Diskusi dengan Kyai Mahrus Ali : Masalah “Sholat Wajib” Harus Dilakukan di Atas Tanah – bagian 11 (terakhir)

Leave a comment

Tempat Diskusi : Di Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 8

Disini akan saya “copy-paste” notes FB yang dibuat oleh Kyai Mahrus Ali, dan juga komentar tanggapan saya dan Kyai sendiri di notes itu.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/notes/659775750826457/

*****

Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 8 (17 Agustus 2015) :

Anda menyatakan lagi:

Rasulullah tau apa yg terjadi di belakang dan beliau mendiamkannya. Sehingga inisiatif para shahabat itu dibolehkan setelah sebelumnya mengadu seperti hadits yg kyai sebut.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Ini juga bagian dari kedustaan anda, bukan jujur lagi. Kpn para sahabat punya insiatif spt itu – yaitu dibolehkan shalat di tikar. Mana  atsar sahih yg menyatakan spt itu. Bila anda  tdk mampu menunjukkan atsar spt itu, maka  anda berdusta kpd orang banyak bukan kpd satu  atau dua orang pembaca.

Anda sebagai da`I harus jujur agar masarakat tdk tersesat karena anda. Tpi mereka tercerah karena anda. Sya ingat ayat:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلاَّ قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Maidah 13

Pendeta  suka merobah ayat dan anda suka dusta, maka sdh tepatlah ada hubungan anda dengan pendeta dlm hal membejat agama  bukan memperbaikinya.

Anda menyatakan :

Rasulullah tau apa yg terjadi di belakang dan beliau mendiamkannya. Sehingga inisiatif para shahabat itu dibolehkan setelah sebelumnya mengadu seperti hadits yg kyai sebut.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Maksudnya :  seolah hadis  Anas yg menjelaskan adanya seorang sahabat sujud dengan sebagian pakaiannya  karena panas itu . Untuk yg terahir dari pada hadis  dimana sahabat mengadu kpd Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tanah yg panas untuk sujud.  Dan hal itu di putuskan tanpa menunjukkan data akurat mana diantara dua hadis itu  yg dulu dan yg terahir. Mestinya  sblm mengatakan spt itu ditunjukkan datanya. Hadisny sbb:

– حَدِيْثُ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  فِي شِدَّةِ الْحَرِّ، فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ وَجْهَهُ مِنَ الأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ

360.Anas ibnu Malik menuturkan: “Kami pernah shalat bersama Nabi saw pada hari yang sangat panas. Jika seorang di antara kami tidak dapat meletakkan wajahnya di tanah karena panas, maka ia menggelar kainnya di atas tanah dan ia dapat bersujud di atasnya.” (Bukhari, 21, kitabul ‘amal fish shalati, 9, bab menggelar kainnya ketika shalat untuk sujud).

شَكَوْنَا إلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شِدَّةَ حَرِّ الرَّمْضَاءِ فِي جِبَاهِنَا . وَأَكُفَّنَا فَلَمْ يَشْكُنَا

Kami mengadu kepada Rasulullah  S.A.W.    panas yang sangat di dahi dan tapak tangan  kami ,lalu beliau diam saja [1]

Anda menyatakan : Berlaku juga kaidah ushul fiqh di sini “menunda penjelasan ketika diperlukan itu tidak diperbolehkan”.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Hal  itu, kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tahu ada sahabat yg melakukan  sujud dengan kain bajunya. Bgmn bila  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tahu. Apalagi sahabat yg lain sekalipun keadaan panas, tanahnya juga panas tetap bersujud di tanah tanpa alas kain baju  dll.

Dan setelah kejadian tsb atau sebelumnya juga tidak ada kasus spt itu dlm keadaan  yg dingin atau panas sebagaimana  kebiasaan tanah gersang padang pasir.

Bila  hadis satu orang sahabat yg menjalankan  sujud dengan kain bajunya karena panas yg sangat dikerjakan di masjid yg dingin, maka sangat tidak tepat.

Masjidnya sdh dingin karena ada ac lalu sujud di karpet, tidak mau sujud di tanah dengan alasan mengikuti sahabat yg sujud di tanah panas dengan kain itu.

Anda menyatakan : Nah saya sudah jawab pertanyaan kyai kan ? Sekarang giliran saya donk.

Minta tolong 7 point tanggapan saya sebelumnya itu dibahas dengan detail dan “mencerahkan”. Kalau mau dirambah dengan “6 point catatan” saya juga gpp. Namun jika tdk juga gpp. Saya hanya nagih “hutang” saya kok kyai…

Komentarku ( Mahrus ali ):

Insya Allah semuanya telah dibantah. Silahkan jawab lagi.

[1] Muslim 619

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Notes FB Kyai Mahrus Ali ( 18 Agustus 2015) :

Alhamdulillaah ini masih nyambung dengan comment saya di tulisan kyai Mahrus Ali yang nomer 7.

Tidak mesti perowi yang meriwayatkan bersendirian itu dianggap haditsnya mungkar dan dhoif seperti keinginan kyai. Rasulullah mengerti akan hal itu dan berlakulah qaidah ushul fiqh “menunda penjelasan ketika diperlukan itu tidak diperbolehkan”.

Atau sekarang saya permudah lagi deh, yang melepas baju untuk dijadikan alas sholat itu hanya shahabat satu atau dua saja kan? Tidak semua shahabat kan?

Jika benar bahwa para shahabat itu diajari oleh rasulullah bahwa sholat tidak diatas tanah dan beralas kain itu dilarang dan tidak sah sholatnya, maka tentu shahabat yg ikut sholat disitu dan tidak melepas baju mengetahui perihal shahabat lainnya yg melepaskan bajunya untuk alas sholat.

Maka mengapa para shahabat itu tidak mengingkari perbuatan shahabat yg melepaskan baju dan dijadikan alas sholat itu? Atau ok lah kalau ada yg berkilah, “mungkin tidak mengingkari karena takut sama shahabat yang melepas baju itu”, walaupun sebenarnya ini hal yg tidak masuk akal. Karena disitu ada umar bin Khotthob yg tegas dan shahabat2 mujahid yg pemberani lainnya. Coba kita fikir bersama, apakah ini masuk akal shahabat yg lain mendiamkan saja jika benar rasulullah mengajari bahwa syarat sah sholat itu harus diatas tanah dan tidak boleh dialasi kain? Belum lagi Al Qur’an menyebutkan bahwa para shahabat itu adalah sebaik2 ummat, karena mereka selalu beramar ma’ruf nahi munkar. Apakah mungkin Firman Allah salah dalam mensifati shahabat sebagai ummat yg gemar amar ma’ruf nahi munkar, lha wong mengingkari shahabat yg menjadikan baju sebagai alas sholat aja dia takut?

Atau katakanlah, anggaplah benar jika itu karena takut dan ini mustahil. Maka mengapa para shahabat itu tidak laporan kepada rasulullah, kalau benar rasulullah mengajari bahwa sholat tidak di atas tanah dan beralaskan kain itu tidak sah sholatnya dan merupakan suatu kemungkaran yg harus diingkari sebagaimana yg dilakukan oleh Kyai Mahrus Ali?

Alhamdulillah,
Ini berarti kedelapan tulisan notes Fb kyai Mahrus Ali sudah saya bantah semua ya. Dan sebagaimana comment saya di tulisan kyai bagian 1 dan bagian 2, jawaban saya akan berputar masalah itu2 saja. Ini karena permasalahan ini tidak difahami dan dibantah dengan qaidah ushul fiqh dan qaidah fiqh yang benar, sehingga “secara ilmiah” hal ini masih belum terbantahkan

*****

Kyai Mahrus Ali Hafidzahulloh memberikan komentar terhadap saya (18 Agustus 2015) :

ittiba`lah jangan menebak – nebak, mereka – reka. Ikutilah sahabat yg banyak tanpa alas waktu sujud. Bila kamu hars ikut satu orang itu silahkan di tnh yg sangat panas bukan di masjid yg dingin. Mna keterangan sy yg menyalahi usul fikih ?Tunjukkan

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Kyai Mahrus Ali (18 Agustus 2015) :

Kyai Mahrus Ali, keterangan kyai yg menolak qaidah ushul fiqh “menunda penjelasan ketika diperlukan itu tdk diperbolehkan” dalam banyak tulisan kyai itu, sebagaimana yg saya sebutkan berulang2 kali, itu merupakan hal yg menyalahi ushul fiqh.

Ini belum ditambah masalah qaidah ushul fiqh masalah “Aam wa Khoss” masalah al ardh.

Tapi kalau kyai “tidak merasa”, maka walaupun sudah saya tunjukkan berkali2 di berbagai comment saya, maka tetap saja “tidak merasa”.

Kedua, mengenai perkataan kyai mengenai tuduhan “Menebak-nebak dan mereka-reka” maka ini salah satu bukti yg lain, bahwa kyai tidak memahami istidlal dengan berdasarkan qaidah ushul fiqh “menunda penjelasan ketika diperlukan itu tidak diperbolehkan”.

Advertisements

Diskusi dengan Kyai Mahrus Ali : Masalah “Sholat Wajib” Harus Dilakukan di Atas Tanah – bagian 10

Leave a comment

Tempat Diskusi : Di Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 7

Disini akan saya “copy-paste” notes FB yang dibuat oleh Kyai Mahrus Ali, dan juga komentar tanggapan saya dan Kyai sendiri di notes itu.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/notes/659770814160284/

*****

Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 7 (17 Agustus 2015) :

Anda menyatakan :

عَنْ   أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ   وَسَلَّمَ: “إِنَّ الدِّينَ يُسْر، وَلَنْ يَشادَّ الدينَ أَحَدٌ إِلَّا   غَلَبَهُ، فسَدِّدوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بالغُدْوة  وَالرَّوْحَةِ، وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلَجة” (رواه البخاريُّ وَفِي لَفْظٍ لِلْبُخَارِيِّ “وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوْا”)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) mudah, tidak ada seorang pun yang hendak menyusahkan agama (Islam) kecuali ia akan kalah. Maka bersikap luruslah, mendekatlah, berbahagialah dan manfaatkanlah waktu pagi, sore dan ketika sebagian malam tiba” (HR. Bukhari)

Komentarku ( Mahrus ali ):

Terjemahan itu ada yg salah. Yg benar sbb:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) mudah, tidak ada seorang pun yang hendak memberatkan agama (Islam) kecuali ia akan kalah. Maka bersikap luruslah, bersikaplah sederhana , berilah kabar gembira dan manfaatkanlah waktu pagi, sore dan ketika sebagian malam tiba” (HR. Bukhari

وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا،

Anda terjemahkan :

mendekatlah, berbahagialah

Yg benar adalah : bersikaplah sederhana , berilah kabar gembira

Anda menyatakan:

Berbeda dengan realita sosial pada zaman kita. Yang mana dimana-mana masjid dan bangunan itu telah ditegel, dikeramik, atau dikarpet. Maka akan memberatkan bagi kita jika harus mencari masjid yang dibangun dengan berlantai tanah. Jikapun ada, maka tidak setiap tempat ada, sedangkan waktu sholat itu terbatas.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Ini malah membingungkan.Untuk apa cari masjid yg berlantai tanah. Kita bisa menjalankan shalat dimana – mana. Sy dan jamaah sy bila mendatangi undangan pengajian di tempat yg jauh, maka  sy dan mereka  cukup berwudhu di masjid dan mencari tanah  yg bisa digunakan untuk shalat dg mudah sekali.

Ingatlah dalil ini:

حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ

Dimana saja  kamu menjumpai waktu salat telah tiba , salatlah dan bumi adalah tempat sujudmu [2]

Anda menyatakan lagi:

Maka dari itu janganlah sesuatu yang luas itu kita persempit. Sesungguhnya agama ini mudah….

Komentarku ( Mahrus ali ):

Sy ini menjalankan  sesuatu yg cocok dg tuntunan, lalu anda katakan mempersempit.

Sy menjalankan  yg mudah  dan cocok dengan tuntunan, lalu anda katakan mempersulit. Ini namanya  tidak paham dengan tuntunan. Pahamnya pd ilmu kebid`ahan.

Bia jalan kebid`ahan  anda katakan  luas , tdk mempersempit.

Anda menyatakan lagi :

Adapun untuk sholat wajib, khusus untuk hujjah bagi kyai harus kita berikan dengan hadits : 1. Rasulullah sholat wajib di atas mimbar kayu. 2. Para shahabat yang kepanasan ketika sholat berjamaah hingga melepaskan bajunya untuk alas sholat. 3. Shahabat Ka’ab bin Malik yang melakukan sholat wajib sendirian di atas loteng rumah, karena dia sedang di hajr (diboikot) oleh rasulullah dan para shahabat karena tidak ikut perang tabuk tanpa udzur.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Untuk point satu dan tiga sdh di jawab di atas, maka tdk perlu di terangkan lagi. Untuk menjawab point ke dua :” Para shahabat yang kepanasan ketika sholat berjamaah hingga melepaskan bajunya untuk alas sholat.”.

Dari perkataan anda sdh tampak kekeliruan. Anda menyatakan para sahabat yg melepaskan bajunya  untuk alas shalat ini jelas meng ada – ada, bukan memberikan keterangan apa adanya.

