Dasar Pokok Kedudukan Akal Dalam Memahami Islam

Leave a comment

Islam itu adalah agama, aqidah, dan aturan syariat yang berasal dari wahyu yang Allah turunkan kepada Rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan malaikat Jibril.

Islam bukanlah suatu agama yang berdasarkan hasil pemikiran Rasulullaah, ataupun berdasarkan pemikiran dan filsafat orang/peradaban kebudayaan pada masa sebelumnya, yang diadopsi dan mempengaruhi Rasulullah.

Yang mana wahyu ini memerintahkan akal untuk memahaminya, tanpa ada keharusan untuk menjadikan akal yang mudah dipengaruhi oleh al-hawa (kecenderungan, selera, atau keinginan), sebagai standart untuk menerima, menolak, merevisi, menghakimi, ataupun mendikte wahyu yang Allah turunkan.

Hubungan antara agama dan akal adalah seperti sinar matahari, cahaya, dan mata.

Mata membutuhkan cahaya yang berasal dari sinar matahari untuk melihat, namun mata tidak bisa menentang matahari.

Hadiah Untuk Saudaraku, Semoga Allah Menggerakkan Pintu Hatimu….

Leave a comment

Hari jum’at ini, kebetulan khotib khutbah jum’at di masjid basement 2 menara Sudirman adalah Ustadz Abdurrahman Ayyub hafidzahulloh.

Karena beliau mantan anggota organisasi jihadist “Jamaah Islamiyah (JI)” yang Allah berikan hidayah kembali ke manhaj Sunnah, maka beliau “sangat fasih” memberikan nesehat untuk berhati-hati terhadap jama’ah-jama’ah jihadist Takfiri (yang suka mengkafir-kafirkan), terutama terhadap ISIS.

Beliau juga fasih menyampaikan nama-nama para tokoh jihadis Takfiri ataupun pemikirnya.

Yah, wajar saja sih sebenarnya…. karena beliau memang adalah Pelaku sejarah langsung, dan juga orang yang berinteraksi langsung di lapangan dengan para Jihadist Takfiri.

Setelah selesai sholat jum’at, ta’mir masjid meminta beliau untuk berkenan diadakan forum tanya jawab sebentar, barang 10 menit mungkin?…. Dan beliau pun menyambut ajakan itu Alhamdulillah.

Saya pun tidak mensia-siakan kesempatan ini, maka saya pun juga mengajukan pertanyaan kepada beliau.

Berikut saya tuliskan isi tanya jawab tersebut, sesuai dengan yang saya ingat, karena ini saya tanyakan secara langsung (live) di hadapan beliau, dan juga penyesuaian, penambahan, serta penyaduran dari gaya bahasa lisan ke gaya bahasa tulisan seperlunya.

Semoga kita semua bisa mengambil ilmu dan hikmahnya.

******
Saya Bertanya :
“Ustadz… ustadz tentu mempunyai banyak pengalaman dengan manhaj Takfiri, karena dulu pernah menjadi bagian dari mereka.

Jika boleh, bolehkah ustadz menceritakan kisah bagaimana ustadz mendapatkan hidayah dan kembali ke manhaj Sunnah ?

Saya ini aslinya orang Solo, dan saya kebetulan punya juga teman-teman yang mempunyai manhaj Takfiri seperti itu. Bahkan ada juga teman saya yang sudah dipenjara.

Mungkin dengan kisah ustadz itu, saya bisa mengambil ibroh dan membuka pintu hati mereka…..”

*******
Beliaupun tersenyum mendengar pertanyaanku….

Namun disisi lain, saya mendapat kesan bahwa beliau tampak tidak terlalu heran mendengar penuturanku bahwa ada temanku yang dipenjara.

