Zionis, Makanan Apa Itu?…. (Bagian 10)

1 Comment

RINGKASAN AWAL BAITUL MAQDIS/HAIKAL SULAIMAN

———————–

Sekedar sebagai ringkasan mengenai Baitul Maqdis atau Haikal Sulaiman,

kisah bani Israil pasca nabi Musa ‘alaihis salaam nomaden selama 40 tahun di padang Sinai hanya berkisar di sekitar tanah Kanaan (Palestina). Dan puncak kejayaannya adalah ketika zaman Nabi Daud ‘alaihis salaam dan dibangunnya baitul maqdis oleh nabi Sulaiman ‘alaihis salaam.

Baitul Maqdis yang dibangun oleh Nabi Sulaiman itu, sempat dihancurkan oleh Nebukadnezar dari kerajaan Babel/Babilonia dan bani Israil dibuang dari tanah Kanaan (Palestina) ke Babel/Babilonia.

Baitul maqdis dibangun lagi oleh Nabi Ezra (Uzair), setelah bani Israil dibawa kembali ke tanah Kanaan (Palestina) dari tanah buangan di Babel/Babilonia. Hal ini terjadi setelah kerajaan Babel/Babilonia dihancurkan oleh raja Koresy dari Persia.

Lihat : Perjanjian Lama Kitab Raja-raja 2 Pasal 25, Kitab Daniel, dan Kitab Ezra.

Pada abad-abad selanjutnya, Baitul Maqdis dihancurkan lagi untuk yang kedua kali dan dibangun lagi. Kemudian baitul maqdis pun dihancurkan lagi hingga tak bersisa untuk yang terakhir kali oleh kekaisaran Romawi.

Baru ketika pada masalah kekhalifahan Islam datang dan Yerusalem (Darussalam) di bawah kekaisaran romawi berhasil direbut, maka masjidil Aqsha dan masjid dome of rock atau qubbatush shakhrokh yang ada di dalam kompleks reruntuhan baitul maqdis mulai dibangun.

KEMBALI KE KISAH SUKSESI NABI DAUD KE NABI SULAIMAN

—————–

Perjanjian Lama

Menurut perjanjian lama, kisah suksesi kerajaan bani Israil dari nabi Daud ‘alaihis salaam ke Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam dipenuhi dengan intrik politik dan pertumpahan darah.

Kitab Raja-raja 1 Pasal 1 : 1 s/d Pasal 2 : 11, mengisahkan intrik suksesi perebutan kekuasaan diantara anak Nabi Daud yakni antara Adonai anak dari istri Hagit dan nabi Sulaiman ‘alaihis salaam anak dari istri Batsyeba. Bahkan hingga Batsyeba, ibu dari nabi Sulaiman, sampai harus mengingatkan akan “janji politik” nabi Daud bahwa pewaris tahta selanjutknya akan diserahkan kepada Nabi Sulaiman, anaknya.

More

Zionis, Makanan Apa Itu?…. (Bagian 9)

2 Comments

PERJANJIAN BERSYARAT

—————————————-

Terakhir kita sudah sampai kisah Nabi Daud ‘alaihis salaam hingga akan menuju ke kisah Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam.

Sebelumnya juga sudah disebutkan mengenai “perjanjian bersyarat” yang dikatakan antara Nabi Daud dengan Allah dalam perjanjian lama. Yang mana “perjanjian bersyarat” ini akan digenapi pada masa Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam dengan mendirikan tempat peribadahan rumah Allah (Baitullah), yang sering disebut dengan baitul maqdis (rumah yang disucikan), atau haikal Sulaiman itu.

Perjanjian bersyarat itu adalah :
1. Mendirikan tempat peribadahan rumah Allah (Baitullah) atau baitul maqdis (rumah yang disucikan) atau atau haikal Sulaiman.
2. Tidak melakukan kesyirikan dengan beribadah dan menyembah kepada selain Allah. Berikut juga selalu ta’at dan patuh terhadap segala peraturan dan ketetapan Allah.

Jika itu dipenuhi maka,
1. Tahta kerajaan bani Israil akan diteguhkan dan berjaya
2. Tahta kerajaan akan dikuasai oleh garis keturunan dari Nabi Daud ‘alaihis salaam selama-lamanya.

