. Setelah itu, aku melihat beliau shalat di atas mimbar tersebut. Beliau bertakbir di atasnya, kemudian ruku’ di atasnya, kemudian turun mundur lalu sujud di dasar mimbar. Setelah itu beliau kembali lagi. Setelah selesai, beliau menghadap kepada manusia lalu berkata, “Wahai manusia, aku melakukan hal ini hanya agar kalian mengikuti aku dan kalian mempelajari shalatku.” (Shahih, Muttafaqun ‘alaihi dari sahabat Sahl bin Sa’d)

Hadits inilah sebagai pembedaan antara hukum “sarana prasarana” sholat, dan hukum mengenai “syarat sholat”.

Semoga jelas

*****

Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah ikut menanggapi jawaban saya terhadap komentar dan pertanyaan Abu Nuralif (8 Agustus 2015) :

Rasul salat di mimbar , sujudnya tdk di mimbar, tapi di tanah. Makanya tanah ini tempat sujud bukan karpet, kain, sorban. وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ
Bumi di jadikan tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki yang menjumpai waktu salat , salat lah ( di tempat itu ) ………( HR Bukhori /Tayammum/ 335. Muslim / Masajid dan tempat salat /521 )

Muaiqib ra berkata :
قَالَ فِي الرَّجُلِ يُسَوِّي التُّرَابَ حَيْثُ يَسْجُدُ قَالَ إنْ كُنْت فَاعِلًا فَوَاحِدَةً
Rasulullah saw, bersabda tentang seorang lelaki yang meratakan debu di tempat sujudnya . Beliau bersabda : “Bila kamu harus melakukannya cukup sekali “.Muttafaq alaih ,1207 .

Ibnu Taimiyah berkata :
. فَهَذَا بَيَّنَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَسْجُدُونَ عَلَى التُّرَابِ وَالْحَصَى فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُسَوِّي بِيَدِهِ مَوْضِعَ سُجُودِهِ فَكَرِهَ لَهُمْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَلِكَ الْعَبَثَ وَرَخَّصَ فِي الْمَرَّةِ الْوَاحِدَةِ لِلْحَاجَةِ وَإِنْ تَرَكَهَا كَانَ أَحْسَنَ
Hal ini menerangkan bahwa mereka bersujud di debu atau kerikil .Seorang diantara mereka meratakan tempat sujud dengan tangannya .Nabi saw, tidak suka dan memperbolehkan sekali saja karena kebutuhan . Namun bila di tinggalkan akan lebih baik . (Majmuk fatawa 117/21 .Lebih jelasnya lihat buku kami “ salatlah di tanah tanpa kramik atau sajadah )

*****

Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah menambahi lagi komentarnya terhadap saya (8 Agustus 2015) :

Ini jawaban sy yg lalu untuk Kautsar Amru “Setiap lelaki yg menjumpai waktu sholat , sholatlah”
Di situ , Rasulullah SAW memerintah atau tidak !
Sudah tentu , beliau memerintah salat di tanah bukan di keramik ,karpet , sajadah atau koran. Dalam hadis lain di jelaskan :
حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ
Dimana saja kamu menjumpai waktu salat telah tiba , salatlah dan bumi adalah tempat sujudmu [2]
Hadis tsb memerintahkan agar melakukan salat di atas tanah langsung , lalu bagaimanakah bisa di nalar pernyataan anda yang menyatakan tiada perintah untuk melakukan salat di atas tanah langsung . Dan Rasulullah SAW secara peraktik juga menjalankan salat wajib di tanah langsung.
Kalimat :
salatlah dan bumi adalah tempat sujudmu [3]
adalah jelas menggunakan kalimat perintah yang ber arti bila kita tidak menjalankan salat di atas tanah berarti kita melanggar perintahnya. Allah telah menyatakan bagi orang yang sengaja tidak taat kepada perintah Allah dan rasulNya sbb :
وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا(36)
Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.[4]

