SAHUR
Secara bahasa, As-Saharu (اَلسَّحَرُ )berarti waktu menjelang subuh.

Sedangkan As-Sahuur (السَّحُوْرُ) berarti benda yang berupa makanan atau minuman yang diminum pada waktu makan sahur sebelum subuh. Dan As-Suhuur (السُّحُوْرُ) itu adalah kegiatan atau perbuatan makan sahur itu sendiri.

Berdasarkan ketiga makna yang berdekatan itu, maka pembahasan mengenai sahur ini akan dibagi menjadi lima hal pokok. Yakni pembahasan mengenai masalah :
1. Hukum makan sahur
2. Kedudukan dan keutamaan makan sahur
3. Waktu makan sahur
4. Apa yang diutamakan untuk dimakan ketika sahur
5. Seputar kegiatan yang diutamakan pada waktu sahur.

HUKUM MAKAN SAHUR
Sebelumnya menginjak ke pembahasan yang lebih jauh, maka sebaiknya kita terangkan dulu mengenai hukum makan sahur. Hukum makan sahur itu tidak wajib, melainkan hanya sunnah makkadah saja (sunnah yang dikuatkan).

Makan Sahur itu juga bukan merupakan rukun puasa ataupun syarat sah puasa seseorang. Makan sahur hanya merupakan sunnah puasa saja.

Sehingga jika ada orang yang sudah berniat untuk puasa pada malam hari, namun tertidur hingga masuk waktu shubuh dan terlewat waktu makan sahurnya, maka puasa pada siang harinya tetap sah untuk dijalankan.

Dalil untuk ini adalah,
Dari ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan:

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال: «هل عندكم شيء؟» فقلنا: لا، قال: «فإني إذن صائم»

“Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami, dan bertanya, ‘Apakah kalian punya makanan?‘ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan puasa.”. (HR. Muslim 1154, Nasai 2324, Turmudzi 733).

Hadits di atas menceritakan mengenai rasulullah yang berniat untuk melakukan puasa sunnah, tanpa melakukan makan sahur sebelumnya. Maka dari itulah rasulullah bertanya “Apakah kalian mempunyai makanan?”.

Dari hadits inilah kita mengambil hukum secara umum, bahwa makan sahur itu hukumnya sunnah dan tidak wajib baik untuk puasa ramadhan yang wajib ataupun untuk puasa sunnah.

KEDUDUKAN DAN KEUTAMAAN MAKAN SAHUR
Makan sahur memiliki kedudukan dan keutamaan yang cukup banyak, yang mana ini menjadikan “sayang” bagi kita jika kita sampai terlewatkan makan sahur. Bahkan rasulullah pun mewanti-wanti agar jangan sampai kita terlewat dari makan sahur walau hanya berupa minum air putih saja.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad 3: 44. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).

Berikut adalah keutamaan orang yang makan sahur :
1. Makan sahur adalah makanan yang penuh barokah.

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).

Dari Salman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبَرَكَةُ فِي ثَلَاثَةٌ: الْجَمَاعَةُ، وَالثَّرِيدُ، وَالسَّحُورُ

“Berkah ada pada tiga hal: berjamaah, tsarid (roti remas yang direndam dalam kuah), dan makan sahur.” (HR. ath-Thabarani, 6/251, dengan sanad yang hasan dengan penguatnya, lihat Shifat Shaum an-Nabi, hlm. 44)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barokah makan sahur amat jelas yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 206).

Makanan yang penuh barokah yang dimaksud adalah makanan yang memberikan kita banyak kemanfaatan dan kebaikan. Yakni kemanfaatan dan kebaikan dengan memberikan kita tenaga agar kita kuat menjalani puasa dengan sebaik-baiknya, dan menjalani berbagai macam aktivitas ibadah di dalamnya.

Semakin bagus kualitas puasa kita dan semakin banyak aktivitas amal sholeh yang kita lakukan dalam mengiringi puasa kita, maka akan semakin banyak pula tabungan pahala kita di akhirat kelak.

Semakin bagus kualitas puasa kita dan semakin banyak aktivitas amal sholeh yang kita lakukan dalam mengiringi puasa kita, maka akan semakin bagus pula tazkiyatun nufus (pensucian jiwa) kita dengan jalan melakukan puasa yang berkualitas dan banyak melakukan amal sholeh tadi. Yang mana ini bermanfaat untuk memperbaiki pribadi diri-diri kita,.

