PEMBATAL-PEMBATAL PUASA YANG DIPERSELISIHKAN ULAMA

Melanjutkan tulisan kami mengenai pembatal puasa yang terdahulu, berikut akan kami coba sajikan 2 buah pembatal puasa yang diperselisihkan oleh para ulama, berikut juga pendapat yang kami kuatkan yang kami pilih.

Berikut adalah pembatal-pembatal puasa yang diperselisihkan ulama :

1. Melakukan bekam ketika sedang berpuasa

Dalil yang menyebabkan para ulama berbeda pendapat, apakah bekam itu membatalkan puasa atau tidak, adalah karena adanya dalil-dalil berikut ini :

وَيُرْوَى عَنِ الْحَسَنِ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مَرْفُوعًا فَقَالَ أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ

Diriwayatkan dari Al Hasan dari beberapa sahabat secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Beliau berkata, “Orang yang melakukan bekam dan yang dibekam batal puasanya.”

[Hadits riwayat Bukhari, hadits ini juga dikeluarkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ no. 931 mengatakan bahwa hadits ini shohih]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتَجَمَ ، وَهْوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهْوَ صَائِمٌ .
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berihrom dan berpuasa. [HR. Bukhari]

يُسْأَلُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ – رضى الله عنه – أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الْحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ قَالَ لاَ . إِلاَّ مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.” [HR. Bukhari no. 1940]

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
أرخص النبي صلى الله عليه وسلم في الحجامة للصائم

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memberikan rukhshoh (keringanan hukum) dalam masalah bekam bagi orang yang sedang puasa.” (Diriwayatkan oleh An-Nasai, Ad-Daruquthni n Al-Baihaqi. Dan derajat hadits ini shohih lighoirihi sebagaimana dinyatakan syaikh Al-Albani rahimahullah di dlm Irwa’ul Gholiil IV/74).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka ulama pun berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwasanya bekam itu membatalkan puasa seperti halnya inilah pendapat imam Ahmad, Ibnu Sirin, Atho bin Abi Robah, Al-Auza’i, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Taimiyah. Yang kemudian diikuti oleh Ibnul Qoyyim dan juga Syaikh ibn Baz.

Adapun jumhur mayoritas ulama berpendapat bahwasanya bekam itu tidak membatalkan puasa, ini seperti halnya pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhum, imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Asy-Syafi’I rahimahumullah, dan selainnya.

Dari dua pendapat tersebut, kami lebih condong untuk menguatkan kepada pendapat bahwa bekam itu tidak membatalkan puasa.

Perincian dari pendapat yang kami pilih ini, kami ambil dengan menengahkan pemahaman hukum nasikh mansukh. Hukum bahwa bekam itu membatalkan puasa sebagaimana yang disebutkan dalam hadits “Orang yang melakukan bekam dan yang dibekam batal puasanya.” , termansukh (terhapus) hukumnya dengan adanya hadits “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memberikan rukhshoh (keringanan hukum) dalam masalah bekam bagi orang yang sedang puasa.”

Terlebih lagi rasulullaah sendiri pernah melakukan bekam waktu sedang puasa, sebagaimana hadits Ibnu Abbas yang menyatakan “bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berihrom dan berpuasa” [HR. Bukhari].

Hanya saja walaupun bekam itu tidak membatalkan puasa, namun khusus bagi orang yang keadaan tubuhnya menjadi lemah setelah dibekam maka hukum bagi orang seperti ini makruh hukumnya, namun tidak sampai batal puasanya. Hal ini karena ada keterangan dari Anas bin Malik yang ditanya ““Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.” [HR. Bukhari no. 1940]

Senada dengan masalah hukum bekam ini, maka ini berlaku juga untuk hukum “donor darah” yang ada pada abad modern sekarang ini. Sehingga baik bekam ataupun donor darah, maka hal tersebut tidak membatalkan puasa seseorang.

Ada juga pendapat yang memerinci, bahwa jika yang didonorkan itu sedikit maka puasanya tidak batal, namun jika yang didonorkan itu darah dalam jumlah yang banyak maka puasanya batal. Namun sayang, kami masih belum melihat dalil yang bisa dijadikan landasan untuk perincian pendapat ini. Sehingga kami tidak berpendapat dengan pendapat ini.

