MUQODDIMAH

Di antara kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada kita setelah memeluk Islam, adalah anugerah ilmu dan pemahaman dalam Islam. Di antara anugerah ilmu dan pemahaman itu, yang terbesar dan yang paling utama adalah ilmu dan pemahaman masalah Kalimat Tauhid Laa ilaaha Illalloohu ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ).

Sufyan bin Uyainah rohimahulloh seorang Tabiut Tabi’in (wafat 198 Hijriah) berkata, “Tidaklah Allah memberi nikmat atas  seorang hamba dari hambanya yang lebih besar  dari pengetahuan mereka tentang makna Laa Ilaha Illallah ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ )[ Kalimatul Ikhlas Ibnu Rajab : 103 ].

Akan tetapi sayang, banyak dari kaum muslimin yang fasih mengucapkan Kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) namun kurang memahami maksud dari kalimat itu secara ilmu dan pemahaman. Padahal suatu perkataan itu tidak akan sempurna faedahnya hingga kita mengilmui dan memahami maksud dari perkataan itu.

——

Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (3/109), bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al Imam Wahab bin Munabbih (seorang tabi’in terpercaya dari Shan’a yang hidup pada tahun 34-110 H), “Bukankah Laa ilaaha illallah itu kunci surga?

Wahab menjawab: “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan dibukakan untukmu!

——-

Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa Kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) itu tidak hanya sekedar pelafalan saja, tapi perlu untuk kita sempurnakan dengan meng-ilmui dan memahaminya baik itu dari segi :

  • Makna  لا إِلَهَ إِلا اللهُ
  • Rukun-rukun لا إِلَهَ إِلا اللهُ
  • Syarat-syarat لا إِلَهَ إِلا اللهُ
  • Pembagian jenis Tauhid
  • Keutamaan Tauhid
  • Hal-hal yang dapat merusak Tauhid
  • Hal-hal yang dapat membatalkan Tauhid
  • Makna Syirik
  • Pembagian Syirik

berikut juga hal-hal lain yang berkaitan dengan itu.

Ilustrasi pentingnya mengilmui dan memahami Kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini, sama pentingnya seperti kita memahami dan mengilmui masalah wudhu dan sholat.

Seseorang bisa saja telah melakukan wudhu, namun jika setelah wudhu dia melakukan hal yang dapat membatalkan wudhu maka batallah wudhunya. Sama juga halnya dengan sholat. Jika seseorang sholat namun dengan tidak melakukan rukun dan syarat sholat, maka sholatnya tidak sah atau batal. Atau seseorang sholat namun dia melakukan hal-hal yang dapat merusak sholatnya, maka sholatnya pun akan menjadi rusak dan tidak sempurna .

Sehingga sebagaimana orang yang melakukan wudhu dan sholat, maka demikian pula tuntutan dari Kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini. Yakni tidak hanya sekedar asal mengucapkannya saja namun tidak memahami maknanya, tidak mengetahui konsekuensinya, dan tidak berusaha untuk memenuhi rukun serta syaratnya. Tidak juga hanya sekedar mengucapkan, namun tidak berusaha menghindari serta membenci hal-hal yang dapat merusak dan membatalkan Kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini.

Ironisnya, inilah kesalahan pemahaman Kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) yang banyak menimpa ummat Islam sekarang ini…..

Karena memahami hanya sekedar wajib melafalkannya saja, maka merekapun lalai untuk mengilmui dan memahami maknanya, syarat-syaratnya, dan rukun-rukunnya…..

Akibatnya, ketika mereka melakukan hal-hal yang merusak atau bahkan yang sampai membatalkan Kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) mereka tidak tahu dan bahkan tidak sadar akan hal itu….. Na’uudzubillaahi min dzaalik!

Kewajiban untuk memahami dan mengilmui kalimatut Tauhid ini sebenarnya banyak diperintahkan dan disebutkan di dalam Al-Qur’an. Seperti misal sebagaimana yang Allah sebutkan dalam dua ayat berikut ini :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah (ilmui-lah), bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. [QS Muhammad : 19]

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Ali Imran : 18]

Para Ulama rohimahumulloh sebenarnya telah menerangkan hal ini dengan sangat jelas, sangat tegas, dan sangat terperinci dalam kitab-kitab mereka. Yang kemudian disampaikan dan didakwahkan juga oleh para Asatidz dan para Da’i Tauhid hafidzahulloh dalam kajian-kajian mereka.

Akan tetapi mungkin dikarenakan jumlah para Ulama, para Asatidz, dan para Da’i yang masih belum seimbang jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat, maka belum sampailah dakwah Tauhid bil ‘ilm ini secara merata. Sehingga masih merajalela-lah kesyirikan dan kekacauan dalam memahami Kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini di Masyarakat.

Dari hal itulah, risalah sederhana ini bertujuan untuk menyambung lidah menyampaikan penjelasan dari para Ulama rohimahulloh, para Asatidz, dan pada Da’i mengenai masalah Tauhid ini. Semoga Alloh memudahkan dan memberikan bantuan-Nya. Alloohumma, Aamiiin….

MAKNA KALIMAT TAUHID ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ )

Secara ringkas dan tegas, para ulama memberikan penjelasan bahwa makna dari kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) “laa ilaaha illallooh” itu adalah :

  1. ( لَا إِلهَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ ) “laa ilaaha haqqun illallooh” yang berarti “Tidak ada ilah yang Haq kecuali Allah”.
  2. Atau ( لَا مَعْبُوْدَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ ) “laa ma’buuda haqqun illallooh” yang berarti “Tidak ada sesembahan yang Haq kecuali Allah”;
  3. Atau  ( لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ ) “laa ma’buuda bihaqqin illallooh” yang berarti “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.

Berikut adalah penjelasan dari kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) secara qaidah bahasa Arab dan dalil-dalil, yang akan kami terangkan point per point :

1. Harf ( لَا ) dalam kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) “laa ilaaha illallah” itu berkedudukan sebagai ( لا النافية للجنس تعمل عمل إنّ وهي تنصب الإسم و ترفع الخبر ) laa naafiyah liljinsi (laa yang berfungsi untuk menafikan semua jenis), yang beramalan (seperti harf) inna ( إنّ ) dengan memanshubkan isimnya dan memarfu’kan khobarnya. Isim laa-nya  ( إسم لا ) manshub dengan beramalan mabni ‘alal fathi (tetap di atas fathah).

2. Isim laa ( إسم لا ) dalam kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) adalah ilaah (إله ), dan dia kemudian di-manshub dengan mabni ‘alal fathi (tetap di atas fathah) sehingga menjadi ilaaha ( إِلَهَ )

3. Ilaaha ( إِلَهَ ) adalah isim mashdar dengan kedudukan maf’ul bih (obyek penderita atau yang dikenai pekerjaan), yang berarti ma’luuh (مألوه) “yang disembah” atau ma’buud (معبود) “yang diibadahi”. Bukan isim mashdar dengan berkedudukan sebagai faa’il (pelaku).

4. Sebab jika ilaaha ( إِلَهَ ) berkedudukan sebagai faa’il (pelaku), seperti difahami dengan isim faa’il berupa :

– ( خَالِقَ ) yang berarti “Pencipta”, sehingga kalimat ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) berubah menjadi berarti (لَا خَالِقَ إِلَّا اللهُ) “Tidak ada Pencipta kecuali Allah.”

– ( رَبَّ ) yang berarti “Pemelihara atau Pengatur atau Robb dalam bentuk faa’il” -detail pengertian Robb akan kami jelaskan sendiri di bab Ar-Rabb dalam tulisan ini-, sehingga kalimat ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) berubah menjadi berarti (لَا رَبَّ إِلَّا اللهُ) “Tidak ada Pemelihara/Pengatur/Robb kecuali Allah”.

– ( رَازِقَ ) yang berarti “Pemberi Rizqy”, sehingga kalimat ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) berubah menjadi berarti ( لَا رَازِقَ إِلَّا اللهُ ) “Tidak ada Pemberi Rizki kecuali Allah”.

– Atau makna-makna dengan kedudukan fa’il (pelaku) yang lainnya dengan makna rububiyyah Allah.

Maka pemahaman ini maknanya tidak sesuai dan salah karena bukan ini tuntutan akhir yang dikehendaki dari kalimat ini. Pemahaman ini bertentangan dengan pernyataan kaum Musyrikin yang mengakui rububiyyah Allah, namun tidak mau mengakui uluhiyyah Allah untuk hanya menyembah dan beribadah kepada Allah saja. Padahal kalimat ini juga ditujukan kepada mereka (kaum Musyrikin).

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ( لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ )”Laa ilaaha illallah” mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan ilah-ilah kami (yang disembah dan diibadahi) karena seorang penyair gila?” Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya). [QS. Ash Shaaffaat : 35-37]

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” [QS. Yunus : 31]

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. [QS. Luqman : 25]

Sehingga makna tersebut salah dan tidak sesuai, karena tuntutan akhir yang diinginkan dalam kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini adalah tauhid Uluhiyyah atau jenis Tauhid Ath-Tholabi wal Qoshdi (Tuntutan dan Maksud). Bukan hanya berhenti kepada Tauhid Rububiyyah atau jenis Tauhid Al-Ma’rifaah wal Itsbaat (Pengenalan dan Penetapan) saja.

Tauhid Rububiyyah atau jenis dari Tauhid Al-Ma’rifaah wal Itsbaat yang benar mempunyai konsekuensi tuntutan akhir untuk menyembah dan beribadah kepada Allah saja. Atau berkonsekuensi kepada tuntutan Tauhid Uluhiyyah yang lazim disebut  Tauhid Ath-Tholabi wal Qoshdi (Tuntutan dan Maksud).

Namun kenyataannya, tidak semua orang yang telah mengenal dan menetapkan rububiyyah Allah mau untuk menyerahkan ibadah dan penyembahan hanya kepada Allah saja. Oleh karena itulah, memahami makna ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) hanya sebatas kepada rububiyyah Allah saja itu tidak benar, tidak sempurna, bukan merupakan konsekuensi dan tuntutan yang dikehendaki dari kalimat ini.

Berikut akan kami berikan misal untuk mempermudah pemahaman.

Misal : Ada orang yang memberikan sesaji dan berdo’a kepada kuburan. Maka dia jelas telah memberikan penyembahan dan peribadahan yang berupa do’a, yang ditujukan kepada selain Allah.

Baik itu berdo’a dengan alasan tawasul lewat perantara sang penghuni kuburan, agar diteruskan kepada Allah. Ataupun berdo’a dengan tujuan langsung berdo’a kepada kuburan itu sendiri. Kedua hal ini, pada hakikatnya sama saja. Dia telah melakukan penyimpangan Tauhid Uluhiyyah dengan tidak menyerahkan ibadah do’a hanya kepada Allah saja. Dia melakukan penyimpangan dan kesalahan terhadap kalimat Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ).

Dan jika dia ditanya, mengapa dia menyerahkan ibadah do’a kepada selain Allah? Maka dia akan beralasan bahwa hal ini tidak mengapa karena toh dia tetap meyakini rububiyyah Allah. Tidak mengapa menyerahkan ibadah kepada selain Allah karena toh dia masih tetap mempercayai bahwa Allah lah yang memberinya rizqy, yang melindunginya, yang menguasainya, yang mengaturnya, dan lain-lain…. Hal ini sama seperti yang dikatakan oleh kaum musyrikin.

Sehingga dari hal inilah, memahami Tauhid Rububiyyah atau semata-mata mengenal Allah saja tidaklah cukup jika tanpa disertai dengan melakukan konsekuensinya. Memahami makna kalimat Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) hanya sebatas kepada rububiyyah Allah saja itu tidak benar dan bukan ini tuntutan yang dikehendaki dari kalimat tersebut !

