Melanjutkan tulisan kemarin mengenai “persiapan menyambut ramadhan”, maka berikut ini akan kita bahas juga persiapan menyambut ramadhan yang “tidak dicontohkan” oleh rasulullah, yang sebaiknya kita tinggalkan.

Persiapan yang kita bahas ini tentu saja yang bersifat “ritual ibadah” , bukan yang bersifat “keduniawian”.

Persiapan yang bersifat keduniawian tidak kita bahas karena itu hukumnya mubah dan boleh boleh saja, walaupun rasulullah dan para shahabat tidak mencontohkannya.

Rasulullah bersabda “antum a’lamu bi umuurid dunyaakum”
(kalian lebih mengetahui mengenai masalah urusan dunia kalian. Hr. Bukhari)

Kita mempersiapkan sirup untuk bulan ramadhan nanti, sebagaimana iklan sirup yang terkenal itu, maka ini boleh boleh saja hukumnya.

Mempersiapkan kurma untuk buka puasa di bulan ramadhan kelak. Siap siap beli bahan bahan untuk jualan makanan buka puasa. Siap siap untuk membuka pasar kaget selama ramadhan. Dan lain lain…. Maka semua itu boleh boleh saja hukumnya, sepanjang tidak memberikan madharat bagi diri sendiri atau orang lain, dan juga tidak dilandasi karena adanya suatu keyakinan keyakinan tertentu.

Hanya persiapan menjual petasan saja yang sepanjang pengetahuan saya dilarang. Karena walaupun itu masalah yang bersifat keduniawian, namun itu berpotensi menimbulkan madharat baik bagi diri sendiri ataupun orang lain.

Jadi jangan siap siap jualan petasan yaaa…
****
Kembali lagi ke topik awal…

Maka dari itu, kebanyakan persiapan menyambut ramadhan yang tidak pernah dicontohkan rasulullah yang sebaiknya kita tinggalkan itu, lebih kita soroti ke hal hal yang berkaitan dengan ritual ibadah pada bulan Syaban.

Baik itu ritual ibadah pada bulan Syaban yang berkaitan dengan “adat tradisi”, ataupun ritual ibadah yang tidak berkaitan dengan tradisi.

Ibadah itu bersifat tauqifiyyah, dan tidak terikat dengan masalah tradisi, adat, dan akal manusia.

Sekarng mungkin timbul pertanyaan, kenapa kok harus ritual ibadah di bulan Syaban yang harus kita soroti? Bagaimana dengan bulan bulan yang lain?

Ini karena bulan Syaban itu adalah “bulan persiapan” menyambut bulan ramadhan, sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh rasulullah dan yang telah kita bahas pada tulisan kemarin.

Berangkat dari pemahaman inilah, maka kita memang akan sengaja memfokuskan kepada berbagai macam ritual ibadah pada bulan Syaban.

Ritual ibadah pada bulan Syaban yang tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah dan sebaiknya kita tinggalkan itu adalah :

1. Bermaaf maafan di hari nishfu Syaban (tanggal 15 pertengahan Syaban), ataupun pada sebelum memasuki bulan ramadhan.

Pada asalnya bermaaf maafan atau meminta maaf itu harusnya langsung dilakukan ketika kita melakukan kesalahan dan menyesalinya. Tidak perlu harus menunggu suatu moment tertentu dan “aji mumpung”.

Namun kalau sekedar bermaaf maafan karena tradisi dan hubungan muamalah antar manusia, maka ini hukum asalnya adalah masalah muamalah keduniaan. Dan boleh boleh saja hukumnya, walaupun sebaiknya ditinggalkan dan berkesan basa basi saja.

Memaafkan dan meminta maaf itu harusnya dengan ikhlash, tidak boleh karena “terpaksa” dan “aji mumpung”.

Jika ada proses meminta maaf dan memaafkan itu karena “terpaksa” dan “aji mumpung” karena momen tertentu, maka pada hakekatnya itu bukan saling maaf memaafkan. Itu hanya sekedar basa basi yang tidak berguna.

Dan dosa kedzoliman yang dilakukan kepada orang lain tidak hilang, karena tidak ada keridhoan dalam acara saling maaf memaafkan itu.

Ini pemahaman awalnya terlebih dahulu….

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449)

Hanya saja belakangan ini, bermaaf maafan berubah menjadi “ritual ibadah” karena memanfaatkan momen nishfu sya’ban dan sebelum memasuki awal bulan ramadhan, dengan menggunakan hadits palsu yang merupakan modifikasi dari hadits asli yang dirubah isinya.

Hadits palsu tersebut berbunyi seperti ini,
***
Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril itu adalah:
“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;
3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
***
Adapun hadits asli yang shohih, yang sebelum dimodifikasi dan dirubah menjadi hadits palsu itu, isinya adalah seperti ini :

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين قال الأعظمي : إسناده جيد

“Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”.

