ALLAH ( اللهُ )

A. Lafdzul Jalalah atau ismul a’dzom

Allah ( اللهُ ) adalah lafdzul Jalalah atau ismul a’dzom. Al-Jalalah ( الجلالة ) artinya adalah Kebesaran atau Keagungan. Ismul A’dzom ( اسم الاعظم ) artinya adalah nama yang teragung atau terbesar.

Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) adalah nama yang khusus untuk Allah saja, dan seluruh nama-nama Allah yang lainnya berasal dan kembali kepada lafadz jalalah tersebut. Karena itulah tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang memakai nama Allah.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Ilah selain Dia, Raja (Al-Malik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salaam), Yang Mengaruniakan Keamanan (Al-Mu’min), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa (Al-‘Aziz), Yang Maha Kuasa (Al-Jabbar), Yang Memiliki segala Keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dialah Allah Yang Maha Menciptakan (Al-Kholiq), Yang Maha Mengadakan (Al-Bari’), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushawwir), Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa (Al-‘aziz) lagi Maha Bijaksana (Al-Hakim). [QS. AL-Hasyr : 23-24]

Berbeda dengan nama-nama dan shifat-shifat Allah yang lain. Kadang nama dan shifat itu bisa digunakan untuk selain Allah, baik itu dalam bentuk bentuk khususnya (baca : isim ma’rifah) ataupun bentuk umumnya (baca : isim nakiroh), namun tentu saja dengan maksud dan makna yang berbeda dengan yang dinisbatkan kepada Allah. Yang ada hanyalah persamaan lafal dan nama semata.

Seperti misal Al-Aziz ( الْعَزِيزُ ) salah satu nama Allah yang berarti yang Maha Mulia atau Maha Agung, boleh juga disebutkan atau dinisbatkan untuk manusia dengan arti penguasa.

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ

Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz ( الْعَزِيزُ ) -penguasa-, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah”. [QS. Yusuf : 88]

Atau misal yang lain adalah Al-Qowy salah satu nama Allah yang berarti Maha Kuat. Lafal “qowy” boleh digunakan untuk makhluq dalam bentuk nakirohnya (bentuk umum), seperti perkataan “Muhammad Qowiyyun” (Muhammad itu kuat).

Perincian dan qaidah mengenai Asma dan Shifat yang boleh digunakan dan yang tidak boleh untuk selain Allah ini, bisa dilihat di buku-buku para Ulama Ahlus Sunnah yang membahas masalah Tauhid Asma’ wa Shifat.

Namun point yang terpenting dalam masalah ini, bahwa khusus untuk Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) itu adalah Ismul A’dzom yang khusus untuk Allah saja. Tidak untuk selainnya.

Tidak pernah ada seorang makhluq pun yang menggunakan nama ini. Tidak pernah juga digunakan oleh seorang makhluq untuk menamakan makhluq lainnya. Dan tidak pernah juga digunakan isim ini ( اللهُ ) untuk menyebut selain Allah.

Dan andaikata itu terjadi, sebagaimana yang terjadi di kalangan Ahlul Kitab Nashrani, maka Allah pun menurunkan wahyu untuk menerangkan kebathilannya.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu adalah Al Masih putera Maryam“, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabb-ku dan Rabb-mu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [QS. Al-Maidah : 72]

B. Asal kata secara bahasa

Dalam bahasa Arab, para ulama berbeda pendapat apakah lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) ini merupakan isim jamid (isim kata yang asli, yang seperti itu dari awal mulanya dan berdiri sendiri) ataukah isim musytaq (bentuk gubahan atau turunan dari asal kata bahasa Arab yang lain).

  1. Yang berpendapat lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) adalah isim musytaq mengatakan : asal kata ( اللهُ ) berasal dari gubahan kata Al Ilah ( الإله ) yang dibuang hamzahnya, kemudian lam yang pertama diidhgamkan pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang ditasydid dan lam yang kedua diucapkan tebal sehingga menjadi Allah ( اللهُ ). Hal ini sebagaimana pendapat Imam Al-Kisa`i dan Imam Al-Farra` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih. [Lihat juga kitab Fathul Majid Syarh Kitaabut Tauhiid oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dan Fiqh Asmaul Husna oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-‘Abbad]
  2. Adapun yang berpendapat lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) adalah isim jamid adalah Imam Asy-Syafi’i, Imam Al-Khaththabi, Imam Al-Haramain, dan Imam Al Ghozaly. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir rohimahulloh dalam tafsirnya dengan menukil perkataan dari Al-Qurthuby. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir ketika mentafsirkan Al-Fatihah dalam tafsir بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ketika membahas masalah isim ( اللهُ )]

