Organisasi Muhammadiyah : Aqidah Mengenai Dimanakah Allah?

Leave a comment

AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Di manakah Allah? : Allah berada di atas, bersemayam di atas Arsy. Ini wajib untuk kita imani!

Tidak perlu bertanya tanya bagaimana dan di mana.
—————–
Majelis Tarjih Muhammadiyyah menetapkan (Quote) :

“Hal ini terjadi karena tidak ada penjelasan rinci baik dalam al-Qur’an maupun dalam al-Hadits. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa al-‘Arsy adalah singgasana. Maka kami berpendapat bahwa kita wajib menyakini keberadaannya, yang hakikatnya hanya diketahui Allah SWT, kita tidak perlu mencari-cari seberapa besarnya dan seberapa jauhnya atau tingginya.

Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah beristiwa’ atau bersemayam di atas ‘Arsy, dan kita wajib beriman kepada-Nya dengan tidak perlu bertanya-tanya bagaimana dan dimana.”

Lihat : http://www.fatwatarjih.com/…/sujarwo-batang-pertanyaan-ada-…

Ber-Agama dengan Berdasarkan Ilmu

Leave a comment

Salah satu alasan Islam sangat menekankan untuk tholabul ilmi (menuntut ilmu) adalah, karena Agama Islam ini, seluruhnya, dibangun di atas ilmu.

Islam tidak dibangun berdasarkan pengalaman hidup.

Jika islam dibangun hanya berdasarkan pengalaman hidup, maka tentu paman paman nabi seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Tholib yang mempunyai pengalaman hidup lebih banyak dibandingkan rasulullah, akan mau untuk masuk Islam.

Oleh karena itu orang yang memahami Islam hanya berdasarkan pengalaman hidup nya saja, dia belum lah memahami Islam dengan benar.

Islam juga tidak dibangun dengan berdasarkan experiment. Hal ini jelas, karena Islam bukanlah agama hasil percobaan.

Maka dari itu orang yang memahami Islam dengan cara “coba coba”, yakni dicoba dipahami dengan cara ini. Dicoba dipahami dengan cara itu. Dan dicoba dipahami dengan berbagai cara yang menurutnya baik. Maka orang ini tidaklah memahami Islam dengan benar.

Rasulullah dan para shahabat mengajarkan kita cara memahami Islam dengan benar, bukan meninggalkan kita untuk ber experiment sesuka kita.

Terlebih lagi Islam itu sudah sempurna, sehingga tidak ada ruangan untuk ber experiment guna memodifikasinya, agar sesuai dengan keinginan kita.

Islam juga tidak dibangun berdasarkan perasaan semata.

Karena jika Islam dibangun berdasarkan perasaan semata, maka Islam sungguh tega untuk melukai perasaan kaum musyrikin dengan mengatakan bahwa kesyirikan nya itu bathil.

Maka dari itu orang yang memahami Islam hanya berdasarkan perasaannya saja, tidaklah memahami Islam dengan benar. Bahkan betapa banyak orang yang digelincirkan oleh syaitan hanya karena modal perasaannya.

Zulaikha pernah mengajak nabi Yusuf untuk berzina karena modal perasaannya. Habil tega membunuh Qabil juga karena modal perasaannya.

Oleh karena itu ber Islam lah dengan berdasarkan ilmu.

Baarakallahu fiikum

Rukun dalam mengimani Asmaul Husna (nama nama Allah yang indah) dan sifat sifat Allah subhaanahu wa ta’aala

Leave a comment

Rukun dalam beriman terhadap Asmaul Husna adalah :

1. Beriman dengan nama tersebut.
2. Beriman dengan makna yang ditunjukkan oleh nama tersebut.
3. Beriman dengan segala pengaruh yang berhubungan dengan nama tersebut.

Sumber : Syarh Asma’ wa Shifat Allah, Syaikh Said bin Ali bin Wahf al-Qohthony Hafidzahulloh
*******
Misal :
kita beriman bahwa Allah mempunyai nama Ar Rahman (Maha Pengasih), ini berarti kita juga mengimani bahwa Allah memiliki sifat sangat penyayang terhadap makhluk nya.

Sudah sewajarnya kita bisa mengaplikasikan pemahaman ini dengan memahami bahwa Allah sangat kasih dan sayang kepada kita. Tidak sepantasnya kita merasa sepi dan sendiri tanpa merasa ada yang menyayangi kita.

