BUKA PUASA ATAU Al-FITHRU ATAU AL-IFTHOR
Secara bahasa “buka puasa” itu berasal dari kata Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) yang berarti kasrush shoum (كَسْرُالصَّوْمِ ). [Lihat kamus Al-Munawwir]

Kasrush shoum (كَسْرُالصَّوْمِ ) sendiri secara leksikal berarti “memecahkan atau menghancurkan puasa”. Maka dari itu Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) adalah sesuatu hal yang dimaksudkan untuk memecah atau menghancurkan puasa. Atau hal yang membuat seseorang tidak bisa disebut sebagai orang yang berpuasa lagi.

Dengan kata lain, karena puasa (Ash-Shoum) itu menahan diri (Al-Imsak) dari makan, minum, jima’, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa; maka Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) itu adalah sesuatu yang memecahkan atau menghancurkan kegiatan puasa itu, baik itu dengan makan, minum, dan lain-lain yang membatalkan puasa.

Kata Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) juga berarti makan atau makanan. Sedangkan gubahannya yang berbunyi Al-Fathuuru (اَلْفَطُوْرُ ) bermakna makan pagi atau sarapan.

Adapun Al-Ifthor (اَلْاِفْطَارُ ) itu sendiri adalah “pekerjaannya”. Yakni perbuatan melakukan al-Fithr, atau perbuatan berbuka puasa.

Dalam aplikasinya, hal ini dilakukan dengan cara makan atau minum selama sekian lama menahan diri dengan berpuasa dari Fajar hingga tenggelam matahari.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٍ فَعَلَى ثَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab sebelum melaksanakan shalat (Maghrib), maka jika tidak ada ruthab (beliau berbuka) dengan tamr, jika tidak ada (tamr) maka beliau berbuka dengan meneguk air.” (Hadits hasan shahih, riwayat Abu Dawud dan lainnya, lihat Shahih Sunan Abi Dawud, 2/59 no. 2356 dan Al-Irwa, 4/45 no. 922)

Dalam bahasa Indonesia perbuatan Al-Ifthar ini diistilahkan dengan “buka puasa”. Dalam artian membuka apa yang selama ini ditutup dan ditahan selama berpuasa, dengan makan dan minum setelah adzan maghrib mulai dikumandangkan.

WAKTU BERBUKA PUASA
Waktu bolehnya berbuka puasa adalah pada malam hari, dan awal waktunya dimulai ketika masuk waktu maghrib. Maghrib itu adalah waktu awal dimulainya malam.

Dalil untuk ini adalah,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri kamu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu, karena itu Allah mengampuni dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” [QS. Al-Baqarah : 187]

Pengambilan dalil dari ayat ini untuk kapan waktu berbuka puasa adalah pada penyebutan “malam hari”.

Baik itu untuk di perkataan mengenai kebolehan hubungan suami istri dan makan minum pada “malam hari”, hingga terbit Fajar. Ataupun perintah untuk menyempurnakan puasa hingga “malam hari” di akhir ayat itu.

KEUTAMAAN BERBUKA PUASA
1. Orang yang menyegerakan untuk berbuka puasa itu berada dalam kebaikan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan Al-Fithro (الْفِطْرَ , berbuka).” [Muttafaqun ‘alaih dari shahabat Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu]

Dari Abud-Darda’ radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مِنْ أَخْلاَقِ النُّبُوَّةَ تَعْجِيْلُ اْلإِفْطَارِ وَتَأْخِيْرُ السُّحُوْرِ وَوَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلاَةِ

“Tiga (perkara) termasuk akhlak kenabian (yaitu): mensegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. Ath-Thabrani, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 1/583 no. 3038)

2. Orang yang menyegerakan berbuka puasa itu mendapatkan keutamaan amalan pahala menyelisihi Ahlul Kitab

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَ

“Agama ini senantiasa tampak, selama manusia bersegera untuk berbuka puasa karena Yahudi dan Nashrani mengakhirkan (ifthar/berbuka).” (Hadits hasan, riwayat Abu Dawud dan lainnya, lihat Shahih Sunan Abi Dawud, 2/58 no. 2353 dan Shahihul Jami’ish Shaghir, 2/1272 no. 7689 dan Al-Misykah, 1/622 no. 1995)

3. Orang yang berbuka puasa itu mendapatkan kebahagiaan akan usaha puasanya menahan makan dan minum sepanjang hari

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ . وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ . وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai.

Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’.

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi.

Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Waktu ketika berbuka puasa itu adalah waktu yang mustajab
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak :

(1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.”
(HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Maka dari itu sempatkanlah sebentar setelah sedikit berbuka puasa untuk berdo’a.

ADAB BERBUKA PUASA
1. Menyegerakan untuk berbuka puasa
Telah lewat hadits mengenai masalah ini di pembahasan “Keutamaan Berbuka Puasa”.

Dan hendaklah buka puasa sekedarnya saja dengan kurma dan air, jangan terlalu lama, dan kemudian sholat maghrib berjamaah setelah itu bagi laki-laki.

2. Mengutamakan untuk berbuka dengan menggunakan Ruthob (kurma muda), jika tidak ada baru Tamr (kurma tua atau matang), dan air; sebelum menyelingi buka puasa dengan makanan lainnya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٍ فَعَلَى ثَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum melaksanakan shalat (Maghrib), maka jika tidak ada ruthab (beliau berbuka) dengan tamr, jika tidak ada (tamr) maka beliau berbuka dengan meneguk air.” (Hadits hasan shahih, riwayat Abu Dawud dan lainnya, lihat Shahih Sunan Abi Dawud, 2/59 no. 2356 dan Al-Irwa, 4/45 no. 922).

3. Berbuka puasa dan membaca do’a buka puasa yang shohih

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka beliau mengatakan:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Rasa haus telah pergi dan urat-urat telah terbasahi serta mendapat pahala insya Allah.” (Hadits hasan, riwayat Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abi Dawud, 2/59 no. 2357 dan Al-Irwa’, 4/39 no. 920)

4. Menyempatkan diri untuk berdoa sejenak setelah berbuka puasa
Telah lewat hadits mengenai masalah ini di pembahasan “Keutamaan Berbuka Puasa”

5. Mengajak dan menyediakan makanan bagi orang lain untuk berbuka puasa, untuk mendapatkan pahala puasa orang kita ajak untuk berbuka dengan makanan kita itu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa memberi makanan berbuka seorang yang puasa maka baginya (orang yang memberi buka) semisal pahala (orang yang puasa) tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang puasa.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya, dari Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhu)

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata: “Hadits ini hasan shahih.” (Al-Jami’ush Shahih, 3/171 no. 807) dan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menshahihkan hadits ini, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 2/1095 no. 6414)

BEDANYA AL-FITHRU DENGAN AL-FITHROTU
Orang Indonesia umumnya salah faham dan kurang bisa membedakan antara Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) dengan Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ).

Secara pelafalan mungkin bedanya sedikit sekali, yakni hanya beda di masalah ada atau tidaknya ta’ marbuthoh saja (ة) di akhirnya, namun pebedaan artinya sangat jauh.

Kalau Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) adalah hal yang membuat seseorang tidak bisa disebut sebagai orang yang berpuasa lagi, atau makan dan makanan.

Sedangkan Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ) itu berarti suci atau kondisi awal penciptaan manusia. “Fitrah” kalau sebutan umum dalam bahasa Indonesia.

Pemakaian kata fitrah pernah Allah sebutkan di dalam Al-Quran,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

Hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah (فِطْرَتَ اللَّهِ ) yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (QS. Ar-Rum: 30).

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam juga pernah memakai istilah Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ) tersebut dalam haditsnya,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah (عَلَى الْفِطْرَةِ ). Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim)

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأْظْفَارِ وَغَسْل الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإْبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

Ada sepuluh hal dari fitrah (مِنَ الْفِطْرَةِ), yaitu memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air. ” (HR. Muslim).

Ibnul Jauzi menjelaskan makna fitrah,

الخلقة التي خلق عليها البشر

“Kondisi awal penciptaan, dimana manusia diciptakan pada kondisi tersebut.” (Zadul Masir, 3/422).

***
Pokok yang penting dalam pembahasan puasa ini adalah istilah Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) itu beda dengan Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ). Segala hal yang berkaitan dengan masalah puasa selalu memakai istilah Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) dan bukan Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ).

Baik itu yang berhubungan dengan :
1. Buka puasa atau Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) atau Al-Ifthor (اَلْاِفْطَارُ )
2. Zakat Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ )
3. Hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ)

Berbagai dalil yang berhubungan dengan ketiga hal itu, selalu dipakai kata Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) bukan Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ). Hal ini seperti contoh beberapa hadits rasulullah berikut ini :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan Al-Fithro (الْفِطْرَ , berbuka).” [Muttafaqun ‘alaih dari shahabat Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu]

Dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ )dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat id. (HR. Bukhari)

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bari orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dishahihkan Al Albani)

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri (يَوْمَ الْفِطْرِ )dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الفِطْرِ وَالنَّحْرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa pada saat hari idul fitri (يَوْمِ الفِطْرِ )dan hari berkurban.” (HR. Bukhari 1991, Ibn Majah 1721).