Sebab waktu itu hanya satu orang sj karena panas tanah yg di buat sujud Dan ini jawaban sy yg lampau sbb:

– حَدِيْثُ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  فِي شِدَّةِ الْحَرِّ، فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ وَجْهَهُ مِنَ الأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ

360.Anas ibnu Malik menuturkan: “Kami pernah shalat bersama Nabi saw pada hari yang sangat panas. Jika seorang di antara kami tidak dapat meletakkan wajahnya di tanah karena panas, maka ia menggelar kainnya di atas tanah dan ia dapat bersujud di atasnya.” (Bukhari, 21, kitabul ‘amal fish shalati, 9, bab menggelar kain ketika shalat untuk sujud).

Komentarku ( Mahrus  ali ):

Keadaan tanah yang sangat panas, bukan dingin seperti di masjid yang berkarpet. Panasnya adalah panas padang pasir bukan panasnya kota Malang Jawa timur. Para  sahabat dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tetap  menjalankan salat berjamaah di tanah yang sangat panas itu tanpa tikar, hanya  salah seorang di antara mereka yang menggelar pakaiannya untuk bersujud karena tidak tahan. Sebab, biasanya  dia menjalankan salat seperti sahabat yang lain tanpa  kain yang dihamparkan dimukanya.

Perbuatan satu orang yang menghamparkan bajunya untuk sujud ini karena tanahnya sangat panas tidak bisa di buat landasan  untuk memperbolehkan menggelar karpet di masjid yang udaranya sederhana , kadang dingin, kadang sangat dingin.

Entah Rasulullah Shallallaihi wa sallam  tahu  atau tidak. Buktinya tidak ada keterangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  mengetahuinya.

Bila kita berpegangan hadis itu untuk memperbolehkan karpet di masjid maka sangat keliru. Keadaan di masjid dengan padang pasir yang sangat panas  itu berbeda.

Dalam keadaan  yang udaranya  tidak terlalu panas, tiada satupun sahabat yang berjamaah dengan beliau menggunakan kain untuk sajadah, sedang kita tiap hari menggunakan karpet untuk shalat.

Bacalah hadis ini untuk renungan lagi:

Khobbab bin Al arat  berkata :

شَكَوْنَا إلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شِدَّةَ حَرِّ الرَّمْضَاءِ فِي جِبَاهِنَا . وَأَكُفَّنَا فَلَمْ يَشْكُنَا

Kami mengadu kepada Rasulullah  S.A.W.    panas yang sangat di dahi dan tapak tangan  kami ,lalu beliau diam saja [1]

Anda menyatakan lagi :

Itu masih bisa diperdebatkan kyai Mahrus Ali (baca : debat-able). Rasulullah itu bukan manusia biasa, beliau mempunyai mu’jizat tahu apa yg terjadi di belakang beliau.

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَا هُنَا وَاللَّهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ وَلَا خُشُوعُكُمْ وَإِنِّي لأَرَاكُمْ وَرَاءَ ظَهْرِي

Telah menceritakan kepada kami Isma’il, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Abu al-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah RA bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “kalian lihatkah arahku? Demi Allah sekalipun kalian ada di belakangku, tidak ada yang kelihatan. Rukuk kalian kulihat, khusyu’ kalian pun kulihat. Karena aku dapat melihat apa yang ada di belakangku.” (Hadis ini di riwayatkan juga oleh Muslim, hadis no. 643: Ahmad, hadis no. 6901, 7031, 7681, 7907, 8416, 8522, 8571, 9420 dan 10161: Malik, hadis no. 361.)

Komentarku ( Mahrus ali ):

Hadis  tsb perlu dikaji karena ada kejanggalan sbb.

Hadis  dengan redaksi  tsb hanya diriwayatkan oleh perawi tunggal .

–        أخرجه مالك ((الموطأ)) ]] 121. و ((الحُمَيدي)) ]] 961 قال: حدَّثنا سفيان. و ((أحمد)) ]] 2/244 (7329) قال: قُرئ على سفيان. وفي 2/303 (8011) قال: قرأتُ على عبد الرحمن: مالك. وفي 2/365 (8756) قال: حدَّثنا حسين، قال: حدَّثنا سفيان، يعني ابن عيينة. وفي 2/375 (8864) قال: حدَّثنا إسحاق بن عيسى، حدَّثنا مالك. و ((البُخاري)) ]] 418 قال: حدَّثنا عبد الله ين يوسف، قال: أَخْبَرنا مالك. وفي (741) قال: حدَّثنا إسماعيل، قال: حدثني مالك. و ((مسلم)) ]] 889 قال: حدَّثنا قتيبة بن سعيد، عن مالك بن أنس. و ((أبو يَعْلَى)) ]] 6335 قال: حدَّثنا داود بن عمرو الضبي، حدثنا ابن أبي الزناد. و ((ابن حِبَّان)) ]] 6337 قال: أَخْبَرنا عمر بن سعيد بن سنان، قال: أَخْبَرنا أحمد بن أبي بكر، عن مالك.

–        ثلاثتهم (مالك، وسفيان بن عيينة، وابن أبي الزناد) عن أبي الزناد، عن الإعرج، فذكره.

Intinya  hadis dg redaksi seperti itu hanya dari Abu Hurairah ra  dari al a`raj dari Abuz Zinad . Dia adalah tingkat ke lima dari Yunior Tabiin , wafat  pd tahun 130 H. [2]

Jadi hadis  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui sahabatnya  dari belakang punggung nya waktu rukuk itu di kalangan sahabat tdk di kenal, ganjil sekali, tidak populer. Bahkan  mereka tidak ada yg tahu hadis itu sampai mati mines Abu Hurairah . Bahkan dimasa tabin , hadis itu masih ganjil, tidak diketahui, nyeleneh sekali . Mereka  tidak paham hadis itu mines al a`raj.

Hadis yg sedemikian ini dikatakan lemah karena tafarrud, Ya`ni hanya satu orang sj di kalangan yunior tabiin setelah seratusan tahun hijriyah.Bila dikuti , kita  ikut satu orang , bukan dua atau tiga. Kita ikut sahabat yg banyak yg tdk paham hadis itu sj lebih baik dari  pd ikut satu orang. Ber arti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tdk mengerti dan tdak tahu orang  di belakangnya sebagaimana  nabi – nabi  yg lain.

Dari segi redaksi hadis juga terjadi kejanggalan, redaksinya kacau  sbb:

–        المسند الجامع (16/ 725)

–         (أَتَرَوْنَ قِبْلَتِي هَاهُنَا؟ فَوَاللهِ مَا يَخْفَى عَلَىَّ خُشُوعُكُمْ وَلاَ رُكُوعُكُمْ، إِنِّي لأَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي.) ”

–         1.Adakah kalian melihat  kiblatku disini . Khusyu` dan rukukmu tidak samar bagiku ( jelas sekali ) . Sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku  HR Bukhari 408 dan Muslim  424 .

–        وفي رواية: ” (تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَذِهِ؟ فَمَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ وَلاَ خُشُوعُكُمْ، أَوْ رُكُوعُكُمْ وَلاَ سُجُودُكُمْ.)

–         2. Kalian melihat kiblatku disini. Rukuk dan khusyu`mu atau rukuk dan sujudmu  tidak samar bagiku.  Musnad al Humaidi sahih

–         Komentarku ( Mahrus ali ):

–         Dalam  redaksi kedua ini tidak menggunakan  pertanyaan ( adakah ) , juga tidak pakai sumpah ( maka  demi Allah ) ada  tambahan sujudmu tdk samar bagiku . Lantas kalimat” Sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku” tidak ada.

–         Dari satu perawi redaksinya  kok beda banget. Bukan beda sedikit.

–         “.

–        وفي رواية: ” (إِنِّي لأَرَى خُشُوعَكُمْ.) “.

–         Menurut salah satu riwayat : Sesungguhnya aku tahu  khusyu`mu “.

–        مسند أحمد بن حنبل – غير مشكول (2/ 244)

–        إسناده صحيح على شرط الشيخين

–         Sanadnya sahih menurut sarat perawi Bukhari  dan Muslim dlm dua kitab sahihnya.

وفي رواية: ” (هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَا هُنَا، فَوَاللهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ وَلاَ سُجُودُكُمْ، إِنِّي لأَرَاكُمْ وَرَاءَ ظَهْرِي.) ”

Adakah kalian melihat  kiblatku disini .  rukukmu dan sujudmu tidak samar bagiku ( jelas sekali ) . Sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku.  HR Bukhari

Komentarku ( Mahrus ali ):

Tiada kata  khusyu`mu sebagaimana di riwayat  lain.

Disini  menggunakan kalimat tanya ( هل dan kalimat itu tdk ada  di riwayat lain. Ia tambahan atau  gantian.

Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui orang dibelakangnya  tdak bisa dibuat pegangan, tidak  usah dipercaya, dustakan sj. Anggaplah ia kedustaan . Bila di sahihkan, maka  redaksinya kacau. Satu riwayat  degan yg lain kacau sekali, tdk saling mendukung bahkan saling menyalahkan. Kita kembali kpd pakem dlm ilmu musthalah

وَذُو اخْتِلاَفِ سَنَدٍ أَوْ مَتْنٍ    مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَيْلِ اْلفَنِ

Kekacauan sanad atau redaksi termasuk mudhtharib menurut ahli mustholah hadis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tahu  hati para sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tahu mereka husyu` atau tidak. Pada  hal isi hati itu bukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tahu tp Allah. Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerti  kekhusyu` an para sahabat dlm shalat dari belakang punggung  beliau, apalagi dari depan  atau ketika para  sahabat berada di muka beliau. Maka akan lebih tahu , lebih paham hati mereka . Hal  sedemikian ini bila dipercaya, kita akan bertentangan dengan al quran – ayat sbb:

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ اْلأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ(101) وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ اْلأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

“Dan antara orang-orang Arab yang di sekeliling kamu, mereka adalah orang-orang munafik; dan sebahagian daripada penduduk Kota menjadi berani dalam kemunafikan. Kamu tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahui mereka, dan Kami akan mengazab mereka dua kali, kemudian mereka dikembalikan kepada azab yang besar.” (9:101)  – Tobat 101.

Ternyata  dlm ayat tsb di jelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tdk mengerti orang – orang munafik disekitar beliau, apalagi mengetahui isi hati mereka.

زهرة التفاسير (7/ 3430)

بعض من حولكم من الأعراب منافقون أتقنوا النفاق وأجادوه، حتى إنهم ليحسنون إخفاء ما في بطونهم، فلا تعرفهم في لحن القول،

Sebagian kaum arab di sekitarmu adalah munafik – munafik yg lehai  dlm memendam kemunafikannya , mereka pandai sekali, hingga mereka bisa menyimpan apa yg terdapat dlm perut mereka ( hati mereka ) . Karena itu , kamu tidak mengetahui  isi perkataan mereka ( daeleknya ).  Zahratut tafasir 3430/7

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tdk mengerti isi hati kaum munafikin menurut keterangan ayat tobat 101 itu. Pada hal hadis dari Abu Hurairah tadi menyatakan bahwa beliau mengetahui husu dan tidak nya hati para sahabat yg menjalankan shalat di belakang beliau. Ini kontradiksi yang sangat, tidak bisa dipersatukan.

Bila hadis itu dikatakan sahih, maka ayat ini harus dibuang dan membuang ayat berat sekali, bisa jadi kufur tdk muslim lagi.

Syaik As suba`I telah merumuskan tanda kelemahan hadis  sampai  tujuh belas point.

Yang nomer sembilan sbb:

9ـ ألا يخالف القرآن

“Hadis itu harus tdk bertentangan  dengan al quran” .

Bila hadis tsb mash disahihkan , maka mana yg kita ambil , al qurannya atau hadisnya. Mengetahui  isi hati  itu termasuk salah satu sifat Allah bukan manusia. Dlm suatu ayat Allah menyatakan:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Ghafir 19.

Menurut  hadis tsb, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sujud tahu para sahabat bersujud. Ini tambah aneh.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri tahu sahabat di belakangnya aneh, tapi tambah aneh lagi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud menghadap ke tanah, lalu tahu para  sahabat sujud seolah pantat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam punya dua mata yg tdk tampak.

Anehnya lagi  hadis tsb malah dibuat pegangan bolehnya sujud di tikar, kain, karpet atau keramik. Pada hal, ia hadis lemah yg bertentangan dengan isi al quran.

[1] Muslim 619

[2] Mausuah ruwatil hadis. 3302

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Notes FB Kyai Mahrus Ali ( 18 Agustus 2015) :

Perkataan mengenai perowi yg bersendirian ini, maka comment saya simple dan seperti comment saya sebelumnya. Bersendiriannya seorang perowi itu bukan berarti hadits itu tidak shohih, sepanjang perowi itu tsoqoh dan dhobit, serta tidak ada jarh khusus bahwa perowi tersebut munkar haditsnya jika dia meriwayatkan sendirian.

Senjata kyai Mahrus Ali untuk masalah hadits yg dianggap tafarrud itu tampaknya harus dipertajam lagi kyai. Jangan sampai hanya kyai sendiri yang mendhoifkan hadits tersebut karena terburu nafsu untuk memenangkan pendapat kyai, sedangkan banyak ulama ahli hadits lainnya mengatakan bahwa hadits itu shohih.

