وَالسَّلٰمُ عَلَىَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“And peace is on me the day I was born and the day I will die and the day I am raised alive.” (Qs. Maryam : 33)

Orang yang berdalil dengan QS Maryam ayat 33 sebenarnya adalah pendalilan qiyas ma’al fariq, Qiyas yang bersama di dalamnya terdapat kerusakan atau kesalahan.

PERTAMA :
di ayat ini digunakan kata kata fi’il madhi (past tense) yakni di kata kata wulidtu ( وُلِدتُّ aku dilahirkan), ini memberikan faedah bahwa ucapan selamat itu hanya sekali saja terjadi pada masa lampau ketika lahir. Bukan terus menerus ketika datang hari kelahirannya yang berulang setiap tahunnya.

KEDUA :
Perkataan ini diucapkan oleh nabi isa alaihis salaam ketika masih bayi habis lahir, dan merupakan mukjizat beliau. Dan tidak pernah ketika nabi isa sudah besar dan lancar berbicara, maka tiap tahun pada hari kelahirannya dia mengucapkan kata kata seperti ketika masih bayi, atau mengucapkan selamat, atau merayakannya, atau memperingati nya.

Baik itu dari kisah kisah israilliyyat, hadits hadits nabi, ataupun Bible perjanjian baru, sekalipun tidak pernah menyebutkan hal ini.

KETIGA :
Bahkan Maryam ibu dari nabi Isa, Nabi Zakaria yang mengasuh Maryam sebelumnya, dan juga nabi Yahya (Yohannes) yang membaptis (mengurapi) nabi Isa di sungai Jordan, juga tidak pernah mengucapkan selamat tiap hari kelahiran nabi isa, atau merayakannya, ataupun memperingatinya.

Baik itu kisah-kisah israilliyyat, hadits hadits nabi, ataupun Bible perjanjian baru, tidak pernah menyebutkan hal ini sekalipun

KEEMPAT :
Nabi muhammad dan para shahabat menjumpai orang orang nashrani, bahkan sebagian shahabat nabi adalah mantan orang nashrani seperti Adi bin Hatim dan Salman Al Farisi, namun rasulullah dan para shahabat tidak pernah mengucapkan selamat tiap hari kelahiran nabi Isa, atau merayakannya, ataupun memperingatinya.

Hal ini berbeda dengan sikap nabi muhammad ketika hari diselamatkan nabi musa dari kejaran firaun yang diperingati oleh orang orang yahudi dengan berpuasa pada hari itu (hari asyuro).

Maka rasulullah berkata bahwa umat islam lebih berhak terhadap nabi musa dibandingkan orang yahudi, sehingga rasulullah pun berpuasa sunnah pada hari asyuro dan memberikan tambahan hari pada sebelum atau sesudah nya untuk menyelisihi orang yahudi.

Hal ini membuktikan bahwa upacara dan selamat atas kelahiran nabi isa itu hanya mengada ada saja, yang dilakukan oleh orang nashrani dan tidak diakui secara syariat akan kebenarannya. Hal ini berbeda dengan puasa hari asyuro yang dilakukan oleh orang yahudi yang diakui juga oleh Islam, dan ditetapkan oleh syariat akan ke sunnah annya

KELIMA :

QS. Maryam ayat 33 di atas sebenarnya tidak boleh dipotong pemahamannya, dan harus difahami secara komprehensif dengan QS Maryam pada ayat 29-30 sebelumnya.

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

Then she (Maryam) pointed to him. They said: “How can we talk to one who is a child in the cradle?[]” (29) “He [‘Īsā (Jesus)] said: Verily! I am a slave of Allâh, He has given me the Scripture and made me a Prophet;[]” (30) [QS. Maryam : 29-30]

Dalam terjemahan bahasa Indonesia :

“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, [QS. Maryam : 29-30]

Pemahaman dari QS. Maryam : 29-30 dan QS. Maryam : 33 itu adalah, QS. Maryam : 29-30 ini menerangkan jati diri Nabi Isa (Yesus) yang dimaksud dalam QS. Maryam : 33. Ini adalah syaratnya dalam memahami QS. Maryam : 33 tersebut.

Apakah yang dimaksud itu adalah Nabi Isa (Yesus) yang merupakan manusia biasa, hamba Allah (Abdulah), dan nabi Allah semata? Bukan anak Tuhan Allah, bukan perwujudan Tuhan Allah guna menebus dosa manusia di tiang salib, dan bukan salah satu oknum dari tiga oknum yang menjadi satu (aqidah trinitas)?

