Permisalan ada seorang karyawan yang dipekerjakan sedang dipanggil boss nya untuk ditegur.

Boss : Bukankah kamu ini orang yang aku angkat jadi karyawan dan aku pekerjakan?
Karyawan : Benar boss…
Boss : Menurutmu siapa yang menggajimu dan memberikanmu segala fasilitas ini?
Karyawan : Anda boss…
Boss : Kalo gitu kenapa kamu mau melakukan pekerjaan untuk orang lain? Emang dia yang gaji kamu dan yang beri semua fasilitas ini ya?!
Karyawan : Maaf boss…

Boss : Kamu ini sebenarnya nganggap aku ini siapa sih?! Kamu itu kenal dan tau siapa aku nggak?!
Karyawan : Maaf boss… Tau boss… Saya tau dan kenal anda boss…Anda boss saya boss, anda yang menggaji saya dan memberikan semua fasilitas ini….

Boss : Lha kalau kamu tau aku ini bossmu, maka ngapain kamu kerja untuk dia pake fasilitas kantorku dan makan gaji yang kukasih pula!?….
Karyawan : Maaf boss…. katanya itu perintah boss…. saya ya manut aja…

Boss : Hahh!!!! Dusta itu, aku tidak pernah memerintahkan hal itu…. Kerja itu sesuai perintah dan petunjuk yang kukasih…. ada job desk nya. Kamu masih mau jadi karyawan dan kugaji kan?
Karyawan : Ampun boss… saya masih mau boss…. Tapi boss, katanya yang merintahkan itu orang dekat boss. Saya hanya ingin agar bisa dekat sama boss lewat orang dekat boss itu saja. Saya hanya ingin agar dapat syafaat dan wasilah darinya saja….

Boss : Hah! Mental penjilat kau!!! Cari syafaat dan wasilah itu ada prosedurnya, sesuai dengan perintah dan petunjukku. Jangan main tafsir sendiri. Buktinya kamu kerja untuk dia, padahal aku yang menggajimu. Dan menurutmu jika aku tau kamu kerja untuk dia sedangkan aku yang menggajimu, menurutmu aku senang nggak?

Kamu tau kan kita ini punya policy masalah “Conflict of Interest”? Jangan banyak alasan deh kamu.

Karyawan : Ampun boss… saya tau saya salah…. tolong maafkan saya boss…
**********

Demikianlah contoh ilustrasi sedarhana orang yang mengenal Allah, namun menyerahkan peribadahan dan penghambaannya kepada selain Allah.

Kadang dewasa ini, banyak orang yang melakukan kesyirikan dengan menyerahkan peribadahan kepada selain Allah, namun ketika ditegur dia malah “ngeyel” dan beranggapan itu bukan kesyirikan.

Toh yang penting dia masih mengakui Allah sebagai satu2nya yang memberikannya rezeki, masih mengakuinya sebagai penciptanya, yang menghidupkan dan mematikannya…..

Sehingga dia menganggap tidak apa2 jika dia berdoa kepada selain Allah, melakukan ritual ibadah yang diada adakan kepada selain Allah, dan bahkan sampai melakukan penyembelihan korban.

Baik orang yang berprofesi sebagai Dukun ataupun orang yang mengaku tidak berprofesi dukun pun juga beralasan dengan hal ini…..

Didatangilah kuburan-kuburan yang diaku2 sebagai kuburan wali yang dianggap dekat dengan Allah, untuk kemudian dilakukan ritual ibadah, doa, dan istighotsah kepada kuburan wali itu untuk sebagai permintaan syafaat dan wasilah kepada Allah.

Dibacakanlah Al Qur’an disana, dilakukan haulan, dilakukan banyak ritual dzikir yang tidak ada contohnya dari rasulullah, dan mulailah dipanjatkan doa agar bisa mendapatkan keberkahan (ngalap berkah) serta mendapatkan “perantara” (tawasul) melalui sang wali empunya penghuni kuburan itu….

Dan tidak hanya kuburan wali, bahkan kuburan nabi sekalian jika mereka mampu.

Demikianlah realita kesyirikan yang melanda ummat Islam. Pengenalan mereka kepada Allah tidak bisa menyelamatkan diri mereka, selama mereka tidak menjalankan konsekuensinya dan meninggalkan kesyirikan.

Adapun Tauhid itu mempunyai dua sisi yang merupakan satu kesatuan. Yakni “Tauhid Ilmu dan Pengenalan” dan “Tauhid Konsekuensi Penghambaan serta Peribadahan”. Hilang satu, maka hilanglah juga keseluruhannya.

Semoga bermanfaat. Baarokallloohu fiik

Advertisements