Diskusi dengan Kyai Mahrus Ali : Masalah “Sholat Wajib” Harus Dilakukan di Atas Tanah – bagian 9

Leave a comment

Tempat Diskusi : Di Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 6

Disini akan saya “copy-paste” notes FB yang dibuat oleh Kyai Mahrus Ali, dan juga komentar tanggapan saya dan Kyai sendiri di notes itu.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/notes/659768117493887/

*****

Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 6 (17 Agustus 2015) :

Anda menyatakan lagi:

Mafhum kita semua bahwa loteng rumah itu di atas dan tidak menyentuh tanah. Dan setekah turun beberapa surat At-Taubah yang mana Allah memaafkan Kaab bin Malik dan membebaskan dari tuduhan munafik, maka Allah dalam firman Nya dan juga Rasulullah setelah ditemui oleh Ka’ab bin Malik sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa sholat Ka’ab yang dilakukan secara munfarid (sendiri) di atas loteng itu tidak sah, haram, dan harus di qodho dengan sholat lagi di atas tanah.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Sayang  sekali hadisnya lemah karena redaksinya  kacau belau dan sanadnya terjadi tafarrud  pd Ibn Syihab . Jadi  tdk bisa dibuat pegangan, lepaskan sj.

Anda menyataan lagi:

Padahal kalau kita cermat melihat hadits masalah sholatnya rasulullah di atas mimbar kayu, dan juga sholatnya Kaab bin Malik, maka hal itu tidaklah sebagaimana “pemahaman” yang diinginkan oleh Kyai.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tadi tdk bisa dibuat hujjah untuk bolehnya shalat di sajadah. Sebab , saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sujud di tanah, bukan di mimbar. Lalu bagaimana  di buat pegangan untuk bolehnya sujud di tikar karpet dll.

Mestinya shalat dimibar dan sujudnya di tanah bisa dibuat pegangan untuk keharusan sujud di tanah, bukan malah  diperbolehkan  shalat di tikar.

Rasulullah SAW   pernah melakukan salat di atas mimbar, ma`mum di belakangnya  dan di bawah. Katika akan sujud  Rasulullah SAW   mundur  lalu bersujud di atas tanah .

ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى فَسَجَدَ عَلَى الْأَرْضِ

Rasulullah SAW  mundur lalu bersujud di atas tanah. [1]

َِوَضْعُهُمَا فِي السُّجُودِ عَلَى الْأَرْضِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ

Dua tangannya waktu sujud di atas tanah  sejajar dengan dua pundaknya [2]

وَقَالَ يَزِيدُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ يَضَعُ أَنْفَهُ عَلَى الْأَرْضِ إِذَا سَجَدَ مَعَ جَبْهَتِهِ *

Yazid ra  berkata : “ Aku melihat Rasulullah SAW  meletakkan  hidungnya di atas tanah ketika bersujud dengan dahinya . [3]

Anda menyatakan lagi :

Apalagi pembedaan itu sebenarnya tidak pernah diterangkan sendiri oleh rasulullah dalam sabda beliau.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Perbedaan  disini apa yg di maksud, kurang jelas .

Anda menyatakan lagi:

  1. Perihal sholatnya rasululloh diatas tanah, maka itu sebenarnya hanyalah “realita sosial” pada waktunnya. Bukan syarat sahnya sholat.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Anda menyatakan “bukan sarat sahnya shalat” ini perlu dalil dan anda tidak akan menjumpainya.

Masalah sah atau tidak sah –itu masalah fikih.

Kalau dlm hadis cukup perbuatan itu bid`ah atau ada tuntunannya. Shalat  di tikar itu adalah bid`ah. Kita berpegangan kpd hadis :

“مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ” رَوَاهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ،

Barang siapa yang bikin perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak termasuk di dalamnya  maka tertolak . HR Bukhari dan Muslim .

Bila shalat wajib  di tikar dikatakan cocok dg tuntunan, maka kita tdk punya dalil. Karena itu, Imam Malik menyatakan :

. وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ مَهْدِيٍّ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ بَسَطَ سَجَّادَةً فَأَمَرَ مَالِكٌ بِحَبْسِهِ فَقِيلَ لَهُ : إنَّهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ فَقَالَ : أَمَا عَلِمْت أَنَّ بَسْطَ السَّجَّادَةِ فِي مَسْجِدِنَا بِدْعَةٌ .

Sungguh telah di kisahkan bahwa Abd rahman bin Mahdi ketika datang ke Medinah menggelar sajadah , lalu Imam Malik memerintah agar di tahan ( dipenjara ) . Di katakan kepadanya  : “  Dia adalah  Abd Rahman bin mahdi  “

Imam Malik  menjawab :”  Apakah kamu tidak mengerti bahwa  menggelar sajadah dimasjid kami adalah bid`ah

Anda menyatakan:

Pada zaman itu umum orang mendirikan bangunan ataupun punya rumah dengan beralaskan tanah. Apakah orang arab waktu itu sudah mempeunyai teknologi untuk membuat tegel atau keramik? Adakah sumber daya alam, baik gunung atau dataran yang menyediakan bahan untuk membuat keramik atau marmer? Jika ada maka mengapa Saudi Arabia sekarang ini sejauh yang saya tau, mengimpor keramik atau marmer dari luar negri?

Komentarku ( Mahrus ali ):

Ini jawaban sy yg lalu ;

Anda menyatakan seperti itu karena anda tidak mengetahui sejarah Islam atau bangsa arab dan Banu Israil yang lampau. Mungkin anda pernah mendengar bahwa tikel Istana  Nabi Sulaiman dari kaca, bahkan istananya  juga dari kaca. Bila anda  tidak percaya , maka hakikatnya anda belum membaca al quran atau mengerti artinya . Boleh lihat ayat sbb :

قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.[5]

Untuk marmer, sebetulnya sudah ada sebelum Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan, lihat komentar sbb:

الرخام هو صخر كلسي متحول، يتكون من الكالسيت النقي جداً (شكل بلوري لكربونات الكالسيوم CaCO3). يستعمل في النحت، وكذلك يستعمل كمادة بنائية، وأيضاً في العديد من الأغراض الأخرى مثل إكساء الأرضيات والجدران وجدران الحمامات. وقد تكون تحت ظروف نادرة من الضغط والحرارة الهائلتين في جوف الأرض.

تشتهر عدة دول في إنتاجه منها، فلسطين، تركيا، إسبانيا، البرازيل وإيطاليا التي تعد في المرتبة الأولى.ومما يميزه أيضا تفاعله مع الأحماض وهو ينشأ في البيئات البحربة. إستعمال الرخام قد عرف خلال العصور القديمة التى عرفت المبانى والقصور الفاخرة المزينة بمشغولات وتماثيل من الرخام، وقد سجل التاريخ أن الرخام كان يستعمل في إستعمالات كثيرة في جميع العصور التى عرفت المدنية. وقد وصف هيرودوت أهرامات الجيزة بأنها مكسية من الرخام المجلى الذى أكسبها جمالا وعظمة، وقد ذكر في التوراة أن الرخام استخدم في بناء معابد أورشليم ، زهذا يثبت أن الرخام قد عرف من أكثر من ألاف السنين قبل الميلاد. وكان الرخام وسيلة الفنانين في التعبير سواء في فن المعمار أوالنحت ومبانى اليونان القديمة وتماثيل روما وقد عرف الفراعنة الرخام في مصر منذ أكثر من 5 ألاف سنة فقد أستخدم في تكسية الأهرامات وفى بناء المعابد وقصور الملوك وتماثيلهم والمسلات وأعمدة المعابد .

http://ar.wikipedia.org/wiki/

Marmer adalah batu kapur mutan, terdiri dari kalsit yang sangat murni (bentuk kristal kalsium karbonat CaCO3). Digunakan untuk memahat, serta digunakan sebagai konstruktivisme, dan juga  banyak tujuan lain seperti membikin lantai tanah, melapisi dinding dan dinding kamar mandi. Mungkin dalam kondisi langka tekanan dan temperatur yang sangat  dari  bawah tanah. Beberapa negara terkenal dalam produksi marmer  seperti  Palestina, Turki, Spanyol, Brazil dan Italia  yang termasuk peringkat pertama. Termasuk kelebihannnya bisa berinteraksi dengan asam.  Ia  berasal dari lingkungan laut . Penggunaan marmer telah dikenal dimasa lalu untuk  bangunan, istana  mewah kuno  dihiasi dengan berbagai kerajinan dan  patung-patung dari  marmer,

وقد سجل التاريخ أن الرخام كان يستعمل في إستعمالات كثيرة في جميع العصور التى عرفت المدنية. وقد وصف هيرودوت أهرامات الجيزة بأنها مكسية من الرخام المجلى الذى أكسبها جمالا وعظمة،

Sejarah telah mencatat bahwa marmer sering  digunakan di berbagai hal dalam segala masa yang kenal peradaban . Herodotus menggambarkan Piramida Giza yang dilapisi dengan  marmer yang tampak jelas yang bisa membikin  keindahan dan kemegahan,

وقد ذكر في التوراة أن الرخام استخدم في بناء معابد أورشليم ،.

Disebutkan dalam kitab Taurat bahwa marmer  digunakan untuk membangun tempat ibadah di  Yerusalem,

وهذا يثبت أن الرخام قد عرف من أكثر من ألاف السنين قبل الميلاد. وكان الرخام وسيلة الفنانين في التعبير سواء في فن المعمار أوالنحت ومبانى اليونان القديمة وتماثيل روما

Ini  membuktikan bahwa marmer telah dikenal lebih dari ribuan tahun sebelum Masehi. Marmer sebagai sarana seniman – seniman dalam ekspresi baik dalam arsitektur atau memahat dan bangunan Yunani kuno dan patung-patung di  Roma

وقد عرف الفراعنة الرخام فيمصر منذ أكثر من 5 ألاف سنة فقد أستخدم في تكسية الأهرامات وفى بناءالمعابد وقصور الملوك وتماثيلهم والمسلات وأعمدة المعابد

Raja – raja Firaun telah mengenal marmer di Mesir selama lebih dari lima ribu tahun  digunakan dalam menghiasi piramida  dan membangun kuil ( tempat ibadah ) dan istana raja, patung-patung dan obelisk dan  tiang – tiang  kuil.

http://ar.wikipedia.org/wiki/

Komentarku ( Mahrus  ali ):

Marmer sudah ada sebelum Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  di lahirkan. Dan kelirulah anggapan orang bahwa masjid Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  berlantaikan tanah itu karena saat itu belum ada marmer. Itu adalah klaim kosong bukan klaim berbobot yang berlandaskan  data dan fakta. Ia hanyalah bertolak dari kebodohan tentang sejarah peradaban manusia.

Bahkan tempat – tempat Ibadah Yahudi juga di hiasi dengan marmer untuk tembok atau tiang – tiangnya. Hal  itu tidak di sebutkan dalam Injil masa Nabi Isa, tapi  sebelumnya jauh yaitu di sebutkan dalam kitab Taurat Nabi Musa alaihissalam.

Di masa kejayaan Islam dimana kekayaan kaum muslimin telah mencapai puncaknya karena mampu menaklukkan berbagai  negri, maka  untuk memasang marmer di masjidnya terlalu mampu. Tapi kaum muslimin saat itu tidak mau karena di anggap menyalahi aturan lalu masjidnya di biarkan berlantaikan tanah bukan karpat , marmer dll.

Bahkan di masa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , bila ingin membangun lantainya dengan marmer terlalu mampu. Biaya pemberangkatan perang dari harta dan tunggangan para mujahidin itu lebih besar   dari pada  sekedar membangun masjidnya dengan lantai marmer atau hambal.

Masarakat sekarang yang bisa membangun masjid dengan megah saja belum tentu mampu membiayai peperangan yang menelan biaya sangat banyak. Karena itulah, Allah menyebutkan  mujahidin  sebagai orang yang  menginfakkan  harta dan jiwanya di jalan Allah dalam salah satu firmanNya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.[4]

[1] Muttafaq alaih  , Bukhori 377

[2] Muslim

[3] HR  Ahmad  18377

[4] Al Hujurat 15

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Notes FB Kyai Mahrus Ali ( 18 Agustus 2015) :

Comment saya untuk tulisan kyai Mahrus Ali yg ke 6 ini :
1. Perkataan imam malik itu bukan dalil. Ini sudah saya sebutkan sebelumnya dalam pemahaman qaidah ushul fiqh bahwa “perkataan ulama itu bukan dalil, namun memerlukan dalil”.

Perkara imam Malik berpendapat bahwa menggelar sajadah di masjid itu bid’ah, maka itu hak beliau. Namun perkataan beliau boleh diterima dan boleh ditolak. Dan telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa di Nailul Author imam asy syaukani menyebutkan bahwa jumhur (mayoritas) ulama membolehkan sholat di atas kain, sajadah, bulu, dan semisal.

2. Untuk comment masalah marmer sudah ada sebelum rasulullah dilahirkan, maka mohon diperinci siapa kafilah dagang atau shahabat yg profesinya mengimpor batu marmer untuk dibawa ke mekkah dan madinah?

Kyai Mahrus Ali tampaknya kurang cermat memahami sejarah bahwa nabi Sulaiman itu berkedudukan di Palestina, yang mana palestina merupakan bagian dari syam waktu itu. Apakah mungkin kafilah dagang mengimpor batu marmer jauh2 dari Syam atau Palestina tepatnya, menuju ke makkah dan Madinah?

