SIfat Dan Perbuatan Yang Merupakan Ciri Orang Munafik

Leave a comment

Untuk melengkapi tulisan kami yang membahas mengenai “strategy orang munafik”, maka berikut kami sampaikan juga jenis-jenis sifat dan perbuatan yang merupakan ciri dari orang munafik.

Sifat dan perbuatan ini secara hukum asal terkategori sebagai nifaq ‘Amali. Dan bukan untuk dijadikan ketentuan guna langsung menjatuhkan vonis nifaq I’tiqodi tanpa verifikasi.

Adapun menyebut orang-orang yang mempunyai sifat dan perbuatan ini sebagai “orang munafik” itu diperbolehkan, namun dengan pemahaman “munafik yang tidak mengeluarkan dari Islam”. Boleh juga dikatakan sebagai “muslim yang memiliki sifat kemunafikan” atau “muslim yang ditakutkan munafik”.

Ini seperti misal perkataan Asy-Sya’bi,
مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ
“Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 493)

Sedangkan tidak tiap orang yang berdusta itu otomatis berarti dia “mendustakan dan menentang” Allah dan Rasul-Nya. Namun perbuatan dusta itu adalah perbuatan munafik.

Adapun menyebutkan orang-orang yang mempunyai sifat dan perbuatan munafik sebagai “orang munafik hakiki”, dalam artian menganggapnya sebagai “orang kafir yang berkedok Islam” atau nifaq I’tiqodi, maka ini termasuk kepada perincian hukum takfir (mengkafirkan orang lain).

Yang mana dalam kaidah Takfir itu harus diverifikasi dengan terpenuhi sebab-sebabnya, syarat-syaratnya, dan tiada penghalang-penghalang udzur-nya. Dengan kata lain perlu “vonis ulama yang berkompeten”, atau ada keterangan “saksi ahli”, atau melalui “proses pengadilan”.

Secara umum sifat munafik (nifaq) itu adalah, perbedaan antara yang tersembunyi di hati dengan yang ditampakkan di lisan dan perbuatannya. Al Hasan Al Basri rahimahullah berkata :

مِنَ النِّفَاقِ اِخْتِلاَفُ القَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَاخْتِلاَفُ السِّرِّ وَالعَلاَنِيَّةِ ، وَاخْتِلاَفُ الدُّخُوْلِ وَالخُرُوْجِ
“Di antara tanda kemunafikan adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 490)

Berikut adalah 29 sifat dan perbuatan yang merupakan ciri orang munafik, berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah :
1. Jika berbicara, maka dia berdusta. Atau suka menipu.

2. Jika berjanji diingkari

3. Jika diberi amanah khianat

4. Jika berselisih atau bertikai maka dia akan melakukan kefajiran. Baik itu kedzoliman seperti pemutar balikan fakta, tuduhan, silat lidah hanya untuk mengalilhkan wacana untuk merubah yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar, dan yang semisal.

Dalil untuk empat hal itu adalah,
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: (1) jika diberi amanat, khianat; (2) jika berbicara, dusta; (3) jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; (4) jika berselisih, dia akan berbuat fajir.” (HR. Muslim no. 58)

5. Malas dalam melakukan sholat, terutama sholat berjamaah di masjid. Apalagi pada waktu untuk sholat shubuh dan sholat Isya. Suka mengundur-undur waktu sholat hingga lewat waktunya, dan tidaklah mereka melakukan sholat kecuali merasa “terpaksa”, atau hanya karena “riya” agar dilihat orang lain saja.

Dalil untuk hal ini adalah,
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلا وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنْفِقُونَ إِلا وَهُمْ كَارِهُونَ

Dan yang menghalang-halangi infak mereka untuk diterima adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak melaksanakan SHALAT melainkan dengan malas, dan tidak (pula) menginfakkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan (terpaksa) [QS. At Taubah : 54]

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisaa’: 142).

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً
“Ini adalah shalat orang munafik. Ia duduk hingga matahari berada antara dua tanduk setan. Lalu ia mengerjakan shalat ‘Ashar empat raka’at. Ia hanyalah mengingat Allah dalam waktu yang sedikit.” (HR. Muslim no. 622)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ
“Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jama’ah hanyalah orang munafik, di mana ia adalah munafik tulen. Karena bahayanya meninggalkan shalat jama’ah sedemikian adanya, ada seseorang sampai didatangkan dengan berpegangan pada dua orang sampai ia bisa masuk dalam shaf.” (HR. Muslim no. 654).

Jika kita berkaca pada fenomena “peremehan sholat wajib” yang ada pada masyarakat Muslim sekarang ini, maka tidak heran jika kita mendapatkan berbagai macam kemunafikan yang tersebar merata di berbagai lini kehidupan. Silakan lihat lagi tulisan kami “Strategy Kaum Munafik” bagian 4 untuk hal ini.

6. Meninggalkan sholat jum’at tiga kali berturut-turut dengan tanpa udzur.

Dari Abi Al-Ja’d radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah shallallah alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ(وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع)
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali dengan meremehkannya, maka Allah tutup hatinya.” (Hr. Abu Daud, no. 1052, Tirmizi, no. 500 dan Nasai, no. 1369, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallah alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ (وحسنه الشيخ الألباني في ” صحيح ابن ماجه)
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali tanpa kebutuhan darurat, Allah akan tutup hatinya.” (Hr. Ibnu Majah, no. 1126 dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)

Al-Manawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud ditutup hatinya adalah Allah tutup dan cegah hatinya dari kasih sayangnya, dan dijadikan padanya kebodohan, kering dan keras, atau menjadikan hatinya seperti hati orang munafik.” (Faidhul Qadir, 6/133)

7. Malas untuk menyebut nama Allah untuk mengiringi berbagai macam aktivitas kehidupannya, baik itu untuk doa, dzikir, ataupun ucapan-ucapan secara umum.

Malas untuk melakukan dzikir guna mengingat Allah dan mensucikan jiwa, apalagi membaca Al-Qur’an yang merupakan seutama-utama dzikir.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa: 142).

8. Jika orang-orang munafik membaca dan mempelajari Al-Qur’an, maka mereka hanya melakukannya untuk tujuan membuat syubhat dan pemutar balikkan fakta agar sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka. Ini karena di dalam hati mereka ada penyakit kemunafikan dan condong kepada kesesatan.

Singkat kata, suka pada hal-hal yang sesat, nyleneh, dan hal-hal yang menuju kepada kekafiran serta kezindikan.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

Dialah yang menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. [QS. Ali Imran : 7]

9. Suka menghalang-halangi kebaikan dan kebenaran, serta memprovokasi untuk berbuat kemungkaran dengan dihiasi alasan tipu muslihat dan kata-kata manis lagi hikmah.

Allah Ta’ala berfirman,

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمْ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 67)

10. Suka mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya, suka mengolok-olok serta mempermainkan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits rasul.