Kami akan terangkan masalah korelasi kesatuan dalam memahami Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah ini pada 4 bab tersendiri di tulisan bagian 1 ini, yakni pada bab:

  • “Dakwah Para Nabi dan Rasul Sepanjang Masa”
  • “Pembagian Tauhid dan Korelasinya”
  • “Rububiyyah Allah dan Fitroh Manusia”
  • “Kesalahan dalam Memahami Korelasi Tauhid”.

Hendaklah merujuk bab itu untuk penjelasan yang lebih luas.

7. Adapun untuk khobar laa ( خبر لا ) dibuang/disembunyikan ( محذوف , mahdzuuf) dan tidak disebutkan dalam kalimat ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) dengan tujuan untuk meringkas dan taqdirnya adalah haqqun ( حَقٌّ )  atau bihaqqin ( بحق ) yang berarti benar (haq) atau dengan benar (dengan haq).

8. Dikatakan bahwa kata haqqun ( حَقٌّ ) dibuang/disembunyikan ( محذوف , mahdzuuf) untuk meringkas kalimat karena orang Arab jahiliyyah yang fasih bahasa arabnya, sudah memahami apa taqdirnya sehingga tidak perlu untuk disebutkan lagi.

Atau boleh juga dikatakan dibuang/disembunyikan karena sudah ada badal ( بدل ) “pengganti” dari khobar laa ( خبر لا ) yang berupa isim Allah ( اللهُ ) dalam kalimat Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ).

Hal ini karena isim haqqun ( حَقٌّ ) sudah termaktub dan jelas difahami keberadaan maknanya dari adanya isim Allah ( اللهُ ) tersebut. Sebagaimana yang dibuktikan dengan ayat Al-Qur’an berikut, yang bermakna bahwa hanya Allah sajalah ilah yang haq sedangkan yang lainnya baathil!

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain dari Allah adalah batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [QS. Luqman : 30]

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. [QS. Shaad : 5-6]

9. Kalau dikatakan makna secara letterlek hanya dengan “Tidak ada ilah kecuali Allah” saja maka ini salah, karena semua yang disembah dan diibadahi itu disebut sebagai ilah (إله ). Banyak orang-orang musyrik yang menyembah dan beribadah kepada selain Allah, sehingga kita lihat dalam QS. Shaad ayat 5-6 diatas bahwa merekapun keheranan dengan dakwah Rasululloh.

Dan tidak mungkin juga kita sebut semua ilah yang disembah dan diibadahi oleh kaum Musyrikin itu semuanya adalah Allah !!

10. Sehingga yang tepat adalah dengan adanya taqdir isim haqqun ( حَقٌّ ), maka berarti semua yang disembah dan diibadahi selain Allah itu adalah batil, dan hanya Allah sajalah yang Haq. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Luqman ayat 30 di atas.

11. Taqdir kata haqqun ( حَقٌّ ) ini juga membantah orang yang mengatakan bahwa khobar yang ditaqdirkan itu adalah maujuudun (مَوْجُوْدٌ) yang bermakna “ada”. Karena bukan makna kata inilah yang diinginkan dari kalimat ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini.

12. Jika dikatakan bahwa taqdirnya adalah maujuudun (مَوْجُوْدٌ) sehingga menjadi  “laa ilaaha maujuudun illallahu” (لَا إِلهَ مَوْجُوْدٌ إِلَّا اللهُ) yang berarti “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Maka ini bertentangan dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa sesembahan orang-orang musyrik itu juga ada, namun bathil seperti yang disebutkan dalam QS Luqman ayat 30 yang telah kita kutip sebelumnya.

13. Umumnya orang yang menginginkan makna ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) dengan makna “laa ilaaha maujuudun illallahu” (لَا إِلهَ مَوْجُوْدٌ إِلَّا اللهُ) itu hanya ingin menganggap bahwa tujuan akhir dari kalimat Tauhid itu hanya untuk membuktikan bahwa Allah itu ada saja dengan tanpa melanjutkan untuk melakukan kewajiban dari tuntutan konsekuensinya. Yakni agar beribadah dan menyembah hanya kepada Allah saja.

Berikut juga mereka menginginkan agar terlepas dari tuntutan wala’ (loyalitas) kepada Allah saja dan baro’ (membenci dan berlepas diri) terhadap ilah-ilah yang lain.

Orang-orang seperti ini umumnya berasal dari golongan orang yang memahami ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) dengan berdasarkan filsafat atau Ilmu Kalam. Kalau hanya sekedar mengakui bahwa Allah itu ada, maka kaum musyrikin juga mengakui bahwa Allah itu ada. Namun bukan ini tuntutan yang dikendaki dari kalimat ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini.

14. Termasuk suatu kesalahan juga memaknai ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) dengan tafsir Pluralisme.

Yakni sekedar memaknai dengan “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, yang bermakna : Sesungguhnya setiap yang di sembah atau di ibadahi, baik yang haq atau yang bathil, hal itu adalah Allah. Tentu hal ini tidak bisa di terima !. Sebagian lagi membuat permainan pluralisme dengan mengatakan “Tiada tuhan kecuali Tuhan” (beda “T” besar dan “t” kecil).

Hal ini akan kami bahas sendiri pada 4 bab tersendiri yang saling berhubungan di tulisan ini pada bagian yang kedua, yakni bab :

  • “Allah”
  • “Pluralisme”
  • “Orientalisme dan Kebudayaan Buatan Manusia”
  • “Hubungan Antara Lafdzul Jalalah ( اللهُ ) dengan Ahlul Kitab”.

Hendaklah merujuk ke bab itu untuk penjelasan yang lebih luas.

15. Kata ilaah (إله ) mempunyai arti ma’luuh (مألوه) atau ma’buud (معبود), yang berarti yang disembah (مألوه) atau yang diibadahi (معبود).

Sehingga kalimat ( لَا إِلهَ ) itu boleh kita gantikan dengan ( لَا مألوه ) atau ( لَا معبود ).

Oleh karena itu kalimat Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) “laa ilaaha illallooh” juga bermakna ( لَا مَعْبُوْدَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ ) “laa ma’buuda haqqun illallooh” yang berarti “Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah”. Atau ( لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ ) “laa ma’buuda bihaqqin illallooh” yang berarti “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.

17. Harf illaa (إِلا ) merupakan harful istitsnaa’ ( الإستثناء ) “pengecualian”, yang berfungsi mengecualikan apa yang dinafikan (ditiadakan) oleh Laa Nafiyyah yang ada pada kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) itu. Sehingga dia memberikan faedah hasyr (pembatasan) dan itsbaat (penetapan) hanya Allah saja dalam kalimat Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) itu.

18. Isim ( اللهُ ) dalam kalimat Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) sebenarnya merupakan badal ( بدل ) “pengganti” dari khobar laa ( خبر لا ) yang ditaqdirkan  haqqun ( حَقٌّ ) sesuai dengan penjelasan di point nomer 8. Dan dia berkedudukan marfu’

Sehingga secara ringkasan penjelasan, makna dari kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) “laa ilaaha illallooh” mempunyai tiga makna  yang sinonim :

  1. Bermakna ( لَا إِلهَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ ) “laa ilaaha haqqun illallooh” yang berarti “Tidak ada ilah yang Haq kecuali Allah”.
  2. Bermakna ( لَا مَعْبُوْدَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ ) “laa ma’buuda haqqun illallooh” yang berarti “Tidak ada sesembahan yang Haq kecuali Allah”
  3. Bermakna ( لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ ) “laa ma’buuda bihaqqin illallooh” yang berarti “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.

Adapun makna yang salah, tidak sesuai, tidak sempurna, dan bukan tuntutan akhir dari kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) adalah hanya memaknai kalimat ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) dengan hanya memiliki tujuan akhir pada makna :

  1. Makna (لَا خَالِقَ إِلَّا اللهُ) “Tidak ada Pencipta kecuali Allah.”
  2. Makna (لَا رَبَّ إِلَّا اللهُ) “Tidak ada Pemelihara/Pengatur/Robb kecuali Allah”.
  3. Makna ( لَا رَازِقَ إِلَّا اللهُ ) “Tidak ada Pemberi Rizki kecuali Allah”
  4. Makna-makna yang semisal dari point nomer 1,2, dan 3 diatas yang berkaitan dengan rububiyyah Allah

Orang bisa saja mengakui Allah sbg penciptanya dan pemberi rizqy, namun sembari itu dia juga menyembah, berdoa, dan beribadah kpd selain Allah.

Baik itu kuburan wali, nabi, malaikat, benda pusaka, dll; baik itu dg alasan sebagai tawasul agar nanti disampaikan kepada Allah. Ataupun langsung berdoa kepada selain Allah dg alasan dia sudah diberi hak prerogratif oleh Allah utk dikabulkan doanya, shg tidak perlu berdoa kepada Allah.

Makna pengakuan rububiyah yg benar adalah dg beribadah, menyembah, dan berdoa kepada Allah saja. Adapun makna pengakuan rububiyah yg salah, adalah mengakui Allah sbg penciptanya dan pemberi rizqy, namun mau untuk menyerahkan ibadah, penyembahan, dan doa kepada selain Allah dg alasan apapun. Inilah syirik!!!

Siapa bilang orang syirik itu tidak mengenal Allah dan tidak mengakui Allah sebagai penciptanya?

Makna yg salah lainnya adalah :

  1. Makna (لَا إِلهَ مَوْجُوْدٌ إِلَّا اللهُ) ““Tidak ada sesembahan yang ada (maujud) kecuali Allah”
  2. Mengartikan dengan “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, yang berarti “Sesungguhnya setiap yang di sembah atau di ibadahi, baik yang haq atau yang bathil, hal itu adalah Allah”.
  3. Atau permainan kata pluralisme dengan mengatakan “Tiada tuhan kecuali Tuhan” (beda “T” besar dan “t” kecil).

[Lihat juga Kitab Tauhid Jilid 1, Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan; dan Fathul Majid Syarh Kitaabut Tauhiid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh]

Dari makna shohih ini, insya Allah kita bisa lebih mudah memahami kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) “laa ilaaha illallooh”. Dan berpijak dari pondasi awal yang benar ini, semoga Allah memudahkan kita untuk mengilmui dan memahami maksud dari kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) ini pada penjelasan-penjelasan berikutnya.

DAKWAH PARA NABI DAN RASUL SEPANJANG MASA

Kalimat ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) yang merupakan kalimat untuk mentauhidkan (mengesakan) penyembahan dan peribadahan hanya kepada Allah saja, adalah kalimat dakwah para Nabi dan Rosul sepanjang zaman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).’ [QS An-Nahl : 36]

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan, Tuhan) (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. [QS. Al-Anbiyaa’ : 25]

  • Jenis Tauhid yang dimaksud dua ayat di atas adalah jenis Tauhid Uluhiyyah, dan jenis Tauhid inilah maksud dan tujuan dari dakwah tauhid para nabi dan rasul. Yakni agar hanya Allah sajalah yang berhaq diibadahi dan disembah dengan cara yang haq.

Para ulama memberikan istilah lain Tauhid uluhiyyah ini dengan istilah Tauhid Ath-Tholabi wal Qoshdi ( تَوْحِيْدُ الطَّلَبِ وَالْقَصْدِ . Secara letterlek : Tauhid Tuntutan dan maksud) yang berarti “tuntutan dan maksud yang diinginkan dari Tauhid” .