Coba kita fikir melalui logika sehat saja, apakah mungkin unta pada zaman rasul diberi beban batu marmer dan disuruh berjalan dari Palestina ke Makkah dan Madinah? Apakah secara itung2an dagang hal ini memungkinkan? Bisa2 malah diketawain oleh para kafilah yg lain disana.

Dari Palestina saja repot, apalagi jika kyai Mahrus Ali bersikeras untuk mengimport marmer dari negeri para firaun dengan harus menyeberangi laut merah dan ditumpangkan ke unta. Maka ini justru akan lebih ditertawakan lagi Kyai….

Diskusi dengan Kyai Mahrus Ali : Masalah “Sholat Wajib” Harus Dilakukan di Atas Tanah – bagian 8

Leave a comment

Tempat Diskusi : Di Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 5

Disini akan saya “copy-paste” notes FB yang dibuat oleh Kyai Mahrus Ali, dan juga komentar tanggapan saya dan Kyai sendiri di notes itu.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/notes/659766844160681/

*****

Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 5 (17 Agustus 2015) :

Realita riwayat “ Shalat di atas loteng “ redaksi hadis sangat berbeda antara yg satu riwayat degan riwayat lain, hingga sulit sekali untuk di pilih mana yg  asli dan yg palsu.

الجامع الصحيح للسنن والمسانيد (28/ 291)

(خ م) (قَالَ: فَبَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عَلَى الْحَالِ الَّتِي ذَكَرَ اللهُ , قَدْ ضَاقَتْ عَلَيَّ نَفْسِي , وَضَاقَتْ عَلَيَّ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ (3) سَمِعْتُ صَوْتَ صَارِخٍ أَوْفَى (4) عَلَى جَبَلِ سَلْعٍ بِأَعْلَى صَوْتِهِ: يَا كَعْبُ بْنَ مَالِكٍ , أَبْشِرْ , قَالَ: فَخَرَرْتُ سَاجِدًا , وَعَرَفْتُ أَنْ قَدْ جَاءَ فَرَجٌ) (5).

Ka`ab berkata: Ketika aku dalam ke adaan duduk  sesuai dengan kedaan yg telah disebutkan oleh Allah – sungguh aku   merasa sempit . Bumi yg luas inipun terasa  sempit , aku mendengar suara orang yg berteriak sangat keras di atas gunung Sal` : Wahai Ka`ab bin Malik : Bergembiralah “.

Ka`ab berkata: Lantas aku bersujud, aku tahu bahwa kegembiraan akan datang.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Dalam riwayat Bukari dan Muslim tsb tdk di cantumkan bahwa Kaab saat itu menjalankan shalat di atas rumahnya. Ber arti beda dengan  riwayat lain yang menyatakan saat itu Ka`ab bin Malik menjalankan shalat fajar di loteng. Perbedaan ini namanya idhthirab ( kacau matanya – redaksinya kacau belau dan tidak saling mendukung. Di situ bisa dimungkinkan bahwa Kaab berada di bawah rumahnya  bukan di atasnya.

Lihat al Jami` al sunan wal masanid 291/28.

تخريج أحاديث الكشاف (2/ 110)

فَلَمَّا تمت خَمْسُونَ لَيْلَة إِذا أَنا بِنِدَاء من ذرْوَة سلع أبشر يَا كَعْب بن مَالك فَخَرَرْت سَاجِد

Ketika telah mencapai lima puluh malam, tiba – tiba aku mendengar suara panggilan di puncak gunung Sal` : Bergembiralah  wahai Ka`ab bin Malik !. lalu aku bersujud. Lihat kitab Takhrij ahadis al Kassyaf  110/2.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Dlm hadis itu juga tidak ada keterangan bahwa saat itu Ka`ab bin Malik menjalankan shalat di atas rumahnya. Boleh jadi beliau saat itu di bawah rumah.

اللؤلؤ والمرجان فيما اتفق عليه الشيخان (ص: 857)

فَلَمَّا صَلَّيْتُ صَلاَةَ الْفَجْرِ، صُبْحَ خَمْسِينَ لَيْلَةً، وَأَنَا عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِنَا فَبَيْنَا أَنَا جِالِسٌ عَلَى الْحَالِ الَّتِي ذَكَرَ اللهُ، قَدْ ضَاقَتْ عَلَيَّ نَفْسِي، وَضَاقَتْ عَلَيَّ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ سَمِعْتُ صَوْتَ صَارِخٍ، أَوْفَى عَلَى جَبَلِ سَلْعٍ، بِأَعْلَى صَوْتِهِ

Ketika aku telah menjalankan  shalat fajar – yaitu pada subuh ke lima puluh malam, sedang aku di atas  salah satu rumah kita . Maka ketika aku  duduk   dengan kondisi yg di sebutkan oleh Allah . Sempitlah hatiku , bumi yg luas ini  terasa sempit. Aku mendengar suara orang yg berteriak yang sangat keras di atas  gunung  Sal`.

Al lu`lu` wal marjan  857.

Disini ada keterangan bahwa saat itu Kaab telah menjalankan shalat fajar di subuh yg ke lima puluh di atas  salah satu rumahnya.

Sedemikian ini mesti ada yg tambahan dan ada yg dikurangi. Mana yg benar dan mana yg salah. Dan in boleh dikatakan redaksi hadis masih kacau. Ia  tdk boleh dibuat pegangan tp lepaskan sj.

Kisah Kaab  itu diriwayat lain tidak ada keterangan bahwa Kaab menjalankan shalat fajar di atas salah satu rumahnya sbb:

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 320)

(خ) 2948

(خ) 3556

» , (خ) 3889

(خ) 3951

(خ) 4673

(خ) 4676

Riwayat Bukhari di kitab al musnad al Maudhui juga  di nomer yg telah  di sebutkan di atas  tidk ada  keterangan Kaab menjalankan shalat fajar  di atas salah satu rumahnya.

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 321)

(م) 54 – (2769)  (م) 55 – (2769)

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

(ت) 3102 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

(س) 731 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

(س) 3422 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

(س) 3423 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

(س) 3424 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

(س) 3425 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

(س) 3426 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

(د) 2202 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

(د) 4600 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 322)

1393 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 324)

(حم) 27175

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 324)

(حم) 27176

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 325)

(خ) 2757

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 325)

(خ) 6690

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 325)

(س) 3823 [قال الألباني]: صحيح

المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (7/ 325)

, (س) 3824 [قال الألباني]: صحيح

Begitu juga menurut riwayat Muslim , Nasai, Tirmidzi , Abu Dawud dan Imam Ahmad di nomer – nomer di atas  meriwayatkan kisah Ka`ab bin Malik tp tidak ada riwayat yg menyatakan saat itu Ka`ab menjalankan shalat di atas loteng.

Jadi  hadis  tsb dinilai kacau redaksinya karena beda sangat kisahnya  tentang kisah Ka`ab itu. Hal ini dinamakan hadis yg lemah bukan hadis  sahih. Bila disahihkan juga sulit riwayat yg mana yg sahih. Nanti akan membuang  satu riwayat dan mengambil yg lain. Kita kembali kpd pakem ahli hadis  sbb:

وَذُو اخْتِلاَفِ سَنَدٍ أَوْ مَتْنٍ    مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَيْلِ اْلفَنِ

Kekacauan sanad atau redaksi termasuk mudhtharib menurut ahli mustholah hadis.

Bila hadis  itu disahihkan juga bertentangan dengan hadis perintah shalat di tanah dan realita prilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yg menjalankan shalat wajib di tanah tanpa  tikar.

Ini perintahnya:

وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ  أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ

Bumi di jadikan  tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki  yang   menjumpai waktu salat   , salat lah ( di tempat itu ) ………( HR Bukhori /Tayammum/ 335. Muslim / Masajid dan tempat salat  /521 )

حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ *

Dimana saja  kamu menjumpai waktu shalat  telah tiba , shalat lah dan bumi (( bukan sajadah, keramik atau karpet )  adalah tempat sujudmu Muttafaq alaih  , Bukhori 811

Dua hadis itu memerintahkan agar menjalankan shalat wajib di tanah. Bila tdk dijalankan sama dengan menyalahi perintah.Ingat ayat ini:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahRasullullah SAW takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.[1]

Dan kisah Kaab bin Malik  menjalankan shalat di loteng itu bila di buat pegangan tidak bisa di benarkan, harus disalahkan.

Ia adalah perbuatan seorang sahabat mungkin salah mungkin benar.  Harus benar juga tidak boleh. Bgmn  bila  perbuatan Kaab itu salah. Apalagi kisah itu lemah.

Ali ra  berkata :

مَا كُنْتُ لِأَدَعَ سُنَّةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِ أَحَدٍ *

Aku  tidak akan meninggalkan sunah Nabi  S.A.W.    karena  perkataan orang “. [1]

: تُوشِكُ أَنْ تُنْزَلُ عَلَيكُمْ حِجارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ… أَقُوْلُ قَالِ رَسُولُ اللهِ ( صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّمَ ) وَتَقُولُونَ قَالِ أَبُو بَكَرَ وَعُمَرُ ؟!

Hampir sj  turun atasmu batu dari langit… Aku berkata: Rasulullah (saw)  bersabda dan Anda mengatakan, Abu Bakar dan Umar?

Bila kita ikut  shalat kaab itu , maka kita akan menyelisihi shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya ketika berjamaah tanpa  tikar.

[1] Annur 63

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Notes FB Kyai Mahrus Ali ( 18 Agustus 2015) :

Comment saya masih sama seperti comment saya dalam tulisan kyai Mahrus Ali di bagian ke 4 yang telah lalu, hendaklah merujuk ke comment saya yang simple itu

Diskusi dengan Kyai Mahrus Ali : Masalah “Sholat Wajib” Harus Dilakukan di Atas Tanah – bagian 7

Leave a comment

Tempat Diskusi : Di Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 4

Disini akan saya “copy-paste” notes FB yang dibuat oleh Kyai Mahrus Ali, dan juga komentar tanggapan saya dan Kyai sendiri di notes itu.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/notes/659765157494183/

*****

Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 4 (17 Agustus 2015) :

Anda menyatakan :

. Rasulullah mengajarkan sholat secara terperinci kepada para shahabat, dibandingkan terhadap diri kita. Jika benar rasulullah mengajarkan dengan memberikan syarat “harus di atas tanah” maka tentu tidak akan ada shahabat yang berani untuk menyelisihinya.

Akan tetapi ternyata ada hadits panjang dari Ka’ab bin Malik radhiyalloohu ‘anhu yang mana ketika beliau ditahdzir dan dihajr (diboikot) oleh rasulullah dan para shahabat karena tidak ikut perang tanpa udzur, beliau bahkan tidak boleh ikut sholat jamaah di masjid, maka beliaupun sholat di loteng rumah beliau. (Hr. Bukhari Muslim).

Komentarku ( Mahrus ali ):

Sangat keliru  bukan agak benar.

Bila  anda katakan bahwa Ka`ab bin Malik dilarang mengikuti jamaah.

Ber arti beliau selama  50 malam tidak diperbolehkan berjamaah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mana hadis yang menyatakan spt itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau anda membikin kebohongan atas nama  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tdk melarang berjamaah , lalu kamu katakan  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya . Ini bahaya sekali. Lihat hadis sbb:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ

مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya berbuat bohong kepadaku tidak sebagaimana  kebohongan kepada seseorang . Barang siapa berbuat kedustaan  kepadaku dengan sengaja bertempatlah di tempat duduknya di neraka ( masuk nerakalah ) [1]

Data yg ada dlm sahih Bukhari sbb:

المختصر النصيح في تهذيب الكتاب الجامع الصحيح (4/ 214)

وَأَمَّا أَنَا فَكُنْتُ أَشَبَّ الْقَوْمِ وَأَجْلَدَهُمْ، فَكُنْتُ أَخْرُجُ فَأَشْهَدُ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُسْلِمِينَ وَأَطُوفُ فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ، وَآتِي رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (فَأُسَلِّمُ عَلَيْهِ) (1)

, وَهُوَ فِي مَجْلِسِهِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَأَقُولُ فِي نَفْسِي: هَلْ حَرَّكَ شَفَتَيْهِ بِرَدِّ السَّلَامِ عَلَيَّ أَمْ لَا، ثُمَّ أُصَلِّي قَرِيبًا مِنْهُ فَأُسَارِقُهُ النَّظَرَ، فَإِذَا أَقْبَلْتُ عَلَى صَلَاتِي أَقْبَلَ إِلَيَّ، وَإِذَا الْتَفَتُّ نَحْوَهُ أَعْرَضَ عَنِّي،

Adapun sy, maka  paling muda dan paling kuat. Aku keluar, aku menghadiri  shalat bersama kaum muslimin , aku berkeliling di pasar – pasar, tiada orang yg mengajak bicara padaku. Aku datang kpd Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku membaca salam padanya  sedang beliau  di tempat duduknya setela shalat . Aku berkata dalam hatiku : Apakah beliau menggerakkan dua bibirnya  untuk menjawab salamku atau tidak.

Lantas aku menjalankan shalat dekat beliau, aku mencuri pandangan .