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ * وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, sungguh kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. Al Taubah: 64-66)

11. Suka mengolok-olok, mencaci-maki dengan lidah yang tajam, dan mempermainkan orang-orang beriman yang berusaha untuk teguh dalam mengikuti Allah dan rasul-Nya

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لا يَعْلَمُونَ (١٣)وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (١٤) اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (١٥)

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, “Apakah kami akan berimankah seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal; tetapi mereka tidak tahu.

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman”. Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan memperolok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. [QS. Al-Baqarah : 13-15]

أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

Mereka kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. [QS. Al-Ahzab : 19]

12. Merasa aman dari kemunafikan atau merasa bukan orang munafik, terutama ketika disebutkan ayat-ayat dan hadits yang menerangkan sifat dan perbuatan orang munafik.

Al Hasan Al Bashri berkata,

مَا خَافَهُ إِلاَّ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ أَمَنَهُ إلِاَّ مُنَافِقٌ
“Orang yang khawatir terjatuh pada kemunafikan, itulah orang mukmin. Yang selalu merasa aman dari kemunafikan, itulah senyatanya munafik.”(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 491)

13. Menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah

وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ * يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَى عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِراً كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ * وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئاً اتَّخَذَهَا هُزُواً أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Kecelakaan besar bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa. Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh adzab yang menghinakan.” (QS. Al Jaatsiyah: 7-9)

14. Riya’ dalam beramal

Riya’ yang dinisbatkan kepada orang munafik yang dimaksud adalah riya’ Akbar (riya’ besar). Yakni menampakkan keislaman dalam amalannya dan menyembunyikan kekafiran dalam batin. Hal ini seperti firman Allah,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa: 142).

Adapun seorang muslim yang melakukan amal sholeh namun tercampur dengan riya’, maka dia dikatakan melakukan syirik khofi (syirik tersembunyi) dan merusak amalannya sesuai dengan tingkatan riya’-nya.

Dengan kata lain walaupun sama-sama melakukan riya’, namun terdapat perbedaan antara tujuan riya’ orang munafik dengan riya’ seorang Muslim. Walloohu A’lam.

15. Selalu berusaha untuk memecah belah persatuan kaum Muslimin, yang melandaskan persatuannya dengan berpegang teguh terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Atau berusaha mengubah asas landasan persatuan kaum Muslimin yang berdasarkan ketaqwaan sesuai dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan berdasarkan asas-asas yang lain.

Seperti misal : Mengganti dengan hanya melandaskan persatuan kepada Nasionalisme semata dengan tidak mengindahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, hanya melandaskan kepada asas Demokrasi semata, hanya melandaskan kepada asas Pluralisme semata, hanya melandaskan kepada kepentingan politik partai, dan lain-lain. Ataupun bisa juga dengan memanipulasi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits agar sesuai dengan asas-asas persatuan menurut hawa nafsu mereka.

Hal ini sama seperti masjid dhiror yang dibangun oleh kaum munafiqin.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (١٠٧) لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ (١٠٨) أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (١٠٩) لا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (١١٠)

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).

Janganlah kamu melaksanakan shalat dalam mesjid itu selama-lamanya. Sungguh, mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih pantas kamu melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur. Dan Allah Maha mengetahui lagi Mahabijaksana. [QS. At-Taubah : 107-110]

Modus usaha penggiringan untuk mengikuti kemauan kaum Munafik, guna melakukan persatuan “ala munafikin” ini sebenarnya juga sudah diperingatkan di dalam Al-Qur’an,

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمْ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imran: 105).

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلا تُطِعْ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ
“Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik.” (QS. Al-Ahzab: 1).

16. Merasa gembira ketika orang-orang yang beriman sedang mengalami kesusahan dalam perjuangannya, dan merasa “sebal” serta “melecehkan” jika orang-orang beriman mendapatkan pertolongan dari Allah.

إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ

Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka (kaum munafik) berkata, “Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi perang).” Dan mereka berpaling dengan perasaan gembira. [QS. At-Taubah : 50]

17. Suka membuat kerusakan di muka bumi dengan menyamarkannya sebagai “usaha perbaikan”, baik itu kerusakan yang berupa kedzaliman, peperangan, pelegalan berbagai macam kemaksiatan, dan lain lain.

Misal : pelegalan minuman keras, perzinaan, perjudian, pornografi, LGBT, pembiasaan budaya suap dan korupsi, dan lain-lain.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ (١٢)

Dan apabila dikatakan kepada mereka,”Janganlah berbuat kerusakan di bumi.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. [Al-Baqarah : 11-12]

18. Suka membuat-buat udzur dengan alasan dusta

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلا تَفْتِنِّي أَلا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

Di antara mereka (orang munafik) ada orang yang berkata, “Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Muhammad) menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah. ” Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan Sungguh, Jahannam meliputi orang-orang yang kafir. [QS. At-Taubah : 49]

19. Mendustakan janji Allah dan Rasul-Nya

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلا غُرُورًا

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata, “Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada Kami hanya tipu daya belaka.” [QS. Al-Ahzab : 12]

20. Suka menyembunyikan hakikat dirinya dari manusia dan menantang Allah dengan dosa.

وَلا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا (١٠٧) يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا (١٠٨)

Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa,

Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan. [QS. An-Nisaa : 107-108]

21. Memprovokasi untuk melakukan perang jihad, namun ketika diwajibkan oleh ulil Amri dia takut dan enggan untuk berjihad.

Sifat kemunafikan model ini pernah dilakukan oleh bani Israil, sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

Tidakkah kamu memperhatikan (kisah) para pemuka Bani Israil setelah Nabi Musa wafat, ketika mereka berkata kepada nabi mereka: “Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?”. Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim. [QS. Al-Baqarah : 246]

22. Tidak mau memenuhi panggilan perang jihad syar’i yang disahkan kewajibannya oleh ulil Amri dengan alasan berbagai macam udzur yang tidak syar’i, dan tidak pernah bercita-cita untuk berjihad.

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالا لاتَّبَعْنَاكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلإيمَانِ يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ (١٦٧) الَّذِينَ قَالُوا لإخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (١٦٨

Dan agar Allah mengetahui secara jelas siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata, “Sekiranya kami mengetahui bagaimana cara berperang, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

(Mereka itu) adalah orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah, “Cegahlah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” [QS. Ali Imran : 167-168]

إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ

Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka (kaum munafik) berkata, “Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi perang).” Dan mereka berpaling dengan perasaan gembira. [QS. At-Taubah : 50]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata: bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Barangsiapa mati dan tidak pernah berperang (di jalan Allah) dan tidak pernah bercita-cita untuknya, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR Muslim 3533)

23. Kabur dari medan perang jihad, menggembosi agar mundur dari medan perang jihad, menghalang-halangi orang untuk pergi perang berjihad, ataupun berbalik khianat bermain mata dengan mendukung musuh.

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْ وَالْقَائِلِينَ لإخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلا قَلِيلا (١٨) أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (١٩)يَحْسَبُونَ الأحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا وَإِنْ يَأْتِ الأحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الأعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا قَاتَلُوا إِلا قَلِيلا (٢٠)

Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, “Marilah (kembali) bersama kami.” Padahal mereka datang berperang hanya sebentar,

Mereka kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.

Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi, dan jika golongan-golongan (yang bersekutu) itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanyakan berita tentang kamu. Dan sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. [QS. Al-Ahzab : 18-20]

24. Suka menyebarkan kabar bohong, rumor, dan fitnah untuk menyakiti dan melecehkan kaum Muslimin.

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلا

Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan engkau (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah) kecuali sebentar. [QS. Al-Ahzab : 60]

25. Suka melakukan sumpah palsu

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (١) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ (٣)

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan.

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir, maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti. [QS. Al-Munaafiquun : 1-3]

26. Sejatinya orang munafik itu adalah penakut, apalagi jika berada di medan perang.

أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

Mereka kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. [QS. Al-Ahzab : 19]

27. Enggan berinfak

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلا وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنْفِقُونَ إِلا وَهُمْ كَارِهُونَ

Dan yang menghalang-halangi infak mereka untuk diterima adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak melaksanakan SHALAT melainkan dengan malas, dan tidak (pula) menginfakkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan (terpaksa) [QS. At Taubah : 54]

28. Suka untuk bersahabat dan loyal kepada orang-orang kafir dalam perkara yang mendukung kekafiran dan kemaksiatan. Bukan hanya sekedar dalam masalah muamalah ataupun perjanjian.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum) kamu dan bukan dari (kaum) mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahuinya. [QS. Al-Mujaadalah : 14]

29. Suka untuk membuat makar, konspirasi, dan muslihat untuk menjatuhkan citra kaum Muslimin yang berpegang teguh kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mendiskreditkan ajaran agama Islam yang tidak sesuai dengan kemauan hawa nafsu kaum munafikin.

Adapun jika sudah berhasil ditipu daya dengan menggiring opini ummat Islam agar sesuai dengan kemauan mereka, maka barulah mereka berkata bahwa inilah “Islam yang benar”.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ (سورة النساء: 142)

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (7) يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [الصف : 7 ، 8]
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.(QS. Ash-Shaff [61] : 7-8)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala menegaskan pula,

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [التوبة : 32]
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS. At-Taubah [9] : 32)

****

Demikianlah 29 sifat dan perbuatan yang merupakan ciri orang munafik, berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang bisa kami kumpulkan. Mungkin bisa kita tambah lagi jika dijabarkan lebih luas, namun 29 hal itu kiranya cukup dan mudah untuk difahami.

Adapun sikap kita dalam menghadapi ke 29 sikap dan perbuatan munafik itu, tentu tidak boleh dengan tanpa berdasarkan bimbingan ilmu, gegabah, dan “sumbu pendek”. Sikap-sikap untuk menghadapi kemunafikan ini secara garis besar sudah kita bahas dalam tulisan kami, “Strategy Kaum Munafik” tulisan kelima. Silakan merujuk kembali ke tulisan itu.

Semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik

Bagaimana Maksud Minta Tolong Kepada Allah Dengan Sholat Kita Dan Bagaimana Caranya ?

Leave a comment

Di kajian kitab Bulughul Maraam saya bertanya kepada ustadz Sulam, Allah berfirman “wasta’iinuu bish shobri wash sholaah” (minta tolonglah kamu sekalian dengan sabar dan sholat).

Maksud dari minta tolong dengan sholat itu maksudnya bagaimana ya tadz?

Apakah maksudnya dengan berdoa di tempat tempat gerakan sholat yang membolehkan kita untuk berdoa apa saja, atau bagaimana?
***
Beliau menjawab bahwa maksudnya adalah benar benar minta tolong kepada Allah dengan sebab sholat kita.

Beliau kemudian menyebutkan dua buah hadits :
1. Abdullah bin Umar radhiyalloohu ‘anhu ketika dalam perjalanan dan diberitahu anaknya meninggal, maka beliau segera turun dari unta nya dan meminggirkan untanya, lalu beliau melakukan sholat sunnah mutlak dua rekaat untuk meminta tolong kepada Allah guna menenangkan hatinya yang sedih.

(notes : saya sendiri belum pernah menemui hadits mengenai kisah Abdullah bin Umar ini, kecuali setelah ustadz Sulam ceritakan).

2. Kisah Juraij dalam hadits shohih Bukhori-Muslim, yang mana Juraij ini adalah seorang ahli ibadah terkenal dari bani Israel.

Juraij ini dikisahkan oleh rasulullah difitnah oleh seorang pelacur, dengan mengatakan kesana kesini bahwa bayi yang digendongnya itu adalah anak hasil perzinaan nya dengan Juraij.

Bani israel pun terhasut dan murka terhadap Juraij. Maka rumah ibadah Juraij pun dihancurkan dan Juraij pun dipukuli.

Sembari dipukuli Juraij pun bertanya “ada apa ini?”, maka masyarakat bani Israel pun menjawabnya bahwa dia telah berzina dengan pelacur itu dan melahirkan anak hasil zina.

Maka Juraij pun berkata “bawa bayi itu ke hadapan ku”, setelah bayi itu dibawa ke hadapan Juraij maka dia berkata “Biarkanlah aku melakukan sholat terlebih dahulu”

Setelah selesai solat Juraij pun menempelkan tangannya di perut bayi itu sambil berkata, “katakanlah, siapa ayahmu”.

Maka keajaiban pun terjadi, bayi itu tiba tiba bisa berbicara dan berkata “ayahku adalah fulan, seorang penggembala ternak”.

Maka gemparlah bani israel dengan keajaiban ini. Minta maaflah mereka kepada Juraij, direhabilitasi nama baiknya, dan dibangun lagi tempat ibadah nya.

****
Catatan pribadi dari saya :
Jadi jika kita ingin minta pertolongan dari Allah dengan sholat kita, maka lakukanlah sholat sunnah mutlak dua rekaat dengan diniatkan untuk “merengek” dan “merendahkan diri” meminta pertolongan kepada Allah.

Diulang-ulang terus sholat sunnah mutlak kita dua rekaat dua rekaat juga tidak mengapa.

Teruslah kita berusaha untuk “mengetuk” pintu pertolongan dari Allah sebanyak mungkin kita bisa.

Ajukan juga doa doa yang kita kehendaki untuk minta pertolongan Allah, di tempat tempat gerakan sholat yang membolehkan kita untuk memanjatkan doa apa saja yang kita mau.

Baik itu ketika sujud, ataupun setelah selesai membaca tahiyat akhir sebelum salam.

Boleh dengan doa bikinan kita sendiri, dan boleh juga dengan memakai bahasa indonesia atau bahasa lain yang kita suka. Tidak harus bahasa arab. Demikian menurut pendapat sebagian ulama yang membolehkan, yang saya anggap kuat.

Lihat juga : http://www.konsultasisyariah.com/doa-sujud/

Wallaahu A’lam

Posisi Kita

Leave a comment

A : Mas sampeyan kok senengnya nulis yang masalah agama terus sih, sampeyan sudah merasa suci ya?

