MENDUDUKKAN AKAL PEMIKIRAN

Pemikiran dan akal itu adalah suatu potensi yang Allah berikan kepada manusia. Yang bisa digunakan untuk hal yang benar dan bisa juga disalah gunakan untuk hal yang bathil. Semua orang mengakui akan hal ini.

Penipuan atau manipulasi adalah salah satu contoh penggunaan akal yang disalah gunakan. Bahkan ada juga istilah “Pelacur intelektual” yang ditujukan kepada orang-orang yang menggunakan intelektualitasnya untuk tujuan yang bathil.

Maka dari ini, pemikiran atau akal itu tidak bisa lepas dari pengaruh al-hawa (keinginan atau kecenderungan seseorang). Karena keberadaan al-hawa yang bisa mendominasi akal dan pemikiran ini, maka tidak heran jika aturan syariat Islam selain mengakui keberadaan akal, juga memberikan arahan dan aturan mengenainya.

Jika semua pemikiran itu dibiarkan bebas sebebas-bebasnya (baca : liberal) dan semua pemikiran akal itu dianggap benar (baca : faham relativisme), maka seharusnya penipuan, manipulasi, dan pelacuran intelektual itu harus dibenarkan juga. Namun faktanya tidak. Dan hal ini diakui baik oleh orang yang beriman terhadap syariat Islam ataupun tidak.

Sebaliknya juga, jika akal dan pemikiran itu dikekang sekekang-kekangnya dan tidak diberikan ruang untuk bergerak, maka hal ini juga berarti mengkufuri anugerah yang Allah berikan kepada manusia untuk kepentingan hidupnya.

Bahkan salah satu tujuan dari syariat itu (baca : maqooshidusy syariah) adalah untuk menjaga akal (Hifdzul ‘Aql). Hal ini belum lagi ditambah banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan, bahwa Allah memerintahkan dan mengajak manusia untuk mau berfikir dan mengfungsikan akalnya.

Sehingga dari hal ini, kita bisa melihat bahwa Islam itu berfungsi sebagai suatu standart pengatur dalam penggunaan potensi akal dan pemikiran. Yakni standart pengatur untuk :

  1. Sebagai “partner” sekaligus “supervisor” agar akal pemikiran diletakkan sesuai pada tempatnya
  2. Sebagai “check and balance” untuk meredam, ketika al-hawa mulai bergejolak mempengaruhi akal pikiran
  3. Sebagai “whistle blower” ketika akal pikiran sudah mulai disalah gunakan.

Bisakah tangan kita difungsikan untuk mencuri ? Bisa. Namun itu salah dan bukan pada tempatnya. Bisakah kemaluan kita difungsikan untuk berzina? Bisa. Namun itu salah dan bukan pada tempatnya. Demikian juga akal pemikiran itu.

Lihat pula penjelasan kami yang sedikit lebih luas dalam tulisan kami :

https://kautsaramru.wordpress.com/2013/03/04/mendudukan-fungsi-dan-letak-akal-berdasarkan-timbangan-syariat-dan-pandangan-ulama-salaf-bag-1/

https://kautsaramru.wordpress.com/2013/03/04/mendudukan-fungsi-dan-letak-akal-berdasarkan-timbangan-syariat-dan-pandangan-ulama-salaf-bag-2/

HASIL PEMIKIRAN : HIPOTESA, TEORI, KONSEP, FILSAFAT, DAN LAIN-LAIN

Masalah dominasi al-hawa dalam akal pikiran muncul ketika manusia mulai menganggap bahwa syariat Islam itu adalah sebagai “pengekang” akal pikiran, dan bukan sebagai “standart pengatur”.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu (al-hawa) mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. [QS. Al-Mu’minuun : 71]

Atau sebaliknya….

Al hawa menganggap bahwa pendapat dan perkataan ulama yang lemah (marjuh) dan berlawanan dengan syariat Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah) harus diikuti dengan taqlid berlebihan, tanpa dibolehkan untuk dikritisi sesuai dengan standart ilmiah yang shohih. Sehingga ini justru mengekang akal pikiran. Padahal syariat Islam sendiri melarang akan hal itu.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [QS. At-Taubah : 30]

Dua kutub extrim yang saling berlawanan ini pada hakikatnya adalah al-hawa yang mendominasi akal pikiran mereka.

—————–

Dasar pokok dalam memahami agama Islam sehubungan dengan adanya akal pikiran adalah :

“Islam itu adalah agama, aqidah, dan aturan syariat yang berasal dari wahyu yang Allah turunkan kepada Rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam melalui perantaraan malaikat Jibril. Islam bukanlah berdasarkan hasil pemikiran Rasulullaah, ataupun berdasarkan pemikiran dan filsafat orang/peradaban kebudayaan pada masa sebelumnya yang diadopsi dan mempengaruhi Rasulullah.