Bila aku melakukan shalat , beliau memandang aku . Bila aku mnoleh padanya , beliau berpaling.  HR Bukhari.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Dalam  sahih bukhari di jelaskan bahwa Ka`ab bin Malik melakukan shalat berjamaah. Tpi anda dengan perkiraan belaka, berani menyatakan bahwa saat itu Ka`ab bin Malik  dilarang  menjalankan shalat berjamaah adalah bertentangan dengan data itu.

Bisakah dibenarkan perkataanmu tanpa dalil  itu bahkan bertentangan  dengan  dalil. Jadi keterangan anda itu hrs di salahkan.

Bila  dalil itu di anggap tdk akurat, maka bisa ditanyakan sbb:

Apakah mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mereka untuk menjalankan shalat berjamaah . Pada hal shalat jamaah itu diperintahkan  oleh Allah dalam ayat:

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum ber salat  , lalu ber salat  lah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.[2]

Sekalipun situasi gawat di fron peperangan, jama`ah masih  diperintahkan, apalagi dalam situasi aman sentosa. Di ayat lain ,Allah berfirman :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku. [3]

Tiada sahabat yang ketinggalan jama`ah kecuali orang munafik  sebagaimana atsar :

Ibnu Mas `ud ra berkata :

لَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ أَوْ مَرِيضٌ إِنْ كَانَ الْمَرِيضُ لَيَمْشِي بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِيَ الصَّلَاةَ

Sungguh kami melihat kenyataan di kalangan kami ( para sahabat )selalu mengikuti salat Jamaah ,tiada yang ketinggalan kecuali orang munafik yang terkenal kemunafikannya  atau orang sakit . Sungguh ada orang sakit lalu  pergi ke salat jamaah dengan   bersandar di antara dua orang  lelaki . Beliau berkata : “  Sesungguh Rasulullah  S.A.W.    telah mengajarkan  ajaran – ajaran petunjuk . Diantaranya adalah  berjamaah  di masjid yang mengumandangkan azan . [4]

Anda menyatakan

maka beliaupun sholat di loteng rumah beliau. (Hr. Bukhari Muslim

Komentarku ( Mahrus ali ):

Mari kita kaji sanad hadis  tsb:

Dari sisi  sanad nya sbb:

السنن الكبرى للبيهقي (2/ 517)

3 – أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أنبأ أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، أنبأ عُبَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ، ثنا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، ثنا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ كَعْبٍ، وَكَانَ قَائِدَ كَعْبٍ مِنْ بَنِيهِ حِينَ عَمِيَ

مسند أبي داود الطيالسي (2/ 291)

–        حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ أَبِي الْأَخْضَرِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ

–        المعجم الكبير للطبراني (19/ 46)

–        91 – حَدَّثَنَا أَبُو شُعَيْبٍ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْحَسَنِ الْحَرَّانِيُّ، ثنا أَبُو جَعْفَرٍ النُّفَيْلِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ: فَذَكَرَ الزُّهْرِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبٍ الْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ السُّلَمِيِّ، أَنَّ أَبَاهُ عَبْدَ اللهِ بْنَ كَعْبٍ

–        صحيح البخاري -ت عبد الباقي (10/ 505)

–        – حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ

–         Komentarku ( Mahrus ali ):

–         Hadis tentang  keterangan bahwa Ka`ab bin Malik  menjalankan shalat di loteng itu dari satu orang yaitu Ibnu Syihab al Zuhri . Dia tingkat 4 setelah pertengahan tabiin . Wafat pd tahun 125 H.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Jadi sampai seratusan tahun hijriyah hadis  tentang Kaab bin Malik  menjalankan shalat di loteng itu masih di anggap gharib, nyeleneh, ganjil, tidak populer. Kebanyakan sahabat sampai mati tidak mengerti  hadis itu. Begitu juga  tabiin.

Bila  ia terkenal sekarang dan  dahulu ia  adalah hadis munkar dan nyeleneh, lalu di buat pegangan untuk memperbolehkan shalat diloteng. Maka ia adalah pegangan yg rapuh, bukan  kuat.

Kalau dia menjalankan shalat diloteng, dia tdk  berjamaah subuh dan sangat rugilah.

Guru Ibnu Syihab  bernama Abd Rahman bin  Abdillah punya murid tiga belas, tp mengapa yg mengerti hadis  yg panjang sekali atau kisah yg sengat panjang itu hanya seorang diri – yaitu Ibnu Syihab . Lihat murid yg selevel dgnya  sbb:

قال المزى فى “تهذيب الكمال”  روى عنه:

  1. إسحاق بن عبد الله بن أبى فروة
  2. إسحاق بن يسار ، والد محمد بن إسحاق
  3. أبو أمامة أسعد بن سهل بن حنيف ( د ق ) ، و هو أكبر منه
  4. سعد بن إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف ( م تم س )
  5. صالح بن رستم أبو عامر الخزاز
  6. عبد الله بن عبد الرحمن بن كعب بن مالك ( ابنه )
  7. العلاء بن عبد الرحمن بن يعقوب
  8. كثير بن زيد الأسلمى ( بخ )
  9. كعب بن عبد الرحمن بن كعب بن مالك ( ابنه )
  10. محمد بن مسلم بن شهاب الزهرى ( خ د ت س ق )
  11. هشام بن عروة
  12. يعقوب بن أبى سلمة الماجشون .

Imam Abu Hanifah menyatakan  sinyal kelemahan hadis adalah perawi secara  sendirian meriwayatkan hadis  bukan sahabat yg lain .

3ـ ألا يكون فيما تعم به البلوى العلمية أو العملية، أي أن المحدث يتفرد بحديث في حين سائر الصحابة لا يعلمون مع أنه من الأمور العلمية العامة

  1. Agar tidak termasuk musibah ilmiyah atau amaliyah yg umum – yaitu  seorang perawi  hadis menyampaikan  hadis secara  sendirian. Pada  hal sahabat yg lain  tidak mengetahui. Dan ia termasuk masalah ilmiyah yg umum. http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=152431

Abdul hay al luknowi berkata:

فكثيراً ما يطلقون النكارة على مجرَّد التَّفرُّد،

Sering kali mereka menyatakan  hadis munkar disebabkan tafarrud saja . ( satu perawi yang meriwayatkan bukan dua atau tiga ).

د . ماهر ياسين الفحل

ملاحظة1: قال الشيخ الطريفي: إذا قال الإمام أحمد (حديث منكر) أي موضوع، وإذا قال (منكر) بدون لفظة (حديث) فالمراد به ((الغرابة)) أو ((المخالفة)).

ملاحظة2: قال الحافظ في قول الإمام (منكر الحديث) هذه اللفظة يطلقها أحمد على من يُغْرِبُ (أي يتفرد وإن لم يخالف) على أقرانه بالحديث.

DR Mahir Yasin al Fuhl menyatakan :

Perhatian :

Syaikh  Al Tharifi berkata: Bila Imam Ahmad berkata: Hadis munkar – maksudnya palsu. Bila berkata  Munkar tanpa  kalimat hadis, maksudnya  Gharib ( nyeleneh ) atau Mukhalafah  – menyalahi

Perhatian ke dua .

Al Hafidh  berkata tentang perkataan Imam Ahmad :  Hadis munkar > Kalimat ini di katakan oleh Imam Ahmad  untuk  perawi yg menyampaikan hadis yg gharib / nyeleneh  – dia  sendiri yg meriwayatkan  sekalipun tidak menyalahi kpd teman semasanya   dlm meriwayatkan hadis.

Sumber:

المصدر : محاضرات في علوم الحديث د. ماهر ياسين الفحل

http://www.startimes.com/f.aspx?t=33294917

[1] Muttafaq alaih .

[2] Annisa` 102

[3] Al Baqarah 43

[4] HR Muslim  654.

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Notes FB Kyai Mahrus Ali ( 18 Agustus 2015) :

Untuk seri keempat ini, maka komentar saya simple : mohon disebutkan ulama yang menjarh ibnu syihab az zuhri “bahwa jika beliau bersendirian dalam meriwayatkan hadits, maka hadits yg diriwayatkan az zuhri itu munkar dan dhoif”.

Jangan sebutkan qaidah umum yang dimaksudkan untuk menggiring kepada hal yang diinginkan kyai Mahrus Ali saja.

*****

Kyai Mahrus Ali Hafidzahulloh menanggapi komentar saya (18 Agustus 2015) :

Imam Abu Hanifah menyatakan sinyal kelemahan hadis adalah perawi secara sendirian meriwayatkan hadis bukan sahabat yg lain .
3ـ ألا يكون فيما تعم به البلوى العلمية أو العملية، أي أن المحدث يتفرد بحديث في حين سائر الصحابة لا يعلمون مع أنه من الأمور العلمية العامة
3. Agar tidak termasuk musibah ilmiyah atau amaliyah yg umum – yaitu seorang perawi hadis menyampaikan hadis secara sendirian. Pada hal sahabat yg lain tidak mengetahui. Dan ia termasuk masalah ilmiyah yg umum. http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=152431
وَإِطْلاَقُ الْحُكْمِ عَلَى التَّفَرُّدِ بِالرَّدِّ وَالنَّكَارَةِ أَوِ الشُّذُوْذِ مَوْجُوْدٌ فِي كَلاَمِ كَثِيْرٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيْثِ
Mengghukumi perawi yang secara sendirian meriwayatkan agar riwayatnya tertolak , dikatakan mungkar , syadz memang ada dlm perkataan kebanyakan ahli hadis . Ulumul hadis 12/1

Sy masih berpegangan kpd perkataan ulama hadis yg dahulu yg menyatakan tafarrud sebuah kemunkaran dlm riwayat hadis. Baik zuhri atau lainnya.
Dalam keterangan itu juga tdk ada kecuali fulan atau fulan.
Apalagi redaksi hadisnya kacau dan bertentangan dengan sunnah Rasul dlm hal sahalat wajib.
Yg penting tunjukkan dalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat wajib di sajadah

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Kyai Mahrus Ali (18 Agustus 2015) :

Alangkah baiknya jika kyai Mahrus Ali jujur mengatakan bahwa tidak pernah ada ulama ahlul hadits yg menjarh az zuhri dengan mengatakan “jika beliau bersendirian dalam meriwayatkan hadits, maka hadits yg diriwayatkan az zuhri itu munkar dan dhoif”.

Perkara Abdurrahman bin Abdillah punya 13 murid, dan hanya az zuhri yg meriwayatkan hadits itu maka ini bukan penghalang untuk menerima bahwa hadits itu shohih dan maqbul, sepanjang sanadnya bersambung dan perowinya terpercaya.

Lagipula penolakan kyai terhadap az zuhri dalam hadits ini, berarti kyai melemparkan tuduhan bahwa az zuhri itu bukanlah seseorang yg tsiqoh dalam menyampaikan hadits. Dan ini sungguh suatu konsekuensi tuduhan yang berat.

Apalagi az zuhri itu adalah tokoh besar dalam ilmu hadits, beliaulah yg pertama kali mengumpulkan hadits di dalam sebuah buku atas perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Sekarang coba bandingkan antara maqom (kedudukan) az zuhri dengan maqom kedua belas shahabat sesama murid dari Abdurrahman bin Abdillah. Siapakah yg lebih tinggi kedudukannya dalam rijalul hadits? Tentu az zuhri lebih tinggi kedudukannya.

Alangkah anehnya orang yg tinggi kedudukannya dijatuhkan hanya karena shahabat lainnya tidak ikut dalam meriwayatkan hadits.

Ini seperti ketika ada ujian hafalan hadits, maka ketika hanya ada salah satu murid yg bisa menghafalnya, maka hafalan murid tersebut disalahkan karena murid2 yang lainnya tidak bisa menghafalkan seperti halnya dia.

Lagipula hadits yg disampaikan oleh az zuhri tidak pernah dianggap salah atau dikritik oleh kedua belas rekan2 sejawatnya itu, padahal mereka sezaman. Tidak pernah dianggap gharib atau mukhalafatul hadits oleh rekan2 sejawatnya atau ulama2 hadits lainnya. Tidak pernah juga ada jarh terhadap az zuhri ” bahwa jika diansendirinyg meriwayatkan hadits sedangkan rekan sejawat lainnya tidak pernah meriwayatkan hadits yg semakna dengan itu, maka secara otomatisnhadits az zuhri itu dianggap munkar dan dhoif”.

Semua itu tidak ada, baik itu dari rekan2 az zuhri sendiri ataupun ulama ahlul hadits lainnya. Tuduhan itu baru ada pada tahun 2015 ini yang dilontarkan oleh kyai Mahrus Ali, untuk menjatuhkan kedudukan Az zuhri karena hadits yg diriwayatkannya tidak sesuai dengan hawa nafsu Kyai untuk memenangkan pendapatnya ” sholat wajib itu harus dilakukan diatas tanah”.

Sehingga tuduhan yg tidak berdasar dan talbisul haq bil baathil pun dilakukan terhadap az zuhri untuk melemahkan hadits tersebut, walaupun imam Bukhari dan lain-lain menerima serta menshohihkan hadits tersebut.

Singkat kata hadits tersebut shohih, dan sah digunakan untuk istidlal.

Bantahan saya ini juga berlaku untuk hadits2 lainnya di seri tulisan kyai dari seri 5-8, yang selalu beralasan dengan menuduh “tafarrud” untuk menjatuhkan hadits shohih tersebut. Padahal duduk perkaranya bukanlah seperti itu.