Adapun jika syarat tersebut tidak dipenuhi maka,
1. Tempat peribadahan rumah Allah (Baitullah) atau haikal Sulaiman akan dihancurkan hingga menjadi reruntuhan.
2. Bani Israil akan dibuang dari tanah Kanaan yang telah diberikan Allah dan otomatis ini berarti kerajaan bani Israil akan hancur.

Lihat :
– “Zionis, makanan apa itu?” bagian 8
– Samuel 1 Pasal 7 : 1-17 ; Tawarikh 1 Pasal 17 : 1-15; Raja-Raja 1 Pasal 9 : 1-9; dan Tawarikh 2 Pasal 7 : 12-22.
———————
Adapun Al-Qur’an dan As-Sunnah sendiri tidak menyebutkan mengenai perjanjian itu, akan tetapi Al-Qur’an menyebutkan bahwa :

  1. Allah menguatkan kerajaan nabi Daud ‘alaihis salaam

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ
Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmahdan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. [QS. Shood : 20]

  1. Allah memberikan kerajaan yang sangat besar kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam yang tidak pernah diberikan kepada selain beliau setelahnya, sebagai jawaban dari do’a permintaan Nabi Sulaiaman ‘alaihis salaam

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ هَٰذَا عَطَاؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَآبٍ

Ia (Nabi Sulaiman) berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”.
Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab. [QS. Shaad : 35-39]

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا: حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ” فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ

“Ketika Nabi Sulaiman merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau memohon kepada Allah tiga permintaan: (1) Memberi putusan hukum yang sesuai dengan hukum Allah, (2) Diberikan kerajaan yang tidak patut dimiliki oleh seorang pun setelah dirinya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjid al-Aqsha dengan keinginan menunaikan shalat di dalamnya, kecuali dihapuskan segala kesalahannya, (sehingga ia suci) seperti saat hari kelahirannya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Permintaan pertama dan kedua telah diberikan, dan aku berharap yang ketiga pun Allah kabulkan.” (HR. Ibnu Majah, no. 1408. Al-Albani mengatakan hadits ini shahih).

  1. Allah menetapkan di dalam Zabur, kitab suci yang diberikan kepada Nabi Daud ‘alaihis salaam, bahwa tanah Kanaan (Palestina) ini hanya akan diwarisi oleh orang-orang yang sholih.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. [QS. Al-Anbiyaa : 105]

Dalam Perjanjian Lama di Kitab Mazmur, yang dikatakan adalah Zabur yang berasal dari Nabi Daud ‘alaihis salaam, yang mana Mazmur penuh berisi do’a dan pujian disebutkan hal yang serupa :
——
Mazmur Pasal 25 : 12-14
——
25:12 Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.
25:13 Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.
25:14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.
——-
Mazmur Pasal 37 : 9-11
——-
37:9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.
37:10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.
37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.

——-
Mazmur Pasal 37 : 27-31
——-
37:27 Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya;
37:28 sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.
37:29 Orang-orang benar akan mewarisi negeri dan tinggal di sana senantiasa.
37:30 Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum;
37:31 Taurat Allahnya ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah.

More

Zionis…. Makanan apa itu?…. (Bagian ???)

Leave a comment

+ Lho-lho…… mana kelanjutan tulisan Zionis bagian 9 nya? Harusnya paling tidak tiap 1 minggu itu keluar satu bagian update nya nihhhh…… (Sambil pasang muka galak plus banting-banting bantal…. :p  )

– Sabarrrr, tenang dulu….  Ini saya malah mau mengajak anda “berperang dengan Zionis” beneran nih…..

+ Eh, maksudnyaaa??…… (sambil siap-siap ambil air soft gun di kamar, padahal Zionis di Palestina bawaannya senjata paling canggih supply dari amrik)

– Gini, maksudnya saya ingin mengajak anda memerangi gerakan Protocol of Zion, yakni protocol yang ke empat.

