Fenomena Mencoba Akrab?

Leave a comment

Nyoba ngobrol ngobrol, bercanda, nanya sana situ, ejek ejekan, ketawa ketawa bersama…..

Eh lama lama jatuhnya ngobrolin orang lain, ghibah sambil ketawa tawa senang bersama sama …

Nggak seru kayaknya kalau nggak kepo.
Nggak seru kayaknya kalau nggak ngomongin orang lain….

Ilang deh pahala yang capek capek dikumpulin, hanya buat ditransferin ke orang yang di-ghibahin….

Ini belum termasuk dihitung dosa nya juga ya… Just as simple as that…

Makanya lebih baik diem dan cari kesibukan sendiri aja, daripada sibuk ngomongin orang lain.

Advertisements

Kapan Awal Mula Orang Islam Menggunakan Filsafat Untuk Memahami Islam?

Leave a comment

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
“Orang-orang yang muncul setelah tiga masa yang utama terlalu berlebihan dalam kebanyakan perkara yang diingkari oleh tokoh-tokoh generasi Tabi’in dan generasi Tabi’it Tabi’in.

Orang-orang itu tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dipegangi generasi sebelumnya sehingga mencampuradukkan perkara-perkara agama dengan teori-teori Yunani dan menjadikan pernyataan-pernyataan kaum filosof sebagai sumber pijakan untuk me’luruskan’ atsar yang berseberangan dengan filsafat melalui cara penakwilan, meskipun itu tercela.

Mereka tidak berhenti sampai di sini, bahkan mengklaim ilmu yang telah mereka susun adalah ilmu yang paling mulia dan sebaiknya dimengerti”.  [Fathul Bâri (13/253)]

Dari sini dapat kita sampaikan,
bahwa memahami Islam dengan menggunakan metode filsafat itu bukanlah cara yang dicontohkan oleh Rasulullah dan Para Shahabat, Tabi’in (Generasi Pengikut/Murid Shahabat), dan para tabiut tabi’in (Generasi Pengikut/Murid Tabi’in) dalam memahami Islam.

Maka dari itu, tidak heran jika kemarin ada seorang “DOSEN FILSAFAT” yang berbuat kekafiran dengan menginjak buku tafsir Al Quran, yang mana di dalamnya berisi ayat2 Al Qur’an.

Fitnah Gambar

Leave a comment

Featured image

Inilah salah satu bentuk fitnah gambar.

Oleh karena itulah Islam cukup keras “warning” nya mengenai masalah gambar dan patung.

Cukup salut terhadap putusan tarjih salah satu organisasi Islam, yang melarang organisasi nya untuk memasang dan memajang foto pendiri nya.

Sifat Dasar Manusia (Fitroh)

Leave a comment

Sifat dasar manusia itu adalah ingin mengetahui dan mengenal siapakah Pencipta-Nya.

Sama seperti “anak tanpa identitas” yang ingin mengetahui siapakah sebenarnya ayah ibunya. Dia mencari tau tanpa ada yang menyuruh ataupun memaksanya.

Maka dari itulah Allah memperkenalkan dan menjelaskan mengenai diri Nya melalui wahyu yang diturunkan dengan rahmat kasih sayangnya, untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sangat mendasar ini.

Dan Allah mengenalkan serta menjelaskan dengan menunjukkan berbagai macam kebesaran penciptaan Nya yang terlihat di alam semesta ini. Mengenalkan dan menjelaskan dengan memberitahu Nama-Nama Nya yang Indah dan Agung, berserta sifat-sifatNya yang tinggi, suci, dan mulia; yang hanya pantas untuk disandang olehNya semata.

Inilah pintu tauhid yang pertama….
Tauhid llmu, pengenalan, dan penetapan….
Tauhid rububiyyah dan Tauhid Asma’ wa Shifat….

Sifat dasar manusia yang lain adalah keinginan untuk beribadah dan menyembah. Kenapa? Karena ruh dari ibadah itu adalah cinta, pengharapan, dan rasa takut.

Segala sesuatu yang dicintai, diharapkan, dan ditakuti itu mempunyai potensi untuk diibadahi dan disembah, sesuai dengan kadar penghambaan yang dimiliki oleh seseorang, dengan tanpa perlu ada yang menyuruh ataupun memaksanya.

Seseorang, misalnya, dia sangat mencintai hartanya. Berharap banyak dengan hartanya. Dan mengalami ketakutan yang amat sangat jika kehilangan hartanya.

Maka dia akan melakukan penghambaan dan peribadahan terhadap hartanya itu baik dengan bersikap sangat kikir, melakukan korupsi, ataupun melakukan berbagai macam kejahatan serta penipuan agar bisa mendapatkan harta sebanyak2nya.

