A. HUBUNGAN ANTARA LAFDZUL JALALAL ALLAH ( اللهُ ) DENGAN AHLUL KITAB

Ahlul kitab yaitu Yahudi dan Nashrani, merupakan orang-orang bani Israil yang Allah turunkan Kitab wahyu kepadanya, sebelum diutusnya rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam.

Diturunkan Taurat melalui perantaraan Nabi Musa ‘alaihis salaam, Zabur melalui Nabi Daud ‘Alaihis Salaam, dan Injil melalui Nabi Isa Al-Masih ‘Alaihis Salaam dengan melalui bahasa kaum mereka sendiri.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Ibrahim : 4]

Rasululloh menjumpai mereka, berinteraksi kepada mereka, dan berdakwah kepada mereka. Mereka mengenal Allah sebagaimana kaum Muslimin mengenalnya.

Rasulullah berbicara dan berdakwah kepada mereka dengan menggunakan Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ).

Ayat-ayat Al-Qur’an pun turun berkenaan dengan masalah mereka (Ahlul Kitab) juga dengan menggunakan Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ). Para Ahlul Kitab itupun memahami Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) dan tidak menolak akan hal itu.

Oleh karena itulah Allah berfirman kepada mereka :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb selain Allah“. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS. Ali Imran : 64]

Adapun ketika mereka kembali kepada kitab mereka dalam bahasa Ibrani, dikatakan bahwa mereka menyebut Allah dengan sebutan:

  • El atau Elah atau Eloah atau Elohim (Tuhan/Allah)
  • Adonai (Tuan atau Tuanku atau Allah yang Perkasa)
  • Ehyeh-Asher-Ehyeh (Aku adalah Aku atau Akulah Aku)
  • YHWH atau yang sebagian aliran Kristen melafalkannya dengan Yahweh atau Yehovah atau Jehovah (Tuhan). [Hal ini akan kita bahas pada topik khusus]
  • El Shaddai (Allah yang Maha Perkasa)
  • Yahweh Tzevaot atau Yahweh Sebaot (Allah bala tentara)

Lihat : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_nama_Allah_dalam_Alkitab_bahasa_Indonesia dan http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_nama_Allah_dalam_bahasa_Ibrani

Maka selama yang dimaksud itu adalah Allah ( اللهُ ), itu hanya dianggap sebagai terjemahan dari salah satu asmaul husna Allah yang disebutkan dalam bahasa mereka yang terdahulu, karena para Rasul itu diutus sesuai dengan bahasa kaumnya.

Hal ini sama ketika kita di Indonesia menterjemahkan Al-Aziz ( الْعَزِيزُ ) dengan Yang Maha Mulia untuk mempermudah pemahaman.

Namun itu hanya khusus kepada Ahlul kitab dalam kitab mereka saja (Taurat, Zabur, dan Injil). Tidak digeneralisir ke seluruh Agama sebagaimana yang dikehendaki oleh para Pluralis Liberal, untuk menganggap semua agama itu Tuhannya sama hanya beda cara penyebutannya saja.

Kitab-kitab itupun sebenarnya juga sudah dimansukh (dihapus) setelah diutusnya Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi wa sallam, dan diturunkannya Al-Qur’an sebagai wahyu penyempurna dan penutup.

Dari sini jelas bahwa Allah sebagai ilah yang dimaksud dalam kitab-kitab Ahlul Kitab yang terdahulu, sama dengan Allah yang disembah dan diibadahi oleh kaum Muslimin.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…. [QS. Al-Maidah :48]

Rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوْهُمْ، وَقُوْلُوْا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ.

Janganlah engkau membenarkan para Ahli Kitab, jangan pula mendustakan mereka. Katakanlah, ‘Saya beriman dengan apa yang diturunkan kepada kami dan kepada kalian. Ilah kami dan Ilah kalian satu dan kepada-Nya kami berserah diri’. (HR. Al-Bukhari)

Kata kunci dari hal ini adalah kaum Ahlul kitab itu mengenal Allah, dan menyebutnya juga dengan menggunakan ismul A’dom/ Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) sebagaimana kaum Muslim.

Adapun sebagian perbedaan penyebutan asmaul husna yang terdapat dalam kitab mereka, itu hanyalah dalam masalah perbedaan terjemahan Asmaul Husna saja. Walloohu A’lam

Literatur barat juga menyebutkan benang merah mengenai hal ini. Sebagaimana encyclopedia of brittanica yang menulis bahwa:

Allah, Arabic Allāh (“God”),  the one and only God in Islam. Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilāh, “the God.” The name’s origin can be traced back to the earliest Semitic writings in which the word for “god” was il or el, the latter being used in the Hebrew Bible (Old Testament). Allāh is the standard Arabic word for God and is used by Arab Christians as well as by Muslims.

Allah is the pivot of the Muslim faith. Islam’s holy scripture, the Qur’an, constantly preaches Allah’s reality, his inaccessible mystery, his various names, and his actions on behalf of his creatures. Three themes preponderate: (1) Allah is the Creator, Judge, and Rewarder; (2) he is unique (wāḥid) and inherently one (aḥad); and (3) he is omnipotent and all-merciful. Allah is the “Lord of the Worlds,” the Most High; “nothing … (150 of 499 words)

Lihat : http://global.britannica.com/EBchecked/topic/15965/Allah

(diakses pada 19 Maret 2014)

Elohim, singular Eloah ,  (Hebrew: God), the God of Israel in the Old Testament. A plural of majesty, the term Elohim—though sometimes used for other deities, such as the Moabite god Chemosh, the Sidonian goddess Astarte, and also for other majestic beings such as angels, kings, judges (the Old Testament shofeṭim), and the Messiah—is usually employed in the Old Testament for the one and only God of Israel, whose personal name was revealed to Moses as YHWH, or Yahweh. When referring to Yahweh, elohim very often is accompanied by the article ha-, to mean, in combination, “the God,” … (100 of 173 words)

Lihat: http://global.britannica.com/EBchecked/topic/185251/Elohim

(diakses pada 19 Maret 2014)

Bahkan pada zaman rasulullah, beliau pernah menantang para pendeta Nashrani untuk saling bermubahalah (do’a saling laknat untuk fihak yang bathil di antara keduanya) kepada Allah. Untuk membuktikan siapakah yang benar aqidahnya mengenai nabi Isa alaihissalaam (Yesus) dan Allah.

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” [QS. Ali Imran : 61]

Ini juga adalah bukti bahwa Ahlul Kitab juga mengenal Allah, dan mengakui Allah sebagai nama Tuhan-nya juga.

B. SEBAGIAN AHLUL KITAB YANG TIDAK SEPAKAT MENGENAI NAMA ILAH MEREKA

Pada abad modern ini, ada sebagian ahlul kitab yang memiliki ketidak sepakatan mengenai nama Allah ( اللهُ ) sebagai nama ilah mereka. Mereka berbeda pendapat akan hal ini. Baik dengan sesama ahlul kitab di kalangan mereka sendiri (Yahudi dan Nashrani), ataupun dengan kaum Muslimin. Mereka adalah aliran baru yang muncul baru-baru saja di zaman modern ini.

Bahkan aqidah mereka tidak hanya mengatakan hanya namanya saja yang beda, mereka juga mengatakan bahwa ilah mereka (tuhan yang mereka sembah) juga berbeda dengan ilah kaum Muslimin.

Perkataan dan aqidah mereka ini berakar dari “penamaan spekulatif” mereka terhadap Tetragammon bahasa Ibrani yang terdapat di perjanjian lama, yang berbunyi YHWH [ יהוה ]. Tetragrammon (empat huruf mati) YHWH [ יהוה ] itu dianggap sebagai nama ilah yang paling sering muncul di kitab perjanjian lama, dengan disebutkan sebanyak 6.823 kali.

Lihat : http://www.jewishencyclopedia.com/articles/11305-names-of-god#164

Dikatakan “penamaan spekulatif” karena semua kata itu berasal dari huruf yang berbentuk mati atau konsonan tanpa vokal, dan bisa disebutkan cara bacanya dengan berbagai macam variasi pembacaan YHWH [ יהוה ] itu. Baik itu disebutkan dengan cara penyebutan Yahwah, Yahweh, Jehova, Jehovah, dan lain-lain.

Padahal dalam tradisi pelafalan Yahudi, ketika mereka menemui huruf YHWH [ יהוה ] dalam kitab mereka untuk upacara keagamaan mereka, mereka langsung melafalkannya dengan “Adonai” (Allah Tuhanku Yang Maha Perkasa), dan tidak pernah mereka melafalkannya sebagaimana yang tertulis.

Oxford Dictionary of World Religions menulis:

Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.” [Lihat, John Bowker (ed), The Concise Oxford Dictionary of World Religions, (Oxford University Press, 2000).]

Lihat : http://adianhusaini.com/index.php/daftar-artikel/6-debat-kata-allah-mencuat-lagi-2-tuhan-atau-yahweh

Wikipedia juga menulis:

“Modern Jews never pronounce YHWH, instead, Jews say Adonai.”

Lihat : http://en.wikipedia.org/wiki/Names_and_titles_of_God_in_Judaism

Sejarah tidak pernah disebutkannya pelafalan YHWH [ יהוה ], karena dalam tradisi Yahudi hal tersebut dianggap terlarang dan tidak pantas untuk langsung menyebut nama ilah-nya.

Jewish Encyclopedia menulis :

The restriction upon communicating the Name proper probably originated in Oriental etiquette; in the East even a teacher was not called by name. For naming his master Elisha, Gehazi was punished with leprosy (II Kings viii. 5; Sanh. 100a). After the death of the high priest Simeon the Righteous, forty years prior to the destruction of the Temple, the priests ceased to pronounce the Name (Yoma39b).

From that time the pronunciation of the Name was prohibited. “Whoever pronounces the Name forfeits his portion in the future world” (Sanh. xi. 1). Hananiah ben Ṭeradion was punished for teaching his disciples the pronunciation of the Name (‘Ab. Zarah 17b).

Lihat : http://www.jewishencyclopedia.com/articles/11305-names-of-god#anchor9

Sebagian yang lain mengatakan bahwa pelarangan menyebut pelafalan YHWH itu dikarenakan adanya perintah langsung dari “Ten commandements”, yang melarang untuk menyebut nama Allah dengan sia-sia. Dalam kitab Keluaran 20 : 7 disebutkan,

“Do not use the LORD your God’s name as if it were of no significance; the LORD won’t forgive anyone who uses his name that way.”

“Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. “

Aliran kristen baru yang mempunyai aqidah bahwa nama tuhan mereka YHWH [ יהוה ] itu berbeda, dan tidak sama dengan ismul A’dzom ( اللهُ ). Mereka juga beranggapan bahwa ilah-nya orang Yahudi dan Kristen itu juga berbeda dengan ilah-nya kaum Muslimin. Mereka beranggapan bahwa ilah mereka itu adalah YHWH [ יהוה ], sedangkan Allah ( اللهُ ) itu hanya merupakan ilah nya kaum Muslimin saja.

Kenapa disebut “Aliran Kristen Baru”?……

Karena aqidah ini tidak pernah ada di kalangan kaum Yahudi. Bahkan terdapat juga sebagian orang Yahudi yang membantah aqidah “Aliran Kristen Baru” yang tidak setuju dengan ismul A’dzom ( اللهُ ) ini. Lihat penjelasan dan bantahan dari fihak Yahudi terhadap fihak Kristen mengenai hal ini dalam link video berikut ini:

  1. http://www.youtube.co.id/watch?v=ATrDPGypJHw
  2. http://www.youtube.com/watch?v=NqHdVhVGwK8

Adapun sejarah penyebutan nama YHWH dengan nama Jehovah, dan yang belakangan memiliki banyak variasi yang banyak bagaimana cara pengucapannya, ternyata dimulai sejak awal abad ke 16 Masehi oleh otoritas kristen.

Jewish Encyclopedia menulis :

The reading “Jehovah” is a comparatively recent invention. The earlier Christian commentators report that the Tetragrammaton was written but not pronounced by the Jews (see Theodoret, “Question. xv. in Ex.” [Field, “Hexapla,” i. 90, to Ex. vi. 3]; Jerome, “Præfatio Regnorum,” and his letter to Marcellus, “Epistola,” 136, where he notices that “PIPI” [= ΠIΠI = ] is presented in Greek manuscripts; Origen, see “Hexapla” to Ps. lxxi. 18 and Isa. i. 2; comp. concordance to LXX. by Hatch and Redpath, under ΠIΠI, which occasionally takes the place of the usual κύριος, in Philo’s Bible quotations; κύριος = “Adonay” is the regular translation; see also Aquila).

“Jehovah” is generally held to have been the invention of Pope Leo X.’s confessor, Peter Galatin (“De Arcanis Catholicæ Veritatis,” 1518, folio xliii.), who was followed in the use of this hybrid form by Fagius (= Büchlein, 1504-49). Drusius (= Van der Driesche, 1550-1616) was the first to ascribe to Peter Galatin the use of “Jehovah,” and this view has been taken since his days (comp. Hastings, “Dict. Bible,” ii. 199, s.v. “God”; Gesenius-Buhl, “Handwörterb.” 1899, p. 311; see Drusius on the tetragrammaton in his “Critici Sacri, i. 2, col. 344). But it seems that even before Galatin the name “Jehovah” had been in common use (see Drusius, l.c. notes to col. 351). It is found in Raymond Martin’s “Pugio Fidei.” written in 1270 (Paris, 1651, iii., pt. ii., ch. 3, p. 448; comp. T. Prat in “Dictionnaire de la Bible,” s.v.). See also Names of God.

The pronunciation “Jehovah” has been defended by Stier (“Hebr. Lehrgebäude”) and Hölemann (“Bibelstudien.,” i.).

Lihat : http://www.jewishencyclopedia.com/articles/8568-jehovah

Jewish Virtual Library, sebuah situs project kerjasama Amerika dan Israel atau AICE (American-Israeli Cooperative Enterprise) juga menulis di Glossary-nya, bahwa hanya orang Kristen saja yang umumnya menyebut nama Jehovah itu :

Jehovah

One of many names thought to be the correct pronunciation of the tetragrammaton (divine name comprised of the Hebrew equivalent letters YHWH). The name Jehovah is used mostly by Christians, as Jewish tradition maintains that it is a sin to try to even pronounce God’s name.

Lihat di glossary bagian huruf “J”, pada kata “Jehovah”: http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/glossJ.html

***

Kenapa hal ini kita terangkan panjang lebar? Ini karena jika aqidah yang salah ini dibiarkan begitu saja tanpa diluruskan, maka hal ini akan bertentangan dengan banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hadits-hadits Rasulullah yang menyebutkan lafdzul jalalah Allah ( اللهُ ) yang ditujukan kepada para Ahlul Kitab. Sedangkan hubungan antara dakwah tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) dengan Ahlul Kitab ini sangat erat hubungannya.

Sama seperti kaum musyrikin Mekkah yang merupakan anak keturunan Nabi Ismail ‘alaihis salaam, yang mengenal Allah. Maka dakwah tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini ditujukan kepada mereka untuk memberantas kesyirikan mereka, dan meluruskan Aqidah mereka. Hal ini telah kita bahas panjang lebar dalam Risalah Tauhid jilid 1.

Demikian juga kepada para Ahlul Kitab Yahudi dan Nashrani, yang “mengaku” merupakan pengikut Nabi Musa ‘alaihis salaam dan pengikut Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam (Yesus), yang mengenal Allah sebagai ilah mereka. Maka dakwah tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini juga ditujukan kepada mereka untuk memberantas kesyirikan mereka, dan meluruskan Aqidah mereka.

Oleh karena itulah penting bagi kita untuk meluruskan pemahaman yang salah akan spekulasi liar YHWH [ יהוה ], yang berakibat adanya keyakinan bahwa ilah-nya orang Yahudi dan Kristen itu berbeda dengan ilah-nya kaum Muslimin. Ilah mereka itu adalah YHWH [ יהוה ], sedangkan Allah ( اللهُ ) itu hanya merupakan ilah nya kaum Muslimin saja.

Hal ini kita ketengahkan, walaupun pemahaman aqidah yang salah ini hanya dianut oleh sebagian aliran Kristen saja. Dan isu YHWH [ יהוה ] ini umumnya hanya ada di Negara-negara non Arab, terutama di dunia barat.

Dakwah kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) kepada Ahlul Kitab ini memiliki suatu karakter khusus, karena mereka pada asalnya telah mengenal Allah ( اللهُ ) sebagai ilah mereka. Hanya saja mereka memiliki aqidah yang salah dan bathil terhadap Allah. Hal ini sama seperti dakwah kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) kepada kaum musyrikin Arab yang juga sudah mengenal Allah ( اللهُ ) sebagai ilah mereka.

Ini berbeda dengan dakwah kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) kepada orang-orang yang belum mengenal Allah. Seperti halnya penganut agama-agama non samawi dan kepada orang Atheis.

C. PENJELASAN MENGENAI YHWH [ יהוה ]

Penjelasan dan diskusi mengenai YHWH [ יהוה ] sendiri terdapat berbagai versi :

  1. Dari fihak Yahudi sendiri mempunyai beberapa pendapat mengenai arti YHWH :

– Dengan mengacu kepada kitab Keluaran 3 :14, maka YHWH [ יהוה ] berarti :

“The meaning would, therefore, be “He who is self-existing, self-sufficient,” or, more concretely, “He who lives,” the abstract conception of pure existence being foreign to Hebrew thought.”

– Sebagian lain memberikan penjelasan :

  • that it is derived from (“to fall”), and originally designated some sacred object, such as a stone, possibly an acrolite, which was believed to have fallen from heaven;
  • or from (“to blow”), a name for the god of wind and storm;
  • or from the “hif’il” form of (“to be”), meaning, “He who causes to be,” “the Creator”;
  • or from the same root, with the meaning “to fall,” “He who causes to fall” the rain and the thunderbolt—”the storm-god.”

Dari berbagai macam penjelasan itu, Jewish Encyclopedia mengatakan bahwa arti yang pertamalah (“He who is self-existing, self-sufficient,” or, more concretely, “He who lives,“) yang lebih terpilih :

“The first explanation, following Ex. iii. 14, is, on the whole, to be preferred.”

Lihat : http://www.jewishencyclopedia.com/articles/11305-names-of-god#anchor2

Dari penjelasan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Yahudi lebih cenderung mengartikan YHWH itu sebagai suatu “sebutan atau julukan” dibandingkan mengartikannya sebagai “nama yang layak” (the proper name).

Namun Yahudi tidak pernah menolak nama Allah sebagai nama yang layak, dan mereka pun juga mempergunakan ismul a’dzom Allah ( اللهُ ) tesebut. Silakan lihat kembali link video youtube sebelumnya yang telah kami share, mengenai bantahan dari Yahudi terhadap Kristen mengenai nama Allah.

  1. Berangkat dari penjelasan nomer 1 tadi, maka sebagian ummat Islam ada yang berpendapat bahwa YHWH itu adalah sama dengan salah satu sebutan asmaul husna Allah, Al-Hayyu Al-Qoyyum (Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri. الْحَيُّ الْقَيُّومُ ).

Lihat : http://www.discoveringislam.org/yahweh_in_quran.htm

Sebagian ulama (Seperti Ibnul Qoyyim rohimahulloh) memang juga berpendapat bahwa Al-Hayyu Al-Qoyyum ( الْحَيُّ الْقَيُّومُ ) (Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri), dua asmaul husna yang umumnya selalu disebutkan bersamaan, adalah asmaul husna Allah yang paling agung dan yang paling tinggi tingkatannya.

Dua nama ini disebutkan secara beriringan dalam ayat kursi (QS Al-Baqarah : 255) yang merupakan ayat paling agung di dalam Al-Qur’an dengan berdasarkan hadits yang shohih dari rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Lihat juga: Fiqh Asmaaul Husna, Syaikh Abdur Rozzaq Al-Badr hafidzahullah

  1. Moch. Ali, S.S. MA.Min. ahli filologi, Lecturer in Southeast Asian Islamic Philology and Semitic Studies di Universitas Airlangga-Indonesia, memberikan perspektif lain dari segi bahasa.

Filologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah, dan linguistik.