Terlepas dari pentarjihan (pemilihan pendapat yang kuat) di antara kedua pendapat itu, yang pokok adalah ismul A’dzom ( اللهُ ) ini tidak pernah digunakan untuk menisbatkan nama selain kepada Allah itu sendiri. Dan baik yang berpendapat ismul A’dzom ( اللهُ ) ini adalah isim jamid ataupun yang berpendapat isim musytaq gubahan Al Ilah ( الإله ), semua sepakat bahwa ( اللهُ ) adalah nama dzat yang disembah dan diibadahi.

Adapun jika ingin ditarjih, maka menurut pendapat kami, yang kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) itu adalah isim jamid. Hal ini kami kuatkan karena jika ditarik ke rumpun bahasa semit yang melahirkan turunan bahasa Ibrani yang dipakai oleh orang Yahudi, bahasa Aram yang dipakai oleh nabi Isa dan pengikutnya, dan bahasa Arab; maka ismul A’dzom ( اللهُ ) dalam bahasa Arab ini memiliki kesamaan cara pengucapannya baik dalam bahasa Ibrani ataupun Bahasa Aram dengan sedikit beda dialek.

Sehingga tidak heran ketika nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada Ahlul Kitab (Yahudi dan Kristen), mereka pun mengenal Allah sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyyah keturunan Nabi Ismail.

Penting untuk diingat juga bahwasanya Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam sebagai abul anbiyaa’ (bapaknya para Nabi), yang memiliki dua orang anak yakni Nabi Ismail ‘alaihis Salaam dan Nabi Ishaq ‘alaihis salaam. Nabi Ibrahim tidak mungkin mengajarkan kepada kedua anaknya itu nama ilah yang haq yang disembahnya dengan nama yang salah dan berbeda-beda. Dan Nabi Ibrahim sendiri aslinya bukanlah orang Arab, melainkan orang ‘Ajam (non Arab).

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah (Berislamlah, أَسْلِمْ ) !” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh ( berislam, أَسْلَمْتُ ) kepada Rabb semesta alam”.

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya (Ismail dan Ishaq), demikian pula Ya´qub (anak dari Ishaq).

(Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah ( إِنَّ اللَّهَ  ) telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam ( إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) ”

Adakah kamu hadir ketika Ya´qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah ilah-mu dan ilah bapak-bapakmu ( إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ ), Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Ilah Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya (Muslim; وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ) “. [QS. Al-Baqarah : 131-133]

Anak Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam

Dari Nabi Ishaq ‘alaihis salaam lahir Nabi Ya’qub alaihis salaam yang mempunyai nama lain Israil. Dan dari Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam atau Israil ‘alaihis salaam inilah kemudian turun bani Israil dan para Nabi dari keturunan bani Israil, seperti Nabi Yusuf ‘alaihis salaam, Nabi Musa ‘Alaihis Salaam, Nabi Ayyub ‘Alaihis Salaam, Nabi Zakaria ‘Alaihis Salaam, Nabi Yahya ‘Alaihis Salaam, dan Nabi Isa ‘alaihis Salaam.

Nabi Isa ‘alaihis salaam dalam bahasa Arab inilah yang dalam bahasa Yunani disebut disebut Ἰησοῦς (Iēsoûs). Yang kemudian orang barat mengalih bahasakannya menjadi Yesus. Adapun dalam bahasa Ibrani dia disebut sebagai יְהוֹשֻׁעַ (Yĕhōšuă‘, Yosua) dan bahasa Aram disebut יֵשׁוּעַ (Yēšûă‘). [ Lihat : http://id.wikipedia.org/wiki/Yesus diakses 27 maret 2014]]

Dari Nabi Ishaq inilah kemudian muncul Yahudi yang berbahasa Ibrani dan pengikut nabi Isa yang berbahasa Aram-Suryani.