Inilah cara memanfaatkan makan sahur untuk mendapatkan kebarokahan yang hakiki.

Adapun jika seseorang makan sahur dan memiliki kondisi tubuh yang prima dari hasil makan sahur tadi. Namun dia ternyata tidak memanfaatkan hal itu untuk banyak melakukan kebaikan dan ibadah. Bahkan justru dia melakukan banyak kemaksiatan dan hal-hal yang merusak puasanya, maka kebarokahan makan sahurnya itu pada hakikatnya tidak dia dapatkan. Walloohu A’lam

2. Orang yang makan sahur itu diberikan shalawat pemberian pujian dan kehormatan dari Allah, dan do’a dari malaikat.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad 3: 44. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).

Perkataan “فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “ (Karena sesungguhnya Allah pada para malaikat-Nya bersholawat untuk orang-orang yang makan sahur itu) ini maksudnya adalah :

a. Sholawat Allah kepada orang yang makan sahur, maksudnya adalah pujian Allah kepada orang-orang yang makan sahur di hadapan para malaikat.

b. Sholawat para malaikat kepada orang yang makan sahur, maksudnya adalah doa untuk memohonkan kebarokahan dan doa memohonkan ampunan bagi orang yang sahur.

Tafsir sholawat Allah dan sholawat para malaikat-Nya pada orang yang sahur ini, semakna dengan tafsir sholawat yang disebutkan dalam QS. Al-Ahzab : 56.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]

Wallaahu A’lam.

Maka dari itulah, kita bisa memahami kenapa rasulullah sangat menekankan untuk makan sahur kepada ummatnya walau hanya minum seteguk air saja.

3. Makan sahur merupakan salah satu identitas syi’ar Islam, yang membedakan antara puasa ummat pengikut nabi Muhammad dengan puasa orang-orang ahlul kitab terdahulu.

Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096).

Sebelumnya kita sudah pernah membahas bahwasanya, syariat puasa ini sebenarnya pernah diwajibkan juga oleh Allah untuk ummat Ahlul Kitab terdahulu dengan kaifiyat yang sedikit berbeda. Sebagaimana ini juga yang Allah firmankan dalam QS. Al-Baqarah : 183,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Berikut juga kita sudah melihatkan bukti jejak-jejak syariat puasa itu masih ada tertulis pada kitab-kitab mereka (Taurat dan Injil), walaupun Ahlul Kitab sekarang ini umumnya sudah meninggalkan dan tidak melakukan syariat puasa itu kecuali yahudi.

Silakan lihat lagi Puasa – Tulisan 2 jika berkenan untuk melihat lagi hal ini.

WAKTU MAKAN SAHUR
Kapankah dimulai masuk waktu makan sahur? Dari hal ini para ulama saling berbeda pendapat mengenainya, karena memang tidak ada “dalil yang tegas” membicarakan batasan ini. Yang ada hanyalah dalil-dalil yang memberikan petunjuk-petunjuk tanpa batasan yang tegas.

Akan tetapi bagi para “pengejar keutamaan makan sahur” hal ini perlu untuk dibahas.

Agar jangan sampai kita makan sahur higga selesai makan sahur terlalu awal, sebelum datangnya waktu makan sahur. Yang mana ini menyebabkan kita terlewatkan dari mendapat keutamaan makan sahur yang telah kita bahas tadi.

Para ulama berbeda pendapat mengenai awal masuk waktu sahur :
a. Sahur dimulai sejak dari awal pertengahan malam, ini adalah pendapat jumhur ulama 4 madzhab. [Al-Majmu An Nawawi 6/379, Badhai’us shana’i 3/93 dan kifayatul akhyar hal 201]

b. Sahur dimulai sejak dari sepertiga malam akhir, ini adalah pendapat sebagian Hanafiyah. [Al-Mabsuth 9/5 dan Badhai’us shana’i 6/93]

c. Sahur dimulai sejak dari seperenam malam akhir, ini adalah pendapat sebagian Hanafiyah, malikiyyah, dan syafi’iyyah. [Hasiyah Raddil Mukhtar 2/419]