Sebagian ulama yang lain memberi istilah dengan Tauhid Ath-Tholabii Al-Iroodii ( التَّوْحِيْدِ الطَّلَبِيِّ  الإِرَادِيِّ . Secara letterlek : Tauhid Tuntutan dan kehendak) yang berarti “kehendak dan tuntutan tauhid”

  • Salah satu tugas utama yang lain dari para nabi dan Rasul dalam masalah tauhid adalah menerangkan, mengkabarkan, mentaddaburi, memahamkan ilmu, dan menetapkan mengenai masalah Tauhid Rububiyyah Allah (penciptaan, penguasaan, pengaturan, pemeliharaan) dan Tauhid asma wa shifat Allah (nama-nama dan shifat Allah) sebagai pondasi yang berkonsekuensi kepada tauhid uluhiyyah.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan kepadamu Adz Dzikr (Al Quran), agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan [QS. An-Nahl : 44]

Ayat-ayat yang menjelaskan masalah Rububiyyah dan Asma’ wa shifat Allah ini sangatlah banyak. Ayat-ayat tersebut umumnya selalu berkorelasi menjelaskan tuntutan :

“Bahwa karena rububiyyah dan asma’ wa shifat Allah itulah, maka hanya Allah sajalah ilah (Tuhan atau sesembahan) yang haq yang berhaq untuk diibadahi dan disembah dengan cara yang haq (Baca : Tauhid Uluhiyyah atau Tauhid Ath-Tholab wal Qoshd)”.

Berikut beberapa contoh ayat yang menjelaskan masalah Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma’ Wa shifat yang berkorelasi dengan tuntutan Tauhid Uluhiyyah :

Ayat pertama

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan Ilah-mu (Sesembahan yang diibadahi; Tuhan) itu adalah ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah melainkan Dia (Allah) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. [QS. Al-Baqarah : 163-164]

Ayat kedua

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Ilah (Sesembahan yang diibadahi; Tuhan) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Ilah (Sesembahan yang diibadahi; Tuhan) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna (Nama-nama yang indah dan baik). Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Al-Hasyr : 22-24]

Para ulama memberi istilah lain dari Tauhid Rubibiyyah dan Asma’ wa Shifat ini dengan istilah Tauhid Al-Ma’rifaah wal Itsbaat (تَوْحِيْدُ الْمَعْرِفَةِ وَالْإِثْبَاتِ ) yang berarti Tauhid dalam masalah Pengenalan dan Penetapan. Sebagian ulama yang lain memberi istilah dengan Tauhid Al-Ilmiyyi al-Khobariyyi ( التَّوْحِيْدُ الْعِلْمِيِّ الْخَبَرِيِّ ) yang berarti Tauhid dalam masalah ilmu pengkabaran mengenai Allah.

PEMBAGIAN TAUHID DAN KORELASINYA

Para ulama ada yang membagi Tauhid menjadi dua :

  1. Tauhid Al-Ma’rifaah wal Itsbaat (تَوْحِيْدُ الْمَعْرِفَةِ وَالْإِثْبَاتِ ) : Tauhid dalam masalah Pengenalan dan Penetapan
  2. Tauhid Ath-Tholabi wal Qoshdi (تَوْحِيْدُ الطَّلَبِ وَالْقَصْدِ ) : Tauhid dalam masalah Maksud dan Tujuan

Sedangkan sebagian ulama yang lain membagi Tauhid menjadi tiga. Dan inilah model pembagian yang paling populer :

  1. Tauhid Uluhiyyah
  2. Tauhid Rububiyyah
  3. Tauhid Asma’ wa shifat

Istiqro’ ulama dalam pembagian Tauhid menjadi dua atau tiga ini sebenarnya sama saja, saling berkorelasi, dan saling melengkapi. Adapun dari pembagian itu, kita bisa mengetahui bahwa tugas dan tujuan dakwah tauhid para Nabi dan Rasul adalah untuk :

  1. Mengenalkan, menerangkan, mengkabarkan, mentaddaburi, memahamkan ilmu,  dan menetapkan mengenai Allah dalam masalah pentauhidan rububiyyah dan Asma’ wa shifat -Nya. [Baca : Tauhid Al-Ma’rifaah wal Itsbaat, Tauhid masalah Pengenalan dan Penetapan]
  2. Mengajak, menyeru, menuntut, dan mewajibkan untuk beribadah dan menyembah hanya kepada Allah saja dengan cara peribadatan yang haq, yakni Tauhid Uluhiyyah. [Baca : Tauhid Ath-Tholabi wal Qoshdi; Tauhid dalam masalah tuntutan dan maksud dari konsekuensi pengenalan dan penetapan itu]

Adapun qaidah dan korelasi dari dua tujuan ini adalah :

“Semakin sempurna dan semakin bertambah ilmu kita dalam masalah Ma’rifat (pengenalan) dan Itsbat (penetapan) rububiyyah beserta asma wa shifat Allah, maka akan semakin sempurna pula penyembahan dan peribadahan kita kepada Allah.”

Secara aplikatif qaidah ini bisa kita jelaskan bahwa karena ibadah itu terbagi menjadi tiga, yakni :

  1. Ibadah hati
  2. Ibadah lisan
  3. Ibadah anggota badan

– Maka semakin sempurna dan semakin bertambah ilmu kita dalam masalah Ma’rifat dan Itsbat rububiyyah dan asma wa shifat Allah, maka akan semakin sempurna pulalah Ibadah hati kita kepada Allah baik itu berupa :

  • Kecintaan kita kepada Allah (Mahabbah)
  • Ketundukan dan merendahkan diri kita di hadapan Allah (Tadhorru’ wal khudhu)
  • Penghambaan dan penghinaan diri kepada Allah (Ta’abbud)
  • Ketakutan kita kepada Allah (Khouf)
  • Ketaatan dan kepatuhan kita (Inqiyad)
  • Keberharapan kita kepada Alloh (Roja’)
  • Ketawakalan kita dan rasa berserah diri (taslim) kita kepada Alloh.
  • Rasa Syukur kita
  • Sabar kita karena Allah
  • Qona’ah, dan lain-lain

– Semakin sempurna pula Ibadah lisan kita baik itu berupa :

  • Dzikir
  • Do’a
  • Membaca Al-Qur’an
  • Menjaga lisan dan berkata yang baik
  • Syukur lisan, dan lain-lain

– Dan semakin sempurna pula Ibadah badan kita baik itu berupa :

  • Ibadah Maghdhoh : Thoharoh, Sholat, Zakat, Puasa, Haji
  • Shodaqoh
  • Jihad
  • Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Berakhlaq dan beradab baik dalam bermuamalah sesuai dengan petunjuk syari’at, dan lain-lain

Tidaklah Allah disembah dan diibadahi sebagai satu-satunya ilah baik itu amalan ibadah hati, lisan, dan badan;  jika kita tidak mengenal, tidak mengetahui, tidak mengilmui, dan tidak menetapkan bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya Rabb (pencipta, penguasa, pengatur, pemelihara) seluruh alam; Yang memiliki nama-nama dan shifat-shifat yang indah dan sempurna yang layak bagi Nya sesuai dengan keagungan-Nya.

Dari hal ini kita bisa memahami keumuman mengapa ketika kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an berkaitan dengan masalah Tauhid, ayat tersebut penuh dengan rangkaian Khabar dan Ilmu mengenai :

  • Khabar penjelasan, ilmu, bukti-bukti, dan keterangan mengenai Tauhid Rububiyyah Allah.
  • Yang kemudian digandengkan dengan khabar mengenai Asma’ wa Shifat Allah yang baik, indah, dan sempurna; yang layak bagi Nya sesuai dengan keagungan-Nya
  • Yang kemudian dibarengi dengan tuntutan dan konsekuensi kewajiban penyembahan dan peribadahan hanya kepada Allah semata.

Baik itu rangkaian yang berupa satu kesatuan ayat, ataupun rangkaian yang berupa ayat-ayat yang terpisah di dalam Al-Qur’an. Berikut akan kami berikan contoh dari ayat-ayat tersebut.

Ayat pertama

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah (Yang diibadahi dan disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. [QS. Al-An’aam : 102]

Ayat kedua

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai manusia, sembahlah Robb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. [QS. Al Baqoroh : 21-22]

Ayat ketiga

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Rabb-mu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Rabb-mu lupa. Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? [QS. Maryam 64-65]

Ayat keempat

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan Ilah-mu (Sesembahan yang diibadahi; Tuhan) itu adalah ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah melainkan Dia (Allah) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. [QS. Al-Baqarah : 163-164]

Ayat kelima

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia-lah yang menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dialah yang menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dialah yang menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Rabb kamu, Rabb Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Ilah (yang disembah dan diibadahi) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? [QS. Az-Zumar : 5-6]

RUBUBIYYAH ALLAH DAN FITROH MANUSIA

Di abad modern ini ayat-ayat yang berkaitan dengan keajaiban makhluq ciptaan Allah, pengaturan, dan kekuasaan Allah yang terlihat di alam nyata ini (baca : Rububiyyah Allah); mulai dibuktikan kebenarannya, kesempurnaannya, dan komplektisitas system keilmuannya dengan berdasarkan penelitian dan kemajuan teknologi.

Seperti misal ayat-ayat berkenaan dengan keajaiban penciptaan manusia, penjelasan masalah gunung yang berjalan, penjelasan gunung sebagai pasak, masalah langit dan bumi yang dulunya adalah menjadi satu dan kemudian dipisahkan, dan lain-lain. Secara umum ini masuk ke dalam kategori “kemukjizatan Al-Qur’an dalam masalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”.

Banyak buku yang telah ditulis dengan penjelasan ilmiah IPTEK dari para tokoh yang memiliki keahlian dalam hal ini seperti : Maurice Bucaille, Harun Yahya, buku-buku yang membahas/menjelaskan kemukjizatan Al-Qur’an dari segi IPTEK, dan lain-lain dari para pakar IPTEK. Dan sebenarnya Allah pun menantang para peneliti baik dari kalangan Muslim ataupun Non Muslim untuk meneliti, mempelajari, dan mengilmui daripada kesempurnaan ciptaan Allah sebagai bukti rububiyyah Allah.

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ مَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. [QS. Mulk : 1-4]

Tanda-tanda kekuasaan Allah ini ditunjukkan dan dijelaskan kepada kita, karena kita secara fitroh manusia cenderung untuk memuja, takluk, tunduk, ta’at, dan memuji sesuatu yang dia takjubi dan kagumi.

Tingkat pemujaan dan ketundukan ini bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat ketakjuban seorang manusia. Jika tingkat ketakjuban dan kekaguman ini sampai pada derajat penghambaan dan penghinaan diri, maka seorang manusia akan menganggap apa yang dia kagumi itu sebagai ilah yang disembah dan diibadahi dengan perasaan cinta, tunduk, patuh, dan penuh pengagungan.

Fitroh ini juga bisa kita lihat dari orang-orang yang menyembah bulan, bintang, matahari, dan lain-lain; yang mereka perkirakan adalah makhluq yang lebih besar, kuat, dan lebih berkuasa dibandingkan diri mereka, padahal itu sebenarnya hanyalah merupakan tanda-tanda kekuasaan dan makhluq ciptaan Allah Subhaanahu wa ta’aala.

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah engkau sekalian bersujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi sujudlah (sembahlah) Allah Yang menciptakannya, Jika Ia-lah yang kamu hendak ibadahi (sembah). [QS. Fushshilat : 37]

وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Rabb-ku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Rabb-ku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Rabb-ku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada (Allah) Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan (agama yang) lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. [QS. Al-An’am : 75-79]

Oleh karena itu, Allah banyak sekali menerangkan tanda-tanda akan kekuasaan rububiyyah-Nya di dalam ayat-ayat-Nya. Hingga kemudian orang-orang yang cerdas dan mau berpikir akan bisa memahami, bahwa tidak ada yang bisa menerangkan detail dari keajaiban penciptaan Alam semesta ini melainkan dari Sang Penciptanya itu sendiri.

Allah pun memuji orang-orang yang mau untuk memikirkan kekuasaan rububiyyah-Nya yang nampak di alam nyata yang penuh dengan keajaiban ini. Baik itu yang dilakukan dengan secara fitroh kodrati, ataupun dilakukan dengan cara penelitian dan IPTEK.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Rabb-mu menjadi saksi atas segala sesuatu? [QS. Fushshilat : 53]

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS. Ali Imran : 190-191]

KESALAHAN DALAM MEMAHAMI KORELASI TAUHID

Kesalahan pertama

Dari penjelasan di point-point sebelumnya, maka merupakan suatu kebodohan dan kejahilan jika kita telah mengenal, mengetahui, dan menetapkan Allah sebagai satu-satunya Rabb (pencipta, penguasa, pengatur, pemelihara) yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang indah sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, namun kita tidak menjadikannya sebagai satu-satunya ilah (Yang disembah dan diibadahi. Tuhan) yang kita sembah dan ibadahi sebagai konsekuensi darinya.

