Alhamdulilah berkesempatan mengikuti kajian Ustadz Fadlan Garamatan Hafidzahulloh, dai terkenal yang asli orang Papua itu.

Luar biasa dakwah perjuangan beliau selama 39 tahun, di tanah kelahirannya Papua.

Dihina, ditombak, diusir, dan dipenjara sudah makanan sehari – hari bagi beliau. Berdakwah ke desa desa yang harus ditempuh dengan jalan kaki selama 10 hari, bukan hal yang menakjubkan bagi beliau.

Satu kalimat yang menurut saya penting yang saya ingat dari beliau :

“Saya di Papua itu tidak pernah mendakwahkan Islam. Apa yang saya dakwahkan adalah Peradaban dan kemajuan. Agar orang Papua itu tahu orang Islam itu seperti apa, hingga mereka tertarik dan mau untuk belajar Islam ”

Kata kata itu langsung “makjleb” bagi saya.

Walaupun beliau berkata dengan menggunakan istilah “Peradaban” dan “Kemajuan”, namun saya faham apa yang beliau maksud itu sebenarnya adalah “adab” dan “akhlak”.

Belum lagi beliau sempat bercerita kisah perjuangan “kesabaran” beliau dalam berdakwah dan menghadapi orang – orang Papua.

Saya langsung teringat kepada perkataan ulama salaf, bahwa mereka 30 tahun belajar adab baru 20 tahun setelahnya belajar ilmu. Sebagaimana inilah perkataan Abdullah bin Mubarok.

Atau seperti perkataan Abu Hanifah yang mengatakan, bahwa beliau lebih senang mempelajari kisah kisah para ulama atau duduk bersama mereka untuk mendapatkan pelajaran adab dan akhlak, dibandingkan menguasai beberapa bab dalam ilmu fiqh.

Atau perkataan yang mengatakan, bahwa para murid dan peserta kajian imam Malik dan Imam Ahmad itu lebih banyak menukil faedah mengenai adab dari mereka dan mempelajarinya, dibandingkan mengambil faedah ilmu fiqh mereka.

Memang intinya kita harus banyak berkaca dan memperbaiki diri diri kita. Mungkin ada dari adab dan akhlak kita yang tidak mencerminkan bahwa kita ini orang Islam.

Dan tentu saja, jangan pernah sekali kali beradab dan berakhlak yang baik itu karena manusia!

Namun beradab dan berakhlak lah yang baik, karena itu adalah tuntunan dan perintah Allah ta’ala.

Advertisements