Yah mungkin kalau di kalangan Jihadist takfiri, masalah ditangkap dan dipenjara itu sudah bukan hal yang aneh kali ya…. Maka dari itu mungkin beliau tidak terkesan dengan hal itu…

Beliaupun menjawab dan berkisah,
*******
“Saya ini dulu mendapatkan kajian Sunnah itu bukan di Indonesia atau di tempat yang lain sebenarnya. Saya justru malah mendapatkannya di Australia.

Kalau di Indonesia itu kadang jika ada satu Syaikh dari Ahlus Sunnah Saudi datang, kita sudah heboh dan berduyun-duyun datang memenuhi kajiannya. Kalau di Australia itu, sudah biasa para Masyaikh atau murid-muridnya datang rutin ke Australia memberikan kajian dan berdakwah disana.

Syaikh Abdullah Al-Bassam, murid dari Syaikh ibn Baz, biasa datang untuk memberikan kajian dan berdakwah disana. Demikian juga murid-murid Masyaikh lainnya.

Jadi ceritanya setelah 5 tahun saya jihad di Afghon (Afghanistan), dan juga beberapa tahun di beberapa tempat jihad yang lainnya, Saya waktu itu melanggar “PUJI” dengan ingin bikin jihad di tempat-tempat yang bukan daerah perang.

PUJI itu adalah Pedoman Umum Jamaah Islamiyyah.

Karena inilah kemudian saya disingkirkan. Yah maksudnya di-mutasi lah…. Maka saya di-mutasi ke Australia.

Di Australia itu saya melihat dakwahnya para masyaikh disana, maka saya heran dengan cara dakwah ini.

Jadi mereka berdakwah disitu dengan harta seperti misal beli tanah atau bangunan untuk Pusat Kajian Islam, dan memberikan kajian ilmu disana. Jadi mereka memang punya uang dan Ilmu untuk sarana dakwah mereka disana.

Namun kajiannya yang diberikan benar-benar bermodalkan ilmu Sunnah, dan mendakwahkan Ahlus Sunnah. Maka sayapun tertarik dan mencoba mengikutinya.

Saya pun diskusi dan debat sana-sini (mengenai manhaj Jihadis Takfiri). Lewat media internet juga seperti PalTalk, MIRC, dll. Saya dan adik sayapun sampai berani untuk membuat ajakan untuk bermubahalah sekalian sama Syaikh Ibn Baz rohimahulloh (Mufti Saudi waktu itu).

Bayangin, saya berani lho sampai ngajak mubahalah sama Syaikh Ibn Baz….. Untung nggak jadi, kalau sampai jadi bisa jadi batu saya…. (semua hadirin yang ada di majlis tanya jawab itu pun tertawa). Saya dinasehatin, wahai anak muda jangan terburu nafsu, Syaikh ibn Baz itu syaikh “sepuh” yang ilmunya sangat tinggi…..

Ohya, mubahalah itu adalah sumpah saling laknat dengan berdoa atas nama Allah di antara kedua belah fihak yang sedang berselisih atau bersiteru. Yakni saling laknat bahwa orang yang berbohong atau berada di atas kebatilan di dalam masalah yang mereka perselisihkan ini, maka dialah yang akan mendapatkan laknat Allah.

Ya sudah setelah debat-debat-debat, maka saya pun kalah tentu saja….

Ada hadits yang saya tidak bisa menjawabnya, yakni hadits riwayat Muslim yang berbunyi

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟، قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah kalian orang-orang yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia”.

Aku (Hudzaifah) bertanya : “Apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatkannya?”. Beliau menjawab : “(Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu, tetaplah mendengar dan taat” [Shahih Muslim no. 1847 (52)]

Selain itu ada juga hadits kedua riwayat Ahmad yang berbunyi,
لَيَنْقُضَنَّ عُرَى اْلاِسْلاَمِ عُرْوَةً وَكُلَّمَا اِنْقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّتَ النَّاسُ بِالَّتِىْ تَلِيْهَا وَاَوَّلُهُنَّ نَقْضَ الْحُكْمُ وَآخِرُهَا الصَّلاَةُ.

