Risalah Tauhid (Bagian 6) : Hawa Nafsu yang Dijadikan Ilah (Dipertuhankan) Part 1

Leave a comment

HAWA NAFSU : SIFAT ALAMI MANUSIA

Hawa nafsu berasal dari kata Al-Hawa (الهوى ) yang berarti kecenderungan jiwa, apa yang disenangi jiwa, yang diingini, dan yang dihendaki. Jamak dari Al-Hawa adalah Al-Ahwa’ ( الأَهْوَاء ).

Al-Hawa merupakan hasil dari gerakan jiwa (An-Nafs النفس ) yang dipengaruhi oleh informasi, ilmu, pemahaman dan pergaulan interaksi sosial yang didapatkannya, yang kemudian diwujudkan dalam amalan hati, lisan, dan perbuatan.

Orang Indonesia kadang  mencampurkan kedua istilah Al-Hawa dan An-Nafs itu menjadi “Hawa Nafsu”, dan inilah yang kadang dipakai dalam terjemahan bahasa Arab. Padahal sebenarnya dua hal ini memiliki perincian yang berbeda walaupun sangat berkaitan.

Hal ini sebagaimana yang Allah sebutkan secara terpisah antara An-Nafs (النفس ) dan Al-Hawa (الهوى ) dalam QS An-Naziat ayat 40,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri ( النَّفْسَ ) dari keinginannya (الْهَوَى )  [QS. An-Naazi’aat :40]

Selain istilah An-Nafs (النفس ) dan Al-Hawa (الهوى ) ini, kita juga mengenal istilah Asy-syahwah (الشهوة) yang sering disebut sebagai “Syahwat”  dalam bahasa Indonesia.

Syahwat adalah bagian dari Al-Hawa yang ditujukan untuk hal-hal yang bersifat kehendak untuk mendapatkan kelezatan biologis (sexual desire) atau birahi. Atau kalau dalam bahasa Inggris, Al-Hawa (الهوى ) itu adalah “desire” sedangkan Asy-syahwah (الشهوة) itu adalah “lust“.

Syahwat (Asy-syahwah, الشهوة ) boleh juga kita katakan sebagai Al-Hawa yang menggebu-gebu atau kecenderungan diri yang kuat. Ini karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an, mensifati kecintaan dan kecenderungan kita terhadap wanita, anak-anak, dan harta dengan kata-kata Asy-Syahawaat ( الشَّهَوَاتِ ), jamak dari Asy Syahwah ( الشهوة )

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada Asy-Syahawaat ( الشَّهَوَاتِ ), Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [QS. Ali-Imran (3): 14]

Terdapat istilah lagi yang perlu untuk diterangkan perbedaannya dalam pembahasan kali ini, yakni beda antara An-Nafs (النفس ) atau jiwa dengan Ar-Ruuh ( الرُّوحُ ) atau Ruh. Keduanya memiliki perbedaan namun memiliki kaitan yang sangat erat.

An-Nafs (jiwa, النفس ) itu adalah Ar-Ruuh (ruh,  الرُّوحُ ) yang telah bersatu dengan badan jasmani, sehingga seorang itu dikatakan hidup. Adapun Ar-Ruh (  الرُّوحُ ) itu sendiri adalah ruh yang belum bersatu dengan badan jasmani.

Sehingga dikatakan bahwa orang yang meninggal itu mati karena telah dicabut ruh yang ada pada nafs nya (jiwanya). Orang yang tidur juga dikatakan diambil ruh nya dan melayang, hanya saja Al-Qur’an menyebut ruh orang tidur ini sebagai An-Nafs (النفس ) karena kondisi orang tidur itu masih hidup.

Disinilah pebedaan antara An-Nafs (النفس ) dan Ar-Ruh ( الرُّوحُ ).

More

Advertisements

Zionis, Makanan Apa Itu?….. (bag 11)

Leave a comment

Pasca meninggalnya Nabi Sulaiman ‘Alaihis salaam terjadi perselisihan antar suku Bani Israil, sehingga kerajaan bani Israil terbagi menjadi dua. Dua kerajaan itu adalah “Kerajaan Yahuda” yang didukung oleh suku Yahuda dan suku Benyamin, dan “Kerajaan Israil” yang didukung oleh 10 suku bani Israil yang lain.