Yang mana wahyu ini memerintahkan akal untuk memahaminya, tanpa ada keharusan menjadikan akal manusia yang mudah dipengaruhi al-hawa sebagai standart untuk menerima, menolak, merevisi, menghakimi, ataupun mendikte wahyu yang Allah turunkan.

Hubungan antara agama dan akal adalah seperti sinar matahari, cahaya, dan mata. Mata membutuhkan cahaya yang berasal dari sinar matahari untuk melihat, namun mata tidak bisa menentang matahari.”

——————

a. Taqlid Ghuluw

Untuk kutub extrim taqlid ghuluw yang mengekang akal pikiran hingga menentang nash, maka pembahasan ini adalah kepada pendetailan mengenai taqlid yang tercela dan taqlid yang terpuji.

Taqlid sendiri mempunyai definisi :

الأْخْذُ فِيهِ بِقَوْل الْغَيْرِ مَعَ عَدَمِ مَعْرِفَةِ دَلِيلِهِ

“Mengambil pendapat dari orang lain tanpa mengetahui dalilnya.” [Al-Mustashfa ma’a Muslim Ats-Tsubut, jilid 2 hal. 387]

الْعَمَل بِقَوْل الْغَيْرِ مِنْ غَيْرِ حُجَّةٍ

Mengerjakan pendapat orang lain tanpa hujjah. [Ibnu Qudamah, Raudhatun Nadhir, jilid 2 hal .450]

Dikatakan tercela jika dia mengetahui adanya dalil, hujjah, ataupun pentarjihan yang lebih kuat; namun dia tetap bersikeras bertaqlid mengikuti perkataan manusia karena kecenderungan al-hawa nya.

Dikatakan terpuji atau boleh, jika dia dituntut untuk melaksanakan aturan agama yang merupakan kewajibannya (seperti misal : sholat, perkara-perkara Aqidah, dll), namun dia masih belum mempunyai kemampuan untuk mempelajarinya secara terperinci untuk mengetahui berbagai macam dalilnya. Dalam hal ini boleh untuk taqlid.

Atau boleh juga taqlid dalam hal-hal yang termasuk dalam perkara ijtihad fiqhiyyah, yang memang terdapat hal yang memungkinkan untuk berbeda pendapat karena tidak ada dalil yang tegas dalam hal itu. Bukan taqlid dalam suatu hal yang diada-adakan agar sekedar “beda” saja, dan juga bukan dalam perkara aqidah ataupun ushul.

Yang mana orang yang bertaqlid belum memiliki pemahaman yang cukup di dalamnya, sehingga dia terpaksa bertaqlid. Dengan syarat, dia tidak boleh fanatik terhadap pendapat yang dia ikuti dalam kapasitasnya sebagai muqallid, dan terbuka dalam mempelajarinya jika ada dalil atau hujjah yang datang yang tidak dia ketahui.

Pembahasan taqlid ghuluw yang mengekang akal pikiran hingga menentang nash ini sebenarnya mudah dan tidak memberatkan. Namun ini menjadi berat dan susah karena pengaruh faktor kecenderungan al-hawa. Baik itu karena besarnya pengaruh figur tokoh selain rasulullah yang ditaqlidi, pengaruh adat istiadat dan kebudayaan, pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar, dan yang semisal.

Akibatnya : kemaksiatan, kebid’ahan, dan kesyirikan bisa menjadi seakan “dilegalkan” dan bahkan diperjuangkan mati-matian karena adanya taqlid ghuluw ini.

b. Radikal (tanpa aturan) Ghuluw

Namun tulisan kita ini akan lebih kita fokuskan kepada sisi extrim yang sebaliknya. Yakni pada sisi ekstrim yang menganggap syariat Islam itu adalah “pengekang” akal pikiran, dan bukan sebagai “standart pengatur”.

Seiring dengan berkembangnya faham demokratisasi, sekulerisasi, pluralisme, dan atheisme global pada abad modern ini; paradigma pemikiran kufur inilah yang tampak lebih menonjol dan banyak dipropagandakan secara massive.

Ada beberapa hasil pemikiran manusia yang akan kita kritisi, yang mana hasil pemikiran ini ternyata menggerogoti Aqidah Islam sedikit demi sedikit. Baik itu berupa hipotesa, teori, konsep, filsafat, dan lain-lain. Berikut adalah beberapa hasil pemikiran itu :

1. Teori Evolusi Charles Darwin

2. Filsafat relativisme dan Filsafat pluralisme

3. Ideologi Sekulerisme

4. Konsep Demokrasi

5. Pandangan hidup Hedonisme

6. Pantheisme

7. Atheisme

8. Komunisme

9. Feminisme

10. Gay, Lesbian, dan Transgender

11. Liberalisme

Pemikiran-pemikiran itu sebenarnya berasal dari pemikiran orang kafir. Pemikiran mengenai bagaimana mereka melihat kehidupan ini. Baik dalam kehidupan pribadi ataupun dalam kehidupan bernegara, dengan tidak mengenal atau tanpa bimbingan wahyu.