“Ikatan-ikatan Islam akan terlepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan akan dikuti oleh ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah hukum dan yang terakhir adalah solat”.
(Hadis Riwayat Ahmad. 5/251. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid)

Jadi masalah pemimpin tidak berhukum dengan hukum Islam itu memang sudah diprediksi oleh Rasulullah, dan bahkan itulah yang pertama kali terjadi. Maka dari itu kalau hanya karena itu, tidak bisa langsung dikafirkan selama dhohirnya pemimpin itu masih sholat.

Dan dikafirkan jika kufur bawwah (kufur yang nyata), yakni yang indikasinya paling kuat adalah terputus ikatan terakhir yakni sholat. Bukan yang ikatan pertama, yakni hukum.

Maka rasulullah pun bersabda,
” خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ، فَقَالَ: لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ ”

“Sebaik-baik pemimpin kamu adalah pemimpin yang kamu cintai dan ia pun mencintaimu. Kamu mendoakannya, dan ia pun mendoakanmu. Adapun seburuk-buruk pemimpin kamu adalah pemimpin yang kamu benci dan ia pun membencimu. Kamu melaknatnya dan ia pun melaknatmu”.
Kami (para shahabat) bertanya : ”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh melawan mereka dengan pedang (memberontak) atas hal itu ?”.

Beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam pun menjawab : ”Jangan, selama ia masih menegakkan shalat bersamamu” (dua kali).

Ketahuilah, barangsiapa yang dipimpin oleh seorang pemimpin, kemudian ia melihat pemimpin tersebut melakukan kemaksiatan kepada Allah, maka bencilah kemaksiatan tersebut, dan jangan melepaskan tangan dari ketaatan kepadanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1855].

Rasulullah juga bersabda,
قَالَ: دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ ”

Ia (‘Ubaadah) berkata : “Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyeru kami, dan kami pun berbaiat kepada beliau. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hal yang beliau ambil perjanjian dari kami yaitu kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan kami agar kami berbaiat untuk senantiasa mendengar dan taat baik dalam keadaan senang ataupun benci, dalam keadaan kami sulit dan dalam keadaan mudah, ketika kesewenang-wenangan menimpa kami; dan juga agar kami tidak mencabut perkara (kekuasaan) dari ahlinya (yaitu penguasa).

Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kecuali bila kalian melihat kekufuran yang jelas/nyata berdasarkan keterangan dari Allah”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7056].

(Beliau Ustadz Abdurrahman Ayub pun berhenti sebentar, lalu beliau melanjutkan perkataannya).

“Li kulli ra’sin, ro’yun”, di tiap-tiap kepala itu ada pendapat.

Nah jika memang ini hanya pendapat-pendapat saja, maka saya bisa saja membantahnya. Tinggal kalau debat gini, maka bahtah saja dengan debat gini-gini-gini terus…. Tinggal kuat-kuatan saja siapa yang duluan stress….. (Maka semua hadirin majlis Tanya jawab itu pun tertawa)

Namun ini bukan pendapat atau perkataan orang, ini adalah perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam! Maka tentu saja saya nggak bisa apa-apa….

Kalau ada perkataan Rasulullaah maka saya ya sami’naa wa atho’naa saja. Dan memang inilah sikap saya sejak zaman dulu….

Jadi untuk pertanyaan tadi, maka sampaikan saja dua buah hadits dari rasulullah tadi. Yakni hadits riwayat Muslim dan hadits riwayat Ahmad.

Walloohu a’lam
———-
Selesai ditulis, Jum’at 20 Maret 2015.

Risalah Tauhid (Bagian 6) : Hawa Nafsu yang Dijadikan Ilah (Dipertuhankan) Part 2

Leave a comment

MENDUDUKKAN AKAL PEMIKIRAN

Pemikiran dan akal itu adalah suatu potensi yang Allah berikan kepada manusia. Yang bisa digunakan untuk hal yang benar dan bisa juga disalah gunakan untuk hal yang bathil. Semua orang mengakui akan hal ini.