Hadits ini dishahihkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/114, 406, 407, 3/295), juga oleh Adz Dzahabi dalam Al Madzhab (4/1682), dihasankan oleh Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (8/142), juga oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Al Qaulul Badi‘ (212), juga oleh Al Albani di Shahih At Targhib (1679).
***
Coba lihat dan bandingkan, hampir hampir mirip bukan?

Menariknya, untuk menghilangkan usaha pemverifikasian hadits, orang orang yang menuliskan dan menyebarkan hadits palsu ini tidak ada yang menyebutkan periwayatan hadits ini riwayat siapa dan bersumber dari kitab apa.

Hadits palsu ini hanya ada di broadcast bbm, sms, internet, dan media komunikasi lainnya.

Jika ada pertanyaan kenapa kok bermaaf maafan ini kemudian dianggap berubah menjadi “ritual ibadah”, sedangkan hukum asalnya adalah masalah “muamalah keduniawian”?

Ini karena hadits palsu tadi mengancam, bahwa puasa ramadhan akan menjadi terabaikan dan tidak dianggap artinya jika sebelum memasukinya tidak didahului dengan saling maaf memaafkan.

Karena puasa ramadhan itu adalah ibadah, dan ibadah tersebut dianggap tidak ada artinya jika tidak saling memaafkan terlebih dahulu, maka secara otomatis acara saling maaf memaafkan itu juga berubah menjadi “ritual ibadah”.

Uniknya lagi hadits palsu hasil modifikasi ini asli made in Indonesia.

Jauh sebelum ada sms, internet, dan perkembangan dunia komunikasi yang canggih seperti ini, hadits ini tidak pernah ada dan tidak pernah ada orang Indonesia yang mengamalkan “ritual ibadah” saling bermaaf maafan sebelum memasuki ramadhan.

Yang ada hanya saling bermaaf maafan sehabis ramadhan pada waktu hari raya. Inipun hanya terkait dengan masalah tradisi saja, tidak ada kaitannya dengan ibadah puasa ramadhan apalagi pake hadits palsu segala.

Ritual ibadah bermaaf maafan sebelum memasuki ramadhan ini baru saya jumpai ketika tahun 2000 – 2003 an. Ketika awal hp sudah mulai berkembang dan sms an sudah mulai membudaya sedikit demi sedikit.

Barulah waktu itu hadits palsu ini mulai tersebar lewat sms, dan “ritual ibadah” saling memaafkan sebelum memasuki ramadhan dimunculkan.

Dan sekarang, mulai kira kira tahun 2010 an keatas, hadits palsu itu dimodifikasi lagi untuk memunculkan “ritual ibadah” saling memaafkan pada hari nishfu Syaban melalui berbagai macam broadcast, internet, dan media komunikasi lainnya.

Hadits palsu modifikasi versi dua itu berbunyi,
***
Doa Malaikat Jibril menjelang Nisfu Sya’ban : “Yaa ALLAH abaikanLah puasa umat Nabi Muhammad SAW, apabila sebelum Ramadhan dia belum:

1. Memohon maaf kepada kedua orang tua jika keduanya masih hidup .

2. Bermaafan antara suami-istri .

3. Bermaafan dengan keLuarga, kerabat serta orang sekitar”.

Maka saat itu doa Malaikat Jibril diaminkan oleh Rasulullah sampai 3x, Amin..amin..amin..
***
Perhatikan bahwa sekarang ada tambahan kata kata “nishfu Syaban” pada hadits palsu versi dua ini…

Inilah salah satu ritual ibadah menyambut bulan ramadhan yang harus kita tinggalkan.

2. Berbagai macam amalan khusus pada malam nishfu Syaban.

Khusus untuk pembahasan nishfu Syaban, maka ini pembahasan klasik yang mana ritual ibadah yang tidak ada contohnya dari rasulullah ini ada karena adanya hadits hadits lemah dan palsu yang sudah ada sejak zaman dulu. Ini agak sedikit berbeda dengan kemunculan ritual ibadah saling memaafkan sebelumnya.

Berbagai macam hadits hadits lemah dan palsu itu sebenarnya telah diperingatkan oleh para ulama.

Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan, “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban, mengatakan, ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satu pun hadis sahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban.”” (Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Ibnu Dihyah juga mengatakan:

لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية راغب في زي المجوسية

“Tidak ada satupun riwayat yang shahih tentang malam nisfu syaban, dan para perowi yang jujur tidak menyampaikan adanya shalat khusus di malam ini. Sementara yang terjadi di masyarakat berasal dari mereka yang suka mempermainkan syariat Muhammad yang masih mencintai kebiasaan orang majusi (baca: Syiah). (Asna Al-Mathalib, 1/84)
Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (At Tahdzir minal Bida’, 20).

‘Abdullah bin Al Mubarok pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).

Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah masuk pada keumuman malam, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3: 29).