Tidak sepantasnya juga kita merasa bahwa kita adalah makhluk yang sangat Malang dan menderita dalam hidup. Padahal jika dilihat lagi, banyak sekali yang telah Allah berikan kepada kita sebagai bukti kasih sayang Nya yang harus kita syukuri, yang terkadang nikmat itu tidak diberikan kepada orang lain.

Kita diberikan anggota tubuh yang lengkap dan badan yang sehat, maka apakah ini bukan rahmat dan kasih sayang Allah sebagai pencipta kita? Tidak semua orang diberikan kenikmatan ini….

Kita diberikan akal yang cerdas dan kesempatan untuk study di berbagai macam perguruan tinggi, sedangkan tidak semua orang diberikan kesempatan ini walaupun mereka sebenarnya mampu….

Kita diberikan keamanan dan jauh dari rasa takut akan bahaya kelaparan, karena Allah telah memberikan kita rizki yang cukup dengan makanan yang berlimpah dan keamanan dari bahaya… Coba bandingkan dengan yang di daerah konflik ataupun yang sedang dicoba dengan kemiskinan sehingga harus benar benar berjuang demi sesuap nasi…

Dan demikianlah seterusnya….

Fahamilah Rukun dalam mengimani Asmaul Husna dan sifat sifat Allah ini pada Asmaul Husna Allah yang lain.

Tadaburi lah dengan membaca ayat ayat Al Quran dan As Sunnah yang menerangkan mengenai nama Asmaul Husna Allah itu. Tadaburilah juga dengan dikaitkan kepada keadaan kita dan sekeliling kita…

Baarokalloohu fiik

Masalah Hukum Terhadap Penghina Nabi

Leave a comment

Kafir dzimmi (kafir warganegara yang membayar pajak), kafir musta’man (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan atau suaka) , dan kafir mu’ahd (kafir yang mempunyai ikatan perjanjian dengan pemerintahan antar negara) itu hukumnya dikembalikan kepada pemerintah untuk pelaksanaannya.

Adapun untuk hukum asal dari menghina nabi, maka jelas haram dan hukum mati. Namun hukum aplikasinya yang berwenang adalah waliyul amri.

Selain daripada hukum asal itu, maka kita juga harus melihat mashlahat dan madhorot juga. Termasuk apakah kita dalam kondisi kuat ataukah lemah

Rasulullah dihina dan dicaci maki habis habis an waktu fase makkah. Namun tidak semua penghina itu dibunuh ataupun diintimidasi dan yang semisal oleh para shahabat, ini karena islam sedang dalam posisi lemah.

Bahkan ketika Ammar bin Yasir disiksa rasulullah hanya menyuruh Ammar untuk sabar.

Hingga tidaklah Abu lahab dan istri nya beserta Abu Jahal yang jelas menghina rasul, dibunuh ataupun diintimidasi.

Ini berbeda ketika fase madinah apalagi fase setelah fathul makkah, setelah islam kuat.

Maka karena rasulullah berposisi sebagai waliyul amri dan islam juga dalam posisi kuat, maka ditegakkanlah hukum bagi penghina rasul itu
*****
Umumnya Semua riwayat riwayat yang menyebutkan “main hakim sendiri” terhadap penghina rasul, berada ketika islam dalam posisi kuat. Dan point pentingnya adalah peristiwa itu juga dilaporkan kepada waliyul Amri.

Jika waliyul amri membiarkan, maka itu adalah persetujuan waliyul amri untuk memberikan wewenang nya.

Adapun jika tidak dan diingkari oleh waliyul amri karena beberapa pertimbangan, maka hal itu tidak diperbolehkan

Contoh pengingkaran waliyul amri terhadap tindakan orang yang mencela rasulullah, adalah ketika orang yahudi mencela rasulullah dengan perkataan assaamu’alaikum (kematian atau kebinasaan untukmu)

Aisyah tidak terima dan membalas penghinaan terhadap rasulullah. Namun rasulullah tidak mengizinkan dan mengingkari perbuatan Aisyah tersebut.