+ Hmmmm, maksudnya gimana itu…… (makin bingung)

– Baik, berikut akan saya terangkan… 🙂

Protokol of Zion yang ke 4 itu intinya adalah ingin membuat kekacauan dalam memahami agama. Disebutkan disitu bahwa mereka ingin mengganti “keyakinan dalam masalah Ilahiyyah (Ketuhanan)” menjadi “keyakinan faham relativisme”.

Mereka ingin membuat kekacauan pemahaman di masyarakat, terutama ummat Islam, dengan menganggap semua agama itu relative alias sama saja. Dan Tuhan yang diibadahi oleh semua agama itu sebenarnya juga sama saja.

Tentu saja, mereka sudah memasang barrier agar faham itu tidak menginfitrasi diri keyakinan beragama Yahudi Zionis mereka.

Ingat, zionis itu bukan type orang yang mau melakukan “bom bunuh diri” agar sama-sama mati…. Zionis itu lebih suka untuk “mendidik orang lain” dan “meminjam tangan orang lain”, agar mereka saja yang mati bersama dengan lingkungan sekitar mereka. Pinter kan??…..

Oleh karena itu, protocol of Zionis yang ke-4 itu adalah pondasi dari tujuan protocol Zionis yang ke -14.

Awal dari protocol of Zionis  ke-14 disebutkan :
————–
“Diupayakan di dunia ini hanya ada satu agama, yaitu agama Yahudi. Karena itu segala keyakinan harus dikikis habis. Kalau dilihat di masa kini, banyak orang yang menyimpang dari agama. Pada hakekatnya, seperti itulah yang menguntungkan Yahudi.”

[Lihat lampiran Protocols of Zion dalam buku “Mengungkap Tentang Yahudi : Watak, Jejak, Pijak Kasus-Kasus Lama Bani Israel”, Dr. M. Izzat Darouza, Pustaka Progressif, 1992]
—————-
Masih bingung?… Kalau masih bingung baiknya langsung aja chek TKP ya…Tinggal klik, ketemuan, deal!! (emang toko bagus….. )

————–
Lihat : https://kautsaramru.wordpress.com/2014/08/19/risalah-tauhid-bagian-4/
————–

Jika anda membaca tulisan saya dalam link tersebut hingga selesai, maka anda juga akan merasakan semangat “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan” seperti yang saya rasakan.

Gerakan yang “Masif, Terstruktur, dan Tersystem” ini sejauh data dan literatur yang saya dapatkan, sudah mulai dirintis di Indonesia sejak tahun ’70 an hingga sekarang.

Dan hasilnya sudah bisa kita rasakan sendiri dampaknya sekarang ini…..

Sesungguhnya “memboikot pemikiran” itu jauh lebih bermanfaat dibandingkan “memboikot produk”. Inilah apa yang lazim disebut sebagai Ghozwul Fikr atau Perang Pemikiran itu.

Oleh karena itulah, ketika saya ingin melanjutkan tulisan saya ke bagian yang ke 9, saya terpikir akan hal itu dan akhirnya berpaling dulu ke project tulisan saya yang sempat tertunda dalam “memboikot pemikiran” itu.

Jangan khawatir, setelah ini bagian 9 insya Allah akan saya lanjutkan lagi… Tunggu yaaaa, dan terimakasih sudah berkenan untuk membacanya 🙂

– Habis ini bagian 9 deh –

Risalah Tauhid (Bagian 4) : Pluralis Liberal

3 Comments

PLURALIS LIBERAL

Plural secara bahasa artinya adalah “beragam” atau “berbeda-beda” atau “kemajemukan”.

Plural sendiri jika ditinjau dari aspek muamalah kemasyarakatan, maka hal itu disebut sebagai Pluralitas (keberagaman). Yakni dalam artian kita hidup berdampingan, dengan adanya pemeluk agama lain sebagai anggota masyarakat kita, yang harus kita hormati dalam bermuamalah dengannya sebagaimana yang diajarkan dalam syariat Islam. Hal ini banyak diterangkan dalam kitab-kitab fiqh Islam pada bahasan fiqh muamalat (interaksi sosial antar manusia). Dengan kata lain, pluralitas agama adalah hal yang diakui dan diatur dalam Islam.

