Karena adzan maghrib sebentar lagi akan menjadi acara favorit di bulan ramadhan… maka ada baiknya kita sekarang bicara masalah persiapan menyambut adzan…. Eh maaf, persiapan menyambut ramadhan maksud saya…

Banyak orang yang mungkin belum tau, Puasa ramadhan itu sebenarnya butuh persiapan…

Ah, masak sih butuh persiapan? Maksudnya bagaimana? Bagaimana penjelasannya?

Mari kita coba simak penjelasan berikut ini terlebih dahulu …

***
Biasanya, sebelum ujian kita akan mempersiapkan diri dengan belajar.

Baik itu dengan sistem kebut semalam (SKS) ataupun belajar secara teratur tiap hari.

Hal yang sama juga berlaku dengan pernikahan….

Kita sibuk mempersiapkan berbagai macam hal terkait dengan ijab qobul dan resepsi walimah.

Sang calon pengantin laki laki pun sampai berlatih berkali kali menghafalkan lafal qobul untuk prosesi ijab qobul nanti

Persiapan pun juga wajib dilakukan terutama sebelum kelahiran sang bayi.

Kita sibuk untuk memeriksakan kehamilan, usg, minum berbagai suplemen, dan lain lain yang mana semua ini sebenarnya adalah “persiapan” agar kelahiran berlangsung lancar dan normal.

Intinya,
Jika kita menganggap sesuatu itu “PENTING”, maka kita akan “MEMPERSIAPKAN” nya. Ini kunci pokoknya…..

Demikian juga persiapan menghadapi kedatangan bulan ramadhan ini.

Yang mana bulan ramadhan ini sangat penting bagi kita dan yang selalu kita tunggu tunggu …

***
Rasulullah, para shahabat, dan para ulama rahimahulloh sebenarnya telah memberikan kita banyak contoh, nasehat, dan tuntunan untuk persiapan menyambut bulan ramadhan ini.

Seperti apakah tuntunan yang harus kita siapkan untuk menyambut bulan ramadhan itu?

Berikut perinciannya :

1. Membayar hutang Puasa

Jika kita masih punya hutang puasa tahun lalu, terutama para wanita yang biasanya berhalangan puasa karena haid, maka membayar hutang puasa yang telah lalu itu adalah persiapan yang paling wajib dan paling penting dalam menyambut kedatangan bulan ramadhan.

Jangka waktu penggantian puasa ramadhan yang dulu itu adalah sepanjang tahun hingga bulan Syaban.

Bulan Syaban inilah deadline terakhir untuk berpuasa sebelum datangnya ramadhan pada bulan depannya. Oleh karena itu, hendaklah segera dilunasi dan jangan sampai terlambat.

2. Memperbanyak melakukan puasa sunnah pada bulan Syaban.

Pada bulan Syaban, sebulan sebelum ramadhan, rasulullah banyak sekali melakukan puasa sunnah pada bulan ini. Bahkan dalam hadits yang shohih sampai dikatakan bahwa rasulullah hampir puasa sebulan penuh pada bulan Syaban ini.

Rasulullah banyak melakukan puasa sunnah pada bulan Syaban ini dimaksudkan sebagai “persiapan latihan puasa” untuk persiapan memasuki puasa ramadhan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)

Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,

أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلاَّ شَعْبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Namun tentu saja sehari atau dua hari sebelum masuk ramadhan, dilarang untuk berpuasa pada akhir bulan Syaban ini. Dengan alasan agar tidak tercampur antara puasa sunnah pada bulan Syaban dengan pada wajib pada bulan ramadhan, dikarenakan tidak tau bahwa hari ini sudah masuk bulan ramadhan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082).

3. Mulai serius dalam amalan membaca Al Quran.

Hal ini sebenarnya dimaksudkan sebagai “latihan keseriusan membaca al Quran” , sebelum datangnya hari H bulan ramadhan yang harus selalu kita isi dengan membaca al Quran.