Imam Suyuthi yang pendapatnya sangat di buat pegangan oleh kalangan NU menyatakan :
أَيْ مَا دَامَتْ عَلَى الْحَالَة الْأَصْلِيَّة الَّتِي خُلِقَتْ عَلَيْهَا وَأَمَّا إِذَا تَنَجَّسَتْ فَلَا . وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَم
……….. selama tanah itu masih asli , bukan tanah najis. Bila najis tetap tidak boleh menjalankan salat di situ. Wallahu taala a`lam . Syarah sunan Nasai 480/1
Ibn Hajar menyatakan :
وَفِي ” جَامِعِ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنََةََ ” عَنْ الْأَعْمَشِ ” فََإِنَّ الْأَرْضَ كُلُّهَا مَسْجِدٌ ” أَيْ صَالِحَةٌ لِلصَّلَاَةِ فِيْهَا . وَيُخَصُّ هَذَا الْعُمُومُ بِِمَا وَرَدَ فِيْهِ النَّهْيُ وَاللَّهُ أَعْلَم .
Dalam kitab Jami` Sofyan bin Uyainah dari al a`masy di katakan : Sesungguhnya seluruh bumi adalah tempat sujud – ya`ni layak untuk salat di atasnya . Perintah umum ini di kecualikan beberapa tempat yang telah di jelaskan dlm hadis lain . Fathul bari 148/10
Al allamah Badruddin al aini berkata :
اْلأَمْرُ بِالشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ
Perintah sesuatu adalah larangan untuk mengerjakan lawannya . [5]
Bila kita di perintahkan untuk melakukan salat di tanah langsung , maka sudah tentu kita harus taat dan menjalankannnya dan kita tidak boleh melakukan salat di atas karpet , koran , tegel atau marmer . Menurut kaidah itu adalah haram ,. Karena itu ber hati- hatilah dlm melaksanakan salat agar sesuai dengan tuntunan sekalipun akan menjadi tontonan . Biasanya orang yang menjalankan salat di atas tanah langsung akan menjadi tontonan banyak orang. Tapi bila menjalankan kebid`ahan yaitu salat wajib di karpet di anggap baik bahkan lebih tepat . Ini karena kebodohan belaka dan tidak mengerti hakikat perbuatan Rasul dlm masalah salat .
Ada hadis lagi yang mengisaratkan agar melakukan salat di tanah sbb :
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Dan lakukanlah salat sebagaimana kamu melihat aku melakukannya [6]

Secara kenyataan , Rasulullah SAW dan para sahabatnya menjalankan salat wajib di atas tanah dan tidak pernah sama sekali beliau melakukan salat wajib di atas tikar , hambal atau kain . Bila kita melakukan salat dengan sajadah , maka kita ini bikin cara salat tersendiri . Siapakah yang kita tiru dlm masalah salat .
Dalam suatu ayat di katakan :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوُلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi mereka yang mengharap Allah dan hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Kita taat kepada Allah lalu kita menyelisihi Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam menjalankan salat wajib. Ini titik rawan bagi kita yang ingin selamat di dunia dan akhirat. Bila kita masih menyatakan bahwa boleh melakukan salat wajib di atas tikar , karpet , maka mana dalilnya dan jangan menggunakan dalil salat sunat yang di lakukan oleh Rasulullah SAW di atas khumrah atau tikar sebagaimana hadis sbb :
386-حَدِيْثُ مَيْمُوْنَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا حِذَاءَهُ، وَأَنَا حَائِضٌ، وَرُبَّمَا أَصَابَنِيْ ثَوْبُهُ إِذَا سَجَد
قَالَتْ: وَكَانَ يُصَلِّي عَلَى الْخَمْرَةِ
أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيْ فِى : 8 كِتَابُ الصَّلاَةِ : 19 بَابُ إِذَا أَصَابَ ثَوْبُ الْمُصَلّىِ امْرَأَتَهُ إِذَا سَجَدَ

386.Maimunnah menuturkan: “Rasulullah saw pernah melakukan shalat dan aku berada di sisi beliau saw, karena aku sedang haid. Adakalanya, baju beliau saw mengenai aku ketika beliau saw bersujud. Pada waktu itu, beliau saw shalat di atas sajadah kecil yang terbuat dari pelepah pohon kurma.” (Bukhari, 8, kitab shalat, 19, bab jika pakaian seorang yang sedang shalat mengenai isterinya ketika ia sedang sujud).
Allu`lu` wal marjan 193/1 Al albani berkata : Muttafaq alaih

*****

Saya (Kautsar Amru) memberi komentar (9 Agustus 2015) :

Terimakasih untuk tanggapan dari Kyai Mahrus Ali.