Wallaahu A’lam

2. Mengeluarkan mani ketika dalam keadaan sadar dengan sengaja (Al-Inzal atau ejakulasi)

Al-Inzal atau mengeluarkan mani dengan sengaja yang dimaksud itu adalah :
Usaha untuk mengeluarkan mani dengan tanpa jima’ atau Ad-Dukhul, baik itu dengan cara istimna’ (onani dan masturbasi), mubasyarah (bercumbu dengan wanita) namun tanpa dukhul (penetrasi) hingga mengeluarkan mani, atau dengan melalui berbagai macam media dan teknik lainnya.

Al-Inzal yang kami maksud bukanlah Al-Inzal yang dikeluarkan di dalam farji wanita, akan tetapi Al-Inzal yang dikeluarkan di selainnya.

Penting untuk dicatat disini, bahwasanya Al-Inzal itu hukumnya haram dan dosa dilakukan ketika sedang berpuasa. Namun yang kami bahas disini apakah walaupun itu haram dan dosa, namun apakah itu termasuk hal yang membatalkan puasa?

Hal ini sama seperti mencuri, merampok, berbohong, dan menipu yang hukumnya jelas-jelas harom dan berdosa. Namun walaupun harom dan berdosa, mencuri, merampok, berbohong, dan menipu itu tidaklah membatalkan puasanya seseorang.

Merusak dan membatalkan pahala puasanya seseorang? Ya. Namun apakah itu membatalkan puasa? Tidak.

Baik ulama yang mengatakan bahwa al-Inzal itu membatalkan puasa ataupun ulama yang mengatakan hal itu tidak membatalkan puasa, mereka sama-sama tidak pernah menganjurkan untuk melakukan Al-Inzal ketika sedang berpuasa.

Ini kami tekankan karena jangan sampai pembahasan perbedaan pendapat ini, dijadikan alasan guna membolehkan dan meremehkan dosa al-Inzal. Ini terutama ditujukan bagi orang-orang yang mempunyai nafsu syahwat yang besar !
***

Mayoritas ulama yang mengatakan Al-Inzal itu membatalkan puasa berdalil dengan,

a. Hadis qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي
Allah berfirman, “Puasa itu milik-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya. Orang yang puasa meninggalkan syahwatnya, makan-minumnya karena-Ku.” (HR. Bukhari 7492, Muslim 1151 dan yang lainnya).

b. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata,’Wahai Rabb-ku, saya telah menahannya dari makan, minum, dan nafsu syahwat pada siang hari, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’.

Dan Al-Qur’an pula berkata,’Saya telah menahannya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan.’” (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Mujma’ul Zawaid)

Perkataan di “meninggalkan syahwat atau menahan nafsu syahwat” itulah yang dijadikan dalil oleh para ulama untuk menjadikan al-Inzal sebagai pembatal puasa.

Berikut kami sertakan juga sedikit perkataan ulama yang berpendapat bahwa Al-Inzal itu membatalkan puasa.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni berkata,

وَلَوْ اسْتَمْنَى بِيَدِهِ فَقَدْ فَعَلَ مُحَرَّمًا ، وَلَا يَفْسُدُ صَوْمُهُ بِهِ إلَّا أَنْ يُنْزِلَ ، فَإِنْ أَنْزَلَ فَسَدَ صَوْمُهُ ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى الْقُبْلَةِ فِي إثَارَةِ الشَّهْوَةِ

“Jika seseorang mengeluarkan mani secara sengaja dengan tangannya, maka ia telah melakukan suatu yang haram. Puasanya tidaklah batal kecuali jika mani itu keluar. Jika mani keluar, maka batallah puasanya. Karena perbuatan ini termasuk dalam makna qublah yang timbul dari syahwat.”

Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 322) berkata,
“Jika seseorang mencium atau melakukan penetrasi selain pada kemaluan istri dengan kemaluannya atau menyentuh istrinya dengan tangannya atau dengan cara semisal itu lalu keluar mani, maka batallah puasanya. Jika tidak, maka tidak batal.”

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata,
“Jika seseorang memaksa keluar mani dengan cara apa pun baik dengan tangan, menggosok-gosok ke tanah atau dengan cara lainnya, sampai keluar mani, maka puasanya batal. Demikian pendapat ulama madzhab, yaitu Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah, dan Ahmad. Sedangkan ulama Zhohiriyah berpendapat bahwa onani tidak membatalkan puasa walau sampai keluar mani. Alasannya, tidak adanya dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang membuktikan bahwa onani itu membatalkan puasa. Dan tidak mungkin kita menyatakan suatu ibadah itu batal kecuali dengan dalil dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi, aku sendiri (syaikh Al-Utsaimin) –wallahu a’lam– mungkin berdalil dengan dua alasan (yang menunjukkan batalnya puasa karena onani):

a. Dalam hadits qudsi yang shahih, Allah Ta’ala berfirman,

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى
“Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku.” (HR. Ahmad, 2: 393, sanad shahih). Onani dan mengeluarkan mani dengan paksa termasuk bentuk syahwat. Mengeluarkan mani termasuk syahwat dibuktikan dalam sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ ».

