Cara Menghilangkan Keegoisan, Keangkuhan, dan Kesombongan Diri Kita

Leave a comment

Umumnya seseorang itu jika dia memiliki motif yang mulia, tujuan yang mulia, atau niat yang mulia maka dia akan mau untuk “merendahkan diri” dan “mengalah” demi tujuan yang mulia itu.

Berbeda jika seseorang itu tidak memiliki tujuan yang mulia selain dari mementingkan dirinya sendiri dan memikirkan dirinya sendiri, maka dia tidak akan mau untuk merendahkan diri dan memperbaiki sikapnya.

Maka dari itu rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selalu mengajarkan kita kepada “tujuan yang mulia”, agar kita dapat memperbaiki akhlak kita. Agar kita dapat memperbaiki adab kita. Dan agar kita dapat meninggalkan Keegoisan, Keangkuhan, dan kesombongan diri kita itu, karena kita sadar bahwa tujuan kita itu “lebih mulia” dan “lebih utama” dibandingkan sikap sikap kita yang egois dan angkuh itu.

Tujuan mulia yang selalu dijadikan motivasi oleh rasulullah adalah seperti:
1. Keutamaan memiliki akhlak yang mulia dan beratnya timbangan akhlak yang mulia di akherat nanti.
2. Keutamaan dalam menyambung dan memelihara silaturahim di antara keluarga, berikut juga ancaman dan dosa besar jika memutuskan atau mengacuhkannya.
3. Keutamaan menjadi tetangga yang baik dan membina hubungan antar tetangga yang baik.
4. Keutamaan dalam bermuamalah terhadap teman, rekan, dan masyarakat dengan pergaulan dan sikap yang baik.
5. Ancaman bahaya ghibah (gosip membicarakan kekurangan aib orang lain) yang membuat kita rugi di akhirat.
6. Kewajiban agar menjadi suami atau istri yang baik dalam membina dan bergaul dengan keluarga yang telah dibentuknya.

Dan masih banyak lagi tujuan “yang lebih mulia” dibandingkan diri kita….

Semua itulah yang dapat mengikis dan menghilangkan Keegoisan, Keangkuhan, kesombongan, dan segala sikap buruk kita…

Mungkin dalam kenyataannya kita masih belum bisa 100% seperti yang diharapkan itu… Masih ada keegoisan, kesombongan, Keangkuhan, dan keburukan akhlak yang sedikit menempel pada diri kita.

Hal itu tidak mengapa karena kita semua memang selalu “berproses” dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik…

Yang penting kita jangan sampai kehilangan arah dan usaha dalam mencapai “tujuan yang mulia”. Itu yang penting…

Maka dari itu galilah selalu “ilmu” yang melatarbelakangi tujuan yang mulia itu, dan selalu “praktekkanlah” dalam kehidupan nyata sebisa kita walaupun tidak ada orang lain yang menghargainya.

Praktekkanlah selalu walau tidak ada orang yang mengetahui niat dan tujuan mulia kita.

Praktekkanlah walau banyak orang yang mensia-siakan maksud baik kita.

Tujuan yang mulia itu memang harus berlandaskan kepada keikhlasan mengharap ridho Allah semata. Bukan bergantung kepada penerimaan, penghargaan, dan pujian dari orang lain…

Luruskan niat dan milikilah tujuan yang mulia.

Baarokalloohu fiik

Puasa – Tulisan 2

Leave a comment

Dalam ayat masyhur perintah puasa ramadhan, Qs. Al Baqarah ayat 183, Allah subhaanahu wa ta’aala menyebutkan bahwa Allah mewajibkan puasa kepada kita, sebagaimana Allah mewajibkannya kepada umat sebelum kita.

(kutiba ‘alaikumus shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qoblikum)

“diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu ”

Ummat sebelum kita yang dimaksud adalah ahlul kitab. Yakni umat yang turun kepada mereka wahyu dari Allah melalui perantara nabi-nabi mereka, baik itu kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Dengan kata lain bani Israil.

Sehingga dapat kita fahami, jejak syariat Puasa ini sebenarnya sudah ada pada ummat sebelumnya, hanya perincian kaifiyat-nya (tata caranya) saja yang berbeda.

Memang jika kita melihat umat yang berpegang kepada kitab Injil pada abad modern ini, kita tidak pernah melihat mereka melaksanakan puasa. Namun jika kita lihat lagi kitab Injil mereka, kita akan mendapatkan “jejak syariat” puasa itu sebenarnya tertulis dalam kitab Injil mereka sendiri.

Lihat contoh Yesus (Nabi Isa) berpuasa selama 40 hari 40 malam di Matius 4 : 1-4.

Lihat juga nasehat dan aturan Yesus (Nabi Isa) dalam masalah puasa di Matius 6 : 16-18.

Adapun untuk umat yang berpegang kepada perjanjian lama saja (Yahudi), yang di dalamnya juga terdapat kitab taurat (pentateukh, 5 kitab awal dalam perjanjian lama), pada zaman modern ini mereka umumnya hanya masih melaksanakan syariat puasa ketika hari Yom Kippur saja. Hari Yom Kippur jatuh pada hari ke 10 pada bulan Tishrei menurut penanggalan Yahudi.

Namun jika kita lihat lagi kitab Perjanjian Lama mereka, kita akan mendapatkan “jejak syariat” puasa itu sebenarnya tertulis dalam kitab Perjanjian Lama mereka sendiri.