****

Dalil-dalil yang dijadikan perselisihan mengenai awal masuk waktu sahur ini adalah,
A. Dalil-dalil dari Al-Qur’an yang menyebutkan mengenai masalah waktu sahur

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“Merekalah (orang-orang yang bertaqwa penghuni surga) orang-orang yang penyabar, jujur, tunduk, rajin berinfak, dan rajin istighfar di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu sahur. ” (QS. Adz Dzariyat: 18)

B. Dalil yang lebih menjelaskan mengenai waktu terbaik untuk beristighfar meminta ampun kepada Allah (sebagai penjelas ayat-ayat Al-Qur’an di point A.)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang beristighfar meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758).

Ibnu Hajar menjelaskan hadits di atas,

أن آخر الليل أفضل للدعاء والاستغفار ويشهد له قوله تعالى والمستغفرين بالأسحار وأن الدعاء في ذلك الوقت مجاب

“Bahwa akhir malam sangat afdhal untuk berdoa dan beristighfar. Dalilnya firman Allah (yang artinya) ‘yaitu orang-orang yang rajin beristighfar di waktu sahur.’ Dan bahwa doa di waktu sahur itu mustajab.” (Fathul Bari, 3/31).

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada beliau,

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud. Beliau tidur setengah malam kemudian bangun (qiyam lail) sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Beliau puasa selang-seling, sehari puasa, sehari tidak.” (HR. Bukhari 1131, Muslim 1159, Abu Daud 2448, dan yang lainnya).

Dr. Abdul Muhsin al-Abbad dalam Syarh Sunan Abu Daud menjelaskan,
“Beliau tidur setengah malam, artinya: beliau tidur setelah shalat isya. jadi dihitung sejak setelah shalat isya hingga terbit fajar (subuh), setengahnya untuk tidur. Kemudian setelah itu, masuk sepertiga malam. (Syarh Sunan Abu Daud, Dr. Abdul Muhsin, 13/287).

C. Qorinah dalil-dalil mengenai masalah Adzan pertama yang dilakukan Bilal, sehubungan dengan masalah sahur.

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ( إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِىَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ) رواه البخارى
Dari Salim, dari Abdullah (bin Umar) dari bapaknya, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Bilal adzan di waktu malam, maka makan dan minumlah sampai Abdullah bin Ummi Maktum memanggil (adzan setelah masuk waktu shalat fajar).” (HR. Bukhari)

عن ابن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “لا يمنعن أحدكم – أو أحداً منكم – أذان بلال من سحوره، فإنه يؤذن – أوينادي – بليل، ليرجع قائمكم، ولينبه نائمكم”. رواه البخارى ( 621 )
Dari Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Adzan Bilal tidak menghalangi salah satu dari kalian dari sahurnya, karena dia adzan di waktu malam, untuk mengingatkan kalian yang sudah bangun dan membangunkan yang sedang tidur.” (HR. Bukhari)

عن عائشة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “إن بلالاً يؤذن بليل، فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم”. رواه البخارى
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Bilal adzan di malam hari, maka makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum adzan”. (HR. Bukhari)

D. Dalil-dalil bahwa rasulullah dan para shahabat sahur pada waktu-waktu dekat menjelang shubuh.

Dari Abud-Darda’ radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مِنْ أَخْلاَقِ النُّبُوَّةَ تَعْجِيْلُ اْلإِفْطَارِ وَتَأْخِيْرُ السُّحُوْرِ وَوَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلاَةِ

“Tiga (perkara) termasuk akhlak kenabian (yaitu): mensegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. Ath-Thabrani, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 1/583 no. 3038)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Apabila seseorang di antara kalian mendengar azan, sementara wadah masih di tangan maka jangan dia letakkan wadah tersebut sampai dia menyelesaikan kebutuhannya.” (H.r. Abu Daud, no. 2350; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Dari Hibban bin Harits,

تسحرنا مع علي بن أبي طالب رضي الله عنه، فلما فرغنا من السحور أمر المؤذن فأقام الصلاة

“Kami pernah sahur bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Selesai sahur, beliau menyuruh muadzin untuk mengumandangkan iqamah.” (HR. At-Thahawi dalam Syarhul Ma’ani dan perawinya tsiqah)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruhnya,

أنظر من في المسجد فادعه، فدخلت المسجد، فإذا أبو بكر وعمر فدعوتهما، فأتيته بشيء، فوضعته بين يديه، فأكل وأكلوا، ثم خرجوا، فصلى بهم رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة الغداة

“Lihat, siapa yang ada di dalam masjid, ajak dia kemari.”