Penipuan atau manipulasi adalah salah satu contoh penggunaan akal yang disalah gunakan. Bahkan ada juga istilah “Pelacur intelektual” yang ditujukan kepada orang-orang yang menggunakan intelektualitasnya untuk tujuan yang bathil.

Maka dari ini, pemikiran atau akal itu tidak bisa lepas dari pengaruh al-hawa (keinginan atau kecenderungan seseorang). Karena keberadaan al-hawa yang bisa mendominasi akal dan pemikiran ini, maka tidak heran jika aturan syariat Islam selain mengakui keberadaan akal, juga memberikan arahan dan aturan mengenainya.

Jika semua pemikiran itu dibiarkan bebas sebebas-bebasnya (baca : liberal) dan semua pemikiran akal itu dianggap benar (baca : faham relativisme), maka seharusnya penipuan, manipulasi, dan pelacuran intelektual itu harus dibenarkan juga. Namun faktanya tidak. Dan hal ini diakui baik oleh orang yang beriman terhadap syariat Islam ataupun tidak.

Sebaliknya juga, jika akal dan pemikiran itu dikekang sekekang-kekangnya dan tidak diberikan ruang untuk bergerak, maka hal ini juga berarti mengkufuri anugerah yang Allah berikan kepada manusia untuk kepentingan hidupnya.

Bahkan salah satu tujuan dari syariat itu (baca : maqooshidusy syariah) adalah untuk menjaga akal (Hifdzul ‘Aql). Hal ini belum lagi ditambah banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan, bahwa Allah memerintahkan dan mengajak manusia untuk mau berfikir dan mengfungsikan akalnya.

Sehingga dari hal ini, kita bisa melihat bahwa Islam itu berfungsi sebagai suatu standart pengatur dalam penggunaan potensi akal dan pemikiran. Yakni standart pengatur untuk :

  1. Sebagai “partner” sekaligus “supervisor” agar akal pemikiran diletakkan sesuai pada tempatnya
  2. Sebagai “check and balance” untuk meredam, ketika al-hawa mulai bergejolak mempengaruhi akal pikiran
  3. Sebagai “whistle blower” ketika akal pikiran sudah mulai disalah gunakan.

Bisakah tangan kita difungsikan untuk mencuri ? Bisa. Namun itu salah dan bukan pada tempatnya. Bisakah kemaluan kita difungsikan untuk berzina? Bisa. Namun itu salah dan bukan pada tempatnya. Demikian juga akal pemikiran itu.

Lihat pula penjelasan kami yang sedikit lebih luas dalam tulisan kami :

https://kautsaramru.wordpress.com/2013/03/04/mendudukan-fungsi-dan-letak-akal-berdasarkan-timbangan-syariat-dan-pandangan-ulama-salaf-bag-1/

https://kautsaramru.wordpress.com/2013/03/04/mendudukan-fungsi-dan-letak-akal-berdasarkan-timbangan-syariat-dan-pandangan-ulama-salaf-bag-2/

HASIL PEMIKIRAN : HIPOTESA, TEORI, KONSEP, FILSAFAT, DAN LAIN-LAIN

Masalah dominasi al-hawa dalam akal pikiran muncul ketika manusia mulai menganggap bahwa syariat Islam itu adalah sebagai “pengekang” akal pikiran, dan bukan sebagai “standart pengatur”.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu (al-hawa) mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. [QS. Al-Mu’minuun : 71]

Atau sebaliknya….

More

Kesalahan Dalam Memahami Iman : Beriman Seperti Berimannya Orang Sekuler

Leave a comment

Termasuk kesalahan dalam memahami iman adalah menganggap iman itu hanya sekedar “membenarkan” saja (tashdiq)….