Akibatnya, karena tidak mengenal atau tanpa bimbingan wahyu, maka kedudukan wahyu pun dikesampingkan dan diganti dengan akal pikiran yang sesuai dengan al-hawa.

Sehingga jika terdapat wahyu sesuai dengan hasil pemikiran mereka, maka mereka mendukungnya. Sedangkan jika tidak maka mereka pun akan menolaknya. Atau jika tidak, maka mereka akan memanipulasi wahyu tersebut agar sesuai dengan keinginan mereka (al-hawa). Intinya adalah al-hawa lah sebagai hakim dalam menerima ataupun menolak suatu wahyu, walaupun dibungkus dengan tools akal pikiran yang disalah gunakan.

Ironisnya ,dengan didukung berbagai macam bentuk penjajahan di dunia Islam, penyebaran buku-buku pemikiran, campur tangan politik kekuasaan, merajalelanya LSM-LSM dan organisasi nirlaba yang mendukung pemikiran itu, termasuk juga propaganda dari berbagai macam media komunikasi; banyak juga di antara kaum muslimin yang kemudian secara “tidak sadar” mengadopsi pemikiran-pemikiran itu.

Kaum muslimin pun mengaplikasikan hasil pemikiran itu ke dalam kehidupan mereka dengan kadar yang berbeda-beda. Mereka tidak sadar bahwa itu akan berdampak kepada penggerogotan Aqidah sedikit demi sedikit, dan perendahan kedudukan wahyu.

Adapun jika terdapat “unsur halal” dalam hasil pemikiran itu yang tidak bertentangan dengan wahyu, maka pencampuran antara haq dan bathil dalam hasil pemikiran itu, tidaklah menyebabkannya otomatis menjadi halal untuk “dikonsumsi” tanpa resep dokter.

Pemisahan antara haq dan bathil dalam hasil pemikiran itu juga sukar untuk dipisahkan, karena ini adalah satu paket yang tak terpisahkan. Namun jika syaithan berkata haq, maka haruslah kita katakan haq. Walau bukan berarti kita harus menjadikan Syaithon sebagai teman baik dan tidak dimusuhi.

Seperti misal : jika ada dalam hasil pemikiran itu bertujuan untuk “menentang kedzaliman”, maka kita katakan penentangan kedzalimannya itu haq. Namun bukan berarti “penentangan terhadap wahyu”nya pun juga menjadi haq.

Berikut akan kami sebutkan point-point pokok yang terdapat dalam hasil pemikiran itu, yang bertentangan dengan wahyu.

1. Teori Evolusi Charles Darwin

Teori ini sebenarnya adalah hipotesa, spekulasi, dan khayalan dari Charles Darwin mengenai asal-usul kehidupan. Dalam bukunya “On The Origin of Species”, Darwin mengajukan suatu hipotesa akan teori evolusi makhluk, dengan berargumentasi bahwa terjadinya berbagai macam makhluk itu disebabkan oleh adanya seleksi alam (Natural Selection) hingga menyebabkan suatu makhluk itu berevolusi menjadi makhluk yang lainnya.

Buku ini pertama kali diterbitkan 1859 M, dan setelah lebih dari 150 tahun hingga hari ini, para pendukung dan pengikut Darwinisme masih mendukung teori evolusi ini.

Kenapa teori evolusi Darwin ini disebut juga sebagai teori asal-usul kehidupan?

Hal ini karena teori evolusi telah dikembangkan hipotesanya oleh para pengikutnya “Neo Darwinism”, dengan pengembangan yang sangat jauh. Hingga membuat hipotesa : bahwa kejadian asal mula kehidupan organic itu berasal dari materi-materi anorganic  yang ada di air. Yang mana kemudian terjadi suatu reaksi antara materi anorganic secara “kebetulan”, berubah menjadi suatu hasil reaksi baru, materi organic sederhana yang hidup di air.

Materi organic (protein) sederhana yang hidup di air itu, kemudian “berevolusi” menjadi makhluk hidup yang lebih kompleks. Untuk kemudian berevolusi lagi, dari hidup di air, hingga kemudian bisa berpindah hidup di darat.

Atau dengan kata lain, “makhluk hidup itu berkembang dan berevolusi dari benda tak hidup”, dan kemudian “berpindah tempat dan hidup dari air ke darat”.

Demikianlah teori Darwinisme yang berkembang ke depannya.

Adapun jika kita melihat ke belakang, ke zaman sebelum lahirnya Charles Darwin, hipotesis Darwin ini dimanfaatkan untuk mendukung Konsep Abiogenesis yang dipelopori oleh Anthony Van Leeuwenhoek (1632-1732 M) dan John Needham (1713-1781 M), atau yang lebih kuno lagi, yakni Konsep Generatio Spontanea yang digagas oleh Aristoteles (384-322 SM).

