Penyimpangan Dan Kesalahan Dalam Mengenal Allah (Ma’rifatullah)

Leave a comment

Setelah kita mengenal dan mengetahui ma’rifatullah yang haq, sesuai dengan apa yang Allah khabarkan melalui wahyu Al-Qur’an dan yang Rasulullooh sampaikan melalui haditsnya yang shohih. Maka untuk menyempurnakan keilmuan dan kemurnian pemahaman kita, perlu juga bagi kita untuk mengetahui kebathilan yang mengatasnamakan ma’rifatullah (mengenal Allah), guna menjauhi dan menghindarinya.

Hal ini penting!

Karena Allah sendiri menekankan kesempurnaan ilmu dan pemahaman ini, dengan cara menjauhi kebathilan-kebathilan yang mengatasnamakan ma’rifatullah (mengenal Allah) dalam rangkaian ayat-Nya setelah Allah mengkhabarkan mengenai diri-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang MENYIMPANG (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan.” [QS. Al-A’raaf : 180]
فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka janganlah kamu mengadakan PENYERUPAAN-PENYERUPAAN bagi Allah. Sesungguhnya Dia mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” [QS. Nn-Nahl : 74]

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah:”Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, (mengharamkan perbuatan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan argumentasi (dalil) untuk itu dan (mengharamkan perbuatan) BERKATA (ATAS NAMA) ALLAH DENGAN SESUATU YANG TIDAK KAMU KETAHUI (TIDAK DILANDASI DENGAN PENGETAHUAN YANG BENAR)” [QS. al-A’râf : 33]

 

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Maha Suci Rabb-mu Yang mempunyai keperkasaan dari apa-apa yang mereka sifatkan (kepada-Nya). [QS. Ash-Shaaffat : 80]

****

Jika pada tulisan sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa ma’rifatullah (mengenal Allah) dengan haq itu adalah suatu kenikmatan, keindahan, kelezatan, kecintaan, dan kebahagiaan yang tiada tara. Yang mana, ulama salaf pun sampai mengatakan bahwa ini adalah surga dunia.

Maka mari sekarang coba kita misalkan,

Apakah kita mau jika kita membangun suatu istana yang indah dengan tanpa merawat dan menjaganya? Yakni dengan membiarkan orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) dalam ma’rifatullah, merusak dan menghancurkan istana keilmuan dan pemahaman ma’rifatullah yang indah yang sedang kita bangun ini?

Setelah indah berdiri dengan selalu dibangun dan diperindah, untuk kemudian dirusak dan dihancurkan?

Maka dari itu,

Setelah Allah dengan rahmat-Nya memberikan kepada kita surga dunia ma’rifatullah dengan meng-khabarkan mengenai diri-Nya di dalam ayat-ayat Nya, Allah juga memerintahkan kita untuk menjaga dan melindunginya dengan menghindari dan menjauhi ilhad (penyimpangan) dalam ma’rifatullah.

Dua hal itu adalah dua sisi koin logam yang tak bisa terpisahkan….

Jangan hanya membangun dan memperindah saja, jaga dan lindungilah pula…. Hal ini sangatlah penting untuk kita fahami…

****

Sesungguhnya Syaihon akan senantiasa berusaha untuk menyesatkan manusia. Baik itu melalui “tipuan pintu keburukan”, ataupun melalui “tipuan pintu kebaikan” yang sedang dilalui oleh seorang manusia.

Bukankah telah sampai kepada kita kisah shohih riwayat Bukhari Muslim, bahwa pada zaman Rasulullah ada seseorang yang berniat untuk tidak akan menikah agar dia bisa fokus dalam “pintu kebaikan” ibadah, dan tidak terganggu dengan masalah rumah tangga?

Rasulullah pun ternyata “murka” kepada orang yang sedang berusaha untuk fokus terhadap “pintu kebaikan” itu. Rasulullah murka karena dia menempuhnya dengan cara yang bathil dan menyelisihi sunnah Rasulullah.

Demikianlah tipu daya Syaithon itu…

Jangan dikira Syaithon itu hanya bisa memberikan perangkap melalui pintu keburukan dan kemaksiatan saja.

Syaithon juga bisa, dan bahkan sangat bersemangat, memberikan perangkap yang sangat berbahaya melalui “pintu kebaikan”….. Dan itu juga termasuk dalam ma’rifatullah ini…..

Peringatan apakah yang lebih baik dari peringatan Allah kepada kita? Tipu daya syaithon ini telah Allah peringatkan dalam ayat-ayat yang telah kita sebutkan sebelumnya tadi….

Berikut adalah penjelasan kebatilan ilhad (penyelewengan) perangkap syaithon dalam ma’rifatullah….

****

Dalam dunia komputer dan teknologi informatika, ada suatu istilah yang berbunyi  (GIGO). Untuk sekedar analogi dan mempermudah pemahaman, “Garbage In, Gargabe Out” ini berlaku juga dalam tema bahasan ma’rifatullah kita ini.

Penyimpangan dan kesalahan dalam ma’rifatullah (mengenal Allah), umumnya didominasi karena berpalingnya manusia dari menetapi bimbingan wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta penjelasan para ulama Salaf, dalam mengenal Allah (Ma’rifatullah). Keberpalingan mereka dari bimbingan wahyu yang sangat terang benderang itu bisa karena berupa :

1. Ma’rifatullah dengan hanya berdasarkan pertimbangan perasaan semata tanpa mengindahkan wahyu.

2. Ma’rifatullah dengan hanya berdasarkan filsafat.

3. Ma’rifatullah dengan hanya berdasarkan khayalan, bisikan, atau mimpi yang kemudian disebut sebagai mukasyafah (tersingkapnya tabir).