Lihat : Kitab Raja-Raja 1 Pasal 12 : 1-24 dan Kitab Tawarikh 2 Pasal 10 : 1 sampai Pasal 12 : 16

Kerajaan Israel dipimpin oleh Yerobeam bin Nebat dari suku Efraim, sedangkan kerajaan Yahuda dipimpin oleh Rehabeam anak dari Nabi Sulaiman dengan suku Yahuda sebagai pendukung utama nya dan suku Benyamin.

Kitab Raja-raja 1 pasal 12 : 20-24 menceritakan hal ini,

12:20 Segera sesudah seluruh Israel mendengar, bahwa Yerobeam sudah pulang, maka mereka menyuruh memanggil dia ke pertemuan jemaah, lalu mereka menobatkan dia menjadi raja atas seluruh Israel. Tidak ada lagi yang mengikuti keluarga Daud selain dari suku Yehuda saja.

12:21 Ketika Rehabeam datang ke Yerusalem, ia mengumpulkan segenap kaum Yehuda dan suku Benyamin, seratus delapan puluh ribu teruna yang sanggup berperang untuk memerangi kaum Israel dengan maksud mengembalikan kerajaan itu kepada Rehabeam, anak Salomo.

12:22 Tetapi datanglah firman Allah kepada Semaya, abdi Allah, demikian:

12:23 “Katakanlah kepada Rehabeam, anak Salomo, raja Yehuda, dan kepada segenap kaum Yehuda dan Benyamin dan kepada selebihnya dari bangsa itu:

12:24 Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu, orang Israel. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi.” Maka mereka mendengarkan firman TUHAN dan pergilah mereka pulang sesuai dengan firman TUHAN itu.

————————

Yerobeam bin Nebat ini mulanya adalah pegawai dari Nabi Sulaiman. Karena Nabi Sulaiman berbuat kesyirikan sebagaimana yang disebutkan menurut Kitab Raja-raja 1 Pasal 11 : 1-8, yang mana kita mengingkari hal ini sebagaimana yang sudah kita jelaskan pada tulisan “Zionis, Makanan apa itu?” bag 10, maka Allah mengirimkan hukuman kepada Nabi Sulaiman dan kerajaannya.

Lihat juga : https://kautsaramru.wordpress.com/2014/08/29/zionis-makanan-apa-itu-bagian-10/

Allah menjadikan kerajaan Nabi Sulaiman terpecah pasca meninggalnya beliau, dan menjadikan Yerobeam bin Nebat sebagai penguasa kerajaan pecahan yang didukung oleh mayoritas 10 suku Bani Israil.

Lihat : Kitab Raja-raja 1 Pasal 11 : 11-13 dan Pasal 11 : 29-39.

Nabi Sulaiman, menurut perjanjian lama, ingin membunuh Yerobeam bin Nebat karena hal ini. Namun Yerobeam kabur terlebih dulu ke Mesir dan baru kembali setelah Nabi Sulaiman wafat. Lihat Kitab Raja-Raja 1 Pasal 11 : 40.

Adapun suku Levi/Lewi sebagai suku yang tidak mendapatkan pembagian wilayah Kanaan secara khusus dan tersebar ke 12 wilayah Kanaan, hidup bersama 12 suku yang lain. Maka mereka ada yang bergabung ke “KERAJAAN ISRAEL” dan ada yang bergabung ke “KERAJAAN YAHUDA”, mengikuti koalisi masing-masing suku yang mereka tempati.

Semua suku Levi akhirnya kompak bersatu pindah ke kerajaan Yahuda di bawah pimpinan Rahabeam. Hal ini karena kerajaan Yahuda dipandang lebih ta’at di dalam beragama, dibandingkan dengan Kerajaan Israil yang dzolim dan memasukkan berhala serta berbuat kesyirikan. Lihat : Prof. Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur tengah, hal. 303, PT. Bulan Bintang, 1985.

————————

Perjanjian Lama dalam Kitab Raja-Raja 1 Pasal 11 :5- 17 juga mencatat hal ini

11:5 Rehabeam diam di Yerusalem dan memperkuat kota-kota kubu di Yehuda.