Akupun masuk masjid, ternyata ada Abu Bakr dan Umar. Aku memanggil keduanya. Lalu aku membawa makanan dan kuhidangkan di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau makan, Abu Bakr dan Umar-pun ikut makan. Kemudian mereka keluar menuju masjid, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami sahabat shalat subuh. (Riwayat Al-Bazzar dan Al-Hafidz Ibn Hajar menilai Sanadnya Hasan).

Dari Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أتيت النبي صلى الله عليه وسلم أوذنه لصلاة الفجر، وهو يريد الصيام، فدعا بإناء فشرب، ثم ناولني فشربت، ثم خرجنا إلى الصلاة

“Saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi tahu beliau untuk shalat subuh. Ketika itu, beliau hendak puasa. Beliau minta dibawakan air dan beliau meminumnya. Kemudia beliau berikan sisanya kepadaku, dan akupun meminumnya. Kemudian beliau menuju masjid untuk shalat.” (Riwayat Ahmad dan perawinya Tsiqah).

Dari Abu Umamah,

أقيمت الصلاة والإناء في يد عمر، قال: أشربها يا رسول الله؟ قال: نعم، فشربها

Adzan shalat subuh dikumandangkan, sementara Umar masih memegang gelas. Beliau bertanya: ‘Bolehkah aku minum, wahai Rasulullah?’ beliau menjawab, “Ya.” Umarpun meminumnya. (Riwayat Ibn Jarir dengan sanad hasan)

Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, dia berkata,

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ . قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً .

“Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat”.
(Anas bertanya kepada Zaid bin Tsabit): “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira (membaca) 50 ayat (Al-Qur’an)” [HR. Bukhari, no. 1921 dan Muslim, no. 1097]

‘Amr bin Maimun Al-Audi berkata,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَسْرَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سَحُوْرًا

“Dahulu para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahuur.”[ HR. Abdurrozaq di dalam Al-Mushonnaf 4/226, no. 7591; dishahihkan oleh Al-Hafizh di dalam Al-Fath]

****
Setelah melihat dalil masing-masing fihak mengenai kapankah awal waktu masuk sahur itu, kami lebih cenderung untuk menguatkan pendapat jumhur ulama bahwa awal waktu masuk sahur itu dimulai pada pertengahan malam.

Hal ini dengan perincian penjelasan bahwa :

Petunjuk pertama
===
Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan mengenai keutamaan istighfar memohon ampun pada waktu sahur pada point A itu, ditafsirkan dengan hadits mengenai turunnya Allah pada sepertiga malam akhir.

Sehingga dari sini kita mendapatkan pentunjuk pertama mengenai waktu “1/3 malam akhir” yang dijelaskan secara tegas dalam hadits tersebut.

Petunjuk kedua
===
Setelah kita mendapatkan petunjuk pertama “1/3 malam akhir itu”, kita memahami bahwa hadits itu hanya menyebutkan masalah “keutamaan”. Bukan membatasi untuk menentukan kapankah awal waktu sahur itu. Untuk itulah kita mengambil petunjuk mengenai hadits perincian waktu kapan Nabi Daud ‘Alaihis salaam mulai melakukan sholat Tahajjud.

Dari hadits sholat Tahajjud Nabi Daud inilah kita mendapatkan petunjuk kedua bahwa beliau mulai melakukan sholat Tahajjud pada “tengah malam”, dan beliau melakukan sholat tahajjud itu selama “1/3 malam”.

Waktu sholat Tahajjud adalah waktu terbaik untuk berdo’a dan beristighfar meminta ampun, maka dari itu waktu “Tengah Malam” inilah petunjuk kita yang kedua yang lebih memperjelas kapankah awal waktu masuk sahur itu.

Petunjuk ketiga
===
Agar tidak salah faham antara waktu “1/3 malam akhir” sesuai yang dijelaskan dalam hadits mengenai turunnya Allah pada sepertiga malam akhir, dan waktu sholat tahajjud yang dimulai pada “tengah malam”, maka diperlukan petunjuk ketiga untuk menjelaskan korelasi hal ini.