Iman itu tidak hanya sekedar “membenarkan” , namun juga “tunduk patuh” dan “taat” terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul Nya.

Jangan beriman seperti berimannya perokok! Yang hanya sekedar “membenarkan” bahaya rokok, namun tidak mau untuk untuk meninggalkannya.

Jangan beriman seperti berimannya anak durhaka. Yang hanya sekedar “membenarkan” bahwa itu orang tua nya dan harusnya wajib taat kepada mereka, namun justru malah kurang ajar dan durhaka terhadap mereka.

“Tunduk patuh dan Taat” pun juga tidak hanya sekedar “Tunduk patuh dan Taat” seperti robot yang tanpa ada motivasi, jiwa, cinta kasih, dan kehidupan.

Akan tetapi itu juga harus disertai dengan “kecintaan dan loyalitas”, dan juga “kebencian serta berlepas diri” terhadap apa apa yang menyelisihi nya .

Sehingga aplikasi dan pemahaman iman yang benar itu harus difahami dengan berdasarkan tiga hal yang tak terpisahkan :
1. Membenarkan nya.
2. Tunduk patuh dan taat.
3. Kecintaan loyalitas (wala’) dan kebencian berlepas diri (baro’).

Berkurangnya kesempurnaan salah satu dari tiga hal itu, maka berkurang pulalah kesempurnaan iman pada diri seseorang.

Dan bahkan jika itu berkaitan dengan masalah ushul (pokok), maka hal itu juga bisa berpotensi membatalkan keimanan seseorang…

Sehingga pemahaman keimanan Sekuler yang penting cukup hanya “membenarkan ketuhanan yang Maha Esa”, namun untuk aplikasi penerapannya boro boro dia mau untuk sholat apa kagak…. Maka ini adalah pemahaman keimanan yang salah….

Keimanan itu tidak dipahami dengan yang penting cukup hanya “membenarkan” saja, namun untuk aplikasinya terserah semau gue….

Allah tidak menurunkan ayat ayat yang hanya berisi kabar kabar yang wajib untuk kita benarkan saja. Namun Allah juga menurunkan ayat ayat yang berisi perintah Nya, yang wajib kita tunduk patuh dan taati…

Dan Allah menurunkan semua itu dengan berdasarkan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keadilan Nya.

Sehingga hal ini wajib untuk kita cintai dan berikan loyalitas kepadanya (Wala’) . Dan juga kita berikan kebencian, pengingkaran, dan sikap berlepas diri terhadap fihak yang menyelisihi dan menentang Nya (Baro’).

Sekali lagi, pemahaman iman yang benar itu haruslah difahami dengan berdasarkan tiga hal yang tak terpisahkan :
1. Membenarkan nya.
2. Tunduk patuh dan taat.
3. Kecintaan loyalitas (wala’) dan kebencian berlepas diri (baro’).
****

Apakah ada orang yang membenarkan namun dia sendiri membenci apa yang dia benarkan? Jawabnya tentu saja ada!

Dan inilah juga bukti bahwa keimanan itu salah, jika hanya dipahami dengan hanya sekedar “membenarkan” saja.

Tidak usah jauh jauh bawa ayat bahwa orang musyrik dan ahlul kitab itu sebenarnya “membenarkan” kenabian rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam lubuk hatinya yang terdalam. Namun mereka membenci apa yang mereka benarkan itu karena kedengkian yang ada pada dirinya. Hingga mereka pun enggan untuk mengakui kenabian beliau melalui lisan mereka dan bahkan justru memusuhi beliau….

Tidak usah jauh jauh bawa ayat ayat seperti itu….

Orang yang merokok aja walau dia membenarkan bahaya rokok, namun dia benci kalau disuruh untuk tanggung jawab dan keluar duit untuk biaya berobat perokok pasif yang menjadi korban nya.

