Sholat itu secara bahasa berarti “doa”.
Sedangkan kalau secara istilah berarti ”Perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu”.

Jika kita kembali ke asal kata sholat yang berarti “doa” secara bahasa, maka kita akan bisa mendapatkan “jiwa” dan “rasa” di balik kata itu. Ini point penting yang harus kita pegang!

Adapun pada aplikasi do’a berdasarkan jenisnya, do’a itu dibagi menjadi dua : doa permintaan dan doa ibadah/penyembahan/pemujaan/penghambaan.

Dua jenis doa ini ada pada seluruh aspek sholat kita. Baik itu pada bacaannya ataupun pada maksud gerakannya.

Maka dari itu jika :
– Sholat dilakukan hanya untuk sekedar memenuhi rukun2 dan syarat2nya….

– Sholat dilakukan hanya untuk sekedar melafalkan bacaan, tapi tanpa menghadirkan hati untuk “berdoa” dan “beribadah mendekatkan diri” kepada Allah….
(Boro-boro menghadirkan hati, apa yang dibaca saja nggak mudeng artinya, nggak mudeng bahasa arab dan terjemahannya, dan nggak pernah belajar untuk berusaha mudeng.)

– Dan sholat dilakukan hanya untuk sekedar menggerakkan badan, namun gerakan itu selalu “gagal” untuk dimaknai sebagai penghambaan diri, perendahan diri, dan penghinaan diri kepada Allah

Maka orang yang memahami dan melaksanakan sholat seperti ini, pada hakikatnya dia hanya berusaha untuk memenuhi keabsahan “administrasi” sholat saja.

Sholatnya memang sah, dia terbebas dari kewajiban dan sanksi ancaman. Akan tetapi dia kehilangan “jiwa” dan “rasa” dari sholat itu.

Maka dari itu, tidak heran jika kita mendapati sholat yang dilakukan dengan “jiwa yang kering” dan “hati yang mati rasa”. Mendapati orang yang sholat, namun “bekasnya” tidak terdapat di dalam jiwanya.

Boro-boro “tuma’ninah” untuk lebih meresapi dan membekaskan sholat ke dalam jiwa, orang tersebut inginnya malah agar sholatnya “dicepat-cepatin” biar cepet selesai. Maka makna apa yang dia dapat dari sholatnya? Dia hanya menjalani “sholat tanpa makna”!!

****

Cara untuk introspeksi dan untuk mengatasi fenomena “sholat tanpa makna” ini kita harus :
– Menghadirkan kembali sholat yang mempunyai makna “doa” secara asal bahasa, dengan sebenar2nya

– “Memahami arti” dari apa yang kita baca, dan “memaknai” arti gerakan2 sholat kita dengan penuh makna penghambaan diri, perendahan diri, dan penghinaan diri kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

– “Menghadirkan hati” yang disertai pemahaman baik itu mengenai doa dan dzikir yang kita baca di waktu sholat, ataupun mengenai gerakan-gerakan sholat yang kita lakukan.

Ingat sholat itu bukan semedi. Sholat itu bukan mengosongkan pikiran. Dan sholat itu juga bukan gerakan badan untuk mendapatkan kesehatan !

Jangan pernah sekali-kali memaknai sholat kita dengan hal seperti itu. Jangan kita jual makna akhirat dan penghambaan diri kita kepada Allah dengan makna dunia dan sikretisme !

Semoga ini bermanfaat. Baarokallohu fiik

Advertisements