HAL-HAL YANG DIBOLEHKAN KETIKA PUASA
Kadang terdapat beberapa hal kebiasaan sehari-hari yang “takut” untuk dilakukan, karena menganggap “jangan-jangan” itu dapat membatalkan puasa.

Padahal kalau dilihat dari tinjauan fiqh, hal tersebut sebenarnya tidak membatalkan puasa.

Hal-hal yang sebenarnya tidak membatalkan puasa itulah yang kadang “memberatkan” pelaksanaan puasa. Padahal sebenarnya salah satu jiwa puasa itu adalah “mudah pelaksanaannya”, sebagaimana firman Allah yang membahas mengenai puasa yang berbunyi,

يُرِ‌يدُ اللَّـهُ بِكُمُ الْيُسْرَ‌ وَلَا يُرِ‌يدُ بِكُمُ الْعُسْرَ‌

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….” (QS. Al-Baqarah : 185)

Maka dari itu, berikut kami coba kumpulkan beberapa hal-hal yang dibolehkan ketika puasa yang kiranya perlu untuk kita ketahui.

1. Mencicipi makanan selama tidak masuk kerongkongan (tidak ditelan)
Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma mengatakan:

لَا بَأسَ أَن يَذُوق الخَلَّ أو الشَيءَ مَا لَـم يَدخُل حَلقَه وهو صائم

Orang yang puasa boleh mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk ke kerongkongannya. (HR. Al Bukhari secara muallaq, diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf 2/304. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ no. 937 mengatakan bahwa riwayat ini hasan.)

Aplikasinya adalah seseorang mencicipi makanan hanya untuk merasakan rasanya, lalu meludahkannya agar tidak masuk ke kerongkongan dan tertelan. Hal-hal yang semisal juga berlaku untuk hal-hal yang lain seperti kumur-kumur, bersiwak atau menggosok gigi, dan lain-lain.

Kaidah umum yang bisa diambil dari hadits ini adalah, segala sesuatu yang masuk melalui jalan makanan dengan sengaja, yakni dari mulut masuk ke kerongkongan dan kemudian menuju lambung, maka itulah yang membatalkan puasa.

Sedangkan hal-hal yang masuk ke dalam tubuh namun bukan melalui “jalan makanan”, maka itu tidak membatalkan puasa. Ini seperti misal tetes mata, obat luka luar, dan lain-lain.

Itu semua tidak membatalkan puasa kecuali infus atau suntikan yang mengandung vitamin dan makanan, sebagaimana perkataan ulama. Hal ini akan kita perinci lagi di point-point yang lain.

Maka dari itu termasuk juga hal-hal yang “seakan-akan” berada di jalur makanan, namun tidak berakhir di lambung, maka itu juga tidak membatalkan puasa.

Ini seperti halnya kumur-kumur yang ada di mulut, namun tidak masuk ke kerongkongan apalagi ke lambung, maka ini tidak membatalkan puasa. Seperti juga memakai inhaler, yang walaupun masuk dari hidung menuju ke kerongkongan namun berakhir di paru-paru melalui jalur pernafasan. Bukan berakhir menuju ke lambung atau jalur pencernaan. Maka ini tidak membatalkan puasa menurut pendapat ulama yang rojih.

Hal ini juga akan kita perinci lagi di point-point yang lain.

2. Memasukkan air ke dalam hidung ketika berwudhu (istinsyaaq)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وبَالِغ فِي الاِستِنشَاق إلا أَن تكُون صائماً

“Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke dalam hidung (istinsyaaq), kecuali jika kalian sedang berpuasa.” (HR. Pemilik kitab sunan dengan sanad shahih)

Di hadits itu rasulullah membolehkan istinsyaaq selama masih hanya di hidung saja, dan tidak tertelan. Karena jika tertelan, maka air tersebut dapat masuk ke kerongkongan dan berakhir ke lambung (jalur pencernaan), walaupun awal mulanya berasal dari hidung.

Hal ini beda dibandingkan dengan mencium bau-bauan, termasuk juga inhaler, yang berakhir masuk ke paru-paru (jalur pernafasan).

3. Berkumur-kumur untuk berwudhu dan sejenisnya
Dari Jabir bin ‘Abdillah, dari ‘Umar Bin Al Khaththab, beliau berkata,

هَشَشْتُ يَوْما فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْراً عَظِيماً قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ ». قُلْتُ لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَفِيمَ »

“Pada suatu hari nafsuku bergejolak muncul kemudian aku mencium istriku padahal aku sedang berpuasa, maka aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku berkata, “Hari ini aku melakukan suatu kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang berpuasa”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur?” Aku menjawab, “Seperti itu tidak mengapa.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu apa masalahnya?“ [HR. Ahmad 1/21. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim.]