Sama juga dengan anak durhaka yang membenarkan bahwa itu adalah orang tua nya. Dia benci jika disuruh untuk minta maaf kepada orang tuanya jika dia masih durhaka, walaupun dia mengakui dan membenarkannya…

Seorang suami juga sama saja…

Bisa jadi dia membenarkan bahwa itu adalah istrinya yang harus dia lindungi dan sayangi. Namun dia benci dan gengsi jika harus minta maaf terhadap kedzoliman kedzoliman yang dia lakukan terhadap istrinya yang seharusnya dia lindungi dan sayangi itu…..

Jadi tidak benar jika seseorang sudah “membenarkan” maka dia akan otomatis mencintainya dan tidak akan membencinya.

Dan tidak benar juga jika seseorang sudah “membenarkan” sesuatu maka dia akan otomatis tunduk patuh dan taat terhadap apa yang dia benarkan itu….

Nah sekarang bagaimanakah dengan orang Sekuler yang memahami iman cukup dengan hanya “membenarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” itu? Pikir sendiri yaaa…… Dan lihatlah juga fakta yang terjadi di lapangan….

****

Akar permasalahannya mungkin bisa jadi karena kita mendidik pemahaman keimanan di keluarga dan di masyarakat kita, dengan model pemahaman keimanan ala Sekuler. Oleh karena itu jangan lah kita buru buru tunjuk hidung orang lain dulu… Tunjuklah dulu hidung diri diri kita sendiri…

Jangan jangan kita sebenarnya yang secara tidak sadar memahami iman ala Sekuler, namun ngakunya aja benci sama Sekuler….

Memang wahai saudaraku, Kondisi kadang tidak selalu ideal bagi kita untuk menerapkan keimanan kita. Oleh karena itulah Allah berfirman “fattaqullooha mastatho’tum” (Bertaqwalah kalian kepada Allah semampu kalian)…..

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertakwalah pada Allah semampu kalian” (QS. At Taghobun: 16)

Maka dari itu wahai saudaraku, Bertaqwalah “semampumu” bukan bertaqwalah “semaumu” ….

Inilah titik introspeksi kecil bagi diri kita sendiri, apakah kita memahami iman itu hanya sekedar “membenarkan” saja ataukah tidak…

Inilah juga titik introspeksi kecil bagi diri kita, apakah ada kadar sekularisme pada diri kita ataukah tidak…

Semoga bermanfaat, baarokalloohu fiik

Memahami Logika Pemahaman Para Penentang “Pembagian Penjelasan Tauhid”

Leave a comment

Orang orang asy’ariyyah umumnya hanya memahami tauhid dengan berdasarkan pembagian sifat sifat Allah yang 20 saja. Yakni mereka hanya memahami tauhid dari sisi pengenalan “ala asy’ariyyah” saja. Atau dengan kata lain mereka hanya memahami tauhid dari sisi tauhidul ilmi wal khobari atau tauhidul ilm wal ma’rifah dengan manhaj asy’ariyyah saja. (Baca : Hanya memahami Tauhid dari sisi pengenalan kepada Allah)

Adapun untuk sisi tauhid yang berupa kehendak tuntutan dan konsekuensi (yakni tauhidul irodi wath tholabi), mereka hanya terbatas asal mengakui bahwa Rabb itu hanya Allah saja, namun tidak memahami perincian bahwa ibadah tidak boleh disertakan kepada selain Allah walaupun itu dengan kedok tawassul, cari syafaat, dan tabaruk.

Sehingga amaliyah thoriqot sufi yang mereka kombinasikan dengan aqidah asy’ariyyah yang hanya terbatas kepada tauhid pengenalan saja, menyebabkan mereka leluasa mengamalkan berbagai kebid’ahan dan amalan syirik yang diajarkan oleh thoriqot sufiyyah.

Seperti misal istighotsah kepada wali yang sudah mati di kuburan, tawassul dan tabaruk kepada para wali di kuburan mereka, cari syafaat, dll. Karena bagi mereka jalan menuju Allah itu haruslah melalui syaikh syaikh thoriqot dan wali wali itu.

