Dalam ayat masyhur perintah puasa ramadhan, Qs. Al Baqarah ayat 183, Allah subhaanahu wa ta’aala menyebutkan bahwa Allah mewajibkan puasa kepada kita, sebagaimana Allah mewajibkannya kepada umat sebelum kita.

(kutiba ‘alaikumus shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qoblikum)

“diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu ”

Ummat sebelum kita yang dimaksud adalah ahlul kitab. Yakni umat yang turun kepada mereka wahyu dari Allah melalui perantara nabi-nabi mereka, baik itu kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Dengan kata lain bani Israil.

Sehingga dapat kita fahami, jejak syariat Puasa ini sebenarnya sudah ada pada ummat sebelumnya, hanya perincian kaifiyat-nya (tata caranya) saja yang berbeda.

Memang jika kita melihat umat yang berpegang kepada kitab Injil pada abad modern ini, kita tidak pernah melihat mereka melaksanakan puasa. Namun jika kita lihat lagi kitab Injil mereka, kita akan mendapatkan “jejak syariat” puasa itu sebenarnya tertulis dalam kitab Injil mereka sendiri.

Lihat contoh Yesus (Nabi Isa) berpuasa selama 40 hari 40 malam di Matius 4 : 1-4.

Lihat juga nasehat dan aturan Yesus (Nabi Isa) dalam masalah puasa di Matius 6 : 16-18.

Adapun untuk umat yang berpegang kepada perjanjian lama saja (Yahudi), yang di dalamnya juga terdapat kitab taurat (pentateukh, 5 kitab awal dalam perjanjian lama), pada zaman modern ini mereka umumnya hanya masih melaksanakan syariat puasa ketika hari Yom Kippur saja. Hari Yom Kippur jatuh pada hari ke 10 pada bulan Tishrei menurut penanggalan Yahudi.

Namun jika kita lihat lagi kitab Perjanjian Lama mereka, kita akan mendapatkan “jejak syariat” puasa itu sebenarnya tertulis dalam kitab Perjanjian Lama mereka sendiri.

Lihat nabi Musa berpuasa 40 hari 40 malam juga seperti Yesus (Nabi Isa) dengan tidak makan dan tidak minum dalam kitab Keluaran 24:18 dan 34:28, dan kitab Ulangan 9:18-25 dan 10:10

****
Dengan diutusnya rasulullah sebagai nabi terakhir dan Al Quran sebagai kitab wahyu terakhir, maka semua syariat Allah yang terdahulu dihapus dan digantikan dengan syariat baru yang berlaku bagi semua umat manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya .

Puasa termasuk salah satu jenis syariat yang disebutkan secara spesifik di dalam Al Quran, bahwa ini adalah syariat yang dulu pernah diwajibkan bagi umat yang terdahulu, yang tetap diteruskan kewajibannya bagi umat Islam, dengan perbedaan perincian kaifiyat-nya (tata cara nya).

Syariat puasa yang diwajibkan untuk umat nabi muhammad adalah pada bulan ramadhan saja, dengan tidak makan tidak minum tidak berhubungan intim sejak dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Selain itu juga harus menjaga diri dari berbagai macam kemaksiatan yang merusak puasa.

Syariat tambahan yang tidak ada pada puasa ahlul kitab terdahulu, adalah adanya syariat sunnah untuk makan sahur sebelum tiba waktu puasa.

Itulah puasa yang hukumnya wajib dan harus dilakukan oleh umat Islam pengikut nabi Muhammad. Selain puasa yang diwajibkan, banyak juga puasa yang hukumnya sunnah (tidak wajib), yang memiliki keutamaan sendiri jika dijalankan.

Puasa sunnah ini seperti :
Puasa Nabi Daud dengan sehari puasa sehari tidak, puasa pada hari senin dan kamis, puasa tiga hari pada pertengahan bulan (tanggal 13,14,dan 15 menurut kalender islam), puasa 6 hari pada bulan syawal, puasa asyura pada tanggal 10 muharram, dan puasa Arofah.

Advertisements