Hari jum’at ini, kebetulan khotib khutbah jum’at di masjid basement 2 menara Sudirman adalah Ustadz Abdurrahman Ayyub hafidzahulloh.

Karena beliau mantan anggota organisasi jihadist “Jamaah Islamiyah (JI)” yang Allah berikan hidayah kembali ke manhaj Sunnah, maka beliau “sangat fasih” memberikan nesehat untuk berhati-hati terhadap jama’ah-jama’ah jihadist Takfiri (yang suka mengkafir-kafirkan), terutama terhadap ISIS.

Beliau juga fasih menyampaikan nama-nama para tokoh jihadis Takfiri ataupun pemikirnya.

Yah, wajar saja sih sebenarnya…. karena beliau memang adalah Pelaku sejarah langsung, dan juga orang yang berinteraksi langsung di lapangan dengan para Jihadist Takfiri.

Setelah selesai sholat jum’at, ta’mir masjid meminta beliau untuk berkenan diadakan forum tanya jawab sebentar, barang 10 menit mungkin?…. Dan beliau pun menyambut ajakan itu Alhamdulillah.

Saya pun tidak mensia-siakan kesempatan ini, maka saya pun juga mengajukan pertanyaan kepada beliau.

Berikut saya tuliskan isi tanya jawab tersebut, sesuai dengan yang saya ingat, karena ini saya tanyakan secara langsung (live) di hadapan beliau, dan juga penyesuaian, penambahan, serta penyaduran dari gaya bahasa lisan ke gaya bahasa tulisan seperlunya.

Semoga kita semua bisa mengambil ilmu dan hikmahnya.

******
Saya Bertanya :
“Ustadz… ustadz tentu mempunyai banyak pengalaman dengan manhaj Takfiri, karena dulu pernah menjadi bagian dari mereka.

Jika boleh, bolehkah ustadz menceritakan kisah bagaimana ustadz mendapatkan hidayah dan kembali ke manhaj Sunnah ?

Saya ini aslinya orang Solo, dan saya kebetulan punya juga teman-teman yang mempunyai manhaj Takfiri seperti itu. Bahkan ada juga teman saya yang sudah dipenjara.

Mungkin dengan kisah ustadz itu, saya bisa mengambil ibroh dan membuka pintu hati mereka…..”

*******
Beliaupun tersenyum mendengar pertanyaanku….

Namun disisi lain, saya mendapat kesan bahwa beliau tampak tidak terlalu heran mendengar penuturanku bahwa ada temanku yang dipenjara.

Yah mungkin kalau di kalangan Jihadist takfiri, masalah ditangkap dan dipenjara itu sudah bukan hal yang aneh kali ya…. Maka dari itu mungkin beliau tidak terkesan dengan hal itu…

Beliaupun menjawab dan berkisah,
*******
“Saya ini dulu mendapatkan kajian Sunnah itu bukan di Indonesia atau di tempat yang lain sebenarnya. Saya justru malah mendapatkannya di Australia.

Kalau di Indonesia itu kadang jika ada satu Syaikh dari Ahlus Sunnah Saudi datang, kita sudah heboh dan berduyun-duyun datang memenuhi kajiannya. Kalau di Australia itu, sudah biasa para Masyaikh atau murid-muridnya datang rutin ke Australia memberikan kajian dan berdakwah disana.

Syaikh Abdullah Al-Bassam, murid dari Syaikh ibn Baz, biasa datang untuk memberikan kajian dan berdakwah disana. Demikian juga murid-murid Masyaikh lainnya.

Jadi ceritanya setelah 5 tahun saya jihad di Afghon (Afghanistan), dan juga beberapa tahun di beberapa tempat jihad yang lainnya, Saya waktu itu melanggar “PUJI” dengan ingin bikin jihad di tempat-tempat yang bukan daerah perang.

PUJI itu adalah Pedoman Umum Jamaah Islamiyyah.

Karena inilah kemudian saya disingkirkan. Yah maksudnya di-mutasi lah…. Maka saya di-mutasi ke Australia.

Di Australia itu saya melihat dakwahnya para masyaikh disana, maka saya heran dengan cara dakwah ini.

Jadi mereka berdakwah disitu dengan harta seperti misal beli tanah atau bangunan untuk Pusat Kajian Islam, dan memberikan kajian ilmu disana. Jadi mereka memang punya uang dan Ilmu untuk sarana dakwah mereka disana.

Namun kajiannya yang diberikan benar-benar bermodalkan ilmu Sunnah, dan mendakwahkan Ahlus Sunnah. Maka sayapun tertarik dan mencoba mengikutinya.

Saya pun diskusi dan debat sana-sini (mengenai manhaj Jihadis Takfiri). Lewat media internet juga seperti PalTalk, MIRC, dll. Saya dan adik sayapun sampai berani untuk membuat ajakan untuk bermubahalah sekalian sama Syaikh Ibn Baz rohimahulloh (Mufti Saudi waktu itu).