4. Ma’rifatullah dengan hanya berdasarkan aturan dan penjelasan thoriqot Sufiyyah, yang bergantung kepada masyaikh atau pimpinannya. Yang mana masing-masing thoriqot itu memiliki tahapan, jalan, dan penjelasan yang berbeda-beda.

5. Ma’rifatullah dengan hanya berdasarkan igauan, sesuatu yang diklaim sebagai inspirasi, dan sekedar merangkai-rangkai dalil agar sesuai dengan keinginan, walaupun tidak sesuai dengan kaidah, bertentangan dengan dalil-dalil yang lain, dan tidak sesuai dengan penjelasan rasulullah dan para ulama Salaf.

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [QS. Az- Zukhruf : 36]

Inilah yang kita sebut sebagai “garbage in”.

****

Berasal dari input “Garbage In” ini, maka dia menghasilkan “Garbage Out” yang bertentangan dengan bimbingan wahyu Allah (Al-Qur’an) dalam pengkhabaran mengenai diri-Nya. Sehingga muncullah faham-faham ma’rifatullah bathil seperti :

1. Faham Wihdatul Wujud : Bersatunya Allah dan makhluq dalam wujud manusia.

2. Faham Ittihad atau Hulul : Menjadi satu dengan menitisnya Allah ke dalam makhluq-Nya

3. Faham Wihdatul Adyan : Bersatunya semua agama, karena dianggap masing-masing agama itu sebenarnya sama-sama memiliki tuhan yang sama. Atau ini lazim disebut sebagai Pluralisme.

4. Faham Pantheisme : Semua di dunia ini dianggap adalah Allah; atau bagian dari pancaran Allah; atau masing-masing segala sesuatu di dunia ini dianggap memiliki manifestasi ketuhanan dengan kadar yang berbeda-beda, yang mana sifat ketuhanan ini bisa disempurnakan, hingga seseorang bisa berubah menjadi tuhan jika telah mencapai kesempurnaan.

5. Faham Insan Kamil : Manusia yang sempurna adalah manusia yang bisa menyempurnakan kadar manifestasi ketuhanan yang ada pada dirinya, sehingga dia bisa menjadi tuhan jika telah sempurna. Dan kadar manifestasi ketuhanan ini hanya ada pada manusia saja, tidak makhluq yang lain. (sehingga agak sedikit berbeda dengan Pantheisme).

6. Faham Nur Muhammadiyyah : Faham yang menganggap seluruh alam semesta ini diciptakan karena adanya nabi Muhammad; atau menganggap yang diciptakan pertama kali adalah nur Muhammad (cahaya Muhammad), dan kemudian seluruh alam semesta ini diciptakan karena pengaruh nur Muhammad. Yang mana semuanya ini berasal dari hadits-hadits palsu yang diada-adakan.

Dan jika seseorang bisa menyempurnakan manifestasi kadar nur Muhammad yang ada di dalam dirinya, maka pada tingkatan tertinggi, dia bisa menjadi wali-wali dan wakil-wakil Tuhan yang memiliki sifat ketuhanan. Ini karena nur Muhammad itu dianggap diciptakan dan merupakan bagian dari cahaya Allah.

7. Faham Jahmiyyah dan Mu’tazilah : Faham yang menganggap Allah hanya memiliki nama-nama Asmaul Husna, tapi kosong dari makna dan sifat yang terkandung di dalamnya. Sehingga Allah mempunyai nama Al-Qowiy (Yang Maha Kuat) namun kosong dari makna dan sifat kuat yang ada di dalam nama itu.

8. Faham yang mentakwil sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah, yang Allah dan Rasul-Nya khabarkan melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shohih.

Mereka mentakwil dan memalingkan-Nya, hingga menjadi makna yang berbeda dari dzhohir makna bahasa Arab dari khabar yang Allah dan Rasul-Nya berikan.

Sedangkan Rasulullah, para Shahabat, dan para ulama salaf memberlakukan dan menetapkan khabar mengenai sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah itu apa adanya, sesuai dengan makna yang dimaklumi dalam bahasa Arab, dengan tidak menyamakannya dengan sifat dan perbuatan makhluq.

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan BAHASA ARAB YANG JELAS. [QS. Asy-Syu’araa : 192-195]

إِنَّا جَعَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). [QS. Az-Zukhruf : 3]

9. Faham Musyabbihah : Faham yang menyamakan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah dengan sifat-sifat dan perbuatan makhluq.

10. Faham bahwa Allah itu berada di mana-mana, dan bahkan berada di dalam diri kita atau hati kita. (Ini merupakan faham turunan dari Pantheisme, Insan Kamil, dan Nur Muhammadiyyah dalam versi yang ringan).

****

Faham-faham ma’rifatullah bathil ini berkonsekuensi menghancurkan sendi-sendi aqidah Islam yang haq; mengajak untuk berpaling dari menyembah kepada Rabb Pencipta saja, menjadi menyembah dan menkultuskan kepada makhluq yang dianggap mempunyai derajat ketuhanan; menuduh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam telah berdusta, karena tidak menyampaikan penjelasan Khabar-khabar mengenai Allah seperti yang diinginkan faham-faham ma’rifatullah yang bathil itu.

