AMALAN-AMALAN SUNNAH YANG DIUTAMAKAN DI BULAN RAMADHAN

Secara umum bulan ramadhan adalah bulan yang sangat ditekankan untuk melakukan berbagai macam amal kebaikan dan ibadah. Ini karena pahalanya akan dilipatgandakan melebihi dibandingkan bulan-bulan lainnya. (Lihat tulisan kami yang terdahulu, pada tulisan ke 7 di point ke 4. Disana dijabarkan secara luas dalil-dalil untuk hal ini, berikut juga peringatan terhadap hadits dhoif-nya)

Walau begitu, secara spesifik rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah mencontohkan amalan-amalan sunnah tertentu yang diutamakan untuk diperbanyak dilakukan di bulan ramadhan ini. Amalan apa sajakah itu? Berikut adalah perinciannya :

1. Membaca Al-Qur’an
Inilah amalan sunnah khusus yang langsung digandengkan dengan puasa. Sehingga seakan-akan, jika seseorang berpuasa namun tidak menfokuskan diri dalam membaca Al-Qur’an, dia seperti orang yang “makan hanya untuk bertahan hidup”, bukan “makan sambil menikmati hidup”.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ -١٨٥
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). [Qs. al-Baqarah: 185]

Ibnu ‘Abbas radhiyallohu ‘anhu berkata,

كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ . رواه البخاري

“Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya.” (HR. Bukhari)

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata,’Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’.

Rasulullah, para shahabat, dan para ulama salaf umumnya sangat antusias dalam masalah membaca Al-Qur’an di bulan ramadhan ini.

Dalam siyar Alamin An-Nubala’ disebutkan sebagian contoh dari antusiasme para ulama salaf ini :
– Al-Imam Malik bin Anas jika memasuki bulan Ramadhan beliau meninggalkan pelajaran hadits dan majelis ahlul ilmi, dan beliau mengkonsentrasikan kepada membaca Al Qur’an dari mushaf.

– Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri jika datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan manusia dan mengkonsentrasikan diri untuk membaca Al Qur’an.

2. Shodaqoh
Selain menggandengkan antara Puasa dengan membaca Al-Qur’an, ternyata Ibnu ‘Abbas radhiyalloohu ‘anhu juga meriwayatkan hadits yang menggandengkan amalan membaca Al-Qur’an dengan bershodaqoh.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ»

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam adalah orang yang paling dermawan dan saat beliau paling dermawan adalah di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau. Malaikat Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam dalam bulan Ramadhan untuk saling mempelajari Al-Qur’an. Pada saat itu Rasulullah lebih dermawan dalam melakukan amal kebajikan melebihi (cepat dan luasnya) hembusan angin.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)

Hal ini membuktikan bahwa Puasa, membaca Al-Qur’an, dan bershodaqoh itu adalah tiga buah amalan yang sangat erat kaitannya di bulan ramadhan ini.

3. Memberi makan orang untuk berbuka puasa (ifthor)
Salah satu perincian amalan shodaqoh yang dianjurkan oleh rasulullah, adalah dengan memberi makan orang untuk berbuka puasa.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa memberi makanan berbuka seorang yang puasa maka baginya (orang yang memberi buka) semisal pahala (orang yang puasa) tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang puasa.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya, dari Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhu)

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata: “Hadits ini hasan shahih.” (Al-Jami’ush Shahih, 3/171 no. 807) dan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menshahihkan hadits ini, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 2/1095 no. 6414)

4. Umrah di bulan ramadhan
Bagi orang yang mempunyai kemampuan, maka sangat disarankan untuk melakukan umrah ketika di bulan Ramadhan. Hal ini karena pahala umrah di bulan ramadhan itu sama seperti pahala haji. Dan ini tidak didapatkan untuk umrah di bulan-bulan selainnya.

Akan tetapi perlu untuk dicatat, bahwasanya amalan umrah di bulan ramadhan itu tetap tidak bisa menggantikan kewajiban untuk berhaji bagi yang mampu. Bagaimana bisa untuk menggantikan, umrah itu hukumnya sunnah sedangkan haji itu hukumnya wajib bagi yang mampu?

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً»
“Jika datang bulan Ramadhan, maka lakukanlah olehmu umrah, sebab umrah pada bulan tersebut setara [pahalanya] dengan [pahala] haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256)

«فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي»
Sesungguhnya [pahala] umrah di bulan suci Ramadhan itu setara dengan pahala haji atau haji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1863 dan Muslim no. 1256)

5. Sholat Tarawih beserta witir di bulan ramadhan
Amalan sholat tarawih inilah amalan yang sangat popular dilakukan oleh ummat Islam selama bulan ramadhan. Hanya saja sayangnya, kadang di Indonesia amalan popular ini hanya bertahan 1 atau 2 minggu saja…

Sehabis itu shof sholat terawih biasanya “maju ke depan”, berkurang menjadi tinggal beberapa shoff saja, setelah sebelumnya itu biasanya masjid penuh sesak dengan para jamaah sholat tarawih.

Hal ini tampak terlihat apalagi pada 10 hari terakhir di bulan ramadhan, yang mana orang Indonesia kadang sudah sibuk untuk memikirkan mudik dan makanan lebaran.