“Menyetubuhi istri kalian (jima’) termasuk sedekah.” Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa salah seorang dengan syahwatnya mendatangi istrinya bisa mendapatkan pahala?” “Bukankah jika kalian meletakkan syahwat tersebut pada yang haram, maka itu berdosa. Maka jika diletakkan pada yang halal akan mendapatkan pahala,” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim no. 1006)

b. Dalil qiyas (analogi), yaitu dalam hadits telah disebutkan mengenai batalnya puasa karena muntah yang sengaja, bekam dengan mengeluarkan darah. Dan keduanya melemahkan badan. Sedangkan keluarnya makanan (dari muntah), itu jelas melemahkan badan karena badan menjadi kosong sehingga menjadi cepat lapar dan kehausan. Adapun keluarnya darah (lewat bekam), itu juga jelas melemahkan badan. Demikian halnya kita temukan pada onani yaitu keluarnya mani yang menyebabkan lemahnya badan. Oleh karenanya, ketika keluar mani diperintahkan untuk mandi agar kembali menfitkan badan. Inilah bentuk qiyas dengan bekam dan muntah.

Oleh karenanya, kami katakan bahwa keluarnya mani dengan syahwat membatalkan puasa karena alasan dari dalil maupun qiyas.
(Demikian penjelasan Syaikh Al-Utsaimin yang diringkas dari Syarhul Mumthi’.).

***
Adapun ulama yang berpendapat bahwa Al-Inzal itu tidak membatalkan puasa, sebagaimana misal Syaikh Al-Albani rohimahulloh berargumen dalam kitabnya Tamamul Minnah,

قوله: “الاستمناء إخراج المني سواء أكان سببه تقبيل الرجل لزوجته أو ضمها إليه أو كان باليد فهذا يبطل الصوم ويوجب القضاء”.

قلت: لا دليل على الإبطال بذلك وإلحاقه بالجماع غير ظاهر ولذلك قال الصنعاني “الأظهر أنه لا قضاء ولا كفارة إلا على من جامع وإلحاق غير المجامع به بعيد”.

وإليه مال الشوكاني وهو مذهب ابن حزم فانظر “المحلى” 6 / 175 – 177 و205

“Perkataannya –syaikh sayyid sabiq- : adalah onani (mengeluarkan mani) sama saja baik sebabnya dikarenakan seorang lelaki mencium istrinya atau memuluknya ataupun dengan tangan, maka ini membatalkan puasa dan wajib baginya untuk mengqadha puasa”.

Aku berkata -syaikh al albany- : tidak ada dalil atas batalnya puasa karena onani dan menghubungkannya dengan jima’ tidaklah dzahir. Maka dari itu, berkata Ash Shana’ani rahimahullah: Yang lebih jelas adalah bahwasanya istimna tidak perlu qadha ataupun kaffarah kecuali orang yang berjima’ dan menyambung-nyambungkan orang yang tidak jima’ dengan orang yang jima’ adalah sesuatu yang sangat jauh untuk disamakan”

Maka dari itu Asy Syaukani condong kepada pendapat ini dan inilah pendapat Ibnu Hazm, lihat Al Muhalla 6/175-177 dan 205” [Tamam Al Minnah 408]

Sekali lagi sebagai tambahan penguat keterangan :
Bahwasanya ulama yang berpendapat al-Inzal tidak membatalkan puasa itu bukan berarti mereka menganjurkan dan membolehkan melakukan al-Inzal, baik dengan cara onani (istimna’) ataupun lainnya. Syaikh Albani sebagai ulama yang berpendapat al-Inzal itu tidak membatalkan puasa, justru juga memberikan peringatan akan bahaya Onani dan menganjurkan puasa sebagai solusi dalam kitab yang sama (Tamamul Minnah) sebagai berikut :

ولا نقول بجوازه لمن خاف الوقوع في الزنا ، إلا إذا استعمل الطب النبوي ، وهو قوله صلى الله عليه وسلم للشباب في الحديث المعروف الآمر لهم بالزواج : ” فمن لم يستطع فعليه بالصوم ، فإنه له وجاء ” . ولذنك فإننا ننكر أشد الانكار على الذين يفتون الشباب بجوازه خشية الزنا ، دون أن يأمروهم بهذا الطب النبوي الكريم .