Bayangin, saya berani lho sampai ngajak mubahalah sama Syaikh Ibn Baz….. Untung nggak jadi, kalau sampai jadi bisa jadi batu saya…. (semua hadirin yang ada di majlis tanya jawab itu pun tertawa). Saya dinasehatin, wahai anak muda jangan terburu nafsu, Syaikh ibn Baz itu syaikh “sepuh” yang ilmunya sangat tinggi…..

Ohya, mubahalah itu adalah sumpah saling laknat dengan berdoa atas nama Allah di antara kedua belah fihak yang sedang berselisih atau bersiteru. Yakni saling laknat bahwa orang yang berbohong atau berada di atas kebatilan di dalam masalah yang mereka perselisihkan ini, maka dialah yang akan mendapatkan laknat Allah.

Ya sudah setelah debat-debat-debat, maka saya pun kalah tentu saja….

Ada hadits yang saya tidak bisa menjawabnya, yakni hadits riwayat Muslim yang berbunyi

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟، قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah kalian orang-orang yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia”.

Aku (Hudzaifah) bertanya : “Apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatkannya?”. Beliau menjawab : “(Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu, tetaplah mendengar dan taat” [Shahih Muslim no. 1847 (52)]

Selain itu ada juga hadits kedua riwayat Ahmad yang berbunyi,
لَيَنْقُضَنَّ عُرَى اْلاِسْلاَمِ عُرْوَةً وَكُلَّمَا اِنْقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّتَ النَّاسُ بِالَّتِىْ تَلِيْهَا وَاَوَّلُهُنَّ نَقْضَ الْحُكْمُ وَآخِرُهَا الصَّلاَةُ.

“Ikatan-ikatan Islam akan terlepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan akan dikuti oleh ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah hukum dan yang terakhir adalah solat”.
(Hadis Riwayat Ahmad. 5/251. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid)

Jadi masalah pemimpin tidak berhukum dengan hukum Islam itu memang sudah diprediksi oleh Rasulullah, dan bahkan itulah yang pertama kali terjadi. Maka dari itu kalau hanya karena itu, tidak bisa langsung dikafirkan selama dhohirnya pemimpin itu masih sholat.

Dan dikafirkan jika kufur bawwah (kufur yang nyata), yakni yang indikasinya paling kuat adalah terputus ikatan terakhir yakni sholat. Bukan yang ikatan pertama, yakni hukum.

Maka rasulullah pun bersabda,
” خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ، فَقَالَ: لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ ”

“Sebaik-baik pemimpin kamu adalah pemimpin yang kamu cintai dan ia pun mencintaimu. Kamu mendoakannya, dan ia pun mendoakanmu. Adapun seburuk-buruk pemimpin kamu adalah pemimpin yang kamu benci dan ia pun membencimu. Kamu melaknatnya dan ia pun melaknatmu”.
Kami (para shahabat) bertanya : ”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh melawan mereka dengan pedang (memberontak) atas hal itu ?”.

Beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam pun menjawab : ”Jangan, selama ia masih menegakkan shalat bersamamu” (dua kali).

Ketahuilah, barangsiapa yang dipimpin oleh seorang pemimpin, kemudian ia melihat pemimpin tersebut melakukan kemaksiatan kepada Allah, maka bencilah kemaksiatan tersebut, dan jangan melepaskan tangan dari ketaatan kepadanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1855].

Rasulullah juga bersabda,
قَالَ: دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ ”

Ia (‘Ubaadah) berkata : “Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyeru kami, dan kami pun berbaiat kepada beliau. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hal yang beliau ambil perjanjian dari kami yaitu kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan kami agar kami berbaiat untuk senantiasa mendengar dan taat baik dalam keadaan senang ataupun benci, dalam keadaan kami sulit dan dalam keadaan mudah, ketika kesewenang-wenangan menimpa kami; dan juga agar kami tidak mencabut perkara (kekuasaan) dari ahlinya (yaitu penguasa).

Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kecuali bila kalian melihat kekufuran yang jelas/nyata berdasarkan keterangan dari Allah”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7056].

(Beliau Ustadz Abdurrahman Ayub pun berhenti sebentar, lalu beliau melanjutkan perkataannya).

“Li kulli ra’sin, ro’yun”, di tiap-tiap kepala itu ada pendapat.

Nah jika memang ini hanya pendapat-pendapat saja, maka saya bisa saja membantahnya. Tinggal kalau debat gini, maka bahtah saja dengan debat gini-gini-gini terus…. Tinggal kuat-kuatan saja siapa yang duluan stress….. (Maka semua hadirin majlis Tanya jawab itu pun tertawa)

Namun ini bukan pendapat atau perkataan orang, ini adalah perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam! Maka tentu saja saya nggak bisa apa-apa….

Kalau ada perkataan Rasulullaah maka saya ya sami’naa wa atho’naa saja. Dan memang inilah sikap saya sejak zaman dulu….

Jadi untuk pertanyaan tadi, maka sampaikan saja dua buah hadits dari rasulullah tadi. Yakni hadits riwayat Muslim dan hadits riwayat Ahmad.

Walloohu a’lam
———-
Selesai ditulis, Jum’at 20 Maret 2015.

Advertisements