Padahal sholat tarawih itu memiliki banyak keutamaan yang sayang jika kita lewatkan. Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

Barangsiapa melakukan shalat malam Ramadhan (tarawih dan witir) karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ»

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Jika seseorang melakukan shalat [tarawih dan witir] bersama imam sampai selesai, niscaya dicatat baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud no. 1375, Tirmidzi no. 806, An-Nasai no. 1364, Ibnu Majah no. 1327 dan lain-lain. Dinyatakan shahih oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Syu’aib al-Arnauth, al-Albani dan lain-lain)

6. Amalan untuk mendapatkan Lailatul Qadr.
Amalan untuk mencari lailatul Qadr mungkin merupakan puncak amalan sunnah di bulan ramadhan. Ini karena jika kita melakukan amalan di malam Lailatul Qadr, maka pahala amalan tersebut senilai lebih baik daripada mengamalkannya selama 1000 bulan.

Amalan untuk mendapatkan Lailatul Qadr itu ada banyak, umumnya berkisar dengan menghidupkan malam lailatul Qadr dengan banyak beribadah. Namun yang paling utama dari semua amalan itu adalah, I’tikaf (berdiam diri) di masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا،: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ»
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian para istri beliau melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Kenapa tadi disebutkan bahwa amalan untuk mendapatkan Lailatul Qadr itu ada banyak, dan umumnya berkisar dengan menghidupkan malam lailatul Qadr dengan banyak beribadah? Ini karena terdapat hadits berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Hadits ini memberikan faedah kepada kita, bahwa I’tikaf itu bukanlah suatu syarat untuk mendapatkan Lailatul Qadr. Akan tetapi melakukan ibadah bertepatan dengan malam Lailatul Qadr lah syarat untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadr.

Ini karena pada faktanya, tidak semua istri-istri rasulullah melakukan I’tikaf bersama rasulullah. Bahkan kadang mereka hanya mengantarkan makanan saja ke rasulullah di tempat I’tikaf beliau. Sedangkan di dalam hadits itu disebutkan bahwa rasulullah “membangunkan istri-istri beliau untuk beribadah”.

Senada dengan itu,bahkan rasulullah pernah juga sampai membatalkan I’tikaf beliau karena adanya madhorot saling cemburu di antara istri-istri beliau.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنْ يَعْتَكِفَ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ فَأَذِنَ لَهَا وَسَأَلَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَسْتَأْذِنَ لَهَا فَفَعَلَتْ فَلَمَّا رَأَتْ ذَلِكَ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ أَمَرَتْ بِبِنَاءٍ فَبُنِيَ لَهَا قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا صَلَّى انْصَرَفَ إِلَى بِنَائِهِ فَبَصُرَ بِالأ بْنِيَةِ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا بِنَاءُ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ وَزَيْنَبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ أَالْبِرَّ أَرَدْنَ بِهَذَا مَا أَنَا بِمُعْتَكِفٍ فَرَجَعَ فَلَمَّا أَفْطَرَ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ

Dari Aisyah, semoga Allah ridha kepadanya, ia berkata,

“Sesungguhnya Rasulullah bermaksud untuk i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Aisyah meminta izin kepadanya untuk ikut beri’tikaf. Beliau mengizinkannya. Kemudian Hafshah meminta Aisyah agar memohonkan izin kepada Rasulullah baginya. Aisyahpun mengabulkannya.

Ketika Zainab binti Jahsy melihat hal itu, ia menyuruh seseorang untuk membuatkan bangunan [tenda] baginya. Adalah Rasulullah apabila selesai shalat [shubuh] beliau masuk ke tempat i’tikafnya. Maka beliau melihat ada beberapa bangunan [tenda i’tikaf]. Beliau bertanya, “Apa ini?”.

Mereka mengatakan, “Itu bangunan [tenda tempat i’tikafnya] Aisyah, Hafshah dan Zainab!”. Rasulullah bersabda, “Apakah kabaikan yang kalian inginkan dengannya? Sungguh aku tidak akan jadi ber-i’tikaf!”. Kemudian beliau pulang. Tatkala lebaran, Rasulullah i’tikaf sepuluh hari di bulan Syawal”. (Hadits Sahih Riwayat Bukhari-Muslim dan yang lainnya)

Catatan :
Di balik populernya amalan I’tikaf untuk mendapatkan keutamaan lailatul qadr, sayangnya ada beberapa muslim di Indonesia yang tidak fokus untuk mau untuk melakukan I’tikaf tersebut. Baik itu karena alasan kesibukan pekerjaan, ataupun karena alasan “mudik” hari-hari dekat akhir bulan ramadhan. Sangat disayangkan memang…

AMALAN WAJIB TAMBAHAN BAGI YANG MAMPU DI BULAN RAMADHAN

Amalan yang dimaksud tersebut adalah Zakat Fithri, yang berupa makanan pokok dengan takaran 1 sho’, yang ditujukan kepada kaum fakir miskin di kalangan kaum muslimin.

Dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ )dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat id. (HR. Bukhari)

Waktu untuk memberikan zakat Fithri itu boleh untuk dilakukan disepanjang bulan ramadhan, sedangkan yang paling afdhal adalah sebelum sholat ‘Iedul Fihtri atau satu dua hari sebelumnya.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانُوا يُعْطُونَهَا قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Mereka (para sahabat) dahulu menyerahkan zakat fithri satu atau dua hari sebelum Idul Fithri.“ (HR. Bukhari dan Abu Daud).

****
Dari berbagai macam “amalan sunnah” di bulan ramadhan, “Sholat Tarawih” dan “I’tikaf” memiliki perincian pembahasan fiqh secara tersendiri.

Adapun untuk “amalan wajib” bagi yang mampu di bulan ramadhan, yakni untuk zakat Fithri, maka itu juga memiliki pembahasan fiqh tersendiri.

Baik “sholat tarawih”, “I’tikaf”, ataupun “Zakat Fithr” akan kita bahas fiqh-nya secara tersendiri di tulisan-tulisan kita yang lain. insya Allah.

Advertisements