Dari hal ini Semoga kita bisa jelas dulu duduk perkaranya
********
Waliyul amri adalah orang yang memegang kekuasaan dan mempunyai kekuatan , baik itu yang didapat dengan cara yang haq ataupun dengan cara yang bathil. Selama dia masih sholat

Baik itu yang hanya ada waliyul amri tunggal untuk semua wilayah yang ada penduduk muslim, ataupun waliyul amri yang berpecah pecah serta memiliki daerah kekuasaan sendiri seperti sekarang ini

Contoh waliyul amri yang mendapatkan kekuasaan dengan cara yang bathil adalah Ali bin Abi Tholib. Yakni dengan diangkat oleh pemberontak yang membunuh Utsman, dan pemberontak tersebut bahkan memaksa para shahabat lain untuk mau membaiat Ali

Ali berlepas diri dari pembunuhan Utsman dan pemberontakan. Beliau hanya melihat mana yang madhorot nya paling sedikit

Saya bilang cara atau mekanisme nya, bukan hasilnya. Ini dua hal yang berbeda. Perhatikan baik baik. Sehingga hukum antara mekanisme dan hukum hasil itu adalah dua hal yang berbeda dalam masalah kekuasaan

Najasyi, Heraklius, Kisro, Mauqauqis, dan lain lain tentu menjadi raja serta mendapatkan kekuasaan dengan cara yang bathil. Namun rasulullah menerima hasilnya dan mengakui mereka sebagai penguasa.

Dan bahkan mengirim surat diplomatik dakwah resmi yang mengakui kekuasaan mereka
*********
Sehingga masalah Perancis dan penghina nabi yang ada di dalamnya, hendaklah dikembalikan ke penjelasan penjelasan yang telah disebutkan tadi

Wallaahu A’lam

Lagi-lagi Kesyirikan Kejawen….

Leave a comment

Menganggap suatu benda itu dapat membawa berkah ataupun menolak bala adalah suatu kesyirikan. Bahasa gampangnya adalah “jimat” dan “benda pusaka”.

Mana mantra-mantra dan nama dewa Bathara Indra dibawa bawa dalam doa istighotsah, utk meminta pertolongan ketika terjadi musibah lagi…..

Termasuk dalam hal ini adalah juga kuburan2 pusaka. Baik itu kuburan yang diaku aku sebagai kuburan wali ataupun kuburan nabi yang ada di madinah sekalipun.

********
Quote :
Saat hendak mendekat ke Pasar Klewer, langkah sang nenek sempat dihentikan oleh polisi yang berjaga di sekitar pasar. Namun karena mengaku dari Keraton Solo dan ngotot kerisnya dapat memadamkan api, akhirnya polisi mengizinkanya mendekat ke lokasi kebakaran.

“Saya bawa keris dari keraton, ini bisa memadamkan api,” kata Dewi Sekar Arum kepada polisi.

Dewi yang didampingi dua biyung embannya lantas mendekat ke lokasi kejadian dikawal beberapa polisi dan petugas pemadam kebakaran.

Dewi lantas mencabut keris dari sarungnya, kemudian mengacungkan keris ke arah api sambil mengucap mantra dan doa.

Dalam doanya, Dewi meminta maaf kepada Bathara Indra. Usai merapalkan doa Dewi lantas menghujamkan keris ke tanah.

“Mugo-mugo angkara murko enggal lungo, sumingkir soko Solo,” kata Dewi.

Usai merakukan ritual tersebut, Dewi didampingi dua biyung embanya lantas meninggalkan lokasi kebakaran dan menolak untuk diwawancara.

Namun, salah satu biyung embannya yang bernama Sri mengatakan bahwa keris yang dibawa tuan putrinya bernama Keris Cumpet.

Menurutnya, keris tersebut punya kekuatan magis untuk memadamkan api. “Itu namanya Keris Cumpet, keris sakti yang bisa memadamkan api,” kata Sri.

Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2014/12/28/tiga-nenek-ini-bawa-keris-untuk-padamkan-api-di-klewer

Pendalilan Yang Salah : Toleransi Natal

Leave a comment

وَالسَّلٰمُ عَلَىَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“And peace is on me the day I was born and the day I will die and the day I am raised alive.” (Qs. Maryam : 33)

Orang yang berdalil dengan QS Maryam ayat 33 sebenarnya adalah pendalilan qiyas ma’al fariq, Qiyas yang bersama di dalamnya terdapat kerusakan atau kesalahan.

PERTAMA :
di ayat ini digunakan kata kata fi’il madhi (past tense) yakni di kata kata wulidtu ( وُلِدتُّ aku dilahirkan), ini memberikan faedah bahwa ucapan selamat itu hanya sekali saja terjadi pada masa lampau ketika lahir. Bukan terus menerus ketika datang hari kelahirannya yang berulang setiap tahunnya.