“Dan kami tidak berpendapat bolehnya melakukan onani bagi yang takut terjerumus ke dalam perbuatan zina. Kecuali bila telah menggunakan pengobatan ala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yaitu sabda beliau kepada para pemuda agar menikah : {فمن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء} “Maka barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya”. Karena itu kami sangat menentang fatwa yang membolehkan onani bagi pemuda yang khawatir jatuh dalam perbuatan zina tanpa menyuruhnya menggunakan pengobatan dari Nabi yang mulia ini” [Tamamul Minnah hal. 401-402]

Sekarang mari kita kembali lagi ke pembahasan masalah Al-Inzal.

Inti dari ulama yang mengatakan bahwa Al-Inzal itu tidak membatalkan puasa itu, karena :
a. Tidak adanya dalil yang tegas yang menyebutkan hal ini secara khusus
b. Menolak qiyas yang menyamakan jima’ dengan Inzal
c. Memaknai hadits-hadits yang menyebutkan perkataan “meninggalkan syahwat atau menahan nafsu syahwat” kepada makna jima’, bukan makna Inzal. Mereka memaknai “syahwat” dengan “jima’” dengan berdasarkan hadits rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Dan setiap kemaluan kalian ada shadaqah”. Mereka bertanya : “Wahai, Rasulullah apakah salah seseorang di antara kami yang menyalurkan syahwatnya ada pahala padanya ?. Beliau bersabda : “Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di jalan yang haram, bukankah baginya dosa ? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka baginya mendapatkan pahala” [Muttafaqun ‘alaihi]

***
Dari dua perbedaan pendapat itu, kami lebih condong untuk menguatkan bahwa Al-Inzal itu membatalkan puasa.

Pendapat ulama yang memaknai dan membatasi “syahwat” pada hadits sebelumnya sebagai “jima”, kita lemahkan dengan memahami bahwasanya “Syahwat” dalam hadits itu bermakna umum (yakni hadits “Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku.”).

Yakni syahwat yang berarti jima’ ataupun syahwat yang berarti inzal.

Adapun argument hadits rasulullah yang dijadikan alasan “syahwat” dimaknai sebagai “jima’”, kita jelaskan bahwasanya itu karena “konteks haditsnya” sedang berbicara mengenai masalah jima’ dan shodaqoh. Rasulullah tidak berbicara mengenai “syahwat” dalam “konteks puasa”. Sehingga hadits itu tidak dimaksudkan bahwa rasulullah sedang membatasi makna “syahwat” hanya dengan makna jima’ saja.

Berangkat dari pemahaman ini, maka pembahasan mengenai “syahwat” kita kembalikan kepada pemahaman bahasa secara umum mengenai syahwat. Bahwasanya pelampiasan syahwat itu kembali kepada keluarnya mani. Baik itu dengan cara jima’ atau dengan cara Inzal.

Dari hal ini maka Al-Inzal juga bisa dimasukkan dalam makna syahwat tersebut, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Wallaahu A’lam

****
Masih senada dengan pembahasan ini, maka berikut kita akan bahas juga hukum “bercumbu dan bermesraan” (mubasyarah) kepada istri, namun hingga tidak terjadi inzal (ejakulasi keluar mani) ataupun jima’.

Hal ini hukumnya boleh dan tidak membatalkan puasa.

Ini karena Rasulullah sendiri pernah melakukan mubasyarah (mencium, bercumbu, bermesraan, dan bersenang-senang) kepada istri beliau, dengan tetap mampu menahan syahwatnya hingga tidak terjadi jima’ ataupun Inzal.

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل وهو صائم ويباشر وهو صائم ولكنه أملككم لإربه
Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwasannya ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mencium dan bercumbu pada saat beliau sedang berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya diantara kalian” [HR. Al-Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106; ini adalah lafadh Muslim].

