Wanita yang haidh dan nifas hanya terhalang dari sholat, puasa, dan i’tikaf; namun dia tidak terhalang dengan ibadah lainnya seperti dzikir dan membaca Al Qur’an untuk meraih lailatul Qadr.

Perlu diketahui bahwa cara meraih lailatul Qadr itu adalah dg mengisi malam itu dengan banyak beribadah. Yang mana jika ibadah itu bertepatan dg lailatul qadr, maka ibadah itu bernilai seperti ibadah 1000 bulan.

Jadi bukan yg dimaksud orang yg mendpatkan lailatul qadr itu dia akan mengalami, kasyaf, peristiwa spiritual tertentu, atau hal2 yang khurafat lainnya.

Ibadah maghdhoh yg bisa dilakukan oleh wanita yg haidh dan nifas adalah dzikir dan membaca Al Qur’an. Dan wanita yg haidh atau nifas itu tidak terhalang dari membaca Al-Qur’an, baik itu membaca dengan tanpa menyentuh mushaf, atau menyentuh mushaf dg memakai pelindung, ataupun berdasarkan ingatan.

Bahkan boleh juga untuk membaca dengan menyentuh mushaf tanpa alas pelindung di tangan yang memegangnya.

Dalil untuk hal ini adalah karena “ketiadaan dalil”. Dalam artian dalil2 yang dipakai untuk melarang tidak terlepas dari 3 hal :
1. Hadits yg dipakai tidak shohih atau dhoif, sehingga tertolak untuk dijadikan dalil.
2. Ayat Al Qur’an yang dipakai tidak benar pemahamannya, dan tertolak pemahamannya dikarenakan adanya sanggahan dg berdasarkan dalil2 yang lain.
3. Terdapat dalil yang membolehkan wanita haidh membaca Al Qur’an.

Berikut sedikit contohnya :
Hadits yang menyebutkan,

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن

“Tidak boleh membaca Al Qur’an sedikit pun juga bagi wanita haidh dan orang yang junub.” Imam Ahmad telah membicarakan hadits ini sebagaimana anaknya menanyakannya pada beliau lalu dinukil oleh Al ‘Aqili dalam Adh Dhu’afa’ (90), “Hadits ini batil. Isma’il bin ‘Iyas mengingkarinya.” Abu Hatim juga telah menyatakan hal yang sama sebagaimana dinukil oleh anaknya dalam Al ‘Ilal (1/49). Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (21/460), “Hadits ini adalah hadits dho’if sebagaimana kesepakatan para ulama pakar hadits.”

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hadits di atas tidak diketahui sanadnya sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini sama sekali tidak disampaikan oleh Ibnu ‘Umar, tidak pula Nafi’, tidak pula dari Musa bin ‘Uqbah, yang di mana sudah sangat ma’ruf banyak hadits dinukil dari mereka. Para wanita di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudang seringkali mengalami haidh, seandainya terlarangnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh atau nifas sebagaimana larangan shalat dan puasa bagi mereka, maka tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menerangkan hal ini pada umatnya. Begitu pula para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya dari beliau. Tentu saja hal ini akan dinukil di tengah-tengah manusia (para sahabat). Ketika tidak ada satu pun yang menukil larangan ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tentu saja membaca Al Qur’an bagi mereka tidak bisa dikatakan haram. Karena senyatanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal ini. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak melarangnya padahal begitu sering ada kasus haidh di masa itu, maka tentu saja hal ini tidaklah diharamkan.” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 191)

Dalam ash-Shahihain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan bahwasanya beliau pernah berkata kepada istri beliau, Aisyah, ketika Aisyah mengalami haid pada waktu berhaji,

اِفْعَلِيْ مَا يَفْعَلُ الْحَاجُ غَيْرَ أَلاَّ تَطُوْفِيْ بِالْبَيْتِ حَتىَّ تَطْهُرِيْ

“Lakukanlah apa saja yang dilakukan oleh jama’ah haji lainnya selain tawaf di Ka’bah, hingga engkau suci.”

Tentunya kita telah maklumi bersama bahwa para jama’ah haji disyariatkan membaca Al-Quran, padahal membaca Al-Quran merupakan perkara yang sering dilakukan oleh jama’ah haji yang tidak

dikecualikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu menunjukkan bahwa wanita haid boleh membaca Al-Quran, tetapi tidak boleh menyentuhnya.

Berkata Syeikh Al-Albany:

“Hadist ini menunjukkan bolehnya wanita yang haid membaca Al-Quran, karena membaca Al-Quran termasuk amalan yang paling utama dalam ibadah haji, dan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membolehkan bagi Aisyah semua amalan kecuali thawaf dan shalat, dan seandainya haram baginya membaca Al-Quran tentunya akan beliau terangkan sebagaimana beliau menerangkan hukum shalat (ketika haid), bahkan hukum membaca Al-Quran (ketika haid) lebih berhak untuk diterangkan karena tidak adanya nash dan ijma’ yang mengharamkan, berbeda dengan hukum shalat (ketika haid). Kalau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Aisyah dari shalat (ketika haid) dan tidak berbicara tentang hukum membaca Al-Quran (ketika haid) ini menunjukkan bahwa membaca Al-Quran ketika haid diperbolehkan, karena mengakhirkan keterangan ketika diperlukan tidak diperbolehkan, sebagaimana hal ini ditetapkan dalam ilmu ushul fiqh, dan ini jelas tidak samar lagi, walhamdu lillah.” (Hajjatun Nabi hal:69).

Ayat al Quran yang menyebutkan

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Orang2 yang disucikan dalam ayat ini berlaku umum, tidak terbatas pada wanita yang sedang haidh atau nifas saja.

Maka ini yang dimaksud bukanlah mushaf2 Al Qur’an yang ada pada zaman kita ini, akan tetapi yg dimaksud adalah AlQur’an yang ada di baitul izzah di langit dunia. Terlebih lagi pada zaman rasul Al Qur’an belum dibukukan menjadi mushaf seperti kita sekarang ini, maka dari itu tentu Al Qur’an yang dimaksud berbeda dengan yang kita fahami.

Dan lagi rasulullah pernah mengirim surat2 dakwah kepada para raja kafir dengan mengutip ayat Al Qur’an. Para raja2 kafir itu tentu tidak tahu cara mensucikan diri, akan tetapi rasulullah mengirimkan surat yang ada ayat al Qur’an nya disitu dan hal itu tidak mengapa.

Baarokalloohu fiik

Advertisements