B : Nggak mas. Saya ini cuman tukang sapu, ngepel-ngepel, dan bersih-bersih kok… kadang saya juga jadi tukang sopir mas, biar mas enak di jalan dan sampai di tujuan….

Islam Nusantara : Reduksi Istilah Dan “Implikasinya”.

Leave a comment

Jangan dikira efeknya sederhana dan hanya “main istilah” saja. Ternyata “perubahan value dan makna” di balik rekayasa istilah itu implikasinya sangat besar. Dan inilah goal mereka wahai saudaraku.

Video ta’lim ini cukup lama, yakni 1 jam 20 menit.

Untuk mempermudah dalam pemahaman melihat video ini, maka 8 menit awal diterangkan dulu dasar-dasar mengenai “istilah” dan “perang istilah dan makna” sebagaimana yang dipelopori dan dikomandoi oleh orang barat.

Baru pada menit ke 8 dan 50 detik-an dan seterusnya, dibahas mengenai istilah “Islam Nusantara” dan berbagai macam istilah serta implikasinya.

Silakan download aja link youtube ini, jika bandwith agak berat untuk streaming online.

Ohya, bagi yang nggak biasa dengar “kajian filsafat” mungkin ini agak berat. Akan ada istilah asing dan tokoh2 asing yang mungkin belum pernah didengar. Namun bagi orang yang “nice to know” kajian ini “worth to listen”.

Lihat : https://www.youtube.com/watch?v=UIYJFM0DhjE&feature=youtu.be&app=desktop

Strategi Kaum Munafik – Bagian 5

Leave a comment

SIKAP KITA DALAM MENGIDENTIFIKASI DAN MENGHADAPI ORANG-ORANG MUNAFIK

Pepatah perang mengatakan : “Kenalilah dirimu dan kenalilah musuhmu, maka engkau bisa memenangkan 1000 peperangan”.

Menimbang point-point uraian yang telah kita jelaskan pada tulisan bagian 4, yang berupa :
1. Kondisi kemunafikan yang makin parah di masa kita dan kondisi umat yang jauh dari pembinaan Aqidah Islam yang kokoh.

2. Sikap nifaq ‘amali tersebar merata dan tampak di berbagai lini kehidupan

3. Nifaq ‘amali yang merata ini menyebabkan nifaq i’tiqodi semakin tampak bermunculan dan tidak malu-malu sembunyi lagi.

4. Orang-orang Munafiq tulen bertujuan untuk mengganti Islam yang Allah dan Rasul Nya tetapkan, menjadi Islam yang sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka

5. Orang-orang munafik mempunyai kekuatan syubhat sebagai dasar-dasar kemunafikan mereka.

6. Orang-orang munafik mempunyai kekuatan untuk :
– Menulis dan menyebarkan tulisan serta buku-buku mereka
– Membangun masjid-masjid atau Islamic Centre yang mendukung Islam ala kemunafikan.
– Mempunyai media massa untuk “mengatur” opini masyarakat
– Mempunyai berbagai macam organisasi yang berkolaborasi dengan orang kafir
– Mempunyai kekuatan financial dan dana untuk membiayai agenda-agenda mereka

7. Kaum Munafikin mempunyai kaum simpatisan yang terhasut oleh propaganda mereka. Yang mana kadang mereka tidak tau duduk perkaranya, kurang mempunyai daya nalar ilmiah yang kritis, kadang karena tertipu hingga simpati, dan hanya ikut-ikutan saja karena cocok dengan hawa nafsu mereka.

Melihat dari tujuh buah pertimbangan di atas, maka sikap kita yang terbaik dalam menghadapi orang-orang munafik adalah :

1. Karena tersebar kemunafikan di berbagai lini kehidupan, maka sebaiknya kita juga mawas diri jangan sampai sikap munafik itu ada pada diri kita walaupun itu hanya sekedar nifaq ‘amali.

Godaan dunia itu tidak kalah hebatnya dibandingkan syubhat-syubhat orang munafik tulen. Dan tidak jarang seorang yang pada hakikatnya baik, terjatuh pada sebagian perbuatan kemunafikan karena “tuntutan dunia”

وقال ابنُ أبي مُلَيْكَة : أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ .
“Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata: Aku telah mendapati 30 orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya khawatir pada dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhari no. 36)

Para shahabat radhiyalloohu’anhum umumnya sangat takut timbulnya penyakit kemunafikan pada diri mereka karena pengaruh keduniaan.

عَنْ حَنْظَلَةَ الأُسَيِّدِىِّ قَالَ – وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ – لَقِيَنِى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا. فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَمَا ذَاكَ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Dari Hanzholah Al Usayyidiy -beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata, “Abu Bakr pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.”

Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?” Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu.”

Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidurmu dan di jalan. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim no. 2750).

2. Menyadari bahwa sikap hati-hati agar tidak jatuh kepada kemunafikan itu adalah sikap seorang yang beriman. Dan sebaliknya, meremehkan kemunafikan itu adalah sikap orang munafik.

Al Hasan Al Bashri berkata,

مَا خَافَهُ إِلاَّ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ أَمَنَهُ إلِاَّ مُنَافِقٌ
“Orang yang khawatir terjatuh pada kemunafikan, itulah orang mukmin. Yang selalu merasa aman dari kemunafikan, itulah senyatanya munafik.”(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 491)

3. Tidak meremehkan jika ada sikap nifaq ‘amali pada diri kita, dengan beranggapan “toh yang penting saya tidak nifaq I’tiqodi dan bertauhid dengan benar”. Ini karena nifaq amali itu dapat menggiring kepada nifaq I’tiqodi, sama seperti dosa kecil menggiring kepada dosa besar.

Imam Ath Thabrani rahimahullah berkata:
أن الإصرار على الصغائر حكمه حكم مرتكب الكبيرة الواحدة على المشهور.

“Sesungguhnya seseorang yang selalu melakukan dosa-dosa kecil, maka hukumnya adalah seperti hukum pelaku sebuah dosa besar, menurut pendapat yang terkenal (diantara para ulama)”. [Kitab Al Mu’jam Al Awsath, karya Ath Thabrani, no. 3759.]

Dan telah maklum bagi kita, salah satu sifat munafik yang terkenal itu adalah suka berbohong. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)

4. Mempelajari dan memperkuat dasar-dasar aqidah keimanan kita dengan berdasarkan ilmu yang haq.

5. Mempelajari apa itu kemunafikan agar kita dapat terhindar darinya.

***
Catatan : Sikap-sikap “mawas diri” dan “memperkuat diri” pada lima point di atas itu jangan dianggap remeh.

Jangan dikira menghadapi orang munafiq itu harus semata hanya dengan “menyerang” mereka saja. Pepatah mengatakan “Jangan engkau lempari rumah orang jika rumahmu terbuat dari kaca”. Maksud dari ini, jika kaum munafiq menyerang kembali dengan membawa syubhat-syubhat dan ejekan mereka maka hendaklah kita kuat dan bisa menghadapinya.
***

6. Membedakan sikap antara menghadapi munafik tulen dengan menghadapi simpatisannya. Atau bersikap dengan menyesuaikan kadar kemunafikan yang ada pada seseorang.

