Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
“Orang-orang yang muncul setelah tiga masa yang utama terlalu berlebihan dalam kebanyakan perkara yang diingkari oleh tokoh-tokoh generasi Tabi’in dan generasi Tabi’it Tabi’in.

Orang-orang itu tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dipegangi generasi sebelumnya sehingga mencampuradukkan perkara-perkara agama dengan teori-teori Yunani dan menjadikan pernyataan-pernyataan kaum filosof sebagai sumber pijakan untuk me’luruskan’ atsar yang berseberangan dengan filsafat melalui cara penakwilan, meskipun itu tercela.

Mereka tidak berhenti sampai di sini, bahkan mengklaim ilmu yang telah mereka susun adalah ilmu yang paling mulia dan sebaiknya dimengerti”.  [Fathul Bâri (13/253)]

Dari sini dapat kita sampaikan,
bahwa memahami Islam dengan menggunakan metode filsafat itu bukanlah cara yang dicontohkan oleh Rasulullah dan Para Shahabat, Tabi’in (Generasi Pengikut/Murid Shahabat), dan para tabiut tabi’in (Generasi Pengikut/Murid Tabi’in) dalam memahami Islam.

Maka dari itu, tidak heran jika kemarin ada seorang “DOSEN FILSAFAT” yang berbuat kekafiran dengan menginjak buku tafsir Al Quran, yang mana di dalamnya berisi ayat2 Al Qur’an.

Advertisements