Misal sholat isya itu dimulai pada jam 19.30 malam, dan sholat shubuh itu dimulai pada 04.30 malam. Maka panjang malam itu adalah sekitar 9 jam.

Setengahnya adalah 4.5 jam, atau ini berarti sekitar jam 23.30 itu sudah masuk waktu tengah malam.

Nabi Daud melakukan sholat Tahajjud selama 1/3 malam, maka ini berarti 1/3 dari 9 jam. Jadi Nabi Daud melakukan sholat tahajjud selama 3 jam (9 x 1/3), yakni mulai dari pukul 23.30 hingga pukul 02.30.

Adapun Allah turun pada sepertiga malam akhir, maka ini berarti pada waktu mulai waktu subuh dan dihitung mundur 1/3 malam atau 3 jam. Maka sepertiga malam akhir itu dimulai dari pukul 01.30 hingga 04.30.

Dari lama waktu sholat Tahajjud Nabi Daud ‘alaihis salaam (23.30 – 02.30) dan 1/3 malam akhir (01.30 – 04.30), terdapat irisan waktu sekitar 1 jam. Irisan waktu sekitar satu jam itulah waktu yang terbaik digunakan untuk berdoa dan beristighfar mohon ampun. Karena lazim bahwa do’a dan istighfar memohon ampun itu dilakukan pada waktu akhir-akhir sholat atau setelah sholat.

Sehingga dari hal ini jelaslah bagi kita petunjuk ketiga kita ini. Walloohu A’lam

Petunjuk keempat
===
Adzan bilal itu bukanlah merupakan merupakan batas awal waktu untuk mulai dilakukan sahur, ini karena rasulullah berkata “لا يمنعن أحدكم – أو أحداً منكم – أذان بلال من سحوره “ (Adzan Bilal tidak menghalangi salah satu dari kalian dari sahurnya). Mafhumnya adalah sahur itu sudah dimulai sebelum Bilal melakukan adzan pertama.

Maka dari itu adzan awal Bilal itu bukanlah petunjuk untuk awal waktu dimulainya makan sahur.

Bilal melakukan adzan pertama jika dimaksudkan untuk membangunkan orang tidur, sesuai perkataan rasul di kelanjutan hadits itu yang berbunyi “karena dia adzan di waktu malam, untuk mengingatkan kalian yang sudah bangun dan membangunkan yang sedang tidur.”, maka jika itu dimaksudkan membangunkan untuk sholat tahajud berarti adzan pertama Bilal itu dilakukan pada awal 1/3 malam akhir.

Dan ini juga tidak menunjukkan waktu awal dimulainya sahur, karena redaksi hadits sebelumnya “Adzan Bilal tidak menghalangi salah satu dari kalian dari sahurnya” difahami bahwa sudah ada yang makan sahur sebelum Bilal Adzan.

Jika dikatakan bahwa adzan pertama Bilal itu bukan untuk membangunkan orang tahajjud pada awal 1/3 malam akhir, dan lebih sangat mepet jaraknya dengan Adzan Fajar kedua Ummi Ibnu Maktum, yakni seperempat jam sebelum masuk waktu shubuh (sebagaimana ini pendapat Syaikh Albani rahimahulloh mengenai jarak waktu antara dua adzan tersebut dalam kitab beliau Tamamul Minnah hal. 146).

Maka ini juga tidak bisa dijadikan pembatas awal dimulainya waktu sahur, karena sebelum Bilal melakukan adzan yang pertama sudah ada shahabat yang makan sahur sebagaimana perkataan rasul “Adzan Bilal tidak menghalangi salah satu dari kalian dari sahurnya”.

Wallaahu A’lam

Petunjuk kelima
===
Tidak diingkari bahwa waktu yang paling utama untuk melakukan makan sahur, adalah pada akhir waktu malam menjelang subuh. Hal ini sesuai dengan perkataan rasulullah ““Tiga (perkara) termasuk akhlak kenabian (yaitu): mensegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.”