Ataukah yang dimaksud itu adalah Nabi Isa (Yesus) yang diaku-aku oleh Nashrani sebagai anak Tuhan Allah, atau perwujudan Tuhan Allah guna menebus dosa manusia di tiang salib, atau salah satu oknum dari tiga oknum yang menjadi satu (aqidah trinitas)?

Jika jati diri nabi Isa (Yesus) yang dimaksud dalam QS. Maryam : 33 itu adalah Nabi Isa (Yesus) yang merupakan manusia biasa, hamba Allah (Abdulah), dan nabi Allah semata, yakni sesuai aqidah dan pemahaman Islam. Maka berlakulah penjelasan empat point yang telah kita sebutkan sebelumnya.

Jika jati diri nabi Isa (Yesus) yang dimaksud dalam QS. Maryam : 33 itu adalah Nabi Isa (Yesus) yang diaku-aku oleh Nashrani sebagai anak Tuhan Allah, atau perwujudan Tuhan Allah guna menebus dosa manusia di tiang salib, atau salah satu oknum dari tiga oknum yang menjadi satu (aqidah trinitas). Maka berlaku juga empat point penjelasan di atas, dan ditambah ancaman yang sangat tegas dari Allah akan keharamannya untuk mengakui dan mengucapkan kata-kata berkenaan dengan hari lahirnya “anak Allah yang bernama Isa (Yesus)”.

Bahkan ayat-ayat ancaman ini juga ditulis sendiri dalam rangkaian ayat QS. Maryam yang sedang kita bahas ini.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92)

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92)

Hal ini juga dikuatkan ancamannya pada Firman Allah yang lain, yang langsung membantah dan mengingkari aqidah Nashrani mengenai Nabi Isa (Yesus) tersebut.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS. Al Maidah: 72-75).

Jika mengucapkan selamat atas kelahiran nabi Isa, atau perayaan kelahiran nabi Isa, dengan pemahaman jati diri Nabi Isa (Yesus) yang sesuai dengan aqidah Islam saja tidak disyariatkan. Sedang Islam sudah sempurna dan kita dilarang untuk menambah-nambahi saja, sehingga hukumnya harom menambah-nambah aturan syariat.

عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak (H.R alBukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.

Maka apalagi terhadap kelahiran Nabi Isa (Natal) dengan pemahaman jati diri Nabi Isa (Yesus) yang diyakini oleh kaum Nashrani dengan Trinitas-nya. Maka ini tentu jauh lebih haram, lebih terlarang, dan ini adalah penentangan terhadap ayat-ayat Allah.

KEENAM :

Mungkin jika ada yang berdalih, ini hanya sekedar ucapan saja dan kami tidak meyakininya seperti keyakinan yang batil itu. Maka kita sampaikan kepadanya nasehat Rasulullah berikut ini,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)

Lisan itu memang pedang bermata dua. Selain bisa mencelakakan kita, lisan yang ringan dalam perkara yang haq juga bisa sangat bermanfaat mengangkat derajat kita.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu.” (HR. Bukhari)

Jangan juga beralasan karena “Nggak enak”…. Abu Tholib paman Rasulullaah saja juga akhirnya enggan dan tidak mau masuk Islam karena merasa “Nggak enak” terhadap adat istiadat dan kaumnya.

“Enak” ataupun “Nggak Enak” itu bukanlah suatu standart untuk menilai apakah suatu perbuatan itu sesuai dengan syariat, ataukah malah bertentangan dengan syariat.
———————-
Enam point di atas insya Allah cukup sebagai bantahan terhadap orang yang mempolitisir dan mempermainkan Qs Maryam ayat 33, untuk kepentingan Hawa Nafsu atas nama toleransi yang kebablasan mereka.

Hal ini sebenarnya bisa diperluas lagi dengan fakta sejarah dan perdebatan bahwa nabi isa sesuai dengan referensi Bible, tidak benar jika dilahirkan pada tanggal 25 desember.

Bahkan sebenarnya tidak semua aliran nasrani sepakat bahwa hari natal itu jatuh pada tanggal 25 desember.

Namun saya kira empat point bantahan yang sebutkan di atas sudah lebih dari cukup.

Wallaahu A’lam

Nb : Tulisan ini sengaja saya tulis pada hari setelah tanggal 25 desember, agar lebih objektif dan tidak terpengaruh “momen emosional toleransi” yang salah.

Semoga ini bermanfaat untuk tahun tahun ke depan.

Advertisements