Konsep Abiogenesis ataupun Generation Spontanea berpandangan, bahwa makhluk hidup itu berasal dari benda tidak hidup yang muncul secara spontan dengan sendirinya.

Aristoteles sendiri sebenarnya ketika mencetuskan konsep itu, berpandangan dengan mengamati bahwa ada cacing yang muncul dari tanah dan juga ikan yang muncul dari lumpur yg ada di bawah air. Dari sinilah dia berpandangan bahwa makhluk hidup itu berasal dari benda tidak hidup yang muncul secara spontan dengan sendirinya. Padahal Cacing dan ikan itu sebenarnya lahir dari telurnya yang ada di dalam tanah dan lumpur.

Anthony Van Leeuwenhoek sendiri setelah menemukan mikroskop, dia mengamati air rendaman jerami dan melihat adanya mikro organisme di situ. Sehingga dia berhipotesa bahwa mikro organisme itu berasal dari udara (benda mati). Padahal di udara sendiri memang terdapat mikroorganisme (makhluk hidup), yang umumnya berkembang biak dengan cara membelah diri.

John Needham juga mendukung teori Abiogenesis setelah melakukan penelitian dengan  merebus kaldu dalam wadah selama beberapa menit, kemudian ditutup dengan gabus. Setelah beberapa hari, terdapat bakteri dalam kaldu tersebut. Nedham berpendapat bahwa bakteri berasal dari kaldu. Padahal penjelasan untuk hal ini sama dengan penjelasan kesalahan pengambilan kesimpulan dari pengamatan Anthony Van Leeuwenhoek itu.

Adapun teori Charles Darwin memang dirasa lebih baru dan lebih “menggiggit” dibandingkan konsep atau teori Aristoteles, Anthony Van Leeuwenhoek, dan John Needham. Sehingga fihak-fihak di luar scientist pun; yakni fihak agressor di bidang politik, militer, kekuasaan, dan perekonomian; memanfaatkan teori Darwin sebagai pembenar dari sikap kesewenang-wenangan mereka dengan berlindung di balik konsep “Seleksi Alam” (Natural Selection).

Pemanfaatan teori Darwin di bidang agresi politik, militer, kekuasaan, dan perekonomian inilah yang tampaknya yang mendominasi penyebab mengapa teori Darwin ini menjadi sangat populer dan terus dikembangkan di berbagai penjuru dunia dibanding alasan ilmiahnya. Buktinya adalah semenjak teori ini dimunculkan, sebenarnya banyak scientist yang menolak atau tidak mensetujuinya. Yang mana hal ini dibuktikan dalam buku “The Origin of Species” itu sendiri, hingga Charles Darwin pun sampai membuat bab dengan judul “Difficulties on Theory” pada bab ke VI. Namun kepentingan agressor untuk memanfaatkan hipotesa teori Darwin tampak lebih kuat, maka dipopulerkanlah teori Darwin ini untuk mendukung kepentingan mereka, walaupun sebenarnya Charles Darwin sendiri tidak setuju akan hal ini.

Wikipedia menulis,

“Some political commentaries, including Walter Bagehot’s Physics and Politics (1872), attempted to extend the idea of natural selection to competition between nations and between human races. Such ideas were incorporated into what was already an ongoing effort by some working in anthropology to provide scientific evidence for the superiority of Caucasians over non white races and justify European imperialism.

Historians write that most such political and economic commentators had only a superficial understanding of Darwin’s scientific theory, and were as strongly influenced by other concepts about social progress and evolution, such as the Lamarckian ideas of Spencer and Haeckel, as they were by Darwin’s work.

Darwin objected to his ideas being used to justify military aggression and unethical business practices as he believed morality was part of fitness in humans, and he opposed polygenism, the idea that human races were fundamentally distinct and did not share a recent common ancestry.”

[ Lihat : http://en.wikipedia.org/wiki/On_the_Origin_of_Species ]

Secara scientific sendiri, teori “Darwin klasik” sebenarnya sudah terbantahkan :

1. Sebenarnya unsur pembawa unsur genetik yang diturunkan oleh makhluk hidup itu adalah DNA. Sehingga walaupun terdapat “seleksi alam” (Natural Selection) antara makhluk yang kuat dan makhluk yang lemah, atau pertempuran antara makhluk hidup dengan kondisi lingkungan alam untuk bertahan hidup, maka selama DNA nya masih tetap sama, tidak akan ada makhluk hidup baru yang dihasilkan sebagai akibat dari evolusi untuk bertahan hidup.

Kode atau komposisi DNA bisa berubah karena mutasi gen atau rekayasa genetika, bukan karena seleksi alam.

2. Tidak diketemukan adanya “fosil transisi” yang menunjukkan adanya fase transisi dari evolusi suatu bentuk makhluk hidup ke makhluk hidup lainnya. Fase-fase evolusi yang digagas oleh para Darwinisme itu hanyalah khayalan dan spekulasi belaka.