Lihat kembali di tulisan bagian 3

7. Melihat mashlahat dan madhorot dalam melihat kemunafikan ataupun dalam menghadapi orang munafik.

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam senantiasa didzolimi oleh orang-orang munafik, namun rasulullah senantiasa berusaha sabar dan tidak membunuh atau menghukum orang munafik tersebut karena menimbang mashlahat dan madhorot.

Tidak pernah ada riwayat bahwa rasulullah pernah membunuh ataupun menghukum orang munafik, walaupun rasulullah mengetahui siapa saja orang-orang munafik yang berjumlah 12 orang itu pada masa beliau.

Dari 12 orang itu yang terkenal diketahui kemunafikannya oleh shahabat rasulullah yang lain, hanya Abdullah bin Ubay bin Salul saja. Adapun orang munafik yang lain disembunyikan identitas namanya oleh rasulullah, dan hanya diberitahukan kepada Hudzaifah bin Yaman rodhiyalloohu ‘anhu saja. Hal ini dilakukan tidak lebih karena menimbang mashlahat dan madhorot.

Bahkan ketika gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul ini meninggal, rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sempat hendak mensholatkannya hingga turun wahyu QS At- Taubah ayat 84 yang melarang beliau dari mensholatkan jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul (Hr. Bukhari)

8. Bersabar dan bahkan kadang berakhlak baik serta berlemah lembut terhadap munafik yang bisa diharapkan “kesembuhannya”.

Tidak semua orang yang ingin menjadi munafik, atau menjadi simpatisan munafiqun, karena memang ingin “nyleneh” ataupun karena iming-iming perkara duniawi. Kadang ada juga yang menjadi munafiq atau simpatisannya karena “sakit hati” terhadap perilaku kaum mukminin saja.

Harus diakui juga kadang ada orang mukmin yang bersikap dzolim, buruk adab dan akhlaknya, keras lagi sombong terhadap orang lain. Sikap ini kadang yang justru membuat orang lain tidak simpatik padanya, dan lebih memilih mendukung ideologi kemunafikan atau menjadi simpatisan karena “kecewa” terhadap orang mukminin.

Terhadap orang-orang seperti inilah kita harus sabar, dan justru bersikap simpatik serta berakhlak baik kepadanya.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (٣٣) وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (٣٥)

Dan siapakah yang lebih baik perkataannyadaripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.

Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar [QS. Fushshilaat : 33-35]

Sekedar contoh dari sisi lain :
Abdullah bin Ubay bin Salul sebenatnya termasuk salah satu dari golongan “Barisan Sakit Hati” yang memilih menjadi munafik. Abdulllah bin Ubay bin Salul sebenarnya salah seorang tokoh yang hendak dijadikan pemimpin di Yatsrib (Madinah). Namun karena pengaruh dakwah rasulullah dan hijrahnya rasulullah ke kota Madinah, maka secara otomatis dilupakanlah Abdullah bin Ubay bin Salul dan Rasulullah pun secara otomatis menjadi pemimpin di kota madinah.

Rasulullah tentu bukan orang yang bersifat dzolim, buruk adab dan akhlaknya, keras lagi sombong terhadap orang lain, yang menjadikan pendorong Abdullah bin Ubay bin Salul menjadi munafik. Akan tetapi dorongan kedengkianlah yang menjadikan Abdullah bin Ubay bin Salul menjadi munafik.

Rasulullah pun mengetahui hal itu, namun beliau justru bersikap sabar dan berakhlaq baik dalam menghadapi kemunafikan Abdullah bin Ubay bin Salul dan teman-teman munafiknya.

9. Tetap harus mengingkari kemunafikan dan memusuhi orang-orang munafik sesuai dengan kemampuannya, dan dengan tidak menimbulkan “madharat” yang lebih besar lagi.

10. Bagi orang yang mempunyai ilmu dan kemampuan, maka wajib baginya untuk mempelajari ideologi dan syubhat-syubhat kemunafikan untuk kemudian mengeluarkan buku-buku untuk membantahnya dengan bantahan yang ilmiah. Atau mendebatnya melalui forum-forum diskusi ilmiah.

11. Membaca dan mempelajari buku atau tulisan bantahan ilmiah terhadap berbagai ideologi dan syubhat kemunafikan, bagi orang yang merasa perlu untuk mendirikan “benteng” yang lebih tinggi bagi dirinya.

12. Bertanya dan meminta nasehat kepada Ahlul ‘ilmi untuk mengeluarkan penyakit ideologi dan syubhat kemunafikan yang kadang menyambar-nyambar.

13. Menjaga diri dan menjauh dari bergaul dengan orang-orang munafik, terutama orang-orang yang memiliki “ideologi pemikiran munafik”.

14. Membantu perlawanan propaganda dalam memerangi dan menjelaskan kebatilan ideologi dan syubhat pemikiran munafik, baik melalui internet, sosial media, dan lain-lain.

15. Jangan bertindak gegabah dan “bersumbu pendek” yang justru menghasilkan hal yang “kontra produktif”. Berdakwah dan Amar Ma’ruf Nahi munkar itu memerlukan ilmu dan tidak hanya berbekal “semangat” saja.

Bahkan kadang orang yang membela Islam dengan tanpa ilmu itu, kerusakan yang dihasilkan jauh lebih banyak dibandingkan kemashlahatan yang ingin dicapainya.

16. Bagi orang yang memiliki kekuasaan, hendaknya membantu dengan kekuasaannya dalam menahan dan menghilangkan laju ideologi pemikiran kemunafikan di tengah-tengah masyarakat.

17. Menjelaskan mengenai bahaya ideologi pemikiran kemunafikan dan mendampingi pemangku kekuasaan jika bisa. Karena biasanya sasaran dan strategi utama dari orang-orang munafik itu adalah berusaha merangkul pemerintah untuk menjadi pendukungnya.

VONIS MUNAFIK YANG MENGELUARKAN DARI ISLAM
Walaupun tulisan kita ini lebih menuju kepada nifaq I’tiqadi yang membawa kepada kekafiran. Namun menghukumi “faham yang merupakan kemunafikan I’tiqad” dengan menghukumi pelaku “munafik I’tiqad itu sendiri” itu sendiri beda proses pemvonisannya.

Untuk yang berbentuk faham atau ajaran, maka mudah untuk menvonis bahwa ini adalah pemahaman kafir yang dibungkus dengan kedok Islam.

Namun untuk pelakunya sendiri, proses hukum bahwa dia divonis kafir karena faham kemunafikannya itu harus melalui proses verifikasi terpenuhi sebabnya, terpenuhi syaratnya, dan tidak adanya penghalang untuk dijatuhkan vonis kafir terhadapnya.

Pada dasarnya vonis penyematan label “munafik yang mengeluarkan dari Islam” pada tiap individu itu, sama seperti “vonis takfir”. Dengan kata lain “proses pengadilan”, keterangan “saksi ahli”, atau “vonis ulama yang capable” dalam hal ini diperlukan.