11:6 Ia memperkuat Betlehem, Etam, Tekoa,

11:7 Bet-Zur, Sokho, Adulam,

11:8 Gat, Mares, Zif,

11:9 Adoraim, Lakhis, Azeka,

11:10 Zora, Ayalon dan Hebron, yang terletak di Yehuda dan di Benyamin, sebagai kota-kota berkubu.

11:11 Ia memperkokoh kota-kota kubu itu dan menempatkan di situ kepala-kepala pasukan dengan persediaan makanan, minyak dan anggur;

11:12 perisai dan tombakpun disediakan di tiap-tiap kota. Ia membuat kota-kota itu amat kokoh. Demikianlah Yehuda dan Benyamin menjadi daerah kekuasaannya.

11:13 Para imam dan orang Lewi di seluruh Israel datang menggabungkan diri dengan dia dari daerah-daerah kediaman mereka.

11:14 Sebab orang Lewi meninggalkan tanah penggembalaan dan milik mereka, lalu pergi ke Yehuda dan Yerusalem, oleh karena Yerobeam dan anak-anaknya melarang mereka memegang jabatan imam TUHAN,

11:15 dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak-anak lembu jantan yang dibuatnya.

11:16 Dari segenap suku Israel orang datang ke Yerusalem mengikuti orang-orang Lewi itu, yakni orang yang telah membulatkan hatinya untuk mencari TUHAN Allah Israel; dan mereka datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.

11:17 Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan Yehuda dan memperkuat pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun, karena selama tiga tahun mereka hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo.

————————

More

Risalah Tauhid (Bagian 5) : Orientalisme dan Memahami Tauhid

Leave a comment

1. ORIENTALISME DALAM MEMANDANG ISLAM

Orientalisme berasal dari kata “Orient” yang berarti “timur”, dan “isme” yang berarti “faham”. Secara istilah, orientalisme berarti suatu study pemahaman mengenai ketimuran yang dilakukan oleh orang-orang dari barat.

———————

Wikipedia memberikan definisi mengenai Orientalism:

“Orientalism is a term used by art historians and literary and cultural studies scholars for the imitation or depiction of aspects of Middle Eastern and East Asian cultures (Eastern cultures) by writers, designers and artists from the West.” [http://en.wikipedia.org/wiki/Orientalism]

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memberikan definisi :

“ori·en·ta·lis /oriéntalis/ n ahli bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan bangsa-bangsa Timur (Asia)” [http://kbbi.web.id/orientalis]

Sebagian yang lain memberikan definisi :

“Orientalisme adalah disiplin ilmu pengetahuan budaya yang mempelajari, meneliti, membahas dan mendiskusikan etnis budaya, adat istiadat, keyakinan, agama, bangsa atau masyarakat lain (the other) yang dalam hal ini adalah budaya timur (orient), dari kacamata keilmuan dan pengalaman manusia barat (outsider).” [Kutipan dari makalah M. Amin Abdullah]

—————

Point penting dari orientalisme adalah :

1. Walaupun mereka mengaku melakukan study terhadap masalah ketimuran, namun “Timur” yang mereka maksud lebih khusus tertuju kepada study mengenai :

  • Islam
  • Ummat Islam
  • Sejarah peradaban Islam.

2. Mereka memandang Islam hanya sebagai obyek study semata belaka, yang umumnya diyakini bersumber dari kebudayaan Arab yang dicampur dengan agama Yahudi dan kristen yang ada di sekitar Arab sebelumnya, yang kemudian dijadikan sebagai sistem kepercayaan.

Sehingga mereka tidak menganggap Islam sebagai agama wahyu, atau pemahaman mereka memang tidak berangkat dari memandang Islam dari konsep agama wahyu.

3. Mereka melakukan study ini untuk tujuan :

  • Kepentingan misionisarisasi (terutama bagi orientalis klasik)
  • Kepentingan penjajahan koloniasisasi (terutama bagi orientalis klasik) dan kapitalisme (terutama bagi orientalis era modern sekarang ini)
  • Dan kepentingan pelanggengan hagemoni barat terhadap Islam (kepentingan era klasik dan era modern sekarang ini)

Ketiga point penting di atas lah yang membentuk “Sikap Ideologi Orientalis” dalam melihat Islam dan orang Islam. Sikap ideologi orientalis ini juga diwariskan, baik secara sadar ataupun tidak sadar, kepada orang-orang yang belajar mengenai Islam kepada mereka.