حَدَّثَنَا رَبِيعٌ الْمُؤَذِّنُ، قَالَ: ثنا شُعَيْبٌ، قَالَ: ثنا اللَّيْثُ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الأَشَجِّ، عَنْ أَبِي مُرَّةَ، مَوْلَى عَقِيلٍ عَنْ حَكِيمِ بْنِ عِقَالٍ، أَنَّهُ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ” مَا يَحْرُمُ عَلَيَّ مِنَ امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ ؟ قَالَتْ: فَرْجُهَا ”
Telah menceritakan kepada kami Rabii’ Al-Muadzdzin, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’aib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Bukair bin ‘Abdillah bin Al-Asyajj, dari Abu Murrah maulaa ‘Aqiil, dari Hakiim bin ‘Iqaal : Bahwasannya ia pernah bertanya kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : Apa yang diharamkan dari istriku sedangkan aku berpuasa ?”. Ia menjawab : “Farji (kemaluan)-nya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar no. 2190; sanadnya shahih]

عن مسروق قال سألت عائشة ما يحل للرجل من امرأته صائما قالت كل شيء إلا الجماع

Dari Masruq, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada ‘Aisyah: Apa yang dibolehkan bagi seorang pria pada istrinya saat berpuasa?” ‘Aisyah menjawab, “Segala sesuatu selain jima’ (hubungan intim).” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Rozaq dalam mushonnafnya, 4: 190 dan Ibnu Hajar dalam Al Fath (4: 149) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Dari Jabir bin ‘Abdillah, dari ‘Umar Bin Al Khaththab, beliau berkata,

هَشَشْتُ يَوْما فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْراً عَظِيماً قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ ». قُلْتُ لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَفِيمَ »

“Pada suatu hari nafsuku bergejolak muncul kemudian aku mencium istriku padahal aku sedang berpuasa, maka aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku berkata, “Hari ini aku melakukan suatu kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang berpuasa”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur?” Aku menjawab, “Seperti itu tidak mengapa.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu apa masalahnya?“ [HR. Ahmad 1/21. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim.]

****
Untuk lebih menjelaskan, berikut kami sertakan juga perkataan ulama mengenai hal ini.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Munajjid hafidzahulloh pengasuh situs IslamQA (situs tanya jawab islam) yang terkenal itu pernah mendapatkan pertanyaan ditulis dalam topic sebagai berikut :

a. Apa Yang Dibolehkan Seorang Suami Terhadap Istrinya Di Siang Hari Ramadhan?

Tanya :
Bolehkah suami tidur di samping istrinya di siang hari Ramadhan?

Jawab :
Alhamdulillah

Ya. Suami dibolehkan tidur di samping istrinya di siang hari Ramadhan. Bahkan, seorang suami dibolehkan mencumbu istrinya dalam keadaan berpuasa selama tidak menyetubuhinya atau mengeluarkan mani. Al-Bukhari (1927) dan Muslim (1106) meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لأرَبِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium dan mencumbunya dalam keadaan berpuasa. Dan beliau adalah orang yang sangat mampu mengendalikan hasratnya.”

As-Sanadi menjelaskan:

Kata “mencumbu” yang disebutkan di dalam hadis tersebut adalah menyentuh kulit istri dengan kulitnya, seperti menempelkan pipi ke pipi istri. Artinya, bersentuhan kulit, bukan berjimak.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya:
Apa yang dibolehkan bagi suami yang berpuasa terhadap istrinya yang juga sedang berpuasa?

Ia menjawab:

Orang yang berpuasa wajib tidak boleh melakukan dengan istrinya perbuatan-perbuatan yang bisa menyebabkan maninya keluar. Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran waktu “tidak keluarnya mani”. Di antara mereka, ada yang berpendapat ukuran waktunya: lama. Sebab, ada orang mampu mengendalikan dirinya dengan sempurna. Sebagaimana yang dikatakan Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “beliau orang yang sangat mampu mengendalikan hasratnya.” Di antara mereka, ada yang tidak mampu menguasai dirinya dan cepat keluar mani. Maka orang seperti ini terlarang untuk bercumbu dengan istrinya ketika berpuasa wajib. Jika seseorang mengetahui bahwa ia mampu mengendalikan dirinya cukup lama maka dibolehkan baginya untuk mencium dan mencumbui istrinya meskipun ia sedang melaksanakan puasa wajib. Tapi tetap ia harus menghindari jimak. Karena jimak di bulan Ramadhan bagi orang yang diwajibkan berpuasa Ramadhan menyebabkan baginya lima hal:

Pertama, dosa

Kedua, rusaknya puasa

Ketiga, harus melanjutkan puasa. Setiap orang yang merusak puasanya di bulan Ramadhan tanpa alasan syari’ maka wajib atasnya melanjutkan puasa hari itu.