Hal ini dia lakukan tanpa perlu ada yang menyuruh ataupun memaksanya.

Seseorang yang lain, misalnya, dia sangat memuja idolanya. Sehingga dia senang, sedih, bahagia, dan sengsara mengikuti apa yang terjadi terhadap idolanya. Bahkan dia rela datang jauh2 dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, demi agar bisa bertemu idolanya. Dan ini semua dilakukan tanpa perlu ada yang menyuruh ataupun memaksanya.

Maka dari itulah Allah memperkenalkan dan menjelaskan mengenai diri Nya, agar jelas bagi manusia bahwa hanya diri Nya lah yang patut diberikan kecintaan, pengharapan, dan rasa takut yang melahirkan penghambaan, penyembahan, dan peribadahan.

Adapun selain Allah, tidak patut untuk diberikan kecintaan, pengharapan, dan rasa takut yang melahirkan penghambaan, penyembahan, dan peribadahan.

Selain Allah hanya boleh diberikan kecintaan, pengharapan, dan rasa takut yang sewajarnya saja. Yang tidak melahirkan rasa penghambaan, penyembahan, dan peribadahan.

Kepada selain Allah, kita hanya memberikan sikap mencintai, berharap, dan rasa takut dengan cara menggantungkan dan memberikan rasa cinta, harap, dan takut kita yang tertinggi hanya kepada Allah saja.

Sehingga jika misal apa yang kita cintai itu hilang dan diambil kembali oleh Allah, kita tidak menjadi hancur dan rapuh karena kita masih memiliki Allah yang kita cintai.

Inilah pintu tauhid yang kedua…..
Tauhid kehendak, tujuan, dan konsekuensi….
Tauhid ubudiyyah atau Tauhid uluhiyyah….
———-
Dua pintu tauhid ini adalah satu kesatuan yang saling berkorelasi. Kita harus membukanya bersama-sama agar bisa masuk ke dalam Tauhid yang haq.

Kita tidak bisa hanya membuka satu pintu saja dan mengabaikan yang lain.

Kaca dan Spons

Leave a comment

“Jadilah seperti kaca, dan janganlah menjadi seperti spons”

(Perkataan ini dinisbatkan kepada ibnu Taimiyyah atau Ibnul Qoyyim, saya agak lupa pastinya)

Kaca itu bisa memantulkan apa adanya yang tercermin di depannya, dengan tanpa “menyerap” atau “terpengaruh” akan apa yang ada di depannya. Sehingga kita bisa objektif dalam melihat sesuatu secara utuh.

Kita bisa memilah dan memilih, mana yang baik dan mana yang buruk.

Kita bisa tau juga mana yang sudah baik dan mana yang perlu untuk diperbaiki.

Adapun spons itu akan menyerap segala cairan yang ada di sekitarnya, mudah terpengaruh tanpa bisa memilih ataupun memilah.

Dan jika diperas pun, maka masih tetap akan ada sisanya yang terdapat di spons itu.

Bagi Orang Yang Memahami Kekhilafahan dan Kekuasaan Dengan Pemahaman Yang Salah

Leave a comment

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Qs An Nuur : 55)

Bagi orang-orang yang memiliki pemahaman yang salah mengenai kekuasaan dan kekhilafahan, maka “berat” bagi mereka untuk menerima ayat itu “apa adanya”, tanpa adanya tambahan keharusan membentuk “organisasi pergerakan yang sistematis”, untuk merebut kekuasaan dan mendirikan kekhilafahan atas nama jihad.

Demikianlah tafsir dan pemahaman mereka terhadap ayat QS. An Nuur ayat 55 tersebut, yang mana ini berangkat dari pemahaman definisi khalifah yang tidak tepat, dan cara bermuamalah terhadap penguasa yang salah.

Sesungguhnya agama ini adalah nasehat dan amar ma’ruf nahi munkar, bukan ambisi perebutan kekuasaan untuk mendirikan kekhilafahan atas nama jihad semata.

Agama ini adalah nasehat dan perbaikan keadaan, baik itu untuk ummat muslim secara keseluruhan, dan penguasa pada khususnya.

Dan ajakan nasehat serta perbaikan yang paling utama adalah dakwah ilmu dan pembinaan yang menyeru perbaikan iman kepada Allah, bertaqwa kepada Nya dengan sebenar benar taqwa, dan seruan untuk melakukan amal sholeh.

Dakwah ilmu dan nasehat untuk menegakkan dan menerapkan aturan syariat Allah, dan juga untuk membantah berbagai macam syubhat yang menghalanginya.