Merupakan suatu kebodohan jika kita kemudian malah berbalik mempersekutukannya (baca : men-syirik-kannya) dengan beribadah dan menyembah kepada selain Allah, baik itu dalam bentuk do’a, sujud, dan jenis ibadah lainnya padahal kita meyakini bahwa Allah lah yang menciptakan kita. Inilah jenis syirik Ibadah yang banyak dilakukan oleh kaum musyrikin Jahiliyyah pada masa diutusnya Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Mereka tidak melakukan kesyirikan dalam masalah i’tiqod (keyakinan) Rububiyyah, bahkan mereka mengakui akan rububiyyah Allah. Namun mereka melakukan kesyirikan dalam masalah uluhiyyah (penyembahan) dengan menyangka bahwa yang mereka sembah dan ibadahi itu akan mendekatkan diri mereka kepada Alloh. Akan memberikan syafa’at di sisi Allah. Dan akan mengabulkan do’a mereka dengan menyampaikannya kepada Allah….

Padahal Allah itu tidak membutuhkan sekutu yang berupa “Broker” dalam masalah penyembahan dan peribadahan kepada-Nya. Yang mana “broker” tersebut akan mendapatkan bagian dari peribadahan dan penyembahan kepada Allah, walaupun hanya diaku-aku sebagai wasilah perantara saja.

Allah memiliki nama As-Samii (Yang Maha Mendengar) dan Al-Mujiib (Yang Maha Mengabulkan Do’a). Maka bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa Allah tidak akan mendengar dan mengabulkan Do’a mereka, jika mereka tidak melewatkan peribadahan mereka melalui jalur “calo broker” itu?

Sehingga pada intinya mereka (kaum musyrikin) itu enggan, berpaling, dan menentang untuk melakukan konsekuensi dari apa yang mereka telah yakini sendiri. Dan inilah suatu kebodohan dan kedzoliman yang nyata….

Dalil pertama

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab::

أَنْ تَجْعَلَ لِله نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

“(Yaitu) engkau membuat bagi Alloh tandingan (syirik), padahal Dialah yang telah menciptakanmu.(HR. Bukhory-Muslim)

Catatan : Perhatikan korelasi perkataan berbuat syirik yang dihubungkan dengan masalah penciptaan manusia dalam hadits ini.

Dalil kedua

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ..؟

“Maukah kalian kuberi tahu tentang dosa besar yang paling besar?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Tentu, wahai Rosululloh.” Beliau bersabda:

الْإِشْرَاكُ بِالله، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

“(Dosa besar yang paling besar) adalah Syirik kepada Alloh dan durhaka terhadap kedua orang tua.” (HR. Bukhory-Muslim dari Abu Bakrah radhiyallahu’anhu)

Dalil ketiga

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” [QS. Yunus : 31]

Dalil keempat

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ قُلِ اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu (yang kamu sembah dan ibadahi selain Allah) ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?” [QS. Yunus : 34]

Dalil kelima

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ´Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” [QS. Al-Mu’minuun : 84-89]

Dalil keenam

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah (Yang disembah dan diibadahi) Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. [QS. Shaad : 4-5]

Dalil ketujuh

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ( لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ )”Laa ilaaha illallah” mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan ilah-ilah kami (yang disembah dan diibadahi) karena seorang penyair gila?” Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya). [QS. Ash Shaaffaat : 35-37]

Dalil kedelapan

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. [QS. Al-Israa : 56-57]

Ironisnya hal inilah juga yang menimpa sebagian ummat Islam pada zaman sekarang ini, yang karena ketidak tahuan mereka, mereka berdo’a dan beristighotsah kepada kuburan-kuburan wali yang mereka aku-aku sebagai tawasul. Mereka menyerahkan peribadatan yang berupa do’a dan istighotsah mereka kepada selain Allah.

Karena besarnya dugaan dan anggapan tingginya kedudukan para wali itu disisi Allah dibandingkan diri mereka, maka mereka seerahkan peribadatan berupa do’a dan istighotsah kepada wali-wali yang ada di kuburan dengan anggapan hanya sebagai perantara saja

Mereka serahkan peribadahan itu kepada wali-wali di kuburan, dengan anggapan nanti akan diberikan syafa’at dengan diteruskan do’anya dan disampaikan kepada Allah oleh sang wali-wali tersebut dari balik kuburnya.

Lihat juga tulisan kami di :

https://kautsaramru.wordpress.com/2013/06/21/para-penyembah-kuburan/

https://kautsaramru.wordpress.com/2013/06/21/para-penyembah-kuburan-mereka-yang-tertipu-dari-jalan-syubhat-ziarah/

Padahal masalah uluhiyyah (penyembahan) dan ubudiyyah (peribadahan) itu hanyalah milik Alloh semata. Tidak perlu adanya perantara dalam masalah menyembah dan mengibadahi Alloh.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka beribadah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa´at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). [QS. Yunus : 18]

Kesalahan kedua

a. Menisbatkan atribut asma’ dan sifat baik yang bersifat Rububiyyah ataupun Uluhiyyah kepada selain Allah

Jika kesalahan pertama datang dari jalan kesalahan dalam memahami korelasi Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah, maka kesalahan kedua datang dari jalan kesalahan memahami Tauhid Asma’ wa Shifat. Kesalahan Tauhid Asma’ wa Shifat ini berkonsekuensi terhadap kesalahan pemahaman Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.

Al-Qur’an menyebutkan kesalahan ini terutama berasal dari para Ahlul Kitab Yahudi dan Nashrani. Yang mana karena ke-ghuluw-an (keberlebih-lebihan sikap) mereka terhadap para Nabi dan orang sholeh mereka, hingga mereka menyematkan atribut asma’ dan sifat baik yang bersifat Rububiyyah ataupun Uluhiyyah kepada para Nabi dan orang sholeh mereka.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ قَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabb-dan Rabb-mu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Ilah selain dari (Allah) Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. [QS. Al-Maidah : 72-73]

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb-Rabb selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [QS. At Taubah : 30-31]

Orang-orang musyrikin pun ternyata juga mengikuti model kesalahan yang kedua ini dengan menyematkan atribut asma’ dan sifat baik yang bersifat Rububiyyah ataupun Uluhiyyah kepada sesembahan-sesembahan mereka selain Allah.

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Laata dan al Uzzaa, dan Manaat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. [QS. An-Najm : 19-23]

Ibnu Abbas dan Mujahid berkata, “Mereka mengambil asma’ Allah lalu menamakan berhala-berhala mereka dengan asma’-Nya, dengan sedikit mengurangi atau menambahi. Mereka mengambil nama Latta kata Allah, Uzza dari Al-Aziz (Yang Maha Mulia), Manat dari Al-Mannan (Yang Maha Memberi).” [Lihat Madaarijus Salikin, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah]

Orang musyrik mengatakan bahwa Latta, Manat, dan Uzza adalah anak-anak perempuan Allah. Al-Latta menurut orang-orang musyrik adalah muannats (kata bentuk perempuan) dari kata Al-Ilah. Sebagaimana Al-Uzza muannats dari kata Al-Aziz. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari kelancangan lisan mereka.

Disebutkan juga bahwa Latta dulunya adalah seorang yang sholih, yang biasa membuatkan adonan roti secara cuma-cuma untuk para jama’ah haji pada zaman Jahiliyyah. Setelah dia meninggal, maka mulailah orang-orang mendatangi kuburannya hingga kemudian dibuatkanlah patung untuknya. Demikianlah kesyirikan yang berawal dari ke-ghuluw-an (keberlebih-lebihan sikap) terhadap orang sholeh. [Lihat Kitaabut Tauhiid, Bab 21, oleh Syaikh Muhammad At Tamimi. Lihat Juga Tafsir Ath Thobari 22/523]

b. Menisbatkan atribut asma’ dan sifat yang tidak pantas kepada Allah

Selain dari kesalahan Tauhid Asma wa Shifat menisbatkan nama-nama dan sifat-sifat yang bersifat Rububiyyah ataupun Uluhiyyah kepada Selain Allah. Kesalahan Tauhid Asma’ wa shifat yang lain juga datang dari menisbatkan nama dan shifat yang tidak pantas kepada Allah.

Hal ini juga disebutkan Allah di dalam Al-Qur’an,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا نْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

Dan mereka berkata: “(Allah) Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. [QS. Maryam : 88-93]

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. [QS. Al-Maidah : 64]

c. Konsekuensi dari kesalahan ini

Konsekuensi dari model kesalahan kedua dalam masalah korelasi Asma wa Shifat ini terbagi menjadi 2 :

1. Menyebabkan kesalahan korelasi terhadap Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah, sehingga menyebabkan kesyirikan dan kekafiran.

2. Menyebabkan terjadinya penyimpangan pemahaman Tauhid Asma’ wa Shifat, sehingga menyebabkan kebid’ahan.

Penyimpangan Tauhid Asma’ wa Shifat yang menyebabkan kebid’ahan ini secara umum berbeda-beda dan bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kebid’ahannya. Ada yang menyebabkan :

  • Bid’ah mukaffiroh (kebid’ahan yang menyebabkan pelakunya dikafirkan)
  • Bid’ah syirkiyyah (Kebid’ahan yang menyebabkan kesyirikan)
  • Bid’ah ghoiru Mukaffiroh (kebid’ahan yang tidak sampai dikafirkan)

Misal dari contoh ini adalah aqidah Wihdatul Wujud, bersatunya antara Allah dan hamba-Nya dalam wujud hamba-Nya. Yang mana ini merupakan bid’ah Mukaffiroh.

Atau aqidah adanya Wali Quthub atau Wali Ghouts, yang berkeyakinan wali-wali tersebut diberikan hak prerogratif oleh Allah untuk ikut mengatur alam semesta ini bersama dengan Allah. Yang mana ini merupakan bid’ah syirkiyyah, yakni syirik dalam masalah rububiyyah.

ARTI AT-TAUHIID ( التوحيد )

Setelah memahami penjelasan bab “Kesalahan dalam memahami korelasi Tauhid”  tadi, tentu mudah bagi kita untuk memahami apa arti dari Tauhid itu sendiri, berikut juga dengan maknanya dan konsekuensi korelasinya.

Kata At-Tauhid ( التوحيد ) secara bahasa merupakan bentuk mashdar dari : wahhada (وحد) – yuwahhidu (يوحد) – tauhidan (توحيدا) ; yang berarti mengesakan atau menunggalkan.

Adapun kata At-Tauhid ( التوحيد ) secara istilah berarti  Meng-Esakan atau menunggalkan Allah Ta’ala semata dalam tiga perkara,

1. Uluhiyyah : Mengesakan atau menunggalkan Allah semata saja dalam penyembahan dan peribadatan. Atau dalam mengesakan hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan yakni yang disembah dan yang diibadahi.

Sebagian ulama mendefinisikan Tauhid Uluhiyyah dengan ( افراد الله في العبادة , ifroodulloohi fil ‘ibaadah) mengesakan Allah dalam peribadahan.

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh menjelaskan, bahwa kata uluhiyah berasal dari alaha – ya’lahu – ilahah – uluhah yang bermakna ‘menyembah dengan disertai rasa cinta dan pengagungan’. Sehingga kata ta’alluh diartikan penyembahan yang disertai dengan kecintaan dan pengagungan (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 6 dan 74-76, lihat juga al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an [1/26] karya ar-Raghib al-Ashfahani).