[ Lihat : http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Ibrani dan lihat juga : http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Aram ; diakses 27 maret 2014]]

Sedangkan dari Nabi Ismail, karena beliau ditinggalkan di daerah makkah pegunungan Paran bersama ibunya Hajar oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis Salaam karena perintah Allah. Maka beliau dan keturunannya pun berbahasa Arab. Dan dari garis keturunan Nabi Ismail ‘alaihis Salaam inilah turun Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Adapun negara bani Israil pada zaman modern sekarang ini, yang lazim disebut Israel, mereka mempunyai dua bahasa resmi yang lazim mereka gunakan yakni bahasa Ibrani (Hebrew) dan bahasa Arab. [Lihat : http://en.wikipedia.org/wiki/Israel diakses 27 maret 2014]]

Bagan Sub rumpun bahasa SemitDiagram Sub Rumpun Bahasa-bahasa Semit ( http://catatanriri.wordpress.com/2013/03/16/bahasa-bahasa-dari-rumpun-semit/ )

Lihat pula ilustrasi bahasa mengenai betapa banyak kesamaan antara bahasa Ibrani (Hebrew) dengan Arab dalam video ini :

Adapun secara bahasa Arab, Ismul A’dzom ( اللهُ ) ini khusus dan unik karena :

  • Isim ( اللهُ ) ini selalu berbentuk mufrod (tunggal) dan tidak bisa dijamakkan, berbeda dengan seluruh isim dalam bahasa Arab lainnya yang bisa untuk dirubah baik dalam bentuk mufrod-nya (tunggal) ataupun bertuk jamaknya.

Seperti misal isim Ilah ( إله), yang umumnya berarti tuhan atau yang disembah, maka dia bisa diubah baik dalam bentuk mufrodnya ataupun jamaknya. Isim Ilah ( إله) ini adalah bentuk mufrodnya (tunggal). Sedangkan bentuk jamaknya adalah Aalihah ( آلهة ) atau tuhan-tuhan. Hal ini sama seperti bahasa inggris “God” yang berarti tuhan yang disembah, dia bisa berbentuk tunggal (God) ataupun berbentuk jamak (Gods).

Adapun isim Allah ( اللهُ ), maka dia tidak bisa dijamakkan. Baik itu dengan “jamak mudzakkaris salim” ataupun dengan bentuk “jamak taksir”. Dia akan tetap selalu berbentuk mufrod (tunggal) dimanapun dan kapanpun dia berada dalam suatu kalimat. Kata-kata yang lainnyalah yang harus menyesuaikan diri dengan kaedah gramatical bahasa (nahwu) yang diperlukan dari isim Allah ( اللهُ ) ini.

  • Isim ( اللهُ ) ini selalu dalam bentuk mudzakkar (maskulin) dan tidak ada dalam bentuk muannats-nya (feminin). Sedangkan seluruh isim dalam bahasa Arab lainnya bisa untuk dirubah dalam bentuk mudzakkar (maskulin) ataupun muannats (feminin) tergantung dari kebutuhan kaidah gramatikal bahasa yang dikehendaki (baca : nahwu)

Seperti misal isim Ilah ( إله), ini adalah dalam bentuk isim mudzakkar (maskulin). Adapun bentuk muannats-nya (feminin) adalah Aalihah ( آلهة ) juga. Sama seperti bahasa inggris “God”, dalam bentuk maskulin dia berbentuk “God” sedangkan ketika dalam bentuk feminin dia berbentuk “Goddess”.

Adapun isim Allah ( اللهُ ) dia akan tetap selalu berbentuk mudzakkar (maskulin) dimanapun dan kapanpun dia berada. Kata-kata yang lainnyalah yang harus menyesuaikan diri dengan kaedah gramatical bahasa yang diperlukan dari isim Allah ( اللهُ ) ini.

  • Isim ( اللهُ ) untuk yang berpendapat bahwa ini adalah isim musytaq yang berasal dari Al Ilah ( الإله ). Maka tashrif Isim ( اللهُ ) ini (perubahan kata) memiliki suatu cara tashrif yang unik dan khusus untuk Isim ( اللهُ ) saja sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya.

Adapun kaidah tashrif (perubahan kata) untuk semua kata-kata bahasa Arab haruslah mengikuti kaedah tashrif (perubahan kata) yang baku, baik itu dengan tashrif ishtilahi ataupun tashrif lughowi.

