Budaya itu secara garis besar terbentuk karena dua hal :
1. Kepercayaan
2. Kebiasaan

Jika masalah “kebiasaan” saja, maka itu tidak masalah, asalkan tidak bertentangan dengan syariat.

Namun jika itu sudah dikaitkan dengan “kepercayaan”; seperti misal jika tidak begini nanti “kualat”, jika ini tidak dilakukan nanti “nggak sukses”, “nggak langgeng ” dan “nggak barokah”, dan lain lain; maka ini termasuk hal hal yang bertentangan dengan Aqidah dan harus ditolak.

Maka dari itu “kuliner nusantara” itu lebih bagus dibandingkan “Islam Nusantara”.

***
Islam itu tidak mengajarkan untuk mengakomodir “kepercayaan kepercayaan” yang mengatasnamakan adat budaya, untuk kemudian diganti dengan “baju islami”.

Ataupun ritual ritual ibadah yang mengatasnamakan adat budaya, yang tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah dan para shahabat, untuk kemudian diganti dengan “baju islami”.

Jangankan budaya nusantara, budaya arab saja yang bertentangan dengan syariat Islam langsung “diberangus” habis habisan!!

Lihat contoh bagaimana rasulullah dan para shahabat menentang dan memberangus habis habisan “budaya Arab” pada waktu itu, yang bertentangan dengan syariat.

Maka dari itu, mari kita kembangkan budaya kuliner nusantara kita di Indonesia ini, sepanjang itu halalan thoyyiban!

Advertisements