Sehingga karena semua hadits itu shohih, baik yang dipermasalahkan di tulisan kyai pada seri 4 sampai 8 itu, maka semua penjelasan saya pun juga berlaku dan cukup untuk menerangkan bolehnya sholat wajib tidak di atas tanah.

*****

Kyai Mahrus Ali Hafidzahulloh menanggapi komentar saya (18 Agustus 2015) :

Memang anda tdk mengakui kebenaran perkataan ulama pakar hadis yg dulu yg menyatakan hadis tafarrud adalah lemah, munkar. Apalagi redaksi hadisnya kacau belau . Sayang sekali anda bikin akal – akalan sendiri. Coba tunjukkan refrensinya dari kitab arab dan tulislah arabnya dengan diterjemahkan yg baik , hingga tampak valid. Kalau spt itu – akal – akalan males ngeladeni anda. Yg waras ngalah sj. cc Kautsar Amru

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Kyai Mahrus Ali (19 Agustus 2015) :

Tidak mengapa kyai Mahrus Ali,
Malas atas tidak malas itu hak kyai, dan saya tidak berhak untuk melarangnya. Apalagi karena malas itu bukanlah hujjah ataupun dalil.

Sepanjang bisa dibuktikan ada jarh terhadap az zuhri “jika dia bersendirian, maka riwayatnya tertolak atau munkar”, maka saya bisa menerima bahwa itu tafarrud.

Namun jika tidak ada jarh dalam hal itu, maka sepanjang hadits itu bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh para perawi yg tsiqoh dan dhobt, maka hadits itu shohih dan wajib bagi kita untuk menerimanya.

Hadits itu jika memiliki variasi matan dengan hadits yang lainnya, maka itu dipandang sebagai variasi hadits yg sama sama shohih dan saling melengkapi. Boleh juga kita katakan dengan istilah “ziyadah ats tsiqoh” sebagaimana istilah para ulama ahlul hadits untuk hadits yang memiliki beda jalur dan terdapat redaksi lain yg tidak ta’arudh (bertentangan).

Metode ini lazim digunakan oleh para ahlul hadits di dalam kitab2 hadits mereka. Maka dari itu jika kita membuka kitab shohih bukhory atau shohih muslim pada tema tertentu, kita akan menemukan berbagai macam variasi hadits yg mirip namun memiliki sedikit variasi tambahan yang tidak saling ta’arudh (bertentangan) matannya.

Metode jam’uth thoriiqul hadits (pengumpulan berbagai macam jalan hadits) ini wajar dilakukan oleh para ulama ahlul hadits, dan mereka tidak semena-mena mengatakan hadits tertentu itu tafarrud jika mereka tidak memiliki jarh terhadap perowi tersebut mengenai ke-tafarrud-annya.

Paling banter mereka akan berusaha untuk mentakwil atau mentarjihnya, jika mereka tidak bisa mengumpulkan dan mengkompromikannya. Adapun hadits yg kita bahas ini :
– Ta’arudh saja tidak
– Ada Jarh tafarrud nya imam Az zuhri juga tidak ada.
– Dan hadits ini diterima keshohihannya oleh para ahli hadits sepanjang masa, tidak ada yg menuduhnya sebagai hadits yg tafarrud munkar lagi dhoif, kecuali pada tahun 2015 ini oleh Kyai Mahrus Ali.

Jujur harus kita katakan metode tafarrud ala kyai ini, dengan tidak perlu dibuktikan adanya jarh mengenai tafarrudnya seorang perowi, merupakan metode “cherry picking” yang bisa digunakan sekehendak hati untuk menjatuhkan seorang perowi jika matan haditsnya kurang sesuai dengan kepentingan hawa nafsu kita.

Nah salahnya kyai disini, tampaknya karena kyai memilih imam az zuhri sebagai perowi yg dijatuhkan dalam metode “tafarrud cherry picking” ala kyai Mahrus Ali ini.

Pertama kali saya membacanya maka saya sangat kaget dan merasa ajaib terhadap penjatuhan tuduhan terhadap Az Zuhri rohimahulloh ini. Siapapun yang belajar ilmu hadits maka tentu akan mengetahui tingginya tingkat ketokohan imam Az Zuhri dalam ilmu periwayatan hadits. Betapa banyak ta’dil (pujian) terhadap imam az zuhri oleh para imam ahli hadits lainnya, dan mereka selalu menerima periwayatan hadits dari beliau. Bahkan imam Az zuhri rohimahulloh oleh sebagian ulama dipandang sebagai mujadid, selain dari umar bin abdul Aziz yang semasa dengan beliau

Namun ketika saya menerima tuduhan ke-tafarrud-an imam az zuhri oleh kyai Mahrus Ali, saya mencoba inshof (adil) dan obyektif. Mungkin ada jarh (celaan) terhadap imam az zuhri oleh para ulama ahlul hadits lainnya yg tidak saya ketahui mengenai ketafarrudannya.

Dan sesuai qaidah ilmu hadits “al-jarh muqoddamun ‘ala ta’dil, idzaa mufassor” (celaan itu didahulikan daripada pujian, jika celaan itu diterangkan atau dijelaskan (baca : celaan tersebut bukan hanya semata2 tuduhan tanpa bukti)).

Maka dari itu, saya meminta kepada kyai Mahrus Ali agar didatangkan jarh terhadap imam az zuhri akan ketafarrudannya. Jika jarh itu ada dan merupakan jarh yg maqbul maka saya tidak ada masalah dalam hal itu.

Namun ternyata kyai tidak bisa mendatangkan jarh tersebut, maka semakin yakinlah saya bahwa ini hanyalah salah satu metode cherry picking kyai yang lain terhadap hadits2 shohih (yang walaupun disebutkan dalam kitab sekaliber shohih bukhori), yang dilakukan jika hadits tersebut tidak sesuai dengan kemauan hawa nafsu dan pendapat kyai dalam suatu hal.

Dan metode cherry picking dengan mengatasnamakan tafarrud ini ternyata juga dilakukan oleh kyai terhadap hadits2 yg lain, guna mendukung kepentingan pendapatmya, dalam tulisan2 kyai yg lain di seri 4 sampai 8.

Demikian saya terangkan pengkelabuan atas nama tafarrud ini kepada semua orang yang membaca tulisan ini, agar semua orang mengetahui duduk masalahnya.

Walloohu a’lam

*****

Kyai Mahrus Ali Hafidzahulloh menanggapi komentar saya (19 Agustus 2015) :

Tafarrud menurut ulama dulu membikin hadis lemah. ini point penting :

3ـ ألا يكون فيما تعم به البلوى العلمية أو العملية، أي أن المحدث يتفرد بحديث في حين سائر الصحابة لا يعلمون مع أنه من الأمور العلمية العامة

3. Agar tidak termasuk musibah ilmiyah atau amaliyah yg umum – yaitu seorang perawi hadis menyampaikan hadis secara sendirian. Pada hal sahabat yg lain tidak mengetahui. Dan ia termasuk masalah ilmiyah yg umum. http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=152431

Abdul hay al luknowi berkata:

فكثيراً ما يطلقون النكارة على مجرَّد التَّفرُّد،

Sering kali mereka menyatakan hadis munkar disebabkan tafarrud saja . ( satu perawi yang meriwayatkan bukan dua atau tiga ).

Bila anda nolak pernyataan ulama pakar hadis dulu, mk konsekwensinya anda mensahhkan apa yg dikatakan munkar oleh ulama dulu. Bila anda mensahihkan hadis yg kaca redaksinya hakikatnya anda tlh menyalahi kaidah musthalah……………….وَذُو اخْتِلاَفِ سَنَدٍ أَوْ مَتْنٍ مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَيْلِ اْلفَنِ
Kekacauan sanad atau redaksi termasuk mudhtharib menurut ahli mustholah hadis.
Bila hadis itu disahihkan juga bertentangan dengan hadis perintah shalat di tanah dan realita prilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yg menjalankan shalat wajib di tanah tanpa tikar.
Ini perintahnya:
وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ
Bumi di jadikan tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki yang menjumpai waktu salat , salat lah ( di tempat itu ) ………( HR Bukhori /Tayammum/ 335. Muslim / Masajid dan tempat salat /521 )
Bila anda salat diloteng anda menyalahi tuntunan Rasul dlm salat wajib. kpn Rasul pernah salat diloteng. Anda akan nentang banyak hadis untuk mendukung hadis lemah itu.

males melayani anda hanya bermodal akal dan nentang pernyataan ulama ahli hadis dulu , mines refrensi arabnya , tdk valid . cc Kautsar Amru

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Kyai Mahrus Ali (19 Agustus 2015) :

Jawaban saya masih tetap sama seperti di komentar saya sebelumnya kyai Mahrus Ali., J

Malas atau tidak itu hak kyai, dan saya tidak berhak untuk melarangnya.

Silahkan dibuktikan saja jarh tafarrud nya terhadap az Zuhri, atau ulama ahlul hadits mana yang mendhoifkan hadits itu.

Hatta ulama yang antum nukil penjelasannya masalah tafarrud itu, silakan sebutkan jarh mengenai tafarrud nya az Zuhri khushushon terhadap hadits ini.

Atau sebutkan juga ulama yang mendhoifkan hadits ini, dari ulama antum nukil penjelasannya mengenai masalah tafarrud.

Mohon tolong untuk dibuktikan bahwa ada ulama lain yang mendhoifkan hadits ini karena masalah tafarrud, selain daripada kyai Mahrus Ali sendiri.

Diskusi dengan Kyai Mahrus Ali : Masalah “Sholat Wajib” Harus Dilakukan di Atas Tanah – bagian 6

Leave a comment

Tempat Diskusi : Di Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 3

Disini akan saya “copy-paste” notes FB yang dibuat oleh Kyai Mahrus Ali, dan juga komentar tanggapan saya dan Kyai sendiri di notes itu.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/notes/659762147494484/

*****

Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 3 (17 Agustus 2015) :

Anda menyatakan lagi:

  1. Kyai selalu membawa kata2 hadits al-ardh ( bumi ) kepada pengertian tanah, bahkan sampai membawa qoul imam As Suyuthy ” bahwa selama tanah itu masih asli, bukan tanah najis. Bila najis, tetap tidak boleh menjalankan sholat di situ” Catatan saya : – bahwa Al-Ardh (bumi) itu tidak hanya berisi tanah, ada juga tumbuh2an dan batu. Maka hendaklah dalil yang umum itu tetap dibawa kepada keumumannya. Sebagaimana inilah qaidah dalam ushul fiqh.

–         Tidak pernah ada dalil sama sekali bahwa jika segala sesuatu yang merupakan bagian dari bumi itu (Al-Ardh) telah kita olah, maka kita tidak boleh sholat diatanya. Yakni maksudnya bagian bumi yang diolah menjadi tegel atau marmer. Atau tanaman yang merupakan bagian bumi yang diolah menjadi kain atau karpet. Atau plastik yang merupakan hasil olahan minyak bumi yang dijadikan tikar untuk sholat.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Ha disini mulai penyimpangan , lalu penyimpangan lagi  dan bukan yg terahir. Nanti masih ada penyimpangan berikutnya.

Ardhu di artikan tikar plastik , tegel dan marmer.

Bila pendapat itu diikuti, maka kita tidak memiliki dalil dari  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau al Quran.

Bila  kita menjalankan shalat di tikar plastik, mana dalilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita tdk menjumpainya.  Saya  ingat ayat ini:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kek khianat an dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berk khianat ), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.[1]

Anda menyatakan:

–         Hampir seluruh rukun sholat itu dikerjakan oleh rasulullah di atas mimbar kecuali sujud. Kita faham bahwa jika seseorang itu kehilangan atau tidak melakukan salah satu rukun sholat, maka sholatnya itu batal dan tidak sah. Tentu jika seluruh rukun sholat itu dipersyaratkan harus dikerjakan di atas tanah, maka tentu kebanyakan rukun sholat yang dicontohkan oleh rasulullah itu batal secara otomatis karena sholat di atas kayu dan bukan tanah itu tidak sah.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Kalau shalat di mimbar tanpa sujud di tanah di sahkan, maka kita akan kehilangan tuntunan dan menemukan tontonan shalat – maksudnya  kita akan cocok dengan tontonan  shalat sekarang di masjid  dan tidak cocok dengan tuntunan shalat dulu dimasa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  di masjid madinah dulu bukan masjid Madinah sekarang.

Maka karena itu, sujud harus di tanah, tdk boleh di mimbar. Bila dipaksakan boleh shalat  di mimbar tanpa sujud ketanah, maka akan menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sya ingat   ayat :

ياقوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَن يُصِيبَكُم مِّثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ ۚ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِّنكُم بِبَعِيدٍ

Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.  89 Hud

Kadang kalimat  Syiqaqi  itu di artikan menyelisihi

أيسر التفاسير للجزائري – (ج 2 / ص 186)

{ لا يجرمنكم شقاقي } : أي لا تكسبنكم مخالفتي أن يحل بكم من العذاب ما حل يقوم نوح والأقوام من بعدهم

Jangan sampai anda menyelisihi aku membikin anda kalian  tertima azab yang pernah di alami  oleh kaum Nuh dan kaum – kaum setelahnya.  Aisarut tafasir 186/2

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama hidupnya melakukan jamaah  tanpa tikar. Kita dengan sengaja menyelishi sunnah yg mulia ini dengan terus menerus melakukan jamaah di atas karpet. Dan ini adalah perbuatan yg hina sekali  dan menentang sunah yg mulia.