Akan tetapi harus jujur dikatakan, kyai hafidzahulloh tidak memberikan argumen pembantah ataupun penjelas secara mendetail dan menyeluruh terhadap 7 point tanggapan saya yang terdahulu. Terkesan “cherry picking” (memilih untuk menanggapi mana yang dia suka saja), sehingga yang disayangkan argumen yang tidak tuntas itu justru akan membawa kepada “tanda tanya” dan “debat-able”.

Bahkan ada tanggapan Kyai yang terkesan hanya copi paste dari tulisan kyai yang terdahulu tampaknya. Ini terlihat dari adanya nomer footnote di samping tulisan kyai, yang tidak ada penjelas footnote dibawahnya.

Padahal jika pendapatnya kuat dan konsisten, tentu semua argumen saya akan mudah untuk “diluruskan” dan diberikan “pencerahan” akan hal itu. Ini yang sebenarnya saya harapkan agar saya bisa mendapat tambahan faedah ilmu dari Kyai, akan tetapi sayang sekali hal itu tidak saya temukan…,
—–
Argumen yang tidak tuntas atau terkesan cherry picking itu seperti :
– Pemahaman lutut yang tertutup kain baju di point nomer 2 : di sub point A dan B saya sebutkan bahwa rasulullah tidak pernah sama sekali melarang sholat di atas tikar dan keramik. Juga tidak pernah ada sama sekali hadits yang membantah atau mengkhususkan atau membatasi masalah lutut rasulullah yang sholat di atau kain baju gamisnya.

Alih2 daripada menyebutkan hadits untuk “mencerahkan” argumen di nomer 2, Kyai malah mengklaim dan menegaskan “Bila kita diperintahkan untuk melakukan sholat di tanah langsung, maka tentu kita harus taat dan menjalankannya dan tidak boleh melakikan sholat di atas karpet, koran, tegel, atau marmer. MENURUT KAEDAH ITU ADALAH HARAM”.

Padahal jika kita jujur melihat hadits rasulullah, tidak pernah sama sekali rasulullah memerintahkan dan berkata secara terperinci “sholatlah kamu di atas tanah” dalam berbagai haditsnya. Inilah yang yang butuhkan dalan argumen point kedua ini sebenarnya, akan tetapi sayang Kyai tidak bisa memenuhi permintaan ini.

– Dikarenakan tidak tuntasnya membahas argumen saya yang nomer 2, maka ini akan berimplikasi pada argumen saya pada point 6 dan 7. Dan sayang sekali, point 6 dan 7 itu tidak diberikan tanggapan yang “mencerahkan” dan masih tetap bersikukuh semua pemahaman dipaksa untuk di bawa kedalam bahasa “tanah”.

Sejak kapan Al-Ardh (bumi) itu hanya difahami berisi hanya tanah saja?

– Uji konsistensi pendapat yang saya coba ajukan di point nomer 5 pun juga diabaikan dan tidak ditanggapi sama sekali. Padahal ini juga merupakan hal yang penting dalam menguji kebenaran pemahaman

Dikarenakan ketidaktuntasan dan metode “cherry picking” dalam berdiskusi terhadap 7 point yang sebutkan sebelumnya itu, maka sayapun juga tidak akan menanggapi secara terterinci terhadap argumen Kyai Mahrus Ali .

Padahal membahas dan mendiskusikan argumen secara terperinci itu adalah “hobby ilmiah” saya. Jika ada di berbagai point yang bisa saya jelaskan, maka akan saya jelaskan. Jika ada point yang belum bisa saya jelaskan, maka akan saya sebutkan saya belum bisa menjelaskan. Sehingga audience bisa jujur menilai dan melihat point per point dari detail argumentasinya.

Karena ketidaktuntasan dan metode “cherry picking”, maka saya serahkan saja kepada audience untuk menilai sendiri argumentasi dari kedua belah fihak. Saya disini akan memberikan catatan-catatan saja, untuk memberikan tambahan faedah.