Hal ini belum lagi jika ditambah dengan adanya fosil yang diklaim sebagai “fosil transisi” oleh para pengikut Darwin (Darwinisme), namun ternyata belakangan hari diketemukan bahwa fosil ini ternyata hanyalah fosil palsu hasil rekayasa, bukan fosil makhluk hidup asli.

Fosil transisi ini sebenarnya adalah penentu “kebenaran” dari teori Evolusi Darwin, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Darwin itu sendiri dalam bukunya “On the Origin of Species”. Charles Darwin berkata,

“Lastly, looking not to any one time, but to all time, if my theory be true, numberless intermediate varieties, linking most closely all the species of the same group together, must assuredly have existed; but the very process of natural selection constantly tends, as has been so often remarked, to exterminate the parent forms and the intermediate links. Consequently evidence of their former existence could be found only amongst fossil remains…..”

[On The Origin of Species, Chapter VI : Difficulties on Theory, page. 164, An Electronic Classics Series Publication, The Pennsylvania State University, Copyright © 2001 – 2013]

Atas dasar inilah, para ahli Paleontologist pendukung Darwinisme Klasik berlomba-lomba untuk menggali dan berusaha untuk menemukan “fosil transisi” guna mendukung “kepercayaan Darwinisme” mereka. Akan tetapi sayang, fosil-fosil yang mereka temukan ternyata mereka manipulasi. Atau mereka jadikan korban intepretasi yang menyimpang guna mendukung kepercayaan Darwinisme mereka.

Mereka seakan tidak ingin mengakui bahwa fosil yang ditemukan itu adalah fosil dari binatang yang telah punah. Atau fosil dari binatang yang sama yang hidup pada zaman ini, walau fosil tersebut berumur jutaan tahun.

Selama ada “celah intepretasi” dalam fosil itu, maka hal itu akan dimanfaatkan untuk mendukung teori Darwinisme.

Berikut adalah sedikit daftar fosil palsu yang diklaim oleh para pengikut Darwin (Darwinisme) sebagai “fosil transisi” :

a. Fosil tengkorak manusia Piltdown yang diketemukan pada tahun 1912, yang ternyata setelah 41 tahun kemudian diteliti kembali pada 1953 diumumkan bahwa tengkorak manusia Piltdown itu palsu. Tengkorak manusia Piltdown itu ternyata adalah tengkorak manusia yang telah berumur 500 tahun, yang direkonstruksi dengan ditempeli tulang fossil rahang dari seekor kera (Ape).

b. Fosil gigi manusia Nebraska yang ditemukan pada tahun 1922, yang mana species ini diberi nama Hesperopithecus Haroldcooki. Setelah pada 1927 ditemukan bagian kerangka lainnya, maka segera diketahui bagian fosil gigi itu ternyata bukan dari fosil gigi kera ataupun manusia. Melainkan itu adalah fosil gigi babi liar Amerika yang telah punah, yang bernama Prosthennops.

c. Seorang manusia suku Pigmi hidup dari Afrika Tengah (yang rata-rata memiliki tinggi 127 cm) yang bernama Ota Benga, ditangkap di Kongo pada 1904 oleh peneliti Evolusionis. Dan kemudian dipamerkan di Pekan Raya Dunia di St. Louis Amerika bersama dengan spesies kera lainnya dan diperkenalkan sebagai “mata rantai transisi yang paling dekat dengan manusia”.

Setelah itu, 2 tahun kemudian, para peneliti evolusionis itu memindahkannya ke kebun bintang Bronk di New York, Amerika, dan diperlakukan seperti binatang biasa yang dikurung di kebun binatang. Pemilik kebun binatang itu bangga memiliki “bentuk transisi” di kebun binatangnya. Ota Benga tidak tahan diperlakukan seperti binatang, akhirnya diapun bunuh diri.

3. Banyaknya diketemukan fosil makhluk hidup yang berumur berjuta-juta tahun, yang sama dengan bentuk fosil makhluk hidup yang ada pada zaman sekarang ini. Ini membuktikan bahwa tidak terjadi evolusi selama berjuta-juta tahun lamanya. Kumpulan foto dan perbandingan antara fosil makhluk hidup yang berumur berjuta-juta tahun, yang sama dengan bentuk fosil makhluk hidup yang ada pada zaman sekarang ini, bisa dilihat dalam Atlas of Creation yang ditulis oleh Harun Yahya (Adnan Octar).

Lihat :

http://www.harunyahya.com/en/Books/4066/Atlas-Of-Creation—Volume-1-

http://www.harunyahya.com/en/Books/4146/Atlas-Of-Creation—Volume-2-

http://www.harunyahya.com/en/Books/4632/Atlas-Of-Creation—Volume-3-

http://www.harunyahya.com/en/Books/152365/Atlas-Of-Creation—Volume-4-

4. Runtuhnya mata rantai evolusi imaginer :

a. Mata rantai evolusi imaginer perubahan makhluk hidup yg berasal dari air, berevolusi dan berubah menjadi binatang darat.