  • Isim ( اللهُ ) ini selalu dalam bentuk ma’rifah (definitive) dan tidak ada bentuk nakiroh-nya (umum atau undefinitive).

Seperti misal isim Ilahun ( إله), ini adalah dalam bentuk nakiroh-nya (umum atau undefinitive). Adapun bentuk ma’rifah-nya adalah Al-ilahu ( الإله ). Sama seperti bahasa inggris “God”, ini adalah dalam bentuk umumnya (undefinitive),  sedangkan bentuk definitive nya adalah dengan menambahkan article “The” sehingga menjadi “The God”.

Adapun isim Allah ( اللهُ ) dia akan tetap selalu dalam bentuk ma’rifah (definitive) dimanapun dan kapanpun isim ini berada dalam kalimat. Sehingga isim Allah ( اللهُ ) ini jelas dan definitive siapakah yang dimaksud dalam kalimat apapun.

  • Isim ( اللهُ ) ini mempunyai qiroah (cara pembacaan) yang unik dan khusus jika dibandingkan dengan isim-isim lainnya.

Isim ( اللهُ ) ini bisa dibaca tafkhim (tebal) pada huruf tasydid lam-nya (wazan tengah isimnya) dengan dibaca “Alloh”, dan juga dibaca tarqiq (ringan) dengan dibaca “Allah” tergantung pada kedudukan isim ( اللهُ ) dalam susunan kalimat.

Sedangkan isim-isim lainnya hanya berlaku hukum nahwu dengan perubahan pada huruf akhirnya sesuai dengan kedudukannya saja. Isim-isim lainnya tidak pernah mengalami perubahan pada qiroah-nya (cara membacanya) di posisi tengah-tengah wazan isimnya.

  • Isim ( اللهُ ) jika diberi harful nida’ (huruf seruan atau panggilan) di depannya, maka dia akan tetap dalam bentuk ma’rifah-nya (definitive). Sedangkan untuk isim-isim lain, jika isim itu berbentuk ma’rifah dengan alif lam “Al” ma’rifah ( ال ) di dalam isim tersebut, maka jika dia diawali dengan harful nida’ (huruf seruan atau panggilan), hilanglah alif lam “Al” ma’rifah ( ال ) nya dan dia berubah menjadi nakiroh.

Seperti misal isim Al-ilahu ( الإله ) yang mana dia berbentuk ma’rifah (definitive) dengan adanya alif lam “Al” ma’rifah. Jika isim ini diawali dengan harful nida Yaa ( يا ) “wahai”, maka dia akan berubah menjadi bentuk nakiroh-nya (umum) Ilah ( إله). Sehingga menjadi kalimat Yaa ilaah ( يا إله ) “wahai tuhan”.

Sedangkan untuk isim ( اللهُ ) walaupun dia diawali dengan harful nida Yaa ( يا ) “wahai”, maka dia tidak akan berubah dan tetap dalam bentuk ma’rifah-nya ( اللهُ ). Sehingga kalimatnya akan menjadi Yaa Allah ( يا اللهُ ) “wahai Allah”.

  • Isim ( اللهُ ) ini tidak bisa disertai oleh isim dhomir muttashil (kata ganti kepunyaan yang bersambung), sedangkan seluruh isim dalam bahasa Arab lainnya bisa disertai oleh isim dhomir (kata ganti kepunyaan).

Seperti misal isim Ilah ( إله) yang berarti tuhan yang disembah, yang diberi tambahan isim dhomir Antum (انتم ) yang berarti “kalian semua” (jamak).

Maka isim dhomir ini berubah menjadi isim dhomir muttashil (kata ganti kepunyaan yang bersambung) -Kum (كم ) dan bergabung dengan isim Ilah ( إله) sehingga berubah menjadi ilaahukum (إِلَٰهُكُمْ ) yang berarti “tuhan kalian”. Adapun isim Allah ( اللهُ ) tidak bisa dan tidak boleh diberikan perlakuan kaidah seperti itu dalam bahasa Arab. Dan juga walaupun tidak muttashil tidak ada suatu isim yang bermakna Allah-mu ( اللهُ ك ), Allah kami ( اللهُ نا ), Allah kalian ( اللهُ كم ), dan seterusnya.

Allah adalah Allah, dialah yang memiliki semua makhluq dan bukan makhluq yang memiliki-Nya. Hatta walaupun hanya dalam masalah nama sekalipun !