Disini tedapat catatan penting, bahwa mungkin saja ketika kita berkumur-kumur dan telah membuang air keluar secara “matematis” dan “perasaan” masih ad tersisa “sedikit air” yang nenempel di mulut.

Maka hal ini insya Allah tidak mengapa jika tertelan, karena ini termasuk dalam hal yang yang tidak bisa dihindarkan, tidak disengaja, dan “termaafkan”.

Dalil untuk ini adalah karena rasulullah dan para shahabat tidak memerinci seperti apakah kumur-kumur hingga benar-benar keluar semua airnya itu. Sedangkan menunda penjelasan ketika diperlukan itu tidak dibolehkan (تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزًُ ), menurut kaidah ushul fiqh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا أَحَلَّ اللهُ فِيْ كِتَابِهِ فَهُوَ حَلاَلٌ، وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَافِيَةٌ، فَاقْبَلُوْا مِنَ اللهِ الْعَافِيَةَ، فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَكُنْ نَسِيًّا، ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الآية:…..

“Apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya, maka itulah yang halal dan apa yang diharamkan-Nya, maka itulah yang haram. Sedangkan apa yang didiamkan-Nya, maka itu adalah yang dima’afkan maka terimalah pema’afan dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak pernah lupa. Kemudian beliau membaca ayat, “Dan tidaklah tuhanmu lupa.” (Maryam: 64).( Hadits riwayat Al-Hakim, 2/375, dihasankan oleh Al-Albani dalam Ghaayatul Maraam, hal 14.)

Kaidah dan pemahaman ini juga berlaku untuk semua pembahasan kita.

4. Menelan dahak dan air liur.
Hal ini tidak membatalkan puasa, dan dalilnya adalah “ketiadaan dalil” yang menyatakan bahwa ini membatalkan puasa.

Yang dimaksud dari dalilnya adalah “ketiadaan dalil” adalah karena ini adalah masalah ibadah, maka mengatakan bahwa sesuatu itu membatalkan puasa wajib ada dalilnya atau qiyas dengan menggunakan dalil.

Adapun jika digunakan pemahaman bahasa, maka yang dimaksud makan dan minum itu adalah memasukkan benda asing dari “luar tubuh” ke dalam tubuh melalui mulut. Adapun dahak dan air liur itu bukanlah sesuatu yang berasal dari luar tubuh kita, sehingga hal itu tidak bisa disebut makan atau minum, dan juga tidak bisa diqiyaskan dengan makan atau minum.

Lebih jauh lagi menurut madzhab Hanafiyyah dan malikiyyah, menelan dahak itu tidak membatalkan puasa karena ia dianggap sama seperti air ludah dan bukan sesuatu yang asalnya dari “luar”. [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9962 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2/117.]

Berikut kami sertakan juga penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Munajjid hafidzahullah dari situs IslamQA (Islam Question and Answer), yang menukil perkataan dari para ulama senior yang lain mengenai hal ini.

Topik : Apakah Menelan Dahak Dan Memasukan Telunjuk Ke Dalam Telinga Membatalkan Puasa?
Tanya :
Ketika mendekati Ramadhan, para ulama di negeri kami membagikan bulletin, yang isinya mengenai penjelasan tata cara puasa dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa termasuk menelan, dahak, ingus, dan memasukan jari ke dalam telinga dapat membatalkan puasa. Apakah hal tersebut benar? Berilah kami jawaban dan semoga rahmat Allah selalu menyelimuti anda.

Jawab :
Alhamdulillah
Pertama,
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menelan dahak bagi orang yang berpuasa, apakah membatalkan puasa atau tidak? Yang benar, ia tidak membatalkan puasa, karena ia tidak termasuk dalam katagori makan dan minum.

Syekh Utsaimin berkata,
Jika para ulama berbeda pendapat, maka kita harus merujuk kepada al Qur’an dan sunnah. Jika kita ragu dalam masalah ini, apakah menelan ludah membatalkan puasa atau tidak? Secara asal, ia tidak membatalkan puasa. Atas dasar ini, maka menelan dahak tidak membatalkan puasa.
Intinya, sebisa mungkin orang yang berpuasa tidak menelan dahak. Tapi jika memungkinkan ia mengeluarkannya dari mulutnya maka hendaknya ia melakukannya. Baik ia dalam keadaan puasa ataupun tidak.

Adapun berbuka (batal puasa) karena hal tersebut, perlu landasan dalil agar kita bisa memberi alasan di hadapan Allah Ta’ala. Lihat, majmu’ al fatawa, 19/ 356.