Padahal Rasulullah mempunyai tugas untuk menjelaskan dan menerangkan wahyu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepadanya. Sedangkan tema terbesar dan paling banyak yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah mengenai mengenal Allah (ma’rifatullah), baik itu melalui nama-nama Asmaul Husna Nya, Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya, Perbuatan-perbuatan Nya (Af’aliyyah nya), dan tanda-tanda kekuasaannya di langit dan di bumi beserta apa yang ada di dalamnya.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka ” [QS. AN-Nahl :44]

Maka bagaimana mungkin mereka menuduh Rasulullah berdusta, dan menganggap mereka lebih bisa menjelaskan khabar-khabar mengenai Allah dalam ma’rifatullah selain dari apa yang Rasulullah, para shahabat, dan para ulama Salaf jelaskan?

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” [HR. Bukhari-Muslim]

Inilah tipuan syaithan melalui perangkap “pintu ma’rifatullah”…

****

Dengan faham-faham ma’rifatullah bathil ini, maka akan tercabutlah kelezatan, kenikmatan, keindahan, kecintaan, dan kebahagiaan yang tiada tara dari ma’rifatullah yang haq.

Yakni ma’rifatullah haq yang mencukupkan diri dengan mengikuti khabar wahyu Al-Qur’an yang Allah turunkan sebagaimana apa adanya dalam bahasa Arab yang jelas, mengikuti keterangan dari sunnah Rasulullah yang shohih, yang hal itu sebagaimana yang dijadikan Aqidah yang didakwahkan oleh para Shahabat rodhiyalloohu ‘anhum dan para Ulama Salaf.

Dengan faham-faham ma’rifatullah bathil ini, maka akan tercabutlah kekhusyu’an, ketakutan, penghambaan diri, kepasrahan, ketawakallan, perendahan diri, penghinaan diri, peribadahan dan pengagungan serta pensucian kepada Allah Azza wa Jalla Yang Maha Menguasai dan berkuasa atas segala sesuatu. Yang mana seluruh makhluq membutuhkan rahmat, rezeki, dan kasih sayang-Nya; sedangkan Dia Maha Berdiri Sendiri (Al-Qoyyum) dan tidak membutuhkan apapun dari makhluq-Nya.

Faham-faham ma’rifatullah bathil ini sebenarnya hanyalah infiltrasi dan adopsi dari konsep hidup orang musyrik dan ummat beragama lain yang tidak mengenal Allah, dalam mengenal tuhan mereka.

Jika kita melihatnya dengan seksama, maka akan mudah bagi kita untuk mengetahuinya.

****

Adapun ma’rifatullah yang haq mengenai Allah adalah,

KEBERADAAN ALLAH

Allah telah mengkhabarkan mengenai diri-Nya sendiri, bahwa Dia mempunyai nama dan sifat Yang Maha Tinggi. Allah telah mengkhabarkan mengenai diri-Nya sendiri, bahwa Dia berada di atas langit, bersemayam di atas Arys-Nya (Singasana-Nya) dengan cara yang sesuai dengan sifat dan nama Nya Yang Maha Suci, Maha Terpuji, dan sempurna.
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

“Sucikanlah Nama Rabb-mu Yang Mahatinggi.” [Al-A’laa: 1]
نْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersamamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang.” [Al-Mulk: 16]

 

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Maka, Mahatinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” [Al-Mu’-minuun: 116]
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaahaa: 5]

 

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ، يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia beristiwaa’ (tinggi berada) di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hadid: 4)

Allah tidak bersatu dengan makhluq-Nya, dan Allah dekat serta bersama dengan Makhluq-Nya dengan sifat kedekatan dn kebersamaan yang sesuai dengan kemuliaan, kesucian, dan keagungan Allah.

Allah berada di atas, istiwa (bersemayam) di atas Arys-Nya, sedangkan ilmu-Nya berada dimana-mana serta meliputi segala sesuatu. Allah adalah As-Samii’ (Yang Maha Mendengar) yang mendengar seluruh do’a hamba-Nya. Dan Allah adalah Al-‘Aliim dan Al Khobiir (Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Mengenal/Mengetahui hal yang tersembunyi). Allah adalah Asy-Syahiid (Yang Maha Menyaksikan) dan Ar-Raqiib (Yang Maha Mengawasi).

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي ‎وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.“ (QS. al-Baqarah: 186)

Dari Muawiyyah bin al-Hakam as-Sulami Radhiyallahu ‘anhu ia berkata.

“Aku memiliki sekawanan kambing yang berada diantara gunung Uhud dan Jawwaniyah, disana ada seorang budak wanita. Suatu hari aku memeriksa kambing-kambing itu, tiba-tiba aku dapati bahwa seekor serigala telah membawa (memangsa) salah satu diantara kambing-kambing itu, sementara aku seorang manusia biasa, aku menyesalinya, lalu aku menampar wanita itu. Kemudian kudatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian tersebut kepadanya, beliaupun membesarkan peristiwa itu atasku, maka kukatakan (kepadanya) :

‘Wahai Rasulullah, tidakkah (lebih baik) aku memerdekakannya?’

Beliau berkata : ‘Panggillah ia!’

Lalu aku memanggilnya, maka beliau berkata kepadanya : ‘Dimana Allah?’

Wanita itu menjawab : ‘Diatas’.

Beliau bertanya lagi : ‘Siapakah aku?’

Ia menjawab : ‘Engkau adalah rasulullah (utusan Allah)!’

Beliau berkata : ‘Bebaskanlah (merdekakanlah dia)! karena sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman’.”