Dengan skema : mulai dari berbentuk binatang invertebrata di lautan, lalu berevolusi menjadi ikan,  kemudian berevolusi lagi menjadi binatang amphibi, hingga lama kelamaan berevolusi menjadi reptil.

– Dari banyak fosil invertebrata dan fosil ikan yang diketemukan, tidak terdapat adanya “fosil transisi” yang mendukung mata rantai evolusi imaginer itu.

– Satu-satunya fosil ikan Coelacanth yang diklaim sebagai ikan yang tampak mulai menampak “fosil transisi”, hanya karena dia memiliki 8 buah sirip yang jauh berbeda dibandingkan ikan pada umumnya. Yang mana sirip yang “kelebihan” itu dianggap sebagai mekanisme berjalan yang primitif. Faktanya, fosil ikan Coelecanth yang diperkirakan berumur sekitar 410 juta tahun itu, ternyata diketemukan dan berhasil ditangkap bentuk ikan dalam keadaan hidupnya, dan masih ada hingga zaman sekarang ini.

b. Mata rantai evolusi imaginer mulai berlanjut dengan skema :

Setelah berevolusi menjadi reptil, maka sebagian dinosaurus reptil itu ada yang berevolusi berubah menjadi jenis burung. Dan sebagian reptil yang lainnya lagi berevolusi menjadi jenis binatang mamalia.

– Satu-satunya “fosil transisi” pendukung evolusi dari reptil ke burung, adalah “fosil burung Archaeopteryx” yang berumur sekitar 140 juta tahun. Archaoepteryx di klaim sebagai bentuk transisi dari dinosaurus reptil kecil Velociraptor atau Droeosaurus yang mempunyai sayap.

Archaoepteryx dianggap sebagai bentuk “fosil transisi’, karena fosil awal yang diketemukan tidak tampak bahwa Archaoepteryx mempunyai Sternum (tulang dada). Padahal semua jenis unggas itu mempunyai sternum (tulang dada) untuk membantunya memiliki otot-otot yang kuat agar dapat terbang.

Akhirnya pada waktu penemuan fosil Archaoepteryx yang ketujuh pada tahun 1992, ditemukan Archaoepteryx  yang memiliki sternum (tulang dada). Dari hal ini maka gugurlah hipotesa bahwa Archaoepteryx adalah reptil dinosaurus setengah burung yang tidak dapat terbang dengan baik, yang mana ini dianggap sebagai evolusi transisi dari reptil menjadi burung.

Archaoepteryx benar-benar adalah seekor burung yang dapat terbang, belum lagi karena di penemuan fosil terbaru itu juga terdapat bagian fosil bulu yang membantunya untuk terbang.

– Adapun untuk “fosil transisi” pendukung evolusi dari dinosaurus reptil menjadi binatang mamalia tidak pernah diketemukan. Sehingga hal ini tidak lain benar-benar hanyalah mata rantai evolusi imajinasi belaka.

c. Mata rantai evolusi imajiner dari kera ke manusia

Mata rantai imajiner dari Monyet ke Manusia lah yang mungkin paling kontroversial, dan yang paling menghebohkan dibanding semua teori mata rantai evolusi. Namun semua kehebohan ini kembali kepada permasalahan rekonstruksi struktur fosil-fosil kera yang diperdebatkan kebenarannya.

Hal ini karena fosil-fosil itu tidak utuh, sebagian diberikan tambahan plester dalam struktur konstruksi, atau juga tidak diyakini bahwa bagian fosil tertentu itu merupakan bagian dari fosil spesies yang sama (baca : tercampur dengan fosil lain).

Selain itu banyak juga spesies kera yang telah punah dan tidak kita temukan lagi pada zaman sekarang, sehingga kita mengalami kesukaran dalam menverifikasi apakah fosil itu berasal dari kera yang telah punah ataukah itu fosil bentuk evolusi manusia sebagaimana yang di klaim oleh para evolusionis. “Celah” inilah yang dimanfaatkan untuk membuat-buat mata rantai evolusi imajiner.

Rantai evolusi imajiner ini membuat teori, bahwa manusia itu berevolusi dari 4 kategori dasar. Yakni :

1. Dari spesies “Austrolopithecus” (kera dari selatan),

2. Kemudian berevolusi menjadi “Homo Habilis” (manusia yang mampu menggunakan alat),

3. Berevolusi lagi menjadi “Homo Erectus” (manusia yang berjalan tegak),

4. Dan akhirnya berevolusi menjadi “Homo Sapiens” (manusia modern).

– Fosil kategori Austrolopithecus terkenal yang diketemukan dan dikontruksi, yang mana ini umumnya yang dijadikan sebagai argumentasi para evolusionis adalah : Austrolopithecus afarensis (yang dikenal dengan nama “Lucy”), Austrolopithecus africanus, Austrolopithecus robustus, dan Austrolopithecus boisei.