Keempat, wajib atasnya qadha. Karena ia merusak ibadah wajib, maka wajib atasnya qadha.

Kelima, kafarat. Kafaratnya adalah kafarat terberat, yaitu membebaskan hamba sahaya. Jika ia tidak bisa melaksanakannya maka ia diwajibkan berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu melaksanakannya juga, maka ia diwajibkan memberi makan enam puluh orang miskin.

Jika jimak itu dilakukan ketika puasa wajib di luar Ramadhan, seperti puasa qadha Ramadhan dan puasa kafarat, maka konsekuensi yang harus diterimanya ada dua: dosa dan qadha.

Jika puasa yang sedang dilaksanakannya adalah puasa sunah maka tidak ada sanksi yang harus dilakukannya.

Lihat : http://islamqa.info/id/49614

b. Hukum Bermesraan antara suami istri saat berpuasa
Tanya :
Apakah aku boleh berkata kepada isteriku “Aku mencintaimu” saat berpuasa? Suami minta kepadaku agar aku berkata demikian saat berpuasa. Aku katakan kepadanya bahwa hal itu tidak boleh. Dia mengatakan bahwa hal itu boleh.

Mohon penjelasannya, jazaakumullahu khairan.

Jawab :
Alhamdulillah

Tidak mengapa suami bermesraan dengan isterinya, atau isteri mengucapkan kata-kata mesra kepada sang suami saat puasa, dengan syarat keduanya merasa aman tidak keluar mani (akibat perbuatan tersebut). Jika keduanya tidak merasa aman dari keluarnya mani, seperti orang yang hasrat seksualnya tinggi dan dia khawatir apabila bermesraan dengan isterinya akan batal puasanya akibat keluar mani, maka tidak boleh baginya perbuatan itu, karena akan menyebabkan rusaknya puasa. Demikian pula halnya jika dia khawatir keluar mazi. (Asy-Syarhul Mumti, 6/390)

Dalil dibolehkannya mencium dan bermesraan bagi orang yang merasa aman tidak keluar mani, adalah riwayat Bukhai (1927) dan Muslim (1106) dari Aisyah radhialahu anha, dia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencium dan bercumbu (dengan isterinya) saat beliau berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan syahwatnya di antara kalian.”

Dalam shahih Muslim (1108) dari Amr bin Salamah, dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Apakah orang berpuasa boleh mencium?” Maka Rasulullah shalllallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tanyalah kepada dia (maksudnya Ummu Salamah)”. Lalu Ummu Salamah memberitahukannya, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam berbuat seperti itu (mencium saat berpuasa).”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Selain mencium, semua bentuk muqadimah jimak, seperti memeluk dan semacamnya, hukumnya disamakan dengan mencium, tidak ada bedanya.”
(Asy-Syarhul Mumti’, 6/434)

Dengan demikian, sekedar ucapan anda kepada suami anda bahwa anda mencintainya, atau ucapan dia seperti itu kepada anda, tidak membatalkan puasa.

Wallahua’lam.

Lihat : http://islamqa.info/id/20032

***
Bahkan jika seseorang ber-mubasyarah kepada istrinya hingga dia keluar air madzi tanpa sengaja, dengan catatan tanpa keluar air mani dan tidak melakukan jima’, maka hal itu dipandang tidak mengapa oleh para Ulama.

Air madzi adalah air yang keluar dari kemaluan laki-laki karena terangsang syahwatnya pada permulaan syahwat, yang mana ini bukan air mani. Sedangkan air mani itu baru keluar ketika pada puncak syahwat.

Air madzi biasanya putih, encer, dan transparant; sedangkan kalau air mani berwarna putih pekat, kental, dan tidak transparant. Dua hal ini (air madzi dan air mani) cukup mudah untuk dibedakan keberadaannya.

Berikut adalah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Munajjid hafidzahulloh pengasuh situs IslamQA (situs tanya jawab islam) mengenai keluarnya air madzi pada waktu puasa.

Topik : Keluar Mazi Tidak Membatalkan Puasa
Tanya :
Pekerjaan saya di pusat penjualan di siang hari bulan Ramadan menuntut saya untuk menghadapi para gadis dan berbicara kepada mereka tanpa syahwat. Akan tetapi saya merasakan ada sesuatu yang keluar dari kemaluan. Saya tidak tahu, apakah itu mani atau mazi. Apakah puasa saya batal?

