Tempat Diskusi : Di kolom comment dari status FB Ustadz Abdul Hakim, mulai dari 6 Agustus 2015 sampai 10 Agustus 2015.

Disini akan saya “copy-paste” comment-comment yang relevan dengan diskusi ini. Comment-comment yang bersifat menghujat ataupun menjelek-jelekkan selama proses diskusi, tidak saya “copy-paste” dalam proses dokumentasi ini.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/abdulhakimmuhammadmukhlish/posts/795756667212348?comment_id=796870823767599&ref=notif&notif_t=like_tagged

*****

Ustadz Abdul Hakim hafidzahullah membuat status di FB beliau (6 Agustus 2015) :

Hadaahulloh

Saya kasihan dg ayah teman akrab saya.

Dia sangat zhohiri sampai :

1.haram sholat di tikar / lantai tegel atau keramik
2. haram sholat pakai lampu
3. haram makan telur
4. haram makan ikan jk tdk disembelih
5. haram zakat fitri dg beras.
dll.

Kita harus renungkan :

A. apakah ini akibat “bebas madzhab ” ?
B. Bagaimana solusinya ?

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan komentar di status FB Ustadz Abdul Hakim (7 Agustus 2015) :

Dalil untuk bolehnya shalat beralaskan kain, atau tegel, atau keramik sebenarnya ada di hadits :
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ
“Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri. ” (HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490)

Kenapa hadits ini malah menjadi dalil bolehnya sholat beralaskan tikar, atau keramik, atau tegel, dan tidak harus menyentuh tanah?

Masjid rasulullah walau hanya terbuat dari tanah, namun lutut rasulullah tentu tertutup kain walau tidak sampai isbal. Maka waktu sujud, tentu lutut beliau tertutupi kain baju dan tidak langsung menempel dengan tanah.

Jika harus sholat di atas tanah yang difahami ekstrim seperti itu, maka tentu rasulullah dan para shahabat harus memakai jubah yang sangat pendek di atas lutut, agar ketika sujud lututnya terlihat, tidak ditutupi kain, dan nempel di tanah.

Nah, disinilah dalil untuk hal ini.

*****

Kyai Mahrus Ali hafidzahullah menanggapi komentar saya dengan menulis ( 7 Agustus 2015) :