[Ahmad V/447, Muslim No. 537]

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Ketahuilah bahwasanya yang menciptakan itu sangat mengetahui. Dan Dia adalah yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui (Al-Khobir).” (QS. Al-Mulk: 14)

KETERPUJIAN DAN KESEMPURNAAN ALLAH SEJAK AWAL, KARENA ALLAH ADALAH AL-AWWAL DAN TIDAK ADA SESUATU PUN SEBELUM-NYA

Allah telah mengkhabarkan bahwa dia adalah Al-Awwal (Yang Maha Awwal), yang sempurna secara absolut dari awalnya. Dia lah yang sempurna Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya (Af’al-Nya) yang bersumber dari kesempurnaan-Nya sejak dari awal-Nya. Dia sempurna lalu berbuat.
هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلأَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Allah, Al-Awwal (Yang Pertama) dan Al-Akhir (Yang Akhir), Azh-Zhahir (Yang paling atas/zhahir) dan Al-Bathin (Yang paling bathin). Dan Dia ‘Aliim (Maha mengetahui) terhadap segala sesuatu. [Al-Hadid : 3]

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengajarkan sebuah doa tidur, yang penggalannya sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ

Ya Allah, Engkau adalah Al-Awwal (Yang pertama), maka tidak ada sesuatupun sebelum-Mu. Engkau adalah Al-Akhir (Yang akhir), maka tidak ada sesuatupun yang sesudah-Mu. Engkau adalah Azh-Zhahir (Yang paling atas), maka tidak ada sesuatupun yang ada di atas-Mu. Dan Engkau adalah Al-Bathin (Yang paling Bathin), maka tidak ada sesuatupun yang lebih lembut/lebih bathin daripada-Mu.

[HR. Muslim, Kitab adz-dzikri wa ad-du’a, Bab Maa Yaquulu ‘Inda an-Naum wa Akhdzi al-Madh-ja’.]

Sedangkan makhluq-Nya pada asalnya tidak sempurna, lemah, mempunyai kekurangan, dan juga melakukan perbuatan tidak sempurna. Lalu berusaha menyempurnakannya, dengan kesempurnaan yang pantas bagi kadar makhluq.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” [QS. Asy-Syams : 7-10]

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia itu diciptakan dalam keadaan/bersifat lemah” [QS. An-Nisaa’ : 28]

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” [QS. Al-Ma’aarij : 19]

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” [QS. Al-Ahzab : 72]

 

Allah mempunyai nama Al-‘Aliim (Yang Maha Mengetahui) dengan bersifat Maha Mengetahui secara sempurna, mutlak, terpuji, dan indah sejak dari awalnya karena Allah juga memiliki nama Al-Awwal (Yang Maha awal). Dan Maha Suci Allah dari ‘Aliim (mengetahui) setelah sebelumnya Jahil (bodoh dan tidak mengetahui) sebagaimana halnya manusia.

Allah bernama Al-Qowiy (Yang Maha Kuat) yang bersifat Maha Kuat secara sempurna, mutlak, terpuji, dan indah sejak dari awalnya. Maha Suci Allah dari menjadi kuat setelah sebelumnya bersifat lemah sebagaimana halnya manusia.

Allah bernama Al-Qodiir (Yang Maha berkuasa) yang bersifat Maha Berkuasa secara sempurna, mutlak, terpuji, dan indah sejak dari awalnya. Maha Suci Allah dari menjadi berkuasa setelah berhasil mengalahkan penguasa sebelumnya sebagaimana halnya manusia.

Dan demikianlah pula untuk nama-nama Asmaul Husna Allah, dzat-Nya, sifat-sifat Nya, dan segala perbuatan-perbuatan-Nya.

Hal ini penting,

karena perhatikanlah bahwasanya semua ma’rifatullah yang bathil itu berasal aqidah makhluq yang dipertuhankan, atau makhluq yang tidak sempurna yang berusaha untuk menyempurnakan dirinya dan mendapatkan pencerahan hingga menjadi tuhan. Yang mana hal ini bersumber dari konsep-konsep orang-orang musyrik, atau ummat beragama lain dalam mengenal tuhan mereka.

Perhatikanlah semua kisah, konsep, keterangan dari pandangan hidup orang musyrik dan ummat beragama lain dalam mengenal tuhan mereka. Akan selalu ada ciri khas “pola makhluq” yang berulang, yakni yang asalnya tidak sempurna, lemah, mempunyai kekurangan, dan juga melakukan perbuatan dengan tidak sempurna; lalu berusaha untuk menyempurnakannya. Hingga katakanlah sampai mencapai kesempurnaan dan mendapatkan “pencerahan”, hingga mendapatkan derajat dewa atau tuhan.

Inilah infiltrasi dan adopsi aqidah musyrikin dan ummat beragama lain, yang dimasukkan kedalam ma’rifatullah yang bathil ini. Dan memang tugas dari Syaithon untuk kemudian menghias-hiasi kebathilan ini agar tampak manis dan indah, dengan mengatasnamakan ma’rifatullah.

 

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. [QS. An-Nisaa : 120]

 

KEBATHILAN KADAR KETUHANAN YANG BISA DITINGKATKAN YANG DIAKU-AKU

Allah telah membantah adanya manifestasi kadar ketuhanan terhadap Nabi Isa ‘alaihis salaam, sedangkan dia adalah nabi Ulul ‘Azmi yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah, dan juga merupakan ruuhullah (ruh yang ditiupkan dari Allah) dan kalimatullah (yang diciptakan dari kalimat-Nya).