Lihat nabi Musa berpuasa 40 hari 40 malam juga seperti Yesus (Nabi Isa) dengan tidak makan dan tidak minum dalam kitab Keluaran 24:18 dan 34:28, dan kitab Ulangan 9:18-25 dan 10:10

****
Dengan diutusnya rasulullah sebagai nabi terakhir dan Al Quran sebagai kitab wahyu terakhir, maka semua syariat Allah yang terdahulu dihapus dan digantikan dengan syariat baru yang berlaku bagi semua umat manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya .

Puasa termasuk salah satu jenis syariat yang disebutkan secara spesifik di dalam Al Quran, bahwa ini adalah syariat yang dulu pernah diwajibkan bagi umat yang terdahulu, yang tetap diteruskan kewajibannya bagi umat Islam, dengan perbedaan perincian kaifiyat-nya (tata cara nya).

Syariat puasa yang diwajibkan untuk umat nabi muhammad adalah pada bulan ramadhan saja, dengan tidak makan tidak minum tidak berhubungan intim sejak dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Selain itu juga harus menjaga diri dari berbagai macam kemaksiatan yang merusak puasa.

Syariat tambahan yang tidak ada pada puasa ahlul kitab terdahulu, adalah adanya syariat sunnah untuk makan sahur sebelum tiba waktu puasa.

Itulah puasa yang hukumnya wajib dan harus dilakukan oleh umat Islam pengikut nabi Muhammad. Selain puasa yang diwajibkan, banyak juga puasa yang hukumnya sunnah (tidak wajib), yang memiliki keutamaan sendiri jika dijalankan.

Puasa sunnah ini seperti :
Puasa Nabi Daud dengan sehari puasa sehari tidak, puasa pada hari senin dan kamis, puasa tiga hari pada pertengahan bulan (tanggal 13,14,dan 15 menurut kalender islam), puasa 6 hari pada bulan syawal, puasa asyura pada tanggal 10 muharram, dan puasa Arofah.

Puasa – Tulisan 1

Leave a comment

Puasa itu dalam bahasa Arab nya berasal dari kata “Shoum” (bentuk tunggal, mufrod) atau “Shiyam” (bentuk jamak, jamak taksir), yang artinya adalah menahan diri, mencegah, atau menjauhkan diri dari sesuatu.

Di Indonesia dan rumpun melayu sekitar, disebut sebagai “Puasa”. Kalau dengan dialek jawa disebut dengan “Poso”.

Mengapa Shoum atau Shiyam itu kok bisa disebut sebagai puasa atau poso? Bukankah akar kata” Puasa” atau “Poso” dengan “Shoum” atau “Shiyam” itu jauh bedanya?

Berikut penjelasannya.

Puasa itu sebenarnya berasal dari bahasa sansekerta “upa” dan “vasa/wasa” yang digabung menjadi “upavasa/upawasa”, dan kemudian berubah menjadi “puasa”.

Upa sendiri berarti dekat atau mendekatkan diri. Sedangkan vasa/wasa itu artinya adalah Yang Maha Kuasa atau Yang Maha Agung (Almighty).

Sehingga upawasa atau puasa ini makna asalnya adalah suatu cara untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung.

Istilah bahasa sansekerta upawasa atau puasa ini sebenarnya lebih ditujukan kepada ritual agama Hindu untuk mendekatkan diri kepada tuhan tuhan mereka. Hal ini lumrah, karena sebelum datangnya Islam, Indonesia dan negara rumpun melayu sekitarnya dulu itu memang umumnya beragama Hindu – Budha.

Maka dari itu, istilah istilah bahasa sansekerta Hindu kadang masih ada dalam bahasa Indonesia, termasuk juga dalam istilah “puasa” ini.

(catatan : Budha itu adalah pecahan dari Hindu. Sidharta Gautama dulu adalah orang India Hindu dari kasta bangsawan, yang akhirnya mendapatkan “pencerahan” dan menjadi Budha)

Setelah memahami platform asal kata di atas, maka mengapa kok para Dai pada zaman dulu lebih memilih kata “Puasa” sebagai terjemahan dari kata kata “Shoum” atau “Shiyam” dalam bahasa dakwah mereka?

Hal ini karena untuk memudahkan pendekatan pemahaman bahasa, dengan analogi tujuan yang hampir sama dengan asal kata “upawasa” atau “Puasa”. Yakni untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Pendekatan ini sepertinya dilihami dari firman Allah dalam Qs. Al Baqarah ayat 183, yang menjadi ayat pokok landasan perintah untuk ber-shiyam (baca :berpuasa), yang di akhir ayat tersebut disebutkan tujuan akhir dari ber-shiyam (berpuasa) dengan kata kata “La’allakum tattaquun”.

“La’allakum tattaquun” dalam rangkaian Qs. Al Baqarah ayat 183 itu berarti : agar dengan cara ber-shiyam (berpuasa) ini semoga kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertaqwa, yang selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.

“La’allakum tattaquun” inilah yang tampaknya dijadikan padanan dari kata “Puasa” yang berasal dari bahasa sansekerta Hindu itu. Maka dari itu, para Dai Islam di seluruh nusantara tampaknya sepakat untuk menerjemahkan Shoum atau Shiyam dengan “bahasa dakwah” puasa untuk kemudahan pendekatan pemahaman dan kelancaran dakwah Islam.

Setelah pemilihan istilah “Puasa” ini lebih mudah untuk diterima dan difahami, maka barulah para Dai itu menerangkan bahwa puasa dalam agama Islam itu dilakukan dengan cara “menahan diri” dengan tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan intim sejak dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Harus menjaga diri dari berbagai macam kemaksiatan agar puasanya tidak rusak. Dan seterusnya, dan seterusnya…..