Tujuan ini sama dengan tujuan memperbanyak puasa sunnah para bulan sya’ban yang telah kita jelaskan sebelumnya.

Sebagian ulama salaf menjelaskan mengenai perihal ini dengan perkataan mereka,

Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan bacaan (Al-Qur’an).

Adalah Amr bin Qais apabila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya, lalu berkonsetrasi membaca Al-Qur’an.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman.”

Dia juga berkata: “Perumpamaan bulan Rajab bagaikan angin, sedangkan perumpamaan Sya’ban bagaikan mendung dan perumpamaan Ramadan bagaikan hujan. Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram pada bulan Sya’ban, bagaimana dia akan memanen di bulan Ramadan.”

4. Membekali diri dengan ilmu yang berkaitan dengan puasa ramadhan.

Ilmu paling penting berkaitan dengan puasa ramadhan adalah ilmu yang digunakan untuk memahami :

A. Hukum hukum yang berkaitan dengan puasa ramadhan.

B. Keutamaan keutamaan di bulan ramadhan dan cara untuk mendapatkannya sesuai tuntunan sunnah.

Dua ilmu itulah yang sangat penting untuk kita pelajari dan persiapkan untuk menyambut kedatangan bulan ramadhan.

5. Berdoa agar dapat berjumpa dengan ramadhan, dan mempersiapkan niat serta kondisi hati dengan bergembira menyambut kedatangan ramadhan.

Panduan agar berdoa supaya bisa bertemu dengan ramadhan ini dicontohkan oleh sebagian ulama salaf.

Diriwayatkan dari sebagian (ulama) salaf, bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadan, kemudian mereka berdoa lagi lima bulan setelahnya semoga amalnya diterima.

Tentu saja doa yang dimaksud adalah doa secara umum dan dilakukan sendiri sendiri. Tidak ada suatu doa lafal khusus yang diajarkan oleh rasulullah dan para shahabat agar bisa bertemu ramadhan.

Adapun mempersiapkan niat dan hati dengan bergembira menyambut ramadhan, maka itu adalah konsekuensi yang logis dan wajar jika kita merasa ramadhan itu “penting” dan “bermanfaat” bagi kita.

6. Melakukan Rukyatul Hilal (jika mampu dan memiliki ilmunya)

Sebelumnya hendaklah dipahami, bahwasanya acuan penanggalan islam itu berbeda dengan acuan penanggalan dunia pada umumnya.

Jika acuan penanggalan dunia itu mengacu kepada pergerakan matahari selama satu tahun (solar system ), maka penanggalan hijriyyah Islam itu mengacu kepada pergerakan bulan (lunar system).

Maka dari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْهُ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوْا لَهُ.

“Apabila kamu sekalian melihat hilal awal bulan Ramadhan, maka berpuasalah, dan apabila kamu sekalian melihat hilal awal bulan Syawwal maka berhari rayalah, jika kamu tidak bisa melihatnya (karena mendung) maka sempurnakanlah (hitungan bulan).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ.

“Berpuasalah kamu bila melihatnya dan berhari rayalah kamu bila melihatnya.” (HR. Al-Bukhari Muslim).
Pada lafazh lain dikatakan,

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا.

“Berpuasalah kamu sekalian apabila melihatnya (hilal awal Ramadhan) dan berhari rayalah apabila kamu melihatnya (hilal awal Syawwal), jika kamu tidak melihatnya, genapkanlah bulan Sya’ban 30 hari.” (HR. Al-Bukhari).

Rukyatul Hilal sendiri artinya adalah melihat Hilal.

Hilal itu sendiri adalah bentuk bulan pada kondisi paling awal yang bisa terlihat pada sore hari hingga terbenamnya matahari. Yang mana ini menunjukkan bahwa malam itu berarti sudah memasuki bulan baru.

Ohya sebelumnya hendaklah diperhatikan, awal dan akhir waktu penanggalan matahari (solar system) itu beda dengan penanggalan bulan (lunar system).