KEDUA :
Perkataan ini diucapkan oleh nabi isa alaihis salaam ketika masih bayi habis lahir, dan merupakan mukjizat beliau. Dan tidak pernah ketika nabi isa sudah besar dan lancar berbicara, maka tiap tahun pada hari kelahirannya dia mengucapkan kata kata seperti ketika masih bayi, atau mengucapkan selamat, atau merayakannya, atau memperingati nya.

Baik itu dari kisah kisah israilliyyat, hadits hadits nabi, ataupun Bible perjanjian baru, sekalipun tidak pernah menyebutkan hal ini.

KETIGA :
Bahkan Maryam ibu dari nabi Isa, Nabi Zakaria yang mengasuh Maryam sebelumnya, dan juga nabi Yahya (Yohannes) yang membaptis (mengurapi) nabi Isa di sungai Jordan, juga tidak pernah mengucapkan selamat tiap hari kelahiran nabi isa, atau merayakannya, ataupun memperingatinya.

Baik itu kisah-kisah israilliyyat, hadits hadits nabi, ataupun Bible perjanjian baru, tidak pernah menyebutkan hal ini sekalipun

KEEMPAT :
Nabi muhammad dan para shahabat menjumpai orang orang nashrani, bahkan sebagian shahabat nabi adalah mantan orang nashrani seperti Adi bin Hatim dan Salman Al Farisi, namun rasulullah dan para shahabat tidak pernah mengucapkan selamat tiap hari kelahiran nabi Isa, atau merayakannya, ataupun memperingatinya.

Hal ini berbeda dengan sikap nabi muhammad ketika hari diselamatkan nabi musa dari kejaran firaun yang diperingati oleh orang orang yahudi dengan berpuasa pada hari itu (hari asyuro).

Maka rasulullah berkata bahwa umat islam lebih berhak terhadap nabi musa dibandingkan orang yahudi, sehingga rasulullah pun berpuasa sunnah pada hari asyuro dan memberikan tambahan hari pada sebelum atau sesudah nya untuk menyelisihi orang yahudi.

Hal ini membuktikan bahwa upacara dan selamat atas kelahiran nabi isa itu hanya mengada ada saja, yang dilakukan oleh orang nashrani dan tidak diakui secara syariat akan kebenarannya. Hal ini berbeda dengan puasa hari asyuro yang dilakukan oleh orang yahudi yang diakui juga oleh Islam, dan ditetapkan oleh syariat akan ke sunnah annya

KELIMA :

QS. Maryam ayat 33 di atas sebenarnya tidak boleh dipotong pemahamannya, dan harus difahami secara komprehensif dengan QS Maryam pada ayat 29-30 sebelumnya.

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

Then she (Maryam) pointed to him. They said: “How can we talk to one who is a child in the cradle?[]” (29) “He [‘Īsā (Jesus)] said: Verily! I am a slave of Allâh, He has given me the Scripture and made me a Prophet;[]” (30) [QS. Maryam : 29-30]

Dalam terjemahan bahasa Indonesia :

“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, [QS. Maryam : 29-30]

Pemahaman dari QS. Maryam : 29-30 dan QS. Maryam : 33 itu adalah, QS. Maryam : 29-30 ini menerangkan jati diri Nabi Isa (Yesus) yang dimaksud dalam QS. Maryam : 33. Ini adalah syaratnya dalam memahami QS. Maryam : 33 tersebut.

Apakah yang dimaksud itu adalah Nabi Isa (Yesus) yang merupakan manusia biasa, hamba Allah (Abdulah), dan nabi Allah semata? Bukan anak Tuhan Allah, bukan perwujudan Tuhan Allah guna menebus dosa manusia di tiang salib, dan bukan salah satu oknum dari tiga oknum yang menjadi satu (aqidah trinitas)?

Ataukah yang dimaksud itu adalah Nabi Isa (Yesus) yang diaku-aku oleh Nashrani sebagai anak Tuhan Allah, atau perwujudan Tuhan Allah guna menebus dosa manusia di tiang salib, atau salah satu oknum dari tiga oknum yang menjadi satu (aqidah trinitas)?

Jika jati diri nabi Isa (Yesus) yang dimaksud dalam QS. Maryam : 33 itu adalah Nabi Isa (Yesus) yang merupakan manusia biasa, hamba Allah (Abdulah), dan nabi Allah semata, yakni sesuai aqidah dan pemahaman Islam. Maka berlakulah penjelasan empat point yang telah kita sebutkan sebelumnya.

