Manusia itu sejatinya seperti semut. Yakni dimana ada gula disitu ada semut.

Senada dengan itu, manusia itu pada dasarnya adalah makhluk pencari kebaikan, kesenangan, dan manfaat. Yang mana ini berarti dimana ada manfaat, kesenangan, dan kebaikan yang bisa diperoleh, maka disitu pasti ada manusia.

Bulan ramadhan ini sebenarnya adalah bulan utama yang kita bisa mendapatkan banyak manfaat, kesenangan, dan kebaikan di dalamnya dengan “sangat mudah”.

Hanya saja bedanya manusia dengan semut. Jika Semut mau berusaha untuk mendapatkan dan membawa gula yang dia temui. Maka manusia ada yang “ogah-ogahan” berusaha untuk mendapatkan manfaat dan kebaikan dari bulan ramadhan yang dia temui, walau sudah “sangat dipermudah”…

Ironis memang, namun tipe orang seperti ini ada….

Malaikat Jibril pun sampai memberikan kabar bahwa orang orang yang “kebangetan” seperti ini diancam akan dilaknat oleh Allah. Dan kabar ancaman malaikat Jibril ini di-amin-kan oleh rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمي

Rasulullah bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan,‘Amin’.
[Lihat Shahih At Targhib (1679) oleh Syaikh Albani rohimahulloh]
***

Padahal jika kita minimal “berpuasa dengan benar saja”, dan tidak menambah dengan amalan sunnah lain (katakanlah karena malas), maka kita tetap akan bisa mendapatkan ampunan dari Allah, serta terhindar ancaman doa laknat malaikat Jibril yang diaminkan oleh rasulullah itu.
Hal ini karena ada hadits dari rasulullah yang berbunyi berikut ini,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Kemudahan yang tidak bisa juga diambil” itu membuktikan, bahwa sebenarnya orang tersebut puasanya main main dan meremehkan saja….

Banyak “bolong bolong” tanpa udzur (“Mokel” kalau orang jawa timur bilang). Dan tetap melakukan maksiat walaupun di bulan puasa….

Maka dari itu, orang seperti ini memang pantas untuk dilaknat.

Na’udzubillaahi min dzaalik
****
Setingkat di bawah orang yang dilaknat oleh Allah karena meremehkan puasa, ada juga tipe orang yang berpuasa dengan sah hukumnya hingga akhir waktu. Namun puasa nya tidak dianggap atau sia sia belaka.

Ini terjadi karena puasanya dirusak dengan :
1. Perkataan dusta dan fitnah (az-zuur)
2. Perkataan yang sia sia (al-laghwu), kotor dan seronok (ar-rofats)
3. Dan berbagai macam kemaksiatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan az-zuur (dusta dan fitnah) dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan laghwu (sia sia) dan rofats (kotor dan seronok). Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.”

(HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Orang seperti ini dianggap tidak mendapatkan pahala apa apa dari puasanya, kecuali hanya lapar dan dahaga saja, walaupun puasanya sah tidak batal.

Dan orang yang seperti ini banyak….

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

****

Maka dari itu, inilah pentingnya kita mempelajari “keutamaan bulan ramadhan” dan juga “hukum hukum” yang ada di dalamnya.

Selain untuk memberikan targhib (dorongan motivasi) bagi kita agar puasa kita itu ada “jiwanya”. Ini juga untuk memberikan kita “pemahaman yang benar” dalam menjalankan puasa.

Pemahaman yang benar itu penting, karena agar :
1. Puasa kita tidak sia sia dan hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka.
2. Puasa kita tidak “memberatkan” karena tidak mengetahui hukum serta berlebih lebihan di dalam menjalankannya.
3. Puasa kita tidak batal karena tidak mengetahui batasan batasannya.
4. Agar kita dapat meraih kebaikan, pahala, manfaat, dan kegembiraan yang sebanyak banyaknya di dalam bulan ramadhan ini.

Berpijak dari empat hal itu, maka beberapa tulisan kita ke depan akan mencoba menerangkan masalah yang berkaitan dengan :
1. Keutamaan bulan ramadan
2. Hukum hukum fiqh yang ada di dalamnya.

Semoga ini bisa menjadi bekal sekaligus panduan bagi kita, dalam memasuki bulan ramadhan yang semakin dekat dengan kita.

Semoga bermanfaat. Baarokalloohu fiik.

Advertisements