Jika pada penanggalan matahari itu hari dimulai jam 00.00 AM dini hari dan berakhir pada jam 24.00 PM tengah malam, maka pada penanggalan bulan itu tanggal hari baru mulai dihitung sejak terbenamnya matahari hingga terbenamnya matahari lagi pada keesokan harinya.

Sedangkan lama hari dalam satu bulan di lunar system itu adalah antara 29 atau 30 hari. Berbeda dengan solar system yang dalam satu bulan berkisar antara 30 dan 31 hari (kecuali bulan februari).

Maka pada prakteknya, Rukyatul Hilal untuk menentukan bulan baru terutama awal ramadhan itu, dilakukan pada sore hari tanggal 29 sya’ban sampai matahari terbenam.

Jika Hilal terlihat, maka malam itu berarti sudah masuk bulan baru yakni bulan ramadhan dan besok sudah mulai berpuasa.

Namun jika Hilal tidak terlihat, maka jumlah hari dalam bulan sya’ban digenapkan menjadi 30 hari, sehingga besok masih dianggap bulan Syaban dan baru lusa nya kita mulai berpuasa.
***
Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi pada zaman ini, maka sebagian orang ada yang mengusulkan metode lain untuk memastikan adanya Hilal. Yakni dengan menggunakan ilmu perhitungan (hisab).

Sejarah ilmu perhitungan ini berasal dari adanya ilmu falak, yakni ilmu yang mempelajari pergerakan, lintasan, orbit, dan posisi benda benda langit.

Perbedaan pendapat untuk menentukan Hilal, baik dengan cara hisab (menghitung) ataupun rukyah (melihat) tidak kita bahas sangat detail disini.

Karena toh pada dasarnya, praktek rukyah juga menggunakan ilmu falak dan hisab untuk menentukan obyek yang hendak diamati.

Kami sendiri sebenarnya cenderung lebih menguatkan kepada pendapat metode Rukyatul Hilal. Baik itu rukyah murni ataupun rukyah yang menggunakan hisab (hisab imkanur rukyah, perhitungan yang seakan akan nanti bisa diasumsikan kita akan bisa melihat Hilal pada verifikasi kenyataannya di lapangan).

Adapun hisab murni itu hanya berdasarkan perhitungan saja, dan tidak perlu diversifikasi ke kenyataan apakah bisa dilihat atau tidak. Karena yang jadi acuan adalah wujudul Hilal (Hilal sudah wujud atau ada) baik itu bisa dilihat atau tidak, bukan Rukyatul hilal.

Di balik perbedaan pendapat itu, yang penting disini decision maker antara yang menggunakan rukyah dan hisab murni itu, hendaklah kembali kepada keputusan pemerintah saja.

Hal ini karena rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Hari berpuasa (tanggal 1 Ramadhan) adalah pada hari dimana kalian semua berpuasa. Hari fitri (tanggal 1 Syawal) adalah pada hari dimana kalian semua melakukan hari raya, dan hari Idul Adha adalah pada hari dimana kalian semua merayakan Idul Adha.” (HR. Turmudzi 697, Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya 2181, dan hadis ini dinilai shahih oleh Al-Albani)

Setelah menyebutkan hadis ini, At-Turmudzi mengatakan:

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ هَذَا الحَدِيثَ، فَقَالَ: إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالفِطْرَ مَعَ الجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ

“Sebagian ulama menjelaskan hadis ini, dimana beliau mengatakan: “Makna hadis ini, bahwa puasa dan hari raya dilakukan bersama jamaah (kaum muslimin) dan seluruh masyarakat.” (Sunan At-Turmudzi, 3:71)
****
Semoga tulisan mengenai persiapan menyambut bulan ramadhan ini bermanfaat bagi kita semua.

Berikut nanti, akan kita sambung lagi dengan penjelasan beberapa persiapan yang tidak dituntunkan oleh rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam menyambut bulan ramadhan, yang harus kita hindari.

Insya Allah

Advertisements