***
Semoga tulisan ini bermanfaat. Baarokalloohu fiik

Strategi Kaum Munafik – Bagian 4

Leave a comment

KONDISI KEMUNAFIKAN MASA KINI.
Sikap kita dalam “mengidentifikasi dan menghadapi” orang-orang munafiq, berikut “wabah penyakit nifaq (sikap munafiq)” tidak bisa kita sama ratakan untuk semua orang.

Ini karena kemunafikan yang ada pada masa kita umumnya merata, makin parah, dan makin berani untuk ditampakkan, dibandingkan masa-masa sebelumnya.

***
Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Sebagian orang mengira kemunafikan hanyalah ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, tidak ada kemunafikan setelah zaman beliau. Ini adalah prasangka yang salah. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:

‘Kemunafikan pada zaman ini lebih dahsyat dari kemunafikan di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Mereka berkata: ‘Bagaimana (bisa dikatakan demikian)?’ Beliau menjawab: ‘Orang-orang munafik di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan kemunafikan mereka. Adapun sekarang, mereka (berani) menampakkan kemunafikan mereka’.”
***

Sifat kemunafikan sudah menjadi “hal yang lumrah”. Dan yang dimaksud bukanlah langsung menuju kepada nifaq I’tiqodi atau “kekafiran berkedok Islam”, akan tetapi bertahap dimulai dari nifaq ‘amali.

Dusta, khianat, ingkar janji, sumpah palsu, malas melakukan sholat, dan ciri-ciri nifaq ‘amali lainnya sudah lumrah kita lihat dan hadapi pada kehidupan sehari-hari.

Sikap-sikap kemunafikan ini (nifaq ‘amali) tampak terlihat pada hal-hal yang menyangkut masalah keduniawian dan popularitas. Seperti halnya urusan yang menyangkut masalah uang dan harta secara umum, utang, pekerjaan, jabatan, kekuasaan, politik, jual beli, dan lain-lain. Dunia tipu-menipu atau “dog eat dog” kental dan bisa dirasakan nuansanya.

SIKAP WASPADA DALAM MENGHADAPI KEMUNAFIKAN
Kita “suudzon untuk waspada” terhadap orang-orang yang mempunyai sikap nifaq, guna untuk berjaga-jaga dan tidak untuk langsung menuduh, itu diperbolehkan.

Hal ini diperbolehkan dengan catatan memang ada alasan dan indikasi kepada hal itu. Atau memang jika di suatu lingkungan atau aktivitas tertentu sudah lumrah ada praktek kemunafikan di situ, maka boleh bagi kita “suudzon untuk waspada”. Zaman sekarang ini kita tidak “boleh naif” memandang pergaulan hidup, namun tidak boleh juga paranoid dan lupa tawakkal kepada Allah.

Kebolehan untuk suudzon dengan alasan yang “masuk akal” ini seperti yang dijelaskan oleh para ulama rahimahumulloh.

Sebagian besar suudzon yang tidak mempunyai alasan logis dan hanya praduga tidak berdasar itu memang di larang. Namun suudzon yang mempunyai alasan logis, berdasarkan pengalaman, fakta, atau ada dasarnya itu tidak dilarang.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata :
فالواجب على المسلم أن لا يسيء الظن بأخيه المسلم إلا بدليل، فلا يجوز له أن يتشكك في أخيه و يسيء به الظن إلا إذا رأى على أمارات تدل على سوء الظن فلا حرج

“Maka yang menjadi kewajiban seorang Muslim adalah hendaknya tidak berprasangka buruk kepada saudaranya sesama Muslim kecuali dengan bukti. Tidak boleh meragukan kebaikan saudaranya atau berprasangka buruk kepada saudaranya kecuali jika ia melihat pertanda-pertanda yang menguatkan prasangka buruk tersebut, jika demikian maka tidak mengapa” ( http://www.binbaz.org.sa/node/9619 ).

Akan tetapi, walau sebenarnya berprasangka buruk itu dibolehkan untuk hal-hal yang logis dan ada indikasi bukti serta pengalaman, namun “selalu” berprasangka buruk itu bukanlah tabiat seorang Mukmin. Maka dari itu, karena seorang mukmin itu lebih suka berprasangka baik dan kadang “naif” dibandingkan berprasangka buruk. Seorang mukmin kadang mudah untuk “ditipu” oleh orang munafik lagi fajir, walau tidak semua.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ غِرٌّ كَرِيمٌ، وَالْفَاجِرُ خِبٌّ لَئِيمٌ

“Seorang mukmin adalah ghirrun ‘gampang tertipu’ lagi dermawan, sedangkan seorang fajir adalah khibbun ‘penipu’ lagi la`îm ‘keji, hina, rendahan’.” [Dikeluarkan oleh Ahmad, Al-Bukhâry dalam Al-Adab Al-Mufrad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, dan selainnya dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny rahimahullâh dalam Ash-Shahîhah no. 935.]

Hendaklah seorang mukmin itu selalu waspada dalam menghadapi munafiqun, dan menyadari “kelemahan” yang ada pada dirinya.

DARI NIFAQ ‘AMALI MENUJU KE NIFAQ I’TIQODI
Keyword dari “tulisan pengantar” kita sebelumnya adalah :
Jika nifaq amali sudah lumrah untuk ditampakkan dan dilakukan dimana-mana, maka menampakkan nifaq I’tiqodi yang seharusnya disembunyikan di balik hati-hati orang munafik tulen sudah tidak perlu dilakukan dengan takut-takut lagi.

Sudah sering kita lihat orang munafik tulen menampakkan apa yang tersembunyi di hatinya dengan cara :
– Meremehkan dan mempermainkan ayat-ayat Allah.
– Mengatakan kata-kata kufur yang menampakkan kebencian terhadap ajaran Islam yang sesuai dengan Allah dan Rasul-Nya tetapkan, dan ingin mengganti Islam agar sesuai dengan hawa nafsu yang dia inginkan.

Dan tentu saja semua itu mereka lakukan dengan “mengatasnamakan Islam” yang “sesuai dengan hawa nafsu mereka” versi mereka.

Kata-kata mereka sangat licin, sangat manis, sangat menarik, dan menipu. Di satu sisi mereka tidak ingin disebut sebagai orang Kafir, namun di sisi lain mereka juga tidak ingin menerapkan ajaran Islam kecuali disesuaikan dengan hawa nafsu keinginan mereka.

Syubhat, pemutar balikan fakta, dan pencampur adukan haq dan bathil (talbisul Haq bil Bathil) yang mereka lakukan sangatlah banyak. Mereka sangat “faqih” dalam beragama, dan mereka lebih licin dalam bersilat lidah “dengan mengatasnamakan agama” dibandingkan belut yang diberi pelumas.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian sepeninggalku, ialah setiap orang munafiq yang ‘alim lisannya” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani).

Al Munawi berkata, “Maksudnya ialah mereka yang lisannya (seolah-olah) berilmu, namun hati dan amalnya jahil. Mereka menipu manusia dengan saling mengadu kefasihan (dalam membicarakan masalah agama)”.