Beliau berkata bahwa huruf yod dalam [ י ] dalam kata YHWH [ יהוה ] dari bahasa Ibrani, berubah menjadi Alif ( ا ) dalam bahasa Arab. Sehingga menjadi disebut atau dibaca Allah ( اللهُ ). Atau dalam kata lain YHWH [ יהוה ] itu sama dengan Allah ( اللهُ ) karena bahasa Ibrani dan bahasa Arab itu sama-sama memiliki akar rumpun bahasa semitik yang sama.

Lihat penjelasan tersebut dalam debat beliau mengenai “Allah atau Yahweh” di : http://www.youtube.com/watch?v=ud873z58eQs

  1. Ahmad Deedat rohimahullah, seorang kristolog ahli debat international, mempunyai pendapat lain. Beliau berpendapat bahwa YHWH [ יהוה ] itu adalah panggilan yang berarti yaa huwa ( يَا هُوَ ) dalam bahasa Arab atau “Oh He” dalam bahasa Inggris. Sehingga kata-kata YHWH Elohim dalam bible itu berarti “Oh He Elohim” (Wahai Dia, Allah).

Beliau berkata :

HEBREW ; ARABIC ; ENGLISH

Elah ; Ilah ; god

Ikhud ; Ahud ; one

Yaum ; Yaum ; day

Shaloam ; Salaam ; peace

Yahuwa ; Ya Huwa ; oh he

YHWH or Yehova or Yahuwa all mean the very same thing. “Ya” is a vocative and an exclamatory particle in both Hebrew and Arabic, meaning Oh! And “Huwa” or “Hu” means He, again in both Hebrew and Arabic. Together they mean Oh He! So instead of YHWH ELOHIM, we now have Oh He! ELOHIM.

Ahmad Deedat juga mengutip English Bible “New and Improved Edition”, edited by Rev. C.V. Scofield D.D. dalam komentar kitab Kejadian (Genesis) dikatakan :

“Elohim, (sometimes El or Elah meaning God)” and alternatively spelled “Alah”

Lihat semua penjelasan Ahmad Deedat mengenai YHWH itu, dan juga scan dari komentar mengenai Elohim tersebut dalam buku beliau “What is His Name”.

Lihat: http://www.islamawareness.net/Allah/wihn.html

  1. Dr Shabir Ally,  president of the Islamic Information & Dawah Centre International di Toronto Canada, mengatakan bahwa YHWH [ יהוה ] itu berarti “He is” dan ini adalah salah satu nama sebutan Allah juga dalam. Adapun di Arabic Bible Translation, Allah ditulis sebagai translation Elohim dari bahasa Ibrani.

Lihat penjelasan beliau di : http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=it-TsFlacno

Dr. Shabir Ally juga menulis article “Yahweh, Jehovah or Allah : Which is God’s Real Name?” untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini.

Lihat : https://sites.google.com/site/sunrisinginwest/comparative-studies/articles/yahweh-jehovah-or-allah

D. RANGKUMAN DISKUSI MENGENAI YHWH [ יהוה ]

Diskusi lebih lanjut mengenai nama Allah ( اللهُ ) dan YHWH [ יהוה ] ini bisa kita tulis dalam beberapa point berikut ini :

  1. Kata YHWH [ יהוה ] itu hanya ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama. Sedangkan dalam Kitab Perjanjian Baru, kata YHWH [ יהוה ] tidak pernah ditemukan sama sekali.

Dengan kata lain Nabi Isa atau Yesus tidak pernah mengucapkan YHWH [ יהוה ], Yahwah, Yahweh, Jehova, Jehovah, dan lain-lain sama sekali.

Maka bagaimana mungkin sebagian ummat Kristen menyebut Yahwah, Yahweh, Jehova, Jehovah, sebagai nama Tuhan mereka, sedangkan Nabi Isa atau Yesus tidak pernah memperkenalkan nama itu sekalipun.

Belum lagi kaum Yahudi sendiri, selaku Ahlul Kitab yang lebih “otoritatif” terhadap Kitab Perjanjian Lama, ternyata membantah pemahaman sebagian ummat Kristen yang tidak mengakui Allah ( اللهُ ) sebagai nama Tuhan mereka.

  1. Ummat Kristen sendiri tidak sepakat mengenai nama Tuhan mereka, 20 Juta Kristen Arab mengenal Allah ( اللهُ ) dan menggunakan nama Allah ( اللهُ ) dalam menyebut nama Tuhan mereka. Bahkan dalam Bible berbahasa Arab pun, nama Allah ( اللهُ ) pun disebutkan dan dipergunakan.

Ironisnya, sebagian besar ummat Kristen di barat justru lebih familiar dengan menggunakan nama God yang bersifat umum dalam menyebut Tuhan mereka, dibandingkan dengan nama Allah ( اللهُ ).

Lihat pula : http://www.youtube.com/watch?v=pgJ0s1wNEZc

  1. Ummat Kristen yang membuat istilah baru untuk nama Tuhan mereka dengan nama Yahweh, Yehova, Jehovah, dan yang semisal; juga membuat-buat “serangan kebencian” yang tidak  berdasar kepada Islam.

Mereka membuat “serangan kebencian” dengan mengatakan, Allah nama Tuhan yang disembah dan diibadahi pemeluk agama Islam itu sebenarnya adalah nama berhala pagan pada zaman jahiliyyah yang merupakan dewa Bulan (Moon God). Hal ini dipelopori oleh seorang Pastur yang bernama Robert Morey pada tahun 1994 dalam tulisannya.

Padahal 20 juta ummat Kristen Arab mengenal Allah ( اللهُ ) dan menggunakan nama Allah ( اللهُ ) dalam menyebut nama Tuhan mereka. Belum lagi ummat Kristen di Indonesia juga lazim menggunakan nama Allah dalam menyebut nama Tuhan bapa mereka, dan tertera juga dalam Alkitab berbahasa Indonesia mereka walau dengan menggunakan pengucapan yang berbeda dengan pengucapan nama Allah ( اللهُ ) dalam bahasa Arab.

Bantahan tuduhan Robert Morey ini juga telah ditulis oleh Dr. Shabir Ally, president of the Islamic Information & Dawah Centre International di Toronto Canada. Silakan lihat :

http://www.beautifulislam.net/christianity/robert_moreys_moon_god_myth.htm#dm

  1. Rasulullah pernah mengirim surat dakwah kepada Hiraclius, Kaisar Kristen dari romawi. Isi surat itu masih tersimpan hingga sekarang dan didalam surat itu jelas tertulis nama Allah ( اللهُ).

Hiraclius pun ternyata juga memahami nama Allah, dan tidak mengingkarinya.

  1. Selain itu, sejak awal-awal kenabian, Rasulullah setelah menerima wahyu yang pertama kali beliau diajak oleh Khadijah istri beliau untuk menemui Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nashrani yang masih ada hubungan saudara dengan Khadijah. Dan Waraqah pun menyebut nama Allah ( اللهُ ) dan membenarkan kerasulan serta wahyu yang ( اللهُ ) turunkan kepada Rasulullah Shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini terekam dengan valid dan authentik, sebagaimana yang tertulis dalam shohih Bukhari dalam hadits yang cukup panjang.

Sehingga sebagai kesimpulan dari pembahasan ini,

  1. Baik nama ilah (Tuhan) ataupun ilah-nya (Tuhannya) sendiri dari Islam dan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) itu sama. Tidak ada perbedaan. Yakni ilah mereka adalah Allah ( اللهُ)  subhaanahu wa ta’aala semata.

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dan Ilah kalian semua itu adalah Ilah Yang Satu (Yang Maha Esa); tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [QS. Al Baqarah : 163]

Rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوْهُمْ، وَقُوْلُوْا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ.

Janganlah engkau membenarkan para Ahli Kitab, jangan pula mendustakan mereka. Katakanlah, ‘Saya beriman dengan apa yang diturunkan kepada kami dan kepada kalian. Ilah kami dan Ilah kalian satu dan kepada-Nya kami berserah diri’. (HR. Al-Bukhari)

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah ( اللهُ ) dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb selain Allah ( اللهُ )”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS. Ali Imran : 64]

  1. Klaim nama Yahweh, Yehovah, Jehovah, ataupun variasi yang lainnya itu semua bukanlah nama Allah. Itu hanyalah nama spekulatif yang dibuat-buat dan tidak otentik.

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

tu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuknya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. [QS. An-Najm : 23]

  1. Islam dan Ahlul Kitab sama-sama mendapatkan wahyu yang diturunkan oleh Allah yang berkesinambungan, melalui para Rasul utusan Allah yang saling bersaudara. Dengan keyakinan, bahwa Al-Qur’an itu adalah Kitab wahyu Allah yang terakhir, yang menghapus dan menggantikan kitab-kitab wahyu Allah yang diturunkan sebelumnya. Baik itu kitab Taurat ataupun Kitab Injil.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…. [QS. Al-Maidah :48]

 

  1. Risalah rasulullah membenarkan risalah-risalah nabi sebelumnya. Namun sekaligus juga menghapus dan menggantikan risalah-risalah syariat kenabian sebelumnya. Sehingga Allah tidak memandang sah agama penganut risalah kenabian sebelumnya, setelah Rasulullah diutus dengan Diinul Islam ini.

Baik itu Yahudi yang mengikuti risalah Kitab Taurot yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salaam, berikut dengan kitab-kitab yang lain dalam perjanjian lama. Ataupun Nashrani yang mengikuti Taurat dan kitab-kitab lain dalam perjanjian lama, dengan ditambah Injil dan kitab-kitab lain dalam perjanjian baru. Maka semua itu sudah berlalu masa validasinya, terhapus, tidak berlaku, dan digantikan dengan risalah Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam melalui Kitab wahyu Al-Qur’an dan diinul Islam.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. [QS. Ali Imran : 19]

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Ali Imran : 85]

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحدمن هذه الأمة يهودي ولانصراني ثم يموت ولم يؤمن بما أرسلت به إلا كان من أصحاب النار))رواه مسلم.

“Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya. Tiada seorang pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka” (HR. Muslim)

  1. Selain dari berlalunya masa validasi kitab-kitab wahyu sebelum Al-Qur’an itu (Taurat dan Injil), dalam Al-Qur’an Allah juga mencela para ahlul kitab yang walaupun mereka mengenal dan mengakui Allah ( اللهُ ) sebagai ilah (Tuhan) mereka sebagaimana kaum Muslimin, dalam beberapa sisi :

a. Memiliki Aqidah yang bathil terhadap Allah, melakukan kesyirikan, dan mengatakan hal yang mengada-ada terhadap Allah yang mereka buat-buat sendiri tanpa ilmu dan wahyu.

b. Perilaku manipulasi wahyu yang dilakukan oleh para Ahlul Kitab terhadap kitab-kitab mereka. Baik itu dengan ditambahi, diubah, ataupun dikurangi, untuk kemudian diaku-aku inilah wahyu yang diturunkan oleh Allah.

c. Mengingkari/mengkufuri ayat-ayat Allah, padahal mereka mengetahui itu datang dari Allah dan mengaku beriman terhadapnya.

d. Akhlak dan perilaku mayoritas Ahlul Kitab yang tercela, bahkan hingga sampai taraf membunuhi nabi-nabi mereka sendiri. Sedangkan yang terpuji hanya minoritas saja.

e. Keengganan mereka untuk membenarkan dan memeluk risalah kenabian rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, berikut juga wahyu Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau. Dan keengganan mereka untuk membenarkan dan memeluk syariat diinul Islam yang menghapus syariat ahlul kitab sebelumnya.

Kelima point diatas akan diterangkan secara ringkas dalam bahasan berikut ini.

E. PENYIMPANGAN PARA AHLUL KITAB WALAUPUN MEREKA MENGENAL DAN MENGAKUI ALLAH ( اللهُ )

Salah satu point penting dari pembahasan ini bagi ummat Islam, bahwasanya pembahasan ini bukan semata-mata hanya untuk memperlihatkan celaan Allah kepada Ahlul Kitab dalam konteks diniyyah. Karena ada sebagian juga yang dipuji oleh Allah walaupun minoritas.

Akan tetapi yang paling penting, agar jangan sampai kita sebagai Muslim yang sama-sama mengenal dan beriman kepada Allah seperti halnya Ahlul Kitab, mempunyai perilaku dan aqidah tercela seperti halnya Ahlul Kitab.

Orang yang mengenal Allah dan mengaku beriman kepada wahyu yang diturunkan kepadanya, bukan jaminan bahwa dia kemudian mau untuk beraqidah yang benar terhadap Allah.

Bukan jaminan bahwa dia akan selalu mau mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangannya, walaupun dia mengetahui hal itu datangnya dari Allah.

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ: فَمَنْ

Sungguh diantara kalian akan mengikuti apa-apa yang dilakukan ummat terdahulu, selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka”. Diantara para sahabat ada yang bertanya “Ya, Rasululah apakah yang dimaksud (di sini) adalah pemeluk agama Yahudi dan Nashrani ?” Rasulullah menjawab “Siapa lagi (kalau bukan mereka) (HR. Bukhari)

Ahlul Kitab, Yahudi dan Nashrani, walaupun mereka mengenal dan beriman kepada Allah. Walaupun para Nabi turun silih-berganti membimbing mereka. Namun dalam perjalanan keberagamaan mereka. Sikap mereka terhadap Allah, sikap mereka terhadap syariat yang Allah turunkan kepada mereka pada waktu itu, dan sikap mereka terhadap kitab wahyu yang Allah berikan kepada mereka melalui perantara Nabi mereka (baca : Taurat dan Injil), ternyata banyak bertolak belakang dengan tuntutan wahyu Allah yang turun kepada mereka.

Hal itu mengakibatkan dimurkai mereka menjadi ummat yang dimurkai oleh Allah. Yakni dimurkai karena mengetahui ilmu dan wahyu yang Allah turunkan kepadanya, namun enggan untuk mengamalkannya. Bahkan membangkang dan bersikap culas terhadapnya.

Sedangkan sebagian lagi yang lain menjadi ummat yang tersesat karena membikin-bikin dan mengamalkan hal yang diaku-aku sebagai bagian dari agama. Yang mereka tidak mempunyai ilmu mengenai hal itu, dan tidak ada wahyu yang turun mengenai hal itu.

Bahkan mereka melakukan hal itu, hingga mengatakan sesuatu mengenai Allah yang mereka buat-buat sendiri. Contoh nyata dari hal ini adalah perkataan mereka yang mengatakan bahwa Allah itu adalah satu oknum dari tiga bagian oknum yang bersatu menjadi satu.

Kedua golongan ini, baik golongan yang dimurkai ataupun golongan yang tersesat, adalah refleksi hasil perbuatan interaksi mereka terhadap wahyu Allah yang diturunkan kepada mereka. Golongan yang dimurkai adalah Yahudi. Sedangkan golongan yang tersesat adalah Nashrani.

Diriwayatkan dari sahabat Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

إن المغضوب عليهم هم اليهود ، وإن الضالين النصارى

“ Sesungguhnya (المغضوب) -yang dimurkai- adalah Yahudi dan (الضالين) -yang tersesat- adalah Nasrani”

(H.R Ahmad, Tirmidzi, dan yang lainnya. Dihasankan oleh Imam Tirmidzi. Lihat Fathul Qadir)

Berikut mari sedikit kita sebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang Allah turunkan berkaitan dengan Ahlul Kitab ini di halaman berikutnya.

a. Memiliki Aqidah yang bathil terhadap Allah, melakukan kesyirikan, sihir, dan mengatakan hal yang mengada-ada terhadap Allah yang mereka buat-buat sendiri tanpa ilmu dan wahyu.

Contoh yang dilakukan oleh kaum Yahudi bani Israil

– Melakukan kesyirikan

{وقالتاليهود عزير ابن الله وقالت النصارى المسيح ابن الله ذلك قولهم بأفواههم يضاهئون قولالذين كفروا من قبل قاتلهم الله أنى يؤفكون}

“Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At Taubah : 30).

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. [QS. Al Baqarah : 54]

– Mengatakan hal yang diaku-aku sendiri terhadap Allah

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً ۚ قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ ۖ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” [QS. Al Baqarah : 80]

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”. [QS. Al Jumu’ah : 6]

– Melakukan kekufuran sihir

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).

Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya.

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.

Dan sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. [QS. Al-Baqarah 101-102]

– Menisbatkan hal yang buruk terhadap Allah

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.

Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.

Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. [QS. Al-Maidah :64]

Contoh yang dilakukan oleh kaum Nashrani

– Melakukan kesyirikan

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

 

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.

 

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. [QS. An-Nisaa : 171]

{لقدكفر الذين قالوا إن الله هو المسيح ابن مريم وقال المسيح يا بني إسرائيل اعبدوا اللهربي وربكم إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجن ومأواه النار وما للظالمين منأنصار. لقد كفر الذين قالوا إن الله ثالـث ثلاثة وما من إله إلا إله واحد وإن لم ينتهواعما يقولون ليمسن الذين كفروا منهم عذاب أليم}

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam’, padahal Al Masih (sendiri ) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS. Al Maidah: 72-73).

 

{اتخذواأحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمـروا إلا ليعبدوا إلهاواحدا لا إله إلا هو سبحانه وتعالى عما يشركون}

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak adaTuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (At Taubah : 31)

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”.

Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. [QS. Al-Maidah : 116-117]

– Mengatakan hal yang diaku-aku sendiri terhadap Allah

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. [QS. Al Baqarah : 111]

 

 

 

 

 

 

 

 

b. Perilaku manipulasi wahyu yang dilakukan oleh para Ahlul Kitab terhadap kitab-kitab mereka. Baik itu dengan ditambahi, diubah, ataupun dikurangi, untuk kemudian diaku-aku inilah wahyu yang diturunkan oleh Allah.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.

Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqarah : 79]

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?. [QS. Al-Baqarah : 75]

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. [QS. Ali Imran : 187]

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا ۛ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا ۚ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi.

(Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya.

Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. [QS. Al-Maidah : 41]

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [QS. Al-Maidah : 13]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c. Mengingkari/mengkufuri ayat-ayat Allah, padahal mereka mengetahui itu datang dari Allah dan mengaku beriman terhadapnya.

{يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّوَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ }

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?” (QS. Al Imron: 71)

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” (QS. Al Imron: 98)

{يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأَنتُمْ تَشْهَدُونَ }

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu kafir kepada ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya).” (QS. Al Imran: 70)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d. Akhlak dan perilaku mayoritas Ahlul Kitab yang tercela, bahkan hingga sampai taraf membunuhi nabi-nabi mereka sendiri. Sedangkan yang terpuji hanya minoritas saja.

– Mendustakan dan membunuhi para Nabi

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا ۖ كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul.

Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.

Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. [Qs. Al-Maidah : 70-71]

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup”. Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. [QS. An-Nisaa : 155]

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. [QS. Ali Imran : 122]

الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّىٰ يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ ۗ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api”.

Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar”. [QS. Ali Imran : 183]

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu.

Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [QS. Al-Maidah : 77]

– Menghalang-halangi orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti petunjuk Allah dengan benar

{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنقِمُونَ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ}

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?” (QS. Al Maidah: 59)

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [QS. Al-Baqarah : 120]

– Dilaknati oleh Nabi mereka sendiri karena sifat mereka yang buruk

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [QS. Al-Maidah :78-79]

e. Keengganan mereka untuk membenarkan dan memeluk risalah kenabian rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, berikut juga wahyu Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau.

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui (QS al-Baqarah [2]: 146).

******

Demikianlah penyimpangan para Ahlul Kitab secara ringkas, sebagaimana yang Allah cela di dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu mereka disebut sebagai kaum yang dimurkai oleh Allah (Yahudi) dan kaum yang tersesat (Nashrani).

Orang yang mengenal Allah dan mengaku beriman kepada wahyu yang diturunkan kepadanya, bukanlah jaminan bahwa dia kemudian mau untuk beraqidah yang benar terhadap Allah.

Bukan jaminan bahwa dia akan selalu mau mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangannya, walaupun dia mengetahui hal itu datangnya dari Allah. Dan fenomena mengikuti jejak Ahlul Kitab ini juga mulai nampak jelas di kalangan ummat Islam sendiri.

Baik itu dengan keenggan untuk beraqidah dan menjalankan syariat Islam yang Allah turunkan. Keengganan untuk beraqidah dengan benar kepada Allah yang menuntut konsekuensi wala’ dan baro’ yang benar. Dan bahkan tidak jarang juga ada orang yang mengaku beragama Islam, mengaku mengenal Allah, namun mengalami Islamophobia serta alergi dengan Islam itu sendiri.