Tauhid Uluhiyyah ini tidak akan terwujud kecuali dengan dua syarat landasan utama :

  • Mengarahkan semua bentuk Ibadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Ikhlash)
  • Ibadah yang dilakukan harus sesuai dengan perintah Allah dan syariat-Nya, serta mengikuti petunjuk Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. (Ittiba’)

Pada bab-bab sebelumnya, sebenarnya kita sudah banyak membahas masalah syarat Ikhlash ini, yakni menyerahkan semua bentuk Ibadah hanya kepada Allah saja. Adapun untuk syarat ittiba’ dalam masalah beribadah, maka ini juga ditunjukkan dalam banyak dalil.

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. [QS. Al-Maidah : 103]

Bahiirah adalah unta betina yang sudah melahirkan anak kelima dan anak kelima itu jantan. Lalu Unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi, dan tidak boleh diambil susunya. Saaibah adalah unta betina yang dinazarkan untuk berhala. Washiilah adalah kambing yang telah beranak tujuh. Atau dikatakan bahwa seorang kambing betina yang melahirkan anak kembar yang berupa jantan dan betina, maka anak yang jantan ini disebut sebagai washiilah yang tidak boleh disembelih dan diserahkan/diniatkan untuk berhala. Haam adalah unta jantan yang tidak boleh diganggu karena telah membuntingi unta betina 10 kali dan diserahkan/diniatkan untuk berhala.

Semua itu dikatakan oleh orang-orang musyrik sebagai suatu ibadah yang disyariatkan oleh Allah. Padahal itu hanyalah mengada-adakan kedustaan atas nama Allah belaka.

عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak (H.R alBukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.

2. Rububiyyah : Mengesakan atau menunggalkan Allah semata saja dalam hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, pemeliharaan, pemberian rezeki, penguasaan, yang menghidupkan dan yang mematikan, dan hal-hal yang mencakup makna itu.

Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh berkata “Mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan” (al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/5-6] cet. Maktabah al-’Ilmu, dan Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah hal. 34)

Syaikh Dr. Umar bin Su’ud Al-‘Ied berkata “Beriman bahwa hanya Allah Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, Pemilik, Pengatur dan pengelola alam ini, dan tidak ada sekutu bagi-Nya“. Beliau juga berkata “Sebagian Ulama yang lain memberikan definisi :

افراد الله بافعاله , ifroodulloohi bi af’aalihi )’Mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatannya’. Seperti menghidupkan, mematikan, menciptakan menurunkan rezeki atau lainnya, seraya berkeyakinan tidak ada satupun yang bersekutu dengan Nya” [Tauhid Urgensi dan Manfaatnya, hal 13-14, Terjemah Divisi Pembinaan Imigran Kantor Dakwah As-Sulay, Riyadh]

3. Asma’ wa Shifat (Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya) : Mengesakan atau menunggalkan Allah semata saja dalam Nama-nama dan Sifat-sifat Nya, tidak ada sesuatupun yang bersekutu dan sama dengan-Nya dalam masalah Nama dan Shifat-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala ,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” [QS. Asy-Syuroo : 11]

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asmaa-ul husna (Nama-nama yang Indah dan baik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” [QS. Al-A’raaf : 180]

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)” [QS. Thoohaa : 8]

Tauhid Asma’ wa Shifat ini mempunyai empat landasan utama :

  1. Menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya dalam kitab-Nya (Al-Qur’an).
  2. Menetapkan apa yang Rasulllah tetapkan dan jelaskan mengenai nama-nama dan shifat-shifat Allah, melalui hadits-haditsnya yang Shohih.
  3. Menafikan (menyangkal) apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya nafikan dari nama-nama dan shifat-shifat Allah.
  4. Menetapkan ketiga hal di atas dengan tanpa tahrif (perubahan), tanpa nafi (penyangkalan), tanpa tamtsil/tasybih (penyerupaan), dan tanpa takyif (menanyakan bagaimananya/membayangkannya/menggambarkannya)

Tauhid Asma’ wa Shifat juga mempunyai 4 prinsip dan qaidah utama :

  1. Nama-nama dan shifat-shifat Allah itu Tauqifiyyah. Yakni ruang lingkupnya hanya dan harus berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah, baik untuk nafi (penyangkalan) ataupun penetapannya (itsbat).
  2. Shifat yang Allah telah tetapkan untuk-Nya atau apa yang Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sebutkan untuk Allah, harus kita imani secara dhahirnya sebagaimana makna yang diketahui dalam bahasa Arab.
  3. Nama dan shifat yang telah Allah telah tetapkan untuk diri-Nya atau apa yang Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sebutkan untuk Allah, tidak sama sedikitpun dengan nama dan shifat yang ada pada makhluq-Nya walau sama lafazh penyebutannya. Kesamaan dalam penyebutan lafazh nama, sifat, dan perbuataan tidaklah memiliki konsekuensi sama dalam bentuk makna dan hakikat.
  4. Semua nama dan shifat Allah itu sempurna dan tidak ada kekurangannya sedikitpun.

Perincian lebih dalam masalah Tauhid Asma’ wa shifat ini silakan lihat :

  • Tauhid Urgensi dan Manfaatnya, Syaikh Dr. Umar bin Su’ud Al-‘Ied, hal 23-28, Terjemah Divisi Pembinaan Imigran Kantor Dakwah As-Sulay, Riyadh
  • Qawaidul Mutsla, Syaikh Al-Utsaimin
  • Taqrib At Tadmuriyyah, Syarh Syaikh Al-Utsaimin terhadap kitab At Tadmuriyyah-nya Ibnu Taimiyyah
  • Syarh Al-Aqidah Al-Washithiyyah, Syarh Syaikh Muhammad Khalil  Harras terhadap kitab Al-Aqidah Al Wasithiyyah-nya Ibnu Taimiyyah
  • Syarh Aqidah Ath Thohawiyyah oleh Imam Ibn Abil ‘Izz AL-Hanafi pada bagian Tauhid Asma’ wa Shifat.
  • Syarh Asma’ Wa Shifat oleh Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani

AR-RABB ( الرَّبُّ )

Kata Rabb ( رب ) yang cenderung diartikan sebagai Tuhan dalam bahasa Indonesia sebenarnya kurang tepat. Kalau kita lihat di KBBI, padanan arti Tuhan dalam bahasa Indonesia itu yang tepat dalam bahasa Arab adalah Ilah ( إله ).

——————

KBBI mendefinisikan Tuhan dengan :

1 n sesuatu yg diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sbg yg mahakuasa, mahaperkasa, dsb: tuhan allah; tuhan yang maha esa;

2 n sesuatu yg dianggap sbg tuhan: pd orang-orang tertentu uanglah sbg tuhannya

Lihat : http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=tuhan&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=kamus

Sedangkan secara bahasa Arab Ilah ( إله ) itu berarti Al-Ma’luuh ( المألوه ) yang disembah, dan Al-Ma’buud (  المعبود ) yang diibadahi.

—————

Namun karena memang susah dicari padanan arti kata Rabb dalam bahasa Indonesia, maka tidak mengapa dipakai kata “Tuhan” sebagai terjemahan kata “Rabb”, asalkan kita sudah mengetahui perbedaan antara arti kata Ilah dan Rabb.

Kesukaran bahasa ini juga sama dialami ketika menterjemahkan Rabb ke bahasa Inggris. Dalam “Translation of The Meanings of The Holy Qur’an in The English Languange” yang diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Taqi-ud Din Al-Hilali dan Dr. Muhammad Muhsin Khan, dicetak oleh King Fahd Complex for The Printing of The Holy Qur’an, menterjemahkan Rabb ( رب ) ke dalam bahasa Inggris dengan “Lord”.

Dalam footnote nomer 1 dalam QS Al-Fatihah ayat 2 dikatakan :

—————

(V. 1:2) Lord: The actual word used in the Qur’an is Rabb. There is no proper equivalent for Rabb in English language. It means the One and the Only Lord for all the universe, its creator, Owner, Organizer, Provider, Master, Planner, Sustainer, Cherisher, and Giver of security. Rabb is also one of the Names of Allah. We have used the word “Lord” as the nearest to Rabb. All occurences of “Lord” in interpretation of the meanings of the Noble Qur’an mean Rabb and should be understood as such.

—————

Sehingga ada baiknya ketika kita membaca kata “Tuhan” dalam bahasa Indonesia yang diartikan dari suatu tulisan arab, terutama yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, hendaklah kita melihat lagi dalam bahasa arab aslinya apakah yang dimaksud itu adalah Tuhan yang berasal dari kata Rabb ataukah Tuhan yang berasal dari kata ilah.

Hal ini perlu untuk diperhatikan karena ini akan mempengaruhi pemahaman kita mengenai makna kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ). Kata yang disebutkan dalam kalimatut tauhid tersebut adalah Ilah ( إله ) bukan Rabb ( رب ). Dan dua hal ini memiliki pengertian dan makna yang berbeda namun saling berkorelasi, sebagaimana yang telah kita jelaskan secara panjang lebar pada bab-bab sebelumnya.

Isim Rabbun ( رب ) atau yang lebih sering dimatikan akhirannya dengan dibaca Rabb saja, adalah mashdar yang berasal dari Robba ( رب ) – yarubbu ( يرب ) yang secara bahasa berarti “mengembang­kan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna”. [Kitab Tauhid Jilid 1, Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan, pada bahasan “Pengertian Rabb Dalam Al-Qur’an Dan As-Sunnah”]

Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbad hafidzahullah menjelaskan :

Adapun secara istilah, Ar-Rabb ( الرَّبُّ ) adalah dzat yang memiliki rububiyyah atas semua makhluk-Nya secara penciptaan, kekuasaan, pengaturan, dan perbuatan. Ini adalah nama yang menunjukkan akan banyak makna, bukan hanya satu makna.

Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah berkata, “Ar-Rabb dalam bahasa Arab memiliki banyak makna. Seorang tuan atau tokoh yang ditaati masyarakat dinamakan Rabb, seorang yang dapat memperbaiki sesuatu dinamakan Rabb, pemilik sesuatu juga dinamakan Rabb, dan masih ada makna selain ini yang intinya kembali kepada tiga makna di atas.

Rabb kita (Allah) adalah tuan yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan kekuasaan-Nya. Dia adalah dzat yang memperbaiki urusan hamba-Nya dengan mencurahkan seluruh nikmat-nikmat-Nya kepada hamba-Nya, dan Dia adalah sang penguasa yang bagi-Nya hak menciptakan dan memerintah.”

Ibnu Al-Atsiir rahimahullah berkata “Ar-Rabb dimutlakkan dalam bahasa kepada yang berkuasa, sang tuan, yang mengatur, yang memelihara, yang mendirikan, dan yang memberi nikmat. Selain itu, tidak dimutlakkan kecuali hanya kepada Allah. Dan jika untuk selain-Nya maka harus disandarkan, seperti Rabb ini dan itu.” [Fiqh Asmaul Husna, Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbad, pada bahasan Ar-Rabb ( الرَّبُّ )]

Maksudnya adalah jika ditujukan kepada selain Allah, seperti untuk manusia maka kata Rabb harus di-idhofahkan (disandarkan) kepada sesuatu sehingga menjadi mudhof-mudhof ilaih. Seperti perkataan : Muhammad Robbus Sayyaaroh (Muhammad pemilik mobil ini). Atau sebagaimana yang disebut di dalam Al-Qur’an,

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada rabb-mu (رَبِّكَ , tuanmu)”. Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada rabb-nya ( رَبِّهِ ,tuannya). Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya [QS. Yusuf : 42]

Adapun jika untuk Allah namun dengan cara di-idhofahkan, maka hal ini haruslah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil. Seperti : Robbul ‘Aalamiin (Rabb Semesta Alam), Robbun Naas (Rabb-nya Manusia. QS. An-Naas), Robbul Falaq (Rabb Penguasa waktu Falaq/shubuh), dan lain-lain.