Jawab :
Alhamdulillah

Sang penanya ragu, apakah cairan yang keluar tersebut adalah mani atau mazi.

Perbedaan antara mani dan mazi adalah bahwa mani pria kental putih, sedangkan mani wanita encer dan kuning. Adapun mazi dia adalah cairat encer putih dan lengket, keluar ketika bercumbu, atau mengkhayal jimak atau berhasrat jimak atau memandang atau sebagainya. Dalam hal ini laki dan wanita sama saja.
(Fatawa Lajnah Daimah, 5/418)

Kemungkinan, yang keluar dari anda adalah mazi, bukan mani, karena mani keluar secara memancar dan dirasakan oleh seorang pria. Segala sebab yang dapat mengeluarkan mani termasuk perkara yang membatalkan puasa, seperti berjimak, mencium, atau mencumbu, atau terus menerus memandang wanita hingga keluar mani, maka hal itu membatalkan puasa. Perhatikan soal no. 2571.

Adapun masalah mazi, para ulama berbeda pendapat, apakah hal tersebut membatalkan puasanya jika dia sengaja melakuan sebabnya.

Mazhab Hambali berpendapat bahwa hal tersebut membatalkan puasa, jika dia menjadi sebab keluarnya, seperti mencumbu, meraba, mencium atau semacamnya. Adapun jika sebabnya adalah memandangnya berulang-ulang, maka hal itu tidak membatalkan.

Adapun Abu Hanifah dan Syafii berpendapat bahwa keluarnya mazi tidak membatalkan puasa secara mutlak, apakah keluarnya karena mencumbu atau selainnya. Yang membatalkan puasa adalah keluarnya mani, bukan mazi.
(Lihat: Al-Mughni, 4/363)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam Syarh Al-Mumti (6/236) setelah menyebutkan mazhab Hambali dalam masalah ini, “Tidak ada dalil yang shahih dalam masalah ini. Karena mazi bukan mani, baik dari segi syahwatnya ataupun dari keletihan tubuh, tidak mungkin disamakan.

Yang benar adalah bahwa apabila dia mencumbu isterinya kemudian keluar mazi atau dia onani lalu keluar mani, maka puasanya tidak batal, puasanya tetap sah. Ini merupakan pilihan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Hujjahnya adalah karena tidak ada hujjah (maksudnya adalah tidak adanya hujjah yang menunjukkan bahwa keluarnya mazi membatalkan puasa). Karena puasa merupakan ibadah yang disyariatkan kepada manusia berdasarkan petunjuk syari, maka dia tidak dikatakan batal kecuali dengan petunjuk syar’i (pula).

Makna kalima (Jika onani lalu keluar mazi) bahwa dia berusaha untuk mengeluarkan mani, akan tetapi tidak keluar, yang keluar adalah mazi.

Syekh Ibn Baz ditanya (15/267), jika seseorang mencium saat berpuasa atau menyaksikan film porno, lalu keluar mazi, apakah dia harus mengqadha puasanya?

Beliau menjawab, “Keluarnya mazi tidak membatalkan puasa menurut pendapat yang benar dari dua pendapat ulama, apakah sebabnya karena mencium isteri, atau menyaksikan film, atau perkara lainnya yang dapat membangkitkan syahwat. Akan tetapi, seorang muslim tidak dibolehkan menyaksikan film porno, tidak boleh juga mendengarkan sesuatu yang diharamkan seperti nyanyian atau alat-alat music.

Adapun keluarnya mani karena syahwat, maka hal itu membatalkan puasa, baik terjadi karena mencumbu, mencium atau memandang berulang-ulang atau sebab lainnya yang dapat membangkitkan syahwat seperti onani dan semacamnya. Adapun mimpi atau mengkhayal, hal itu tidak membatalkan puasa walaupun dengan sebab itu keluar mani.”

Al-Lajnah Ad-Daimah pernah ditanya (10/273), “Pada suatu hari di bulan Ramadan, aku duduk di samping isteriku dalam keadaan puasa selama setengah jam. Kami saling bercanda. Setelah aku pergi darinya, aku dapatkan atau ada tetesan basah di celanaku yang keluar dari kemaluan. Kejadian itu terjadi dua kali. Mohon penjelasannya, apakah aku diwajibkan membayar kafarat?