Catatan :
1. Kyai selalu membawa kata2 hadits al-ardh ( bumi ) kepada pengertian tanah, bahkan sampai membawa qoul imam As Suyuthy ” bahwa selama tanah itu masih asli, bukan tanah najis. Bila najis, tetap tidak boleh menjalankan sholat di situ”

Catatan saya :
– bahwa Al-Ardh (bumi) itu tidak hanya berisi tanah, ada juga tumbuh2an dan batu. Maka hendaklah dalil yang umum itu tetap dibawa kepada keumumannya. Sebagaimana inilah qaidah dalam ushul fiqh.
– Tidak pernah ada dalil sama sekali bahwa jika segala sesuatu yang merupakan bagian dari bumi itu (Al-Ardh) telah kita olah, maka kita tidak boleh sholat diatanya. Yakni maksudnya bagian bumi yang diolah menjadi tegel atau marmer. Atau tanaman yang merupakan bagian bumi yang diolah menjadi kain atau karpet. Atau plastik yang merupakan hasil olahan minyak bumi yang dijadikan tikar untuk sholat.

Ucapan imam as Suyuthy pun sebenanrnya konteksnya adalah masalah tanah yang ada najis di situ. Bukan konteksnya untuk membatasi atau membahas bahwa sholat harus dan hanya boleh di atas tanah saja. Terlebih lagi ucapan ulama itu bukan dalil, akan tetapi memerlukan dalil sebagaimana ini yang sudah saya sebutkan pada point argumen saya yang nomer 1 terdahulu (yang sayang sekali diabaikan dan tidak diberikan pembahasan yang “mencerahkan”…)

2. Kyai berusaha ikut membahas argumen penjelasan saya kepada Abu Nuralif mengenai masalah sholat rasulullah di atas mimbar kayu. Kyai lagi-lagi membawa kepada masalah tanah dengan mempermasalahkan sujudnya rasulullah.

Catatan saya :
– Hampir seluruh rukun sholat itu dikerjakan oleh rasulullah di atas mimbar kecuali sujud. Kita faham bahwa jika seseorang itu kehilangan atau tidak melakukan salah satu rukun sholat, maka sholatnya itu batal dan tidak sah. Tentu jika seluruh rukun sholat itu dipersyaratkan harus dikerjakan di atas tanah, maka tentu kebanyakan rukun sholat yang dicontohkan oleh rasulullah itu batal secara otomatis karena sholat di atas kayu dan bukan tanah itu tidak sah.

Dan sejak kapan rukun sholat itu hanya sujud saja?

– Hadits contoh rasululloh sholat di atas mimbar itu “lagi-lagi” tidak pernah menyebutkan larangan sholat di selain tanah. Jika itu difahami seperti itu, tentu rasulullah harus langsung menjelaskan setelah sholat itu dengan mengatakan ” sholat yang sebagian besar rukunnya saya lakukan di atas mimbar kayu itu terlarang. Sholat harus di atas tanah saja. Ini hanya contoh saja”.

Namun pada faktanya rasulullah tidak pernah mengatakan hal itu, padahal “menunda penjelasan ketika diperlukan itu tidak diperbolehkan” sebagaimana ini yang berlaku dalam kaidah ushul fiqh. Sehingga karena tidak dijelaskan untuk membatasi dan memperinci, maka hadits itu diperlakukan secara umum dan tidak bisa dibawa kepada “makna tanah” sebagaimana yang diinginkan kyai.

Hadits itu hanya menjelaskan masalah kaifiyah (cara) sholat dengan menggunakan alat peraga. Dan sudah saya jelaskan sebelumnya di komentar terhadao akhunaa abu nuralif, bahwa faedah hukum yang bisa diambil dari hadits itu adalah adanya perbedaan hukum antara “sarana prasarana sholat” dan hukum mengenai “syarat sholat”.

Ini sebenarnya bukan hal yang susah untuk difahami….

3. Rasulullah mengajarkan sholat secara terperinci kepada para shahabat, dibandingkan terhadap diri kita. Jika benar rasulullah mengajarkan dengan memberikan syarat “harus di atas tanah” maka tentu tidak akan ada shahabat yang berani untuk menyelisihinya.

Akan tetapi ternyata ada hadits panjang dari Ka’ab bin Malik radhiyalloohu ‘anhu yang mana ketika beliau ditahdzir dan dihajr (diboikot) oleh rasulullah dan para shahabat karena tidak ikut perang tanpa udzur, beliau bahkan tidak boleh ikut sholat jamaah di masjid, maka beliaupun sholat di loteng rumah beliau. (Hr. Bukhari Muslim).