Adapun Plural jika ditinjau dari aspek -isme (ajaran atau pemahaman) dalam aqidah beragama, maka hal ini disebut sebagai Pluralisme agama. Sedangkan yang dimaksud dengan pluralisme agama secara ringkas adalah Suatu paham yang ingin menyamakan atau menganggap sama semua agama dan semua Tuhan dari masing-masing agama tersebut”.

Pluralisme agama ini sering juga disebut sebagai Wihdatul Adyan (Penyatuan agama-agama).

—————–

MUI (Majelis Ulama Indonesia) memberikan catatan akan pluralisme ini dalam fatwanya :

Pluralisme agama tidak lagi dimaknai adanya kemajemukan agama, tetapi menyamakan semua agama. Dalam pandangan pluralisme agama, semua agama adalah sama. Relativisme agama semacam ini jelas dapat mendangkalkan keyakinan akidah.

Lebih lanjut MUI memberikan catatan :

Fatwa MUI menegaskan pula bahwa pluralisme agama berbeda dengan pluralitas agama, karena pluralitas agama berarti kemajemukan agama. Banyaknya agama-agama di Indonesia merupakan sebuah kenyataan di mana semua warga negara, termasuk umat Islam Indonesia, harus menerimanya sebagai suatu keniscayaan dan menyikapinya dengan toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Pluralitas agama merupakan hukum sejarah (sunnatullah) yang tidak mungkin terelakkan keberadaannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dan sebagai catatan Akhir, MUI memberikan penjelasan :

“Fatwa MUI tentang pluralisme agama ini dimaksudkan untuk membantah berkembangnya paham relativisme agama, yaitu bahwa kebenaran suatu agama bersifat relatif dan tidak absolut. Fatwa ini justru menegaskan bahwa masing-masing agama dapat mengklaim kebenaran agamanya (claim-truth) sendiri-sendiri tapi tetap berkomitmen saling menghargai satu sama lain dan mewujudkan keharmonisan hubungan antar para pemeluknya.”

Lihat :

http://mui.or.id/wp-content/uploads/2014/05/12.-Pluralisme-Liberalisme-dan-Sekularisme-Agama.pdf

http://mui.or.id/wp-content/uploads/2014/05/12b.-Penjelasan-Tentang-Fatwa-Pluralisme-Liberalisme-dan-Se.pdf

—————–

Sehingga secara kesimpulan, pluralitas agama itu berbeda dengan pluralisme agama.

Pluratitas agama itu adalah domain muamalah hubungan interaksi sosial kemasyarakatan, dan hal ini diakui dalam Islam serta diatur dalam syariat fiqh.

Adapun pluralisme agama, maka ini adalah -isme dan aqidah yang menyimpang dalam Islam. -Isme yang berusaha merubah toleransi muamalah menjadi sinkretisme dan  membatalkan semua sendiri-sendi Aqidah Tauhid.

Orang-orang yang mendukung pluralisme agama umumnya disebut pluralis. Dan diberikan tambahan liberal juga, karena mereka ingin membebaskan diri dengan mendobrak batasan pluralitas agama yang diatur dalam Islam, menuju ke pluralisme agama yang bertentangan dengan aqidah Tauhid Islam. Oleh karena itulah mereka disebut sebagai Pluralis Liberal.

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“…Itulah batasan-batasan larangan (hukum) Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” [QS. Al-Baqarah : 187]

More

Zionis, Makanan Apa Itu?…. (Bagian 8)

Leave a comment

Sebelum meneruskan kajian kita, ada baiknya kita coba tengok keyakinan beberapa orang Yahudi yang mendukung Zionisme…..

Dari beberapa dialog yang telah dilakukan oleh Ahmad Deedat rahimahulloh dengan beberapa individu ataupun komunitas Yahudi, beliau salah satunya mengisahkan percakapannya dengan seorang Yahudi pemilik usaha tempat dia bekerja.