Komentarku ( Mahrus ali ):
Anda menyatakan karena lutut tertutup dengan kain, lalu shalat boleh dengan beralaskan tikar, tegel atau kramik.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yg bersabda spt itu, bukan anda. Maka peraktiknya yg benar dalam shalat adalah peraktik beliau bukan pemahaman anda.
Beliau menjalankan sujud di tanah, lutut tertutup kain, tapak tangan dan wajah menyentuh ke tanah. Lalu mengapa anda simpulkan boleh menjalankan shalat di sajadah karena lutut tertutup kain. Mengapa anda tidak menyatakan harus sujud di tanah , bukan di tikar karena wajah dan tapak tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyentuh ke tanah.
Bila kita ikut pendapat anda yg membolehkan sujud di tikar, maka kita ini tidak menjumpai hadis sahih yg menyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat wajib di tikar.
Selama hidupnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menjalankan shalat wajib di tanah dan tdk pernah sekalipun sekali melakukannya di tikar.
فتح الباري لابن رجب – (ج 3 / ص 150)
الْمُرَادُ مِنْ هَذَا اْلحَدِيْثِ هَاهُنَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يُصَلِّي اْلمَكْتُوْبَةَ إِلاَّ عَلَى اْلأَرْضِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ ، فَأَمَّا صَلاَةُ الْفَرِيْضَةِ عَلَى اْلأَرْضِ فَوَاجِبٌ لاَ يَسْقُطُ إِلاَّ فِي صَلاَةِ شِدَّةِ اْلخَوْفِ ، كما قال تعالى: { فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً } [البقرة :239] .
Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul bari 150/3 sbb:
Maksud hadis tsb ( hadis Nabi turun dari kendaraan ketika menjalankan salat wajib ) adalah sesungguhnya Nabi SAW tidak akan menjalankan salat wajib kecuali di tanah dengan menghadap kiblat. Untuk menjalankan salat fardhu di atas tanah ( langsung bukan di sajadah atau keramik ) adalah wajib kecuali dalam salat waktu peperangan atau keadaan yang menakutkan sebagaimana firman Allah taala sbb:
Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan
. وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ مَهْدِيٍّ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ بَسَطَ سَجَّادَةً فَأَمَرَ مَالِكٌ بِحَبْسِهِ فَقِيلَ لَهُ : إنَّهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ فَقَالَ : أَمَا عَلِمْت أَنَّ بَسْطَ السَّجَّادَةِ فِي مَسْجِدِنَا بِدْعَةٌ .
Sungguh telah di kisahkan bahwa Abd rahman bin Mahdi ketika datang ke Medinah menggelar sajadah , lalu Imam Malik memerintah agar di tahan ( dipenjara ) . Di katakan kepadanya : “ Dia adalah Abd Rahman bin mahdi “
Imam Malik menjawab :” Apakah kamu tidak mengerti bahwa menggelar sajadah dimasjid kami adalah bid`ah “.
Ibnu taimiyah berkata :
. أَمَّا الصَّلاَةُ عَلَى السَّجَّادَةِ فَلَمْ تَكُنْ هَذِهِ سُنَّةَ السَّلَفِ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; بَلْ كَانُوا يُصَلُّونَ فِي مَسْجِدِهِ عَلَى اْلأَرْضِ لاَ يَتَّخِذُ أَحَدُهُمْ سَجَّادَةً يَخْتَصُّ بِالصَّلاَةِ عَلَيْهَا
Melakukan salat diatas sajadah ( tikar, karpet, keramik ) tidak termasuk budaya kaum muhajirin, Ansar, tabi`in yang mengikuti jejak mereka dengan baik di masa Rasulullah saw. Bahkan mereka menjalankan salat di atas tanah , seseorang diantara mereka tiada yang menggunakan sajadah husus salat

*****

Saya (Kautsar Amru) memberi komentar (8 Agustus 2015) :

Terimakasih Kyai Mahrus Ali untuk tanggapannya, afwan karena belum menjadi friend di fb maka saya tidak mendapatkan notifikasi fb dari comment antum. Akan saya add fb antum agar saya mendapatkan notifikasi.

Khoir, akan saya coba sedikit tanggapi :
1. Sejauh yang saya tau, perkataan ulama itu bukan dalil. Justru perkataan ulama yang butuh dalil. Sebagaimana ini yang lazim difahami dalam ushul fiqh.

2. Dalil yang saya sebutkan itu berlaku umum, adapun mentakhsis pemahamanan “lutut yang memakai kain” yang difahami secara umum sebagai qorinah bolehnya sholat di atas tikar, keramik, dll; dengan keumuman dalil bahwa rasulullah selama hidupnya sholat di atas tanah maka yang itu agak musykil.

Kenapa agak musykil? Karena keumuman dalil bahwa rasulullah seumur hidupnya sholat di atas tanah itu :
A. Sama sekali tidak pernah melarang sholat di atas tikar, keramik, dll
B. Tidak pernah ada sama sekali hadits yang membantah atau mengkhususkan perihal lutut rasulullah yang sholat di atas kain baju gamisnya.

3. Jika bersikeras bahwa hal itu mentakhsis masalah baju gamis rasulullah yg menutupi lutut ketika sholat, maka itu adalah “perbedaan pemahaman” bukan “perbedaan dalil”. Perbedaan paham ini yang hendak kita diskusikan.

4. Seseorang itu tidak bisa terpaku dengan dalil secara “apa adanya” sepanjang ada qorinah yang membolehkan untuk diambil hukum didalamnya. Yang mana walaupun “perincian hukum” itu tidak pernah ada atau tidak pernah muncul di zaman rasulullah.

Saya harap Kyai bisa sepakat bahwa tidak pernah ada “perincian hukum” tidak boleh sholat selain di atas tanah, yang pernah dijelaskan oleh rasulullah dan para shahabatnya. Yang ada hanya keumuman dalil dan praktek tanpa perincian penjelasan yang membatasi.