Jika jati diri nabi Isa (Yesus) yang dimaksud dalam QS. Maryam : 33 itu adalah Nabi Isa (Yesus) yang diaku-aku oleh Nashrani sebagai anak Tuhan Allah, atau perwujudan Tuhan Allah guna menebus dosa manusia di tiang salib, atau salah satu oknum dari tiga oknum yang menjadi satu (aqidah trinitas). Maka berlaku juga empat point penjelasan di atas, dan ditambah ancaman yang sangat tegas dari Allah akan keharamannya untuk mengakui dan mengucapkan kata-kata berkenaan dengan hari lahirnya “anak Allah yang bernama Isa (Yesus)”.

Bahkan ayat-ayat ancaman ini juga ditulis sendiri dalam rangkaian ayat QS. Maryam yang sedang kita bahas ini.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92)

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92)

Hal ini juga dikuatkan ancamannya pada Firman Allah yang lain, yang langsung membantah dan mengingkari aqidah Nashrani mengenai Nabi Isa (Yesus) tersebut.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS. Al Maidah: 72-75).

Jika mengucapkan selamat atas kelahiran nabi Isa, atau perayaan kelahiran nabi Isa, dengan pemahaman jati diri Nabi Isa (Yesus) yang sesuai dengan aqidah Islam saja tidak disyariatkan. Sedang Islam sudah sempurna dan kita dilarang untuk menambah-nambahi saja, sehingga hukumnya harom menambah-nambah aturan syariat.

عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak (H.R alBukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.

Maka apalagi terhadap kelahiran Nabi Isa (Natal) dengan pemahaman jati diri Nabi Isa (Yesus) yang diyakini oleh kaum Nashrani dengan Trinitas-nya. Maka ini tentu jauh lebih haram, lebih terlarang, dan ini adalah penentangan terhadap ayat-ayat Allah.

KEENAM :

Mungkin jika ada yang berdalih, ini hanya sekedar ucapan saja dan kami tidak meyakininya seperti keyakinan yang batil itu. Maka kita sampaikan kepadanya nasehat Rasulullah berikut ini,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)

Lisan itu memang pedang bermata dua. Selain bisa mencelakakan kita, lisan yang ringan dalam perkara yang haq juga bisa sangat bermanfaat mengangkat derajat kita.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu.” (HR. Bukhari)

Jangan juga beralasan karena “Nggak enak”…. Abu Tholib paman Rasulullaah saja juga akhirnya enggan dan tidak mau masuk Islam karena merasa “Nggak enak” terhadap adat istiadat dan kaumnya.

“Enak” ataupun “Nggak Enak” itu bukanlah suatu standart untuk menilai apakah suatu perbuatan itu sesuai dengan syariat, ataukah malah bertentangan dengan syariat.
———————-
Enam point di atas insya Allah cukup sebagai bantahan terhadap orang yang mempolitisir dan mempermainkan Qs Maryam ayat 33, untuk kepentingan Hawa Nafsu atas nama toleransi yang kebablasan mereka.

Hal ini sebenarnya bisa diperluas lagi dengan fakta sejarah dan perdebatan bahwa nabi isa sesuai dengan referensi Bible, tidak benar jika dilahirkan pada tanggal 25 desember.

Bahkan sebenarnya tidak semua aliran nasrani sepakat bahwa hari natal itu jatuh pada tanggal 25 desember.

Namun saya kira empat point bantahan yang sebutkan di atas sudah lebih dari cukup.

Wallaahu A’lam

Nb : Tulisan ini sengaja saya tulis pada hari setelah tanggal 25 desember, agar lebih objektif dan tidak terpengaruh “momen emosional toleransi” yang salah.

Semoga ini bermanfaat untuk tahun tahun ke depan.

Bunga Rampai Munafik : Yang Penting Niatnya

Leave a comment

“Yang penting itu niatnya…”

Wah kalau apa apa itu yang penting niatnya, nanti berzina tapi niatnya untuk menikahi jadi boleh donk….

Makan sate babi tapi niatnya makan sate kambing juga jadi halal donk….

Masalah aqidah yang batil, tapi niatnya untuk muamalah hubungan toleransi juga jadi boleh donk…..

Dasar munafik!

Older Entries