Fenomena berebut air sisa bekas cucian kaki seorang presiden, yg baru saja terjadi, untuk tabaruk (mencari dan mengharap berkah), adalah bukti betapa lemahnya aqidah dan pemahaman ummat Islam mengenai Tauhid. Dan bukti betapa merajalelanya faham kesyirikan di Indonesia ini.

http://www.tribunnews.com/…/warga-berebut-bekas-air-cucian-…

Ini sama saja dengan orang yg minta untuk dibuatkan dzatu anwath pada masa jahiliyyah, guna digantungkan pedangnya agar bertabaruk (mencari berkah) pada pohon itu guna memberkahi pedang mereka sehingga mereka menang di pertempuran.

Mencari keberkahan hidup dari Allah itu dengan cara berdoa kepada Allah, berikhtiar, mencari dan menuntut ilmu syariat, banyak beribadah, beramal sholeh, dan bersedekah. Bukan dengan cara mengkultuskan individu, kuburan, ataupun benda pusaka tertentu.

PR kita banyak dalam mendidik ummat ini…..
—————-
Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu, dia menceritakan:

Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri’tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath.

Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allahu akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telag mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra’il kepada Musa:

Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (QS. al-A’raaf: 138).

Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”
(HR. Tirmidzi dan beliau mensahihkannya, disahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam takhrij as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, lihat al-Qaul al-Mufid [1/126])

Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik di kala itu memiliki keyakinan yang keliru terhadap Dzatu Anwath, yang hal itu mencakup tiga perkara:
[1] Mereka mengagung-agungkan pohon tersebut,
[2] Mereka melakukan i’tikaf (berdiam dalam rangka ibadah) di sisinya,
[3] Mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dalam rangka mengharapkan keberkahan pohon tersebut mengalir kepada senjata-senjata mereka sehingga diharapkan senjata itu menjadi lebih tajam dan mendatangkan kebaikan yang lebih bagi orang yang membawa senjata tersebut (lihat at-Tam-hid, hal. 132).

Advertisements