Fosil kategori Austrolopithecus ini umumnya diyakini oleh para evolusionis sebagai spesies kera yang berjalan tegak dengan dua tumpuan (bipedal), namun pada akhirnya banyak para ahli yang membantah keabsahan argumentasi itu dan mengatakan bahwa Austrolopithecus itu berjalan dengan membungkuk dengan bantuan tangannya seperti kera pada umumnya (quadripedal, berjalan dengan empat tumpuan).

Singkat kata, Austrolopithecus ini sebenarnya hanyalah spesies kera yang telah punah dan tidak memiliki kekerabatan dengan manusia.

– Fosil kategori Homo Habilis terkenal yang diketemukan dan dikontruksi, yang mana ini umumnya yang dijadikan sebagai argumentasi para evolusionis adalah : OH 26, OH 7, OH 62, dan Homo Rudolfensis (KNM-ER 1470).

Singkat kata fosil Homo Habilis dengan kode OH 26 yang umumnya diklaim sebagai manusia yang mampu menggunakan alat karena memiliki kapasitas tengkorak yang relatif besar, ternyata dibantah oleh fosil OH 7 yang memiliki ciri rahang yang mirip dengan kera masa kini. Dan dibantah juga oleh fosil OH 62 yang memperlihatkan kaki yang pendek dan lengan yang panjang, mirip seperti kera pada umumnya yang berjalan membungkung dengan menggunakan kaki dan tangannya (quadripedal).

Homo Rudolfensis (KNM-ER 1470) juga diketahui pada akhirnya, bahwa itu merupakan penggabungan fragmen-fragmen tengkorak yang keliru cara penggabungannya (yang mana mungkin ini sengaja dilakukan). Prof. Tim Bromage pengkaji anatomi wajah manusia menjelaskan kenyataan yang diungkapnya ini dengan bantuan simulasi komputer pada tahun 1992.

Prof. Alan Walker dan C. Loring Brace pun juga mempunyai kesimpulan yang sama dengan Prof. Tim Bromage. Dan pada akhirnya fosil Homo Rudolfensis (KNM-ER 1470) ini harusnya dimasukkan ke dalam kategori kera Austrolopithecus, bukan dimasukkan ke dalam kategori “homo” (manusia).

– Fosil kategori Homo Erectus terkenal yang diketemukan dan dikontruksi, yang mana ini umumnya yang dijadikan sebagai argumentasi para evolusionis adalah : Homo Erectus Javanicus (Manusia Jawa), Homo Erectus Pekinesis (Manusia Peking), Homo Ergaster KNM-ER 3733, dan Norikotome Homo Erectus (Anak lelaki Turkana).

Alasan adanya kategori homo erectus yang tersendiri ini, sebenarnya lebih dikarenakan ukuran tengkoraknya yang relatif kecil (900-1100 cc) daripada rata-rata ukuran tengkorak manusia modern. Bukan karena dia mampu berdiri dan berjalan tegak (erectus). Ada juga yang dikarenakan homo erectus ini memiliki tonjolan wajah pada bagian alis di tengkoraknya.

Kemampuan untuk berdiri dan berjalan tegak itu sebenarnya sudah default, hanya saja karena ukuran tengkorak yang relatif kecil itulah maka para evolusionist melihat “celah” untuk dimasukkan sebagai fosil fase evolusi peralihan dengan dinamakan sebagai homo erectus.

Namun faktanya, ada juga manusia yang hidup pada zaman sekarang yang memiliki ukuran volume tengkorak yang sama dengan homo erectus seperti halnya suku pigmi. Adapun tonjolan wajah pada bagian alis di tengkoraknya, juga terdapat pada manusia modern suku aborigin di Australia pada zaman ini.

Homo Erectus Javanicus (Manusia Jawa) dan Homo Erectus Pekinesis (Manusia Peking) juga pada akhirnya tidak dapat diandalkan untuk argumentasi adanya kategori “homo erectus” ini. Yang mana argumentasi ini disanggah validitasnya karena pada Homo Erectus Pekinesis (Manusia Peking) terdapat beberapa bagian yang dibuat dari plester untuk menggantikan bagian asli yang hilang. Sedangkan pada Homo Erectus Javanicus (Manusia Jawa) dianggap tersusun dari fragmen tengkorak-tengkorak dan ditambah dengan tulang panggul yang ditemukan beberapa meter darinya, tanpa adanya indikasi bahwa tulang-tulang itu berasal dari satu makhluk hidup yang sama.