Jika itu sepakat, maka berlaku hadits berikut ini :

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

“Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya” ( imam Abu Dawud (no. 3660), at-Tirmidzi (no. 2656), Ibnu Majah (no. 230), ad-Darimi (no. 229), Ahmad (5/183), Ibnu Hibban (no. 680), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 4890), dan imam-imam lainnya.)

Saya dan Kyai bukan orang yang menghadiri dan mendengar langsung hadits rasulullah, namun itu tidak menghalangi kita untuk memahami hadits rasulullah dan mengambil hukum2 darinya.

Maka dari itu cara saya mengambil istimbath dari lutut rasulullah yg ketika sholat itu tertutup kain itu dibolehkan secara fiqh, dan sah pengambilan hukumnya.

5. Sejauh yang saya fahami, ketika kita berpendapat maka ada “uji konsistensi” pendapat dan pemahaman untuk mengabsahkan pemahaman kita.

Secara umum, saya lihat bahwa kyai hafidzahullah memahami bahwa jika pada prakteknya rasulullah tidak pernah melakukannya, maka terlarang bagi kita untuk mengambil istimbath hukum dengan berdasarkan qorinah dalil2 lainnya yang diperbolehkan secara qaidah fiqh.

Jika ini difahami seperti ini, maka pemahaman ini harus kita coba “uji konsistensi” daripada pemahaman ini. Apakah shohih pemahaman ini diterapkan pada :
A. Tidak sah zakat Fithri dengan beras karena rasulullah tidak pernah zakat dengan beras
B. Tidak sah haji dan umroh dengan pesawat terbang dan kapal, atau alat transportasi lain karena rasulullah hanya pernah mempraktekkan dengan berjalan kaki dan menunggang unta. Belum lagi dalil dari Al Qur’an itu jelas menyebutkan hanya berjalan kaki dan menunggang unta saja, walaupun secara fiqh itu tidak difahami untuk “membatasi”.

Allah Ta’ala befirman,
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al Hajj: 27)

6. Pembatasan secara khusus hanya boleh dengan tanah itu juga agak musykil, dikarenakan adanya keumuman dalil rasulullah yang bersabda,

وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ
“Seluruh bumi dijadikan sebagai tempat shalat dan untuk bersuci. Siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka shalatlah di tempat tersebut” (HR. Bukhari no. 438 dan Muslim no. 521).

Maksud “pemahaman” dari hadits itu apakah al-ardh di dalam hadits itu hanya dibatasi “tanah” saja? Apakah tumbuh-tumbuhan itu bukan termasuk bagian dari bumi? Dan apakah sholat di atas rumput itu dianggap tidak sah karena rasulullah tidak pernah mempraktekkannya?

Kalau kita jujur memahami perkataan Al-Ardh itu secara umum, maka semua bangunan itu bahannya berasal dari bumi termasuk tegel atau keramik. Kain itu juga dibuat dan dipintal dari tumbuh2an, walau sebagian juga bisa dibuat dari hewan.

Dan khusus masalah hewan, maka rasulullah juga pernah sholat safar di atas hewan tunggangannya. Maka apakah sholat di atas kain yang terbuat dari kulit atau bulu hewan itu tidak sah?

إن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كان يوترُ على البعيرِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat witir di atas unta” (HR. Al Bukhari 999, Muslim 700)

7. Sebenarnya ada hadits lain lagi yang lebih umum dan tidak menyebut bumi sama sekali, sehingga berdasarkan hadits ini bisa difahami sah sholat di atas pesawat yang terbang dan tidak menginjak bumi. (Baca : berada di atas as-samaa’ dan bukan berada di al-ardh)

dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,

وأينما أدركتك الصلاة فصلِّ، فهو مسجد

”Dimanapun seseorang menjumpai waktu shalat, segera dia shalat. Karena tempatnya adalah masjid.” (HR. Bukhari 3425 & Muslim 520).
———
Demikian kiranya 7 point tanggapan dari saya Kyai Mahrus Ali. Baarokalloohu fiik

*****

Advertisements