Mungkin ada yang bertanya : “Kenapa tadi disebutkan orientalis era klasik dan orientalis era modern?” Ini karena sejarah study orientalisme itu sendiri memang sudah cukup lama keberadaannya.

Orientalisme sudah ada sejak adanya kolonialisasi jajahan di wilayah Timur, yang kebanyakan penduduknya adalah orang Islam. Dan kemudian diteruskan keberadaannya hingga abad modern ini dengan kapitalisme Modern.

Bahkan ada juga yang mengatakan, study orientalisme itu sudah ada pada zaman sebelum kolonialisasi dunia timur. Hal ini dibuktikan dengan adanya buku-buku terjemahan Al-Qur’an yang dibuat oleh para Orientalis (umumnya pendeta), pada masa sebelum masa kolonialisasi. Yakni pada sebelum abad ke 16.

More

Meluruskan Pemahaman : Wajib Mendirikan Pemerintahan atau Wajib Mendirikan Khilafah?

Leave a comment

Sekedar meluruskan pemahaman.

1. Yang benar itu adalah wajib untuk mengangkat pemerintahan, bukan membentuk khilafah. Dan ini adalah ijma’, kecuali sebagian mu’tazilah zaman dulu, yg mengatakan membentuk pemerintahan itu tdk wajib.

2. Bentuk pemerintahan dalam islam itu tdk qoth’i, dan andaikata pemerintahan itu TIDAK SESUAI SYARI’AT 100% maka tdk berarti secara otomatis pemerintahan itu batal seketika. Sehingga bentuk pemerintahan muawiyah yg tdk sesuai dg khulafaur rasyidin itu tdk otomatis batal.

Corak pemerintahan antar khulafaur rasyidin juga berbeda2, bahkan hingga yg paling extrim adl pemerintahan Ali yg beliau diangkat dg “disponsori” oleh pemberontak yg membunuh Utsman.

3. Oleh karena itu, imam ibnu Taimiyah dalam as siyasah asy syar’iyyah tdk membahas masalah model pemerintahan. Beliau lebih banyak membahas cara memilih pejabat atau penguasa dg syarat “Qowiy” (kuat) dan “Amin” (terpercaya), dan membahas masalah keuangan negara (zakat, fai, ghonimah) serta sedikit mslh “bonus” ghanimah bagi tentara yg mempunyai prestasi lebih.

Lihat : as siyasah asysyar’iyyah dari awal sampai akhir

Hal ini serupa dengan imam Al Mawardi dalam al ahkamus sulthoniyyah, yang mana beliau dalam daulah kerajaan yang tdk seperti khulafaur rasyidin, yg lebih banyak membahas cara memilih pemimpin dan kriteria2 atau syarat utk orang2 yg cocok guna menempati posisi2 pemerintahan tertentu.

Lihat : Al ahkamus sulthoniyyah dari awal sampai akhir.

5. Kewajiban ini bersifat fardhu kifayah, dalam artian hanya orang yang mempunyai kemampuan saja.

6. Adapun jika sudah berdiri pemerintahan di suatu tempat, maka kewajiban kita adalah bermuamalah dg baik dan menasehati jika ada kekurangan atau penyimpangan syariat terhadap pemerintahan itu.

Hal ini sebagaimana muamalah yg dicontohkan oleh rasulullah terhadap raja mauqauqis di mesir dan raja najasyi di ethiopia.

7. Sehingga semua dalil yg disebutkan oleh berbagai fihak untuk kewajiban membentuk khilafah itu, sbnrnya hanyalah dalil utk mendirikan pemerintahan semata. Khilafah itu hanya definisi lain dari pemerintahan.

Hal ini dikuatkan dg hadits riwayat ahmad yg terpercaya, yang mana rasulullah menyebutkan 5 fase pemerintahan yg akan dilalui ummat Islam hingga khilafah ‘ala minhajil nubuwwah, dan semua model pemerintahan itu DIAKUI serta TIDAK DIBATALKAN hanya karena tidak sesuai dengan khulafaur rasyidin ataupun syariat 100%.