Kata Ar-Rabb tidak boleh dimutlakkan dan disebutkan secara sendirian dengan tanpa di-idhofahkan (disandarkan), jika dimaksudkan untuk selain Alloh. Ar-Rabb adalah salah satu asmaul husna Allah, dan jika nama Ar-Rabb ini disebutkan untuk Allah secara sendiri (tanpa di idhofahkan), maka derivatif nama dari konsekuensi nama Ar-Rabb akan mencakup semua nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia.

Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbad hafidzahullah menjelaskan lebih lanjut mengutip dari Ibnul Qoyyim rahimahullah :

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata “Sesungguhnya Ar Rabb adalah Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Membuat Shuroh (bentuk), Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Berbuat kebaikan, Yang Maha Memberi Nikmat, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Memberi, Yang Maha Mencegah, Yang dapat mendatangkan kemanfaatan dan kemudharatan, Yang Maha Memajukan dan Mengakhirkan, Yang menyesatkan siapa yang Dia Kehendaki dan memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki, Yang membahagiakan siapa yang Dia kehendaki dan menyengsarakan siapa yang Dia kehendaki, memuliakan dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki, dan selainnya dari makna rububiyyah-Nya yang dengannya dia berhak memiliki nama-nama yang baik.”

[Fiqh Asmaul Husna, Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbad, pada bahasan Ar-Rabb ( الرَّبُّ )]

ILAH ( إله )

Kata Ilah ( إله ) secara bahasa berarti yang disembah dan ditaati. Sesuatu yang menjadi tempat bergantungnya hati karena cinta dan pengagungan.

Al-Ilah ( الإله ) “sesembahan” juga mempunyai makna : Al-Ma’luuh ( المألوه ) yang disembah, dan Al-Ma’buud (  المعبود ) yang diibadahi.

Ibnul Qayyim berkata  “Al-Ilah adalah yang Dialah yang disembah oleh hati-hati (manusia) dengan penuh kecintaan, pengagungan, kembali padanya, pemuliaan, pengagungan, penghinaan diri, rasa tunduk, rasa takut, harapan dan tawakkal (pada-Nya).” [Fathul Majid Syarh Kitaabut Tauhid hal.53-54 cet. Darul Fikr.]

Konsekuensi pengakuan ilah ini adalah sebagai konsekuensi dari pengakuan Rabb. Dua hal ini saling berkaitan sebagaimana yang telah kita jelaskan dalam masalah pembagian tauhid menjadi Tauhid Al-Ma’rifaah wal Itsbaat (Pengenalan dan Penetapan) dan Tauhid Ath-Tholabi wal Qoshdi (Tuntutan dan Maksud).

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُلْ لَا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).

Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada ilah-ilah (Yang disembah dan diibadahi, bentuk jamak. Tuhan-Tuhan. آلِهَةً ) lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah ilah Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)“. [QS. Al-An’am : 19]

Lebih jauh lagi mengenai hubungan kalimat Al-Ilah ( الإله ) dan Ar-Rabb ( الرَّبُّ ) ini, maka Syaikh Abdurrozzaq Al-‘Abbad hafidzahulloh berkata :

—————

“Jika ia melihat buku-buku kaidah bahasa Arab, maka akan terlihat bahwa arti Ar-Rabb adalah Al-Malik (Sang Pemilik) yang bagi-Nya sifat rububiyyah atas semua makhluq-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Sedangkan Al-Illah artinya yang disembah [diambil dari asal kata At-Ta’allah yang artinya At-Ta’abbud (penyembahan)]

Jadi arti kata Ar-Rabb adalah yang mengasuh hamba-Nya dan memberinya rezeki, kemudian memberikan petunjuk kepada semua cara-cara beribadah dan lain-lainnya. Sedangkan Al-Ilah adalah yang dijadikan sesembahan, sehingga disembah dengan rasa cinta, rasa penghormatan, dan rasa pengagungan.

Kata Ar-Rabb jika disebutkan sendirian maka mencakup arti kata Al-Ilah, dan Al-Ilah jika disebutkan sendiran juga mencakup arti Ar-Rabb. Jika keduanya dikumpulkan, maka akan berpisah dan masing-masing akan mempunyai makna tersendiri. Tetapi apabila keduanya terpisah, akan menandakan satu kesatuan”

[Bantahan Pengingkaran Tauhid, (terj. Najla Press), hal. 105-106, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr]

—————-

Beliau (Syaikh Abdurrazzaq) juga mengutip perkataan Ibnu Taimiyyah rohimahullah sebagai berikut,

“Maksudnya disini menjelaskan keadaan seorang hamba yang murni hanya kepada Allah yang disembahnya, yang dimintai pertolongan-Nya, juga berbuat untuk-Nya dan memohon pertolongan-Nya, serta merealisasikan firman-Nya

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan [QS. Al-Fatihah :5]

Hal tersebut mencakup arti tauhid ilahiyyah dan tauhid rububiyyah. Jika dimaksudkan ilahiyyah maka (berarti) mengandung rububiyyah, dan rububiyyah (juga) mengharuskan adanya ilahiyyah. Sesungguhnya apabila salah satu dari keduanya mengandung arti yang lainnya tatkala (disebutkan) sendirian; maka tidak menghalangi adanya makna khusus ketika (keduanya) digabungkan (disebutkan bersama). Seperti firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَٰهِ النَّاسِ

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. [QS. An-Naas : 1-3]

dan di dalam firman-Nya,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. [QS. Al-Fatihah :2]

Di dalam ayat tersebut digabungkan antara isim Ilaah dengan isim Rabb, maka Al-Ilaah adalah yang disembah dan yang berhak disembah sedangkan Ar-Rabb adalah yang memelihara dan mengatur hamba-Nya.

Oleh karena itu ibadah ada kaitannya dengan nama Allah (yang berasal dari kata Al-Ilah menurut sebagian pendapat) dan permohonan berkaitan dengan nama-Nya (yaitu Ar-Rabb). Sehingga ibadah adalah tujuan dari diciptakannya makhluq dan sifat penyembahan adalah tujuannya.

Ar-Rububiyyah mencakup penciptaan makhluq dan pertumbuhan mereka yang mencakup keadaan mereka semula. Seseorang yang melakukan shalat ketika mengucapkan kalimat ( إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”, dimulai dengan maksud yang menjadi tujuan atas perantara yang merupakan permulaannya.

Ibadah adalah tujuan dari suatu maksud, dan minta tolong adalah perantara menuju kepadanya. Yang ini hikmah dan yang itu sebab” (Al-Fatawa 10/283-284)

[Bantahan Pengingkaran Tauhid, (terj. Najla Press), hal. 106-107, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr]

CATATAN UNTUK MASALAH TAUHID RUBUBIYYAH

Rabb yang berarti yang menciptakan, yang memiliki, yang menguasai, yang mengatur, dan hal-hal yang berkaitan dengan makna itu, sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Maka keimanan terhadap hal-hal yang terkait dengan Rububiyyah ini bersifat fithroh dan ada pada diri setiap manusia.

– Baik itu jenis rububiyyah yang disertai dengan Tauhid (pengesaan) kepada satu Rabb saja, ataupun jenis rububiyah yang bersyarikat kepada beberapa Rabb.

– Baik itu jenis rububiyyah yang disertai dengan pengenalan dan pengakuan kepada Allah, ataupun jenis rububiyyah yang tidak disertai adanya pengenalan dan pengakuan kepada Allah.

  • Manusia sebagai makhluq ciptaan, senantiasa mempunyai fithroh (tabiat atau sifat bawaan sejak diciptakan) untuk mengakui bahwa dia itu ada yang menciptakannya, ada yang memberikannya rizqi, ada yang mengaturnya berikut alam semesta ini, dan ada yang menguasai serta mengendalikannya. Hal ini diketahui dan diyakini oleh keumuman manusia tanpa dia perlu untuk mempelajarinya terlebih dahulu.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu? Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran). [QS. Al-A’raaf : 172-174]

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [QS. Ar-Ruum : 30]

صِبْغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya (celupan) dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah [QS. Al-Baqarah : 138]

  • Jenis rububiyyah yang disertai dengan pentauhidan kepada satu Rabb saja dan dibarengi dengan pengakuan serta pengenalan kepada Allah adalah rububiyah dengan fitroh yang lurus yang dimiliki oleh kaum Muslimin.

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan (agama yang) lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (musyrikin) [QS. Al-An’am : 79]

  • Jenis rububiyyah yang disertai dengan pentauhidan kepada satu Rabb saja, namun tanpa dibarengi dengan pengakuan dan pengenalan kepada Allah sebagai Rabb-Nya, serta membuat-buat nama sendiri tanpa ada wahyu yang turun kepadanya. Maka ini adalah rububiyah dengan fitroh yang menyimpang.

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. [QS. Yusuf : 40]

  • Jenis rububiyyah yang tanpa disertai pentauhidan kepada satu Rabb saja melainkan bersyarikat kepada beberapa Rabb. Baik itu jenis rububiyyah yang disertai dengan pengenalan dan pengakuan kepada Allah sebagai salah satu Rabb dari yang dipersekutukan itu, ataupun tidak. Maka itu juga adalah fitroh yang menyimpang sebagaimana yang dimiliki oleh kaum Musyrikin dari berbagai macam jenis agama selain Islam.

Walaupun jenis syirik yang menjadikan alasan utama para Rasul itu diutus adalah masalah syirik uluhiyyah (syirik dalam masalah penyembahan dan peribadahan) sebagaimana yang banyak kita bahas pada pembahasan sebelumnya, namun ternyata terdapat juga golongan orang-orang yang sudah menyimpang dari awal dengan melakukan syirik rububiyyah.

Oleh karena itu untuk orang yang sudah mengalami penyimpangan fitroh dan tauhid sejak dari awal ini, Allah berfirman :

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah (yang lain) beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. [QS. Al-Mu’minuun : 91]

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ´Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. [QS. Al-Anbiyaa’ : 22]

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. [QS. Az-Zumar : 29]

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

Katakanlah: “Jikalau ada ilah-ilah di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya ilah-ilah itu mencari jalan kepada Tuhan (Allah) yang mempunyai ´Arsy”. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia (Allah) dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. [QS. Al-Israa’ : 42-43]

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (Rabb) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”. Yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabb-mu adalah suatu yang (harus) ditakuti. [QS. Al-Israa’ : 57]

  • Adapun jenis orang yang tidak mengakui adanya Rububiyyah sama sekali, yakni tidak mengakui bahwa ada yang menciptakan mereka. Tidak mengakui bahwa ada yang menguasai, mengatur, dan memberi rizky mereka. Atau meragukan hal-hal itu. Maka orang ini termasuk dari golongan orang yang fithrohnya rusak. Seperti halnya orang-orang dari golongan  Atheis, Darwinisme, Komunisme, dan Agnostik yang termasuk penganut materialisme dahriyyah*. Atau dari golongan Fir’aun yang mengaku bahwa dialah Robbul ‘aalamiin.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu atau merekakah yang berkuasa? [QS. Ath-Thuur : 35-37]

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” [QS. Al-Jatsiyah : 24]

*Dahriyyah berasal dari kata ( الدَّهْرُ ) yang artinya adalah masa.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [QS. Al-A’raaf : 179]

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [QS. Al-Mu’minuun : 115]

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

(Seraya Fir’aun) berkata: “Akulah Rabb-mu yang paling tinggi”. [QS. An Naazi’aat : 24]

  • Golongan orang-orang yang mengalami penyimpangan dan kerusakan masalah Tauhid rububiyyah atau Tauhid Al-Mari’fah wal Itsbat (Pengenalan dan Penetapan) ini, hendaklah dimulai dengan dakwah berupa dialog, bukti-bukti, dan keterangan ayat-ayat Allah mengenai rububiyyah dan Asma’ wa shifat Allah.