Hal ini ditambah lagi dengan adanya argumentasi ditemukannya kerangka fosil Homo Erectus di Afrika, yang dinamakan Norikotome Homo Erectus (Anak lelaki Turkana). Yang mana kerangka fosil Norikotome Homo Erectus ini berdiri tegak dan tidak ada bedanya dengan fosil struktur kerangka manusia modern, walaupun dia memiliki ukuran tengkorak yang relatif kecil sebagaimana pengkategorian homo erectus yang telah kita sebutkan sebelumnya.

Sehingga sebagai kesimpulan, kategori Homo erectus yang mempunyai volume kerangka tengkorak yang relatif kecil ini sebenarnya hanyalah variasi ras manusia modern seperti yang ada pada zaman sekarang ini. Bukan fase peralihan evolusi sebagaimana yang diimajinasikan oleh para evolusionis.

– Adapun untuk fosil Homo Sapiens, maka ini sebenarnya tidak perlu kita bahas lagi karena ini adalah seperti yang ada pada rata-rata manusia modern pada zaman sekarang ini. Yang perlu untuk disanggah hanyalah tahapan-tahapan peralihan imajiner yang diklaim oleh para evolusionist, dari  Austrolopithecus menjadi Homo Habilis, lalu menjadi Homo Erectus, dan hingga menjadi homo Sapiens.

Akan tetapi karena para evolusionist itu sudah berpijak dari tahapan berpikir yang tidak valid, maka mereka pun menganggap ada lagi tahapan evolusi dari homo sapiens hingga menuju manusia modern seperti yang ada pada zaman kita sekarang ini.

Mereka beranggapan bahwa ketika ada Homo Sapiens, maka ada kategori tahap peralihan dari Homo Sapiens Purba hingga menjadi manusia Neandertal. Dari Manusia Neandertal menjadi manusia Cro-Magnon. Dan akhirnya menjadi manusia modern seperti kita sekarang ini.

Manusia Neandertal sebenarnya bedanya dengan manusia modern zaman sekarang ini, hanyalah karena mereka memiliki kerangka tubuh yang lebih besar dan kapasitas tengkorak yang sedikit lebih besar. Adapun Cro-Magnon hanya karena dia memiliki kapasitas tengkorak yang lebih besar di atas rata-rata manusia modern, dan memiliki tonjolan tengkorak pada bagian alis yang tebal seperti halnya homo erectus.

Dewasa ini diketemukan manusia modern yang merupakan representasi manusia Cro-Magnon yang hidup di beberapa wilayah di benua Afrika, di daerah Salute dan Dor-Dogne di Perancis, dan di Polandia serta Hongaria.

Sehingga sebenarnya, fosil yang disebut sebagai manusia Neanderthal dan manusia Cro-Magnon itu sebenarnya hanyalah variasi ras manusia modern seperti yang ada pada zaman sekarang ini. Bukan fase peralihan evolusi sebagaimana yang diimajinasikan oleh para evolusionis.

Untuk foto-foto fosil dan sumber referensi lebih lanjut mengenai mata rantai evolusi imajiner dari kera ke manusia ini, lihat : Keruntuhan Teori Evolusi, Bab 9 : Skenario Evolusi Manusia, hal. 65-91, Harun Yahya, Penerbit Dzikra, 2004.

—————————

Masih banyak lagi sebenarnya argumentasi yang bisa dituliskan untuk hal ini.

Karena para pengikut “Darwinisme klasik” tampak mulai kerepotan untuk membela Teori Darwin dengan hanya menggunakan argumentasi-argumentasi klasik. Maka mereka mulai mengembangkan khayalan mereka yang lebih jauh untuk mendukung Darwinisme.

Generasi “Neo Darwinisme” membuat spekulasi bahwa terjadi suatu mutasi atau rekayasa genetika yang merubah DNA, hingga menyebabkan terjadinya suatu evolusi perubahan suatu makhluk. Dalam kata lain, mereka ingin merubah konsep “Evolusi Spesies” yang diajukan Charles Darwin menjadi konsep “Evolusi Molekular”.

Ini sebenarnya hanyalah “upgrade” dari teori Abiogenesis atau Generatio Spontanio yang telah kita bahas sebelumnya. Dan ini semua bermuara kepada “teori kebetulan” yang tidak bisa dibuktikan.

Lihat pula tulisan sederhana kami : https://kautsaramru.wordpress.com/2015/01/02/refuting-atheism-dongengan-ra-mutu/

Islam sendiri memandang bahwa Allah lah yang menciptakan semua makhluq-Nya dengan berbagai macam variasinya ini. Allah adalah Al-Khooliq (Maha Pencipta), Al-Baari’ (Yang Maha Mengadakan), dan Al-Musawwir (Yang Maha Membentuk).

Yang mana penciptaan, pengadaan, dan pembentukan berbagai macam keindahan dan kompleksitas kehidupan ini merupakan bukti dan ke-Maha Kuasaan dan Kebesaran-Nya.  Dan secara logika sederhana saja, mustahil hal ini tercipta secara “kebetulan” saja.

-bersambung-

Advertisements