 

إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

“Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” [QS. An-Nisaa : 171]

 

{لقدكفر الذين قالوا إن الله هو المسيح ابن مريم وقال المسيح يا بني إسرائيل اعبدوا اللهربي وربكم إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجن ومأواه النار وما للظالمين منأنصار. لقد كفر الذين قالوا إن الله ثالـث ثلاثة وما من إله إلا إله واحد وإن لم ينتهواعما يقولون ليمسن الذين كفروا منهم عذاب أليم}

Artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam’, padahal Al Masih (sendiri )berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS. Al Maidah: 72-73)

 

Oleh karena itu, merupakan aqidah yang bathil jika manusia ataupun makhluq ciptaan lainnya di alam semesta ini, yang lebih rendah derajatnya dibandingkan nabi Isa alaihis salaam, dianggap juga mempunyai manifestasi kadar ketuhanan yang berbeda-beda, yang mempunyai potensi untuk ditingkatkan dan disempurnakan.

Hatta terhadap nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam sekalipun!

Karena telah shohih bahwa beliau menolak untuk dianggap dengan anggapan berlebih-lebihan sebagaimana sebagian Ahlul Kitab memandang Nabi Isa (Yesus) ‘alaihis salaam.

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku seperti dilakukan Nashara terhadap Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka ucapkanlah oleh kalian: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. Al-Bukhari]
Sesungguhnya para nabi tidak pernah mendakwahkan dan mengenalkan Allah, dengan mengatakan bahwa di dalam diri manusia itu ada kadar manifestasi ketuhanan. Akan tetapi para Nabi selalu mendakwahkan bahwa manusia itu adalah makhluq ciptaan Allah, yang merupakan hamba Allah, dan mempunyai kewajiban untuk beribadah dan menyembah hanya kepada Allah semata.
Aqidah bahwa dalam diri manusia dan makhluq itu ada manifestasi ketuhanan, sebenarnya adalah bantahan dari Fir’aun laknatullah kepada dakwah para nabi yang haq dalam memperkenalkan Allah kepadanya. Hal ini terutama kepada nabi Musa ‘Alaihis salaam, yang berdakwah mengajak ma’rifatullah yang haq kepada Fir’aun Laknatullah ‘alaih.
Fir’aun berkata sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Qur’an :
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
(Seraya Fir’aun) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. [QS. An Naazi’aat : 24]
Namun ironisnya,
memang sudah jadi tugas syaithon untuk mengadopsi aqidah fir’aunisme ini, menjelaskannya dengan tipuan tahapan-tahapan yang harus dilalui, mempermanisnya, membuat syubhat-syubhat, serta memperindah kebathilan ini, hingga aqidah fir’aunisme ini bisa disebut sebagai ma’rifatullah.
Manusia itu semakin tinggi tingkatannya itu, maka dia akan menjadi semakin bertaqwa. Semakin mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya serta semakin menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Menjadi Muttaqiin (orang yang bertaqwa), dan bukan menjadi tuhan!
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui (Al-‘Aliim) lagi Maha Mengenal (Al-Khobiir). [QS. Al-Hujuraat : 13]

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,

فمن كان بالله وبأسمائه وصفاته وأفعاله وأحكامه أعلم كان له أخشى وأتقى، إنما تنقص الخشية والتقوى بحسب نقص المعرفة بالله

“Maka siapa yang lebih berilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya & hukum-hukum-Nya, niscaya ia lebih takut & lebih takwa kepadaNya. Hanyalah berkurang takut & takwa sesuai dengan kurangnya pengenalan terhadap Allah.” [Fathul Baari libni Rajab, 1/82

PENGIKUT SUNNAH RASULULLAH DALAM MA’RIFATULLAH

Ahlus Sunnah yang mengikuti Sunnah rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan penjelasan para shahabat rodhiyalloohu ‘anhum beserta para ulama salaf; menerima, mengimani, dan menetapkan semua Khabar mengenai Allah apa adanya sesuai dengan yang ditunjukkan oleh wahyu dengan tanpa :

1. Men-takwil-kannya : Memalingkan suatu makna ke makna lain, dengan makna yang tidak sesuai dari makna yang ditunjukkan dalam lafal aslinya dari pemahaman bahasa Arab yang jelas.

2. Men-ta’thil-kannya : Meniadakan atau menolaknya.

3. Men-tasybih-kannya : Menyerupakan atau mempersamakannya dengan makhluq

4. Men-takyif-kannya : Mempertanyakan bagaimananya dengan membayangkan atau mengilustrasikannya sama seperti makhluq-Nya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)

Ahlus sunnah mengimani itu semua dan dari situlah ma’rifatullah yang haq berasal.

Dan dari situlah; dengan mengilmui, mengimani, dan mentadabburi-nya sesuai dengan keterangan wahyu Al-Qur’an dan hadits yang Shohih; Ahlul Sunnah mendapatkan kecintaan, keindahan, kebahagiaan, kelezatan, kekhusyu’an, ketakutan (kepada Allah), penghambaan diri, kepasrahan, ketawakalan, perendahan diri, penghinaan diri, peribadahan dan pengagungan serta pensucian kepada Allah Azza wa Jalla.

Baarokalloohu fiik

Advertisements

Pengenalan dan Ilmu yang Benar Dalam Ma’rifatulloh (Mengenal Allah) itu adalah Surga Dunia

Leave a comment

Setelah kita mengetahui, bahwa Allah dengan Rahmat-Nya telah memberikan kita ilmu untuk mengenal-Nya, melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi-Nya.