Oleh karena itulah dakwah Tauhid dengan berdasarkan metode pembuktian ayat-ayat rububiyyah Alloh berdasarkan IPTEK modern (Baca : dakwah Tauhid Al-Mari’fah wal Itsbat), cukup masyhur dan efektif untuk dilakukan di dunia barat yang banyak terjangkit penyakit materialisme, Atheisme, dan tidak mengenal Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagai Rabbul ‘Aalamiin.

Termasuk juga metode dakwah Tauhid yang masyhur di dunia barat adalah dengan melalui dakwah keotentisitasan Al-Qur’an sebagai wahyu Allah subhaanahu wa ta’aala dan kesempurnaan integritas ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an. Yang mana hal ini tidak bisa ditandingi dengan otentisitas kitab-kitab agama lainnya, hasil-hasil kebudayaan manusia, dan hasil pemikiran filsafat manusia.

Kitab-kitab agama lainnya umumnya mengalami distorsi dan tidak otentik. Hasil kebudayaan bisa hancur, berubah, dan bercampur. Sedangkan hasil pemikiran manusia bisa berubah dan selalu mengalami revisi. Adapun Al-Qur’an tetap otentik, tidak bercampur dengan perkataan selain dari apa yang diwahyukan, dan tidak pernah mengalami revisi. Maka bagaimana mungkin Al-Qur’an dituduh sebagai produk kebudayaan dan hasil pemikiran filsafat?

Lihat juga pembahasan ilmiah dan bukti-bukti sejarah mengenai keotentikan Al-Qur’an yang sangat menarik, di buku “The History of the Quranic Text, from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments” tulisan Prof. Muhammad Musthafa Al-A’zhami hafidzahulloh.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikr (Al Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. [QS. Al-Hijr : 9]

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [QS. An-Nisaa : 82]

Berikut juga masyhur dengan motede dakwah akan keajaiban tantangan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan dalam bahasa arab yang murni, yang tidak bisa ditiru, direproduksi atau dilakukan reverse engineering gaya bahasa dan keindahannya, hingga menghasilkan karya yang bergaya sama seperti Al-Qur’an sama sekali. Padahal Al-Quran diturunkan di tengah kaum Arab yang menguasai bahasa Arab yang paling fasih dan yang paling murni.

Adapun karya-karya manusia lainnya umumnya bisa ditiru gayanya, bisa direproduksi stylenya hingga menjadi produk yang semisal, atau dilakukan reverse engineering akan karya-karyanya.

Orang bukan asli Inggris jika dia mempelajari bahasa Inggris dan gaya sastra shakespeare, maka dia akan bisa meniru gaya sastra dari shakespeare. Sedangkan orang arab dan orang-orang ‘Ajam (non Arab) yang sudah bertahun-tahun belajar bahasa Arab dan Al-Qur’an, tetap tidak bisa meniru, mereproduksi, atau melakukan reverse engineering untuk menghasilkan suatu karya yang bergaya sama seperti Al-Qur’an.

Padahal tantangan itu sudah ada semenjak berabad-abad yang lampau setelah wahyu Al-Qur’an diturunkan sebagai Kalamullah (perkataan Allah).

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar. [QS. Ath Thuur : 33-34]

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. [QS. Al-Baqarah : 23-24]

RUMUSAN KESIMPULAN

1. Pentingnya mengilmui dan memahami makna dari kalimat Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) dengan benar.

2. Kalimat Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) itu memiliki tiga makna yang sinonim :

  1. Bermakna ( لَا إِلهَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ ) “laa ilaaha haqqun illallooh” yang berarti “Tidak ada ilah yang Haq kecuali Allah”.
  2. Bermakna ( لَا مَعْبُوْدَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ ) “laa ma’buuda haqqun illallooh” yang berarti “Tidak ada sesembahan yang Haq kecuali Allah”
  3. Bermakna ( لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ ) “laa ma’buuda bihaqqin illallooh” yang berarti “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.

3. Makna yang salah, tidak sesuai, tidak sempurna, dan bukan tuntutan akhir dari kalimat tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ) adalah :

  1. Makna (لَا خَالِقَ إِلَّا اللهُ) “Tidak ada Pencipta kecuali Allah.”
  2. Makna (لَا رَبَّ إِلَّا اللهُ) “Tidak ada Pemelihara/Pengatur/Robb kecuali Allah”.
  3. Makna ( لَا رَازِقَ إِلَّا اللهُ ) “Tidak ada Pemberi Rizki kecuali Allah”
  4. Makna-makna yang semisal dari point nomer 1,2, dan 3 diatas yang berkaitan dengan rububiyyah Allah

Orang bisa saja mengakui Allah sbg penciptanya dan pemberi rizqy, namun sembari itu dia juga menyembah, berdoa, dan beribadah kpd selain Allah.

Baik itu kuburan wali, nabi, malaikat, benda pusaka, dll; baik itu dg alasan sebagai tawasul agar nanti disampaikan kepada Allah. Ataupun langsung berdoa kepada selain Allah dg alasan dia sudah diberi hak prerogratif oleh Allah utk dikabulkan doanya, shg tidak perlu berdoa kepada Allah.

Makna pengakuan rububiyah yg benar adalah dg beribadah, menyembah, dan berdoa kepada Allah saja. Adapun makna pengakuan rububiyah yg salah, adalah mengakui Allah sbg penciptanya dan pemberi rizqy, namun mau untuk menyerahkan ibadah, penyembahan, dan doa kepada selain Allah dg alasan apapun. Inilah syirik!!!

Siapa bilang orang syirik itu tidak mengenal Allah dan tidak mengakui Allah sebagai penciptanya?

Makna yg salah lainnya adalah :

  1. Makna (لَا إِلهَ مَوْجُوْدٌ إِلَّا اللهُ) ““Tidak ada sesembahan yang ada (maujud) kecuali Allah”
  2. Mengartikan dengan “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, yang berarti “Sesungguhnya setiap yang di sembah atau di ibadahi, baik yang haq atau yang bathil, hal itu adalah Allah”. Atau permainan kata pluralisme dengan mengatakan “Tiada tuhan kecuali Tuhan” (beda “T” besar dan “t” kecil).

4. Tugas dakwah Tauhid para nabi dan Rasul itu ada dua :

  1. Mengenalkan, menerangkan, mengkabarkan, mentaddaburi, memahamkan ilmu,  dan menetapkan mengenai Allah dalam masalah pentauhidan rububiyyah dan Asma’ wa shifat -Nya. [Baca : Tauhid Al-Ma’rifaah wal Itsbaat, Tauhid masalah Pengenalan dan Penetapan]
  2. Mengajak, menyeru, menuntut, dan mewajibkan untuk beribadah dan menyembah hanya kepada Allah saja dengan cara peribadatan yang haq, yakni Tauhid Uluhiyyah. [Baca : Tauhid Ath-Tholabi wal Qoshdi; Tauhid dalam masalah tuntutan dan maksud dari konsekuensi pengenalan dan penetapan itu]

5.  Qaidah dan korelasi dari dua tugas dakwah Tauhid ini adalah : “Semakin sempurna dan semakin bertambah ilmu kita dalam masalah Ma’rifat (pengenalan) dan Itsbat (penetapan) rububiyyah beserta asma wa shifat Allah, maka akan semakin sempurna pula penyembahan (Uluhiyyah) dan peribadahan (Ubudiyyah) kita kepada Allah.”

6. Tidaklah Allah disembah dan diibadahi sebagai satu-satunya ilah;  jika kita tidak mengenal, tidak mengetahui, tidak mengilmui, dan tidak menetapkan bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya Rabb (pencipta, penguasa, pengatur, pemelihara) seluruh alam; Yang memiliki nama-nama dan shifat-shifat yang indah dan sempurna yang layak bagi Nya sesuai dengan keagungan-Nya.

7. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah Tauhid penuh dengan rangkaian Khabar dan Ilmu mengenai :

  • Khabar penjelasan, ilmu, bukti-bukti, dan keterangan mengenai Tauhid Rububiyyah Allah.
  • Yang kemudian digandengkan dengan khabar mengenai Asma’ wa Shifat Allah yang baik, indah, dan sempurna; yang layak bagi Nya sesuai dengan keagungan-Nya
  • Yang kemudian dibarengi dengan tuntutan dan konsekuensi kewajiban penyembahan dan peribadahan hanya kepada Allah semata.

8. Ayat-ayat tersebut umumnya selalu berkorelasi menjelaskan tuntutan : “Bahwa karena rububiyyah dan asma’ wa shifat Allah itulah, maka hanya Allah sajalah ilah (Tuhan atau sesembahan) yang haq yang berhaq untuk diibadahi dan disembah dengan cara yang haq (Baca : Tauhid Uluhiyyah atau Tauhid Ath-Tholab wal Qoshd)”.

9. Banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan dan dijelaskan kepada kita, karena kita secara fitroh manusia cenderung untuk memuja, takluk, tunduk, ta’at, dan memuji sesuatu yang dia takjubi dan kagumi.

Tingkat pemujaan dan ketundukan ini bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat ketakjuban seorang manusia. Jika tingkat ketakjuban dan kekaguman ini sampai pada derajat penghambaan dan penghinaan diri, maka seorang manusia akan menganggap apa yang dia kagumi itu sebagai ilah yang disembah dan diibadahi dengan perasaan cinta, tunduk, patuh, dan penuh pengagungan.

10. Allah banyak sekali menerangkan tanda-tanda akan kekuasaan rububiyyah-Nya di dalam ayat-ayat-Nya. Hingga kemudian orang-orang yang cerdas dan mau berpikir akan bisa memahami, bahwa tidak ada yang bisa menerangkan detail dari keajaiban penciptaan Alam semesta ini melainkan dari Sang Penciptanya itu sendiri.

11. Allah memuji orang-orang yang mau untuk memikirkan kekuasaan rububiyyah-Nya yang nampak di alam nyata yang penuh dengan keajaiban ini. Baik itu yang dilakukan dengan secara fitroh kodrati, ataupun dilakukan dengan cara penelitian dan IPTEK.

12. Merupakan suatu kebodohan dan kejahilan jika kita telah mengenal, mengetahui, dan menetapkan Allah sebagai satu-satunya Rabb (pencipta, penguasa, pengatur, pemelihara) yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang indah sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, namun kita tidak menjadikannya sebagai satu-satunya ilah (Yang disembah dan diibadahi. Tuhan) yang kita sembah dan ibadahi sebagai konsekuensi darinya.

13. Kaum musyrikin pada zaman jahiliyyah dulu tidak melakukan kesyirikan dalam masalah i’tiqod (keyakinan) Rububiyyah Alah, bahkan mereka mengakui akan rububiyyah Allah. Namun mereka melakukan kesyirikan dalam masalah uluhiyyah (penyembahan) dengan menyangka bahwa yang mereka sembah dan ibadahi itu akan mendekatkan diri mereka kepada Alloh. Akan memberikan syafa’at di sisi Allah. Dan akan mengabulkan do’a mereka dengan menyampaikannya kepada Allah.

Inilah jenis syirik Ibadah yang banyak dilakukan oleh kaum musyrikin Jahiliyyah pada masa diutusnya Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

14. Masalah uluhiyyah (penyembahan) dan ubudiyyah (peribadahan) itu hanyalah hak milik Alloh semata. Tidak perlu adanya perantara dalam masalah menyembah dan mengibadahi Alloh.

15. Termasuk dalam kesalahan dalam memahami korelasi Tauhid, terutama dalam masalah Tauhid Asma’ wa Shifat, adalah menisbatkan atribut asma’ dan sifat baik yang bersifat Rububiyyah ataupun Uluhiyyah kepada selain Allah.

16. Termasuk dalam kesalahan dalam memahami korelasi Tauhid, terutama dalam masalah Tauhid Asma’ wa Shifat, adalah menisbatkan atribut asma’ dan sifat yang tidak pantas kepada Allah.

17. Konsekuensi dari korelasi kesalahan masalah Tauhid Asma wa Shifat ini terbagi menjadi 2 :

  1. Menyebabkan kesalahan korelasi terhadap Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah, sehingga menyebabkan kesyirikan dan kekafiran.
  2. Menyebabkan terjadinya penyimpangan pemahaman Tauhid Asma’ wa Shifat, sehingga menyebabkan kebid’ahan.