Hadits Hudzaifah bin Yaman radliyallaahu ‘anhu :
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت ” .
“Akan ada masa kenabian pada kalian selama yang Allah kehendaki, Allah mengangkat/menghilangkannya kalau Allah kehendaki. Lalu akan ada masa khilafah di atas manhaj Nubuwwah selama yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yang sangat kuat (ada kedhaliman) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan (tirani) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 5]


8. Maa laa yatimmul waajibu illaa bihi, fahuwa waajib. Maka yg diwajibkan disini dalam menegakkan syariat adalah MENASEHATI PEMERINTAH utk menjalankan syariah, ini yang wajib. Bukan membatalkan pemerintahan yg ada dg alasan utk menegakkan khilafah dan kemudian membuat gerakan bawah tanah utk merebut kekuasaan.

Hal ini sesuai dg hadits shohih rasulullah ad diinun nashiihah… (ila) li a’immatihim.

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: ِللهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ.

Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dâri Radhiyallahu anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”. Mereka (para sahabat) bertanya,”Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.” [Hr. Muslim]

9. Sehingga jika suatu pemerintahan sudah berdiri dan pemimpinnya adalah muslim dan masih sholat, maka kewajiban mendirikan pemerintahan itu gugur dengan sendirinya. Yang belum gugur itu adalah kewajiban menasehati pemerintahan dg cara sesuai sunnah, dan turut serta membina masyarakat agar mempunyai aqidah yg shohihah dan mau untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Hal ini berdasarkan dg banyak sekali dalil dalam kitabul imaroh dalam shohih muslim, dan kitabul aqdhiyyah dalam shohih bukhari utk wajib taat terhadap pemerintahan yg dzolim dan bahkan yg hatinya spt hati syaithon.

Zionis, Makanan Apa Itu?….. (Bag Intermezzo)

Leave a comment

Sekedar intermezzo saja, sebelum saya meneruskan ke bagian 11 … 🙂

Berikut ini adalah pandangan seorang Rabbi Yahudi terhadap orang bukan keturunan bani Israil. Ini juga merupakan pandangan umum Yahudi yg “bermanhaj” Zionismisme.

————-
Major Rabbi: non-Jews are donkeys, created to serve Jews
**********************************
The sole purpose of non-Jews is to serve Jews, according to Rabbi Ovadia Yosef, the head of Shas’s Council of Torah Sages and a senior Sephardi adjudicator.

“Goyim were born only to serve us. Without that, they have no place in the world – only to serve the People of Israel,” he said in his weekly Saturday night sermon on the laws regarding the actions non-Jews are permitted to perform on Shabbat.

According to Yosef, the lives of non-Jews in Israel are safeguarded by divinity, to prevent losses to Jews.

“In Israel, death has no dominion over them… With gentiles, it will be like any person – they need to die, but [God] will give them longevity. Why? Imagine that one’s donkey would die, they’d lose their money.

This is his servant… That’s why he gets a long life, to work well for this Jew,” Yosef said.

“Why are gentiles needed? They will work, they will plow, they will reap. We will sit like an effendi and eat.

That is why gentiles were created,” he added.

Read more at http://www.liveleak.com/view?i=d0e_1287522652#zOqfupd2EY1b5FUK.99
————–

Dalam study literatur, hal ini biasanya diambil dengan berpedoman kepada Talmud, “kitab tafsir” Taurat dan kitab yang memuat “oral law” atau “unwritten law” yang disampaikan secara tradisi lisan dari satu rabbi ke rabbi Yahudi lain, untuk diteruskan ke bani Israil guna diikuti. Oral law ini memuat hukum2 tambahan yang tidak dimuat didalam taurat.

Kitab Talmud ini sendiri walau merupakan unwritten law yg di klaim sudah ada sejak zaman Hakim-hakim, bahkan ada yg mengklaim sejak zaman nabi Musa ‘alaihissalaam, namun pada faktanya baru mulai dibukukan pada tahun 135-220 Masehi oleh Rabbi Judah Hanasi (Lihat perkataan Dr. Joseph Barclay yang dikutip dalam “Talmud: kitab hitam Yahudi yang menggemparkan” hal 41).

More