Setelah kita mengetahui, bahwa tema dan ilmu yang terbanyak yang disebutkan di dalam wahyu Al-Qur’an adalah berkaitan mengenai pengkhabaran dan pengenalan Allah mengenai Diri-Nya.

Baik itu yang berkaitan dengan nama-nama Nya yang indah (Asmaul Husna), dzat-Nya, Sifat-sifat Nya, Perbuatan-perbuatan Nya (af’aliyyah), dan tanda tanda kekuasaan Nya di langit dan di bumi serta bukti penciptaan alam semesta.

Dan juga setelah kita mengetahui bahwa rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, selaku penyampai wahyu yang paling utama, telah menyampaikan dan menerangkan wahyu Al-Qur’an serta ilmu mengenai pengenalan kita terhadap Allah (Ma’rifatulloh). Mengenai hal hal yang menyangkut Aqidah dan keimanan kita kepada Allah. Dan termasuk juga adab adab dan kewajiban kita selalu makhluq dan hamba terhadap Allah Rabbul ‘Alamin, Pencipta dan pemelihara diri kita beserta alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Maka setelah kita mengetahui itu semuanya, penting bagi kita untuk menyempurnakan keilmuan kita dalam mengenal Allah (Ma’rifatulloh) dengan cara yang benar yakni dengan :

  1. Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an,
  2. Berdasarkan penjelasan Sunnah atau Hadits yang shohih,
  3. Dan bimbingan atsar serta kitab para ulama salaf yang menetapi jalan sunnah Nabi-nya.

Keilmuan yang disempurnakan ini akan melahirkan keindahan, kecintaan, dan kelezatan bagi kita dalam mengenal Allah serta dalam menjalani kehidupan dunia.

Orang yang tidak mengenal Allah dengan benar, atau yang mengenal Allah hanya untuk sekedarnya saja serta tidak ada keinginan untuk menuntut ilmu didalam nya, maka dia tidak akan bisa merasakan keindahan, kecintaan, dan kelezatan ini.

Bahkan inilah yang disebut oleh para ulama sebagai SURGA DUNIA.
Sungguh, kenikmatan dalam mengenal Allah dengan berdasarkan Ilmu dan bimbingan wahyu adalah suatu nikmat yang sangat patut untuk diperjuangkan!

Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam kitab nya Al Jawaabul Kaafi, sebagaimana yang dikutip oleh Syaikh Abdurrozzaaq Hafidzahulloh dalam kitab Nya Fiqh Asmaul Husna, menuliskan perkataan ulama salaf :

“Sungguh merugi, orang yang hidup di dunia kemudian keluar darinya, tetapi tidak merasakan kelezatan di dalamnya. ”

Kemudian dia ditanya,” Apa kelezatan di dalamnya? ”

Dia berkata,” Mengenal Allah, mencintai, selalu dekat dan rindu kepada-Nya ”

****
Maka dari itu wahai saudara ku, tamak dan rakuslah dalam ilmu ini. Bersemangat lah dalam menuntut ilmu ini. Allah dan Rasul-Nya sudah memberikan kita banyak sekali kita bekal ilmu dan bimbingan wahyu, untuk mencapai dan mendaki puncak keindahan dan kelezatan ini.

Hampir setiap kali ketika kita membaca Al-Qur’an, kita akan mendapatkan ilmu mengenai hal ini. Maka dari itu bacalah dengan seksama.

Janganlah kita seperti pencari permata yang berjalan melewati jalanan yang penuh berserakan dengan permata dimana mana, tanpa mengetahui apa apa yang dilewatinya itu ketika membaca Al-Qur’an.

Raihlah surga dunia ini, karena inilah juga salah satu kunci yang paling utama dalam meraih surga akherat!.

Baarokalloohu fiik

Nama Nama Allah Yang Memiliki Makna Yang Dekat, Namun Berbeda Lafal

Leave a comment

Ketika saya membaca “Fiqh Asmaul Husna” tulisan Syaikh Abdurrazzaaq Al-‘Abbad dan “Syarh Asma’ wa Shifat” tulisan Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qohthony, saya menemukan adanya suatu metode penyusunan yang hampir sama yang ditulis oleh beliau berdua.

Mereka berdua mengumpulkan nama nama Asmaul Husna Allah yang memiliki makna yang berdekatan, namun berbeda lafal nya.

Misal : Al Qodiir, Al Qoodir, dan Al Muqtadir yang sama sama memiliki makna Yang Maha Berkuasa.

Perbedaan bentuk lafalnya secara bahasa Arab memang akan memberikan penekanan pemahaman pada sisi yang sedikit berbeda, namun bentuk dasar dan makna umumnya sama.

Sama juga dengan Asmaul Husna Allah seperti : Al ‘Aliy, Al A’laa, Al Muta’aali yang sama sama bermakna Yang Maha Tinggi.

Pertanyaannya sekarang, faidah apa yang bisa kita ambil dari beberapa Asmaul Husna yang memiliki makna yang hampir sama ini ?

Dan ini cukup banyak….

Hal ini tidak lain karena dua hal :
1. Untuk menunjukkan kesempurnaan, keterpujian, dan keindahan nama dan sifat Allah dari berbagai sisi, untuk suatu pembahasan yang identik, yang mana masing masing sisi itu merupakan nama dan sifat Allah juga.