————-

Sehingga dari point-point di atas dapat diambil salah satu qaidah yang penting dari ismul A’dzom ( اللهُ ) ini, bahwa ismul A’dzom ( اللهُ ) ini bukanlah suatu nama yang dibuat-buat oleh manusia untuk menamakan sesembahan yang mereka buat-buat sendiri. Akan tetapi ismul A’dzom ( اللهُ ) ini diperkenalkan oleh Allah sendiri kepada manusia, melalui wahyu yang disampaikan oleh para Rasul-Nya.

Dalil untuk hal ini adalah sebagai berikut,

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. [QS. Yusuf : 40]

Dari Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : Telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah seseorang pun ditimpa kesusahan dan kesedihan lalu berdo’a :
اللَّهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِى بِيَدِكَ مَاضٍ فِىَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِىَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِى وَنُورَ صَدْرِى وَجَلاَءَ حُزْنِى وَذَهَابَ هَمِّى.
“Ya Alloh! Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, ketetapan-Mu adil kepada diriku. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama yang telah Engkau namakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghoib di sisi-Mu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penentram hatiku, cahaya di dadaku, pelipur kesedihanku dan pelenyap kesusahanku.”
Melainkan Allah Ta’ala akan menghilangkan kesedihan dan kesusahannya serta menggantikannya dengan kegembiraan.
Dikatakan kepada beliau, ‘Wahai Rosululloh, tidakkah kita mempelajarinya?’ Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bahkan orang yang telah mendengar doa ini sudah semestinya untuk mempelajarinya.” [HR. Ahmad dalam musnadnya no. 3784 di shohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam ash-Shohihah no. 199]

Oleh karena itu para Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menyebutkan bahwa salah satu qaidah utama dari Tauhid Asma wa Shifat (Nama-nama dan Shifat-shifat Allah) ini adalah “Nama-nama Allah itu Tauqifiyyah“, yakni penetapannya mutlaq harus bersandar kepada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini karena tidak mungkin akal manusia mengetahui nama-nama yang dimiliki-Nya, kecuali Allah yang memberitahukannya lewat perantara wahyu yang diberikan kepada para Nabi-Nya.

Ilustrasi Qiyas Aula :

Jangankan nama Allah, nama manusia saja seseorang tidak akan bisa mengetahuinya kecuali dengan bertanya siapa namanya ataupun diberitahu oleh orang lain. Tidak mungkin seseorang manusia bisa mengetahui nama manusia yang lainnya dengan cara membikin-bikinnya sendiri berdasarkan kreasi akal pikirannya. Maka bagaimanakah lagi dengan nama Allah? Tentu hal ini lebih mustahil lagi.

Oleh karena itu mari kita lihat juga firman Allah berikut ini,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui“. [QS. Al-A’raaf : 33]

RUMUSAN KESIMPULAN

1. Allah ( اللهُ ) adalah lafdzul Jalalah atau ismul a’dzom. Al-Jalalah ( الجلالة ) artinya adalah Kebesaran atau Keagungan. Ismul A’dzom ( اسم الاعظم ) artinya adalah nama yang teragung atau terbesar.

2. Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) adalah nama yang khusus untuk Allah saja, dan seluruh nama-nama Allah yang lainnya berasal dan kembali kepada lafadz jalalah tersebut.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Ilah selain Dia, Raja (Al-Malik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salaam), Yang Mengaruniakan Keamanan (Al-Mu’min), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa (Al-‘Aziz), Yang Maha Kuasa (Al-Jabbar), Yang Memiliki segala Keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dialah Allah Yang Maha Menciptakan (Al-Kholiq), Yang Maha Mengadakan (Al-Bari’), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushawwir), Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa (Al-‘aziz) lagi Maha Bijaksana (Al-Hakim). [QS. AL-Hasyr : 23-24]

3. Berbeda dengan nama-nama dan shifat-shifat Allah yang lain. Kadang nama dan shifat itu bisa digunakan untuk selain Allah dan adapula yang tidak bisa. Baik itu dalam bentuk bentuk khususnya (baca : isim ma’rifah) ataupun bentuk umumnya (baca : isim nakiroh). Namun tentu saja dengan maksud dan makna yang berbeda dengan yang dinisbatkan kepada Allah. Yang ada hanyalah persamaan lafal dan nama semata.