Ia melanjutkan,
Pendapat yang rajih (kuat), bahwa menelan dahak tidak membatalkan puasa. Sampai misalnya dahak telah berada di mulut lalu ia menelannya tetap tidak membatalkan puasa. Tapi sebaiknya ia tidak menelannya. Bahkan sebagian ahli ilmu mengharamkannya, karena hal itu termasuk kotoran, tidak sepantasnya ditelan manusia.’ Lihat, liqa’ul bab almaftuh, no: 153.

Kedua,
Adapun memasukan jari ke dalam telinga, tidak membatalkan puasa secara mutlak. Bahkan sekiranya tetesan air atau cairan obat yang dimasukan lewat telinga dan tenggorokannya merasakan aromanya, maka hal itu tidak membatalkan puasa. Karena tidak ada dalil yang menunjukan tentang pembatalannya.

Untuk menambah wawasan masalah ini, bisa dilihat soal jawab, no: 80208.

Wallahu a’lam

Lihat : http://islamqa.info/id/172499

5. Bersiwak dan menggosok gigi
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

“Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk menyikat gigi (bersiwak) setiap kali berwudhu.”[Hr. Bukhari]

Hadits di atas berlaku umum, baik ketika berpuasa dan ketika tidak berpuasa. Dan terlebih lagi Imam Al-Bukhari meletakkan hadits itu di dalam bab ““Siwak basah dan kering bagi orang yang berpuasa” dalam kitab Shohih beliau (Shohih Bukhari). Hal ini menandakan bahwasanya bersiwak itu tidak membatalkan puasa sesuai dengan keumuman dalil itu.

Senada dengan siwak adalah menggosok gigi dengan sikat gigi. Hal ini tidak mengapa dan tidak membatalkan puasa.

6. Mandi dan yang semisal

كان صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصب الماء على رأسه وهو صائم من العطش أو من الحر

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyiramkan air ke atas kepala Beliau ketika sedang puasa, karena kehausan atau terlalu panas. (HR. Ahmad, Abu Daud dengan sanad bersambung dan shahih)

وكان ابْنُ عُمَرَ -رضى الله عنهما- بَلَّ ثَوْبًا ، فَأَلْقَاهُ عَلَيْهِ، وَهُوَ صَائِمٌ.

Ibn Umar radliallahu ‘anhuma pernah membasahi pakaiannya dan beliau letakkan di atas kepalanya ketika sedang puasa. (Riwayat Al Bukhari secara muallaq)

Semisal dengan ini, maka boleh saja untuk berenang ataupun berendam di air asalkan tidak tertelan airnya. Adapun jika tidak memiliki kemampuan yang mumpuni agar tidak tertelan air ketika berenang, maka tidak boleh untuk berenang.

7. Bercelak, menggunakan tetes mata dan juga tetes telinga
Al Bukhari menyatakan dalam shahihnya:

ولم ير أنس والحسن وإبراهيم بالكحل للصائم بأساً

Anas bin Malik, Hasan Al Bashri, dan Ibrahim berpendapat bolehnya menggunakan celak. (Shahih Bukhari, bab Bolehnya orang yang berpuasa mandi)

Semisal dengan hal ini adalah menggunakan tetes mata. Terlebih lagi secara medis, tetes mata yang dimasukkan lewat mata tidak akan masuk hingga ke jalur makanan. Mata secara alamiah akan mengeluarkan cairan pembersih mata untuk melawan berbagai macam benda asing yang masuk melalui mata.

Penjelasan yang sama juga berlaku untuk tetes telinga.

Berikut kami sertakan juga penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Munajjid hafidzahullah dari situs IslamQA (Islam Question and Answer), yang menukil perkataan dari para ulama senior yang lain mengenai hal ini.

Topik : Hukum Menggunakan Obat Tetes Telinga Ketika Berpuasa Ramadhan
Tanya :
Apa hukum menggunakan obat tetes telinga pada bulan Ramadhan dan pada siang harinya? Apakah itu membatalkan puasa ataukah tidak?

Jawab :
Alhamdulillah
Dibolehkan bagi yang berpuasa untuk memakai obat tetes telinga dan mata. Sebab hal itu tidak merusak puasa. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa obat tetes telinga dan mata bisa membatalkan puasa jika rasa obat tersebut sampai di tenggorokan. Karena itu, sebaiknya tidak menggunakan obat tersebut di siang hari Ramadhan. Jika ia mendapati rasanya sampai ke tenggorokan lalu, untuk berjaga-jaga, ia meng-qadha puasanya maka ini lebih baik.

Dalam keputusan “Majma’ al-Fiqh al-Islami” disebutkan:
Hal-hal berikut tidak membatalkan puasa: tetes mata, tetes telinga, sikat gigi, tetes hidung, semprot hidung, selama tetesannya yang jatuh ke tenggorokan tidak ditelan. Demikian.