Bahkan mereka mewajibkan juga ketika berdoa itu harus sambil membayangkan wajah syaikh thoriqot nya atau walinya, agar lebih maqbul dan dibantu diberi syafaat disampaikan kepada Allah

Berdasarkan hal ini, maka ketika ada “pembagian penjelasan tauhid” yang dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman, yang mana ternyata membuka kedok kebatilan mereka, maka mereka pun kebakaran jenggot dan berusaha sebisa mungkin untuk menebarkan fitnah agar kebatilan mereka terlindungi.

Pencetus fitnah ini sebenarnya dimulai oleh Hassan As Saqoof dengan kitabnya, dialah salah seorang master mind dari fitnah ini. Dan kitabnya sendiri sebenarnya sudah dibantah oleh Syaikh Abdurrozzaaq al Abbad al Badr Hafidzahulloh melalui kitab beliau juga. Silakan merujuk kesana jika ingin melihat sumber tangan pertama nya.

Pembagian penjelasan tauhid sebenarnya tidak harus tiga, boleh juga dua sebagaimana pembagian yang dikemukakan oleh ibnul Qoyyim.

Karena yang penting itu adalah “penjelasannya”, bukan “jumlah pembagian penjelasan”nya.

Namun dari sinilah liciknya mereka, mereka mencoba bermain api dan menebar fitnah dengan pendiskreditan atas nama “jumlah pembagian penjelasan”.

Wallaahu A’lam

Yang Biasa Dipikirkan Pada Umur-Umur Segitu….

Leave a comment

Ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin hafidzahulloh berkata pada salah satu kajiannya (dengan gubahan seperlunya) :
****
Manusia itu kalau umurnya sampai 10 tahun an, maka yg dipikirkan itu biasanya makanan. Makanya kalau antum ada anak kecil ketika diberi pilihan, mau dikasih snack yg gedhe/banyak atau emas, maka dia akan lebih milih snack atau makanan.

Kalau sampai umur 20 tahunan, maka biasanya yang sering dipikirkan itu masalah kekasihnya….

Kalau sampai umur 30 tahunan, maka biasanya yang sering dipikirkan itu masalah syahwatnya… Makanya biasanya yang sering minta poligami itu yang umur2 segitu, karena emang lagi kenceng2nya…

Kalau umur 40 tahunan, maka biasanya yang sering dipikir itu ambisinya. Makanya politikus yang kenceng itu banyak yg umur 40 an, karena memang sedang ambisi-ambisinya….

Kalau umur 50 an itu biasanya yang sering dipikir itu masalah hartanya. Suka pamer saya punya harta disana disini, hasil waktu tugas disana dan disini. Dan sebagainya…

Nah kalau umur 60 an itu biasanya yang sering dipikir itu masalah penyakitnya….. Aduh ini sakit ini, sakit itu…. obat obatan… dan sebagainya…
*****
Nah, sekarang kita termasuk yg mana?…. :p

Kesalahan Tauhid : Mengenal Allah Tapi Tidak Menjalani Konsekuensinya, Maka Itu Adalah Kesyirikan

Leave a comment

Permisalan ada seorang karyawan yang dipekerjakan sedang dipanggil boss nya untuk ditegur.

Boss : Bukankah kamu ini orang yang aku angkat jadi karyawan dan aku pekerjakan?
Karyawan : Benar boss…
Boss : Menurutmu siapa yang menggajimu dan memberikanmu segala fasilitas ini?
Karyawan : Anda boss…
Boss : Kalo gitu kenapa kamu mau melakukan pekerjaan untuk orang lain? Emang dia yang gaji kamu dan yang beri semua fasilitas ini ya?!
Karyawan : Maaf boss…

Boss : Kamu ini sebenarnya nganggap aku ini siapa sih?! Kamu itu kenal dan tau siapa aku nggak?!
Karyawan : Maaf boss… Tau boss… Saya tau dan kenal anda boss…Anda boss saya boss, anda yang menggaji saya dan memberikan semua fasilitas ini….