Inilah nasehat, dakwah ilmu, dan perbaikan yang paling utama sebagaimana yang dikehendaki QS An Nuur ayat 55 tersebut. Inilah juga yang akan menjadikan suatu negeri menjadi sejahtera dan barokah. Mari kita lihat QS. Al A’raaf ayat 96 yang berkorelasi juga dengan QS An Nuur ayat 55 tersebut.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Qs. Al A’raaf : 96)

Oleh karena itu seruan dakwah ilmu kepada iman, taqwa, dan amal sholeh inilah yang akan memperbaiki suatu kekuasaan dan negara.

Misal iman itu adalah seperti tanah, sedangkan amal sholeh dan penerapan aturan syariat Allah itu adalah seperti benih tumbuhan, yang ditanam untuk diharapkan panennya. Maka tanah itu haruslah diolah, dipupuk dan dibina agar bisa untuk ditanami.

Sedangkan bibit tumbuhannya juga harus diairi, dihilangkan tumbuhan ilalang pengganggunya, dipupuk, dan senantiasa dirawat.

Adapun hal2 yang merusak tanah dan hama yang menghancurkan tanaman, inilah syubhat2 yang menghancurkan keimanan dan ketaqwaan yang harus dilawan. Baik itu berupa Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme, Komunisme, kesyirikan, dan Atheisme.

Hama hama perusak inilah yang menghalangi masyarakat untuk beriman kepada Allah secara kaffah (totalitas menyeluruh) dan bertaqwa kepadanya dengan menerapkan aturan syariat Allah di suatu negara. Syubhat2 mereka haruslah dilawan dan dibantah dengan dakwah ilmu dan keimanan.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ
تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۭ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Qs. Ibrahim : 24-25)

Alkisah, inilah perbedaan point of view pemahaman yang memahami janji Allah dalam Qs. An Nuur ayat 55 itu “apa adanya”, dengan orang yang tidak puas memahami Qs. AN nuur ayat 55 itu “apa adanya”.

Kita memahami bahwa beriman dan beramal sholeh yang dimaksud dalam Qs. An Nuur ayat 55 itu maksudnya bukan sesuatu yang ajaib tiba2, yang mana kemudian Allah akan langsung memberikan kekuasaan dengan seketika setelah itu.

Akan tetapi itu haruslah disertai pembinaan dan nasehat baik kepada masyarakat Islam secara umum dan pemerintah secara khusus, dan juga disertai penjagaan dan bantahan terhadap hama2 perusak seperti Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme, Komunisme, kesyirikan, dan Atheisme. (Baca : Tashfiyyah dan Tarbiyyah).

Hal itu terus dilakukan terus menerus kepada masyarakat secara umum dan pemerintah secara khusus, hingga tampaklah buah akan penerimaan penerapan aturan aturan syariat Allah secara bertahap di tiap tiap lini kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dan inilah yang akan menyebabkan suatu negara itu makmur, sejahtera, dan barokah.

Inilah sebagaimana yang diterangkan juga dalam QS. Al A’raaf ayat 96 dan Qs. Ibrahim ayat 24-25 sebagaimana yang telah kita jelaskan sebelumnya.

Maka dari itu, janganlah Qs. An Nuur ayat 55 itu dipahami dengan pemahaman yang sempit. Baik itu pemahaman perebutan kekuasaan, pengkafiran pemerintah dan masyarakat secara serampangan, dan perjuangan dengan mengatasnamakan jihad melawan kaum muslimin itu sendiri.

Semoga nasehat ini berguna bagi kita semua. Baarokalloohu fiik

NU Protestan

Leave a comment

Featured image

Betapa merusaknya virus Pluralisme dan Liberalisme ke dalam aqidah umat Islam dengan mengatasnamakan toleransi, rahmatan lil ‘alamin, dan perdamaian.

Bahkan hingga sebagian oknum berani mengatasnamakan ke salah satu organisasi islam.

Gerakan yang mengatasnamakan sebagai “NU Protestan” ini bergerak di media sosial, dan menyebarkan virus ini dengan mencatut tokoh oknum yang diklaim sebagai orang yang berafiliasi ke organisasi NU.

Bagi rekan rekan yang ingin mengetahui lebih lanjut point point syubhat Pluralisme yang menjadi landasan pluralisme mereka, berikut juga bantahan dan letak duduk masalahnya. Silahkan untuk melihat tulisan berikut ini.

Lihat : https://kautsaramru.wordpress.com/…/risalah-tauhid-bagian-4/

Untuk lebih memperkaya wacana, lihat juga tulisan berikut ini.

Lihat : https://kautsaramru.wordpress.com/…/risalah-tauhid-bagian-3/

Semoga bermanfaat. Baarokalloohu fiik.

Older Entries