4. Tidak pernah ada satu makhluq pun yang menggunakan nama ini. Tidak pernah juga digunakan oleh suatu makhluq untuk menamakan makhluq yang lainnya. Dan tidak pernah juga digunakan isim ini ( اللهُ ) untuk menyebut selain Allah.

Dan andaikata itu terjadi, sebagaimana yang terjadi di kalangan Ahlul Kitab Nashrani, maka Allah pun menurunkan wahyu untuk menerangkan kebathilannya.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu adalah Al Masih putera Maryam“, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabb-ku dan Rabb-mu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [QS. Al-Maidah : 72]

5. Ismul A’dzom ( اللهُ ) ini bukanlah suatu nama yang dibuat-buat sendiri oleh manusia untuk menamakan sesembahan yang mereka buat-buat sendiri. Akan tetapi ismul A’dzom ( اللهُ ) ini adalah nama Allah yg diperkenalkan oleh Allah sendiri kepada manusia, melalui wahyu yang disampaikan melalui para Nabi dan Rasul-Nya.

6. Sejak diciptakan manusia pertama, yakni nabi Adam ‘Alaihis Salaam, manusia sudah mengenal Allah sebagai Rabb nya dan sesembahannya yg diibadahi.

Hingga kemudian seiring dengan berlalunya waktu manusia melakukan kedzoliman dan kesyirikan, terdapat sebagian golongan manusia yang melupakan Ismul A’dzom ( اللهُ ) sebagai nama Rabb mereka, pencipta mereka, sesembahan mereka, Tuhan yang mereka ibadahi.

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَقُولُ أَأَنْتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي هَٰؤُلَاءِ أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيلَ قَالُوا سُبْحَانَكَ مَا كَانَ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَّخِذَ مِنْ دُونِكَ مِنْ أَوْلِيَاءَ وَلَٰكِنْ مَتَّعْتَهُمْ وَآبَاءَهُمْ حَتَّىٰ نَسُوا الذِّكْرَ وَكَانُوا قَوْمًا بُورًا

فَقَدْ كَذَّبُوكُمْ بِمَا تَقُولُونَ فَمَا تَسْتَطِيعُونَ صَرْفًا وَلَا نَصْرًا ۚ وَمَنْ يَظْلِمْ مِنْكُمْ نُذِقْهُ عَذَابًا كَبِيرًا
Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka ibadahi/sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah); “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?”.

Mereka (yang disembah itu) menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa”.

Maka sesungguhnya mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kamu tentang apa yang kamu katakan maka kamu tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu), dan barang siapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar. [QS. Al-Furqan : 17-19]

7. Untuk hal inilah, maka diutus para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah dari Rabb mereka, pencipta manusia dan seluruh alam semesta. Guna mengenalkan, menjelaskan dan menetapkan hanya Allah sajalah semata Rabb semesta Alam (Tauhid Al Ma’rifah wal Itsbat).

8. Para ulama berbeda pendapat mengenai asal kata lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) ini. Apakah  lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) merupakan isim jamid (isim kata yang asli, yang seperti itu dari awal mulanya dan berdiri sendiri) ataukah isim musytaq (bentuk gubahan atau turunan dari asal kata bahasa Arab yang lain).

9. Untuk pertarjihan, maka menurut pendapat kami, yang kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) itu adalah isim jamid dengan argumentasi :

a. Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam sebagai abul anbiyaa’ (bapaknya para Nabi), yang memiliki dua orang anak yakni Nabi Ismail ‘alaihis Salaam dan Nabi Ishaq ‘alaihis salaam. Nabi Ibrahim tidak mungkin mengajarkan kepada kedua anaknya itu nama ilah yang haq yang disembahnya dengan nama yang salah dan berbeda-beda. Dan Nabi Ibrahim sendiri aslinya bukanlah orang Arab, melainkan orang ‘Ajam (non Arab).

b. Ketika nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada Ahlul Kitab (Yahudi dan Kristen), mereka mengenal Allah sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyyah keturunan Nabi Ismail mengenal Allah dengan lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ). Padahal bahasa Kitab suci sebelum Al-Qur’an itu bukanlah bahasa Arab.