Boss : Lha kalau kamu tau aku ini bossmu, maka ngapain kamu kerja untuk dia pake fasilitas kantorku dan makan gaji yang kukasih pula!?….
Karyawan : Maaf boss…. katanya itu perintah boss…. saya ya manut aja…

Boss : Hahh!!!! Dusta itu, aku tidak pernah memerintahkan hal itu…. Kerja itu sesuai perintah dan petunjuk yang kukasih…. ada job desk nya. Kamu masih mau jadi karyawan dan kugaji kan?
Karyawan : Ampun boss… saya masih mau boss…. Tapi boss, katanya yang merintahkan itu orang dekat boss. Saya hanya ingin agar bisa dekat sama boss lewat orang dekat boss itu saja. Saya hanya ingin agar dapat syafaat dan wasilah darinya saja….

Boss : Hah! Mental penjilat kau!!! Cari syafaat dan wasilah itu ada prosedurnya, sesuai dengan perintah dan petunjukku. Jangan main tafsir sendiri. Buktinya kamu kerja untuk dia, padahal aku yang menggajimu. Dan menurutmu jika aku tau kamu kerja untuk dia sedangkan aku yang menggajimu, menurutmu aku senang nggak?

Kamu tau kan kita ini punya policy masalah “Conflict of Interest”? Jangan banyak alasan deh kamu.

Karyawan : Ampun boss… saya tau saya salah…. tolong maafkan saya boss…
**********

Demikianlah contoh ilustrasi sedarhana orang yang mengenal Allah, namun menyerahkan peribadahan dan penghambaannya kepada selain Allah.

Kadang dewasa ini, banyak orang yang melakukan kesyirikan dengan menyerahkan peribadahan kepada selain Allah, namun ketika ditegur dia malah “ngeyel” dan beranggapan itu bukan kesyirikan.

Toh yang penting dia masih mengakui Allah sebagai satu2nya yang memberikannya rezeki, masih mengakuinya sebagai penciptanya, yang menghidupkan dan mematikannya…..

Sehingga dia menganggap tidak apa2 jika dia berdoa kepada selain Allah, melakukan ritual ibadah yang diada adakan kepada selain Allah, dan bahkan sampai melakukan penyembelihan korban.

Baik orang yang berprofesi sebagai Dukun ataupun orang yang mengaku tidak berprofesi dukun pun juga beralasan dengan hal ini…..

Didatangilah kuburan-kuburan yang diaku2 sebagai kuburan wali yang dianggap dekat dengan Allah, untuk kemudian dilakukan ritual ibadah, doa, dan istighotsah kepada kuburan wali itu untuk sebagai permintaan syafaat dan wasilah kepada Allah.

Dibacakanlah Al Qur’an disana, dilakukan haulan, dilakukan banyak ritual dzikir yang tidak ada contohnya dari rasulullah, dan mulailah dipanjatkan doa agar bisa mendapatkan keberkahan (ngalap berkah) serta mendapatkan “perantara” (tawasul) melalui sang wali empunya penghuni kuburan itu….

Dan tidak hanya kuburan wali, bahkan kuburan nabi sekalian jika mereka mampu.

Demikianlah realita kesyirikan yang melanda ummat Islam. Pengenalan mereka kepada Allah tidak bisa menyelamatkan diri mereka, selama mereka tidak menjalankan konsekuensinya dan meninggalkan kesyirikan.

Adapun Tauhid itu mempunyai dua sisi yang merupakan satu kesatuan. Yakni “Tauhid Ilmu dan Pengenalan” dan “Tauhid Konsekuensi Penghambaan serta Peribadahan”. Hilang satu, maka hilanglah juga keseluruhannya.

Semoga bermanfaat. Baarokallloohu fiik

Older Entries