Pemilik usaha ini, Mr. Bernie Beare, adalah seorang Yahudi businessman yang memiliki 125 perusahaan di seluruh Afrika Selatan. Beliau termasuk Yahudi yang mendukung faham Zionisme dengan berdasarkan “religious view”. Akan tetapi Mr. Beare ini dikategorikan oleh Ahmad Deedat sebagai Yahudi yang baik dan rasionalis, bukan ortodoks, sehingga “open minded” untuk berdiskusi secara rasional argumentatif.

Bahkan setelah diskusi selesai dan Mr. Beare tampak puas dengan diskusi “dua arah” tersebut, Ahmad Deedat tidak dipecat dari pekerjaan beliau sebagai resiko dari hasil “tukar pandangan” yang terjadi. Beliau malah justru dihormati karena luasnya pengetahuan beliau mengenai Yahudi, dan terutama mengenai penguasaan Perjanjian Lama. Bahkan nama panggilan beliau di tempat kerja diberikan imbuhan penghormatan dengan panggilan “Mr. Deedat”.

Lihat : “Dialog Islam & Yahudi : Damai Atau Terus Konflik”, Ahmad Deedat, Bab III : Beberapa Orang Yahudi yang Baik, hal 49-56, Pustaka Progressif, 1993.

Berikut akan saya kutipkan 2 pernyataan dari Mr. Beare, yang saya rasa mewakili pandangan orang Yahudi yang mendukung Zionisme. Dua hal itu juga yang nanti akan menjadi keyword pembahasan “Zionis… Makanan apa itu…?” ini.

Quote 1 :
————–
Majikanku berkata, “Deedat, bagaimana Anda dapat berkata seperti itu? Palestina milik kami!”

Saya menjawab, “Bagaimana itu tuan?”.

Ia berkata, “Tuhan telah menjanjikannya itu untuk kami!”

Saya bertanya, “Dimana tuan?”

Dan dia mengutip,
“Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.” [Kejadian 17 : 8. Ini adalah janji Tuhan kepada Nabi Ibrahim atau Abraham]
[Lihat hal 65]

Quote 2 :
————–
“Deedat, Palestina itu milik kami, kami telah menguasainya melalui Daud dan Sulaiman.”
[Lihat hal 70]

Dari dua quotation tersebut, kita bisa mengetahui bahwa “root cause” dari Zionisme itu terdiri dari tiga hal :
1. Perjanjian Tuhan dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam

2. Perjanjian Tuhan dengan Nabi Daud ‘alaihis salaam, berikut juga romantisme sejarah kejayaannya

3. Perjanjian Tuhan dengan Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam, berikut juga romantisme sejarah kejayaannya

More

Zionis, Makanan Apa Itu?…. (Bagian 7)

Leave a comment

Sebelum beralih dari kisah Nabi Daud ‘alaihis salaam ke Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam, kali ini kita akan kaji dulu perbandingan karakter Nabi Daud antara yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan yang disebutkan dalam Perjanjian Lama Kitab Samuel 2.

Kajian ini juga mencakup pemahaman untuk nabi-nabi lain secara umum. Tulisan kita bagian ketujuh ini sepertinya agak panjang, namun penting untuk pemahaman ke depannya…. Semoga kita bisa “agak” bersabar dalam membacanya yaaa…  🙂

Adapun untuk metodologi pondasi yang kita pakai dalam perbandingan karakter Nabi Daud ‘alaihis salaam ini :

Untuk pondasi pemahaman yang pertama
=================
Al-Qur’an menyebutkan bahwa Kitab suci yang Allah turunkan kepada nabi-nabi bani Israel itu hanya tiga. Yakni : Taurat kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam, Zabur kepada Nabi Daud ‘alaihis salaam, dan Injil kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam.
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil [QS. Ali Imran : 3]

وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud. [QS. Al-Israa : 55]

Dengan kata lain, sesuai dengan tema pembahasan kita, hanya kitab Taurat yang merupakan lima kitab awal di perjanjian lama (Pentateukh) yang diakui sebagai kitab yang diturunkan Allah, berikut juga zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud.

Dengan catatan khusus, bahwa terdapat banyak “distorsi Wahyu” dan perubahan di dalam Taurat, yang ditulis oleh para rabbi-rabbi bani Israel yang “Nakal”, yang disisipkan di dalam Taurat dan kitab-kitab mereka, untuk tujuan duniawi dan kehendak hawa nafsu mereka.