2. Untuk memperkaya, memperluas, dan memperkuat pemahaman kita akan nama dan sifat Allah pada berbagai sisi untuk makna yang sama atau berdekatan.

****

Dalam aplikasinya,
misal dengan mengetahui dan mengilmui bahwa Allah memiliki beberapa Asmaul Husna yang bermakna Yang Maha Berkuasa (Al Qodiir, Al Qoodir, Al Muqtadir) dan Yang Maha Memberikan Rezeki (Ar Rozzaaq dan Ar Rooziq)

Maka tidak pantas bagi kita untuk berputus asa dalam menghadapi masalah dan berputus asa dalam meminta tolong kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Memberikan Rezeki.

Hal itu sangat ringan di sisi Allah, maka dari itu jangan kita putus asa dalam berusaha dan berdoa kepada Nya.

Sembari juga tetap bertawakal dan berprasangka baik kepada Allah, karena Allah juga memiliki nama Al Hakiim dan Al Haakim yang identik dan bermakna, Yang Maha Bijaksana dan Maha Pemutus Perkara.

Dan demikian seterusnya.

Wallaahu A’lam

Pentingnya Memahami Pengkhabaran Allah Mengenai Diri-Nya Kepada Diri Kita

Leave a comment

Setelah sebelumnya kita memahami, bahwa Allah tidak bersifat dzolim menelantarkan diri kita, dengan hanya meninggalkan akal sebagai bekal bagi manusia untuk memahami dan mencari Diri-Nya, tanpa adanya bimbingan ilahi dari Diri-Nya.

Sebagaimana inilah pemahaman salah, yang umumnya dianut oleh pemuja filsafat.

Melainkan Allah dengan rahmat Nya, juga membimbing manusia dengan wahyu yang diturunkan Nya, dan penjelasan para nabi dalam menyampaikan wahyu-Nya, untuk mengenal-Nya.
****
Maka setelah kita memahami ini, berikutnya perlu juga kita memahami bahwa di dalam Al-Qur’an bimbingan wahyu Allah untuk mengenali Diri-Nya (Ma’rifatullah), menempati porsi paling banyak dibandingkan dengan topik topik lain yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Penyebutan dan perhatian dalam masalah ini jauh lebih banyak dan jauh lebih mendominasi dibandingkan topik lain seperti masalah sholat, puasa, zakat, haji, perang, makanan, minuman, nikah, dan kebutuhan kebutuhan hidup manusia yang lain.

Baik itu ayat ayat Al-Qur’an yang menyebutkan masalah ini dalam bentuk :
1. Ayat ayat yang menyebutkan mengenai nama nama Nya yang Indah (Asmaul Husna), sebagai identitas ilahiyyah yang hanya pantas disandang oleh-Nya.

2. Ayat ayat yang menyebutkan mengenai sifat sifat Nya yang Maha Terpuji, Maha Sempurna, Maha Mulia, dan Maha Agung yang hanya pantas disandang oleh Diri-Nya.

3. Ayat ayat yang menyebutkan mengenai perbuatan perbuatan Nya (Af’aliyyah) yang Maha terpuji, Agung, mulia, hikmah, dan sempurna; yang semua perbuatan ini muncul dan berasal dari nama dan sifat Nya yang Maha Indah, Sempurna, Mulia, dan Agung.

4. Ayat ayat yang menyebutkan mengenai Diri-Nya, dengan cara pengkhabaran mengenai Diri-Nya melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya yang diperlihatkan kepada manusia. Baik itu tanda kekuasaan Nya yang ada di langit dan di bumi. Dan bahkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang ada pada diri tubuh manusia itu sendiri.
*****
Hal ini membuktikan bahwa ilmu dan urgensitas dalam mengenal Allah (Ma’rifatullah) DENGAN BENAR, menempati kedudukan yang paling tinggi dalam agama ini.

Baik itu ilmu yang berkaitan dengan mengenal dan mengenai Allah (Ma’rifatullah) melalui Asmaul Husna Nya, melalui Sifat-sifat Nya, melalui Perbuatan-perbuatan Nya, dan melalui khabar mengenai Diri-Nya beserta tanda tanda kekuasaan-Nya.

Oleh karena itu, sudah seharusnya urgensitas dan prioritas kita untuk memahami hal ini DENGAN BENAR, harus menempati posisi yang paling utama.

Ini karena masalah ini berhubungan langsung dengan masalah aqidah, dan berhubungan langsung juga dengan buah keimanan kita.

Baik itu buah keimanan seperti halnya tawakal, ikhlas, sabar, qona’ah, istiqomah, dan lain lain yang sangat kita perlukan dalam hidup kita ini.
***

Tidak mungkin tawakal, sabar, ikhlas, dan buah buah keimanan kita akan menjadi benar dan sempurna, jika pengenalan diri kita kepada Allah (Ma’rifatullah) SALAH DAN TIDAK BENAR .

Dan juga, hendaklah kita memahami, bahwa dengan semakin bertambahnya keilmuan kita dalam mengenali Allah (Ma’rifatullah), semakin bertambahnya keilmuan kita dalam TAUHID ASMA’ WA SHIFAT (atau tauhidul ‘ilm wal itsbat wal ma’ rifah), maka akan semakin sempurna juga buah buah keimanan kita.

Baik itu buah keimanan yang berupa keikhlasan, tawakal, sabar, qona’ah, syukur, dan lain lain. Buah keimanan itu akan semakin sempurna, semakin besar, dan semakin ranum buah nya….