Hal ini belum ditambah dengan berbagai macam kesyirikan yang bertebaran di kalangan ummat Islam itu sendiri, baik itu berupa sihir, jimat, bertawasul ke kuburan orang sholeh, mengkeramatkan peninggalan-peninggalan yang dianggap bertuah, dan lain-lain.

Mari kita kembali ke pembahasan ahlul kitab lagi.

Walaupun sikap mayoritas Ahlul Kitab terhadap Allah dan wahyu yang Allah turunkan, adalah seperti yang telah kita sebutkan. Namun minoritas Ahlul Kitab ada juga yang tidak berperilaku seperti itu. Minoritas Ahlul Kitab berlaku lurus, jujur, dan mau membenarkan ayat-ayat Allah dan kenabian Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan menjadi Islam.

Hatta jika ada minoritas Ahlul Kitab berlaku lurus, jujur, dan mau membenarkan ayat-ayat Allah, namun belum mau mengakui risalah kenabian Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, maka ini adalah target dakwah kita yang harus kita hilangkan syubhatnya. Hal yang sama juga berlaku untuk mayoritas Ahlul kitab.

{وَإِنَّمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَاأُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَناً قَلِيلاًأُوْلَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ}

“Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya” (QS.Ali Imron: 199)

{الَّذِينَ آتَيْنَاهُمْ الْكِتَابَ مِنْقَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ. وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِإِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ}

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka AlKitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: ‘Kami beriman kepadanya, sesungguhnya  Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).” (QS. Al Qashash: 52-53)

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ  الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ, فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

“Tiga orang yang mereka diberi pahala dua kali:

(1) Seorang ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati Nabi (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beriman kepada beliau, mengikutinya, dan memercayainya, maka dia mendapatkan dua pahala;

(2) budak sahaya yang menunaikan kewajiban terhadap Allah l dan kewajiban terhadap tuannya, ia mendapatkan dua pahala; dan

(3) seseorang yang memiliki budak perempuan lalu memberinya makan dan bagus dalam hal memberi makannya, kemudian mendidiknya dan bagus dalam mendidiknya, lalu dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. al-Bukhari no. 3011 dan Muslim dalam Kitabul Iman, dan hadits ini lafadz Muslim)

Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Tuhan yang menggenggam diri Muhammad, tiada seorang pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim]

F. KEKHUSUSAN PERINTAH DAKWAH TAUHID ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) KEPADA PARA AHLUL KITAB

Di dalam Islam, Ahlul Kitab memiliki posisi khusus tersendiri karena mereka juga mengenal Allah sebagai ilah mereka, dan kitab Wahyu pernah turun kepada mereka.

Syari’at sendiri secara khusus juga mengistimewakan mereka dengan membolehkan seorang pria Muslim menikahi wanita Ahlul Kitab yang mushonaat (yang menjaga kehormatannya), dan membolehkan muslim untuk memakan sembelihan mereka.

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu” [al-Maidah/5: 5]

Akan tetapi posisi mereka dalam kacamata aqidah dan dakwah Tauhid, Ahlul kitab adalah seorang :

  1. Kafir Ahlul Kitab

Karena mereka menolak untuk mengimani kerasulan Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan kitab wahyu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada beliau.

 

  1. Musyrik Ahlul Kitab

Karena sebagian dari mereka mensyirikkan Allah dengan Nabi Uzair ‘alaihis salaam (bagi Yahudi), dan mensyirikkan Allah dengan Nabi Isa atau Yesus ‘alaihis salaam (bagi Nashrani).

 

Dan mereka semua mensyirikkan Allah dengan para pendeta dan rabi pemuka agama mereka, dengan cara menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Untuk kemudian diaku-aku bahwa inilah yang dihalalkan dan diharamkan Allah, dengan mengikuti aturan dari sang pendeta dan rabi itu.

Sebagian dari Ahlul kitab itu ada yang muwahhid (Ahlut Tauhid), yakni tidak mensyirikkan Allah. Akan tetapi mereka tetap disebut sebagai “Kafir Ahlul Kitab” sepanjang mereka menolak untuk mengimani kerasulan Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan kitab wahyu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada beliau.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ {1}

رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً {2}

فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ {3}

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ {4}

Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. [QS. Al-Bayyinah : 1-4]

Oleh karena itu karakteristik dakwah Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) khusus kepada Ahlul Kitab itu mempunyai keunikan, dan umumnya berkisar pada empat topik besar sebagaimana yang akan kami jelaskan pada halaman berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Ajakan dakwah dengan bukti yang jelas dan bashiroh untuk mengenal Allah dengan cara tidak mensyirikkannya

Yakni ajakan dakwah untuk benar-benar mentauhidkan Allah, dan tidak mensyirikkan-Nya walaupun itu dengan cara :

a. Mensyirikan Allah dengan para Nabi-Nya. Terutama kepada Nabi Uzair dan Nabi Isa (Yesus) secara aqidah, dengan langsung mengatakan bahwa Nabi Uzair dan Nabi Isa (Yesus) itu merupakan penjelmaan dari Allah, atau bagian dari dzat Allah, atau anak Allah yang dilahirkan secara biologis.

 

Telah kita sebutkan tadi ayatnya di QS An-Nisaa : 117, Al-Maidah : 72-73, Al-Maidah : 116-117, dan At-Taubah : 30-31

 

b. Mensyirikkan para rabbi-nya, para pendeta-nya, ataupun para pemuka agamanya, dengan cara cara menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Untuk kemudian diaku-aku bahwa inilah yang dihalalkan dan inilah yang diharamkan Allah, dengan mengikuti aturan dari sang pendeta dan rabi itu.

 

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

{اتخذواأحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمـروا إلا ليعبدوا إلهاواحدا لا إله إلا هو سبحانه وتعالى عما يشركون}

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak adaTuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (At Taubah : 31)

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ (اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّه)ِ قَالَ: قُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ! إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ. قَالَ: أَجَلْ , وَلَكِنْ يُحِلُّوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَيَسْتَحِلُّونَهُ وَيُحَرِّمُوْنَ عَلَيْهِمْ مَا أَحَلَّ اللهُ فَيُحَرِّمُوْنهُ , فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ لَهُمْ

Dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu, dia berkata:

“Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan pada leherku terdapat (kalung) salib yang terbuat dari emas.

‘Adi bin Hâtim juga berkata: “Dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an, yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (tuhan-tuhan) selain Allah”.

‘Adi bin Hâtim berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka)”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, akan tetapi mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan apa yang Allâh haramkan, lalu merekapun menganggapnya halal. Dan mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan apa yang Allâh halalkan, lalu merekapun menganggapnya haram. Itulah peribadahan mereka (para pengikut) kepada mereka (para pendeta)”. [HR. al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubra, 1/166, dinukil dari asy-Syirku fil Qadîm wal Hadîts, hlm. 1109, karya: Abu Bakar Muhammad Zakaria]

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan di hasankan oleh Syaikh Albani, Rasulullah menyuruh ‘Adi bin Hatim untuk membuang Salib emas yang dipakai olehnya.

Rasulullah bersabda,

يَا عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ

“Hai ‘Adi, buanglah berhala itu darimu!”

c. Menyerahkan bentuk-bentuk peribadahan, baik itu dengan bentuk tawasul do’a atau tabaruk mencari berkah, baik itu kepada :

  • Salib; bintang daud (david); Ritual gerakan tangan sebelum berdo’a yang melambangkan salib dan penyebutan trinitas Allah bapa, Yesus, dan Roh Kudus (holy spirit); dan symbol-simbol keagamaan lainnya
  • Makam yang diakui sebagai makam para nabi-nabinya.
  • Makam para pemuka agama atau wali orang sucinya (saint).
  • Tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat suci yang tidak ada dalilnya, seperti misal gua Maria.
  • Patung-patung dan lukisan-lukisan, baik itu malaikat, nabi, yang diaku sebagai wali orang suci (saint atau santo atau santa) yang umumnya ada di gereja-gereja atau tempat lainnya.
  • Bekas-bekas orang sholeh dan peninggalannya dengan memisalkan kepada para Nabi.

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah. Di dalamnya terdapat shuroh (gambar atau patung). Mereka menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda,

إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya mereka itu apabila di antara mereka terdapat orang yang sholih yang meninggal dunia, maka mereka pun membangun di atas kuburnya masjid (tempat ibadah) dan mereka memasang di dalamnya Shuroh (gambar atau patung) untuk mengenang orang-orang soleh tersebut. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat kelak(HR. Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528).

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي لَمْ يَقُمْ مِنْهُ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ قَالَتْ فَلَوْلَا ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَلَوْلَا ذَاكَ لَمْ يَذْكُرْ قَالَتْ

Dari Aisyah radhiyallahu’anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sakitnya yang menyebabkan beliau tidak bisa bangkit lagi,

‘Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah (masjid untuk yahudi, yakni sinagoge. Dan masjid untuk Nashrani, yakni gereja)’.”

Aisyah berkata, “Kalau bukan karena itu, niscaya kuburan beliau dipertontonkan, padahal tindakan itu dikhawatirkan akan dijadikannya kuburan beliau sebagai masjid.” [HR. Muslim]

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Bahwa Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah memerangi kaum Yahudi yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat Ibadah (Masjid bagi Yahudi, yakni Sinagoge).” [HR. Muslim]

حَدَّثَنِي جُنْدَبٌ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepadaku Jundab dia berkata, “Lima hari menjelang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat, aku mendengar beliau bersabda,

‘Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang di antara kalian sebagai kekasih, karena Allah Ta’ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Dan kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari mereka sebagai tempat ibadah (masjid untuk yahudi, yakni sinagoge. Dan masjid untuk Nashrani, yakni gereja), maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu”. [HR. Muslim]

Dan telah lewat juga bagi kita hadits ‘Adi bin Hatim yang memakai kalung salib emas, dan rasulullah menyebutnya sebagai watsan (berhala) serta menyuruhnya untuk membuangnya.

Mungkin di antara kita bertanya-tanya, kenapa sebagian sikap kesyirikan Ahlul Kitab yang berkaitan dengan :

  • Masalah kuburan para nabi dan orang-orang sholeh
  • Sikap ghuluw (berlebih-lebihan hingga melewati batas syariat) terhadap saint (orang sholeh atau wali) dengan memasang gambar dan patung mereka.
  • Sikap ghuluw terhadap symbol-simbol keagamaan seperti salib yang disakralkan bagi orang Nashrani.
  • Sikap ghuluw terhadap bekas-bekas peninggalan orang Sholeh (saint atau santo atau santa) dengan memisalkannya kepada para Nabi.

serupa dengan yang dilakukan sebagian kaum muslimin?

Jawabnya bahwa kemunkaran ini sebenarnya sudah dikhabarkan oleh Rasulullah, dan rasulullah juga sudah memperingatkannya dengan pengingkaran yang sangat keras. Oleh karena itu rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ: فَمَنْ

Sungguh diantara kalian akan mengikuti apa-apa yang dilakukan ummat terdahulu, selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka”. Diantara para sahabat ada yang bertanya “Ya, Rasululah apakah yang dimaksud (di sini) adalah pemeluk agama Yahudi dan Nashrani ?” Rasulullah menjawab “Siapa lagi (kalau bukan mereka) (HR. Bukhari)

Adapun penjelasan kenapa hal ini sampai bisa terjadi kepada ummat Islam? Maka secara garis besar ini terjadi karena mereka kurang faham, atau salah dalam memahami, makna dari kalimat Tauhid Laa ilaaha Illalloohu ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ). Hal ini telah kami bahas panjang lebar dalam tulisan kami “Risalah Tauhid Jilid 1”, hendaklah kembali merujuk ke situ.

***

Dakwah kepada Ahlul kitab agar benar-benar mentauhidkan Allah, dan tidak mensyirikkan Nya dengan segala sesuatu apapun, “secara umum” kembali kepada perintah Allah berikut ini :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah ( اللهُ ) dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb selain Allah ( اللهُ )”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS. Ali Imran : 64]

Adapun secara khusus dan technical, maka ini kembali kepada tema-tema utama penjelasan mengenai syubhat-syubhat yang menyelimuti Tauhid dalam lingkup ilmu kristologi, dengan cara berhujjah menggunakan Alkitab mereka sendiri.

Bashiroh Tauhid yang berasal dari argument Alkitab sendiri dalam lingkup kristologi, untuk membantah keyakinan Trinitas dan Yesus adalah Tuhan, berkisar mengenai masalah yang akan kami jelaskan pada halaman berikut.

gereja-kuburan

[Untuk contoh lain yang lebih banyak mengenai kuburan di dalam gereja atau di halaman gereja, bisa dicari sendiri dengan menggunakan keywords “Tomb in church” atau “Cemetery church” di google, kemudian klik di bagian images]

 

 

 

 

 

 

a. Nabi Isa ‘Alaihis Salaam (Yesus Kristus) tidak pernah menyebutkan secara terang-terangan dengan kalimat yang tidak ambigu, pernyataan yang mengatakan “Akulah Tuhan”, atau “Akulah Allah”, atau “Sembahlah aku”.

 

Metode ini popular digunakan oleh dr. Zakir Naik hafidzahulloh, di depan debat Q & A secara live di depan ribuan khalayak umum. Beliau memakai metode ini dengan pertaruhan bagi yang bisa membuktikannya tersebut ada di dalam bible, maka beliau akan langsung masuk Kristen. Hal ini bisa kita lihat sendiri di banyak video “public debate” beliau, atau via internet yang terekam di youtube.

Beliau melakukan hal ini, karena selain beliau hafal isi Bible dan seluk-beluknya, juga karena terinspirasi oleh jaminan verifikasi dalam QS Al-Maidah : 116-117. Walloohu A’lam

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”.

Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. [QS. Al-Maidah : 116-117]

 

 

 

 

 

 

 

b. Ayat palsu dalam injil Yohannes yang menyebutkan masalah bahwa asal mula adalah firman dan hingga menjelma menjadi Yesus.

Ayat ini sebenarnya merupakan salah satu point syubhat utama, untuk menganggap bahwa Yesus itu adalah Allah yang menjelma dalam bentuk tubuh manusia.

Ayat yang dimaksud adalah yang tersebut adalah Yohannes (John) 1 : 1-14 atau Yohannes (John) 1 : 1-18.

1:1  Pada mulanya adalah Firman;Firman itu bersama-sama dengan Allahdan Firman itu adalah Allah.

1:2  Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.

1:3  Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

1:4  Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

1:5  Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

1:6  Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; 

1:7  ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.

1:8  Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.

1:9  Terang  yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 

1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. 

1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

1:15 Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”

1:16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;

1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, c  tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Yohannes 1 : 1-14 itu sebenarnya berasal dari hymne platonic, yang mulanya diperkenalkan oleh Clement dari Alexandria. Atau dengan kata lain, Yohannes 1 : 1-14 itu sebenarnya adalah ajaran filsafat Platonis yang disusupkan ke dalam bible.

Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Saint Agustine dalam bukunya “Confession of Saint Agustine” yang ditulis dengan bahasa Latin pada 397 hingga 400 Masehi. Pada terjemahan bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh Albert C. Outler Ph.D., D.D., (Professor of Theology, Perkins School of Theology Southern Methodist University Dallas, Texas), Book 7, Chapter IX, disebutkan :

“….certain books of the Platonists, translated from Greek into Latin. And therein I found, not indeed in the same words, but to the selfsame effect, enforced by many and various reasons that “in the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God. The same was in the beginning with God. All things were made by him; and without him was not anything made that was made.”

Catatan kaki Alkitab The New Testament of the New American Bible, 1970 hal. 203, disebutkan bahwa Yohanes 1:1-18 bukanlah bagian Injil Yohanes, melainkan karya lepas yang kemudian dimasukkan menjadi pembuka kitab Yohanes tersebut.

John 1:1-18; “The prologue is a hymn, formally poetic in style – perhaps originally an independent composition and only later adapted and edited to serve as an overture to the gospel”

Jika ditanyakan, kenapa ajaran filsafat Platonisme bisa masuk dan terselip ke dalam Bible?

Jawabannya hal itu sangat wajar. Karena sejak awal perkembangan gereja dan pemikiran kristen, gereja berada di bawah kekuasaan dan tekanan kekaisaran romawi pagan. Berhubungan langsung dengan kultur filsafat pagan Yunani-Romawi yang menjadi pondasi kebudayaan dan keyakinan mereka. Hingga kemudian dimasukkanlah filsafat Logos (Firman) yang berasal dari ajaran Platonisme ini ke dalam bible.

Sebenarnya pengaruh filsafat platonisme ke dalam ajaran gereja dan pemahaman mengenai ajaran ketuhanan Kristen sejak dari masa awal, sudah umum dibahas oleh para ilmuwan barat yang Kristen itu sendiri. Oleh karena itu topic ini sebenarnya sudah tidak terlalu mengherankan.

***

Jika pada tulisan sebelumnya disebutkan bahwa, Rasulullah sudah memperingatkan bahaya ummat Islam yang mengikuti apa yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dalam merusak dan mengkaburkan ajaran agamanya. Maka apakah filsafat platonisme ini juga pernah menginfiltrasi ke dalam pemahaman Islam juga?

Al-Jawab, ya. Hal ini juga menginfiltrasi ke dalam pemahaman tasawuf yang menyimpang dari sunnah dan manhaj salaf yang haq, yang diajarkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya dalam memahami Islam.

Oleh karena itu tidak heran, jika kita melihat ada istilah hulul (menitis), ittihad (menjadi satu), wihdatul wujud (menjadi satu dalam wujud makhluk, atau “manunggaling kawulo gusti” dalam bahasa jawa), pembagian tingkatan syariat dan hakikat dalam ma’rifatulloh (mengenal Allah), dan lain-lain sebagai interpretasi batil dan diada-adakan dari kalimat Tauhid Laa ilaaha Illalloohu ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ).

Para ulama sudah memperingatkan akan bahaya hal ini dengan peringatan yang keras. Tasawuf adalah pintu gerbang masuknya berbagai macam kesesatan. Perincian mengenai infiltrasi filsafat platonisme (filsafat platonisme versi faham neo platonisme lebih tepatnya) sebagai salah satu faham yang mempengaruhi pemahaman Tasawuf ini, bisa dilihat dalam buku Syaikh Ihsan Ilahi Dhohir “Sejarah Hitam Tasawuf” (judul versi terjemahan Indonesia dari Al-Mansya’ wal Mashodir), dan “Darah Hitam Taswuf” (judul versi terjemahan Indonesia dari Dirosat fit tasawwuf).

Ilmuwan barat orientalis seperti misal Reynold A. Nicholson, juga mengakui akan hal ini dalam buku penelitiannya mengenai Tasawuf yang berjudul “The Mystics of Islam”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c. Makna perkataan “anak Allah”, atau “anak Tuhan” yang tidak dikhususkan hanya kepada Yesus saja. Dan juga ayat yang menyebutkan kata “begotten” (Yohannes 3 : 16) yang berarti anak yang dilahirkan dengan cara hubungan biologis kepada Yesus Kristus.

i. Gelar Anak Tuhan

Gelar anak tuhan atau anak Allah atau “son of god” atau yang memiliki makna itu, baik itu dalam bentuk tunggal ataupun bentuk jamak, sebenarnya bertebaran baik di kitab-kitab perjanjian lama ataupun di kitab-kitab perjanjian baru, sebagai suatu suatu kalimat metafora “orang-orang yang beriman kepada Allah” atau “pengikut para nabi yang beriman kepada Allah” atau “orang-orang sholeh yang mengamalkan ajaran Kitab dan nabi-nya”.

Istilah ini pernah juga ditujukan secara khusus kepada Nabi Adam ‘alaihis salaam ( Lukas 3 : 38), dan kepada Efraim ( Yeremia 31 :9).

Siapa Efraim?

Efraim adalah anak bungsu dari Nabi Yusuf ‘alaihis salaam, yang kemudian diangkat (diadopsi) oleh kakeknya Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Nabi Ya’qub atau yang memiliki gelar Israel, adalah ayah dari Nabi Yusuf ‘alaihis salaam. Efraim diberikan dua bagian hak tanah oleh Nabi Ya’qub, sebagaimana itu adalah hak Nabi Yusuf sebagai hak kesulungan. Dengan kata lain, Efraim diunggulkan oleh Nabi Ya’qub dengan memiliki hak tanah seperti saudara-saudara nabi Yusuf lainnya yang merupakan para pamannya, dengan keunggulan dua hak tanah sedangkan yang lainnya hanya satu saja. Karena hal inilah maka dia mendapat julukan anak Allah yang paling sulung.