Mafhum kita semua bahwa loteng rumah itu di atas dan tidak menyentuh tanah. Dan setekah turun beberapa surat At-Taubah yang mana Allah memaafkan Kaab bin Malik dan membebaskan dari tuduhan munafik, maka Allah dalam firman Nya dan juga Rasulullah setelah ditemui oleh Ka’ab bin Malik sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa sholat Ka’ab yang dilakukan secara munfarid (sendiri) di atas loteng itu tidak sah, haram, dan harus di qodho dengan sholat lagi di atas tanah.

Padahal “menunda penjelasan ketika diperlukan itu tidak diperbolehkan” sebagaimana ini yang berlaku dalam kaidah ushul fiqh.

4. Kyai seakan mengesankan harus dibedakan antara sholat wajib dan sholat sunnah, yakni kalau sholat wajib itu harus di atas tanah sedangkan kalau sholat sunnah itu boleh tidak di atas tanah.

Padahal kalau kita cermat melihat hadits masalah sholatnya rasulullah di atas mimbar kayu, dan juga sholatnya Kaab bin Malik, maka hal itu tidaklah sebagaimana “pemahaman” yang diinginkan oleh Kyai.

Apalagi pembedaan itu sebenarnya tidak pernah diterangkan sendiri oleh rasulullah dalam sabda beliau.

5. Perihal sholatnya rasululloh diatas tanah, maka itu sebenarnya hanyalah “realita sosial” pada waktunnya. Bukan syarat sahnya sholat.

Pada zaman itu umum orang mendirikan bangunan ataupun punya rumah dengan beralaskan tanah. Apakah orang arab waktu itu sudah mempeunyai teknologi untuk membuat tegel atau keramik? Adakah sumber daya alam, baik gunung atau dataran yang menyediakan bahan untuk membuat keramik atau marmer? Jika ada maka mengapa Saudi Arabia sekarang ini sejauh yang saya tau, mengimpor keramik atau marmer dari luar negri?

Terlebih lagi, apakah semen sebagai bahan perekat tegel atau keramik itu sudah ada pada zaman rasul?

Maka dari itu, sekali lagi, ini hanyalah “realita sosial” belaka. Bukan masuk kepada pembahasan syarat sah sholat.

6. Hendaklah kita memahami bahwa ruh daripada aturan Islam itu adalah kemudahan, tentu saja dengan tidak menggampangkan atau meremehkan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ الدِّينَ يُسْر، وَلَنْ يَشادَّ الدينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فسَدِّدوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بالغُدْوة وَالرَّوْحَةِ، وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلَجة” (رواه البخاريُّ وَفِي لَفْظٍ لِلْبُخَارِيِّ “وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوْا”)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) mudah, tidak ada seorang pun yang hendak menyusahkan agama (Islam) kecuali ia akan kalah. Maka bersikap luruslah, mendekatlah, berbahagialah dan manfaatkanlah waktu pagi, sore dan ketika sebagian malam tiba” (HR. Bukhari)

Realita sosial pada zaman rasulullah tentu akan “sangat memberatkan” jika masjid-masjid harus dikeramik atau ditegel, atau harus diberikan karpet. Selain daripada teknologi yang belum ada, sumber daya alam yang tidak tersedia, orang yang berprofesi khusus sebagai “tukang bangunan atau jual bahan bangunan” bukan merupakan suatu profesi yang umum pada zaman rasul. Ini belum lagi tidak semua shahabat rasul itu kaya sehingga mampu membeli karpet.

Berbeda dengan realita sosial pada zaman kita. Yang mana dimana-mana masjid dan bangunan itu telah ditegel, dikeramik, atau dikarpet. Maka akan memberatkan bagi kita jika harus mencari masjid yang dibangun dengan berlantai tanah. Jikapun ada, maka tidak setiap tempat ada, sedangkan waktu sholat itu terbatas.

Maka dari itu janganlah sesuatu yang luas itu kita persempit. Sesungguhnya agama ini mudah….

—–
Demikianlah sedikit catatan-catatan saya, semoga bermanfaat. Baarokalloohu fiik

*****

Advertisements