Akan tetapi hal ini hanya menunjukkan afdholiyyah saja (keutamaan), bukan menunjukkan batas waktu awal dimulainya masuk waktu sahur. Maka dari itu tidak heran jika kita lihat kumpulan hadits di point D, rasulullah dan para shahabat memang umumnya selalu melakukan sahur pada waktu-waktu dekat menjelang shubuh.

Ini sebagaimana perkataan ‘Amr bin Maimun Al-Audi,
“Dahulu para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahuur.”

Bahkan hadits juga ada yang jelas menerangkan boleh makan atau minum ketika adzan shubuh sudah berkumandang, dan masih sedikit sisa makanan dan minuman di tangan.

Jadi sekali lagi, walaupun perbuatan rasulullah dan para Sahabat itu sesuai dengan asal kata “sahur” yakni As-Saharu (اَلسَّحَرُ )berarti waktu menjelang subuh, namun hal itu bukan dimaksudkan sebagai patokan batas awal bolehnya dilakukan makan sahur. Hal itu hanyalah merupakan afdholiyyah saja dan keserasian dengan asal kata “sahur” secara bahasa.

Disisi lain ada faidah lain yang bisa kita ambil dari petunjuk kelima ini. Faidah itu adalah :
a. Walau mungkin kita sudah makan sahur sebelum masuk waktu menjelang shubuh. Namun jika sudah masuk waktu menjelang shubuh, jangan lupa untuk menyempatkan diri makan atau minum lagi walau sedikit saja.

Ini dimaksudkan untuk memperoleh keutamaan makan sahur di akhir waktu, dan juga untuk mentauladani rasulullah dan para shahabatnya.

b. Petunjuk kelima dan juga dalil-dalil yang terkumpul di point D tadi membantah adanya “waktu imsak” yang diada-adakan 15 menit sebelum masuk adzan shubuh.

Yang mana dalam anggapan orang awam, jika sudah masuk “waktu imsak” maka kita sudah tidak boleh untuk makan dan minum sama sekali.

Padahal petunjuk rasulullah dan contoh para shahabat, mereka tetap melakukan makan dan minum untuk mendapatkan keutamaan sahur di akhir waktu tanpa memandang adanya “waktu imsak”. Bahkan hingga waktu shubuh sudah berkumandang dan masih ada sedikit sisa makanan dan minuman yang ada di tangan.

Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah,
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al Baqarah: 187)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Makan dan minumlah sampai Ibnu Umi maktum mengumandangkan azan, karena dia tidak berazan kecuali sampai terbit fajar.” (H.r. Bukhari, no. 1919)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Apabila seseorang di antara kalian mendengar azan, sementara wadah masih di tangan maka jangan dia letakkan wadah tersebut sampai dia menyelesaikan kebutuhannya.” (H.r. Abu Daud, no. 2350; dinilai sahih oleh Al-Albani)

c. Waktu makan sahur itu dimulai pada pertengahan malam hingga adzan shubuh (waktu Fajar shidiq), bukan hingga waktu imsak (15 menit sebelum adzan shubuh).

APA YANG DIUTAMAKAN UNTUK DIMAKAN KETIKA MAKAN SAHUR

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

نِعْمَ سَحُوْرِ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah tamr (kurma).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 562 dan Shahihul Jami’ish Shaghir, 2/1146 no. 6772)

At-Tamr adalah kurma yang sudah matang, inilah salah makanan yang diutamakan untuk dimakan ketika sahur.

Berbeda dengan jika kita berbuka (ifthor), maka yang diutamakan pertama kali adalah Ar-Ruthob atau kurma muda terlebih dahulu, baru jika tidak ada maka diutamakan At-Tamr setelahnya, dan jika juga tidak ada baru air.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٍ فَعَلَى ثَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum melaksanakan shalat (Maghrib), maka jika tidak ada ruthab (beliau berbuka) dengan tamr, jika tidak ada (tamr) maka beliau berbuka dengan meneguk air.” (Hadits hasan shahih, riwayat Abu Dawud dan lainnya, lihat Shahih Sunan Abi Dawud, 2/59 no. 2356 dan Al-Irwa, 4/45 no. 922).

Keutamaan makan At-Tamr (kurma matang) untuk sahur itu bukan berarti kita tidak boleh untuk makan selain itu ketika makan sahur. Hal itu boleh dan tidak mengapa.