Jadi istilah ini tidak dikhususkan kepada Yesus saja.

Bahkan bagi orang-orang yang faham pembagian Alkitab, yang mana di Perjanjian Lama terdiri dari :

  1. Kitab Taurat (Torah) di penteteukh (5 kitab awal dari perjanjian lama). Yakni Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan.
  2. Kitab Zabur atau Mazmur yang diberikan kepada Nabi Daud ‘alaihis salaam
  3. Kisah-kisah sejarah bani Israel dan para nabi-nabi-nya

Dan secara umum kitab-kitab perjanjian lama ini adalah kitab orang-orang bani Israel dan Yahudi.

Maka dia akan faham bahwa istilah anak tuhan, atau anak Allah, atau “son of god”, atau yang memiliki makna semisal, hanyalah suatu istilah umum yang tidak pernah dikhususkan hanya kepada Yesus (Nabi Isa), dan istilah itu sudah ada di kitab-kitab perjanjian lama jauh sebelum Yesus dilahirkan.

Dan karena Yesus adalah orang keturunan bani Israel dari Nazaret, yang diutus khusus hanya kepada bani Israil saja, maka istilah itu juga akhirnya lazim digunakan dalam kitab-kitab perjanjian baru, dengan pengertian yang tidak dikhususkan hanya kepada Yesus saja.

Yesus hanya menyampaikan dengan istilah bahasa yang difahami oleh kaumnya, bani Israel. Dan istilah anak Tuhan atau anak Allah ini, sudah umum ada di kalangan bani Israel jauh sebelum Yesus dilahirkan.

Seperti misal di Perjanjian Lama, istilah ini bisa ditemukan di :

Kejadian 6 : 2

maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.

 

Kejadian 6 : 4

Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

 

Keluaran 4 : 22

Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung.

 

Mazmur 2 : 7

Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini

 

Mazmur 82 : 6

Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.

 

Ayyub 38 : 7

pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai?

 

Yeremia 31 : 9

Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku.

 

 

 

Di perjanjian baru sendiri, selain ditujukan kepada Yesus, istilah ini juga bisa ditemukan di :

Matius 5 : 9

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Matius 5 : 44-45

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

 

Lukas 3 : 38

anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.

 

I Yohannes 3 : 10

Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.

 

Roma 8 : 14

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

 

Roma 8 : 19

Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah  dinyatakan.

 

Roma 8 : 21

Tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

 

Roma 9 : 8

Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.

 

Kenapa istilah “anak Allah” ini di kalangan orang Kristen kemudian hari menjadi menyempit pengertiannya, dan hanya ditujukan kepada Yesus saja dengan dogma trinitas?

Ini tidak lain karena pengaruh filsafat neo Platonism, interversi Paulus, Gereja, dan hagemoni kekaisaran Romawi pagan.

 

 

ii. Begotten (Yohannes 3 :16)

Ada ayat khusus yakni Yohannes 3 : 16, yang menurut klaim orang Kristen adalah kekhususan istilah “anak Allah” kepada Yesus, yang membedakan dengan lainnya.

Yohannes 3 : 16 (John 3 : 16)

For God so loved the world, that he gave his only begotten Son that whosoever believeth in him should not perish but have everlasting life.

[Terjemahan Inggris King James Version, diterbitkan 1611]

Atas dasar ayat inilah, sebagian orang Kristen beranggapan bahwa Yesus adalah anak Allah atau anak Tuhan yang sangat khusus dan satu-satunya, yang membedakan dengan ungkapan istilah anak tuhan lainnya.

Akan tetapi pemahaman ayat ini ternyata mengalami blunder dengan adanya terjemahan inggris “begotten” di atas. Begotten secara bahasa Inggris berarti adalah anak yang dilahirkan dengan cara hubungan biologis, atau bersetubuh, sebagaimana yang lazim terjadi pada manusia lainnya.

Jika pemahaman ini dipaksakan demi tafsir di atas, maka ini akan menyebabkan kekacauan teologis Kristen sendiri. Yakni :

  1. Kalau begitu apa bedanya Yesus dengan anak manusia lainnya, yang juga dilahirkan dari hasil hubungan biologis persetubuhan?
  2. Maryam atau Mary, adalah perawan suci yang melahirkan Yesus tanpa ada proses biologis sebelumnya. Dan hal ini diyakini oleh kaum Muslimin dan juga kaum Kristen. Ini berlawanan dengan keyakinan orang-orang Yahudi bani Israel, yang memberikan tuduhan yang “tidak senonoh” kepada Mary dan anaknya Yesus yang lahir tanpa ayah itu.

 

Atas sebab tuduhan inilah, maka orang-orang yahudi menolak kenabian Yesus sebagai pembawa risalah Wahyu Injil.

 

Maka dari itu jika pemahaman “begotten” dalam ayat ini dipaksakan seperti itu, maka ini justru membuktikan kebenaran klaim tuduhan orang-orang Yahudi bani Israel. Dan tuduhan ini berlawanan dengan keyakinan ummat Islam dan ummat Kristen, akan kesucian bunda Maryam dan kemukjizatan kelahiran Yesus.

  1. Kita berlindung dari mengatakan hal yang pantas kepada Allah, apalagi menyamakannya dengan makhluk dalam masalah “begotten” ini.
  2. Apa bedanya “begotten” dalam kasus Yesus, dengan “begotten” dalam kasus nabi Daud ‘alaihis salaam (David)?

Dalam King James Version (KJV) terhadap Mazmur 2 : 7 (Psalm 2 : 7), nabi Daud juga disebutkan dengan memakai kata “begotten”, padahal Nabi Daud jelas dilahirkan dengan cara sebagaimana manusia lainnya.

 

Mazmur 2 : 7 (Psalm 2 : 7]

I will declare the decree: the LORD hath said unto me, Thou art my Son; this day have I begotten thee.

[Terjemahan Inggris King James Version, diterbitkan 1611]

Akibat kekacauan teologis ini, maka sebagian terjemahan inggris merivisi perkataan “begotten” Injil King James Version (KJV) ini. Padahal King James Version itu dijadikan standard rujukan Injil berbahasa Inggris sejak 1611 masehi.

Terjemahan berikutnya mencoba “ber-apologi”, bahwa “only begotten son” itu hanyalah terjemahan dari teks asli Yunani “μονογενης υιος “ (dibaca : Monogenes Huios), yang mana “monogenes” itu kurang tepat jika diterjemahkan “only begotten”. Dan akhirnya diterjemahkan menjadi “one and only son” atau “only son” saja. (Lihat Bible New International Version, 1973; English Standart Version, 2007 – 2011).

Walaupun begitu, tetap ada juga versi yang mempertahankan terjemahan “begotten” itu seperti New American Standard Bible, dan English Revised Version.

Lebih lengkap untuk berbagai versi terjemahan inggris otoritatif, lihat :

https://en.wikipedia.org/wiki/John_3:16

https://en.wikipedia.org/wiki/Monogen%C4%93s

Akan tetapi kasus “begotten” ini belum selesai, jika itu dianggap untuk dikhususkan kepada Yesus saja. Nabi Daud (David) ‘alaihis salaam dalam Mazmur 2 : 7 (Pslam 2 : 7), juga diberikan kata yang semisal.

Sehingga kalau dikatakan bahwa Yesus atau Nabi Isa ‘alaihis salaam itu merupakan hamba Allah yang dilahirkan dengan cara yang special, yakni hanya dengan ibu saja dan kemukjizatan dari Allah. Maka hal itu benar dan tidak masalah.

Umat Islam sepakat bahwa Nabi Isa memang diberikan kekhususan tersendiri dibandingkan Nabi Daud (David) ‘alaihis salaam, yakni dari mukjizat cara dilahirkannya dari perawan Maryam ‘alaihis salaam.

Namun kalau dikatakan bahwa ada unsur ketuhanan yang menyatu di dalam Yesus atas landasan pemahaman ayat itu, maka apa yang menyebabkan Nabi Daud (David) tidak mendapatkannya? Dan hal ini tertolak dengan penolakan yang sangat.

Oleh karena itu pemaksaan pengertian “anak tuhan” atau “anak Allah” atau “son of god” atau yang memiliki makna semisal, sebenarnya hanyalah pengaruh filsafat neo Platonism, interversi Paulus, Gereja, dan hagemoni kekaisaran Romawi pagan semata.

Hal ini hanyalah istilah kebiasaan orang-orang Yahudi bani Israel, sebagaimana yang tersebut dalam perjanjian Lama, yang kemudian dipolitisir untuk kepentingan aqidah trinitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

iii. Perbedaan aqidah anak Tuhan mainstream dan non mainstream, antara Kristen dan yahudi

Kesyirikan aqidah Yesus adalah bagian dari Allah yang menjelma di dalam sosok seorang manusia, umumnya dianut oleh mayoritas Kristen sebagai pokok dari ajaran agamanya.

Walaupun mayoritas beraqidah seperti itu, ada komunitas sekte Kristen yang tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Sekte non mainstream ini minoritas.

Hal ini seperti sekte saksi yehowa (Jehovah’s Witnesses) pada abad modern ini. Atau Arius dan pengikutnya (Arianism) yang Unitarian dan menolak aqidah trinitas (nontrinitarian) pada waktu dilaksanakan konsili Nicea 325 Masehi.

Lihat : https://en.wikipedia.org/wiki/Nontrinitarianism dan https://en.wikipedia.org/wiki/Arianism

Oleh karena itu ayat-ayat yang mencela kesyirikan orang Kristen, lebih banyak dibandingkan ayat yang menyatakan dan memuji bahwa ada orang Kristen yang lurus dan tidak mensyirikkan Allah.

Ayat-ayat yang mencela kesyirikan orang Kristen berkaitan dengan masalah anak Tuhan ini adalah seperti yang terebut dalam : QS. An-Nisaa : 171, Al-Maidah : 72-73, Al-Maidah : 116 – 117, dan At-Taubah : 31.

Sedangkan ayat yang menyatakan dan memuji orang Kristen yang lurus dan tidak mensyirikkan Alah, hanya ada sedikit saja yakni : QS. Ali Imran : 199, dan Al-Qoshshosh : 52-53.

***

Berkebalikan dengan orang-orang Yahudi.

Orang-orang Yahudi yang mensyirikkan Allah dengan nabi-Nya atas nama “anak Tuhan”, umumnya hanya minoritas saja. Yakni yang mensyirikkan Allah dengan menganggap nabi Uzair adalah “anak Allah”.

Adapun mayoritas Yahudi main stream tidak memiliki aqidah “anak Allah” seperti itu.

Oleh karena itu Al-Qur’an hanya menyinggung 1 ayat saja perihal sebagian komunitas yahudi yang mensyirikkan Allah, dengan atas nama “anak Tuhan” kepada Nabi Uzair (Ezra) ‘alaihis salaam. Yakni pada rangkaian QS. At-Taubah ayat 30.

Imam Abu Ja’far Ath-Thobari rohimahulloh berkata ketika mentafsirkan QS At-Taubah ayat 30 mengenai perkataan “Uzair anak Allah” itu,

واختلف أهل التأويل في القائل : عزير ابن الله

فقال بعضهم : كان ذلك رجلا واحدا ، هو فنحاص .

Telah berselisih para ahli takwil mengenai perkataan “عزير ابن الله “ (‘Uzair anak Allah), berkata sebagian dari mereka “Itu adalah seorang laki-laki yang bernama Finhaash”.

[kemudian beliau sebutkan riwayat mengenai itu]

وقال آخرون : بل كان ذلك قول جماعة منهم .

Dan berkata ahli takwil yang lainnya : Tidak, akan tetapi itu adalah sekelompok orang (jamaah) dari mereka (orang Yahudi).

[kemudian beliau sebutkan lagi riwayat mengenai itu]

Walloohu A’lam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

iv. Uzair anak Allah dalam sekte minoritas Yahudi

Siapakah Uzair bila dialih bahasakan ke bahasa Yahudi (Hebrew language)?

Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat :

  1. Uzair itu adalah Ezra.

Hal ini dikuatkan oleh Ibnu Hazm, yang menyatakan dalam al-fash fil milal wal ahwa’ wan nihal, bahwa terdapat sekumpulan komunitas Yahudi di Yaman yang meyakini bahwa Ezra itu adalah anak Allah.

  1. Uzair itu adalah Enoch

Enoch adalah keturunan ketujuh dari Nabi Adam, dia disebut dalam Kitab Kejadian 5 : 19-24. Enoch adalah nama dari bible Inggris, sedangkan terjemahan Indonesia disebut dengan Henokh.

Enoch diklaim sebagai suatu sosok yang bermetaformosa menjadi malaikat utama (archangel, angle with high rank), yang bernama Metatron. Metatron adalah nama dari salah satu 10 archangel (malaikat utama) yang disembah oleh sekte mistik Kabbalah Yahudi. Hal ini sebagaimana yang disebut dalam kitab Enoch 3 (3rd book of Enoch), dan kitab ini termasuk dalam kategori kitab apocrypha (kitab rahasia atau terlarang).

Lihat :     https://en.wikipedia.org/wiki/Enoch_%28ancestor_of_Noah%29

https://en.wikipedia.org/wiki/Metatron

Adapun dalam kitab type canonical standart yang diterima oleh semua kalangan, disebutkan bahwa

Kejadian 5 : 24

Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

Penyembahan malaikat pernah terjadi, dan hal ini diperingatkan dalam QS. Ali Imran ayat 80 yang merupakan surat Madaniyyah (surat yang diturunkan pada fase Madinah). Pada fase Madinah ini, Rasulullah para sahabatnya bertemu dan berinteraksi dengan komunitas Yahudi untuk pertama kalinya.

وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai Tuhan.” (QS. Ali Imran [3] : 80)

Dalam pemahaman sederhana, Enoch kemudian dianggap sebagai anak Tuhan (Son of God). Malaikat umumnya dianggap sebagai anak Tuhan.

Sebagian peneliti barat, yakni Gordon Darnell Newby membuat analisa yang berbeda dalam bukunya “A History of the Jews of Arabia : From Ancient Times to Their Eclipse under Islam”, hal 61. Newby lebih menguatkan analisa bahwa Uzair itu adalah Ezra, dengan mengaitkan kepada Enoch dan lanjutan ayat pada At-Taubah : 31.

…we can deduce that the inhabitants of Hijaz during Muhammad’s time knew portions, at least, of 3 Enoch in association with the Jews. The angels over which Metatron becomes chief are identified in the Enoch traditions as the sons of God, the Bene Elohim, the Watchers, the fallen ones as the causer of the flood.

In 1 Enoch, and 4 Ezra, the term Son of God can be applied to the Messiah, but most often it is applied to the righteous men, of whom Jewish tradition holds there to be no more righteous than the ones God elected to translate to heaven alive. It is easy, then, to imagine that among the Jews of the Hijaz who were apparently involved in mystical speculations associated with the merkabah, Ezra, because of the traditions of his translation, because of his piety, and particularly because he was equated with Enoch as the Scribe of God, could be termed one of the Bene Elohim. And, of course, he would fit the description of religious leader (one of the ahbar of the Qur’an 9:31) whom the Jews had exalted.

Sementara dari peninggalan sejarah, komunitas Yahudi yang menganggap Enoch sebagai Metatron, Tuhan atau “perantara tuhan” yang disembah, dibuktikan dengan ditemukannya Kitab Enoch (book of Enoch) dalam kumpulan “dead sea scroll” yang ditemukan di gua Qumran.

Lihat : https://en.wikipedia.org/wiki/Dead_Sea_Scrolls

Komunitas Yahudi yang menulis dead sea scroll tersebut adalah komunitas Yahudi Essenes. Komunitas atau sekte Yahudi Essenes ini, tampaknya sudah tidak kita temui lagi jejaknya di abad modern ini. Sedangkan komunitas Yahudi sekte Kabbalah masih ada pada abad sekarang ini. Sebagian peneliti mengatakan bahwa sekte Essenes mempunyai hubungan dengan sekte Kabbalah.

Lihat : https://en.wikipedia.org/wiki/Essenes

https://en.wikipedia.org/wiki/Kabbalah

Pembahasan lebih jauh mengenai polemik Uzair, bisa dilihat di :

http://almadinainstitute.org/blog/the-quran-the-jews-and-ezra-as-the-son-of-god/

http://www.islamic-awareness.org/Quran/Contrad/External/ezra.html

 

 

v. Perbedaan pola dakwah Tauhid kepada Yahudi dan kepada Kristen

Penjelasan mengenai gelar “anak tuhan” atau “anak Allah” atau “son of god” atau yang memiliki makna semisal dengannya, memang sengaja kami bahas panjang lebar. Termasuk juga perbedaan antara mayoritas mainstream dan minoritas anti mainstream, yang terjadi antara Yahudi dan Kristen.

Hal ini penting agar kita tidak salah membedakan pola prioritas dakwah kalimat Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) kepada Kristen dan kepada Yahudi.

Kepada Kristen, prioritas kita adalah mendakwahkan argumentasi Tauhid untuk kesalahan trinitas dan Yesus son of God. Karena ini adalah pemahaman mainstream Kristen.

Sedangkan kepada Yahudi, argumentasi tauhid yang kita prioritaskan bukanlah masalah kesalahan adanya klaim son of god. Karena ini bukanlah pemahaman mainstream Yahudi kebanyakan.

Akan tetapi yang harus kita prioritaskan dalam dakwah Tauhid kepada Yahudi adalah,

  1. Hujjah akan masalah kenabian Rasulullah Shalalloohu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi terakhir, yang ternyata bukan terlahir dari kalangan Yahudi.

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Ahlul Kitab) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui (QS al-Baqarah [2]: 146).

 

  1. Hujjah akan Al-Qur’an sebagai Wahyu terakhir penyempuran dan penutup risalah kenabian. Yang menghapus dan menggantikan kitab-kitab terdahulu termasuk Taurat, Zabur, dan kitab-kitab lain pegangan Yahudi.

 

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

 

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

 

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu [QS. Al-Ma’idah: 48]

 

  1. Hujjah akan distorsi dan kerusakan penjelasan para Rabbi Yahudi dengan mengatasnamakan Wahyu Allah yang diturunkan kepada mereka. Yang mana walaupun mereka mengklaim itu sebagai penjelas dari kitab Taurat, tapi faktanya penjelasan rabbi itu dianggap lebih penting dibandingkan mengembalikan kepada isi Taurat itu sendiri. Sebagaimana ini doktrin yang tersebut dalam kitab Talmud.

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78)

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.

Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqarah : 79]

  1. Hujjah akan kebatilan syirik yang dilakukan dengan cara sihir, beribadah di kuburan para Nabi dan orang sholeh, dan lain-lain.

 

  1. Hujjah bahwa Yahudi bukan satu-satunya ummat yang paling mulia di muka bumi ini karena keturunan genetisnya. Sebagaimana inilah ajaran Talmud yang senantiasa ditekankan. Akan tetapi yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.

Inilah yang dimaksud dengan menjadikan para rabbi mereka sebagai Rabb (tuhan) tandingan selain Allah. Walloohu A’lam

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah ( اللهُ ) dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb selain Allah ( اللهُ )”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS. Ali Imran : 64]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

vi. The holy spirit atau roh kudus dan trinitas

Setelah kita lebih memahami topik masalah anak Tuhan, berikut perbedannya antara yang terjadi di Kristen dan Yahudi. Maka untuk selanjutnya, kita perlu bertanya siapakah roh kudus sebagai salah satu oknum dan tiga oknum ketuhanan (Trinitas) dalam keyakinan Kristen mainstream.

Dalam Islam juga terdapat istilah “roh kudus”, yang secara bahasa Arab disebut ruuhul quds (روح القدس ) sebagaimana yang tersebut dalam QS. An-Nahl : 102

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS. An-Nahl :102]

Ruhul Qudus dalam Islam yang dimaksudkan adalah Malaikat Jibril ‘alahis salaam, utusan Allah yang bertugas untuk menyampaikan Wahyu kepada para Nabi. Dan ini adalah hal yang jelas.

Akan tetapi bagi Kristen yang menganggap Yesus adalah anak Tuhan, dan juga pengaruh filsafat neo platonisme, maka agak susah untuk menganggap bahwa ruh kudus itu hanyalah malaikat pengantar Wahyu. Apalagi dengan adanya aqidah logos (Firman) dalam Yohannes 1 : 1-18 yang merupakan ayat yang disusupkan itu, susah menerima aqidah bahwa Allah menyampaikan Firman-Nya melalui perantara Ruhul Kudus (Malaikat Jibril).