***

Hal ini memberi faedah kepada kita akan “pemahaman yang benar” mengenai maksud dan arti Zakat Fithri dan Hari raya Iedul Fithri, dan sekaligus meluruskan “pemahaman yang salah” yang umumnya populer tersebar di masyarakat kita dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Pemahaman yang benar terhadap Zakat Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ )
Fungsi Zakat Fithri bagi fakir miskin :
Sesuai asal kata bahasanya, maka pemberian Zakat Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ) itu dimaksudkan agar para fakir miskin itu mempunyai makanan ketika hari raya Idul Fitri. Maka dari itu, para fakir miskin diberikan zakat dengan berupa makanan pokok pada satu atau dua hari sebelum jatuh hari raya Idul Fithri.

Fungsi Zakat Fithri bagi pemberi zakat :
Zakat Fithri juga tidak dimaksudkan untuk membersihkan harta kita ataupun diri kita agar kembali menjadi suci (Fitroh) tanpa dosa. Akan tetapi zakat Fithri ini dimaksudkan untuk memperbaiki puasa kita yang rusak karena LAGHWU dan ROFATS. (Lihat lagi tulisan kami mengenai hal-hal yang merusak puasa pada tulisan ke 17).

Dalil untuk hal ini adalah,
Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bari orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dishahihkan Al Albani)

2. Pemahaman yang benar terhadap hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ)
Hari raya Idul Fitri itu maksudnya adalah hari raya “berbuka puasa” setelah selesai puasa sebulan penuh lamanya. Pada hari raya Idul Fithri kita dilarang untuk berpuasa, dan secara otomatis inilah hari perayaan bagi kita untuk “makan dan minum”.

Bahkan adanya kewajiban khusus zakat Fithri bagi yang mampu kepada fakir miskin sebelum sholat Id itu juga dimaksudkan, agar para fakir miskin dapat ikut berpartisipasi merayakan hari raya Idul Fithri dengan makan dan minum.

Dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ )dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat id. (HR. Bukhari)

Jadi tidak benar bahwa hari Idul Fitri itu adalah kita kembali kepada Fitroh (kesucian), tanpa dosa, seperti halnya bayi yang baru lahir.

Pemahaman ini tidak benar karena 3 hal :
a. Puasa ramadhan itu hanya bisa menghapus dosa-dosa kecil, bukan untuk menghapus dosa besar

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

“Antara shalat 5 waktu, jumatan ke jumatan berikutnya, ramadhan hingga ramadhan berikutnya, akan menjadi kaffarah dosa yang dilakukan diantara amal ibadah itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Ahmad 9197 dan Muslim 233).

b. Terdapat orang yang justru didoakan untuk mendapat laknat, karena tidak mendapatkan pengampunan selama puasa.

قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمي

Rasulullah bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan,‘Amin’.
[Lihat Shahih At Targhib (1679) oleh Syaikh Albani rohimahulloh]

c. Kita boleh memastikan bahwa amalan ramadhan kita “sah”, namun kita tidak boleh memastikan bahwa amalan ramadhan kita “diterima” oleh Allah. Dan hanya orang yang diterima amalan ramadhan nya saja (terutama puasa dan sholatnya) yang akan mendapatkan pengampunan dosa, itupun hanya terbatas pada dosa yang kecil saja. Tidak untuk dosa yang besar.

Pemahaman ini dibuktikan dengan amalan “saling mendoakan” di antara para shahabat radhiyalloohu ‘anhum ketika saling bertemu, dengan saling berkata “Taqabbalalloohu minnaa wa minkum” (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian).

Dari Jubair bin Nufair; beliau mengatakan, “Dahulu, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila saling bertemu pada hari raya, saling mengucapkan,

َتقَبَّلَ الله ُمِنَّا وَمِنْكُمْ

“Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.” (Sanadnya hasan; Fathul Bari, 2:446)

Bahkan terdapat juga riwayat bahwa para shahabat itu banyak berdoa setelah selesai ramadhan agar amalan mereka itu diterima oleh Allah.

Mu’alla bin Fadl mengatakan:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab, hal.264)

***
Maka dari itu, hendaklah kita benahi lagi pemaknaan dan pemahaman kita mengenai Zakat Fithri dan hari raya Idul Fithri

Wallaahu A’lam

Advertisements