Mereka menjawab,
“Jika kenyataannya seperti yang anda sebutkan, maka anda tidak diwajibkan qadha dan kafarat, karena mempertimbangkan kondisi asal, kecuali jika anda dapat memastikan bahwa tetes yang basah itu adalah mani, maka anda wajib mandi dan mengqadha tanpa kafarat.”

Kesimpulannya, tidak ada kewajiban apa-apa bagi anda, puasa anda tetap sah selagi anda belum yakin bahwa yang keluar itu adalah mani. Jika ternyata yang keluar itu mani, maka anda harus mengqadha hari itu, tapi anda tidak diwajibkan kafarat.

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (سورة النور: 30)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” SQ. An-Nur: 30

Hendaknya anda menghindar dari berbincang-bincang dengan wanita tanpa keperluan. Jika anda merasa perlu berbicara dengan mereka, maka hendaknya anda menundukkan pandangan, sebagai pengamalan dari perintah Allah Ta’ala,

Muslim meriwayatkan (2159), dari Jarir bin Abdullah, dia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang pandangan tiba-tiba, maka dia memerintahkan aku untuk mengalihkan pandanganku.

An-Nawawi berkata, “Maksud dari pandangan tiba-tiba adalah memandang wanita bukan mahram tanpa disengaja, maka pada pandangan pertama, hal itu tidak dosa, namun dia wajib mengalihkan pandangannya ketika itu juga. Jika dia alihkan seketika, maka tidak ada dosa, namun jika dia lanjutkan, maka dia berdosa berdasarkan hadits ini. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mengalihkan pandangannya, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya.” SQ. An-Nur: 30

Jika memungkinkan ada wanita yang khusus melayani pembeli wanita dan berbicara dengan mereka, maka hal itu lebih baik dan lebih selamat.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Lihat : http://islamqa.info/id/49752

****
Setelah kita membahas masalah Inzal dan mubasyarah dengan cukup terperinci, maka berikutnya penting juga bagi kita untuk membahas siapakah orang yang boleh untuk ber-mubasyarah dengan istrinya tanpa takut terjadi jima’ ataupun inzal.

Secara garis besar orang yang dilarang untuk ber-mubasyarah kepada istrinya karena takut terjadi jima’ ataupun inzal terdiri dari dua golongan :
a. Seseorang yang memiliki nafsu syahwat yang tinggi untuk jima’. Biasanya ini ada pada golongan pemuda, atau orang yang terbiasa memakan makanan-makanan yang membangkitkan syahwat.

b. Seseorang yang memiliki penyakit ejakulasi dini, sehingga bisa terjadi inzal walaupun hanya bermubasyaroh dengan tanpa jima’

Dua golongan orang ini dilarang bermubasyarah kepada istrinya pada waktu puasa, sebagai saddudz dzaroi (usaha penghalang preventif) agar tidak terjadi jima’ ataupun inzal.

Rasulullah mencontohkan saddud dzaro’i ini dalam hadits berikut ini,
وعن أبي هريرة رضى الله عنه أن رجلاً سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن المباشرة للصائم فرخَّص له، وأتاه آخر فنهاه ، فإذا الذي رخص له شيخ، والذي نهاه شاب .

“Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sentuhan antara suami istri yang sedang berpuasa. Maka Rosulullah memberikan keringanan baginya, kemudian datang laki-laki lain yang bertanya tentang hal itu juga, tapi Rasulullah saw kali ini melarangnya. Berkata Abu Hurairah, ‘Ternyata yang diberi keringanan adalah orang yang sudah tua, sedang yang dilarang adalah orang yang masih muda’.” (Hadits Hasan, HR Abu Daud dan Baihaqi).

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص قال :كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم، فجاء شاب فقال: يا رسول الله، أقبل وأنا صائم؟ فقال: “لا” فجاء شيخ فقال: أقبل وأنا صائم؟ قال: “نعم” .
Dari Abdullah bin Amru bin Ash, bahwasanya ia berkata,”Suatu ketika kami bersama Rosulullah saw, tiba-tiba datang seorang pemuda bertanya, “Wahai Rasulullah bolehkah saya mencium istri saya dalam keadaan puasa?’ Beliau menjawab, ‘Tidak boleh.’ Kemudian datang seorang yang tua bertanya, ’Wahai Rasulullah bolehkah saya mencium istri saya dalam keadaan puasa?’ Beliau menjawab, ‘Boleh’.” (HR Ahmad, hadits ini shohih menurut Syekh Muhammad Syakir).

Wallaahu A’lam

Advertisements