Bagaimana mungkin Yesus sebagai anak Tuhan yang dikatakan sebagai “Firman” yang menjelma sebagai manusia, sebagaimana yang tersebut dalam Yohannes 1 : 14, ternyata disampaikan oleh Roh Kudus yang merupakan makhluk dengan entity tersendiri, yang bukan merupakan bagian kesatuan dengan Allah?

Yohannes 1 : 14

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Oleh karena itu demi menguatkan aqidah “Yesus anak Tuhan” dan pengaruh filsafat logos itu, maka roh kudus pun ikut dijadikan sebagai oknum ketuhanan yang menjadi satu antara Bapa (Allah) dan Anak (Yesus). Dari sinilah aqidah Trinitas Allah bapa, Yesus, dan Roh Kudus kemudian keluar.

Doktrin trinitas memasukkan roh kudus (holy spirit) sebagai oknum ketiga, dengan tujuan untuk mempertahankan aqidah bahwa Yesus adalah anak Tuhan, mulai dimunculkan setelah kesepakatan konsili Nicea 325 M oleh Athanasius yang menentang aqidah Unitarian Arius.

Sebelum Athanasius, formula pengucapan trinitas memang juga pernah disebutkan atau dituliskan, namun tidak untuk maksud aqidah trinitas sebagaimana yang diyakini Kristen sekarang ini.

Lihat :  https://en.wikipedia.org/wiki/Trinity

https://en.wikipedia.org/wiki/Athanasius_of_Alexandria

Adapun Yahudi tidak memiliki aqidah trinitas semacam ini, walaupun sebagai sekte kecil mereka ada yang meyakini Metatron atau Enoch yang menjelma sebagai malaikat sebagai sons of god. Point of view mereka berbeda, dan ini hanyalah sekte minoritas mereka saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d. Nubuwat Yesus Kristus bahwa dia akan mengalami kegelapan selama 3 hari 3 malam seperti Nabi Yunus (Jonah) yang terperangkap dalam perut ikan raksasa, yang tidak terbukti dalam sepanjang sejarah kehidupan Yesus. Tidak terpenuhinya Nubuwat Yesus Kristus ini berimplikasi bahwa yang disalib, dikubur, dan kemudian bangkit dari kubur itu bukan Yesus Kristus.

Salah satu Aqidah Islam yang haq mengenai Nabi Isa ‘alaihis salaam (Yesus Kristus) adalah yang disalib itu bukanlah Yesus. Akan tetapi yang disalib hanya orang yang diserupakan oleh Allah dengan Yesus. Adapun Yesus sendiri diangkat dalam keadaan hidup ke langit, dan kelak akan turun lagi ke bumi sebagai salah satu dari tanda-tanda kiamat.

قَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. An-Nisaa’ : 157-158]

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ عَليهِ السَّلام فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ، تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ.

“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang berperang demi membela kebenaran sampai hari Kiamat.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka kemudian turun Nabi ‘Isa bin Maryam Alaihissallam, kemudian pemimpin golongan yang berperang tersebut berkata kepada Nabi ‘Isa: ‘Kemarilah, shalatlah mengimami kami.’

Kemudian Nabi ‘Isa menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan bagi umat ini.’” [Hr. Muslim]

 

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ عَليهِ السَّلام حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيْضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti/pajak), dan akan melimpah ruah harta benda, hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” [Hr. Bukhari]

Sedangkan aqidah Kristen mainstream mengatakan bahwa Yesus benar-benar disalib. Untuk bangkit dari kubur setelah disalib, guna mengatakan bahwa ajaran Kristen yang eksklusif hanya ditujukan kepada bani Israel, agar disebarkan ke seluruh ummat manusia. Setelah selesai mengatakan itu, baru Yesus diangkat ke langit.

Keempat injil canonic, yakni Injil Matius (di pasal 27), Markus (di pasal 15), Lukas (di pasal 23), dan Yohannes (di Pasal 19) semuanya menceritakan mengenai penyaliban Yesus ini.

Seluruh Injil itu juga mengkhabarkan kebangkitan Yesus dari kubur, setelah dianggap mati disalib.

Seluruh Injil kecuali Injil Yohannes, mengkhabarkan perintah Yesus setelah disalib dan bangkit dari Kubur, untuk menyebarkan Injil dan pembaptisan “pengkristenkan” manusia di seluruh dunia.

Adapun injil Yohannes hanya memberitahukan perintah Yesus “Gembalakanlah domba-dombaku”, tidak disebut dengan tegas dan lugas perintah untuk menyebarkan Injil dan pembaptisan “pengkristenkan” manusia di seluruh dunia. Lihat Yohannes 21 : 15-17

Berikut akan kami kutipkan perintah penyebaran injil itu,

Matius 28 : 16-20

Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. ”

 

 

Lukas 24 : 45-47

Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

Markus 16 : 15-18

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

*****

Sebelum melanjutkan pembahasan, ada sedikit komentar megenai perkataan Yesus pada Markus 16 : 18, “dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka”.

Ketika terjadi debat terbuka Islam – Kristen, sebagian cara untuk menguji kebenaran ayat ini adalah dengan meminta fihak Kristen untuk meminum racun sebagai bukti kebenaran Iman mereka. Dan umumnya fihak Kristen yang diwakili oleh pemukanya enggan untuk meminum racun tersebut.

Silakan merujuk kepada video-video debat terbuka Ahmad Deedat, Zakir Naik, atau lainnya yang secara live direkam, akan keengganan mereka untuk meminum racun sebagai pembuktian keimanan mereka terhadap ayat tersebut.

Lihat :

https://youtu.be/TrEMSpL1SoY

(Video bagian dari debat terbuka Ahmad Deedat dengan Pastor Stanley Sjoberg di Scandinavia, Stockholm Sweden, dengan mengambil tema debat “Is The Bible The True Word of God?”)

https://youtu.be/U-xmGuClhxg

(Video bagian dari debat terbuka dr. Zakir Naik dengan Dr. William Campbell di Chicago – Amerika, dengan mengambil tema debat “The Quran and The Bible : In The Light of Science”)

 

https://youtu.be/Slq6KA5alGw

(Video bagian dari debat terbuka Ali Ataie dengan David Wood, dengan mengambil tema “Who was Muhammad”)

Ayat kontroversial “minum racun” ini dari kacamata ilmiah, sebagaimana yang dikatakan oleh Bart D. Ehrman penulis buku “The Orthodox Corruption of Scripture : The Effect of Early Christological Controversies on The Text of The New Testament”, merupakan bagian dari ayat palsu Injil Markus 16 : 9-20 yang disisipkan.

Bart D. Ehrman berkata :

Jesus does rise from the dead in Mark’s Gospel. The women go to the tomb, the tomb is empty and there is a man there who tells them that Jesus has been raised from the dead and that they are to go tell the disciples that this has happened. But then the Gospel ends in Codex Sinaiticus and other manuscripts by saying the women fled from the tomb and didn’t say anything to anyone because they were afraid, period. That’s where the Gospel ends. So nobody finds out about it, the disciples don’t learn about it, the disciples never see Jesus after the resurrection, that’s the end of the story. But later scribes couldn’t handle this abrupt ending and they added the 12 verses people find in the King James Bible or other Bibles in which Jesus does appear to his disciples.

Lihat :

https://youtu.be/c1zmaVUUzMU

https://en.wikipedia.org/wiki/Mark_16

Sebenarnya inti pokok dari point kita ini bukan dalam masalah pembuktian “minum racun” itu. Namun apakah benar yang disalib, bangkit dari kubur, dan memerintahkan untuk menyebarkan berita penginjilan serta pembaptisan kepada seluruh ummat Manusia itu benar-benar Yesus ataukah bukan?

Di sini point pokok pembahasan kita selanjutnya, setelah kita mengetahui ayat perintah untuk menyebarkan berita penginjilan dalam Markus 16 : 15-18 itu palsu dan merupakan bagian dari ayat Injil Markus 16 : 9-10 palsu yang disisipkan.

*****

Sekarang mari kita kembali kepada topik awal.

Bukti bahwa benar atau tidak Yesus yang disalib, harus diuji dengan integritas nubuwatnya. Yakni pengujian dari perkataan sang Yesus itu sendiri.

Dikatakan dalam Matius 12 : 38-40,

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu. ”

Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.

Perkataan Yesus ini dikuatkan dengan perkataan Yesus yang lain yang mengatakan bahwa ini adalah tanda dan bukti dari seorang Mesias.

Lukas 24 : 45-47

Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

Dalam seluruh sejarah kehidupan Yesus, tidak pernah tanda-tanda nubuwat “tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” ini terjadi. Hal itu tidak pernah terjadi, kecuali pada saat dikuburkannya Yesus setelah meninggal karena disalib.

Jika tanda ini benar terbukti dengan jangka waktu penguburan 3 hari 3 malam, hingga bangkit kembali itu. Maka secara otomatis yang disalib itu benar-benar Yesus. Adapun jika jangka waktu itu tidak terpenuhi, maka secara otomatis yang terbunuh di tiang salib itu bukanlah Yesus.

Demikian logika dan argumentasinya.

Sekarang mari kita rekonstruksi kronologi penguburan Yesus, hingga bangkitnya kembali dari kubur.

  1. Injil Kanonik yakni Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohannes umumnya mengisahkan bahwa Yesus meninggal di tiang salib sekitar jam 3 sore pada hari jum’at. Kemudian langsung dikuburkan setelahnya, pada waktu malam harinya.

 

Kenapa harus langsung dikuburkan pada malam harinya, dan tidak menunggu esok hari?

 

Ini karena Yahudi mempunyai kewajiban khusus untuk beribadah secara total pada hari Sabath (hari Sabtu). Tidak boleh melakukan aktivitas yang lain selain Ibadah pada hari Sabtu. Tentu saja ini termasuk menguburkan Yesus pada hari Sabtu.

 

Maka dari itu Yesus tidak ditunggu untuk dikuburkan keesokan harinya, karena besok sudah hari sabtu. Dan langsung dikuburkan pada malam harinya.

 

Kewajiban hari Sabath ini ada di dalam Taurat (Lihat Keluaran 12 : 16, dan Keluaran 20 : 10). Baik Yahudi ataupun Yesus beserta pengikutnya yang menguburkannya itu, harus mengikuti aturan yang diwajibkan ini. Karena Yesus tidak datang untuk menghapuskan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (Lihat Matius 5 : 17-19)

 

Kisah meninggalnya Yesus di tiang salib, hingga dikuburkan pada jum’at malam sabtu ini, terdapat dalam Matius 27 : 45-61, Markus 15 : 33-46, Lukas 23 : 44-56, dan Yohannes 19 : 28-42.

 

Berikut akan kami kutipkan bagian yang menyebutkan masalah waktu penguburan Yesus nya saja untuk mempersingkat, jika ingin melihat secara utuh dari Yesus mulai meninggal di tiang Salib hingga dikubur maka silakan lihat rujukan pasal dan ayat dari Alkitab yang saya sebutkan sebelumnya.

 

Matius 27 : 57-60,

Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.

 

Markus : 42-46,

Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat. Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati. Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf. Yusufpun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.

 

Lukas 23 : 50-56,

Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat. Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai. Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. 23:56 Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur.

 

Yohannes 19 : 38-42,

Sesudah itu Yusuf dari Arimatea–ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi –meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

  1. Setelah dikubur, maka Yesus pun bangkit lagi dari kubur pada hari minggu pagi.

Kisah kebangkitan inilah yang dikatakan untuk memenuhi nubuat berada di dalam perut bumi selama 3 hari 3 malam, sama seperti Nabi Yunus (Jonah) di dalam perut ikan. Dan juga sebagai bukti bahwa dia adalah Mesiah.

Kisah kebangkitan ini disebutkan dalam semua injil kanonik, baik itu di Injil Matius (Matius 28 : 1-10), Injil Markus (Markus 16 : 1-9), Injil Lukas (Lukas 24 : 1-12), dan Injil Yohannes (Yohannes 20 : 1-10).

Berikut akan saya kutipkan ayat yang langsung menyebutkan Yesus bangkit dari kubur pada minggu pagi. Jika ingin mengetahui kisahnya secara utuh, maka lihat pasal dan ayat dari Alkitab yang telah saya sebutkan sebelumnya.

Markus 16 : 9,

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.

  1. Dari dua fakta kapan Yesus dikuburkan dan kapan Yesus bangkit itu, maka kita bisa melakukan verifikasi benarkah Yesus dikubur berada di dalam bumi selama 3 hari 3 malam sesuai nubuat-nya sama seperti Nabi Yunus (Jonah) di dalam perut ikan?

Benarkah dia Messiah sesuai dengan bukti yang dia berikan? Dan yang terpenting, benarkah yang disalib dan dikubur itu Yesus?

Dari dua point verifikasi sebelumnya kita mengetahui :

  • Yesus dikuburkan jumat malam sabtu
  • Yesus bangkit pada minggu pagi.

Lama waktu dikuburkan dari jum’at malam sabtu hingga bangkit pada minggu pagi, ada 3 versi hitungan :

a. Yesus dikubur selama 1 hari dan 2 malam.

Hitungan 1 hari full hanya dihitung pada hari Sabtu saja. Sedangkan jum’at hanya melewati malamnya saja (malam sabtu), tidak full satu hari, sehingga tidak bisa dianggap satu hari. Dan minggu pagi-pagi, Yesus sudah bangkit. Sehingga hari minggu juga tidak bisa dihitung sebagai 1 hari.

Adapun malam yang dilewati hanya malam pada hari jum’at (malam sabtu) dan malam pada hari sabtu saja (malam minggu). Sedangkan minggu pagi-pagi, Yesus sudah bangkit.

Sehingga Yesus dikubur hanya selama 1 hari dan 2 malam saja.

b. Yesus dikubur selama 2 hari dan 2 malam.

Hitungan 2 hari diambil dari : Peralihan hari jum’at ke hari sabtu, dan peralihan dari hari sabtu ke hari minggu. Minggu tidak dihitung 1 hari, karena minggu pagi Yesus sudah bangkit.

Hitungan 2 malam itu di ambil bahwa dari 2 hari itu, Yesus hanya mengalami 2 malam saja. Yakni malam pada hari jum’at (Malam sabtu) dan malam pada hari sabtu (malam minggu). Sedangkan minggu paginya Yesus sudah bangkit.

Sehingga Yesus dikubur hanya selama 1 hari dan 2 malam saja.

c. Yesus dikubur selama 3 hari dan 2 malam.

Hitungan ini sebenarnya hitungan paling “culas” dan mudah dipatahkan, namun tidak apalah akan saya sebutkan juga model cara hitungan ini.

Hitungan 3 hari diambil karena ada 3 hari yang dilewati, yakni : hari jum’at, sabtu, dan minggu. Dengan tanpa melihat dikubur jum’at malam, dan bangkit pada minggu pagi nya. Yang penting Yesus berada di kuburan pada 3 nama hari itu.

Sedangkan 2 malam nya diambil karena yang dilalui hanya malam pada hari jum’at (Malam sabtu) dan malam pada hari sabtu (malam minggu). Sedangkan minggu paginya Yesus sudah bangkit.

Sehingga Yesus dikubur hanya selama 3 hari dan 2 malam saja.

 

Dari ketiga versi cara hitungan itu, Yesus tetap tidak bisa melengkapi tanda-tanda nubuwah dikubur selama “3 hari 3 malam”. Sehingga secara otomatis yang disalib dan dikubur itu bukan Yesus, melainkan orang lain yang mirip dengan Yesus saja.

قَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. An-Nisaa’ : 157-158]

 

*****

Aqidah penyaliban Yesus yang ternyata tidak benar berdasarkan verifikasi ini, dikemudian hari diberikan argument pemanis oleh Paulus dengan perkataan :

“Yesus disalib guna menebus dosa waris anak Adam, yang mana dosa waris ini ada akibat kesalahan Nabi Adam ‘alaihis salaam hingga dikeluarkan dari surga.”

Hal ini akan kami bahas pada point selanjutnya Insya Allah.

 

 

 

 

 

 

e. Ajaran bahwa penyaliban Yesus Kristus itu untuk menebus dosa seluruh anak bani adam, yang diwariskan dari dosa Nabi Adam ‘alaihis salaam hingga dia dikeluarkan dari surga, tidak pernah diajarkan oleh Yesus Kristus. Ini hanyalah ajaran Paulus yang disisipkan ke dalam Bible.

Paulus atau yang disebut Paul oleh orang barat, atau yang juga mempunyai nama lain Saul of Tarsus (Saulus), bukan merupakan salah seorang dari 12 murid Yesus. Dia adalah orang Yahudi yang kemudian hari mengikuti ajaran Yesus pada abad-abad awal Masehi, jauh setelah Yesus disalib dan diangkat ke langit.

Maka dari itu Paulus tidak pernah bertemu langsung dengan Yesus.

Saulus dahulunya adalah seorang penganiaya orang-orang pengikut Yesus, pembenci ajaran Yesus. Hingga kemudian dia didatangi cahaya dari langit, dan mendengar suara yang mengaku sebagai Yesus. Setelah itu kemudian dia bertaubat, menjadi pengikut ajaran Yesus, hingga menjadi seorang Rasul. Namanya dikemudian hari berubah dari Saul atau Saulus yang berasal dari Tarsus, menjadi Paul atau Paulus.

Kisah mengenai hal ini bisa dilihat dalam Kisah Para Rasul 9 : 1-31

***

Ajaran dan dogma Paulus mengenai penyaliban Yesus ini, bisa dilihat dalam Roma 5 : 12-21. Paulus menerangkan bahwa Yesus disalib untuk menebus dosa seluruh anak bani Adam, dan ini juga yang menjadi doktrin ajaran resmi gereja seputar penyaliban Yesus.

Roma 5 : 12-21,

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang,dan oleh dosaitu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.

Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musajuga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam,yang adalah gambaran Dia yang akan datang.

Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.

Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.

Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Kenapa hal ini disebut dogma, atau dengan kata lain tafsir resmi mengenai penyaliban Yesus?

Ini karena Yesus tidak pernah menyebutkan sendiri mengenai ajaran ini, hal ini bertentangan dengan apa yang tersebut dalam perjanjian lama, sedangkan Yesus tidaklah diutus untuk mengganti atau merevisi apa-apa yang ada di dalam perjanjian lama.

Sehingga hal ini murni dinisbatkan kepada Paulus, yang kemudian hari dijadikan ajaran resmi gereja dengan mengenai faham penyaliban Yesus dan dogma kekristenannya.

Dan kemudian setelahnya, karena dosa waris ini, secara praktek orang Kristen harus dibaptis oleh gereja atas nama Yesus, agar terlepas dari dosa waris ini melalui sebab pengorbanan Yesus di tiang salib ini.

Perjanjian lama sendiri menentang pemahaman dosa waris ini, sebagaimana yang tersebut dalam Yehezkiel 18 : 20

Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.

Praktek ajaranYesus dari perkataan Yesus itu sendiri, sebenarnya juga menihilkan adanya dosa waris itu. Yesus ketika diminta untuk memberkati anak-anak, dia berkata bahwa anak-anak itu adalah penghuni kerajaan surga.

Jika misal dosa waris itu ada, maka tentu anak-anak itu juga harus dianggap sebagai penghuni neraka karena dosa waris nabi Adam. Terlebih lagi pada saat itu Yesus belum disalib untuk menebus dosa waris Nabi Adam, dan Yesus juga mengatakan itu sebelum anak-anak itu diberkati serta didoakan olehnya.

Matius 19 : 13-15

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.

Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.

***

Surat-surat dakwah (misionarisasi) Paulus kepada komunitas Kristen atau kepada personal Kristen dari seluruh bagian Palestina dan sekitarnya, diberikan untuk menjalankan tugas kerasulannya. Guna menyebarkan dan memahamkan mengenai ajaran ke-Kristenan.

Surat-surat dakwah (misionaris) Paulus kepada komunitas-komunitas atau personal Kristen di seluruh bagian Palestina ini, di kemudian hari dianggap sebagai “tulisan suci” dan “pemahaman ajaran resmi” gereja mengenai kekristenan.