Umar pernah berkhutbah di atas mimbar, lantas ia mengatakan,

إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ المنَافقُ العَلِيْمُ ، قَالُوْا : كَيْفَ يَكُوْنُ المنَافِقُ عَلِيماً ؟ قَالَ : يَتَكَلَّمُ بِالْحِكْمَةِ ، وَيَعْمَلُ باِلجَوْر ، أَوْ قَالَ : المنْكَرِ

“Yang aku khawatirkan pada kalian adalah orang berilmu yang munafik. Para sahabat lantas bertanya: “Bagaimana bisa ada orang berilmu yang munafik?” Umar menjawab, “Ia berkata perkataan hikmah, namun dalam amalannya ia melakukan kemungkaran.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 490]

Sekali lagi kita ingatkan firman Allah subhaanahu wa ta’aala dalam mensifatkan orang-orang munafik itu,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ –

Dan apabila engkau melihat mereka, penampilan mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau (terpukau dan suka untuk) mendengarkan tutur katanya. [Qs. Al munaafiquun : 4]

BUKU-BUKU, MASJID, MEDIA MASSA, DAN ORGANISASI ISLAM KAUM MUNAFIQIN
Berdasarkan kefaqihan kaum munafik, maka apakah bisa mereka membuat buku dan tulisan-tulisan yang dijadikan pondasi dasar kemunafikannya dengan mengatas namakan sebagai “Islam yang benar”, “dialektika”, “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, “Hermeneutika Islam”, dan jargon-jargon manis lainnya? Jawabnya tentu saja bisa !

Tulisan dan buku-buku yang mengajarkan kemunafikan seperti ini banyak beredar di zaman, serta mudah ditemui dimana-mana. Apalagi dengan adanya teknologi informasi Internet dan media sosial.

Cukup duduk manis di hadapan komputer atau gadget maka berbagai macam syubhat kemunafikan, peremehan ajaran Islam, mempermainkan ayat Allah, promosi kebid’ahan yang menuju kepada kesyirikan dan kekafiran, tulisan yang mengolok-olok ayat-ayat Allah, dan lain-lain akan sangat mudah untuk kita datangkan.

Jangankan hanya tulisan ataupun buku, masjid saja bisa dibangun oleh orang-orang munafik. Masjid Dhirar istilahnya, masjid yang dibangun untuk memberikan kemadharatan di antara kaum muslimin. Allah subhaanahu wa ta’ala sendiri menyebutkan mengenai hal ini.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ
إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadharatan (pada orang-orang Mukmin), untuk kekafiran dan memecah belah antara orang-orang Mukmin serta menunggu kedatangan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah,”kami tidak menghendaki selain kebaikan.”Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). [at-Taubah :107]

Orang munafik tulen (nifaq I’tiqad) adalah saudara akrab orang-orang kafir. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan berbagai macam opini dan media massa mereka, seperti halnya orang kafir. Hanya saja bedanya, orang munafiq ingin membelokkan opini lewat media massa mereka untuk “merubah” Islam agar menjadi islam sesuai dengan kepentingan mereka.

Pluralisme, Sekulerisme, dan Liberalisme adalah salah satu agenda utama orang munafik pada zaman ini. Dan kita bisa lihat berapa banyak media massa, baik itu yang berskala nasional dan internasional, yang mendukung agenda mereka itu.

رِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Orang-orang kafir berkeinginan memadamkan agama Allah dengan ucapan-ucapan mereka. Allah pasti menyempurnakan agama-Nya, sekali pun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash Shaff, 61: 8)

Orang-orang munafik juga mendirikan organisasi-organisasi Islam atau menyelusup di organisasi-organisasi Islam yang sudah ada, untuk menyebarkan agenda-agenda mereka. “Organisasi Islam Munafik” paling klasik adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) yang dikomandoi oleh Abdullah bin Ubay bin Salul pada zaman rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Adapun pada zaman sekarang, maka orang munafik lebih mudah lagi membentuk suatu organisasi resmi dengan mengatasnamakan kebudayaan, islamic centre, organisasi nirlaba atau LSM, dan lain-lain. Dana pembiayaan mereka umumnya didapatkan dengan bekerjasama dengan orang-orang kafir.

SIMPATISAN KAUM MUNAFIKIN
Sebenarnya diantara hal yang kita sedihkan adalah keberadaan “simpatisan kaum munafiqin”. Kadang mereka tidak tau duduk perkaranya dan ikut-ikutan saja . Namun karena kuatnya pengaruh tulisan, buku-buku, media massa, dan organisasi kaum munafikin mereka menjadi latah dan terhasut oleh opini kaum munafiqin.

Mereka juga ikut-ikutan karena apa yang diomongkan orang-orang munafik itu dirasa cocok dengan hawa nafsu mereka. Atau juga bisa karena tertipu dan merasa simpati.

Keberadaan kaum simpatisan munafiqin ini disebutkan di dalam Al-Qur’an,

فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? [QS. An Nisaa : 88]

SIKAP KAUM MUNAFIKIN DAN SIMPATISANNYA
Jika ayat-ayat Allah saja diremehkan dan diolok-olok, maka apalagi orang sholih yang mencoba untuk berpegang teguh kepada ayat-ayat Allah.

Kita akan mudah menemukan berbagai macam olokan, hinaan, fitnah, “gelaran” bagi orang-orang yang mencoba untuk berpegang teguh kepada ayat-ayat Allah. Maka dari itu janganlah olok-olok mereka membuat hati kita sedih dan “bersumbu pendek” dalam menghadapinya.

Allah berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَـٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ ﴿١٣﴾ وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ ﴿١٤﴾ اللَّـهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ ﴿١٥﴾ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ ﴿١٦﴾

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, “Apakah kami akan berimankah seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal; tetapi mereka tidak tahu.

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman”. Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan memperolok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk. [Qs. Al Baqarah : 13-16]
Kenapa point ini perlu kita sebutkan? Karena terkadang ada sebagian kaum mukminin yang geram jiwanya dan bersumbu pendek dalam menghadapi kaum munafikin dan simpatisannya, sehingga “bersumbu pendek” dan bersikap kontra produktif terhadap mereka dengan tanpa melihat mashlahat-madhorot.

Padahal sikap itulah yang kadang diinginkan dan “dipancing-pancing” oleh kaum munafikin, akibatnya kemudhorotan yang lebih besarlah yang kita dapat. Jika kita dihina oleh kaum munafikin dan simpatisannya, maka anggap sajalah itu bukti bahwa kita ini orang yang beriman. Dan balaslah makar mereka dengan cara yang lebih cerdas serta elegan.

Pada zaman rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam tidaklah setiap hinaan dan celaan orang-orang munafikin terhadap beliau itu perlu untuk ditanggapi. Rasulullah memilih untuk bersabar sembari mencari “celah” dan waktu terbaik untuk membalas hinaan mereka. Walloohu A’lam.