18. Penyimpangan Tauhid Asma’ wa Shifat yang menyebabkan kebid’ahan ini secara umum berbeda-beda dan bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kebid’ahannya. Ada yang menyebabkan :

  • Bid’ah mukaffiroh (kebid’ahan yang menyebabkan pelakunya dikafirkan)
  • Bid’ah syirkiyyah (Kebid’ahan yang menyebabkan kesyirikan)
  • Bid’ah ghoiru Mukaffiroh (kebid’ahan yang tidak sampai dikafirkan)

19. Kata At-Tauhid ( التوحيد ) secara istilah berarti  Meng-Esakan atau menunggalkan Allah Ta’ala semata dalam tiga perkara :

  1. Uluhiyyah
  2. Rububiyyah
  3. Asma’ wa Shifat

20. Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan atau menunggalkan Allah semata saja dalam penyembahan dan peribadatan. Atau dalam mengesakan hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan yakni yang disembah dan yang diibadahi. Tauhid Uluhiyyah tidak akan terwujud kecuali dengan dua syarat landasan utama :

  1. Mengarahkan semua bentuk Ibadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Ikhlash)
  2. Ibadah yang dilakukan harus sesuai dengan perintah Allah dan syariat-Nya, serta mengikuti petunjuk Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. (Ittiba’)

21. Tauhid Rububiyyah adalah mengesakan atau menunggalkan Allah semata saja dalam hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, pemeliharaan, pemberian rezeki, penguasaan, yang menghidupkan dan yang mematikan, dan hal-hal yang mencakup makna itu.

22. Tauhid Asma’ wa Shifat adalah mengesakan atau menunggalkan Allah semata saja dalam Nama-nama dan Sifat-sifat Nya, tidak ada sesuatupun yang bersekutu dan sama dengan-Nya dalam masalah Nama dan Shifat-Nya.

23. Tauhid Asma’ wa Shifat ini mempunyai empat landasan utama :

  1. Menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya dalam kitab-Nya (Al-Qur’an).
  2. Menetapkan apa yang Rasulllah tetapkan dan jelaskan mengenai nama-nama dan shifat-shifat Allah, melalui hadits-haditsnya yang Shohih.
  3. Menafikan (menyangkal) apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya nafikan dari nama-nama dan shifat-shifat Allah.
  4. Menetapkan ketiga hal di atas dengan tanpa tahrif (perubahan), tanpa nafi (penyangkalan), tanpa tamtsil/tasybih (penyerupaan), dan tanpa takyif (menanyakan bagaimananya/membayangkannya/menggambarkannya)

24. Tauhid Asma’ wa Shifat juga mempunyai 4 prinsip dan qaidah utama :

  1. Nama-nama dan shifat-shifat Allah itu Tauqifiyyah. Yakni ruang lingkupnya hanya dan harus berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah, baik untuk nafi (penyangkalan) ataupun penetapannya (itsbat).
  2. Shifat yang Allah telah tetapkan untuk-Nya atau apa yang Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sebutkan untuk Allah, harus kita imani secara dhahirnya sebagaimana makna yang diketahui dalam bahasa Arab.
  3. Nama dan shifat yang telah Allah telah tetapkan untuk diri-Nya atau apa yang Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sebutkan untuk Allah, tidak sama sedikitpun dengan nama dan shifat yang ada pada makhluq-Nya walau sama lafazh penyebutannya. Kesamaan dalam penyebutan lafazh nama, sifat, dan perbuataan tidaklah memiliki konsekuensi sama dalam bentuk makna dan hakikat.
  4. Semua nama dan shifat Allah itu sempurna dan tidak ada kekurangannya sedikitpun.

25. Kata Rabb ( رب ) yang cenderung diartikan sebagai Tuhan dalam bahasa Indonesia itu kurang tepat. Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) padanan arti Tuhan dalam bahasa Indonesia itu yang tepat dalam bahasa Arab adalah Ilah ( إله ), yakni yang disembah dan diibadahi.

26. Kesukaran bahasa ini juga sama dialami ketika menterjemahkan Kata Rabb ( رب ) ke bahasa Inggris, sehingga hanya diterjemahkan dengan Lord.

27. Ketika kita membaca kata “Tuhan” dalam bahasa Indonesia yang diartikan dari suatu tulisan arab, terutama yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, hendaklah kita melihat lagi dalam bahasa arab aslinya apakah yang dimaksud itu adalah Tuhan yang berasal dari kata Rabb ataukah Tuhan yang berasal dari kata ilah.

Hal ini perlu untuk diperhatikan karena ini akan mempengaruhi pemahaman kita mengenai makna kalimatut Tauhid ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ ). Kata yang disebutkan dalam kalimatut tauhid tersebut adalah Ilah ( إله ) bukan Rabb ( رب ).

28. Secara istilah, Ar-Rabb ( الرَّبُّ ) adalah dzat yang memiliki rububiyyah atas semua makhluk-Nya secara penciptaan, kekuasaan, pengaturan, dan perbuatan. Ini adalah nama yang menunjukkan akan banyak makna, bukan hanya satu makna.

29. Ar-Rabb ( الرَّبُّ ) adalah salah satu asmaul Husna Allah, yang jika dimutlakkan disebutkan secara sendirian maka hanya boleh untuk dinisbatkan kepada Allah saja. Adapun jika ditujukan kepada selain Allah, seperti untuk manusia, maka kata Rabb harus di-idhofahkan (disandarkan) kepada sesuatu sehingga menjadi mudhof-mudhof ilaih.

Dan jika ditujukan untuk Allah namun dengan cara di-idhofahkan, maka hal ini haruslah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil. Seperti : Robbul ‘Aalamiin (Rabb Semesta Alam), Robbun Naas (Rabb-nya Manusia. QS. An-Naas), Robbul Falaq (Rabb Penguasa waktu Falaq/shubuh), dan lain-lain.

30. Al-Ilah ( الإله ) bermakna : Al-Ma’luuh ( المألوه ) yang disembah, dan Al-Ma’buud (  المعبود ) yang diibadahi.

31. Konsekuensi pengakuan ilah ini adalah sebagai konsekuensi dari pengakuan Rabb. Ilahiyyah berarti mengandung rububiyyah, dan rububiyyah juga mengharuskan adanya ilahiyyah.

Sesungguhnya apabila salah satu dari keduanya (ilahiyyah dan rubibiyyah) mengandung arti yang lainnya tatkala (disebutkan) secara sendirian; maka hal ini tidak menghalangi adanya makna khusus ketika (keduanya) digabungkan (disebutkan bersama).

32. Keimanan terhadap hal-hal yang terkait dengan Rububiyyah bersifat fithroh dan ada pada diri setiap manusia.

  • Baik itu jenis rububiyyah yang disertai dengan Tauhid (pengesaan) kepada satu Rabb saja, ataupun jenis rububiyah yang bersyarikat kepada beberapa Rabb.
  • Baik itu jenis rububiyyah yang disertai dengan pengenalan dan pengakuan kepada Allah, ataupun jenis rububiyyah yang tidak disertai adanya pengenalan dan pengakuan kepada Allah.

33. Manusia sebagai makhluq ciptaan, senantiasa mempunyai fithroh (tabiat atau sifat bawaan sejak diciptakan) untuk mengakui bahwa dia itu ada yang menciptakannya, ada yang memberikannya rizqi, ada yang mengaturnya berikut alam semesta ini, dan ada yang menguasai serta mengendalikannya. Hal ini diketahui dan diyakini oleh keumuman manusia tanpa dia perlu untuk mempelajarinya terlebih dahulu.

34. Jenis rububiyyah yang disertai dengan pentauhidan kepada satu Rabb saja dan dibarengi dengan pengakuan serta pengenalan kepada Allah adalah rububiyah dengan fitroh yang lurus yang dimiliki oleh kaum Muslimin.

35. Jenis rububiyyah yang disertai dengan pentauhidan kepada satu Rabb saja, namun tanpa dibarengi dengan pengakuan dan pengenalan kepada Allah sebagai Rabb-Nya, serta membuat-buat nama sendiri tanpa ada wahyu yang turun kepadanya. Maka ini adalah rububiyah dengan fitroh yang menyimpang.

36. Jenis rububiyyah yang tanpa disertai pentauhidan kepada satu Rabb saja, melainkan bersyarikat kepada beberapa Rabb. Baik itu jenis rububiyyah yang disertai dengan pengenalan dan pengakuan kepada Allah sebagai salah satu Rabb dari yang dipersekutukan itu, ataupun tidak. Maka itu juga adalah fitroh yang menyimpang sebagaimana yang dimiliki oleh kaum Musyrikin dari berbagai macam jenis agama selain Islam.

37. Jenis orang yang tidak mengakui adanya Rububiyyah sama sekali, yakni tidak mengakui bahwa ada yang menciptakan mereka. Tidak mengakui bahwa ada yang menguasai, mengatur, dan memberi rizky mereka. Atau meragukan hal-hal itu. Maka orang ini termasuk dari golongan orang yang fithrohnya rusak.

Seperti halnya orang-orang dari golongan Atheis, Darwinisme, Komunisme, dan Agnostik yang termasuk penganut materialisme dahriyyah*. Atau dari golongan Fir’aun yang mengaku bahwa dialah Robbul ‘aalamiin.

38. Golongan orang-orang yang mengalami penyimpangan dan kerusakan masalah Tauhid rububiyyah atau Tauhid Al-Mari’fah wal Itsbat (Pengenalan dan Penetapan) ini, hendaklah dimulai dengan dakwah berupa dialog, bukti-bukti, dan keterangan ayat-ayat Allah mengenai rububiyyah dan Asma’ wa shifat Allah.

39. Dakwah Tauhid dengan berdasarkan metode pembuktian ayat-ayat rububiyyah Alloh berdasarkan IPTEK modern (Baca : dakwah Tauhid Al-Mari’fah wal Itsbat), cukup masyhur dan efektif untuk dilakukan di dunia barat yang banyak terjangkit penyakit materialisme, Atheisme, dan tidak mengenal Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagai Rabbul ‘Aalamiin.

40. Termasuk juga metode dakwah Tauhid yang masyhur di dunia barat adalah dengan melalui dakwah keotentisitasan Al-Qur’an sebagai wahyu Allah subhaanahu wa ta’aala dan kesempurnaan integritas ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an. Yang mana hal ini tidak bisa ditandingi dengan otentisitas kitab-kitab agama lainnya, hasil-hasil kebudayaan manusia, dan hasil pemikiran filsafat manusia.

41. Termasuk juga metode dakwah Tauhid yang masyhur di dunia barat adalah dakwah akan keajaiban tantangan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan dalam bahasa arab yang murni yang tidak bisa ditiru, direproduksi atau dilakukan reverse engineering gaya bahasa dan keindahannya, hingga menghasilkan karya yang bergaya sama seperti Al-Qur’an sama sekali.

Padahal Al-Quran diturunkan di tengah kaum Arab yang menguasai bahasa Arab yang paling fasih dan yang paling murni.

Adapun karya-karya manusia lainnya umumnya bisa ditiru gayanya, bisa direproduksi stylenya hingga menjadi produk yang semisal, atau dilakukan reverse engineering akan karya-karyanya.

42. Orang bukan asli inggris jika dia mempelajari bahasa Inggris dan gaya sastra shakespeare, maka dia akan bisa meniru gaya sastra dari shakespeare. Sedangkan orang arab dan orang-orang ‘Ajam (non Arab) yang sudah bertahun-tahun belajar bahasa Arab dan Al-Qur’an, tetap tidak bisa meniru, mereproduksi, atau melakukan reverse engineering untuk menghasilkan suatu karya yang bergaya sama seperti Al-Qur’an.

-Bersambung- Insya Allah

Advertisements