Pada punyusunan Alkitab terutama perjanjian baru, surat-surat Paulus ini dikumpulkan dan dijadikan sebagai bagian dari Alkitab, bersama-bersama dengan 4 injil kanonik yang berisi firman Tuhan, ucapan Yesus, dan sejarah kehidupan Yesus (Injil Matius, Markus, Lukas, Yohannes). Selain surat-surat Paulus, dikumpulkan juga surat-surat dakwah (misionaris) 12 Rasul lainnya dalam perjanjian baru.

Surat-surat Paulus ini memiliki keistimewaan dalam ajaran kekristenan. Karena selain sebagai peletak dogma pemahaman resmi kekristenan, surat-surat Paulus ini juga mendapatkan pengakuan dari Petrus (Saint Peter) yang juga sama-sama Rasul juga seperti Paulus.

Petrus berkata dalam 2 Petrus 3 : 15

Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.

Surat-surat Paulus yang kemudian menjadi bagian dari Alkitab perjanjian baru itu adalah :

  1. Surat Tesalonika 1 atau surat kepada jemaat di Tesalonika
  2. Surat Tesalonika 2, atau surat kepada jemaat di Tesalonika
  3. Surat Korintus 1, atau surat kepada jemaat di Korintus
  4. Surat Korintus 2, atau surat kepada jemaat di Korintus
  5. Surat Galatia, atau surat kepada jemaat di Galatia
  6. Surat Roma, atau surat kepada jemaat di Roma
  7. Surat Filipi, atau surat kepada jemaat di Filipi
  8. Surat Kolose, atau surat kepada jemaat di Kolose
  9. Surat Efesus, atau surat kepada jemaat di Efesus
  10. Surat Filemon, atau surat kepada seorang penganut Kristen bernama Filemon
  11. Surat Titus, atau surat kepada seorang penganut Kristen bernama Titus
  12. Surat Timotius 1, atau surat kepada seorang penganut Kristen bernama Timotius
  13. Surat Timotius 2, atau surat kepada seorang penganut Kristen bernama Timotius
  14. Surat Ibrani, atau surat yang ditujukan kepada hal-hal yang banyak berkaitan kristus dan orang Ibrani (Yahudi). Surat ini sebenarnya diperdebatkan apakah benar-benar berasal dari Paulus ataukah tidak.

Surat-surat Paulus ini mendominasi nama-nama kitab dalam perjanjian baru, jika dibandingkan dengan surat atau wahyu yang didapat para rasul lainnya (Para rasul dalam perjanjian baru itu total berjumlah 12, termasuk Paulus).

Hal ini cukup membuktikan betapa dominannya ajaran kekristenan Paulus di dalam Alkitab perjanjian baru dan gereja, dibandingkan ajaran kekristenan yang berasal dari Yesus atau para rasul lainnya.

Sekedar memberikan tabulasi jumlah perbandingan, dalam Alkitab perjanjian baru terdapat 39 kitab. Susunan 27 kitab itu terdiri dari :

  1. 4 Injil Kanonik (Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes)
  2. 1 kitab kisah para Rasul yang berjumlah 12 itu.
  3. 14 kitab surat Paulus
  4. 7 kitab surat umum yang berasal dari para Rasul lainnya (seperti 1 surat dari Yakobus, 2 surat dari Petrus, 3 surat dari Yohannes, dan 1 surat dari Yudas)
  5. 1 kitab apokalips (penyingkapan tabir akan sesuatu hal) yang merupakan Wahyu kepada Yohannes. Bukan surat dari Yohannes untuk menerangkan ajaran kekristenan.

Dari komposisi itu, kita bisa melihat bagaimana dominannya ajaran Paulus dalam perjanjian baru. Sehingga tidak heran jika dikatakan Paulus lah pendiri ajaran Kristen resmi yang sebenarnya, yang kemudian dilindungi ajarannya oleh otoritas resmi gereja dengan pengaruh politiknya.

 

f. Bukti historis adanya konsili Nicea 325 Masehi, yang mengakomodir ajaran pagan kekaisaran Romawi, hingga memilih aqidah pemahaman Trinitas Yesus Kristus sebagai ajaran resmi Gereja. Dan menyingkirkan ajaran Tauhid pemahaman mengenai Allah dan Yesus Kristus, yang berlawanan dengan keputusan ajaran resmi gereja itu.

Konsili Nicea I pada 325 Masehi ini, sebenarnya sudah pernah kita singgung sebelumnya.

Sebelumnya harus kita fahami bahwa Yesus sendiri sebenarnya tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah Tuhan atau anak Tuhan. Juga tidak pernah memerintahkan seseorang pun untuk menyembah dan beribadah kepadanya.

Akan tetapi pada praktek sejarahnya, sebagian besar aliran mainstream gereja mengalami penyimpangan aqidah tauhid seputar pendefinisian sosok Yesus dan beraqidah Trinitarian (tritunggal atau trinitas). Sedangkan aliran gereja lainnya beraliran unitarian atau tauhid murni sebagaimana yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul, terutama oleh Yesus (Nabi Isa) itu sendiri.

Pada mulanya kedua aliran aqidah ini, trinitas dan Unitarian, berkembang dengan pengaruh gereja dan pemuka agamanya sendiri-sendiri tanpa ada pengaruh politik kenegaraan.

Akan tetapi sejak kekaisaran Romawi berada di bawah kekuasaan Kaisar Konstantin I, dia kemudian menghentikan penindasan atau diskriminasi terhadap pemeluk agama Kristen. Bahkan dia kemudian melegalkan Kristen sebagai agama yang sah dan formal di Roma, selain juga karena Kaisar Konstantin I menyatakan dirinya adalah seorang Kristen pada umur 40 tahunan lebih.

Setelah kaisar Kontantin I masuk Kristen, menghentikan segala bentuk penindasan kepada orang orang Kristen pengikut Yesus, dan ingin menjadikan Kristen sebagai agama yang legal dan formal di bawah kekuasaannya; maka mengetahui adanya 2 aliran keyakinan imam yang besar perbedaannya mengenai sosok Yesus, Kaisar Kontantin I ingin agar diadakan suatu diskusi keagamaan yang melahirkan kesepakatan akan aqidah resmi Kristen mengenai Yesus.

Maka dari itu, dilakukankan pertemuan konsili Nicea I pada 325 M untuk membicarakan dan mendiskusikan mengenai aqidah-aqidah yang krusial dan sensitive mengenai ajaran Kristen.

Hasil konsili Nicea ini melahirkan keputusan bahwa Trinitas adalah madzhab resmi dalam ajaran Kristen mengenai sosok Yesus, dan memakzulkan pemahaman Tauhid Unitarian mengenai Yesus.

Sebagai akibatnya Arius selaku tokoh tauhid Unitarian meninggal dengan cara diracun, buku-buku Arianisme (Buku-buku tauhid yang ditulis oleh Arius atau yang senafas dengannya) dibakar secara sistematis, dan faham tauhid dimarginalkan secara sistematik dalam ajaran ke-Kristenan dalam pandangannya mengenai Yesus melalui kekuasaan politik yang bekerjasama dengan dominasi gereja penganut trinitas.

di-bawah-kaki-konstantinus-1

Lukisan Konsili Nicea I yang terlukis dengan penggambaran Arius

di bawah kaki Kaisar Konstantinus dan para uskup.

https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Nikea-arius.png

 

pembakaran-buku-arianus

Konstantinus membakar buku-buku Arianisme, penggambaran dari manuskrip abad ke-9.

https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Constantine_burning_Arian_books.jpg

 

  1. Ajakan dakwah dengan bukti yang jelas dan bashiroh untuk tidak menisbatkan hal-hal yang tidak pantas atau dusta kepada Allah.

Sebelum masuk ke tema bahasan kita, perlu kiranya bagi kita untuk memahami dulu pondasi dakwah secara umum dan pondasi dakwah kepada Ahlul Kitab secara khusus.

Pondasi pokok dalam masalah dakwah adalah: berdakwah itu harus dengan menggunakan hujjah dan bashiroh.

***

Hujjah itu secara sederhana boleh kita sebut sebagai dalil.

Akan tetapi secara pengertian asalnya, hujjah itu sebenarnya memiliki cakupan yang lebih luas daripada dalil. Secara bahasa “hujjah” itu mencakup makna : bukti, dalil, alasan, argumentasi ilmiah, dan landasan argumentasi.

Sehingga dengan kata lain hujjah itu mencakup segala proses argumentasi, sehingga sesuatu itu sah dan bisa diterima sebagai dalil bagi kedua belah fihak. Baik itu yang berupa hujjah aqliyyah yang bisa diterima oleh akal, ataupun hujjah naqliyyah yang berdasarkan keotentitasan nash wahyu dan cara pengambilan argumentasi darinya.

Atau secara praktisnya, hujjah itu adalah satu kesatuan antara dalil dan argumentasi.

Dasar dalil bahwa berdakwah itu harus berdasarkan hujjah dan bashiroh itu adalah,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَ مَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (bashiroh). Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf:108].

Adapun untuk pendetailan lebih lanjut mengenai pengertian bashiroh adalah sebagai berikut,

Secara bahasa Arab bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) itu berasal dari kata bashor (بَصَرٌ ). Yang mana bashor (بَصَرٌ ) itu berarti mata (atau indera penglihatan) dan juga ilmu. [Lihat : ash-Shihah fi al-Lughah, Al-Jauhari, (via al-Maktabah asy-Syamilah), Juz 1, h. 44.]

Jamak dari bashor (بَصَرٌ ) adalah Abshoor (اَبْصَارٌ ), oleh karena itulah di dalam Al-Qur’an ada istilah “Ulil Abshoor” (اُولِى اْلاَبْصَارِ ) yang berarti orang yang mempunyai ilmu, kecerdasan, wawasan, dan pandangan yang jauh ke depan.

Lihat pemakaian kata “Ulil Abshoor” (اُولِى اْلاَبْصَارِ ) dalam QS. Ali Imran : 13, An-Nuur : 44, Shood : 45, dan Al-Hasyr : 2

Senada dengan arti dari asal kata bashor (بَصَرٌ ), maka kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) juga berarti al-fithnah (kecerdasan) dan al-hujjah (argumentasi). [Lihat : Lisan al-Arab, Ibnul Manzhur, (Beirut, dar Shadir, 1882), Cet. I, Juz 4, h. 64.]

Sedangkan Abu Hilal al-‘Askari membedakan antara al-bashirah dengan al-‘ilm (ilmu). Beliau berkata bahwa al-bashirah adalah kesempurnaan ilmu dan pengetahuan. [Lihat : Mu’jam al-Furuq al-Lughawiyah, Abu Hilal al-‘Askari , (via al-Maktabah asy-Syamilah), Juz 1, h. 102.]

Senada dengan itu, Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahulloh berkata ketika menafsirkan QS. Yusuf : 108 yang menyebutkan kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) sebagai metode dan bekal dakwah. Beliau berkata “Makna dari bashirah adalah ilmu serta pengetahuan yang sempurna terhadap apa yang ia dakwahkan.”

***

Selain hujjah dan bashiroh sebagai modal awal dakwah, yakni sang da’i harus mempunyai ilmu dan pengetahuan yang cukup mumpuni akan apa yang didakwahkan. Modal kedua yang tidak kalah pentingnya harus mengetahui ilmu dan cara jidal (berdebat) yang baik dengan berdasarkan hujjah dan bashiroh tersebut, terutama kepada Ahlul kitab.

Metode kedua ini juga Allah sebutkan secara khusus di dalam Al Qur’an,

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”(Al-‘Ankabut, ayat 46)

Dari dua pondasi dakwah ini, yakni :

  1. Hujjah dan Bashiroh
  2. Ilmu cara jidal (berdebat yang baik)

Maka paling tidak kita memang harus menguasai :

  1. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Ahlul Kitab sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an
  2. Ilmu kristologi itu sendiri agar mengetahui bagaimana berhujjah kepada Ahlul Kitab, dengan menggunakan bukti yang berasal dari kitab mereka sendiri.

Baru setelah bekal itu ada, kita bisa berdakwah kepada Ahlul Kitab sesuai dengan apa yang Allah tuntunkan di dalam Al-Qur’an.

Bagaimana jika tidak menguasai hal itu, apakah tidak boleh berdakwah kepada Ahlul Kitab?

Tentu saja boleh, asalkan cara berdakwahnya dengan cara yang umum, akhlak baik, atau menyampaikan dakwah dengan tidak melebihi dari apa yang kita tahu. Karena kadang ada juga ahlul kitab yang tidak terlalu faqih mengenai kitab mereka, atau sudah memiliki modal tertarik untuk mengetahui dan mempelajari Islam lebih dalam.

Adapun syarat yang cukup ketat di atas, umumnya disyaratkan jika ada perdebatan secara keilmuan dengan para Ahlul Kitab berkaitan antara Islam dan hubungannya dengan cara beragama Ahlul kitab. Jika terjadi hal ini, maka tentu kita memerlukan ilmu dan pemahaman yang lebih mendalam terlebih dahulu.

***

Maksud daripada dakwah agar tidak menisbatkan hal-hal yang tidak pantas atau dusta kepada Allah itu adalah seperti :

  • Mengatakan bahwa Yesus itu adalah perwujudan Allah (baca : bapa kalau bahasa mereka), atau Yesus itu adalah anak Allah. Hal ini sudah kita bahas panjang lebar sebelumnya.
  • Menisbatkan kepada Allah sifat atau hal yang tidak pantas, seperti tangan Allah terbelenggu dalam perkataan kaum Yahudi (QS Al Maidah : 64).

 

Atau Allah telah bergulat dengan Nabi Ya’qub dan kalah dengan nabi Ya’qub, hingga sejak saat itu nabi Ya’qub memperoleh gelar Israel. (Lihat Kejadian 32 : 24 – 28)

 

Atau hal-hal yang saling kontradiktif yang dinisbatkan kepada Allah antara satu ayat dengan ayat yang lain, baik itu yang tersebut dalam Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru. Ahmad Deedat sudah mengumpulkan hal ini semua dalam bukunya yang berjudul “Combat Kita” dalam kata entry “God”. Hendaklah merujuk ke buku itu. Hal ini tidak kami sebutkan lagi disini karena takut terlalu panjang.

 

  • Menisbatkan perkataan kepada Allah, bahwa orang-orang Yahudi tidak akan disentuh api neraka kecuali beberapa hari saja (QS. Al Baqarah : 80), orang-orang Yahudi itu adalah para kekasih Allah hanya semata-mata karena mereka orang Yahudi (QS. Al-Jumu’ah : 6), hanya Ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani) saja yang masuk Surga (QS. Al Baqarah : 111)

 

  • Termasuk dalam hal ini adalah perilaku manipulasi wahyu yang dilakukan oleh para Ahlul Kitab terhadap kitab-kitab mereka. Baik itu dengan ditambahi, diubah, ataupun dikurangi, untuk kemudian diaku-aku inilah wahyu yang diturunkan oleh Allah. (QS Al Baqarah : 75 dan 79, Ali Imran : 187, Al Maidah : 13 dan 41)

 

Penelitian sarjana biblical pun sebenarnya juga mengakui adanya korupsi dan perubahan text biblical ini. Lihat :

 

“The Text of New Tastement : Its Transmission, Corruption, and Restoration”, Bruce M. Metzger and Bart D. Ehrman, Oxford University Press, 1964, 1968, 1992, 2005.

 

“The Orthodox Corruption of Scripture : The Effect of Early Christological Controversies on the Text of New Testament”, Bart D. Ehrman, Oxford University Press, 1993.

***

Inti dari penyampaian hujjah dan bashiroh ini adalah untuk mengajak Ahlul Kitab mengimani Allah dengan cara yang benar dan tidak mensyirikkannya. Dari sinilah semuanya akan bermuara kembali. Ini seperti dalam firman Allah,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb selain Allah“. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah muslimin”. [QS. Ali Imran : 64]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Ajakan dakwah dengan bukti yang jelas dan bashiroh akan validitas kerosulan Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam, dengan berdasarkan khabar yang disebutkan dalam kitab suci para Ahlul Kitab dan komparasinya dengan Al-Qur’an

Pembahasan lebih luas “keabsahan nubuwwah” Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam dalam bible, sebenarnya lebih pada cabang ilmu Kristologi secara khusus.

Namun untuk sekedar menjelaskan secara ringkas, berikut akan saya sebutkan beberapa point dalam bible yang menerangkan akan berita kenabian Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

a) Isyarat Nubuwat Nabi Muhammad yang disampaikan Allah melalui Nabi Ibrahim dalam Kitab Kejadian Pasal 12 : 1-4

12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;

12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

Sisi pendalilan dari pasal ini adalah pada :

– Keturunan Nabi Ibrahim yang akan menjadi bangsa yang besar

– Yang mana akan selalu memberkati Nabi Ibrahim

– Yang akan membuat nama Nabi Ibrahim menjadi masyhur karena sering disebut.

Keturunan Nabi Ibrahim tersebut adalah kepada Nabi Muhammad dan bangsa Arab yang berasal dari garis Nabi Ismail ‘alaihis salaam, anak dari Nabi Ibrahim. Adapun yang selalu memberkati Nabi Ibrahim dan membuat namanya masyhur adalah dibuktikan dengan adanya shalawat ibrahimiyyah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Sholawat Ibrahimiyyah ini wajib hukumnya untuk dibaca ketika tahiyat dalam sholat, terutama tahiyat akhir. Manakah yang lebih membuat masyhur, selain dari pemberkatan dengan sholawat Ibrahimiyyah kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam yang minimal dibaca setiap sholat 5 waktu tiap hari oleh kaum Muslimin? Dan inilah syariat yang ditetapkan untuk kaum Muslimin.

Dari Ibnu Abi Laila beliau berkata:
“Aku bertemu dengan Ka’b bin ‘Ujrah kemudian beliau berkata: “Maukah kamu aku berikan hadiah yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”Aku berkata: “Iya, hadiahkanlah itu kepadaku.” Maka beliau berkata:

سألْنا رسول الله فقلنا: يا رسول الله كيف الصلاةُ عليكم أهلَ البيت، فإن الله قد عَلَّمنا كيف نسلِّم؟ قال: قولوا اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد

“Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepada antum, wahai ahlul bait?” Karena Allah sudah mengajari kami bagaimana cara mengucapkan salam?” Maka beliau bersabda: Katakanlah:

اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد

“Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas, Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas.” (Muttafaqun ‘alaihi).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b) Nubuwwat Nabi Muhammad yang disampaikan Allah melalui Nabi Musa ‘alaihis salaam, Kitab Ulangan Pasal 18 : 17-19 dan Pasal 34 : 10

18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik;

18:18 seorang nabi  akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya,dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

18:19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.

34:10 Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel,

Sisi pendalilan dari ayat-ayat itu adalah, Nabi yang disebutkan dalam pasal 18 : 18 adalah tidak mungkin berasal dari bani Israil karena hal itu disebutkan dalam pasal 34 :10. Adapun Nabi Isa ‘alaihis salaam (Yesus), maka beliau jelas dari keturunan bani Israil dari suku Yehuda.

Sehingga saudara yang dimaksud adalah saudara jauh bani Israel, yakni bani Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail ‘alaihis salaam (anak Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam). Dan dari jalur Nabi Ismail itu keluarlah Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c) Nubuwwat Nabi Muhammad yang disampaikan Allah melalui Nabi Yesaya, Kitab Yesaya Pasal 29 : 12

29:12 dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.”

Sisi pendalilan dari ayat ini adalah hal ini sama persis seperti apa yang dialami oleh Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam diturunkan wahyu yang pertama kali melalui malaikat Jibril. Dan nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang ummi, yang tidak dapat membaca dan menulis.

Peristiwa ini sama sekali tidak pernah ada dalam riwayat kehidupan Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam (Yesus) dalam Injil Perjanjian Baru. Oleh karena itu, nubuwwat ini cocok dengan Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam

Dari Aisyah radhiyalloohu ‘anhaa :
“Wahyu yang pertama kali dialami oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Beliau melihat dalam mimpi itu datangnya bagaikan terangnya pagi hari. Kemudian beliau suka menyendiri. Beliau pergi ke gua Hira untuk beribadah beberapa malam. Untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kembali ke Khadijah radiyallahu ‘anha, maka Khadijahpun membekali beliau seperti bekal terdahulu.

