Manusia itu menjadi khalifah itu by default. Alias “dari sono nya” manusia itu memang adalah khalifah, mempunyai jabatan sebagai khalifah. Yang mempunyai wewenang untuk mengatur masalah yang terjadi di bumi, dan memberikan putusan putusan.

Baik dia itu sholeh ataupun dia fasik, dia itu adalah khalifah.

Buktinya ketika para malaikat bertanya “kenapa engkau hendak menjadikan (manusia sebagai khalifah di muka bumi ini) orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” maka Allah tidak mengingkari hal itu, namun menjawab dengan perkataan “innii a’lamu maa laa ta’lamuun” (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui).

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Rabb berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Qatadah rahimahulloh berkata menafsirkan itu dengan :

“Allah sudah mengetahui bahwa diantara khalifah itu akan ada para Nabi, Rasul, kaum yang sholih, dan para penghuni surga” (lihat tafsir ibnu Katsir, Qs. Al Baqarah ayat 30)

Ayat ini dipahami bahwa tidak berarti orang orang yang mempunyai kekuasaan yang bukan dari golongan orang soleh, yang fasiq dan dzolim itu tidak disebut sebagai khalifah.

Khalifah itu secara bahasa artinya adalah ” pengganti “. Yakni pengganti yang diberi mandat wewenang untuk mengurus bumi dan berhak memberikan keputusan.

Maka dari itu, secara pemahaman mendasar harus dipahami bahwa :
1. Setiap manusia itu adalah khalifah, dalam artian diberikan wewenang untuk mengatur, mengurus, dan mengelola bumi.

2. Dan ini lebih dikhususkan kepada manusia yang mempunyai kekuasaan ataupun pemerintahan, walaupun ini tidak berarti orang yang tidak duduk di pemerintahan tidak disebut sebagai khalifah. Hanya masalah beda tingkat kewenangan dan kekuasaan saja.

Buktinya ada juga orang yang tidak mempunyai kekuasaan dan pemerintahan, yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Ini juga yang dimaksud oleh para malaikat dengan pertanyaannya “kenapa engkau hendak menjadikan (manusia sebagai khalifah di muka bumi ini) orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?”

3. Sehingga harus diakui bahwa ada khalifah yang sholih dan juga khalifah yang fasiq. Bahkan jika ditarik lebih jauh lagi, ada juga khalifah yang beriman dan ada juga khalifah yang kafir.

Sepanjang mereka disebut manusia, maka by default nya mereka adalah khalifah. Entah itu sholih ataupun fasiq, entah mukmin ataupun kafir, entah mempunyai kekuasaan lewat cara pemilihan yang sesuai syar’i ataupun yang melalui sistem kafir.

Sepanjang mereka mempunyai kekuasaan, wewenang, dan memutuskan perkara serta urusan di muka bumi, maka mereka termasuk dalam khalifah yang dimaksud dalam Qs Al Baqarah ayat 30 itu.

****
Dari tiga point di atas itu, maka Dakwah yang benar itu adalah menasehati tiap manusia secara umum dan para penguasa secara khusus, agar mereka menyadari jati diri mereka sebagai khalifah di muka bumi yang nantinya akan bertanggung jawab di hadapan Allah, akan semua kewenangan, pengurusan, dan keputusan keputusan mereka ketika hidup di muka bumi.

Menasehati juga agar mereka mengikuti aturan syariat Allah; mengikhlaskan tauhid mereka; memurnikan penyembahan dan peribadahan mereka kepada Allah; dan melaksanakan ketaatan tersebut di segala level kekhalifahan yang diberikan di tiap tiap manusia.

Baik itu ditingkat keluarga, jika diberikan kewenangan dan pengurusan sebagai khalifah hanya di level itu saja. Baik itu di tingkat pengelolaan sumber daya alam. Di tingkat RT dan RW. Dan bahkan hingga di tingkat pemerintahan.

Sehingga merupakan kerancuan pemahaman ataupun penyempitan makna, jika dikatakan bahwa sekarang ini tidak ada khalifah. Dan mengatakan bahwa kekhalifahan itu sudah punah sejak tahun 1924 Masehi.

Emang mau dikemanakan Qs Al Baqarah ayat 30 kalau pemahamannya sesempit itu?
****
Yang benar dari urusan yang sering disebut orang sebagai “dakwah khilafah” ini seharusnya adalah:
1. Menasehati seluruh manusia agar menjalankan fungsinya sebagai khalifah dimuka bumi ini, dengan berbagai macam levelnya, agar menjalankan aturan Allah.

Dan nasehat yang paling utama adalah agar Beriman dan bertaqwa kepada Allah.

2. Hal ini juga khususnya agar disampaikan kepada para pemegang kekuasaan, karena merekalah khalifah yang memiliki level yang lebih tinggi, agar mereka beriman dan bertaqwa kepada Allah. Dan agar mereka menjalankan perintah dan aturan yang Allah berikan sesuai dengan jalur kewenangan mereka, semampu mereka.