Syaikh Abdullah ibn Baz rahimahullah berkata:
Membersihkan gigi dengan pasta gigi tidak membatalkan puasa, sebagaimana halnya siwak. Namun demikian, orang yang bersangkutan harus berhati-hati agar tidak ada yang tertelan ke dalam perut. Jika ada yang tertelan tanpa sengaja, maka itu tidak membatalkan puasa. Demikian pula halnya dengan tetes mata dan telinga. Keduanya tidak membatalkan puasa, berdasarkan pendapat paling shahih. Jika rasa tetesan tersebut terasa di tenggorokan, maka meng-qadha puasa adalah lebih utama, namun tidak wajib. Karena keduanya tidak menembus ke dalam lubang saluran makan dan minum. Adapun tetes hidung, maka hal itu tidak dibolehkan. Karena saluran hidung menembus ke lubang saluran makan dan minum (tenggorokan). Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً

“Beristinsyaqlah kecuali jika kamu berpuasa!”
Hadis ini diriwayatkan oleh at-Turmudzi (788), Abu Dawud (142), dan dinyatakan shahih oleh al-Albani.

Berdasarkan hadis ini, orang yang menggunakan obat tetes hidung ketika berpuasa, wajib meng-qadha puasanya. Demikian pula dengan yang serupa dengan hal ini jika rasanya terasa di tenggorokan. Demikian. Dikutip dari “Majmu’ Fatawa Ibn Baz” (15/260, 261).

Syaikh Ibn Baz rahimahullah juga berkata:
Yang sahih, obat tetes mata tidak membatalkan puasa. Sekalipun ini menjadi perdebatan di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat, jika rasanya sampai ke tenggorokan maka itu membatalkan.

Namun yang sahih, hal itu tidak membatalkan secara mutlak. Karena mata tidak tembus ke tenggorokan. Namun jika yang menggunakannya merasa ada rasa di tenggorokan kemudian meng-qadha puasanya, untuk berjaga-jaga dan keluar dari perselisihan, maka hal itu tidak mengapa. Tidak meng-qadha puasanya pun tidak mengapa. Karena yang sahih adalah obat tetes tidak membatalkan puasa, baik itu tetes di mata maupun di hidung. Demikian. Dikutip dari “Majmu’ Fatawa Ibn Baz” (15/263).

Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
Adapun tetes mata, misalnya saja celak, dan tetes telinga, maka keduanya tidak membatalkan puasa. Karena keduanya tidak disebutkan dalam nash dan tidak dalam pengertian hal-hal yang disebutkan dalam nash. Mata bukan jalur makanan dan minuman. Demikian pula dengan teling. Keduanya seperti yang lain merupakan lubang-lubang yang terdapat pada tubuh.

Para ulama berkata:
Jika orang melumuri kedua kakinya dengan hanzhal (sejenis buah yang bentuk dan warnanya seperti jeruk tapi rasanya sangat pahit) dan merasakan rasanya di tenggorokan maka hal itu tidak membatalkan puasanya. Karena kaki bukan jalur makanan dan minuman. Demikian pula dengan bercelak, atau meneteskan tetes pada mata atau pada telinga, maka semua itu tidak membatalkan puasa, sekalipun rasanya terasa di tenggorokan. Demikian pula halnya jika ia memakai minyak di kulitnya untuk pengobatan atau untuk tujuan lain maka itu tidak akan membahayakan puasanya. Demikian pula halnya jika ia menderita sesak nafas lalu ia menghirup gas yang diletakkan di mulutnya untuk membantu pernafasannya maka hal itu tidak membatalkan puasanya, karena tidak sampai ke lambung. Itu bukan makanan juga bukan minuman. Demikian. Dikutip dari “Fatawa Shiyam” (206).

Wallahu a’lam

Lihat : http://islamqa.info/id/80208

8. Memasuki waktu puasa dalam keadaan junub
Dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma, mereka berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati waktu fajar (waktu Shubuh) dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” [HR. Bukhari no. 1926.]

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” [HR. Muslim no. 1109.]

Senada dengan hal ini adalah jika seseorang laki-laki telah memasuki waktu puasa, sedang ia tertidur dan mengalami ihtilam (mimpi basah) maka hal ini juga tidak membatalkan puasanya.

9. Mencium, bercumbu, atau ber-mubasyarah dengan istri selama tidak inzal (mengeluarkan mani) ataupun jima’.

Hal ini telah kita bahas pada tulisan kita yang terdahulu pada tulisan ke -14, berikut juga “peringatan-peringatan” akan hal ini. Hendaklah merujuk kembali kepada tulisan kami yang terdahulu itu.

10. Berbekam dan donor darah

Hal ini juga tidak membatalkan puasa, adapun perinciannya telah kita bahas pada tulisan ke -14. Hendaklah merujuk kembali kepada tulisan itu.

Advertisements