Lalu di gua Hira datanglah kepada beliau satu kebenaran, yaitu seorang malaikat, yang berkata kepada Nabi : “Bacalah!” Rasulullah menceritakan : “maka akupun menjawab : Aku tidak bisa membaca”. Malaikat tersebut lalu memelukku sehingga aku merasa amat payah. Lalu aku dilepaskan, dan dia berkata lagi : “Bacalah!” maka akupun menjawab : “Aku tidak bisa membaca”.

Lalu dia merangkulku yang kedua kali sampai aku kepayahan. Kemudian dia lepaskan lagi dan berkata : “Bacalah!” Aku menjawab : “Aku tidak bisa membaca”.

Maka dia merangkulku yang ketiga kalinya sehingga aku kepayahan, kemudian dia berkata :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan.. sampai dengan …apa yang tidak diketahuinya”.

…………(hingga akhir hadits)

[HR. Bukhari-Muslim]

 

 

d) Nubuwwat Nabi Muhammad yang disampaikan Allah melalui Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam (Yesus), Kitab Yohannes Pasal 16 : 7-14

16:7 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur  itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.

16:8 Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

16:9 akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;

16:10 akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;

16:11 akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.

16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

16:14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku

Sisi pendalilan dari ayat ini adalah pada Penghibur yang dimaksud tidak berkata-kata dari dirinya sendiri. Yakni Nabi yang akan datang setelah Nabi Isa ‘alaihis salaam. Dan hal ini sangat cocok dengan rasululllaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam yang tidak berkata-kata dari dirinya sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an berikut ini :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut keinginannya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. [QS. An-Najm : 3-7]

 

*****

Dan masih banyak lagi dalil-dalil dari Bible yang menunjukkan hal ini. Hendaklah merujuk kepada berbagai macam pembahasan “Kristologi”, untuk penjelasan lebih terperinci mengenai hal ini.

  1. Ajakan dakwah dengan bukti yang jelas dan bashiroh akan validitas bahwa Al-Qur’an benar-benar merupakan Wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam, untuk menghapus dan menggantikan kitab-kitab Wahyu yang Allah turunkan terdahulu kepada para Ahlul Kitab.

Pembahasan ini sebenarnya konsekuensi dari mengimani Rasulullah dan apa yang dibawanya oleh para ahlul Kitab.

Para Ahlul kitab pada zaman Rasulullah, biasanya menggunakan metode untuk mengklarifikasi kebenaran kenabian Rasulullah dengan cara :

a. Mencocokkan ciri-ciri atau kabar Nabi akhir zaman yang akan datang, yang dikhabarkan melalui kitab-kitab dan keterangan para pemuka agama mereka yang terdahulu, dengan ciri-ciri yang ada pada Rasulullah.

 

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 146]

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma´ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…..”  [QS. Al-A’raaf :157]

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. [QS. Ash-Shaff : 6]

Metode ini sudah kita bahas sedikit banyak dalam bahasan kita yang terdahulu

b. Penerimaan terhadap kesesuaian dan revisi kisah-kisah bani Israil dan Yesus (Nabi Isa ‘alaihis salaam) yang ada di dalam Al Qur’an (seperti misal masalah penyaliban Yesus), dengan apa yang dihikayatkan dalam Kitab-kitab mereka. Berikut juga kesesuaian dan revisi dari apa yang tercantum dalam Taurat dan injil, dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an

Metode ini lazim dilakukan, karena tidak mungkin Rasulullah yang tidak pernah berinteraksi secara intens dan mempelajari kitab-kitab para Ahlul Kitab bisa mengetahui hal ini. Terlebih lagi Rasulullah itu buta huruf. Maka mustahil Rasulullah bisa mengetahui kisah-kisah bani israil dan apa-apa yang disebutkan di dalam kitab suci mereka.

Maka dari itu tidak ada yang bisa mengetahui masalah kisah-kisah Ahlul Kitab dan apa yang disebutkan di dalam kitab itu, termasuk juga keculasan para Ahli Kitab dalam merubah-rubah dan melakukan penyisipan terhadap isi kitab mereka, kecuali Allah yang memberitahukannya.

Maka dari itu inilah hujjah dan bashiroh dari sisi pemahaman Ahlul Kitab,

“Bahwa Al-Qur’an ini benar-benar Wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalalloohu ‘Alaihi wa sallam. Sama seperti Wahyu kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘Alaihis salaam, dan Wahyu kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Yesus (Isa ‘Alaihis salaam).”

Sebagai contoh, ini seperti kisah mengenai siapakah yang akan memelihara Maryam binti Imron, Ibu dari nabi Yesus (Isa ‘Alaihis salaam). Yang akhirnya dibesarkan dan dididik oleh Nabi Zakaria ‘alaihis salaam.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۚ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. [QS. Ali Imran : 44]

Di dalam Al-Qur’an banyak tersebut kisah-kisah para Nabi sebagaimana yang tercantum di dalam Alkitab. Dan mustahil nabi Muhammad mengetahuinya, kecuali berdasarkan Wahyu yang didapatkannya dari Allah subhaanahu wa ta’aala.

Ini seperti kisah Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, kisah penindasan bani Israil oleh Fir’aun di Mesir, kisah Nabi Musa dan exodus bani Israil, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan lain-lain hingga sampai kisah Nabi Yesus (Isa) ‘alihimus salaam.

Semua nama Nabi dan kisahnya ada di dalam Al-Qur’an. Berikut juga revisinya akan hal-hal yang dinisbatkan secara dusta kepada Nabi tersebut, seperti masalah penyaliban Yesus (Isa ‘alaihis salaam), penisbatan ilmu sihir kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam, dan lain-lain.

Dalam bahasan kristologi dibahas juga pengingkaran kisah-kisah tidak benar, tidak senonoh, tidak bermoral, yang mustahil untuk dinisbatkan kepada para Nabi pilihan Allah yang disebutkan dalam bible itu.

Ini seperti ;

  • Nabi Daud berzina dengan Batsyeba binti Eliam sampai hamil, yang masih berstatus sebagai istri dari Uria orang Het. (Lihat 2 Samuel 11 : 4-5). Setelah mengandung, Nabi Daud kemudian baru membunuh Uria suami dari Batsyeba (Lihat 2 Samuel 11 : 6-25)
  • Nabi Luth melakukan incest bersetubuh dengan kedua orang putri kandungnya sendiri (Lihat Kejadian 19 : 33-35)
  • Nabi Sulaiman melakukan kesyirikan dengan mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk para dewa-dewa sesembahan selain Allah, bagi para istri-istrinya (Lihat 1 Raja-raja 11 : 1-8)

Dan lain-lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c. Memperlihatkan dengan jelas adanya kontradiksi di dalam kitab-kitab bani Israil, akibat penyelewengan, distorsi, sisipan, dan korupsi yang dilakukan oleh para pemuka bani Israil sendiri terhadap kitab mereka. Sekaligus sebagai bukti kebenaran kabar yang diberitahukan Al Qur’an, mengenai sikap bani Israil terhadap kitab suci mereka. Dan juga sebagai hujjah bahwa Al Qur’an itu berfungsi sebagai standart batu ujian, untuk menentukan mana-mana bagian dari kitab bani Israil yang benar Wahyu dari Allah dan mana-mana yang telah diselewengkan.

Metode ini Allah sebutkan sendiri di dalam Al-Qur’an perihal,

– Ahlul Kitab itu melakukan distorsi dan penyelewengan terhadap kitab mereka itu sendiri

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.

Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqarah : 79]

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?. [QS. Al-Baqarah : 75]

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. [QS. Ali Imran : 187]

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا ۛ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا ۚ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi.

(Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya.

Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. [QS. Al-Maidah : 41]

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [QS. Al-Maidah : 13]

– Penjelasan dan kaidah bahwa jika benar suatu kitab itu benar-benar 100% berisi Wahyu dari Allah dan tanpa adanya distorsi, maka tidak akan ada pertentangan antara satu ayat dengan ayat yang lain.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [QS An Nisaa : 82]

***

Dari point-point itu, maka diskusi dengan Ahlul kitab akan berlangsung dengan topik “seputar kontradiksi yang ada di dalam Alkitab”. Baik itu yang terdapat di perjanjian lama ataupun yang terdapat di perjanjian baru. Ataupun juga antara yang terkandung di Perjanjian Baru dengan yang terdapat dalam Perjanjian Lama

Kontradiksi ini biasanya lebih kearah penulisan kisah yang saling bertolak belakang bertentangan, serta kata-kata (biasanya perkataan Musa, Yesus, dan lain-lain) yang saling bertolak belakang antara ayat satu dengan ayat lain.

Dengan tanpa bisa ditafsirkan lagi, kecuali disimpulkan bahwa :

  • Ada kesalahan dari salah satu di antara ayat yang bertentangan itu. Jadi yang satu benar, dan yang satu salah.
  • Atau semua ayat itu memang salah sejak awalnya, karena kita tidak bisa menguatkan mana yang benar dan mana yang salah

Pembahasan masalah kontradiksi di dalam Alkitab ini, sebenarnya menduduki jumlah sampel yang paling banyak di dalam Kristologi dibandingkan metodologi topic yang lain. Bahkan karena saking banyaknya, Ahmad Deedat sampai menulis buku berjudul “Is the Bible God’s Word”

Sekedar sebagai contoh :

a. Siapa yang menghasut nabi Daud, Tuhan ataukah Iblis?

 

Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: “Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.”

[2 Samuel 24 : 1]

 

Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung  orang Israel.

[1 Tawarikh 21 : 1]

 

b. 700 orang atau 7000 orang? Pasukan berkuda ataukah pasukan pejalan kaki?

 

Tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ratus ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang pasukan berkuda. Sobakh, panglima tentara mereka, dilukainya sedemikian, hingga ia mati di sana. [2 Samuel 10 : 18]

 

Tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ribu ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang pasukan berjalan kaki; juga Sofakh, panglima tentara itu, dibunuhnya. [1 Tawarikh 19 : 18]

 

c. Laut yang dibuat itu dapat memuat 2000 bat air ataukah 3000 bat air?

 

Tebal “laut” itu setapak tangan dan tepinya serupa tepi piala, seperti bunga bakung yang berkembang. “Laut” itu dapat memuat dua ribu bat air. [1 Raja-raja 7 : 26]

 

Tebal “laut” itu setapak tangan dan tepinya serupa tepi piala, seperti bunga bakung yang berkembang. “Laut” itu dapat memuat tiga ribu bat air. [2 Tawarikh 4 : 5]

d. Tidak pernah ada orang yang ke surga kecuali Yesus sang anak manusia, ataukah pernah ada orang yang ke surga sebelumnya?

 

Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. [Yohannes 3 : 13]

 

Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi  dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. [2 Raja-raja 2 : 13]

 

Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. [Kejadian 5 : 24]

 

****

Dari tiga metode pemahaman tersebut, maka itulah hujjah dan bashiroh bahwa Al Qur’an yang diturunkan oleh Rasulullah itu benar-benar Wahyu yang diturunkan Allah kepada beliau. Sama seperti halnya Taurat dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi Isa ‘alaihis salaam.

Atas dasar argument ini, maka dakwah pemahaman bahwa Al Qur’an :

  • Sebagai Wahyu terakhir yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad
  • Sebagai batu ujian guna merevisi apa-apa yang ada di dalam Taurat dan Injil yang ada pada ahli Kitab
  • Dan berfungsi untuk memansukh-kan atau menggantikan syariat Taurat dan Injil

mulai bisa diterima dan mengetuk pintu pemahaman para Ahlul Kitab.

Metode dakwah dan pemahaman ini sebenarnya kembali kepada perkataan Allah subhaanahu wa ta’aala berikut ini,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Dan Kami telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.

Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan kamu terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. [QS. Al Maidah : 48-49]

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

“(yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-A’raf: 157)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Jejak-jejak Tauhid dalam kitab-kitab para Ahlul Kitab.

Jejak-jejak tauhid yang benar di dalam kitab-kitab para Ahlul Kitab itu tentu akan selalu ada. Baik itu di dalam Perjanjian lama, ataupun di dalam Perjanjian Baru. Baik itu di dalam Taurat, ataupun di dalam Injil.

Karena itu semua dasarnya adalah Wahyu Allah, walau mengalami distorsi dan korupsi di sana-sini, yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul pilihan Allah.

Ini sesuai dengan firman Allah,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thagut!” (QS. An Nahl: 36)

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?” (QS. Az-Zukhruf : 45)

Namun permasalahannya bridging words and bridging understanding nya harus melalui tahap-tahap seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya. Jika “bridging”nya bisa ter-deliver, maka pemanfaatan bukti jejak-jejak tauhid dalam kitab-kitab para Ahlul kitab itu akan menjadi efisien dan tepat guna dalam berdakwah insya Allah.

Berikut adalah jejak-jejak Tauhid yang ada di dalam kitab-kitab para Ahlul kitab.

Dalam Perjanjian Lama :

Ulangan 6 : 13

Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama -Nya haruslah engkau bersumpah.

2 Raja-raja 17 : 35,

TUHAN telah mengadakan perjanjian dengan mereka dan memberi perintah kepada mereka: “Janganlah berbakti  kepada allah lain, janganlah sujud menyembah kepadanya, janganlah beribadah kepadanya dan janganlah mempersembahkan korban kepadanya.

 

 

Yesaya 44 : 24

Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi –siapakah yang mendampingi Aku? —

Yesaya 45 : 5-6,

Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain

Yesaya 45 : 21

Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!

Dalam Perjanjian Baru :

Matius 4 : 9-10,

dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! ”

Markus 12 : 28-32

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

 

Yohannes 17 : 3

Inilah hidup yang kekal  itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Kisah Para Rasul 24 : 14

Tetapi aku mengakui kepadamu, bahwa aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan yang mereka sebut sekte. Aku percaya kepada segala sesuatu yang ada tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi.

***

Satu point yang harus dicatat dari pembahasan ini, bahwa Allah sendiri sudah berfirman bahwa para Ahlul Kitab akan senantiasa bersifat “defensive” mempertahankan diri walau hujjah dan bashiroh tertampang jelas di hadapan mereka secara ilmiah.

Bahkan mereka juga akan bersifat “offensive” untuk menolak apa-apa yang datang dari kerosulan Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ ( ) بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

”Ketika telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. La’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki mengapa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya” (QS. Al-Baqarah: 89 – 90).

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

“Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat menjadikan kalian kembali kafir setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 109).

 

 

 

 

G. AHLUL KITAB YANG LAIN?

Ahlul Kitab secara definisi adalah orang atau ummat yang bergama dan berpegang kepada kitab wahyu dari Allah, yang kitab itu diturunkan sebelum Rasulullah diutus. Dan keterangan bahwa kitab wahyu itu berasal dari Allah, bersifat tauqifiyyah. Ditetapkan dengan berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak berdasarkan akal.

Sehingga tidaklah semua pemeluk agama yang mengaku punya kitab itu disebut sebagai Ahlul Kitab.

Ahlul kitab yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah secara ijma yang para ulama tidak berselisih adalah dua golongan, yakni Yahudi dan Nashrani. Hal ini karena secara definitif disebutkan di dalam Al-Qur’an,

ثُمَّ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ تَمَامًا عَلَى الَّذِي أَحْسَنَ وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَىٰ طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ

Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.

Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Kami turunkan al-Quran itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami (yakni Yahudi dan Nashrani), dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. [QS. Al-An’am : 154-156]

Al-Qur’an menyebutkan juga masalah Shaabi-iin/Shaabi-uun dan Majusi, namun para ulama berbeda pendapat apakah Shaabi-iin/Shaabi-uun dan Majusi itu juga termasuk Ahlul Kitab yang mendapatkan kitab wahyu ataukah tidak.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَىٰ وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. [QS. Al-Hajj : 17]

 

 

 

a. Shaabi-iin/Shaabi-uun

Ibnu Qudaamah rahimahullaah berkata:

 

وأما الصابئون، فاختلف فيهم السلف كثيرا، فَرُوِيَ عن أحمد أنهم جنس من النصارى، ونص عليه الشافعي، وعلق القول فيهم موضع آخر. وعن أحمد أنه قال : بلغني أنهم يسبتون، فهؤلاء إذا يشبهون اليهود. الصحيح فيهم أنهم إن كانوا يوافقون النصارى أو اليهود في أصل دينهم، ويخالفون في فروعه، فهم ممن وافقوه، وإن خالفوهم في أصل الدين، فليس هم منهم. والله أعلم.

 

“Adapun golongan Shaabi’uun, salaf banyak berselisih pendapat tentangnya. Diriwayatkan dari Ahmad bahwasannya mereka termasuk golongan Nashara. Hal itu tegaskan oleh Asy-Syaafi’iy, dan ia memberikan komentar tentang mereka di tempat yang lain.

 

Dari Ahmad bahwasannya ia berkata : ‘Telah sampai kepadaku mereka merayakan hari Sabtu. Jika demikian, maka mereka serupa dengan orang-orang Yahudi’.

 

Yang benar, jika mereka berkesesuaian dengan Nashrani atau Yahudi dalam pokok (ushul) agama mereka namun menyelisihi dalam cabang (furu’), maka mereka termasuk golongan yang berkesesuaian dengannya (Yahudi atau Nashrani). Akan tetapi jika mereka menyelisihi Yahudi dan Nashrani dalam pokok agama mereka, maka bukan termasuk mereka, wallaahu a’lam” [Al-Mughniy, 9/547].

 

As-Suddiy menguatkan mereka termasuk Ahlul-Kitaab. Namun Mujaahid, Al-Hasan, Abu Najiih, dan Ibnu Zaid berpendapat mereka bukan termasuk Yahudi, Nashrani, ataupun Ahlul-Kitaab. [Tafsir Ath-Thabariy, 2/147].

 

Yang rojih, Shaabi’uun termasuk ke dalam ahlul kitab. Mereka mengikuti Nabi Yahya ‘Alaihis Salaam dan mempunyai Kitab yang dinamakan Ginza Raba.

Nama kitab ini memang tidak tercantum secara definitif di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun nama Shaabi-uun/shaabi-iin disebutkan secara definitif di dalam Al-Qur’an. Mereka mengenal dan menyembah Allah, namun sebagian dari pecahan mereka ada yang berbuat kesyirikan dengan mempunyai 365 ilah (sesembahan) yang lain.

 

Lihat :

– “Atlas Agama-agama” tulisan Sami bin Abdullah Al Maghlouth, hal 175-190, (terjemahan) Pustaka Al-Mahira. Di sini beliau juga memasukkan Shaabi’iin dalam pembahasan Agama Samawi.

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/07/siapakah-ahlul-kitaab.html

b. Majusi

 

Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata:

 

وليس للمجوس كتاب، ولا تحل ذبائحهم، ولا نكاح نسائهم. نص عليه أحمد. وهو قول عامة العلماء، إلا أبا ثور، فإنه أباح ذلك؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ((سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ)). ولأنه يُرْوى أن حذيفة تزوج مجوسية. ولأنهم يقرون بالجزية. فأشبهوا اليهود والنصارى. ولنا، قول الله تعالى : (وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ). وقوله : (وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ). فرخص من ذلك في أهل الكتاب…

 

“Orang-orang Majusi tidaklah mempunyai Kitaab (sehingga bisa disebut Ahlul-Kitaab). Tidak halal sembelihan dan wanita mereka. Hal itu telah dikatakan oleh Ahmad, dan itulah pendapat jumhur ulama – kecuali Abu Tsaur.

 

Ia (Abu Tsaur) telah membolehkan hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan (aturan) yang diterapkan pada Ahlul-Kitaab’.

 

Juga karena telah diriwayatkan bahwasannya Hudzaifah pernah menikahi wanita Majusi. Juga karena telah ditetapkan pungutan jizyah pada mereka dimana hal ini menyerupai Yahudi dan Nashrani.

 

Adapun kami, (berdalil dengan) firman Allah ta’ala : ‘Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik’ dan juga firman-Nya : ‘Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir’. Maka Allah memberikan keringanan atas hal itu pada wanita Ahlul-Kitaab ….” [Al-Mughniy, 9/547].

 

Agama Majusi didirikan oleh Zoroaster (atau Zarathustra). Mereka mempercayai dualisme Ilah (Tuhan), yakni Tuhan cahaya atau kebaikan yang mereka namakan Ahura Mazda. Dan Tuhan kegelapan atau kejahatan yang dinamakan Ahriman. Mereka menyembah api yang mereka yakini melambangkan Tuhan cahaya Ahura Mazda.