Bila disuruh sujud di tanah akan marah, marah untuk mengikuti tuntunan dan puas untuk menyalahi tuntunan. Bila di suruh sujud di sajadah dg tegas akan mengatakan: “siap”. Bahkan tanpa ada dalilpun mau. Tanpa di perintahpun dia akan menjalankan. Bila dilarang, akan marah. Hakikatnya sedemikian ini sama dengam marah pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sama dengan marah kepada Allah dan menggembirakan setan. Ingatlah firmanNya:

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَآ اَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا  .

“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.  Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan), maka Kami tidak mengutusmu untuk jadi pemelihara bagi mereka”.  An-Nisa’, 4:80.

Manshur al Buraidi mengatakan:

أجمع العلماء أنه لا يجوز أن يصلي أحد فريضةً على الدابة من غير عذر ، وأنه لا يجوز له ترك القبلة إلا فى شدة الخوف8، لحديث عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ ، قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيّ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ ، يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلاةِ الْمَكْتُوبَةِ .رواه البخاري ومسلم . وروى ابن عُمَرَ وَجَابِر مثله ، وَقَالَ جَابِر : فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّىَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ ، فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

Ulama telah ijma` tidak diperkenankan menjalankan shalat wajib di atas binatang ( unta atau lainnya ) tanpa ada uzur. Tidak diperkenankan meninggalkan menghadap kiblat kecuali dalam keada an sangat takut karena ada  hadis Amir bin Rabi`ah  yang berkata: Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  menjalankan shalat  sunat di atas kendaraannya   dengan berisarat dengan kepalanya  dan menghadap kemana saja. Namun hal itu tidak di lakukan oleh beliau dalam shalat wajib. HR Bukhari dan Muslim.

Ibnu Umar dan Jabir juga meriwayatkan hadis yang sama denganya.

Jabir sendiri berkata: Bila berkehendak untuk menjalankan shalat wajib, maka beliau turun dan menghadap kiblat.

–         http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=215277

Komentarku ( Mahrus ali ):

– Hadits contoh rasululloh sholat di atas mimbar itu “lagi-lagi” tidak pernah menyebutkan larangan sholat di selain tanah.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Tiada larangan bukan dalil . Sebab kita  ini sudh diperintahkan untuk ittiba`. Lihat ayat ini:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَآ اَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا.

“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.  Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan), maka Kami tidak mengutusmu untuk jadi pemelihara bagi mereka”.  An-Nisa’, 4:80.

Shalat menghadap ke timur juga tidak ada larangan, tp bila di kerjakan kita akan salah dan kita akan terjerat dlm jaringan kesesatan. Karena itu kita ikut sj pd perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hakikatnya bila anda paham, larangan shalat ditikar itu  ada dlm keterangan  sy dimuka di hadis:

حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ

* Dimana saja kamu menjumpai waktu salat telah tiba , salatlah dan bumi adalah tempat sujudmu. Bukhori 3172 Menurut riwayat Muslim sbb:

صحيح مسلم – (ج 3 / ص 106) ثُمَّ الْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ فَحَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ

Lantas bumilah sebagai tempat sujudmu ( bukan karpet ) , dimana saja kamu menjumpai waktu salat, salatlah.

Kaidah ushulnya : Perintah sesuatu adalah larangan bagi lawannya.

Bila diperintah untuk sujud di tanah, mk larangan untuk sujud di sajadah, tikar dll.

Anda menyatakan:

Jika itu difahami seperti itu, tentu rasulullah harus langsung menjelaskan setelah sholat itu dengan mengatakan ” sholat yang sebagian besar rukunnya saya lakukan di atas mimbar kayu itu terlarang. Sholat harus di atas tanah saja. Ini hanya contoh saja”.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Keterangan  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam spt itu tidak ada.Jangan meng ada – ada, lalu anda beri keterangan shalat di atas mimbar  dan sujud di atas mimbar boleh. Silahkan anda menjalankan shalat di atas mimbar untuk pelajaran dan sujudlah di tanah.

Bila anda sujud di mimbar juga  mk ini kesalahan bukan kebenaran, penyesatan bukan pengarahan kpd kebenaran. Menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidk mengikutinya . Ingatlah ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ

Dan kami tidak mengutus seseorang  Rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Nisa` 64.

[1] Al Maidah 13

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Notes FB Kyai Mahrus Ali ( 18 Agustus 2015) :

Wah masih lanjut ternyata, afwan kyai Mahrus Ali karena saya tidak di tag via FB maka saya baru tau sekarang.

Saya jawab yang simple saja :
1. Sesuai qaidah ushul fiqh masalah ‘Aam wa Khoss, maka al ardh itu adalah umum sedangkan “tanah” itu khoss.

Semua yang termasuk bagian dari bumi (al ardh), baik itu yang sudah diolah ataupun tidak diolah, maka itu masuk ke dalam keumuman lafal al ardh.

Memaksa hanya terbatas dan mengkhususkan kepada tanah saja, maka itu menyalahi qaidah ushul fiqh.

2. Masalah rukun sholat, maka para ulama fiqh menerangkan bahaa jika kita tidak melakukan salah satu dari rukun sholat, maka sholat kita batal secara otomatis dan tidak sah.

Rukun sholat itu ada banyak seperti niat, takbiratul ikrom, membaca al fatihah, ruku’, dan seterusnya.

Jika syarat dari sahnya suatu rukun sholat itu hanya dengan dilakukan ketika sholat di atas tanah, maka sholat berjamaah rasulullah yang dilakukan di atas mimbar kayu itu batal secara hukum fiqh. Sholat rasulullah batal, walaupun rasulullah turun dari mimbar dan sujud di tanah. Demikianlah qaidahnya secara fiqh.

3. Masalah sholat di atas mimbar yang tidak menyebutkan larangan sholat tidak di atas tanah, maka dalil ushul fiqh yang berlaku disitu adalah “menunda penjelasan ketika diperlukan itu tidak diperbolehkan”. Dari situ kita mengambil dalil.

Qaidah ushul fiqh “Perintah sesuatu itu adalah larangan bagi lawannya” itu tidak tepat diterapkan sesuai dengan Kyai Mahrus Ali. Kenapa? Ini karena rasulullah tidak pernah memerintahkan secara lisannya “Sholatlah kamu di atas tanah”.

Keterangan hadits yang ada adalah “seluruh bumi (al ardh) itu boleh untuk dijadikan masjid”, dan telah lewat penjelasan saya mengenai qaidah ushul fiqh mengenai Aam wa khoss di point nomer 1 tadi mengenai al ardh. Silakan rujuk lagi ke penjelasan qaidah ushul fiqh “Aam wa khoss” di point nomor 1

Diskusi dengan Kyai Mahrus Ali : Masalah “Sholat Wajib” Harus Dilakukan di Atas Tanah – bagian 5

Leave a comment

Tempat Diskusi : Di Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 2

Disini akan saya “copy-paste” notes FB yang dibuat oleh Kyai Mahrus Ali, dan juga komentar tanggapan saya dan Kyai sendiri di notes itu.

Comment saya di notes FB Kyai Mahrus Ali hafidzahulloh bagian kedua ini, sama seperti comment saya yang paling awal di notes FB Kyai Mahrus Ali hafidzahulloh bagian pertama.

Sumber link asli bisa dilihat di : https://www.facebook.com/notes/659760014161364/

*****

Notes FB Kyai Mahrus Ali Hafidzahullah yang berjudul “Jawabanku Untuk Kautsar Amru” seri 2 (17 Agustus 2015) :

Anda menyatakan: Maka dari itu cara saya mengambil istimbath dari lutut rasulullah yg ketika sholat itu tertutup kain itu dibolehkan secara fiqh, dan sah pengambilan hukumnya

Komentarku ( Mahrus ali ):

Bila anda memperbolehkan  shalat di sajadah dengan dalil lutut  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertutup , maka itulah hakikat kesalahan, tidak benar, salah paham dan tidak baik pemahannya  dan belum pernah ulama dulu yg memahami spt itu. Dan tidak didukung dalil.

Mengapa anda tidak berpegangan kpd dahi dan tapak tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yg menyentuh ketanah sebagai dalil shalat harus di tanah.

Kedua – duanya adalah keliru, tdk benar. Tapi ittiba`lah sj untuk mengikuti ayat:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(31)

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang  .

Anda menyatakan:

  1. Sejauh yang saya fahami, ketika kita berpendapat maka ada “uji konsistensi” pendapat dan pemahaman untuk mengabsahkan pemahaman kita. Secara umum, saya lihat bahwa kyai hafidzahullah memahami bahwa jika pada prakteknya rasulullah tidak pernah melakukannya, maka terlarang bagi kita untuk mengambil istimbath hukum dengan berdasarkan qorinah dalil2 lainnya yang diperbolehkan secara qaidah fiqh.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Salah sekali anggapanmu.

Sy hanyalah ittiba` , bukan karang mengarang , akal – akalan .

Bila anda punya dalil yg melarang apa yg saya lakukan. Maka  sy akan senang ditunjukkan dalilnya untuk menghurmati dalil itu dan menghinakan diriku.

Anda menyatakan:

Jika ini difahami seperti ini, maka pemahaman ini harus kita coba “uji konsistensi” daripada pemahaman ini. Apakah shohih pemahaman ini diterapkan pada : A. Tidak sah zakat Fithri dengan beras karena rasulullah tidak pernah zakat dengan beras B. Tidak sah haji dan umroh dengan pesawat terbang dan kapal, atau alat transportasi lain karena rasulullah hanya pernah mempraktekkan dengan berjalan kaki dan menunggang unta. Belum lagi dalil dari Al Qur’an itu jelas menyebutkan hanya berjalan kaki dan menunggang unta saja, walaupun secara fiqh itu tidak difahami untuk “membatasi”.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Itulah angan – angan jelekmu , bukan angan – angan yg baik. Kpn sy pernah berkata spt itu. Bila  anda ingin detil untuk zakat fitrah harus kurma dan gandum, bclah disini;

http://mantankyainu.blogspot.com/2015/07/zakat-fitrah-harus-kurma-atau-gandum_20.html

Anda menyatakan: 6. Pembatasan secara khusus hanya boleh dengan tanah itu juga agak musykil, dikarenakan adanya keumuman dalil rasulullah yang bersabda,

وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ

“Seluruh bumi dijadikan sebagai tempat shalat dan untuk bersuci. Siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka shalatlah di tempat tersebut” (HR. Bukhari no. 438 dan Muslim no. 521). Maksud “pemahaman” dari hadits itu apakah al-ardh di dalam hadits itu hanya dibatasi “tanah” saja? Apakah tumbuh-tumbuhan itu bukan termasuk bagian dari bumi? Dan apakah sholat di atas rumput itu dianggap tidak sah karena rasulullah tidak pernah mempraktekkannya? Kalau kita jujur memahami perkataan Al-Ardh itu secara umum, maka semua bangunan itu bahannya berasal dari bumi termasuk tegel atau keramik. Kain itu juga dibuat dan dipintal dari tumbuh2an, walau sebagian juga bisa dibuat dari hewan.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Ber arti anda memperbolehkan shalat di atas kain, dan tegel.

Bila untuk shalat sunat silahkan. Bila untuk shalat wajib , jangan.

فتح الباري لابن رجب – (ج 3 / ص 150)

الْمُرَادُ مِنْ هَذَا اْلحَدِيْثِ هَاهُنَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يُصَلِّي اْلمَكْتُوْبَةَ إِلاَّ عَلَى اْلأَرْضِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ ، فَأَمَّا صَلاَةُ الْفَرِيْضَةِ عَلَى اْلأَرْضِ فَوَاجِبٌ لاَ يَسْقُطُ إِلاَّ فِي صَلاَةِ شِدَّةِ اْلخَوْفِ ، كما قال تعالى: { فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً } [البقرة :239] .

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul bari 150/3 sbb:

Maksud hadis tsb ( hadis Nabi turun dari kendaraan ketika menjalankan salat wajib ) adalah sesungguhnya Nabi SAW tidak akan menjalankan salat wajib kecuali di tanah dengan menghadap kiblat. Untuk menjalankan salat fardhu di atas tanah ( langsung bukan di sajadah atau keramik ) adalah wajib kecuali dalam salat waktu peperangan atau keadaan yang menakutkan sebagaimana firman Allah taala sbb:

Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.

Anda menyatakan lagi: Dan khusus masalah hewan, maka rasulullah juga pernah sholat safar di atas hewan tunggangannya. Maka apakah sholat di atas kain yang terbuat dari kulit atau bulu hewan itu tidak sah? إن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كان يوترُ على البعيرِ “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat witir di atas unta” (HR. Al Bukhari 999, Muslim 700)

Komentarku ( Mahrus ali ):

Untuk shalat sunat silahkan. Tapi bila  shalat wajib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun untuk sujud ke tanah.

Anda menyatakan lagi: 7. Sebenarnya ada hadits lain lagi yang lebih umum dan tidak menyebut bumi sama sekali, sehingga berdasarkan hadits ini bisa difahami sah sholat di atas pesawat yang terbang dan tidak menginjak bumi. (Baca : berada di atas as-samaa’ dan bukan berada di al-ardh) dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,

وأينما أدركتك الصلاة فصلِّ، فهو مسجد

”Dimanapun seseorang menjumpai waktu shalat, segera dia shalat. Karena tempatnya adalah masjid.” (HR. Bukhari 3425 & Muslim 520).