Namun jika kita bisa untuk menyiapkan At-Tamr (kurma matang) untuk Sahur, maka usahakan sebisanya makan At-Tamr (kurma matang) sebagai makanan pendamping makan sahur, di samping makanan lainnya.

Ini untuk mengikuti sunnah Rasulullah Shalalloohu ‘alaihi wa sallam, dan untuk mendapatkan pahala.

SEPUTAR KEGIATAN YANG DIUTAMAKAN KETIKA WAKTU SAHUR

Selain makan sahur itu barokah, waktu makan sahur itu juga merupakan waktu yang barokah bagi kita. Dari hal itu terdapat beberapa amalan yang utamakan untuk dilakukan ketika waktu sahur, selain dari makan sahur itu sendiri tentu saja.

Amalan yang diutamakan untuk dilakukan ketika masuk waktu sahur adalah:
1. Banyak melakukan doa karena itu merupakan waktu yang mustajab dan beristighfar memohon ampun kepada Allah.

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“Merekalah (orang-orang yang bertaqwa penghuni surga) orang-orang yang penyabar, jujur, tunduk, rajin berinfak, dan rajin istighfar di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu sahur. ” (QS. Adz Dzariyat: 18)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang beristighfar meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758).

Ibnu Hajar menjelaskan hadits di atas,

أن آخر الليل أفضل للدعاء والاستغفار ويشهد له قوله تعالى والمستغفرين بالأسحار وأن الدعاء في ذلك الوقت مجاب

“Bahwa akhir malam sangat afdhal untuk berdoa dan beristighfar. Dalilnya firman Allah (yang artinya) ‘yaitu orang-orang yang rajin beristighfar di waktu sahur.’ Dan bahwa doa di waktu sahur itu mustajab.” (Fathul Bari, 3/31).

2. Membaca Al-Qur’an

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿٢﴾ نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ﴿٣﴾ أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَ‌تِّلِ الْقُرْ‌آنَ تَرْ‌تِيلًا ﴿٤﴾ إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا ﴿٥﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al Muzzammil: 2-6)

3. Sholat Malam
Jika kita sudah melakukan sholat tarawih bersama dengan imam hingga sholat witir sampai selesai, maka boleh bagi kita untuk menambah sholat malam pada waktu sahur dengan tanpa mengulangi sholat witir.

Ini karena sholat witir itu hanya boleh dilakukan sekali saja dalam semalam.
Dari Thalq bin Ali radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا وتران في ليلة

“Tidak boleh melakukan 2 kali witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad 16296, Nasai 1679, Abu Daud 1439, dan dihasankan Syuaib Al-Arnauth).

Kaifiyat melakukan sholat malam adalah dengan melakukan sholat dua rekaat salam, dua rekaat salam, dan seterusnya boleh ditambahkan semampunya hingga masuk waktu shubuh.

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah melakukan safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda,

إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جُهْدٌ وَثُقْلٌ، فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَإِلَّا كَانَتَا لَهُ

“Sesungguhnya safar ini sangat berat dan melelahkan. Apabila kalian telah witir, kerjakanlah shalat 2 rakaat. Jika malam harinya dia bisa bangun, (kerjakan tahajud), jika tidak bangun, dua rakaat itu menjadi pahala shalat malam baginya.” (HR. Ibnu Hibban 2577, Ibnu Khuzaimah 1106, Ad-Darimi 1635, dan dinilai shahih oleh Al-‘Adzami).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)

4. Menggabungkan membaca Al-Qur’an dan Sholat Malam

Jika mampu, maka boleh menggabungkan antara membaca Al-Qur’an dan sholat malam. Bahkan jika hafalannya tidak terlalu banyak, maka boleh baginya untuk sholat malam sambil berdiri membaca mushaf Al-Qur’an

عن ابن أبي مليكة أن ذكوان أبا عمرو كانت عائشة أعتقته عن دبر فكان يؤمها ومن معها في رمضان في المصحف

Dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Dzakwan (Abu Amr) –budak yang dijanjikan bebas oleh Aisyah jika beliau (Aisyah) meninggal- mengimami Aisyah dan orang-orang bersama Aisyah di bukan Ramadhan dengan membaca mushaf. (HR. Bukhari secara Muallaq, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf)

Wallaahu A’lam

Advertisements