c. Hal ini kami kuatkan karena jika ditarik ke rumpun bahasa semit yang melahirkan turunan bahasa Ibrani yang dipakai oleh orang Yahudi, bahasa Aram yang dipakai oleh nabi Isa dan pengikutnya, dan bahasa Arab; maka ismul A’dzom ( اللهُ ) dalam bahasa Arab ini memiliki kesamaan cara pengucapannya baik dalam bahasa Ibrani ataupun Bahasa Aram dengan sedikit beda dialek.

d. Orang Yahudi zaman sekarang dan orang nashrani timur tengah umumnya mengenal ismul A’dzom ( اللهُ ). Bahkan jika kita membuka bible berbahasa Arab, disitu jelas tertulis ismul A’dzom ( اللهُ ).

10. Ismul A’dzom ( اللهُ ) dalam tinjauan kaidah bahasa Arab, memiliki kekhususan tersediri yang tidak dimiliki kata-kata lainnya dalam bahasa Arab sebagai berikut :

a. Isim ( اللهُ ) ini selalu berbentuk mufrod (tunggal) dan tidak bisa dijamakkan, berbeda dengan seluruh isim dalam bahasa Arab lainnya yang bisa untuk dirubah baik dalam bentuk mufrod-nya (tunggal) ataupun bertuk jamaknya.

b. Isim ( اللهُ ) ini selalu dalam bentuk mudzakkar (maskulin) dan tidak ada dalam bentuk muannats-nya (feminin).

c. Isim ( اللهُ ) untuk yang berpendapat bahwa ini adalah isim musytaq yang berasal dari Al Ilah ( الإله ). Maka tashrif Isim ( اللهُ ) ini (perubahan kata) memiliki suatu cara tashrif yang unik dan khusus untuk Isim ( اللهُ ) saja, yang berbeda dengan tashrif pada umumnya.

d. Isim ( اللهُ ) ini selalu dalam bentuk ma’rifah (definitive) dan tidak ada bentuk nakiroh-nya (umum atau undefinitive).

e. Isim ( اللهُ ) ini mempunyai qiroah (cara pembacaan) yang unik dan khusus jika dibandingkan dengan isim-isim lainnya, yakni bisa dibaca tafkhim (tebal) ataupun tarqiq (tipis) tergantung pada kedudukan isim ( اللهُ ) dalam susunan kalimat.

f. Isim ( اللهُ ) jika diberi harful nida’ (huruf seruan atau panggilan) di depannya, maka dia akan tetap dalam bentuk ma’rifah-nya (definitive).

g. Isim ( اللهُ ) ini tidak bisa disertai oleh isim dhomir muttashil (kata ganti kepunyaan yang bersambung), sedangkan seluruh isim dalam bahasa Arab lainnya bisa disertai oleh isim dhomir (kata ganti kepunyaan).

11. Ismul A’dzom ( اللهُ ) ini bukanlah suatu nama yang dibuat-buat oleh manusia untuk menamakan sesembahan yang mereka buat-buat sendiri. Akan tetapi ismul A’dzom ( اللهُ ) ini diperkenalkan oleh Allah sendiri kepada manusia, melalui wahyu yang disampaikan oleh para Rasul-Nya.

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. [QS. Yusuf : 40]

12. Ilustrasi Qiyas Aula :

Jangankan nama Allah, nama manusia saja seseorang tidak akan bisa mengetahuinya kecuali dengan bertanya siapa namanya ataupun diberitahu oleh orang lain. Tidak mungkin seseorang manusia bisa mengetahui nama manusia yang lainnya dengan cara membikin-bikinnya sendiri berdasarkan kreasi akal pikirannya. Maka bagaimanakah lagi dengan nama Allah? Tentu hal ini lebih mustahil lagi.

Oleh karena itu mari kita lihat juga firman Allah berikut ini,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui“. [QS. Al-A’raaf : 33]

13. Oleh karena itu para Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menyebutkan bahwa salah satu qaidah utama dari Tauhid Asma wa Shifat (Nama-nama dan Shifat-shifat Allah) ini adalah “Nama-nama Allah itu Tauqifiyyah“, yakni penetapannya mutlaq harus bersandar kepada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini karena tidak mungkin akal manusia mengetahui nama-nama yang dimiliki-Nya, kecuali Allah yang memberitahukannya lewat perantara wahyu yang diberikan kepada para Nabi-Nya.

Advertisements