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا ۛ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا ۚ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. [QS. Al-Maidah : 41]

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqarah : 79]

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?. [QS. Al-Baqarah : 75]

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. [QS. Ali Imran : 187]

Untuk penelitian ilmiah dan penjelasan lebih detail mengenai ini, silakan lihat : Prof, M.M. Al-A’zami, “Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai kompilasi : Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru”, Bab 15 : Perjanjian Lama dan Perubahannya, hal 253-294, GIP, 2005.

Lihat : http://www.pakdenono.com/download/sejarahteksalquran.zip

Karena hal inilah, maka kabar-kabar dari kitab-kitab Wahyu tersebut diterima sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, atau setelah diuji kebenarannya berdasarkan Al-Qur’an.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…. [QS. Al-Maidah :48]

Hal ini karena Al-Qur’an adalah kitab yang terjaga ke-otentikannya oleh Allah, baik itu dengan secara tradisi tulis textualnya yang otoratif secara sejarah, ataupun dengan cara hafalan yang dihafal oleh ummat Islam.

Bahkan hafalan Al-Qur’an itu tetap dijaga sejak Rasulullaah hingga sekarang dengan adanya silsilah sanad transmisi. Hafalan resmi seseorang itu bisa diuji oleh seorang Syaikh berijazah silsilah sanad, dan jika lulus maka dia akan mendapatkan ijazah silsilah sanad dari Syaikh-nya yang akan bersambung terus transmisinya ke ulama-ulama sebelumnya, hingga sampai ke rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

More

Zionis, Makanan Apa Itu?…. (Bagian 6)

Leave a comment

Previously on “Zionis, makanan apa itu?”…. :
===========
Hmmm keturunan Yahuda/Yehuda? Kok namanya mirip-mirip sama Yahudi ya? Apakah ini ada hubungan?
===========

+ Pertanyaan yang bagus!…. Benar, hal ini ada hubungannya. Hubungan ini terlihat lebih jelas ketika nanti sampai pada masa pasca meninggalnya Nabi Sulaiman ‘alahis salaam (atau Solomon) yang berasal dari suku Yahuda itu.

Tapi kita “simpan” dulu pertanyaan ini ya, nanti jawabannya akan bisa difahami dengan sendirinya seiring dengan kita mengikuti bagian per bagian dari tulisan ini ke depan. Insya Allah.

Berikut mari kita lanjutkan ke zaman Nabi Daud ‘alaihis salaam dulu…. (y)

Kisah nabi Daud ‘alaihis salaam ini di perjanjian Lama, lebih banyak dikisahkan di dalam kitab Samuel. Kitab Samuel ini sendiri dibagi lagi menjadi 2 dengan perincian :

1. Kitab Samuel 1 untuk : kisah Nabi Samuel alaihis salaam (dari lahir hingga meninggal), Thalut (Saul) yang diangkat menjadi raja bani Israil yang pertama kali, dan kisah-kisah hingga Thalut (Saul) meninggal. Yang mana, tentu saja, kisah permulaan Nabi Daud ‘alaihis salaam ada dalam kitab ini.
2. Kitab Samuel 2 untuk kisah Nabi Daud ‘alaihis salaam sejak beliau diangkat menjadi Raja Bani Israel yang kedua, hingga akhir masa pemerintahan beliau.

Alkisah, sesudah Nabi Daud mengalahkan Jalut (Goliath) yang dikatakan tingginya 6 hasta atau sekitar 3.5 meter !!!! (Lihat Samuel 1 pasal 17 : 4), dan konflik suksesi penerus raja Thalut (Saul) selesai, maka bani Israil mempunyai raja baru, yakni Nabi Daud ‘alaihis salaam dengan suku Yahuda sebagai pendukungnya yang paling utama.

Nabi Daud ‘alaihis salaam diangkat menjadi raja bani Israil pada umur 30 tahun, dan 40 tahun lamanya beliau memerintah bani Israil hingga akhir hayatnya. (Lihat Samuel 2 pasal 5 : 4).

==============
More

Older Entries