Komentarku ( Mahrus ali ):

Mengapa anda  tdk menggunakan riwayat Muslim yg lain yaitu sbb:

ثُمَّ الْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ فَحَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ

kemudian  bumi / tanah  bagimu adalah masjid, maka di mana pun waktu shalat mendapatimu, maka shalatlah’.” HR  Muslim 809.

Lihat riwayat Bukari sbb:

حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ

“Dimana saja kamu berada dan waktu shalat sudah datang, maka shalatlah, karena bumi bagimu adalah tempat sujud” (boleh sebagai tempat shalat).  HR Bukhari 3172.

Ternyata lafadh ardhu di sebut juga dalam riwayat Bukhari dan Muslim. Jadi bumi tetap di cantumkan dalam hadis  itu sebagai  tempat sujud bukan karpet , kain , tikar dll.

Lalu mengapa bumi  di artikan kain , hingga dengan hadis itu dibolehkan  shalat di kain. Ini adalah penyimpangan yg jauh, bukan penyimpangan yg dekat . Jauh dari kebenarandan  dekat sekali dengan kesalahan.

Apa lagi dengan hadis ini :

وأينما أدركتك الصلاة فصلِّ، فهو مسجد

”Dimanapun seseorang menjumpai waktu shalat, segera dia shalat. Karena tempatnya adalah masjid.” (HR. Bukhari 3425 & Muslim 520).

Anda menyimpulkan boleh shalat di kapal terbang.

Dmikian pemahaman satu hadis sj tdk memikirkan kpd hadis lainnya.  Dan kesimpulan anda salah total dan menyesatkan, bukan sangat benar dan mengarahkan ke jln yg lurus. Jangan menyimpulkan sebelum hadis itu anda cros cek  dengan hadis  lainnya  yg mirip dan yg berbeda agar bisa di buat kesimpulan yg valid dan tdk rapuh.

Menjalankan shalat wajib di tikar , kain atau  sajadah jelas menyalahi tuntunan shalat , sm dengan tontonan shalat di masjid – masjid itu.

__________

Kautsar Amru menulis:

Padahal jika kita jujur melihat hadits rasulullah, tidak pernah sama sekali rasulullah memerintahkan dan berkata secara terperinci “sholatlah kamu di atas tanah” dalam berbagai haditsnya.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Sayang sudah sy sampaikan hadis tentang perintah shalat di atas tanah tapi rupanya tidak dipahami, ternyata di abaikan. Buktinya masih menulis  spt itu. Liht sbb:

حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ

–         Dimana saja kamu menjumpai waktu salat telah tiba , salatlah dan bumi adalah tempat sujudmu [2] Hadis tsb memerintahkan agar melakukan salat di atas tanah langsung , lalu bagaimanakah bisa di nalar pernyataan anda yang menyatakan tiada perintah untuk melakukan salat di atas tanah langsung . Dan Rasulullah SAW secara peraktik juga menjalankan salat wajib di tanah langsung.

–         Anda menyatakan:

–         Sejak kapan Al-Ardh (bumi) itu hanya difahami berisi hanya tanah saja?

Komentarku ( Mahrus ali ):

Sejak kapan Ardhu  di artikan kain, karpet, sajadah  dan tikar.

Pada hal, realitanya  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berjamaah  dengan  para sahabat tdk beralaskan tikar. Tp langsung ke tanah dlm keadaan apapun yg beliau alami, panas , dingin dll.

*****

Saya (Kautsar Amru), memberikan tanggapan dan komentar terhadap Notes FB Kyai Mahrus Ali ( 17 Agustus 2015) :

Terimakasih Kyai Mahrus Ali,
Namun harus saya katakan jawaban tersebut dibuat dengan mengabaikan qaidah2 ushul fiqh dan qaidah fiqh.

Ushul fiqh itu adalah suatu epistimologi untuk menentukan apakah sesuatu hal itu “sah” dianggap sebagai dalil atau tidak. Atau bisa juga dikatakan cara untuk menentukan apakah “cara pendalilan” dengan istimbath model tertentu itu absah ataupun tidak.

Kita menolak suatu hal “tidak absah” sebagai dalil itu boleh2 saja, namun tentu saja dengan berdasarkan qaidah ushul fiqh yang baku.

Step selanjutnya, setelah qaidah ushul fiqh baru menggunakan qaidah fiqh untuk “menentuakan dan mengambil hukum” berdasarkan dalil yang sudah dianggap “sah”.

Sayang sekali kyai tampaknya kurang suka untuk memakai qaidah ushul fiqh ataupun qaidah fiqh dalam pembahasan ini, kyai tampak lebih suka untuk memakai “produk jadi” dibandingkan dengan berdiskusi mengenai “cara-cara pengolahan” yang menghasilkan produk2 yang beraneka macam.

Dan itu dicoba dijustifikasi secara sefihak dengan “bersikeras” :
– Rasulullah selalu mencontohkan praktek sholat wajib di atas tanah, yang secara mafhum mukholafah (ini bahasa ushul fiqh) difahami bahwa ini berarti rasulullah melarang untuk sholat wajib selain di atas tanah.
– Bersikeras bahwa al ardh (bumi) itu tidak boleh difahami secara bahasa dengan secara umum, harus sesuai aplikasi praktek rasulullah yakni hanya terbatas kepada tanah. Sehingga hasil olahan bumi lain seperti tegel, keramik, karpet, tikar, dll dianggap tidak sah dan tidak masuk kepada pengertian arti al ardh.
– Membedakan syarat dalam sholat wajib dan sholat sunnah, dengan menganggap yang boleh tidak di atas tanah itu hanya sholat sunnah saja. Tidak sholat wajib.

Dan kemudian dipilihlah produk-produk pendapat ulama yang sesuai (baca : cherry picking), untuk membenarkan produk fiqh yg dikehendaki dengan cara mengabaikan diskusi “proses pembuatan produknya”.

Akibatnya produk fiqh ulama yang lainnya pun, yang membolehkan untuk melakukan sholat selain tidak di atas tanah, baik itu sholat wajib ataupun sholat sunnah, diabaikan dan tidak dianggap karena tidak sesuai keinginan kyai. Padahal ulama yang membolehkan itu adalah jumhur ulama (mayoritas ulama) sebagaimana yg disebut oleh Imam Asy-Syaukani di Nailul Author.

Ditakutkan bahwa orang yg tidak memahami hal ini dan hanya membaca tulisan kyai saja, digiring bahwa semua ulama berpendapat seperti pendapat Kyai. Padahal sebenarnya aktualnya tidak, ini hanya cherry picking saja. Kyai tidak menyebutkan kedua pendapat para ulama itu dan menyebutkan dalil dari masing2 fihak, agar kita bisa adil dalam menilainya.
—–
Setelah selesai memahami pola pikir tersebut, maka jawaban saya simple saja, yang saya rangkum dari comment2 saya sebelumnya :
1. Para shahabat pernah menyelisihi “dhohir” perintah rasulullah dalam masalah sholat, yang mana ini dilakukan dengan berdasarkan qorinah dalil yang lain.

Dan ketika berita ini sampai kepada rasulullah beliau tidak menyalahkan penyelisihan terhadap “dhohir” perintah rasulullah itu, bahkan rasulullah pun malah membenarkannya.

Penyelisihan para shahabat terhadap “dhohir perintah rasulullah” dalam masalah sholat yg saya maksud, adalah hadits shohih bukhari muslim “janganlah kamu sholat ashar hingga kamu sampai ke tempat bani quraidhoh”.

Sebagian shahabat berbeda pendapat dalam memahami hal ini, dan menganggap bahwa yang beliau maksud adalah agar “kita bersegera ke tempat bani quraidhoh”, adapun jika sudah masuk waktu sholat maka ya kita harus sholat. Ini dikuatkan dengan dalil Al Qur’an yang merupakan perintah Allah agar kita sholat pada waktu yg telah ditentukan.

Mafhum muwafaqoh (ini bahasa ushul fiqh) yang diambil dari dalil ini, bahwa pemahaman ini juga berlaku untuk masalah2 sholat lainnya. Boleh saja kita berbeda dengan “dhohir” bahwa rasulullah selalu sholat wajib di atas tanah, yang mana ini sebenarnya hanya realita sosial saja dan bukan masalah hukum, dengan berdasarkan dalil yang lain.

Dan benarkah rasulullah dan para shahabat tidak pernah sholat selain di atas tanah? Ah, ini sepertinya hanya “angan-angan” sebagian fihak yang bersikeras dalam hal ini saja.

2. Untuk membuktikan bahwa rasulullah dan para shahabat pernah melakukan sholat selain di atas tanah, berikut saya kutipkan lagi comment saya terhadap tulisan yang di copas oleh ustadz Abdul Hakim pada diskusi yang terdahulu :
(Saya berkata menanggapi comment ustadz Abdul Hakim) :
kalau saya mencoba menyelami pola pemikiran kyai Mahrus Ali, maka hadits hadits yang ustadz sebut itu akan dipahami hanya berlaku untuk sholat sunnah saja. Dan tidak berlaku untuk sholat wajib.

Adapun untuk sholat wajib, khusus untuk hujjah bagi kyai harus kita berikan dengan hadits :
1. Rasulullah sholat wajib di atas mimbar kayu.
2. Para shahabat yang kepanasan ketika sholat berjamaah hingga melepaskan bajunya untuk alas sholat.
3. Shahabat Ka’ab bin Malik yang melakukan sholat wajib sendirian di atas loteng rumah, karena dia sedang di hajr (diboikot) oleh rasulullah dan para shahabat karena tidak ikut perang tabuk tanpa udzur.
—-
Adapun tulisan yang ustadz Abdul Hakim copas yang dimaksud adalah yang sbb :

Hukum Shalat Di Atas Sajadah
Feb 11, 2014Muhammad Abduh Tuasikal, MScShalat0 Komentar

Bagaimana hukum shalat di atas sajadah? Sebagian mengatakan hal itu termasuk bid’ah, apa benar?
Dalil Bolehnya Shalat di Atas Sajadah

Dalam kitab Al Muntaqo karya Abul Barokat ‘Abdus Salam Ibnu Taimiyah Al Harroni -kakek Ibnu Taimiyah- disebutkan dalam kitab Shalat, yaitu Bab “Shalat di Atas Bulu, Karpet dan Alas Lainnya.”
Berikut beberapa dalil yang dibawakan oleh Abul Barokat.
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى بِسَاطٍ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas permadani.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Dari Al Mughiroh bin Syu’bah, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْحَصِيرِ عَلَى الْحَصِيرِ وَالْفَرْوَةِ الْمَدْبُوغَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat di atas tikar dan kulit yang disamak.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Dari Abu Sa’id, ia berkata bahwa beliau pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau katakan,
دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي عَلَى حَصِيرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di atas tikar, beliau sujud di atasnya.” (HR. Muslim).
Dari Maimunah, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas tikar kecil.” (Diriwayatkan oleh Al Jama’ah kecuali Tirmidzi. Namun Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas).
Dari Abu Ad Darda’, ia berkata,
مَا أُبَالِي لَوْ صَلَّيْت عَلَى خَمْسِ طَنَافِسَ .
“Aku tidak memperhatikan seandainya aku shalat di atas permadani yang berlapis lima.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Tarikhnya).
Asy Syaukani rahimahullah ketika menjelaskan hadits-hadits di atas berkata, “Hadits yang telah disebutkan menunjukkan bahwa tidak mengapa shalat di atas sajadah baik sajadah tersebut ada yang sobek, terbuat dari daun kurma atau selain itu, begitu pula sajadah tersebut berukuran kecil (seperti khumroh) atau berukuran besar (seperti hashir dan bisath) karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat menggunakan alas semacam itu.” (Nailul Author, terbitan Dar Ibnul Qayyim, cetakan kedua, 1429 H, 2: 511)
Asy Syaukani juga mengatakan, “Jumhur atau mayoritas ulama berpendapat tidak mengapa shalat dengan menggunakan alas tikar. Kata Tirmidzi, demikian pendapat sebagian ulama.” (Idem)
Insya Allah bahasan di atas masih berlanjut pada bahasan apakah shalat di atas sajadah itu bid’ah. Akan pula dibahas perkataan Ibnu Taimiyah mengenai hal ini. Semoga Allah mudahkan.

Selesai disusun setelah ‘Ashar, 11 Rabi’uts Tsani 1435 di Pesantren Darush Sholihin
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
—–
Demikian tanggapan saya, yang jujur harus saya katakan ini sebenarnya hanya pengulangan dari apa yang dulu pernah saya sampaikan saja. I

ni saya ulang karena tampaknya ada sebagian fihak yang tidak mau untuk “secara ilmish” berusaha mencoba memahami argumen dari fihak lain, dan bersikeras dengan pendapatnya sendiri.

Sehingga jikapun nanti akan masih ada tanggapan2 yang lain, maka bantahan saya masih akan seputar hal2 itu saja. Karena pada hakekatnya hal itu masih tidak dibahas secara qaidah ushul fiqh dan qaidah fiqh, serta masih belum terbantahkan secara ilmiah.

Baarokalloohu fiik

Older Entries