HAL-HAL YANG MERUSAK PUASA

Setelah memahami apa yang membatalkan puasa dan apa yang tidak membatalkan puasa, maka perlu juga bagi kita untuk memahami apa yang “merusak puasa”.

Pentingnya memahami hal-hal yang merusak puasa ini sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

Merusak puasa yang dimaksud disini adalah berkurangnya pahala puasa, hingga hilangnya semua pahala puasa. Maka dari itu rasulullaah sampai berkata mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Bagaimanakah kita mengetahui apakah pahala kita berkurang sebagian saja karena rusaknya puasa kita, ataukah hilang hingga semuanya? Maka jawabnya hanya Allah yang tahu ! Ini karena puasa itu adalah suatu amalan yang special, yang Allah sendiri yang akan langsung membalasnya di akhirat nanti.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat.” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.

Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim no. 1151)

***
Puasa orang yang melakukan “perusak-perusak puasa” itu memang sah hukumnya, sepanjang mereka tidak melakukan pembatal-pembatal puasa, akan tetapi puasa mereka “hampa” dan “tidak ada artinya”. Apalagi untuk merubah kehidupan mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik….

Berikut adalah perbuatan-perbuatan merusak puasa yang diperingatkan oleh rasulullah akan hal itu :

1. Perkataan dan tindakan Az-Zuur (dusta dan fitnah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan az-zuur (dusta dan fitnah) dan malah melakukan amalan dengan berdasarkan kedustaan itu, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Lebih jauh dari ini, di dalam Al-Qur’an Allah subhaanahu wa ta’ala menyandingkan perkataan Zuur itu dengan penyembahan berhala-berhala yang najis.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

فَاجْتَنِبُوا الرِّ‌جْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ‌

“Maka jauhilah oleh kalian (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta!” (QS. Al-Hajj (22): 30)

Rasulullah pun juga dalam hadits yang lain, sangat memperingatkan akan bahaya Az-Zuur ini dengan berkali-kali mengulang-ulangnya dalam satu watu, serta menyandingkannya dengan dosa besar syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.

عن أَبي بكرة نُفَيع بن الحارثَ رضي الله عنه قالَ : قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم : (( ألا أُنَبِّئُكُمْ بأكْبَرِ الكَبَائِرِ ؟ )) – ثلاثاً – قُلْنَا : بَلَى ، يَا رَسُول الله ، قَالَ :
(( الإشْرَاكُ بالله ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ )) ، وكان مُتَّكِئاً فَجَلَسَ ، فَقَالَ : (( ألاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ )) فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا : لَيْتَهُ سَكَتَ .

Dari Abu Bakrah Nufai’ bin Harits RA berkata Rasulullah SAW bertanya sebanyak tiga kali, “Maukah apabila aku beritahukan kepada kalian dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau SAW bersabda, “Yaitu menyekutukan Allah dengan selain-Nya (syirik) dan durhaka kepada kedua orang tua.”

Saat itu beliau SAW sedang bersandar, maka beliau lantas duduk dan meneruskan sabdanya, “Juga perkataan dusta (Az-Zuur) dan kesaksian dusta (Az-Zuur).” Beliau terus-menerus mengulang sabdanya (yang terakhir) sampai-sampai kami berkomentar, “Alangkah baiknya apabila beliau diam.” (HR. Bukhari no. 2654 dan Muslim no. 87)

Selain perkataan Az-Zuur (dusta), di hadits yang paling awal tadi rasulullah juga berkata “وَالْعَمَلَ بِهِ “ (Dan juga melakukan perbuatan berdasarkan kedustaan itu). Maksud dari hal ini adalah melakukan tindakan manipulasi dan kebohongan dengan berdasarkan kedustaan yang dia katakan.

Perbuatan dusta itu banyak. Bisa dengan berlagak hebat dengan berdasarkan klaim kebohongan yang dia lakukan. Menghasut orang lain dan mendzolimi orang lain dengan berdasarkan tuduhan dusta yang dia katakan. Mengkorupsi dengan berdasarkan manipulasi data dan silat lidah yang dia katakana. Dan masih banyak lagi variannya.

2. Perkataan yang sia sia (al-laghwu), kotor dan seronok (ar-rofats)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari laghwu (sia sia) dan rofats (kotor dan seronok).

Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Ar-rofats disini yang dimaksud adalah perkataan kotor dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah syahwat.

Di dunia modern sekarang ini, dengan kemajuan berbagai macam media dan internet, sangat mudah untuk menemukan hal-hal yang memberikan fasilitas ke arah rofats. Dengan membuka TV, mudah bagi kita menemukan wanita cantik berseliweran, apalagi di internet. Di mall-mall mudah bagi kita menemukan wanita berbaju minim. Dan lain-lain

Kadang hal itu sudah menjadi budaya dan kita terbiasa dengannya, dan celakanya hal itu sebenarnya dapat merusak puasa kita tanpa kita sadari.

Adapun Al-Laghwu, secara bahasa adalah suatu hal yang sia-sia. Baik itu perbuatan ataupun perkataan. Yang mana hal yang sia-sia ini bisa melalaikan orang dari melakukan ketaatan kepada Allah, dan malah justru menjerumuskan seseorang kepada kemaksiatan hingga rusaklah puasanya.

Misal di Indonesia ini terkenal dengan menjual petasan untuk dimainkan pada malam tarawih atau waktu sahur. Hal ini jelas sia-sia dan bisa menjerumuskan orang kepada kemaksiatan dengan mengganggu orang di jalan. Contoh yang lain adalah seperti ngabuburit yang berlebihan, sehingga dijadikan ajang “cuci mata” ataupun bercengkerama mesra dengan lawan jenis.

Atau misal lainnya adalah banyaknya acara lawak dan yang sejenis di TV yang sia-sia. Yang mana ini berakibat kepada kata-kata kotor, melecehkan lawan mainnya, pertunjukan wanita cantik, rayuan-rayuan yang menggoda, dan lain-lain yang semisal.

Dari hal ini, hendaklah kita berhati-hati menjaga diri kita dari hal-hal yang merusak puasa kita.

3. Berbagai macam kemaksiatan.

Berbagai macam kemaksiatan itu jelas merusak puasa seseorang. Dalil untuk hal ini adalah adanya orang yang didoakan oleh Malaikat Jibril ‘alaihis Salaam agar dilaknat oleh Allah, dan kemudian diaminkan oleh rasulullah.

Penyebab dari orang tersebut didoakan untuk dilaknat karena dia melewatkan bulan ramadhan tanpa bisa mendapatkan pengampunan dari Allah. Bagaimana bisa dia mendapatkan pengampunan, sedangkan dia justru malah aktif melakukan kemaksiatan di dalamnya hingga didoakan agar mendapat laknat?

Dari sinilah kita ambil hukum bahwa berbagai macam kemaksiatan itu dapat merusak puasa seseorang. Wallaahu A’lam.

قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمي

Rasulullah bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan,‘Amin’.
[Lihat Shahih At Targhib (1679) oleh Syaikh Albani rohimahulloh]

****
Demikianlah 3 hal pokok yang dapat merusak puasa kita. Yang mana dari 3 hal itu, terkandung banyak hal yang bisa dikategorikan termasuk di dalamnya.

Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang merusak puasa kita. Aamiiin

Advertisements