Strategi Kaum Munafik – Bagian 3

Leave a comment

Adapun tindakan dan sikap kita dalam “mengidentifikasi” dan “menghadapi” orang-orang munafik tidak bisa disamaratakan. Hal ini bergantung kepada :
1. Kondisi kemunafikan yang ada pada tiap orang
2. Melihat kepada pertimbangan Mashlahat dan Madhorot.

Kenapa kita harus menimbang dua hal itu, dan tidak boleh “bersumbu pendek” dalam menghadapi orang munafik dan makar-makarnya? Ini karena mereka mempunyai kekuatan “pengumpulan opini”, umumnya dekat dengan pemangku “kekuasaan”, dan umumnya mempunyai pengaruh “psikologi massa” yang harus kita pertimbangkan.

Ingat, yang namanya orang munafik itu tidak akan mau untuk “turun tangan” sendiri kecuali untuk “pencitraan”, dan lebih suka untuk “meminjam tangan” masyarakat dan pemangku kekuasaan yang mereka hasut.

Allah subhaanahu wa ta’ala sendiri mengkhabarkan betapa mengagumkannya orang munafik itu,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ –

Dan apabila engkau melihat mereka, penampilan mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau (terpukau dan suka untuk) mendengarkan tutur katanya. [Qs. Al munaafiquun : 4]
***

Terlebih lagi, sikap dan pertimbangan kita harus juga disertai dengan membedakan antara orang yang merupakan “master mind” munafiq tulen, dan orang yang hanya sekedar ikut-ikutan serta “terbrain wash” dengan konsep-konsep pemikiran ideologi munafikin.

Sikap pembedaan ini adalah seperti contoh ketika terjadi kisah fitnah “haditsul ifki” (kabar bohong) terhadap istri rasulullah ‘Aisyah radhiyalloohu ‘anhaa, yang sempat mengguncang rumah tangga rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Fitnah ini dihembuskan oleh orang-orang munafik.

Allah subhaanahu wa ta’ala pun menurunkan firman Nya yang menyatakan kesucian Ibunda ‘Aisyah radhiyalloohu ‘anhaa, dan “membeda-bedakan” dosa serta adzab orang yang turut serta dalam menyebarkan kabar fitnah ini sesuai dengan kadar kesalahan mereka masing-masing.

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula). [Qs. An Nuur : 11]

Para ulama juga membagi nifaq (sifat kemunafiqan) menjadi dua :
1. Nifaq kecil
Orang yang hatinya benar-benar beriman, namun dia melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan ciri khas orang munafiq. Seperti jika berkata berbohong, jika dipercaya khianat, dan jika berjanji maka tidak ditepati.

Orang seperti ini masih dikategorikan seorang seorang Muslim, namun hanya saja muslim yang bermaksiat dan mempunyai sifat munafiq yang tidak sampai mengeluarkannya dari Islam.

2. Nifaq besar
Orang yang keimanannya tidak ada dalam hatinya, namun dengan dusta mengatakan bahwa dia beriman. Oranb seperti ini pada hakikatnya adalah orang kafir, dan umumnya dia akan menganggap hal-hal “membatalkan keimanan” itu sebagai hal yang remeh, serta suka mempermainkan ayat-ayat Allah agar sesuai dengan keinginannya.

Para ulama ada juga yang membagi nifaq menjadi : nifaq ‘amali (nifaq perbuatan) dan nifaq i’tiqodi (nifaq keyakinan).

Penjelasan mengenai nifaq ‘amali dan nifaq i’tiqodi adalah sama seperti nifaq kecil dan nifaq besar seperti yang kita jelaskan sebelumnya.
***

Celakanya di zaman kita ini, kemunafikan yang dipropogandakan itu tidak terbatas hanya kepada nifaq perbuatan saja. Melainkan sudah merambah kepada propaganda dan dakwah terhadap pemikiran-pemikiran nifaq i’tiqodi. Dan propaganda pemikiran nifaq i’tiqodi ini sudah benar-benar massive merambah ke berbagai lapisan masyarakat.

Mereka mempropagandakan hal ini dengan dua strategy yang telah kita sebut sebelumnya:

1. Menjadikan “toleransi yang melampaui batas dan meremehkan aqidah” ataupun “mempromosikan hal2 yang melanggar aturan syariat”, yang mana kedua itu dilakukan dengan alasan kebaikan dan perbaikan ummat manusia. Dan mereka melakukan itu dengan mengatasnamakan Islam.

2. Mereka berusaha menjadikan sikap dan pandangan mereka sebagai representasi “Islam yang benar” di berbagai macam forum dan kesempatan. Baik itu di hadapan orang2 kafir sahabat mereka, orang2 yang lemah “nalar kritisnya” dan tertipu oleh “kata2 manis” mereka, ataupun orang2 awam yang tidak memahami duduk masalahnya.

Secara umum jenis-jenis pemikiran nifaq i’tiqodi yang mengatasnamakan “inilah Islam yang benar” padahal isinya kekufuran, adalah :

1. Pemikiran Aqidah tingkatan Islam “syari’at, ma’rifat, dan hakikat”; yang mana jika seseorang sudah “naik tingkat” ke hakikat maka dia dianggap bisa terlepas dari berbagai macam aturan syariat yang Allah turunkan.

2. Pemikiran “wihdatul wujud” yang menganggap manusia itu jika sudah mencapai tingkatan tertinggi maka dia bisa “bersatu dengan Allah”.

Atau faham Pantheisme, yang menganggap bahwa seluruh alam semesta ini adalah bagian dari pancaran cahaya Allah yang memiliki dzat ketuhanan dengan kadar yang berbeda-beda. Yang mana kadar “dzat ketuhanan” ini bisa kita tingkatkan hingga ke tingkat yang tertinggi dan menjadi “tuhan”.

3. Pemikiran Pluralisme yang berasal dari filsafat relativisme. Yang menganggap semua agama itu memiliki tujuan kepada tuhan yang sama, namun hanya dengan cara yang berbeda-beda saja.

4. Pemikiran Sekulerisme yang menganggap aturan agama itu hanya boleh diterapkan di sektor private (pribadi) saja, adapun di sektor public (umum) apalagi negara maka aturan agama tidak boleh dijadikan acuan dan harus kembali kepada “hukum dan aturan positif” saja.

5. Pemikiran Liberalisme yang membolehkan seseorang untuk memiliki keyakinan dan amalan yang melanggar batas-batas aturan yang telah Allah tetapkan, dengan tetap menganggap diri sebagai seorang muslim yang bertuhankan Allah.

6. Pemikiran-pemikiran yang “mengatasnamakan Islam” lainnya, yang sejatinya hanyalah merupakan kekufuran dan penentangan terhadap aturan wahyu yang Allah turunkan.
****

Melihat dari penjelasan-penjelasan mengenai kemunafikan itu berikut perbedaan “kadar” yang mungkin ada pada tiap orang.

Maka sikap kita dalam “mengidentifikasi” dan “menghadapi” orang-orang munafiq dan “wabah penyakit nifaq (sikap munafiq)” yang tidak bisa kita sama ratakan itu adalah dengan cara…..

Older Entries