ALLAH ( اللهُ )

A. Lafdzul Jalalah atau ismul a’dzom

Allah ( اللهُ ) adalah lafdzul Jalalah atau ismul a’dzom. Al-Jalalah ( الجلالة ) artinya adalah Kebesaran atau Keagungan. Ismul A’dzom ( اسم الاعظم ) artinya adalah nama yang teragung atau terbesar.

Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) adalah nama yang khusus untuk Allah saja, dan seluruh nama-nama Allah yang lainnya berasal dan kembali kepada lafadz jalalah tersebut. Karena itulah tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang memakai nama Allah.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Ilah selain Dia, Raja (Al-Malik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salaam), Yang Mengaruniakan Keamanan (Al-Mu’min), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa (Al-‘Aziz), Yang Maha Kuasa (Al-Jabbar), Yang Memiliki segala Keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dialah Allah Yang Maha Menciptakan (Al-Kholiq), Yang Maha Mengadakan (Al-Bari’), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushawwir), Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa (Al-‘aziz) lagi Maha Bijaksana (Al-Hakim). [QS. AL-Hasyr : 23-24]

Berbeda dengan nama-nama dan shifat-shifat Allah yang lain. Kadang nama dan shifat itu bisa digunakan untuk selain Allah, baik itu dalam bentuk bentuk khususnya (baca : isim ma’rifah) ataupun bentuk umumnya (baca : isim nakiroh), namun tentu saja dengan maksud dan makna yang berbeda dengan yang dinisbatkan kepada Allah. Yang ada hanyalah persamaan lafal dan nama semata.

Seperti misal Al-Aziz ( الْعَزِيزُ ) salah satu nama Allah yang berarti yang Maha Mulia atau Maha Agung, boleh juga disebutkan atau dinisbatkan untuk manusia dengan arti penguasa.

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ

Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz ( الْعَزِيزُ ) -penguasa-, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah”. [QS. Yusuf : 88]

Atau misal yang lain adalah Al-Qowy salah satu nama Allah yang berarti Maha Kuat. Lafal “qowy” boleh digunakan untuk makhluq dalam bentuk nakirohnya (bentuk umum), seperti perkataan “Muhammad Qowiyyun” (Muhammad itu kuat).

Perincian dan qaidah mengenai Asma dan Shifat yang boleh digunakan dan yang tidak boleh untuk selain Allah ini, bisa dilihat di buku-buku para Ulama Ahlus Sunnah yang membahas masalah Tauhid Asma’ wa Shifat.

Namun point yang terpenting dalam masalah ini, bahwa khusus untuk Lafdzul Jalalah Allah ( اللهُ ) itu adalah Ismul A’dzom yang khusus untuk Allah saja. Tidak untuk selainnya.

Tidak pernah ada seorang makhluq pun yang menggunakan nama ini. Tidak pernah juga digunakan oleh seorang makhluq untuk menamakan makhluq lainnya. Dan tidak pernah juga digunakan isim ini ( اللهُ ) untuk menyebut selain Allah.

More

Advertisements