 

Adapun perkataan yang rojih (kuat) mengenai Majusi ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) Ulama yang mengatakan bahwa Majusi itu bukanlah termasuk Ahlul Kitab.  Sehingga dia termasuk kedalam golongan kaum musyrikin seperti yang lain, hanya saja dia diperlakukan seperti ahlul kitab dalam masalah jizyah saja. Tidak dalam hal yang lain.

 

Perkataan bahwa Majusi ini bukan termasuk Ahlul Kitab ini karena:

  1. Tidak ada riwayat bahwa Majusi itu mengenal dan menyembah Allah

 

  1. Terdapat riwayat mengenai Majusi dengan keterangan sebagai berikut

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عِمْرَانَ الْقَطَّانِ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِنَّ أَهْلَ فَارِسَ لَمَّا مَاتَ نَبِيُّهُمْ كَتَبَ لَهُمْ إِبْلِيسُ الْمَجُوسِيَّةَ

 

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bilaal, dari ‘Imraan Al-Qaththaan, dari Abu Jamrah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Persia ketika nabi mereka wafat, maka Iblis menuliskan untuk mereka agama Majusi” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3042; dihasankan oleh Al-Albaaniy].

  1. Ketika Rasulullah mengirimkan surat kepada kepada Kaisar Heraklius yang Nasrani di roma dan Raja Muqouqis yang Nasrani di Mesir, beliau menyertakan kutipan Al-Qur’an Ali Imran ayat 64 yang menyebut mereka dengan Ahlul Kitab.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb selain Allah“. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS. Ali Imran : 64]

Sedangkan ketika Rasulullah mengirimkan surat kepada Kisra dari Persia yang beragama Majusi, beliau tidak menyebutkan hal yang berhubungan dengan Ahlul Kitab sedikitpun, melainkan hanya menyebutkan ajakan memeluk Islam saja. Berikut adalah isi surat Rasulullah kepada Kisra:

 

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra raja Persia. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah kepada semua umat manusia, untuk memberi peringatan bagi siapa yang hidup. Masuklah Islam maka kau akan selamat, dan jika kau mengabaikannya maka atasmu dosa orang orang Majusi.

 

[Surat Nabi kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz, diambil dari hadist Ibnu Abbas yang di takhrij oleh Bukhari (4424) dan oleh Ahmad (I:243-305)]

  1. Ketika terjadi peperangan antara bangsa Roma (ruum) Nashrani Ahlul Kitab yang mengenal Allah dengan bangsa Persia pemeluk Majusi yang tidak mengenal Allah, Allah berfirman dengan menisbatkan pertolongannya kepada bangsa Ruum dan juga kegembiraan dari orang-orang yang berfirman. Dan ini adalah dalil yang sangat kuat.

الم غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. [QS. Ar-Ruum : 1-5]

  1. Adapun mengenai perkataan Abu Tsaur sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Qudamah itu, maka hadits masalah Hudzaifah menikahi wanita Majusi (sebagaimana kebolehan menikahi wanita Ahlul Kitab Yahudi dan Nashrani lainnya) tidak shohih dan tidak dapat dijadikan hujjah.

 

  1. Hadits agar memperlakukan majusi seperti Ahlul Kitab sebagaimana yang dijadikan hujjah juga oleh Abu Tsaur, itu yang dimaksud adalah memperlakukan dalam masalah jizyah semata. Bukan untuk dianggap sebagai Ahlul Kitab secara total sebagaimana halnya Yahudi dan Nashrani.

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ذَكَرَ الْمَجُوسَ فَقَالَ مَا أَدْرِي كَيْفَ أَصْنَعُ فِي أَمْرِهِمْ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَشْهَدُ لَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ

Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab menyebut-nyebut tentang orang Majusi. Ia berkata : “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap mereka”.

 

Lantas ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf berkata : “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan (aturan) yang diterapkan pada Ahlul-Kitaab”.

 

[Hadits Hasan Li ghoirihi. Diriwayatkan oleh Imam Malik, Asy-Syafi’i, Al-Baghowi, Abdurrozzaq, Abu Ya’la, Al-Baihaqi, Ibnu Asakir, dan Ath Thobrooni]

 

Hadits mengenai Umar dalam bersikap terhadap Majusi ini dijelaskan lagi dengan hadits yang lain bahwa maksudnya adalah dalam masalah jizyah.

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ بَجَالَةَ التَّمِيمِيِّ قَالَ لَمْ يُرِدْ عُمَرُ أَنْ يَأْخُذَ الْجِزْيَةَ مِنْ الْمَجُوسِ حَتَّى شَهِدَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَهَا مِنْ مَجُوسِ هَجَرَ

 

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Diinaar, dari Bajaalah At-Tamiimiy, ia berkata :

 

“’Umar tidak ingin memungut jizyah dari orang-orang Majusi, hingga ‘Abdurrahman bin ‘Auf bersaksi bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memungut jizyah dari orang-orang Majusi Hajar” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/194; shahih].

  1. Ketika Al-Qur’an menyebutkan perihal orang yang beriman kepada Allah, maka Allah hanya menyebutkan Yahudi, Nashrani, dan Shaabii-in dari ahlul kitab tanpa meyebutkan Majusi sama sekali. Dan Ahlul Kitab mengenal Allah sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Ali Imran : 64.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-Baqoroh : 62]

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَىٰ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-Maidah : 69]

  1. Yahudi, Nashrani, dan Shaabi-iin yang dimaksud pada ayat diatas (QS. Al Baqarah ayat 62 dan Al-Maidah ayat 69] maksudnya ada dua yakni :

 

a. Yahudi, Nashrani, dan Shaabi-iin yang ada pada zaman sebelum Rasululloh diutus dan sebelum Al-Qur’an diturunkan sebagai Kitab Allah terakhir untuk menghapus kitab-kitab sebelumnya. Siapa yang pada waktu itu benar-benar beriman kepada Allah dan tidak mensyirikkannya, maka merekalah yang mendapatkan pujian yang dimaksud dalam ayat itu.

Hal ini karena pada zaman sebelum rasulullah diutus, terdapat juga Ahlul kitab yang melakukan kesyirikan dan tidak benar-benar beriman kepada Allah dengan sebenarnya.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Ilah/Tuhan  (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [QS. At-Taubah : 30-31]

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. [QS. Al-Maidah : 76-78]

Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh berkata mengenai Yahudi dan Nashrani yang ada pada masanya, yang benar-benar beriman kepada Allah dan menjalankan syariat sesuai dengan Rasul mereka yang diutus pada zamannya,

“Adapun Islam dengan makna yang khusus adalah agama yang diajarkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam yang menghapuskan seluruh ajaran nabi dan rasul terdahulu, sehingga orang yang mengikuti beliau berarti telah berislam, sedangkan yang menolak beliau bukan orang Islam.

Pengikut para rasul adalah muslimin di zaman rasul mereka. Maka Yahudi adalah muslimin di zaman Nabi Musa ‘alaihis Salaam, dan Nashrani adalah muslimin di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihis Salaan, jika mereka benar-benar mengikuti syariat rasul mereka. Adapun setelah Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam diutus, lalu mereka tidak mau beriman kepada beliau maka mereka bukan muslimin (baca: orang Islam).”

(Syarh Tsalatsatil Ushul, Al-Imam Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 20-21, Dar Ats-Tsurayya, 1417 H)

b. Yahudi, Nashrani, dan Shaabi-iin yang menjumpai masa Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam diutus dan setelahnya. Yang kemudian mereka beriman dan masuk Islam.

Hal ini karena tidaklah setelah rasululloh diutus sebagai penutup para Nabi, jika ada orang yang tidak beriman kepadanya maka dia tergolong sebagai orang Kafir. Termasuk juga dalam hal ini adalah Ahlul Kitab.

Hanya saja mereka mendapatkan suatu kedudukan sendiri sebagai kafir ahlul kitab, karena mereka mengenal Allah dan mereka berpegang kepada kitab Allah yang pernah diturunkan sebelumnya yang telah terhapus dengan adanya Al-Qur’an.

Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Tuhan yang menggenggam diri Muhammad, tiada seorang pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [QS. Al-Bayyinah : 6]

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ  الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ, فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

“Tiga orang yang mereka diberi pahala dua kali:

(1) Seorang ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati Nabi (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beriman kepada beliau, mengikutinya, dan memercayainya, maka dia mendapatkan dua pahala;

(2) budak sahaya yang menunaikan kewajiban terhadap Allah l dan kewajiban terhadap tuannya, ia mendapatkan dua pahala; dan

(3) seseorang yang memiliki budak perempuan lalu memberinya makan dan bagus dalam hal memberi makannya, kemudian mendidiknya dan bagus dalam mendidiknya, lalu dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. al-Bukhari no. 3011 dan Muslim dalam Kitabul Iman, dan hadits ini lafadz Muslim)

Disebutkan juga di dalam Tafsir Ibnu Katsir, ketika beliau mentafsirkan QS. Al-Baqoroh : 62 perihal pujian terhadap Yahudi, Nashrani, dan Shaabi-iin yang beriman kepada Allah tersebut; beliau menyebutkan riwayat Ali bin Abi Tholib rodhiyalloohu ‘anhu dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu, bahwa setelah Allah menurunkan QS. Al-Baqoroh : 62 itu Allah pun kemudian menurunkan QS. Ali Imran : 85 setelahnya.

 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Ali Imran : 85]

 

[Lihat Tafsir Ibnu Katsir di pembahasan tafsir QS. Al-Baqoroh ayat 62]

 

Lihat pula :

– “Atlas Agama-agama” tulisan Sami bin Abdullah Al Maghlouth, hal 465-482, (terjemahan) Pustaka Al-Mahira. Di sini beliau juga memasukkan Majusi dalam pembahasan Agama-agama Bumi (baca : Agama hasil kebudayaan Manusia).

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/07/siapakah-ahlul-kitaab.html

 

c. Kesimpulan

 

Definisi Ahlul Kitab yang benar adalah Yahudi dan Nashrani, ini yang utama. Dan kemudian ditambah dengan Shaabi-iin. Adapun Majusi bukanlah termasuk Ahlul Kitab.

 

Termasuk kesalahan dan penyimpangan yang sangat fatal dari golongan Pluralis Liberal, yang menganggap bahwa semua agama yang memiliki kitab suci itu bisa dianggap sebagai Ahlul Kitab. Atau bahkan menganggap semua agama itu Tuhannya sama, hanya berbeda nama saja.

RUMUSAN KESIMPULAN RISALAH TAUHID JILID 3

  1. Ahlul kitab mengenal Allah, dan menyebutnya juga dengan menggunakan ismul A’dom / menggunakan Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) sebagaimana kaum Muslim. Adapun sebagian perbedaan penyebutan asmaul husna yang terdapat dalam kitab mereka, itu hanyalah perbedaan dalam masalah terjemahan Asmaul Husna saja.
  2. Klaim nama Yahweh, Yehovah, Jehovah, ataupun variasi yang lainnya itu semua bukanlah nama Allah. Itu hanyalah nama spekulatif yang dibuat-buat dan tidak otentik.
  3. Islam dan Ahlul Kitab sama-sama mendapatkan wahyu yang diturunkan oleh Allah yang berkesinambungan. Melalui para Rasul utusan Allah yang saling bersaudara. Dengan keyakinan, bahwa Al-Qur’an itu adalah Kitab wahyu Allah yang terakhir, yang menghapus dan menggantikan kitab-kitab wahyu Allah yang diturunkan sebelumnya. Baik itu kitab Taurat ataupun Kitab Injil.
  4. Risalah rasulullah membenarkan risalah-risalah nabi sebelumnya. Namun sekaligus juga untuk menghapus dan menggantikan risalah-risalah syariat kenabian sebelumnya. Sehingga Allah tidak memandang sah agama penganut risalah kenabian sebelumnya, baik itu Yahudi ataupun Nashrani, setelah Rasulullah diutus dengan Diinul Islam ini.
  5. Di dalam Al-Qur’an, Allah mencela para ahlul kitab yang walaupun mereka mengenal dan mengakui Allah ( اللهُ ) sebagai ilah (Tuhan) mereka sebagaimana kaum Muslimin, dalam beberapa sisi :
  6. Memiliki Aqidah yang bathil terhadap Allah, melakukan kesyirikan, dan mengatakan hal yang mengada-ada terhadap Allah yang mereka buat-buat sendiri tanpa ilmu dan wahyu.
  7. Perilaku manipulasi wahyu yang dilakukan oleh para Ahlul Kitab terhadap kitab-kitab mereka. Baik itu dengan ditambahi, diubah, ataupun dikurangi, untuk kemudian diaku-aku inilah wahyu yang diturunkan oleh Allah.
  8. Mengingkari/mengkufuri ayat-ayat Allah, padahal mereka mengetahui itu datang dari Allah dan mengaku beriman terhadapnya.
  9. Akhlak dan perilaku mayoritas Ahlul Kitab yang tercela, bahkan hingga sampai taraf membunuhi nabi-nabi mereka sendiri. Sedangkan yang terpuji hanya minoritas saja.
  10. Keengganan mereka untuk membenarkan dan memeluk risalah kenabian rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, berikut juga wahyu Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau. Dan keengganan mereka untuk membenarkan dan memeluk syariat diinul Islam yang menghapus syariat ahlul kitab sebelumnya.
  11. Orang yang mengenal Allah dan mengaku beriman kepada wahyu yang diturunkan kepadanya, bukanlah jaminan bahwa dia kemudian mau untuk beraqidah yang benar terhadap Allah. Bukan jaminan bahwa dia akan selalu mau mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangannya, walaupun dia mengetahui hal itu datangnya dari Allah. Dan fenomena mengikuti jejak Ahlul Kitab ini juga mulai nampak jelas di kalangan ummat Islam sendiri.
  12. Ummat Islam mulai tampak mengikuti jejak Ahlul kitab, baik itu dengan keenggan untuk beraqidah dan menjalankan syariat Islam yang Allah turunkan. Keengganan untuk beraqidah dengan benar kepada Allah yang menuntut konsekuensi wala’ dan baro’ yang benar.

Dan bahkan tidak jarang juga ada orang yang mengaku beragama Islam, mengaku mengenal Allah, namun mengalami Islamophobia serta alergi dengan Islam itu sendiri. Hal ini belum ditambah dengan berbagai macam kesyirikan yang bertebaran di kalangan ummat Islam itu sendiri, baik itu berupa sihir, jimat, bertawasul ke kuburan orang sholeh, mengkeramatkan peninggalan-peninggalan yang dianggap bertuah, dan lain-lain.

  1. Terdapat minoritas Ahlul Kitab yang berlaku lurus, jujur, dan mau membenarkan ayat-ayat Allah dan kenabian Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan menjadi Islam.
  2. Ahlul Kitab zaman sekarang dalam kacamata aqidah dan dakwah Tauhid adalah:

a. Kafir Ahlul Kitab

Karena mereka menolak untuk mengimani kerasulan Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan kitab wahyu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada beliau.

 

b. Musyrik Ahlul Kitab

Karena sebagian dari mereka mensyirikkan Allah dengan Nabi Uzair ‘alaihis salaam (bagi Yahudi), dan mensyirikkan Allah dengan Nabi Isa atau Yesus ‘alaihis salaam (bagi Nashrani).

 

Dan mereka semua mensyirikkan Allah dengan para pendeta dan rabi pemuka agama mereka, dengan cara menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Untuk kemudian diaku-aku bahwa inilah yang dihalalkan dan diharamkan Allah, dengan mengikuti aturan dari sang pendeta dan rabi itu.

  1. Sebagian dari Ahlul kitab itu ada yang muwahhid (Ahlut Tauhid), yakni tidak mensyirikkan Allah. Akan tetapi mereka tetap disebut sebagai “Kafir Ahlul Kitab” sepanjang mereka menolak untuk mengimani kerasulan Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan kitab wahyu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada beliau.
  2. Dakwah kepada Ahlul kitab agar benar-benar mentauhidkan Allah, dan tidak mensyirikkan Nya dengan segala sesuatu apapun, “secara umum” kembali kepada perintah Allah berikut ini :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah ( اللهُ ) dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb selain Allah ( اللهُ )”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS. Ali Imran : 64]

  1. Adapun secara khusus dan technical, maka ini kembali kepada tema-tema utama penjelasan mengenai syubhat-syubhat yang menyelimuti Tauhid dalam lingkup ilmu kristologi, dengan cara berhujjah menggunakan Alkitab mereka sendiri.
  2. Metodologi Kristologi untuk berdakwah kepada Ahlul Kitab itu, secara umum meliputi topik sebagai berikut :

1. Ajakan dakwah dengan bukti yang jelas dan bashiroh untuk mengenal Allah dengan cara tidak mensyirikkan-Nya

a. Nabi Isa ‘Alaihis Salaam (Yesus Kristus) tidak pernah menyebutkan secara terang-terangan dengan kalimat yang tidak ambigu, pernyataan yang mengatakan “Akulah Tuhan”, atau “Akulah Allah”, atau “Sembahlah aku”.

 

b. Ayat palsu dalam injil Yohannes yang menyebutkan masalah bahwa asal mula adalah firman dan hingga menjelma menjadi Yesus.

 

c. Makna perkataan “anak Allah”, atau “anak Tuhan” yang tidak dikhususkan hanya kepada Yesus saja. Dan juga ayat yang menyebutkan kata “begotten” (Yohannes 3 : 16) yang berarti anak yang dilahirkan dengan cara hubungan biologis kepada Yesus Kristus.

i. Gelar Anak Tuhan

ii. Begotten (Yohannes 3 :16)

iii. Perbedaan aqidah anak Tuhan mainstream dan non mainstream, antara Kristen dan yahudi

iv. Uzair anak Allah dalam sekte minoritas Yahudi

v. Perbedaan pola dakwah Tauhid kepada Yahudi dan kepada Kristen

vi. The holy spirit atau roh kudus dan trinitas

 

d. Nubuwat Yesus Kristus bahwa dia akan mengalami kegelapan selama 3 hari 3 malam seperti Nabi Yunus (Jonah) yang terperangkap dalam perut ikan raksasa, yang tidak terbukti dalam sepanjang sejarah kehidupan Yesus. Tidak terpenuhinya Nubuwat Yesus Kristus ini berimplikasi bahwa yang disalib, dikubur, dan kemudian bangkit dari kubur itu bukan Yesus Kristus.

 

e. Ajaran bahwa penyaliban Yesus Kristus itu untuk menebus dosa seluruh anak bani adam, yang diwariskan dari dosa Nabi Adam ‘alaihis salaam hingga dia dikeluarkan dari surga, tidak pernah diajarkan oleh Yesus Kristus. Ini hanyalah ajaran Paulus yang disisipkan ke dalam Bible.

f. Bukti historis adanya konsili Nicea 325 Masehi, yang mengakomodir ajaran pagan kekaisaran Romawi, hingga memilih aqidah pemahaman Trinitas Yesus Kristus sebagai ajaran resmi Gereja. Dan menyingkirkan ajaran Tauhid pemahaman mengenai Allah dan Yesus Kristus, yang berlawanan dengan keputusan ajaran resmi gereja itu.

 

  1. Ajakan dakwah dengan bukti yang jelas dan bashiroh untuk tidak menisbatkan hal-hal yang tidak pantas atau dusta kepada Allah.

 

  1. Ajakan dakwah dengan bukti yang jelas dan bashiroh akan validitas kerosulan Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam, dengan berdasarkan khabar yang disebutkan dalam kitab suci para Ahlul Kitab dan komparasinya dengan Al-Qur’an

 

  1. Ajakan dakwah dengan bukti yang jelas dan bashiroh akan validitas bahwa Al-Qur’an benar-benar merupakan Wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam, untuk menghapus dan menggantikan kitab-kitab Wahyu yang Allah turunkan terdahulu kepada para Ahlul Kitab.

 

  1. Jejak-jejak Tauhid dalam kitab-kitab para Ahlul Kitab.

14. Definisi Ahlul Kitab yang benar adalah Yahudi dan Nashrani, ini yang utama. Dan kemudian ditambah dengan Shaabi-iin. Adapun Majusi bukanlah termasuk Ahlul Kitab.

15. Termasuk kesalahan dan penyimpangan yang sangat fatal dari golongan Pluralis Liberal, yang menganggap bahwa semua agama yang memiliki kitab suci itu bisa dianggap sebagai Ahlul Kitab. Atau bahkan menganggap semua agama itu Tuhannya sama, hanya berbeda nama saja.