Hanya saja memang hanya terdapat satu saja hadits shohih yang menyebutkan keutamaan hari nishfu Syaban. Namun hadits itu tidak menyebutkan adanya suatu amalan ritual ibadah khusus pada hari nishfu Syaban sebagaimana yang dilakukan sebagian orang.

Hadits itu berbunyi,
dari Abu Musa Al-Asy’ari;

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Satu satunya hadits shohih itu tidak menyebutkan bahwa ada amalan ibadah khusus pada hari nishfu Syaban, baik itu puasa khusus untuk hari nishfu Syaban, sholat khusus, ritual membaca surat yaasiiin 3 kali, dan lain sebagainya.

3. Tradisi Ziarah kubur pada bulan Syaban dalam menyambut bulan suci ramadhan, atau yang sering disebut Nyadran (atau Sadranan) pada bulan ruwah (Syaban) oleh orang jawa.

Harus jujur ketika mendekati tradisi yang lekat pada orang jawa, kita juga harus melihat ritual ibadah Hindu yang berakulturasi dengan orang jawa.

Orang Jawa sebelum kedatangan Islam umumnya beragama Hindu, dan yang kemudian berubah memeluk islam dengan budaya Hindu yang belum bisa ditinggalkan 100%.

Salah satunya adalah tradisi nyadran dalam menyambut bulan puasa di bulan Syaban.

Syaban menurut jawa dinamai dengan bulan ruwah. Ruwah sendiri berasal dari kata “ngluru” dan “arwah”, yang mana artinya adalah mengunjungi arwah. Yakni mengunjungi kuburan kuburan tempat arwah orang mati itu berada.

Pada bulan ruwah itu dilakukan upacara Sraddha (bahasa sansekerta) oleh kerajaan majapahit bercorak Hindu yang menguasai Jawa pada waktu itu. Upacara Sraddha inilah kemudian yang dikenal dengan nama Sadranan atau Nyadran oleh orang jawa pada zaman sekarang.
Oleh para Sunan yang mengislamkan nusantara, konon dinisbatkan kepada Sunan Kalijogo, tradisi nyadran itu dirubah dengan dikemas menggunakan nuansa islami karena sepertinya masih susah untuk dihilangkan.

Adapun menurut hukum islam, maka ziarah itu sebenarnya bukanlah suatu ritual yang ditetapkan pada waktu tertentu. Kapan saja kita ingin berziarah, baik itu untuk mengingat kematian ataupun mendoakan sang penghuni kubur, maka diperbolehkan.

Dan ziarah itupun dilakukan dengan tidak berdasarkan adanya upacara upacara tertentu yang mendahuluinya, dan berombongan berpawai mengunjungi kuburan.

Tidak ada juga ritual khusus membacakan al Quran atau surat Yaasiiiin atau dzikir dzikir tertentu model tahlilan di samping makam.

Oleh karena itu hendaklah budaya ini ditinggalkan dan diganti dengan ziarah yang sesuai syariat, dengan tidak perlu mengkhususkan ziarah atau nyadran pada bulan Syaban (ruwah)

4. Tradisi padusan atau mandi di suatu empang/kolam/pemandian umum pada bulan Syaban (ruwah) dalam menyambut bulan suci ramadhan.

Tradisi ini memaksudkan agar kita menyambut bulan suci dalam keadaan yang suci dengan melakukan padusan atau mandi untuk mensucikan diri.

Padahal mandi besar itu bukanlah syarat sah puasa. Mandi janabah itu masuk dalam pembahasan thoharoh dan tentu saja ini masuk dalam masalah ibadah.

Mengkhususkan mandi yang diniatkan untuk mandi besar atau mandi janabah, bukan mandi umum biasa dengan tanpa niat, untuk menyambut bulan ramadhan dalam keadaan tubuh yang suci, maka ini adalah ritual yang mengada ada dan tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
****

Inilah empat contoh ritual ibadah dalam persiapan menyambut bulan ramadhan yang tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah beserta para shahabat nya, yang sebaiknya kita tinggalkan.

Mungkin daftar list nya bisa kita tambah lagi jika kita mendaftar berbagai macam budaya di Indonesia yang mencampuri dan mengadopsi jenis jenis ibadah islam, untuk menyambut bulan ramadhan.

Atau mungkin juga bisa kita tambah lagi dengan berbagai aktivitas yang dzohirnya sebenarnya hanyalah masalah keduniawian belaka, namun berubah menjadi ritual ibadah karena dilandasi oleh adanya suatu keyakinan keyakinan tertentu.

Namun untuk mengumpulkan semua itu sepertinya bukan tujuan utama dari tulisan ini.

Cukup dengan memberikan penjelasan dan kaidah kaidah untuk memahami, beserta empat contoh “ritual ibadah” yang dipandang masyhur dalam persiapan menyambut bulan ramadhan, maka ini saya kira cukup untuk diterapkan ke lain hal secara mandiri.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Dan selamat berjumpa lagi di tulisan bagian selanjutnya insya Allah.

Baarokalloohu fiik

Advertisements