Oleh karena itu, rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai orang yang paling sempurna dalam mengenali Allah (Ma’rifatullah) dan tauhid asma’ wa shifat nya, beliaulah orang yang paling sempurna kesabarannya, paling sempurna ketawakkalannya, paling sempurna kebersyukurannya, dan paling sempurna buah buah keimanannya yang lain.

Tidak mungkin orang bisa bertawakal dan bersabar dengan benar; jika dia tidak mengilmui, memahami, dan meyakini bahwa Allah lah yang akan membelanya. Allah lah yang menjaminnya. Allah lah yang menjaganya. Dan Allah lah yang memberikan rizqy kepadanya.

Yang mana hal ini sebagai konsekuensi dan kepastian dari nama nama Nya yang Indah dan sifat sifat Nya yang sempurna.

Allah adalah Al-Waliy yang Maha Melindungi dan Menjaganya. Allah adalah Ar Rozzaaq yang Maha Menjamin dan Memberikan rizqy kepada makhluk-makhluq ciptaan Nya. Dan demikian seterusnya untuk nama nama dan sifat sifat Allah yang lain, yang Maha Sempurna dan Maha Terpuji.

Yang mana pengetahuan dan ilmu kita akan hal ini, akan ikut menyempurnakan buah buah keimanan kita juga…

Semoga ini bisa memberikan gambaran bagi kita akan pentingnya dan tinggi nya kedudukan ilmu dalam mengenali Allah dengan benar (Ma’rifatullah).

Yakni mengenali dan meng-ilmui mengenai Allah, sesuai dengan bimbingan wahyu yang Allah turunkan (Al-Qur’an), agar manusia bisa mengenali dan meng-ilmui mengenai Diri-Nya.

Dan juga sesuai dengan penjelasan rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selaku pengemban wahyu dan penyampai wahyu yang paling utama, melalui hadits hadits dan sunnah sunnah nya.

Baarokalloohu fiik

Makna Nama Allah, Al-Waduud

Leave a comment

Quote :

“Di antara kandungan makna nama Allah, Al-Waduud (Maha Mencintai dan dicintai hamba-hamba-Nya yang shaleh) adalah bahwa,

Dialah yang memberi taufik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kepada SEBAB-SEBAB yang memudahkan mereka untuk mencintai-Nya, bahkan menjadikan-Nya lebih mereka cintai dari segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di berkata :

“Karunia/kebaikan semua kembali kepada Allah, karena Dialah yang memudahkan segala sebab untuk menjadikan hamba-hamba-Nya cinta kepada-Nya, Dialah yang mengajak dan menarik hati mereka untuk mencintai-Nya.

Dialah yang mengajak hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya dengan menyebutkan (dalam al-Qur’an) sifat-sifat-Nya yang Maha luas, agung, dan indah, yang ini semua akan menarik hati-hati yang suci dan jiwa-jiwa yang lurus.

Karena sesungguhnya hati dan jiwa yang bersih secara fitrah akan mencintai (sifat-sifat) kesempurnaan “”

[Puncak Kemaha Indahan Asmaul Husna, Abdullah Taslim al Buthani, hal 33]

Tambahan :

Allah telah menunjukkan sebab-sebab dan cara-cara untuk mencintai Nya yang benar, sebagai konsekuensi dari makna Asmaul Husna Nya Al-Waduud.

Oleh karena itu cintailah Allah dengan sebab sebab, cara cara, dan pemahaman yang benar!

Jangan sampai kita tidak dicintai Allah dan bahkan justru dimurkai oleh Nya, karena kita menempuh cara dan sebab yang tidak dibenarkan syariat Allah dalam menggapai cinta Nya.

Berhati hati lah terhadap perangkap dan talbis iblis yang mengatasnamakan cinta. Sudah cukup banyak korbannya, bahkan hingga yang sampai bersikap “Kurang Ajar” terhadap Allah dengan mengatas namakan cinta.

Kasih Sayang Dalam Fiqh

Leave a comment

Kita belajar fiqh itu hendaklah semata untuk meng hukumi sesuatu, bukan untuk semata menghakimi seseorang.

Kita menghakimi seseorang hendaklah juga dengan melihat udzur dan kondisinya, bukan semata dengan melihat kesalahannya.

Bergaul Dengan Manusia

Leave a comment

Manusia itu ada yang seperti makanan yang kita butuhkan setiap hari. Bergaul dengannya merupakan kebutuhan bagi kita. Lama berpisah akan memberikan madhorot bagi kita. Hal ini seperti misal : keluarga, pasangan (suami/istri), anak, dan teman yang sholih.

Manusia itu juga ada yang seperti vitamin dan suplement.
Kita bisa mendapatkan banyak keutamaan bergaul dengannya. Namun jikalaupun kita tidak mendapatinya, hal itu tidak akan memberikan madhorot kepada kita.

Manusia itu ada yang seperti obat. Yang sangat kita butuhkan ketika sakit, dan kita simpan erat2 di dalam hati kita manfaatnya ketika kita sehat.

Manusia itu ada yang seperti penyakit. Bergaul dengannya akan berpotensi menyebabkan penyakit sama seperti dia, dan memadhorotkan kita cepat atau lambat. Berhati-hati dan menjaga diri ketika bergaul dengannya itu adalah suatu kewajiban.

Manusia itu juga ada yang seperti racun. Apa yang dia inginkan hanyalah kehancuran dan kebinasaan bagi diri kita. Menjauh darinya adalah suatu kewajiban.

Older Entries