3. Pengertian dakwah kepada khilafah ala minhajin nubuwwah itu bukan berarti : itu didakwahkan karena khilafah itu sudah dianggap sirna dan tidak ada sekarang ini.

Khilafah dan khalifah itu tetap ada sekarang ini.

Hanya saja memang ada khalifah yang sholih dan ada khalifah yang fasiq. Ada khalifah yang beriman dan ada yang kafir. Ada khalifah yang muslim namun memakai sistem kafir secara parsial dalam pemerintahannya, dan ada juga khalifah yang muslim yang memakai sistem islam dalam pemerintahannya.

Ada khalifah yang terbatas oleh sekat sekat kenegaraan, dan ada juga khalifah yang memiliki regional beberapa negara bagian.

Ada khalifah yang dipilih dan memperoleh kekuasaan dengan cara yang sesuai syariat, dan ada juga khalifah yang terpilih dengan cara sistem kufur ataupun melalui cara kedzoliman.

Dari hal hal yang tidak ideal itulah maka kita berdakwah agar hal itu berubah menjadi sesuai syariat semampu kita.

Dan bukan berdakwah dengan cara mengingkari kemungkaran dengan pemahaman: menganggap semua sumber permasalahan nya adalah karena kholifah dan kekhalifahan itu sirna adanya sekarang ini.

Inilah sebenarnya “dakwah khilafah” yang benar itu.
***
Merupakan suatu penyempitan makna serta kesalahan pemahaman, jika syarat disebut sebagai khalifah itu haruslah :

1. Membatasi istilah “khalifah” yang disebut dalam Qs Al Baqarah ayat 30 itu hanya terbatas di masalah pemerintahan dan politik saja.

2. Harus terpilih dengan sistem yang sesuai syariat. Padahal Ali bin Abi Tholib terpilih menjadi kholifah dengan sistem yang tidak sesuai syariat, namun kekhalifahan nya sah adanya.

Bedakan antara mengingkari proses dan tidak mengakui hasil. Itu adalah dua hal yang berbeda. Ali bin Abi Tholib pun sebenarnya juga mengingkari proses yang dia tempuh.

3. Harus menerapkan sistem syariat secara total dalam pemerintahannya, dan tidak mengadopsi ataupun bercampur dengan sistem pemerintahan yang kufur sama sekali.

4. Kekuasaan nya harus bersifat alamiyyah, untuk semua penjuru muka bumi, dan tidak boleh terpecah pecah serta bersekat sekat dengan wilayah kenegaraan.

Berpijak dari penyempitan makna dan kesalahan pemahaman pada empat point itu, maka ada yang mengambil konsekuensi salah dengan menempuh cara :

1. Dakwah penegakan khilafah itu wajib adanya. Semua negara dan pemangku kekuasaan dianggap batil dan batal kekuasaan nya, karena itu dianggap bukan khilafah.

2. Semua negara, pemangku kekuasaan, dan pendukungnya dianggap kafir dan bukan orang Islam. Termasuk juga rakyatnya dianggap kafir jika mereka tidak mau join dengan dakwah mereka serta berbaiat janji sumpah setia kepada pergerakan pengembalian kekhilafahan mereka.

Namun model pengkafiran ini biasanya hanya ada pada sebagian organisasi gerakan pengembalian kekhilafahan yang extrim saja, tidak pada semua organisasi gerakan pengembalian kekhilafahan.

3. Menempuh cara cara perjuangan perebutan kekuasaan dengan mengatasnamakan jihad, demi pengembalian kekhilafahan.

Ada juga yang berusaha menempuh dengan melalui jalur politik praktis.

Ada juga yang berusaha melalui penggalangan masa, pembentukan kader, dan penyebaran opini secara terbuka ke masyarakat.

Ada yang bersifat organisasi bawah tanah yang tertutup, ada yang hanya terbuka pada level level tertentu saja, dan ada juga yang bersifat terbuka.

Variasi dari sistem perjuangan dan pergerakan ini cukup banyak.
***
Konsekuensi yang salah dan pemahaman “dakwah khilafah” yang menyimpang dari sunnah ini haruslah kita luruskan dan benarkan kesalahannya.

Ingat, bahwasanya syaitan itu tidak hanya menggoda orang orang yang memiliki niat dan tujuan yang jahat saja. Syaitan itu juga senantiasa berusaha menggoda dan menyesatkan orang yang memiliki niat dan tujuan yang baik…

Mereka adalah orang yang memiliki niat dan tujuan yang baik. Akan tetapi sayangnya mereka memiliki pemahaman dan cara yang salah.

Semoga nasehat ini bermanfaat. Baarokalloohu fiik.

Advertisements